Usia Jember Lebih Tua daripada Surabaya

Fakta yang mengejutkan… eh fakta bukan ya…

dari http://beritajatim.com/detailnews.php/6/Politik_&_Pemerintahan/2011-04-04/97181/Usia_Jember_Lebih_Tua_daripada_Surabaya

Senin, 04 April 2011 08:30:22 WIB Reporter : Oryza A. Wirawan

Jember (beritajatim.com) – Usia Kabupaten Jember diperkirakan lebih tua daripada usia Kota Surabaya. Ada situs yang menyatakan Jember mulai ada di tahun 1088.

Ihwal tahun kelahiran Jember ini tertera di situs prasasti Congapan yang berada di Desa Karangbayat Kecamatan Sumbersari. “Di situ tertulis ‘tlah sanak pangilanku’ yang artinya tahun 1088,” kata Didik Purbandriyo, Koordinator Balai Pelestarian Peninggalan Purbakal Kementerian Budaya dan Pariwisata.

Jika ini menjadi acuan, maka usia Jember saat ini mencapai 923 tahun. Bandingkan dengan Surabaya yang berusia sekitar tujuh abad. Namun, tidak seperti Surabaya yang dipastikan tanggal berdirinya pada 31 Mei, masih sulit mengidentifikasi tanggal pasti lahirnya Jember.

Kendati sudah ada prasasti Congapan yang mengonfirmasi tahun tersebut, Pemerintah Kabupaten Jember lebih memilih menggunakan staatsblad nomor 322 tentang Bestuurshervorming, Decentralisastie, Regentschappen Oost Java. Pengesahnya adalah Gubernur Jenderal De Graeff. Di situ disebutkan, status Jember ditingkatkan dari afdeeling menjadi regentschap, per 1 Januari 1929. Regentschap setara dengan kabupaten. Inilah yang kemudian dijadikan acuan tanggal lahir Jember.

Didik tidak tahu persis kenapa tahun lahir bikinan Belanda itu yang dijadikan acuan. Yang terang, di Jember ada banyak situs yang menunjukkan usia Jember sudah sangat tua.

“Kalau dilihat di kitab Negara Kertagama, Jember hanya perlintasan turne (perjalanan) Hayam Wuruk ke daerah selatan,” kata Didik.

Kelurahan Mangli dulu juga kerajaan kecil di bawah Blambangan. “Perang Sadeng yang termasyhur itu juga diperkirakan terjadi di daerah Kecamatan Balung sekarang. Perang Sadeng kemungkinan ada di sana, karena di Balung sampai Kecamatan Semboro ada temuan benteng,” kata Didik. [wir]

SEJARAH JEMBER.. dari Kompasiana

Mumpung lagi nemu tulisan bagus di kompasiana tulisan dari Saiful Rahman,

Tulisannya panjang dan sangat serius,… cuoocoook buat yang serius pengen tahu sejarah Jember.. Monggo dinikmati

Sejarah kabupaten Jember yang saya baca pada situs resmi PEMKAB Jember dibentuk berdasarkan Staatsbland Nomor 322 tanggal 9 Agustus 1928 dan sebagai dasar hukum, mulai berlaku tanggal 1 Januari 1929. Pemerintah Hindia Belanda telah mengeluarkan ketentuan tentang penataan kembali pemerintah desentralisasi di wilayah Provinsi Jawa Timur, antara lain dengan menunjuk Regenschap Djember sebagai masyarakat kesatuan hukum yang berdiri sendiri. Secara resmi ketentuan tersebut diterbitkan oleh Sekretaris Umum Pemerintah Hindia Belanda (De Aglemeene Secretaris) G.R. Erdbrink, 21 Agustus 1928. oleh karena itu hari jadi kabupaten jember ditetapkan 1 januari dan dirayakannya setiap tahun. (baca di http://jemberkab.go.id)

Diskursus hari jadi kabupaten Jember tersebut diuraikanlah jejak-rekam yang pada umumnya bersumber dari arsip-arsip atau manuskrip yang ditulis tangan warga belanda dan dikuatkan dengan adanya situs-situs bangunan peninggalan belanda yang masih berdiri kokoh sampai sekarang. Menurut Tri Candra dalam makalah International Conference on Urban History, di Surabaya, August 2004, mengurai bahwa proses kapitalisasi oleh perusahaan perkebunan partikelir belanda di daerah Besuki merupakan suatu penanda fase pertumbuhan dan berkembangnya secara nyata Jember sebagai kota. Pada titik inilah kemudian Jember lahir sebagai kota industri perkebunan. Ia adalah sebuah kota yang lahir dari sebuah proses modernisasi kota-kota Hindia, sebagai akibat dari sistem perusahaan bebas yang dianut sebagai prinsip umum ekonomi sejak masuknya kapital besar, periode akhir abad XIX. (Candra, Tri: 2004).

Tak Jauh beda dengan Tri Candra, Edy Burhan Arifin menjelaskan sejarah perkembangan pesat peradaban jember sebagai wilayah industri perkebunan ditentukan oleh semakin merebaknya perusahaan swasta belanda di wilayaha jember utara dan Jember tengah.

Adapun yang merintis usaha perkebunan swasta di Jember ialah George Birnie yang pada tanggal 21 Oktober 1859 bersama Mr. C. Sandenberg Matthiesen dan van Gennep mendirikan NV Landbouw Maatsccappij Oud Djember (NV. LMOD) yang semula bergerak di bidang perkebunan tembakau, namun kelak kemudian hari merambah pada perkebunan aneka tanaman seperti kopi, cacao, karet dsb. (Brosur NV. LMOD:1909). Usaha George Birnie tersebut menarik minat para ondernemer Belanda lainnya untuk menanamkan usahanya dan mendirikan perkebunan di daerah Jember, sehingga dalam waktu yang relatif singkat berdiri perkebunan swasta di daerah ini seperti Besoeki Tabac Maatscappij, Djelboek Tabac Maatscacppij dll. Kehadiran sistem perkebunan swasta ini membawa perubahan-perubahan sosial dan ekonomi pada masyarakat dan yang terpenting terjadinya perubahan status kota Jember pada tahun 1883 yakni yang semula distrik menjadi regentschap sendiiri terpisah dari Bondowoso. Sehubungan dengan berubahnya status kota Jember, maka pemerintah pusat mengadakan perombakan struktur pemerintahan dan digalakkan pembangunan infrastuktur seperti perombakan struktur pemerintahan dan digalakkan pembangunan infrastuktur seperti jembatan, jalan dan yang terpenting dibukanya jalur kereta api dari Surabaya menuju Probolinggo dan terus ke Jember, serta dari Jember menuju Panarukan yang berfungsi sebagai pelabuhan untuk mengangkut produk komoditi eksport pada desenia ke sembilan abad XIX. (Burhan, Edi: 2006)

Continue reading “SEJARAH JEMBER.. dari Kompasiana”

“Jalur Tebu” Kereta Api Jember Wilayah Selatan

Saya punya hutang janji menulis untuk Cak Ekoz al-Guevara: tentang perkeretaapian di wilayah Jember Selatan. Sekaligus saya tersadarkan bahwa di antara kita ada yang belum sempat menyadari jalur eksotis kereta api di selatan. Jangan khawatir, bagi saya pun sayup-sayup karena sangat sedikit ingatan tentang kereta api ini.

Membentang di sebelah utara sungai besar dan instalasi perairan dari desa Curah Malang, Kec. Rambipuji, hingga desa Tutul, Kec. Balung, terdapat rel kereta api hasil pencabangan di pertigaan sohor Kaliputih, Rambipuji. Di sisi selatan sungai terdapat jalan raya penghubung Jember-Lumajang, yang digunakan hingga sekarang. Bak “jalur sutera”, prasarana ini memang sengaja dibangun sejak era kolonial untuk membuka perdagangan antarkota.

Continue reading ““Jalur Tebu” Kereta Api Jember Wilayah Selatan”