“Jalur Tebu” Kereta Api Jember Wilayah Selatan

Saya punya hutang janji menulis untuk Cak Ekoz al-Guevara: tentang
perkeretaapian di wilayah Jember Selatan. Sekaligus saya tersadarkan
bahwa di antara kita ada yang belum sempat menyadari jalur eksotis
kereta api di selatan. Jangan khawatir, bagi saya pun sayup-sayup
karena sangat sedikit ingatan tentang kereta api ini.

Membentang di sebelah utara sungai besar dan instalasi perairan dari
desa Curah Malang, Kec. Rambipuji, hingga desa Tutul, Kec. Balung,
terdapat rel kereta api hasil pencabangan di pertigaan sohor
Kaliputih, Rambipuji. Di sisi selatan sungai terdapat jalan raya
penghubung Jember-Lumajang, yang digunakan hingga sekarang. Bak
“jalur sutera”, prasarana ini memang sengaja dibangun sejak era
kolonial untuk membuka perdagangan antarkota.

[field name=iframe]

Ada apa di selatan zaman dulu?

Di desa Tutul hingga Kencong terdapat lahan tebu sangat luas yang
memasok pabrik gula di Kencong. Pabrik gula Kencong ini berada di
sektor selatan, melengkapi sektor utara yang ditempati pabrik gula
juga di Semboro dan Jatiroto, Kab. Lumajang. Tidak berlebihan jika
Kencong termasuk salah satu cikal-bakal sejarah pabrik gula Belanda.
Lengkap dengan kompleks pabrik berupa loji hingga tanah lapang
publik yang dapat disaksikan sekarang, sejarah Kencong dapat
ditelusuri hingga hikayat awal industri gula Belanda. Jawa Timur
sendiri merupakan penopang utama industri gula nasional, walau
kondisi pabrik-pabrik gula peninggalan Belanda tersebut mengenaskan.

Komoditi tambahan yang diangkut dari daerah selatan adalah beras dan
tembakau. Sudah menjadi tradisi lokal di masa itu beberapa rumah
besar memiliki lumbung dan tempat penjemuran padi keluarga. Di era
Orde Baru, sebuah lumbung besar Badan Urusan Logistik (Bulog)
didirikan di Jambearum, Kec. Puger, untuk menampung beras hasil
panen.

Morning Blue

Akan halnya tembakau, di tahun 1960-an, sudah lazim bagi saudagar
setempat berniaga membawa rajangan daun-daun kering tembakau hingga
Kebumen, Jawa Tengah. Keluarga besar kami yang berasal dari dua
simpul pendatang Bojonegoro dan Pulau Bawean, diduga migran
perdagangan ini. Acara menimbang daun tembakau, sejumlah gudang
bambu
, dan konvoi pekerja bersepeda di sore hari, adalah fenomena
turun-temurun yang masih tersisa hingga sekarang.

Dengan pertimbangan ekonomi seperti di atas, masuk akal jika
dibuatkan rel kereta api dan jalan raya penghubung lewat Balung atau
Ambulu, Kasiyan, Kencong, Gumukmas, Yosowilangun, hingga Lumajang.
Tidak berlebihan pula seandainya sungai besar yang diapit tersebut
terhindar dari kebiasaan buruk dijadikan ruang mandi terbuka,
miniatur wisata sungai ala kota-kota di Belanda dapat
diselenggarakan.

Gumelar, Balung, Jember of East Java

Kereta api primadona masa lalu

Di masa sebelum taman kanak-kanak, berarti sekitar tahun 1974, saya
sering menyempatkan diri duduk di belakang rumah nenek, di pinggir
sungai besar tadi, dan menyaksikan kereta api lewat dari arah utara,
Jember, menuju selatan, Lumajang. Stasiun kereta api tidak jauh dari
rumah nenek, sehingga kereta api sudah mulai melambat. Di sebelah
kanan terdapat jembatan besi kokoh bekas rel ke arah timur, Ambulu.
Saya tidak pernah melihat kereta api ke arah Ambulu ini, hanya
kisah-kisah para tetua di keluarga menyebut pengalaman mereka
mengangkut tembakau ke sana. Bukti yang masih dapat dilihat saat itu
adalah bekas jalur kereta dan jembatan di atas Sungai Bedadung.

I Hope It's Real River Beauty

Satu-satunya pengalaman mengesankan yang masih saya ingat adalah
acara keluarga ke Lumajang naik kereta api. Yang tersisa dalam
bayangan saya adalah gerbong ekonomi, berbangku kayu panjang
berjejer, dan setiap orang duduk menghadap jendela. Mirip seperti
gerbong barang yang disulap menjadi gerbong penumpang. Karena hanya
sekali itu bepergian naik kereta yang saya ingat dan faktor usia
masih kecil juga, boleh dikata saya tidak memiliki ingatan yang
memadai tentang “naik kereta api jalur tebu Jember-Lumajang”
tersebut.

Tentang stasiun Balung pun saya hanya ingat dulu juga ditempati
kantor pos yang sibuk melayani surat, tabungan nasional, dan
pengiriman barang (paket). Tampaknya urusan korespondensi dititipkan
kereta api dan setelah jalur kereta api dihentikan, bangunan
tersebut masih ada di kompleks stasiun. Hingga di tahun 1980-an
pemerintah memindahkan kantor pos dari kompleks stasiun ke pinggir
jalan besar di Balungkulon dan praktis angkutan surat-menyurat
dititipkan ke bus Akas tujuan Lumajang.

Kompleks stasiun Balung masih ada saat ini, di sebelah barat
perempatan utama pertemuan jalur Rambipuji-Balung dan Ambulu-Balung.
Saksi sejarah yang sunyi karena memang tidak terawat, menjadi tempat
penampungan gelandangan, dan belum tahu juga kelanjutan lahan milik
PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang saat ini terbengkalai.

Balung Old Train Station

Cerita menarik lain: pada saat saya dan adik kanak-kanak, kami
sering bermain “sepur-sepuran” berbekal buku daftar perjalanan
kereta api tahun 1960-an se-Indonesia (Jawa dan Sumatera). Buku
tersebut berisi daftar yang sangat rinci dari nama kereta api dan
nomor serinya, asal dan tujuan perjalanan, dan waktu kedatangan dan
keberangkatan di setiap stasiun. Tidak ada orang tua yang sempat
bercerita tentang buku tersebut, namun dugaan saya dibeli oleh kakek
yang sempat berdagang tembakau hingga Kutoarjo, Jawa Tengah.

Saya tidak pernah mendapati buku perjalanan kereta api selengkap itu
setelahnya. Barulah pada tahun 2001 saat saya mendapat kesempatan
tinggal di Groningen, Belanda, saya melihat buku seperti itu,
Spoorboekje, dijual di toko buku di stasiun Groningen Centraal. Format utamanya masih
mirip, dalam bentuk tabel, tentu saja gaya penyajiannya sekarang
sudah modern. Dengan kata lain, pada saat pemesanan karcis kereta
api sudah dilayani secara daring (online) di Belanda, buku
klasik seperti yang terdapat di “Hindia Belanda” masih dicetak dan
dijual!

Pertanyaan penting dalam konteks yang lebih luas: seberapa jauh kita
sanggup konsisten, istiqomah, mempertahankan infrastruktur layanan
publik yang baik? Alih-alih bongkar-pasang hapus yang lama, bikin
yang baru, nyaris tanpa upaya perawatan. Saya sempat membaca rencana
pembangunan kereta api super cepat Jakarta-Bandung-Cirebon: apakah
itu yang benar-benar kita perlukan jika menghidupi hajat orang
banyak seperti Kereta Rel Diesel (KRD) Bandung-Cicalengka belum juga
dapat menjadi layanan transportasi yang nyaman dan dapat diandalkan?

Di grup Indonesian Railway Pictures di Flickr disebutkan beberapa jalur
kereta api ditutup karena dianggap tidak layak secara ekonomis
. Pada
saat kereta api Jember-Lumajang ditutup pun, angkutan umum antarkota
(sebenarnya angkutan yang disediakan perorangan, bukan layanan
publik pemerintah) mulai meningkat dan “hukum rimba ekonomi” memukul
kereta api dengan telak. Sekarang ini, angkutan antarkota tersebut
ganti merana dipukul kepemilikan sepeda motor yang sudah berlebih.
Artinya, jika diserahkan kepada “hukum persediaan dan keperluan”
publik, arah penyediaan transportasi publik kita menjadi seenaknya,
tidak ekonomis dalam skala luas, dan sangat rentan dalam hal faktor
keamanan di ruang publik. Sederhana saja: coba pertimbangkan
pergeseran pengangkutan tebu, dari kereta api kemudian truk. Sekarang
ini, sebagian komoditas pertanian diangkut dengan memaksakan diri
di atas sepeda motor.

Preparing for Cattle Feeding*

Saya membayangkan transportasi berbasis kereta api yang lebih baik,
tetap pada fungsinya sebagai transportasi cepat massal, lebih
daripada bernostalgia keelokan perkeretaapian di sektor selatan
Jember.

10 thoughts on ““Jalur Tebu” Kereta Api Jember Wilayah Selatan”

  1. Gudang Bulog di Jambearum ya… beberapa rarus meter dari rumah Mbah-mbahku di pertigaan Desa Kasiyan, Puger. Kalo nginep disana aku sering mandi di sumur bor tengah sawah dekat gudang itu.
    Cak, tahun berapa jalur kereta api itu ditutup?

  2. Betul, gudang Bulog itu terletak di Jambearum hampir Kasiyan dan memang terdapat sumur bor yang dulu sering dijadikan tempat mandi umum oleh anak-anak.

    Saya tidak tahu persis akhir kereta api yang lewat Balung. Kira-kira saat saya mulai bersekolah TK atau awal SD, berarti sekitar tahun 1975.

  3. sebenarnya menarik sekali menelusuri jejak masa silam kita yang saat itu nampaknya semua simpul ekonomi potensial dihubungkan dengan kereta api…..di DIY pun demikian….banyak lahan KA (emplasemen stasiun KA,Rel, dll) yang diokupansi rakyat tanpa perlawanan yang berarti…ya karena sekian lama ditelantarkan maka..ketika terjadi okupasi lahan KA tak ada sedikitpun keberatan dari pihak PNKA ato PJKA atu PT>KAI saat ini….
    namun saat sekarang dimana sudah banyak kesempatan untuk memikirkan aset-asetnya itu…apalagi wacana menghidupkan kembali jalur Palbapang-Bantul-Jogja-Muntilan-Magelang…yang rel dan emplasemen sudah diokupasi ribuan orang…..belum lagi wacana menghidupkan spoor wisata dataran tinggi…Jogja-Magelang-Jambu-Ambarawa-Ungaran-Semarang ..yang lebih eksotik tentunya …..
    eh ternyata Jember Selatan punya sejarah panjang tentang perspooran he..he.he..suwun yo cak….critamu mencerahkan….
    btw..foto Rel Spoornya kok gak jelas ya?

  4. Kawan Ekoz: foto rel kereta api memang belum ditampilkan: mungkin masih ada fragmen pendek potongan rel yang masih tersisa di sana. Soalnya, seingatku rel kereta api itu bagian yang paling awal "cepat hilang" begitu tidak terurus lagi oleh PT KAI. Pada waktu aku masih kanak-kanak pun, rel rute Balung-Ambulu sudah lebih dulu hilang dari jembatan yang masih ada di belakang rumah nenek.

    Sekarang, jangankan relnya, jembatan kereta api pun sudah lenyap. 🙂

  5. Kemaren aku lewat sepanjang jalur KA yang mati..antara Bedono-Magelang-Blabak…dibeberapa tempat masih kethok bekar relnya..bahkan jembatannya juga…pan-kapan tak uplodnya…

  6. mohon info…
    beberapa waktu lalu saya melihat tayangan televisi berupa profil petani sukses dari jember (kalo tdk salah dari jember selatan)
    saya mohon di beri nama dan daerahnya untuk koresponden dgn beliau.
    terima kasih

  7. Saya bkn penduduk asli jember, tapi saya kuliah disana. Membaca artikel sudara saya sangat terkesan, betapa indahnya kota jember dengan nuansa alam yang segar dan masyarakatnya yang ramah. meski sekarang tidak lagi di jember saya tetap menjadi salah satu pemerhati jember dan terus memantau perkembangannya. Jember I love u

  8. kira kira stasiun balung atau kereta api jurusan Jember-Lumajang via Balung ditutup sekitar sebelum terjadi hama wereng melanda jember dan sekitarnya,sekitar th 74 saya waktu itu masih sekolah kelas 2 MIMA di Balung Kulon

Comments are closed.