Tiga tahun lalu, tsunami….

..Tulisan berikut ini adalah pengalaman sejati alumni SMAN 1 JEMBER yang mengalami kedahsyatan Tsunami…pernah dipost di milis angkatan 88…mengingat begitu banyak ibrah yang bisa dipetik..maka atas persetujuan dan jasa baik Taufiq Maulana Hamzah aka Fikik 88..tulisan ini di posting ulang di blog ini….bisa jadi ada juga alumni kita yang pada saat kejadian juga berada di Aceh ato Nias…semoga tergerak untuk berbagi cerita disini...(ekoz guevara)

Ass, Wr. Wb
mengenang 26 desember 2004,,iki rek pengalaman pribadiku,,
Pagi 26 Desember 2007, sebagai ketua panitia, aku kudu ke kantor tuk
mimpin rapat persiapan RAKER. Berat terasa kaki melangkah, bukannya
karena hari itu hari libur, tapi sedang terbayang kembali kisah tiga
tahun yang lalu,tsunami…
Bakda subuh 26 desember 2004, aku dan dua temen berangkat ke
bandara Sultan iskandar muda (SIM). Jemput pemateri dari Jakarta.
Rencananya jam 9 pagi, kami punya gawe ‘Leadership training’ selama
2 hari.

Sampai di SIM, selama -+10 menit aceh dikocok gempa. Awalnya,
gerakan gempa horisontal terasa seperti naik kereta api, berikutnya
berubah jadi gerakan vertikal. Kulihat hampir semua orang nggak
sanggup lagi berdiri.
Ingat rumah dinas yang berumur tidak muda lagi, membuatku khawatir
dengan keselamatan istri dan anak-anakku. Namun, apa daya HP udah
nggak fungsi lagi. Aku hanya bisa tawakkal menyerahkan semuanya
kapada Allah. Kita adalah milik Allah dan akan kembali kepada
Allah.

Sepanjang perjalanan menuju kota, kulihat beberapa bangunan nampak
roboh, anehnya didominasi oleh bangunan- bangunan baru. Diperempatan
jambo tape, kami singgah sarapan. Beberapa kali gempa susulan
mengganggu nikmatnya sarapan, sebanyak itu pula, kami berlarian
keluar ruko. Puncaknya, ketika terdengar bunyi sirine yang begitu
kuat, diikuti banyaknya orang berlarian dari arah pantai, ‘ie lut ka
ik’ (air laut udah naik). Sontak semua berlarian, termasuk penjual
nasi. Alhamdulillah dalam kondisi panik, kami masih sempat bayar
walaupun si penjual udah ngak konsen untuk menghitung berapa biaya
makanan kami.

‘akh taufik, lupakan acara, kita jemput keluarga antum dulu’ usul
salah seorang tamuku. Rombongan bergerak menuju tempat tinggalku di
daerah Peurada kurang lebih 2,5 km dari jambo tape. Namun, mendekati
jembatan dekat kantor gubernur, kulihat air udah naik melewati
jembatan. Membuat kami harus putar kendaraan. Kubersyukur kepada
Allah, seandainya kami telah melewati jembatan, bisa jadi aku nggak
nulis kisah ini.
Setelah menitipkan tamu-tamuku di rumah teman, kumulai mencari jalan
menuju rumah. Tidak ada pilihan lain, kami harus mencari jalan
memutar yang cukup jauh. Sampai di daerah ie masin kayee adang (2 km
dari rumahku), air sisa tsunami masih menggenang. Kami turun dan
mulai jalan kaki. Entah kekuatan apa yang muncul membuat aku jauh
meninggalkan dua rekanku. Padahal usia mereka 10 th lebih muda
dariku. Bahkan salah seoarang diantaranya, belakangan jadi guru
kempo di kantorku.

Air yang mulanya hanya setapak kaki, sampai dirumahku setinggi dada.
Kulihat rumahku dalam posisi terkunci. Rumah masih utuh walaupun isi
dalamnya udah pada jebol dan berantakan. Tetangga pada geleng kepala
ketika kutanyakan tentang keluargaku. Ya Allah selamatkanlah istri
dan anak-anakku. Rasanya aku belum siap dipisahkan dengan mereka.
Betapa aku mencintai mereka…kemudian aku mulai bergerak mencari
keluargaku, setiap rumah yang berlantai dua kumasuki dan kutanyakan,
adakah istri dan anak-anakku?…rata-rata mereka gelengkan
kepala,’nggak ada pak. Sumayyah dan adik-adiknya ngak ada
disini’..aku terus melangkah menuju masjid. Begitu banyak orang
berkumpul, salah seorang remaja masjid berbisik, ‘di lantai dua udah
terkumpul kurang lebih 40 syuhada, lihat aja siapa tahu ada salah
seorang anggota keluarga bapak’..Setengah berlari aku naik ke lantai
dua, kulihat jajaran mayat memenuhi sektor utara, sementara sektor
selatan dipenuhi dengan orang yang cidera. Suara isak tangis cukup
membuat diriku merinding… Satu persatu mulai kubuka kain penutup
para syuhada,, alhamdulillah tak seorangpun anggota keluargaku
terbaringada disitu. Walaupun terhadap beberapa jenazah, ada
kemiripan dengan anakku..

Pencarian terus kulakukan, di masjid kedua belum juga kutemukan.
Dekat sekolah TK anakku, kulihat mayat seorang perempuan telanjang
dalam posisi telungkup, tidak seberapa jauh dari situ, kulihat mayat
seorang anak kecil, yang mirip dengan anakku kelima. Gemuknya dan
warna kulitnya, mirip sekali dengan Tholhah anakku. Tanda luka
dikakinya terkelupas, sehingga timbulkan tanya, apakah betul ini
anakku? Seandainya dia anakku, jangan-jangan mayat yang disana
adalah mayat istriku.. kalau dia mayat istriku..kenapa dia
telanjang? Ya Allah bukankah selama ini istriku selalu menutup
aurat, kenapa diakhir hayatnya mesti telanjang? Aku tidak memiliki
keberanian membalik mayat perempuan itu, aku khawatir auratnya akan
kelihatan oleh orang banyak..sesuatu yang udah ditutup oleh Allah,
aku tidak berani membukanya. Benarkah dia istri dan anakku? Terus
anak-anakku yang lain mana? ?? air setinggi dada, menyulitkan aku
mencari petunjuk lain. Keretaku (sepeda motor) tidak nampak
disekitar itu. Kuputuskan, untuk terus mencari, mudah-mudahan mereka
bukan anggota keluargaku.

Setibanya di masjid yang ketiga, terdengar suara adzan. Begitu
menyejukkan ditengah galaunya hati. Waktu yang tepat untuk mengadu
kepada Allah. Keluargaku hilang, adakah mereka selamat? Bila tidak,
dimanakah jenazahnya? Ya Allah berilah aku kesempatan untuk bersama
keluargaku lagi…
saat ambil air wudlu, aku bertemu sahabatku, seorang ustadz yang
juga anggota dewan, kami berpelukan dan kusampaikan keluargaku
hilang, setengah berbisik dia berkata : “akhi, keluarga antum ada di
lantai 2”. ..alhamdulillah, betapa Allah telah mengabulkan doaku.
Aku masih diberi kesempatan tuk berkumpul dengan keluarga.
“bi, ngak jadi rapatnya?”. suara istri, membuyarkan ingatanku..
terima kasih Ya Allah, hamba ingin menjadi orang yang bersyukur,
senantiasa menyayangi istri dan anak-anakku…istriku, anak-anakku,
maafkan bila setelah tiga tahun tsunami berlalu, abi belum bisa
memberikan yang terbaik buat kalian…
Istriku, Andi qadriah shiam, aku selalu mencintaimu
Anak-anakku,

Sumayyah Ula Syahidah
Dini Khairu Zadi
M. Gazie Shawwaf
M. Hanzhalah Gasielul Malaikah
M. Tholhah Syahid Al Hayah
Syahidah Nida Amani

doaku selalu bersamamu, jadilah orang-orang kuat, sekuat kalian
berlari meninggalkan gelombang tsunami

Banda aceh, 26 desember 2007

maaf yo rek, kepanjangan, belum diedit…Taufik Maulana hamzah

Author: Eko Setiawan

Eko Setiawan 3 Maret 1970.... lahir di RS Bhakti Husada,Krikilan, Glenmore Banyuwangi....9 tahun nomaden dari perkebunan ke perkebunan di Banyuwangi...alumni SD Jember Kidul VII, SMPN 2 Jember, SMAN 1 Jember, Agronomy UGM, MM UGM....sekarang di BNI SKM Balikpapan the Borneo....SMAN 1 JEMBER...adalah basis ingatan yang tak akan lekang sebagai pijakan sampe sekarang ....karena Sahabat yang tercipta sudah menjelma menjadi Sodara .....

8 thoughts on “Tiga tahun lalu, tsunami….”

  1. Di balik peristiwa yang menyedihkan, menakutkan dan menimbulkan trauma yang mendalam, selalu ada hikmah, pelajaran, dan kekuatan yang luar biasa yang bisa kita peroleh. Selalu yakin bahwa, apapun yang kita alami dalam perjalanan hidup kita adalah yang terbaik yang digariskan Sang Kuasa dan selalu akan ada kehidupan yang lebih baik, lebih indah di balik semua itu.
    Salam hangat buat semua….hiks..hiks (terharu baca ceritane)

  2. Yang lebih membuat aku sedih adalah : Predikat One Of The Most Corrupted Country masih setia menempel di negeri kita, Indonesia.

    Setiap kali usai bencana besar, dimana selanjutnya Pemerintah mulai mencanangkan Program Rehabilitasi dan Rekonstruksi untuk Daerah-2 Pasca Bencana, saat itu pula lah dimulai "rencana-2 jahat" untuk menarik keuntungan dari kondisi susah tersebut.

    Skenario besar Rehabilitasi wilayah selalu dibayangi dengan Mark-Up dalam penyusunan anggarannya. Jaga-2 kalau harga komoditi naik itu bisa saja dilakukan, tapi kalau mark-up nya fantastis banget, itu yang kelewatan. Jelas-2 masih banyak yang mesti diperbaiki, tapi sudah banyak juga yang siap-2 nggrogoti dana utangan tersebut. Dan itu terjadi di sepanjang sejarah bencana negeri kita ini. Bantul, Aceh, Jakarta, Papua atau dimana saja..

    Aku jadi teringant sebuah humor hitam tentang seorang calon pemimpin rakyat, yang sedang berpidato di depan khalayak.
    " Saudara-saudara, sebagai Pemimpin, Saya akan selalu mendahulukan kepentingan rakyat. Saya akan selalu berjuang untuk rakyat. Saya akan selalu siap lapar untuk rakyat..!!" katanya dengan nada berapi-api yang disambut gemuruh sorak sorai khalayak..
    Sejenak si Pembicara terdiam, lalu dilanjutkan ucapannya " Tapi, kalau saya lapar, bagaimana saya bisa berpikir, berjuang atau bekerja untuk rakyat.. ??!! "

    Nah lho.. nggregeti tenanan tho mental bangsane dhewek.. Itulah fakta lapangan tentang dunia hitam per-proyekan Indonesia.

    Alam-lah yang selalu disalahkan, jika :
    – tanggul jebol tak kuat menahan derasnya luapan air Bengawan Solo
    – jembatan ambruk tak kuat menahan beratnya kendaraan yang melintas diatasnya
    – jalan cepat berlubang karena banjir, akibat tipisnya lapisan aspal
    – gedung SD yang mudah retak ketika gempa, karena adonan yang kebanyakan pasir

    Nggak satu pun dari berita di Koran atau Tivi yang menyinggung tentang buruknya kualitas bangunan akibat di-enthit oleh KorupMan – KorupMan kita. Semua menuding kepada Alam.. Alam.. dan Alam..
    Padahal, setiap kali menuding ke sesuatu, bukankah ketiga jari menunjuk kembali kepada kita.. Jadi, Kita-lah yang salah, bukan Alam.. Heehhhh…

  3. Kyai Faiz emang jago nek di kon ngomentari, tapi ngomong masalah korupsi,jane menungso iku podho wae, bedane mung masalah kesempatan, jare pak Harto biyen korupsi sampai di reformasi dg alasan perubahan kenyataannya sampai sekarangpun, korupsi belum bisa diberantas bahkan makin merajalela. Oyi Kyai Faiz, yen mulih ng Jember khabar2, terus untuk acara reuni 20 tahun selepas sma harus diwujudkan, aku siap membantu panitia, karena aku sekarang sdh di mutasi ke Probolinggo.

  4. kanggo cak kos yen isih durung eling karo rupaku wis tak kirim nang email panjenengan .. wis eling tho karo raaaiiiiiikkuuu

  5. cak ekos buka'en nok daftar lampirane, tak katutno nganggo daftar lampiran, langsung tak katutno ora bisa mlebu

  6. Sangat menyentuh.. aku wis moco ning milis, terus gak tego moco maneh nang blog iki.. ndik kompas aku sempat moco nek sik akeh warga sing tinggal ndik tenda setelah 3 tahun kejadian.. padahal saiki bantuan (terutama dari luar negeri) paling akeh kanggo Aceh.. LSM-LSM sing berafiliasi karo luar negeri biasane yo dikongkon bantu Aceh.. maksute porsi utk Aceh jauuuh lebih besar.. tapi koq gak mari-mari yo.. aku tau krungu juga ono proyek nggawe perumahan ditinggal karo kontraktore.. embuh opo masalah pembayarane gak beres opo kontraktore sing gak beres.. sing jelas yo UUD alias Ujung Ujungnya Duite..

Comments are closed.