Koleksi Foto Lama “Wahid Hasyim”

Kegiatan berkaitan dengan kampung halaman saya di Balung, Jember, yang saya tekuni saat ini adalah melakukan digitalisasi stok foto Wahid Hasyim. Saya tidak menghitung jumlah persis stok foto yang berhasil diselamatkan; saya terima dalam kemasan dua kardus sedang. Inisiatif ini sebenarnya sudah terlambat karena beberapa foto mulai rusak terkena lembab, namun inilah yang ada. Koleksi hasil pemindaian saya pasang di Flickr, Galeri Foto Wahid Hasyim.

Foto Bersama Lengkap di Dalam Kompleks Sekolah

Continue reading “Koleksi Foto Lama “Wahid Hasyim””

Usia Jember Lebih Tua daripada Surabaya

Fakta yang mengejutkan… eh fakta bukan ya…

dari http://beritajatim.com/detailnews.php/6/Politik_&_Pemerintahan/2011-04-04/97181/Usia_Jember_Lebih_Tua_daripada_Surabaya

Senin, 04 April 2011 08:30:22 WIB Reporter : Oryza A. Wirawan

Jember (beritajatim.com) – Usia Kabupaten Jember diperkirakan lebih tua daripada usia Kota Surabaya. Ada situs yang menyatakan Jember mulai ada di tahun 1088.

Ihwal tahun kelahiran Jember ini tertera di situs prasasti Congapan yang berada di Desa Karangbayat Kecamatan Sumbersari. “Di situ tertulis ‘tlah sanak pangilanku’ yang artinya tahun 1088,” kata Didik Purbandriyo, Koordinator Balai Pelestarian Peninggalan Purbakal Kementerian Budaya dan Pariwisata.

Jika ini menjadi acuan, maka usia Jember saat ini mencapai 923 tahun. Bandingkan dengan Surabaya yang berusia sekitar tujuh abad. Namun, tidak seperti Surabaya yang dipastikan tanggal berdirinya pada 31 Mei, masih sulit mengidentifikasi tanggal pasti lahirnya Jember.

Kendati sudah ada prasasti Congapan yang mengonfirmasi tahun tersebut, Pemerintah Kabupaten Jember lebih memilih menggunakan staatsblad nomor 322 tentang Bestuurshervorming, Decentralisastie, Regentschappen Oost Java. Pengesahnya adalah Gubernur Jenderal De Graeff. Di situ disebutkan, status Jember ditingkatkan dari afdeeling menjadi regentschap, per 1 Januari 1929. Regentschap setara dengan kabupaten. Inilah yang kemudian dijadikan acuan tanggal lahir Jember.

Didik tidak tahu persis kenapa tahun lahir bikinan Belanda itu yang dijadikan acuan. Yang terang, di Jember ada banyak situs yang menunjukkan usia Jember sudah sangat tua.

“Kalau dilihat di kitab Negara Kertagama, Jember hanya perlintasan turne (perjalanan) Hayam Wuruk ke daerah selatan,” kata Didik.

Kelurahan Mangli dulu juga kerajaan kecil di bawah Blambangan. “Perang Sadeng yang termasyhur itu juga diperkirakan terjadi di daerah Kecamatan Balung sekarang. Perang Sadeng kemungkinan ada di sana, karena di Balung sampai Kecamatan Semboro ada temuan benteng,” kata Didik. [wir]

Sedikit Jejak Sejarah Pahlawan Jember

Mungkin bosen ya baca postinganku tentang sejarah Jember, tapi ya gimana lagi, aku suka banget belajar sejarah, meskipun gak kuliah di Ilmu sejarah… Apalagi itu soal sejarah hal-hal yang dekat dengan kita.. sejarah Jember misalnya. Nah mumpung baru Februari kemarin sempat pulang ke Jember, ya tak mangfaatken,,(yang bener manpaatkan, munfaatkan atau manfaatkan ya..) untk napak tilas tempat-tempat yang bersejarah.. Yuk mulai ceritanya.

Achmad Rizal van Patrang Nah , kalo memasuki Kota Jember dari arah Surabaya, pasti ketemu sama patung ini (Kecuali naik Kereta Api).. letaknya pas diujung doubleway, jalan Hayam Wuruk, Kaliwates Jember. Taruhan deh.. gak banyak yang tahu ini sebenarnya patung siapa dan dalam rangka apa dan kenapa kok menunjuknya ke arah Timur.. Kok gak ngacung ke atas, kok gak mengacung pake 3 jari.. Metal … atau jari tengah he..he.. sing iki saru  🙂

Lah kenapa kok pake ngerangkul temannya yang terlihat terluka, kok gak berpelukan kayak teletubbies.. dan banyak pertanyaan kenapa yang lain.. Tapi itu kan buat orang yang kritis.. tapi juga buat orang yang kurang kerjaan kayak aku.

Kalo patung ini didekati, tidak ada informasi satupun yang tersisa di prasasti di bawah patung. jang kosong, cuma marmer hitam tanpa tulisan apapun…. sumpah deh..kalo gak percaya lihat nih di foto berikutnya.

Lho, terus buat apa bikin patung terus gak ada penanda/informasi satupun tentang maksud monumen itu didirikan, mestinya kan ada imfo-nya, jadi gak cuma jadi penghias jalan, tapi jadi bahan untuk dikenang warga Jember.

Continue reading “Sedikit Jejak Sejarah Pahlawan Jember”

Palagan Jumerto, Saksi Perjuangan Rakyat Jember

Tulsan ini mungkin masih berkaitan dengan tulisanku yang lama tahun 2008

Desa Jumerto, Patrang, Jember, menyimpan sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan NKRI. Tiga belas anggota Brimob dan 20 warga setempat tewas karena ditembus peluru pasukan Cakra dari KNIL Belanda yang berniat menduduki Indonesia. Monumen Palagan Jumerto yang berdiri di depan Kelurahan Jumerto, Kecamatan Patrang, tetap kukuh. Deretan nama 13 anggota Brimob Polri dan 20 warga setempat tertulis jelas pada monumen yang diresmikan 1 Juli 1984 oleh Kapolda Jawa Timur saat itu, Mayjen Polisi Soedarmadji.

Kapolres Jember saat itu, Letkol Polisi H Soemardiono, juga tertulis di monumen tersebut. Dua bambu runcing, logo Brimob, logo Polri, serta logo Polda Jatim, pun terpampang di monumen bersejarah tersebut.

Tidak banyak yang tahu sejarah monumen setinggi 10 meter tersebut. Para saksi mata peristiwa maut itu sudah tiada. Kini tinggal anak dan para cucu saksi mata yang tetap mengenang sejarah kepahlawanan 13 anggota Brimob dan 20 warga Jumerto tersebut.

Suhadi, salah seorang warga Ju­merto, menyatakan mendapatkan cerita kepahlawanan itu dari Abdarullah, ayahnya yang meninggal lima bulan lalu. Dia kemudian men­ceritakan peristiwa Palagan Jumerto. Kejadian tersebut bermula dari kedatangan 13 anggota Brimob yang mendapatkan tugas patroli keliling Jawa Timur (Jatim).

“Tiga belas anggota Brimob itu baru datang dari perjalanan panjang,” kata Suhadi. Sebelum menginap di Desa Jumerto, mereka menempuh perjalanan dari Lumajang, Malang, dan Blitar. “Ayah saya lupa harinya. Saat itu 1949,” tambahnya.

Continue reading “Palagan Jumerto, Saksi Perjuangan Rakyat Jember”

SALAH SEBUT DI PATRANG

Kebetulan bulan Januari 2010 kemarin, aku berkesempatan untuk jalan-jalan ke Palembang, Sumatera Selatan. Selain Jembatan Ampera-nya yang membentang diatas sungai Musi, pempek dan durennya ada hal lain yang membuat aku terkesan. Di Palembang, jalan-jalan protokol dinamakan dengan nama-nama terasa asing bagi orang yang baru menginjakkan kaki di Palembang. Beberapa nama jalan itu misalnya Jalan Kapten Rivai, Jalan Mayor Ruslan, Jalan Mayor Salim, Jalan Ki Ronggo Wirosentiko, Jalan Kapten Anwar Sosro, Jalan Letnan Dua Rozak dan masih banyak nama jalan lain yang menggunakan nama orang yang aku gak kenal. Dari bincang-bincang dengan teman yang tinggal di Palembang barulah aku ‘ngeh’ bahwa  nama-nama yang dipampang di jalan-jalan di kota Palembang terkait dengan peristiwa Pertempuran 5 Hari Palembang yang heroik di 1-5 Januari 1947.

Dibandingkan di Jember sebenarnya tidak terlalu istimewa, karena di Jember juga ada Jalan M Seruji, Jalan dr Subandi, JalanR Sudarman..tapi di Jember cuma sedikit sedangkan di Palembang..beuh.. banyak banget 🙂 Continue reading “SALAH SEBUT DI PATRANG”

Jeneng Kelas di SMA 1 Jember

Gak salah kalo jaman SMA itu dikatakan jaman yang paling menyenangkan, soalnya sekolah masih nyantai, boleh gak terlalu serius dan ketemu teman-teman seumur yang lagi lucu-lucunya. Kegiatannya selain belajar pasti maen bareng genk atau teman sekelas. Dengan motivasi meningkatkan kekompakan teman-teman sekelas biasanya  kelasnya dikasih nama yang seru-seru yang mencerminkan jiwa atau semangat kelas.

Di tulisan ini Aku pengen sharing tentang obrolanku dengan Cak ekoz, salah satu penggiat Blog SMA 1 Jember ini yang terkenal dengan daya ingatnya yang Ruuuarrr Biaaasa tentang  beberapa nama kelas yang sempat atau masih diingatnya. Obrolan ini sebenarnya kami lakukan pas bulan Ramadhan tahun 2008, cuma gak sempat ditulis untuk disebar lewat blog ini mengingat betapa malasnya diriku. Tapi membaca koment Cak Eko yang dengan memelas di posting  “Selamat Berulang Tahun Kesepuluh, Milis 1988”, diriku jadi tergerak untuk nulis…

Continue reading “Jeneng Kelas di SMA 1 Jember”

Bernostalgia di Jember Klinik

Jika pada kesempatan mudik lebaran tahun ini, akhir September lalu, saya berkesempatan pulang ke “tanah kelahiran” Balung, kecamatan di sebelah selatan Kab. Jember, dan tidak sempat berkunjung ke Kota Jember yang kian ramai, bulan November lalu sebaliknya: datang dan menginap di Kota Jember dan tidak sempat menjenguk Balung.

Seperti biasa, ini bagian dari acara perjalanan dinas ke Surabaya, saya tumpangi dengan melanjutkan ke Jember karena nenek sedang dirawat inap di Rumah Sakit Jember Klinik. Dengan keyakinan mengingat perjalanan Surabaya-Jember sejak zaman kuliah, santai saja saya naiki bus Akas jurusan Jember dari Terminal Purabaya, Surabaya/Sidoarjo, pada pukul 17.30, dan sampai di Terminal Tawangalun Jember, sekitar pukul 22. Taksi selanjutnya mengantarkan saya hingga di R.S. Jember Klinik, yang di beberapa spot saya lihat disingkat JeKlin.

Continue reading “Bernostalgia di Jember Klinik”

KAMPANYE : “Carpak ler keleran..Carpak ler keleran”

kampanye terbuka (diambil dari detik.com) Hari ini (16/03) adalah awal dari masa kampanye terbuka (baca musim pawai,konvoi,dan kadang kala ada bonus rusuhnya juga), atau kampanye yang sangat Indonesia. Gegap gempita ,hura hura dan jauh dari esensinya. Sebenarnya telah beberapa saat kampanye parpol untuk pemilihan calon anggota legislatif berkelindan di sekitar. Dimulai dari berbagai iklan Gerindra yang sampai-sampai anakku yang terkecil apal banget dan selalu berkata lirih mendesah… Ge-Rin-Dra ..setiap wajah Prabowo yang tiba-tiba menjadi sosok sangat humanis dan pro rakyat ..muncul di televisi. Lalu disusul dengan iklan-iklan ”Hidup adalah Perbuatan” si Sutrisno Bachir, yang akhirnya jadi olok-olok dimana-mana… juga..iklan simultan sang Capres gagal…Rizal Malallaranggeng yang sebenarnya sangat bagus dari sisi penggambaran alam Indonesia tapi akhirnya dihentikan karena kehabisan ”energi”.., dan tentu saja iklan kontroversial Soeharto guru bangsa versi PKS itu. Kemudian dilanjutkan dengan bertebaran wajah-wajah para caleg dengan bentuk poster foto yang mungkin penggambaran terbaik wajah mereka selama hidup mereka dengan segala slogan yang terkadang garing, bahkan cenderung menggelikan jikalau mereka tak terlalu pede untuk tampil sendiri maka dengan tanpa ijin mereka bisa menggandeng Barack Obama ato David Beckham (biasanya favorit caleg Golkar) lantaran si spice boy itu punya nomer punggung ”23” saat maen di Real Madrid. Disusul kemudian berbagai macam talkshow di TV yang kadang-kadang bikin perut mual dengan segala tingkah polah para caleg yang mencoba menjadi problem solver bagi semua masalah bangsa ini…dari soal Tambang sampai PKL, dari soal Kurs Rupiah sampai cara meningkatkan prestasi sepakbola Nasional. Dan off course,…itu semua hanya appetizer belaka…dan inilah..main Coursenya…kampanye terbuka dengan raungan motor yang garang, goyang dahsyat para pedangdut yang lupa telah ada UU pornografi dan porno aksi dan juga pekik semangat yang terasa garing di telinga…tapi ya itulah…kampanye tanpa konvoi dan penyanyi dangdut ibarat sayur tanpa garam ,..hambar….

Well aku gak akan cerita kampanye tahun ini.,,, aku mau share cerita kampanye masa silam. Sebagai anak kebun …yang masih teringat tentang keriuhan kampanye menggelora adalah di tahun 1977, saat itu bapakku dadi Zijnder Pabrik di salah satu kebun di Glenmore Banyuwangi. Di masa itu dengan 3 partai yang tersisa PPP,GOLKAR dan PDI, tentu tak serriuh rendah sekarang. Aroma persaingan nyaris tak ada, Apalagi di kebun, tak satupun berani masang tanda gambar selain Golkar, wal hasil dimana-mana yang ditemui adalah gambar beringin,warna kuning dan gambar jari mengacungkan tanda Victory yang misti dibaca ”2” nomer urut Golkar. Pertemuan umum (kampanye terbuka) yang saya ikuti adalah saat Ibu Direktur Utama dan Bapak direktur utama PTP dari Jember kerso rawuh dan memberikan ”santiaji” kepada para kawulonya para buruh kebun di Glenmore, walau masih kecil moment itu sangat melekat di memoriku…malam itu kampanye diawali dengan tari-tarian penyambutan, lalu koor puja puji bagi pemerintah dan negara dari paduan suara dadakan buruh kebun yang tentu saja pas-pasan penampilannya dan tentu saja santiaji dari ibu Dirut yang sangat piawai menggiring dengan setengah memaksa para karyawan untuk memilih GOLKAR pada Pemilu itu, pidato bahasa Indonesia diselipi bahasa Madura yang fasih itu juga ditimpali dengan yell yang digerakkan para ”combe” yang membaur bersama karyawan di braak pertemuan kebun karet itu. ” Golkar Menang, Pancasila jaya,Pembangunan Terus” di ulang-ulang sampai saatnya si ibu turun pangung dan inilah kemudian yang diganti hiburan orkes melayu yang anehnya tak satupun berani membawakan lagu-lagu Rhoma Irama yang sebenarnya lagi ngetop saat itu kayak ”Penasaran” dan ”Begadang” tentu saja ada alasannya …para pemain orkes itu gak mau bunuh diri menyanyikan lagu-lagu si raja dangdut yang saat itu menjadi ikon partai pesaing Golkar, karena bisa menggulingkan periuk nasinya….

Lima tahun kemudian 1982, tatkala aku sudah sekolah di Jember. Ritual kampanye pada waktu itu tetap menarik aku ikuti, mungkin lebih karena adanya keramaian sebagai tontonan daripada sebuah kesadaran untuk memahami dunia politik yang saat itu rasanya sama saja. Siang-siang itu aku ikut menggelosor di alun-alun kota jember yang dihadiri ratusan orang beratribut Banteng. Sama seperti kampanye 5 tahun sebelumnya, keriuhan kampanye terbuka selalu diawali dengan nyanyi, lalu pidato-pidato monotoon dengan intonasi jurkam yang dimiri miripkan suara Bung Karno dengan akhiran ”…ken ” yang khas,, dan diakhiri dengan peragaan mencoblos gambar banteng di spanduk besar oleh Soenawar Soekowati petinggi PDI dari Jakarta, aku inget sekali ikut berbaur berusaha mendekati si bapak berjas merah itu. Gemuruh massa emang bener-bener memantik adrenalin…wuiihhhh…Siang yang sangat sedappp.

Kampanye yang lebih dahsyat adalah kampanye akhir GOLKAR beberapa hari kemudian, siang itu rasanya alun-alun kota Jember gak bisa menampung gelombang peserta kampanye yang mengalir dari seantero kabupaten.Truk-truk perkebunan dengan karyawan yang berjejal memuntahkan orang-orang bekaos kuning dari baknya, para pedagang kagetan juga bederet-deret di sekitar alun-alun dari pedagang es tung-tung sampek penjual kacang rebus meraup rezeki dari keriuhan peserta kampanye. Suara riuh rendah yel penyemangat menyembur ke angkasa ..tetep dengan jargon yang sama ”Golkar Menang ,Pancasila Jaya,Pembangunan Terus”. Tapi yang menyedot perhatian khalayak siang terik itu adalah kemunculan sorang local hero,seorang real leader bahkan the real bupati of jember forever….Bapak Abdoel Hadi. Beberapa hari sebelum kampanye akhir memang beredar isu dan desas-desus bahwa panutan yang dekat dengan rakyat itu berkampanye untuk PPP alias ”Ka’bah” dan tidak lagi bersama Golkar. Tentu saja ini berita besar, apalagi nama besar pak Doel Hadi ini ibarat magnet untuk mendulang suara (vote getter), jika benar pak Doel Hadi ikut PPP wah bisa kacau perolehan Golkar di daerah basis NU yang secara tradisional akan lebih cenderung memilih PPP sebagai partai fusi sejumlah partai islam apalagi tanda gambar Ka’bah sangat mudah menarik minat rakyat yang ikut nyoblos. Golkar berusaha mematahkan itu dengan memunculkan Pak Abdoel Hadi di kampanye terakhir sekaligus menepis isu berpindahnya sang vote getter ke PPP. Maka dipenghujung kampanye dan Jurkam secara menggelora menyampaikan bahwa ada partai yang telah menghembuskan isu berpalingnya sang voe getter dari Golkar adalah isu sampah dan bohong alias ”car pak ler kele ran”..”kebohongan besar tak termaafkan”..maka seiring kemunculan Pak Abdoel Hadi ke panggung kampanye dan menyatakan masih tetap bersama GOLKAR …maka peserta kampanye berteriak histeris dengan meneriakkan hujatan kepada partai penyebar isu bahwa mereka adalah pembohong..maka…sore itu kampanye ditutup dengan yel-yel yang memekakkan telingga ” carpak ler ke leren..cerpek ler keleran..carpak lerkeleran”. Maka sepanjang perjalanan pulang ke Gebang maka tanpa sadar aku juga mengummankan kata-kata ritmis ”carpak ler-keleran..carpak ler keleran..”……..

So untuk tahun ini sampai 2014 nanti siapakah Caleg yang berjanji di saat kampanye dan mengingkarinya di saat menjabat akan disumpahi oleh pemilihnya dengan kata-kata ”carpak ler keleran”? Kita tunggu saja…..