<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Alumni SMA 1 Jember &#187; selatan</title>
	<atom:link href="http://sma1jember.info/tag/selatan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sma1jember.info</link>
	<description>Alumni Berkisah tentang Jember</description>
	<lastBuildDate>Mon, 09 Jan 2012 22:16:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
	<!-- podcast_generator="podPress/8.8" - maintenance_release="8.8.4" -->
		<copyright>Copyright &#xA9; Alumni SMA 1 Jember 2010 </copyright>
		<managingEditor>ikhlasulamal@yahoo.com (Alumni SMA 1 Jember)</managingEditor>
		<webMaster>ikhlasulamal@yahoo.com (Alumni SMA 1 Jember)</webMaster>
		<category>posts</category>
		<itunes:keywords></itunes:keywords>
		<itunes:subtitle></itunes:subtitle>
		<itunes:summary>Alumni Berkisah tentang Jember</itunes:summary>
		<itunes:author>Alumni SMA 1 Jember</itunes:author>
		<itunes:category text="Society &amp; Culture"/>
		<itunes:owner>
			<itunes:name>Alumni SMA 1 Jember</itunes:name>
			<itunes:email>ikhlasulamal@yahoo.com</itunes:email>
		</itunes:owner>
		<itunes:block>No</itunes:block>
		<itunes:explicit>no</itunes:explicit>
		<itunes:image href="http://sma1jember.info/wp-content/plugins/podpress/images/powered_by_podpress_large.jpg" />
		<image>
			<url>http://sma1jember.info/wp-content/plugins/podpress/images/powered_by_podpress.jpg</url>
			<title>Alumni SMA 1 Jember</title>
			<link>http://sma1jember.info</link>
			<width>144</width>
			<height>144</height>
		</image>
		<item>
		<title>YANG MENARIK DI STASIUN KERETA API JEMBER</title>
		<link>http://sma1jember.info/2011/02/yang-menarik-di-stasiun-kereta-api-jember/</link>
		<comments>http://sma1jember.info/2011/02/yang-menarik-di-stasiun-kereta-api-jember/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Feb 2011 08:00:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rizal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita-cerita Enteng]]></category>
		<category><![CDATA[Jember, rek!]]></category>
		<category><![CDATA[Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Warta Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Achmad Rizal]]></category>
		<category><![CDATA[jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[jember]]></category>
		<category><![CDATA[kereta api]]></category>
		<category><![CDATA[selatan]]></category>
		<category><![CDATA[transportasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sma1jember.info/?p=392</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah kemarin tanggal 4-6 Februari aku mendapat kesempatan pulang kampung ke Jember&#8230; dan yang lebih menyenangkan lagi kepulanganku ini  kalo menurut istilah Cak Fikik adalah PUBIDI.. PUlang atas BIaya Dinas&#8230; soalnya aku ditugaskan oleh kantor untuk menghadiri resepsi pernikahan teman sekantor di Genteng, Banyuwangi. Nah sebagai PBKA (Penggemar Berat Kereta Api) ya mesti KA tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Stasiun_Jember"><img class="alignleft size-medium wp-image-393" src="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/02/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Het_stationsgebouw_te_Djember_op_Oost-Java_TMnr_60009816-300x210.jpg" alt="" width="300" height="210" /></a>Alhamdulillah kemarin tanggal 4-6 Februari aku mendapat kesempatan pulang kampung ke Jember&#8230; dan yang lebih menyenangkan lagi kepulanganku ini  kalo menurut istilah Cak Fikik adalah PUBIDI.. PUlang atas BIaya Dinas&#8230; soalnya aku ditugaskan oleh kantor untuk menghadiri resepsi pernikahan teman sekantor di Genteng, Banyuwangi.</p>

<p>Nah sebagai PBKA (Penggemar Berat Kereta Api) ya mesti KA tak jadikan pilihan utama sebagai alat trasnportasi yang akan membawaku ke kampung halaman tercinta. Meskipun hati agak dag-dig-dug soalnya gak sampai seminggu sebelumnya terjadi terjadi <a href="http://www.mediaindonesia.com/read/2011/01/28/199339/123/101/-Kecelakaan-KA-di-Banjar-akibat-Pelanggaran-Sinyal">kecelakaan KA di Stasiun Langensari</a>, Banjar yang menewaskan 3 orang (salah seorang dari korban adalah mahasiswiku). Tapi masalah jodoh, rejeki dan umur itu kan urusan ALLAH, dengan Bismillah aku berangkat ke Jember. Dan kalo naik KA pasti berhentinya di Staasiun KA, yo jelas mosok numpak sepur mudune ning terminal..</p>

<p><span id="more-392"></span></p>

<p>Nah sekarang yang di bahas Stasiun KA Jember aja ya&#8230;</p>

<p>Dulu kalo gak salah cak Faiz pernah upload foto Stasiun KA Jember di facebook  dan memang bentuk Stasiun Jember itu banyak yang tidak terlalu berubah sejak jaman dulu. Seperti gambar yang Stasiun Jember tahun 1927-1929 yang aku dapat dari <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Stasiun_Jember">sin</a>i.  Teringat foto-foto cak Faiz tadi, hati ini jadi ikut tergerak untuk mengambil gambar beberapa sudut stasiun.<a href="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/02/DSCF4189.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-394" src="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/02/DSCF4189-282x300.jpg" alt="achmad rizal van patrang" width="282" height="300" /></a></p>

<p>Nah, gambar depan stasiun ini tapi dari sudut yang berbeda dulu pernah dimuat Cak Faiz di FB, kalo dibandingkan dengan gambar versi jadulnya kok rasanya gak terlalu berubah, cuma memamg rasanya leboh rindang gambar jadulnya. Tanda +89 m itu yang membuat khas dari setiap setasiun. Perasaan gak ada tempat lain yang memuat informasi ketinggian dari atas permukaan laut secara istiqomah seperti Stasiun KA.</p>

<p>Kalo rumahku dikasih tulisan +640 rasanya para tetangga akan bergosip ria.. eh pak iku nomer opo? he..he..</p>

<p>Nah ada lagi yang lain. Jendela&#8230; Kalo diperhatikan jendela di Stasiun Jember ini masih dilestarikan keasliannya (kusennya masih asli gak ya? tapi bentuknya masih mirip dengan foto jadulnya). Jendela-nya gede-gede&#8230; biar anginnya banyak.. soalnya orang Londo yang dulu mengoperasikan sepur mungkin gak tahan sumuk <img src='http://sma1jember.info/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>

<p><a href="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/02/Jendela.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-395" src="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/02/Jendela-300x224.jpg" alt="Achmad Rizal van Patrang" width="300" height="224" /></a> Kalo sekarang meskipun jendelanya gede-gede, dalamnya masih ditutup kaca.. yo tetep sumuk rek, mangkane dikasih AC biar celep..tak iye.. Wah itu kayaknya ruang kepala Stapsiun-nya ya.. <img src='http://sma1jember.info/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>

<p>Tapi yang lebih asyik pas kalo kita masuk kedalamnya. Satsiun Jember memang tidak seramai stasiun  KA di kota-kota besar lainnya. Tapi jangan salah, Stasiun Jember adalah pusat dari PT KAI Daop IX, Daerah Operasi paling timur, bahkan sampai Bali wilayahnya.. Perasaan gak ada deh yang sampai nyebrang pulau kayak Daop IX Jember.</p>

<p>Di dalam Stasiun ada yang menari perhatianku&#8230; coba mbak-mbak, mas-mas, adik-adik lihat di Jam Dinding kuno di foto di bawah.. kira-kira apa yang unik? Kalo dari jauh gini gak kelihatan ya&#8230;</p>

<div id="attachment_396" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/02/Jam_jauh.jpg"><img class="size-medium wp-image-396" src="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/02/Jam_jauh-300x165.jpg" alt="achmad rizal van patrang" width="300" height="165" /></a><p class="wp-caption-text">Ac</p></div>

<p>Kalo aku sempat lihat jam kuno yang tergantung di dinding Stasiun&#8230;. jamnya kuno dan saking kunonya pake angka romawi.. Lah kan biasa pake angka romawi.. tapi yang ini beda&#8230; Coba lihat angka 4-nya</p>

<p><a href="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/02/Jam-dekat.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-397" src="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/02/Jam-dekat-300x225.jpg" alt="achmad rizal van patrang" width="300" height="225" /></a></p>

<p>kalo gak kelihatan, nih tak kasih gambar close-up-nya&#8230; JRENGG&#8230;.</p>

<p>Angka 4 tidak dituliskan dengan IV seperti biasanya, tapi ditulis dengan IIII.</p>

<p>Nah.. unik kan..</p>

<p>Sebelumnya aku pernah baca di Majalah KA yang sering disertakan di tempat duduk KA Eksekutif bahwa beberapa Stasiun KA masih menyimpan jam kuno dengan tulisan IIII, tapi ternyata di Jember pun ada. Bahkan jam kuno ini masih berfungsi dengan baik. Saat aku mengambil foto, memang jam segitu karena dalam rangka menunggu KA Mutiara Timur Siang jurusan Surabaya yang dijadwalnya jam 11.45 Wib.</p>

<p>Nah.. Stasiun Jember ternyata tidak hanya berjasa mengantarkan kita pergi dan pulang ke kampung halaman tercinta. Tapi juga menyimpan beberapa benda bersejarah, unik dan antik sebagai warisan dari masa lalu kota ini.  Semestinya beberapa bangunan bersejarah tetap harus dilestarikan sebagai warisan bagi anak cucu kita, semoga tidak terulang peristiwa dibongkarnya Hotel Djember, disebelah timur alun-alun (sekarang BRI) yang bersejarah.</p>
<img src="http://sma1jember.info/?ak_action=api_record_view&id=392&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sma1jember.info/2011/02/yang-menarik-di-stasiun-kereta-api-jember/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SEJARAH JEMBER.. dari Kompasiana</title>
		<link>http://sma1jember.info/2011/01/sejarah-jember-dari-kompasiana/</link>
		<comments>http://sma1jember.info/2011/01/sejarah-jember-dari-kompasiana/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Jan 2011 10:02:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rizal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jember, rek!]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Warta Berita]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[jember]]></category>
		<category><![CDATA[kereta api]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[selatan]]></category>
		<category><![CDATA[tebu]]></category>
		<category><![CDATA[tembakau]]></category>
		<category><![CDATA[transportasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sma1jember.info/?p=387</guid>
		<description><![CDATA[Mumpung lagi nemu tulisan bagus di kompasiana tulisan dari Saiful Rahman, Tulisannya panjang dan sangat serius,&#8230; cuoocoook buat yang serius pengen tahu sejarah Jember.. Monggo dinikmati Sejarah kabupaten Jember yang saya baca pada situs resmi PEMKAB Jember dibentuk berdasarkan Staatsbland Nomor 322 tanggal 9 Agustus 1928 dan sebagai dasar hukum, mulai berlaku tanggal 1 Januari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mumpung lagi nemu tulisan bagus di<a href="http://sejarah.kompasiana.com/2010/05/16/mengungkap-problematika-sejarah-dan-identitas-rakyat-jember/"> kompasiana</a> tulisan dari <a href="http://www.kompasiana.com/saifulrahman">Saiful Rahman,</a></p>

<p>Tulisannya panjang dan sangat serius,&#8230; cuoocoook buat yang serius pengen tahu sejarah Jember.. Monggo dinikmati</p>

<p>Sejarah kabupaten Jember yang saya baca pada situs resmi PEMKAB Jember dibentuk berdasarkan <em>Staatsbland</em> Nomor 322 tanggal 9 Agustus 1928 dan sebagai dasar hukum,  mulai  berlaku tanggal 1 Januari 1929. Pemerintah Hindia Belanda telah  mengeluarkan ketentuan tentang penataan kembali pemerintah  desentralisasi di wilayah Provinsi Jawa Timur, antara lain dengan  menunjuk Regenschap Djember sebagai masyarakat kesatuan hukum yang  berdiri sendiri. Secara resmi ketentuan tersebut diterbitkan oleh  Sekretaris Umum Pemerintah Hindia Belanda (De Aglemeene Secretaris) G.R.  Erdbrink, 21 Agustus 1928. oleh karena itu hari jadi kabupaten jember  ditetapkan 1 januari dan dirayakannya setiap tahun. (baca di  http://jemberkab.go.id)</p>

<p>Diskursus hari jadi kabupaten Jember  tersebut diuraikanlah jejak-rekam yang pada umumnya bersumber dari  arsip-arsip atau manuskrip yang ditulis tangan warga belanda dan  dikuatkan dengan adanya situs-situs bangunan peninggalan belanda yang  masih berdiri kokoh sampai sekarang. Menurut Tri Candra dalam makalah <em>International Conference on Urban History</em>,  di Surabaya, August 2004, mengurai bahwa proses kapitalisasi oleh  perusahaan perkebunan partikelir belanda di daerah Besuki merupakan  suatu penanda fase pertumbuhan dan berkembangnya secara nyata Jember  sebagai kota. Pada titik inilah kemudian Jember lahir sebagai kota  industri perkebunan. Ia adalah sebuah kota yang lahir dari sebuah proses  modernisasi kota-kota Hindia, sebagai akibat dari sistem perusahaan  bebas yang dianut sebagai prinsip umum ekonomi sejak masuknya kapital  besar, periode akhir abad XIX. (Candra, Tri: 2004).</p>

<p>Tak Jauh beda dengan Tri Candra, Edy Burhan  Arifin menjelaskan sejarah perkembangan pesat peradaban jember sebagai  wilayah industri perkebunan ditentukan oleh semakin merebaknya  perusahaan swasta belanda di wilayaha jember utara dan Jember tengah.</p>

<p>Adapun yang merintis usaha perkebunan swasta di Jember ialah George Birnie yang pada tanggal 21 Oktober 1859 bersama Mr. C.  Sandenberg Matthiesen dan van Gennep mendirikan NV Landbouw Maatsccappij Oud Djember (NV. LMOD) yang semula bergerak di bidang perkebunan tembakau, namun kelak kemudian hari merambah pada perkebunan aneka tanaman seperti kopi, cacao,  karet dsb. (Brosur NV. LMOD:1909). Usaha George Birnie tersebut menarik minat para ondernemer Belanda lainnya untuk menanamkan usahanya dan mendirikan perkebunan di daerah Jember, sehingga dalam waktu yang relatif singkat berdiri perkebunan swasta di daerah ini seperti Besoeki Tabac Maatscappij, Djelboek Tabac Maatscacppij dll. Kehadiran sistem perkebunan swasta ini membawa perubahan-perubahan sosial dan ekonomi pada masyarakat dan yang terpenting terjadinya perubahan status kota Jember pada tahun 1883 yakni yang semula distrik menjadi regentschap sendiiri terpisah dari Bondowoso. Sehubungan dengan berubahnya status kota Jember, maka pemerintah pusat mengadakan perombakan struktur pemerintahan dan digalakkan pembangunan infrastuktur seperti perombakan struktur pemerintahan dan digalakkan pembangunan infrastuktur seperti jembatan, jalan dan yang terpenting dibukanya jalur kereta api dari Surabaya menuju Probolinggo dan terus ke Jember, serta dari Jember  menuju Panarukan yang berfungsi sebagai pelabuhan untuk mengangkut  produk komoditi eksport pada desenia ke sembilan abad XIX. (Burhan, Edi:  2006)</p>

<p><span id="more-387"></span></p>

<p>Dengan derasnya penetrasi modal yang  ditandai dengan semakin banyaknya perusahaan-perusahaan partikelir  berekspansi di wilayah Jember membawa implikasi pada arus besar migrasi  penduduk yang ber etnis Madura dan Jawa kewilayah-wilayah industri  perkebunan di jember. Migrasi ini terjadi demi memenuhi kebutuhan tenaga  kerja dan perluasan wilayah-wilayah perkebunan di jember. Lebih lanjut  Edi Burhan arifin mengutip Bleeker, 1847 dan Tennekes, 1963  mengungkapkan, bahwa tahun 1845 penduduk Jember berjumlah hanya 9.237 orang. Namun sejak desenia ke tujuh abad XIX seiring dibukanya perkebunan swasta di daerah ini terjadi lonjakan jumlah penduduk yang sangat mencengangkan, tahun 1867 meningkat menjadi 75.780 orang. Salah satu faktor penyebabnya ialah terjadinya gelombang migrasi besar-besaran orang madura ke daerah Jember. Pada tahun 1880 meningkat menjadi 129.798 orang. Peningkatan penduduk yang sangat besar itu disebabkan karena terjadi gelombang migrasi besar-besaran  orang-orang Jawa ke daerah Jember. Terjadinya gelombang migrasi orang  Jawa itu dikarenakan pada tahun 1880-an jumlah perkebunan swasta di  daerah Jember semakin banyak dan perkebunan-perkebunan itu membutuhkan  tenaga kerja yang banyak.</p>

<p>Para migran tersebut pada  akhirnya membawa dan mengembangkan budaya asalnya ke daerah yang baru.  Dalam kontek budaya akibat arus migran dari dua entitas budaya berbeda  yang kemudian berdiam pada satu wilayah yang sama, Edi Burhan Arifin  menyebut, telah terjadi proses akulturasi budaya sehingga di daerah  Jember muncul budaya “pandhalungan” yang merupakan percampuran dua anasir budaya  menjadi budaya baru. Anehnya pernyataan yang tidak melalui penelitian  mendalam dan spesifik tersebut kemudian dikuatkan oleh Ayu Sutarto dan  lain-lain yang mengkristal menjadi diskursus kebudayaan pandhalungan di  Kabupaten Jember dengan ciri utama dilihat dari cara praktik bahasa  sehari-hari dan cara berkesenian yang merepresentasikan percampuran  antara etnis Madura dengan etnis Jawa. Menurut Ayu Sutarto, Tipe  kebudayaan orang pandalungan adalah kebudayaan agraris-egaliter. Penanda  simbolik yang tampak jelas dari tipe kebudayaan ini terdapat pada seni  pertunjukan yang digeluti dan penggunaan bahasa sehari-hari yang secara  dominan menggunakan ragam bahasa kasar (ngoko) dan bahasa campuran ‘dua  bahasa daerah atau lebih’ (Sutarto, Ayu: 2006). Sedang Hari Yuswandi  dalam Christanto P.Raharjo bernada sama memberikan definisi sederhana  tentang Pendhalungan sebagai (1) sebuah percampuran antara budaya Jawa  dan Madura dan (b) masyarakat Madura yang lahir di wilayah Jawa dan  beradaptasi dengan budaya Jawa ( Raharjo, P, Cristanto:2006).</p>

<p>Baik publikasi situs resmi PEMKAB Jember  maupun tulisan Tri Candra Ap, Edy Burhan Arifin, Ayu Sutarto, dan  lokakarya-lokakarya yang telah diselenggarakan pemerintah daerah, kalau  diamati narasinya lebih banyak berbicara dan bertumpu pada kekuatan  sumber-sumber tertulis yang telah ada. Sedang isi cerita sejarah yang  dikembangkannya lebih mengarah pada bagaimana proses perkembangan kota  Jember dimulai, sekaligus bersamaan menentukan pembabakan alur sejarah  jember secara keseluruhan. Seakan berbicara dan membayangkan Jember  lampau kemudian tak lepas dari periodisasi sejarah masa kolonialisme,  masa pendudukan Jepang, masa revolusi dan Masa pasca kemerdekaan. Dengan  demikian menganalisa dinamika perkembangan dan perubahan-perubahan  sosial masyarakatnya pun harus mengikuti dan merunut pada proses-proses  sosial pembabakan sejarah yang telah tertulis didalamnya.</p>

<p>Wacana kesejarahan Jember yang telah terdistribusi selama ini menjadi  terbatas pada penceritaan bagai mana kota jember terbentuk dan  kekuasaan administratif Jember sebagai Kabupaten terbangun. Seperti yang  telah saya paparkan diatas, dimana sejarah Jember dimulai dari  penetrasi modal besar-besaran yang masuk kejember oleh perusahaan swasta  Belanda pada tahun 1867 menyebabkan jember berkembang pesat menjadi  kota perdagangan yang melampaui wilayah-wilayah se-kerisedenan besuki  yang secara administratif kemudian pemerintah hindia belanda  berkepentingan menetapkan wilayah afdelling Jember tersendiri terpisah  dari afdelling Bondowoso. Implikasi dari wacana ini,  mainstrean sejarah Jember sebagai sejarah tertulis  berposisi  mensubordinasi sejarah lisan dan meliyankan sumber-sumber cerita  rakyat. Sejarah rakyak diasosiasikan sebatas legenda, dongeng, dan itu  sebagai omong kosong yang tak terkait dengan kebenaran sejarah Jember  masa lampau. Dampak sistemik lainnya, para kaum inteluktal yang paling  berkompeten menggali sejarah lisan menjadi malas menelusuri sejarah  Jember melalui tradisi lisan rakyat.</p>

<p>Implikasi lain menggali sejarah jember  hanya berpatokan pada sumbr tertulis yang mayoritas ditulis oleh  orang-orang kolonial belanda, kesan yang diporoleh, bahwa gelombang  sejarah jember akibat dari penetrasi modal dan kolonialisme belanda yang  dimulai dari arah utara mengakibatkan arus migrasi etnis dari madura  dan jawa. Kesan selanjutanya, peran sentral eksistensi kolonial bangsa  belanda di jember menjadi penentu arah perkembangan sejarah kabupaten  jember pada periodisasi setelahnya. Dan migrasi besar-besaran yang  mempertemukan dua etnis besar yakni etnis jawa dan Madura dalam satu  area di Jember tengah menghasilkan kebudayaan baru Jember bernama budaya  Pandhalungan, menjadi problematis, karena belum tentu merepresentasikan  kebudayaan rakyat jember secara umum. Bisa jadi ini hanya kasuistik  yang terjadi di jember tengah yang tak bisa dipukul ratakan ke wilayah  jember lainnya.</p>

<p>Superioritas penulisan sejarah Jember yang  mengutamakan sumber dokumen tertulis merupakan gejala umum penulisan  sejarah di indonesia, dengan apik Ahmad Nashih Luthfi (2006)  menggugatnya seperti berikut dibawah ini:</p>

<p>Agaknya tidak berlebihan  bila dikatakan bahwa sejarah Indonesia selama ini terkuantifikasi ke  dalam penjelasan yang sifatnya structural, kelembagaan (politik), nilai,  ideology, arus sebagai penggeraknya, tekstualitas, dan mengabaikan  eksistensi kemanusiawiannya. Sehingga muncul istilah history without  people, and people without history. Ketika sejarah mengalami  positifistikasi yang akut, ditandai dengan semboyan “no written document  no history” oleh Ranke, sejarah telah mengkhianati metode  tradisonalnya, metode Herodotus atau Thucydides ketika menulis perang  Peloponnesian, yakni metode wawancara terhadap para prajurit yang  terlibat dalam perang tersebut. Sejak saat itu sejarah mengalami  kemunduran. Namun, setelah Allan Nevins dari Columbia University pada  tahun 1948 menggunakan metode Sejarah Lisan dalam merekonstruksi masa  lalu kulit putih Amerika, Sejarah Lisan mulai kembali mengalami  kemajuan. Disusul dengan Paul Thompson dalam bukunya berjudul Voice of  The Past, Oral History, metode Sejarah Lisan mengembalikan posisi  pentingya, dan membuka potensi rekonstruksi atas masa lalu lebih mudah  dilakukan. Penulisan sejarah semacam ini (khususnya banyak menggali  aspek social) mulai berorientasi pada penulisan sejarah yang beragam,  dari lapisan bawah atau “history from below, history from within”.  Sehingga terjadi usaha pendemokratisan dalam sejarah.</p>

<p>Oleh karenanya pembabakan sejarah jember  yang telah menjadi alur maenstream sejarah dan kategorisasi budaya  pendhalungan yang telah menjadi rezim wacana, perlu ditinjau ulang.  Peninjauan ini saya maksudkan untuk melengkapi kekurangan historigrafi  Kabupaten Jember. Tinjauan pertama bahwa gelombang sejarah jember  dimulai dari jember utara dan penanggalannya mengacu pada narasi  tertulis yang tersimpan rapi dalam lemari kepustakaan pemerintah  belanda,  tanpa disadari telah menafikkan sejarah lesan dan  artefak sejarah lainnya yang berkembang dimasyarakat jember selatan,  bahkan sejarah lisan rakyat jember pada umumnya. Pengamatan saya  dilapangan pada fenomena sejarah rakyat jember yang perlu ditelusuri  kedalamannya sebagai berikut.</p>

<p>Fenomena historisatas  nama-nama desa yang memakai penamaan Jawa yang umum terjadi diseluruh  wilayah kabupaten Jember, mengindikasikan keberadaan rakyat jember ada  jauh sebelum kedatangan koloni bangsa belanda, saya kira merupakan data  yang melengkapi historigrafi yang perlu ditelusuri lebih jauh. Cerita  rakyat desa balung misalnya, (setiap tahun kronologi sejarah Desa balung  Lor dibaca pada acara selamatan desa) dikemukakan, bahwa penamaan desa  Balung bermula ditemukannya tulang tengkorak manusia pertama pembabat  hutan bernama Mbah Budeng, oleh kelompoknya kemudian prosesi penemuan  tengkorak mbah Budeng tersebut ditandai dengan nama wilayah utara hasil  pembabatam dinamai Balung Lor, sebelah barat dinamai Balung Kulon dan  sebelah selatan dinaman Balung Kidul. Mbah Budeng dan kelompoknya  keberadaannya di balung merupakan pelarian dari kerajaan mataram dan  makam mbah Budeng sampai sekarang dikeramatkan sebagai tokoh sejarah  yang melahirkan desa Balung. Lain halnya dengan cerita sejarah  kecamatan Balung, di kecamatan Puger, oleh mayarakat, nama puger  diyakini diambil dari nama pangeran puger yang sempat menetap di puger  bersama pengikutnya. Sampai sekarang cerita yang beredar disana, bahwa  rakyat puger dahulu kala adalah sebagai pengikut pangeran Puger Situs  petilasan (berbentuk makam) Mbah Tanjung, yang berada di Kucur merupakan  bukti historigrafi sejarah desa Puger yang sekarang sudah terpecah  menjadi Desa Puger wetan dan Puger Kulon. Fenomena sejarah lainnya  terjadi di Desa Tamansari Wuluhan ditemukannya oleh masyarakat setempat  artefak bekas taman masa kerajaan majapahit yang diyakini oleh  masyarakat setempat sebagai cikal bakal nama desa taman sari. Masih  banyak lagi nama-nama desa Di kabupaten Jember lainya yang memakai nama  Jawa dan ditengarai berasal dari nama ketokohan atau legenda masyarakat  setempat yang mendominasi dikabupaten Jember. Di Jember Timur, penamaan  desa Mayang Sari erat kaitannya dengan kisah legenda putri Mayang yang  oleh masyarakat setempat diyakini sebagai puteri seorang raja yang  menjadi leluhurnya. Sedang di Jember tengah dan Utara, nama-nama seperti  Gebang, Patrang, Mangli, Arjasa, merupakan legenda nama para bangasawan  kerajaan yang dilakonkan oleh Seni Ludruk setempat dalam cerita babat  tanah Jember.</p>

<p>Tinjauan kedua pada wacana budaya  pendhalungan sebagai hasil akulturasi pertemuan budaya dua atnis besar  antara etnis Madura dan Etnis Jawa di Jember Tengah (atau tepatnya di  wilayah-wiayah pinggiran kota jember) menimbulkan problemmatik  representasi  identitas tersendiri bagi diskursus kebudayaan jember. Dengan hanya  mengambil sempel masyarakat Jember tengah dengan hanya sekilas membaca  pola praktik bahasa sehari-hari dan  kesenian tradisi yang  dikembangkannya, menjadi tidak mewakili kebudayaan rakyat Jember secara  umum. Di jember selatan, (Kecamatan: Balung, Puger, Wuluhan Ambulu,  Gumuk Mas, Kencong), pengamatan saya dilapangan, tidak saya temukan  model perampuran dialek bahasa sehari-hari antara etnis jawa dan madura  seperti yang dicontohkan oleh Ayu Sutarto Di jember Tengah. Juga pada  keseneian rakyatnya tidak terjadi perubahan-perubahan yang berarti.  Etnis jawa dan Madura masih tetap bersikukuh dengan pola-pola bahasa dan  keseniannya masing-masing. Di kecamatan Balung, misalnya, kelompok  etnis madura mayoritas berdiam di sebelah utara, sedang etnis jawa  bertinggal di sebelah selatan dan mendominasi seputar kota kecamatan.  Masing-masing etnis memakai bahasa nya sendiri, baik etnis Jawa dan  Madura tidak berupaya mencampur adukkan. Dalam berkesenian, pada  kesenian jaranan misalnya, saya amati para pendukungnya adalah kelompok etnis etnis jawa, sementara kelompok etnis madura lebih memilih seni hadroh.</p>

<p>Dominasi wacana sejarah Kabupaten Jember  yang bersumber pada sejarah tertulis dan dampaknya pada kategorisasi  kebudayaan Pandhalungan di Jember Tengah yang kemudian ditarik sebagai  representasi sejarah dan identitas kebudayaan Jember, menurut hemat  saya, merupakan penjelasan sejarah dan budaya yang terburu-buru,  terkesan obsesif dan imajiner untuk menemukan Jember sebagai wilayah yang historis, khas,  unik, dan otentik. Karena sejarah lesan rakyat sebagai sumber data  Primer tidak dilibatkan didalamnya. Prosesi penarasian sejarah dimulai  dari jember Utara yang bersumber pada naskah-naskah  dokumentasi kolonial belanda (data primer), dengan tanpa melibatkan  sejarah yang berkembang wilayah Jember lainnya yang bertumpu pada  kekuatan tradisi lisan rakyat, maka, menyebabkan hilangnya pembabakan  sejarah rakyat Jember sebelum zaman berkembangannya industrialisasi  perkebunan, sebelum tahun 1800-an.</p>

<p>Padahal, narasi sejarah jember lainnya  mengungkap, bahwa tahun 1771 telah terjadi perlawanan rakyat jember pada  V.O.C Belanda yang dikoordinir oleh Sayu Wiwit dengan gemilang  menghancurkan pos Belanda di jember (babat bayu, 1773 dalam Hasan Basri:  Tanpa tahun), namun para sejarawan jember enggan menelusurinya karena  terbatasnya sumber tertulis yang bisa menjelaskannya. Mengenai Sayu  Wiwit Pemkab banyuwangi mengusulkan menjadi pahlawan nasional. Disini,  jika telah terjadi pertempuran di Jember pada tahun 1771, lepas dari  ketokohan Sayu Wiwit sebagai orang blambangan yang masuk dalam batas  geografis Banyuwangi atau kekalahan V.O.C Belanda disatu sisi, bukankah  ini pertanda bahwa telah ada pribumisasi rakyat Jember sebelum era  migarasi besar-besar akibat industri perkebunan di Jember?</p>

<p>Sejarah lisan rakyat  Jember yang membisu di ruang publik, lokusnya dominan berada di jember  selatan. Ini bisa dimaklumi karena sejarah jember yang sudah banyak  beraksi dipanggung publik alirannya dari jember utara sedang di Jember  selatan kurang terapresitif karena minimnya sumber tertulis untuk  menjelaskan fenomena sejarahmasa lampaunya. Sedang data-data untuk  menjelaskan fenomena sejarah di Jember selatan lebih banyak berasal dari  cerita rakyat, dari mulut kemulut, dan seringkali terendap diruang alam  bawah sadar. Cerita Sogol di ambulu, Mbah budeng di balung, Pangeran  puger di puger, candi deres di gumukas, situs taman bekas kerajaan  majapahit ditaman sari, dan lain lain yang masih banyak terpendam di  Jember selatan, merupakan tantangan pada diskursus sejarah jember untuk  lebih apresiatif dan serius mengadirkan sejarah jember sebenarnya secara  utuh pada khlayak luas.</p>

<p>Fakta lainnya, jika diarahkan demi  memperkaya historisitas Jember, yakni kontrakdiksi nama-nama desa yang  memakai nama Jawa -mayoritas dikabupaten Jember- namun etnis penduduk  yang berdiam didalamnya mayoritas ber etnis madura, terutama terjadi di  Jember Timur dan Jember barat. Misalnya Nama-nama desa: Pakusari, Mayang  Sari, Sumbersari, Bangsal Sari, Gambirono, yang kesemuanya mayoritas  penduduknya ber etnis Madura. Tentu hal semacam ini tak bisa diindahkan  begitu saja untuk masuk menelusuri lapisan sejarah Jember lebih dalam  lagi. Kemungkinan telah terjadi prosesi perubahan sejarah yang besar  prakolonialisme yang telah kita alpakan disini. Bisa jadi, disamping  untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja dalam skala besar, sekaligus <em>hidden agenda</em> politik belanda untuk menggusur pribumisai etnis Jawa yang telah lama mendiami wilayah Jember.</p>

<p>Oleh karenanya sangat penting menggali  sejarah jember yang masih belum terkuak, dimana data-datanya masih  berserakan dialam bawah sadar rakyat Jember. Penggalian dan pengumpulan  data sejarah rakyat hanya bisa kita kerjakan dan kita dapatkan dari  sejarah lisan mereka. Sejarah Jember yang sudah ternarasikan melalui  sumber-sumber tertulis akan lebih mendekati pada kebenaran dan lebh  indah dipermukaan, apabila tidak vis-avis dengan sejarah lisan rakyat  tetapi saling berkorelasi, dan tidak lagi berposisi mensubordinasi atau  menegasi.</p>

<p>Penelitian lisan tidak  digali dengan ’kepala kosong’. Segalanya disiapkan dalam kerangka yang  matang. Dengan demikian, informan tidak akan bicara tanpa makna, tetapi  diarahkan pada kebutuhan peneliti. Pembicaraan bersifat lentur karena mendekatkan pada proses. Namun demikian, peneliti tetap menjadi pengendali.</p>

<p>Demikian juga pada  pendekatan kultur, kemampuan peneliti ditantang. Pendekatan ini  memungkinkan terciptanya dialog yang alami. Informan tidak merasa  diinterogasi, tetapi diajak untuk berkelana mengarungi pulau masa lalu.  Pelan tapi pasti, segala persitiwa yang ingin dibidik peneliti, akan  terlontar dari informan. Pernyataan secara alami itulah, yang akan  menjadi data baru yang unik, <em>pure</em>, dan berbeda dari penuturan dokumen.</p>

<p>Dalam  sejarah lisan, peneliti memang harus membatasi hubungan dengan dokumen.  Apabila terjadi, ia hanya akan menjadi penutur sejarah terburuk.  Artinya, hanya mengulang penjelasan yang sudah ada.  Penelitian lisan berusaha menghasilkan data yang berbeda, dengan  mendekatkan pada fungsi evaluasi dan refleksi dokumen.</p>

<p>Fungsi  tersebut, memungkinkan sejarawan berdialog secara psikologis dengan  data. Proses ini akan memunculkan ’empati historis’. Sifat ini perlu  ditumbuhkan dalam jiwa sejarawan, untuk membangun logika analisa fakta.  Empati bukanlah sebuah ’dosa’, tapi justru cara membuat historiografi  menjadi lebih manusiawi.</p>

<p>Sejarah bukan <em>icon</em> kaku tanpa ekspresi. Pergulatan manusia dalam melawan nasib adalah  kerja manusiawi yang sarat pergolakan batin dan jiwa. Situasi ini akan  hidup jika muncul muatan psikologis. Data lisan memungkinkan kerja-kerja  psikologis untuk menghidupkan fakta, tanpa mengurangi validitas dan  kredibilitasnya. Kekuatan data dapat menunjukan mentalitas informan  dalam menghadapi situasi zaman. Secara kolektif akan memunculkan <em>genre</em> baru: sejarah mentalitas.</p>

<p>Sebagai akhiran, pernyataan pujangga dan sejarawan Belanda, Willem Bilderijk, pantas untuk direnungkan.<strong> </strong>Setiap kejadian memang timbul-tenggelam, tapi tidak berarti diam<strong>. </strong>Ia mengandung makna yang aktif—menyajikan pelajaran hidup yang kemudian diterjemahkan dengan nama: hikmah. Apalagi dalam kacamata historis, kejadian itu bersifat tridimensi—<em>past, present, and future.</em> <em>“Apa yang timbul, dan apa yang tenggelam, </em><em>Tidak  tercerai-berai, melainkan berkesinambungan, Hari kemarin memangku hari  sekarang. Dan hari sekarang menumbuhkan hari depan!”</em><em>(Willem Bilderijk).</em></p>
<img src="http://sma1jember.info/?ak_action=api_record_view&id=387&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sma1jember.info/2011/01/sejarah-jember-dari-kompasiana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Jalur Tebu&#8221; Kereta Api Jember Wilayah Selatan</title>
		<link>http://sma1jember.info/2009/12/kereta-api-jember-selatan/</link>
		<comments>http://sma1jember.info/2009/12/kereta-api-jember-selatan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Dec 2009 03:54:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ikhlasul Amal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jember, rek!]]></category>
		<category><![CDATA[Nostalgia]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[jember]]></category>
		<category><![CDATA[kereta api]]></category>
		<category><![CDATA[selatan]]></category>
		<category><![CDATA[tebu]]></category>
		<category><![CDATA[tembakau]]></category>
		<category><![CDATA[transportasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sma1jember.info/?p=342</guid>
		<description><![CDATA[Saya punya hutang janji menulis untuk Cak Ekoz al-Guevara: tentang perkeretaapian di wilayah Jember Selatan. Sekaligus saya tersadarkan bahwa di antara kita ada yang belum sempat menyadari jalur eksotis kereta api di selatan. Jangan khawatir, bagi saya pun sayup-sayup karena sangat sedikit ingatan tentang kereta api ini. Membentang di sebelah utara sungai besar dan instalasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya punya hutang janji menulis untuk Cak Ekoz al-Guevara: tentang
perkeretaapian di wilayah Jember Selatan. Sekaligus saya tersadarkan
bahwa di antara kita ada yang belum sempat menyadari jalur eksotis
kereta api di selatan. Jangan khawatir, bagi saya pun sayup-sayup
karena sangat sedikit ingatan tentang kereta api ini.</p>

<p>Membentang di sebelah utara sungai besar dan instalasi perairan dari
desa Curah Malang, Kec. Rambipuji, hingga desa Tutul, Kec. Balung,
terdapat rel kereta api hasil pencabangan di pertigaan sohor
Kaliputih, Rambipuji. Di sisi selatan sungai terdapat jalan raya
penghubung Jember-Lumajang, yang digunakan hingga sekarang. Bak
&#8220;jalur sutera&#8221;, prasarana ini memang sengaja dibangun sejak era
kolonial untuk membuka perdagangan antarkota.</p>

<p><span id="more-342"></span></p>

<p>[field name=iframe]</p>

<h2>Ada apa di selatan zaman dulu?</h2>

<p>Di desa Tutul hingga Kencong terdapat lahan tebu sangat luas yang
memasok pabrik gula di Kencong. Pabrik gula Kencong ini berada di
sektor selatan, melengkapi sektor utara yang ditempati pabrik gula
juga di Semboro dan Jatiroto, Kab. Lumajang. Tidak berlebihan jika
Kencong termasuk salah satu cikal-bakal sejarah pabrik gula Belanda.
Lengkap dengan kompleks pabrik berupa loji hingga tanah lapang
publik yang dapat disaksikan sekarang, sejarah Kencong dapat
ditelusuri hingga <a href="http://www.google.co.id/search?hl=en&amp;as_q=kentjong+suikerfabriek&amp;as_epq=&amp;as_oq=&amp;as_eq=&amp;num=10&amp;lr=lang_nl&amp;as_filetype=&amp;ft=i&amp;as_sitesearch=&amp;as_qdr=all&amp;as_rights=&amp;as_occt=any&amp;cr=&amp;as_nlo=&amp;as_nhi=&amp;safe=images">hikayat awal industri gula Belanda</a>. Jawa Timur
sendiri merupakan penopang utama industri gula nasional, walau
kondisi pabrik-pabrik gula peninggalan Belanda tersebut mengenaskan.</p>

<p>Komoditi tambahan yang diangkut dari daerah selatan adalah beras dan
tembakau. Sudah menjadi tradisi lokal di masa itu beberapa rumah
besar memiliki lumbung dan tempat penjemuran padi keluarga. Di era
Orde Baru, sebuah lumbung besar Badan Urusan Logistik (Bulog)
didirikan di Jambearum, Kec. Puger, untuk menampung beras hasil
panen.</p>

<p><a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/2931345663/" title="Morning Blue by Ikhlasul Amal, on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3225/2931345663_30de4abe1c.jpg" width="500" height="333" alt="Morning Blue" /></a></p>

<p>Akan halnya tembakau, di tahun 1960-an, sudah lazim bagi saudagar
setempat berniaga membawa rajangan daun-daun kering tembakau hingga
Kebumen, Jawa Tengah. Keluarga besar kami yang berasal dari dua
simpul pendatang Bojonegoro dan Pulau Bawean, diduga migran
perdagangan ini. Acara menimbang daun tembakau, <a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/sets/72157607960932770/">sejumlah gudang
bambu</a>, dan konvoi pekerja bersepeda di sore hari, adalah fenomena
turun-temurun yang masih tersisa hingga sekarang.</p>

<p>Dengan pertimbangan ekonomi seperti di atas, masuk akal jika
dibuatkan rel kereta api dan jalan raya penghubung lewat Balung atau
Ambulu, Kasiyan, Kencong, Gumukmas, Yosowilangun, hingga Lumajang.
Tidak berlebihan pula seandainya sungai besar yang diapit tersebut
terhindar dari kebiasaan buruk dijadikan ruang mandi terbuka,
miniatur wisata sungai ala kota-kota di Belanda dapat
diselenggarakan.</p>

<p><a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/2930722674/" title="Gumelar, Balung, Jember of East Java by Ikhlasul Amal, on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3249/2930722674_ca4486d29d.jpg" width="500" height="375" alt="Gumelar, Balung, Jember of East Java" /></a></p>

<h2>Kereta api primadona masa lalu</h2>

<p>Di masa sebelum taman kanak-kanak, berarti sekitar tahun 1974, saya
sering menyempatkan diri duduk di belakang rumah nenek, di pinggir
sungai besar tadi, dan menyaksikan kereta api lewat dari arah utara,
Jember, menuju selatan, Lumajang. Stasiun kereta api tidak jauh dari
rumah nenek, sehingga kereta api sudah mulai melambat. Di sebelah
kanan terdapat jembatan besi kokoh bekas rel ke arah timur, Ambulu.
Saya tidak pernah melihat kereta api ke arah Ambulu ini, hanya
kisah-kisah para tetua di keluarga menyebut pengalaman mereka
mengangkut tembakau ke sana. Bukti yang masih dapat dilihat saat itu
adalah bekas jalur kereta dan jembatan di atas Sungai Bedadung.</p>

<p><a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/4024752452/" title="I Hope It's Real River Beauty by Ikhlasul Amal, on Flickr"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2481/4024752452_c1544595fa.jpg" width="333" height="500" alt="I Hope It's Real River Beauty" /></a></p>

<p>Satu-satunya pengalaman mengesankan yang masih saya ingat adalah
acara keluarga ke Lumajang naik kereta api. Yang tersisa dalam
bayangan saya adalah gerbong ekonomi, berbangku kayu panjang
berjejer, dan setiap orang duduk menghadap jendela. Mirip seperti
gerbong barang yang disulap menjadi gerbong penumpang. Karena hanya
sekali itu bepergian naik kereta yang saya ingat dan faktor usia
masih kecil juga, boleh dikata saya tidak memiliki ingatan yang
memadai tentang &#8220;naik kereta api jalur tebu Jember-Lumajang&#8221;
tersebut.</p>

<p>Tentang stasiun Balung pun saya hanya ingat dulu juga ditempati
kantor pos yang sibuk melayani surat, tabungan nasional, dan
pengiriman barang (paket). Tampaknya urusan korespondensi dititipkan
kereta api dan setelah jalur kereta api dihentikan, bangunan
tersebut masih ada di kompleks stasiun. Hingga di tahun 1980-an
pemerintah memindahkan kantor pos dari kompleks stasiun ke pinggir
jalan besar di Balungkulon dan praktis angkutan surat-menyurat
dititipkan ke bus Akas tujuan Lumajang.</p>

<p>Kompleks stasiun Balung masih ada saat ini, di sebelah barat
perempatan utama pertemuan jalur Rambipuji-Balung dan Ambulu-Balung.
Saksi sejarah yang sunyi karena memang tidak terawat, menjadi tempat
penampungan gelandangan, dan belum tahu juga kelanjutan lahan milik
PT&nbsp;Kereta Api Indonesia (KAI) yang saat ini terbengkalai.</p>

<p><a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/2512723430/" title="Balung Old Train Station by Ikhlasul Amal, on Flickr"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2264/2512723430_d0d44b39a6.jpg" width="500" height="375" alt="Balung Old Train Station" /></a></p>

<p>Cerita menarik lain: pada saat saya dan adik kanak-kanak, kami
sering bermain &#8220;sepur-sepuran&#8221; berbekal buku daftar perjalanan
kereta api tahun 1960-an se-Indonesia (Jawa dan Sumatera). Buku
tersebut berisi daftar yang sangat rinci dari nama kereta api dan
nomor serinya, asal dan tujuan perjalanan, dan waktu kedatangan dan
keberangkatan di setiap stasiun. Tidak ada orang tua yang sempat
bercerita tentang buku tersebut, namun dugaan saya dibeli oleh kakek
yang sempat berdagang tembakau hingga Kutoarjo, Jawa Tengah.</p>

<p>Saya tidak pernah mendapati buku perjalanan kereta api selengkap itu
setelahnya. Barulah pada tahun 2001 saat saya mendapat kesempatan
tinggal di Groningen, Belanda, saya melihat buku seperti itu,
<a href="http://nl.wikipedia.org/wiki/Spoorboekje"><i>Spoorboekje</i></a>, dijual di toko buku di stasiun Groningen Centraal. Format utamanya masih
mirip, dalam bentuk tabel, tentu saja gaya penyajiannya sekarang
sudah modern. Dengan kata lain, pada saat pemesanan karcis kereta
api sudah dilayani secara daring (<i>online</i>) di Belanda, buku
klasik seperti yang terdapat di &#8220;Hindia Belanda&#8221; masih dicetak dan
dijual!</p>

<p>Pertanyaan penting dalam konteks yang lebih luas: seberapa jauh kita
sanggup konsisten, istiqomah, mempertahankan infrastruktur layanan
publik yang baik? Alih-alih bongkar-pasang hapus yang lama, bikin
yang baru, nyaris tanpa upaya perawatan. Saya sempat membaca rencana
pembangunan <a href="http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&amp;id=113545">kereta api super cepat Jakarta-Bandung-Cirebon</a>: apakah
itu yang benar-benar kita perlukan jika menghidupi hajat orang
banyak seperti Kereta Rel Diesel (KRD) Bandung-Cicalengka belum juga
dapat menjadi layanan transportasi yang nyaman dan dapat diandalkan?</p>

<p>Di grup Indonesian Railway Pictures di Flickr disebutkan <a href="http://www.flickr.com/groups/irp/discuss/72157622729767210/">beberapa jalur
kereta api ditutup karena dianggap tidak layak secara ekonomis</a>. Pada
saat kereta api Jember-Lumajang ditutup pun, angkutan umum antarkota
(sebenarnya angkutan yang disediakan perorangan, bukan layanan
publik pemerintah) mulai meningkat dan &#8220;hukum rimba ekonomi&#8221; memukul
kereta api dengan telak. Sekarang ini, angkutan antarkota tersebut
ganti merana dipukul kepemilikan sepeda motor yang sudah berlebih.
Artinya, jika diserahkan kepada &#8220;hukum persediaan dan keperluan&#8221;
publik, arah penyediaan transportasi publik kita menjadi seenaknya,
tidak ekonomis dalam skala luas, dan sangat rentan dalam hal faktor
keamanan di ruang publik. Sederhana saja: coba pertimbangkan
pergeseran pengangkutan tebu, dari kereta api kemudian truk. Sekarang
ini, sebagian komoditas pertanian diangkut dengan memaksakan diri
di atas sepeda motor.</p>

<p><a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/2760904767/" title="Preparing for Cattle Feeding* by Ikhlasul Amal, on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3190/2760904767_db0d40e82e.jpg" width="500" height="333" alt="Preparing for Cattle Feeding*" /></a></p>

<p>Saya membayangkan transportasi berbasis kereta api yang lebih baik,
tetap pada fungsinya sebagai transportasi cepat massal, lebih
daripada bernostalgia keelokan perkeretaapian di sektor selatan
Jember.</p>
<img src="http://sma1jember.info/?ak_action=api_record_view&id=342&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sma1jember.info/2009/12/kereta-api-jember-selatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

