Sedikit Jejak Sejarah Pahlawan Jember

Mungkin bosen ya baca postinganku tentang sejarah Jember, tapi ya gimana lagi, aku suka banget belajar sejarah, meskipun gak kuliah di Ilmu sejarah… Apalagi itu soal sejarah hal-hal yang dekat dengan kita.. sejarah Jember misalnya. Nah mumpung baru Februari kemarin sempat pulang ke Jember, ya tak mangfaatken,,(yang bener manpaatkan, munfaatkan atau manfaatkan ya..) untk napak tilas tempat-tempat yang bersejarah.. Yuk mulai ceritanya.

Achmad Rizal van Patrang Nah , kalo memasuki Kota Jember dari arah Surabaya, pasti ketemu sama patung ini (Kecuali naik Kereta Api).. letaknya pas diujung doubleway, jalan Hayam Wuruk, Kaliwates Jember. Taruhan deh.. gak banyak yang tahu ini sebenarnya patung siapa dan dalam rangka apa dan kenapa kok menunjuknya ke arah Timur.. Kok gak ngacung ke atas, kok gak mengacung pake 3 jari.. Metal … atau jari tengah he..he.. sing iki saru  🙂

Lah kenapa kok pake ngerangkul temannya yang terlihat terluka, kok gak berpelukan kayak teletubbies.. dan banyak pertanyaan kenapa yang lain.. Tapi itu kan buat orang yang kritis.. tapi juga buat orang yang kurang kerjaan kayak aku.

Kalo patung ini didekati, tidak ada informasi satupun yang tersisa di prasasti di bawah patung. jang kosong, cuma marmer hitam tanpa tulisan apapun…. sumpah deh..kalo gak percaya lihat nih di foto berikutnya.

Lho, terus buat apa bikin patung terus gak ada penanda/informasi satupun tentang maksud monumen itu didirikan, mestinya kan ada imfo-nya, jadi gak cuma jadi penghias jalan, tapi jadi bahan untuk dikenang warga Jember.

Continue reading “Sedikit Jejak Sejarah Pahlawan Jember”

YANG MENARIK DI STASIUN KERETA API JEMBER

Alhamdulillah kemarin tanggal 4-6 Februari aku mendapat kesempatan pulang kampung ke Jember… dan yang lebih menyenangkan lagi kepulanganku ini  kalo menurut istilah Cak Fikik adalah PUBIDI.. PUlang atas BIaya Dinas… soalnya aku ditugaskan oleh kantor untuk menghadiri resepsi pernikahan teman sekantor di Genteng, Banyuwangi.

Nah sebagai PBKA (Penggemar Berat Kereta Api) ya mesti KA tak jadikan pilihan utama sebagai alat trasnportasi yang akan membawaku ke kampung halaman tercinta. Meskipun hati agak dag-dig-dug soalnya gak sampai seminggu sebelumnya terjadi terjadi kecelakaan KA di Stasiun Langensari, Banjar yang menewaskan 3 orang (salah seorang dari korban adalah mahasiswiku). Tapi masalah jodoh, rejeki dan umur itu kan urusan ALLAH, dengan Bismillah aku berangkat ke Jember. Dan kalo naik KA pasti berhentinya di Staasiun KA, yo jelas mosok numpak sepur mudune ning terminal..

Continue reading “YANG MENARIK DI STASIUN KERETA API JEMBER”

Palagan Jumerto, Saksi Perjuangan Rakyat Jember

Tulsan ini mungkin masih berkaitan dengan tulisanku yang lama tahun 2008

Desa Jumerto, Patrang, Jember, menyimpan sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan NKRI. Tiga belas anggota Brimob dan 20 warga setempat tewas karena ditembus peluru pasukan Cakra dari KNIL Belanda yang berniat menduduki Indonesia. Monumen Palagan Jumerto yang berdiri di depan Kelurahan Jumerto, Kecamatan Patrang, tetap kukuh. Deretan nama 13 anggota Brimob Polri dan 20 warga setempat tertulis jelas pada monumen yang diresmikan 1 Juli 1984 oleh Kapolda Jawa Timur saat itu, Mayjen Polisi Soedarmadji.

Kapolres Jember saat itu, Letkol Polisi H Soemardiono, juga tertulis di monumen tersebut. Dua bambu runcing, logo Brimob, logo Polri, serta logo Polda Jatim, pun terpampang di monumen bersejarah tersebut.

Tidak banyak yang tahu sejarah monumen setinggi 10 meter tersebut. Para saksi mata peristiwa maut itu sudah tiada. Kini tinggal anak dan para cucu saksi mata yang tetap mengenang sejarah kepahlawanan 13 anggota Brimob dan 20 warga Jumerto tersebut.

Suhadi, salah seorang warga Ju­merto, menyatakan mendapatkan cerita kepahlawanan itu dari Abdarullah, ayahnya yang meninggal lima bulan lalu. Dia kemudian men­ceritakan peristiwa Palagan Jumerto. Kejadian tersebut bermula dari kedatangan 13 anggota Brimob yang mendapatkan tugas patroli keliling Jawa Timur (Jatim).

“Tiga belas anggota Brimob itu baru datang dari perjalanan panjang,” kata Suhadi. Sebelum menginap di Desa Jumerto, mereka menempuh perjalanan dari Lumajang, Malang, dan Blitar. “Ayah saya lupa harinya. Saat itu 1949,” tambahnya.

Continue reading “Palagan Jumerto, Saksi Perjuangan Rakyat Jember”

SALAH SEBUT DI PATRANG

Kebetulan bulan Januari 2010 kemarin, aku berkesempatan untuk jalan-jalan ke Palembang, Sumatera Selatan. Selain Jembatan Ampera-nya yang membentang diatas sungai Musi, pempek dan durennya ada hal lain yang membuat aku terkesan. Di Palembang, jalan-jalan protokol dinamakan dengan nama-nama terasa asing bagi orang yang baru menginjakkan kaki di Palembang. Beberapa nama jalan itu misalnya Jalan Kapten Rivai, Jalan Mayor Ruslan, Jalan Mayor Salim, Jalan Ki Ronggo Wirosentiko, Jalan Kapten Anwar Sosro, Jalan Letnan Dua Rozak dan masih banyak nama jalan lain yang menggunakan nama orang yang aku gak kenal. Dari bincang-bincang dengan teman yang tinggal di Palembang barulah aku ‘ngeh’ bahwa  nama-nama yang dipampang di jalan-jalan di kota Palembang terkait dengan peristiwa Pertempuran 5 Hari Palembang yang heroik di 1-5 Januari 1947.

Dibandingkan di Jember sebenarnya tidak terlalu istimewa, karena di Jember juga ada Jalan M Seruji, Jalan dr Subandi, JalanR Sudarman..tapi di Jember cuma sedikit sedangkan di Palembang..beuh.. banyak banget 🙂 Continue reading “SALAH SEBUT DI PATRANG”

Jeneng Kelas di SMA 1 Jember

Gak salah kalo jaman SMA itu dikatakan jaman yang paling menyenangkan, soalnya sekolah masih nyantai, boleh gak terlalu serius dan ketemu teman-teman seumur yang lagi lucu-lucunya. Kegiatannya selain belajar pasti maen bareng genk atau teman sekelas. Dengan motivasi meningkatkan kekompakan teman-teman sekelas biasanya  kelasnya dikasih nama yang seru-seru yang mencerminkan jiwa atau semangat kelas.

Di tulisan ini Aku pengen sharing tentang obrolanku dengan Cak ekoz, salah satu penggiat Blog SMA 1 Jember ini yang terkenal dengan daya ingatnya yang Ruuuarrr Biaaasa tentang  beberapa nama kelas yang sempat atau masih diingatnya. Obrolan ini sebenarnya kami lakukan pas bulan Ramadhan tahun 2008, cuma gak sempat ditulis untuk disebar lewat blog ini mengingat betapa malasnya diriku. Tapi membaca koment Cak Eko yang dengan memelas di posting  “Selamat Berulang Tahun Kesepuluh, Milis 1988”, diriku jadi tergerak untuk nulis…

Continue reading “Jeneng Kelas di SMA 1 Jember”

3S, Seminar, Shopping & Sowan

Sejak awal tahun 2008, sudah ngincer tuh satu seminar di Yogya yang namanya SNATI (Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi) yang tiap tahun di selenggarakan oleh UII (Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta). Di sela-sela waktu ngajar, paper disiapkan untuk dikirim. Nah pada saat yang ditentukan, paper dikirim secara online ke server seminar. Wah terbayang tar ke Yogya, seminar sekalian jalan-jalan sama anak-istri, soalnya istriku tak tulis juga namanya sebagai penulis 2 (dia juga dosen di PT yang sama cuma beda jurusan). Sebenarnya tanpa ada seminarpun bisa aja ke Yogya, tapi kalo pake acara seminar khan enaknya ongkos jalannya dikasih sama Institusi (gak mau rugi ceritanya… 🙂

Pas pengumuman paper yang diterima, aku gak terima email konfirmasi… waduh ada yang salah nih. Padahal teman-teman yang lain yang papernya diterima atau tidak tetep dapat email dari panitia. Wah rencana ke Yogya buyar nih… Tapi beberapa minggu kemudian ada email dari panitianya..”Maap, server kami rusak, jadi paper yang ada disitu ilang deh….Jadi anda diminta mengirim ulang papernya”… weleh..weleh aya-aya wae.. tapi tetap papernya dikirim ulang dan akhirnya diterima dengan sukses.. Asyik.

Menjelang hari H, tiket didapat (wah kebagiannya Lodaya Malam, kelas Bisnis, yang Eksekutif habis) dan segala sesuatu dipersiapkan, terus kontak-kontak Cak Faiz buat minta alamat Cak Eko (soalnya setahuku tempat Cak Eko di dekat jalan kaliurang). Anakku dengan gembiranya bilang ..Jogja.. (kayak iklan rokok di TV). Nah ada yang diluar rencana pas mau berangkat, ternyata Bapak & Ibu mertua mau berangkat ke Yogya juga dari Semarang supaya bisa ketemu cucunya dan anak mantunya yang baik hati ini. Pas sampai Stasiun Tugu Yogya, wah Yangkung dan Yangti udah nunggu di Stasiun (Emang enak kalo punya mertua yang baik hati dan tidak sombong..) jadi enak. Singkat cerita. Pagi aku seminar di UII, anak &istriku sama Bapak-Ibu , jalan-jalan. Sambil seminar kontak-kontak Cak Eko buat janjian ketemu di pesanggrahannya.

Jam 13, belum juga kelar itu seminar, aku cabut ke Pasar Beringharjo dengan rombongku (maksudnya rombongananku) belanja-belanja. Tapi dasar si Shafa, di Beringharjo bukannya jalan-jalan malah minta maen odong-odong sama maen mandi bola (jan tenan arek iki). Jam 4 hampir sampai, waktu yang disepakati buat ketemu Cak Eko aku cabut dari sana. Mampir bentar ke Yu Jum buat beli gudeg kendilnya. Terus lanjut ke Sawitsari.

Duh ternyata Cak Eko yang dulu cuma dilihat di blognya ternyata gak jauh beda dengan aslinya, tetep akrab meskipun baru sekali ketemu, nada bicaranya khas Jember (Cak Faiz gaya bicaranya juga mirip, kalo di telpon lo), dan yang pasti beeesaaarrrr (he..he… kalo di sebelah ada istilah ABG ayah baru gendut, kalo menurutku Cak Eko pantesnya menyandang gelar KRT, Kanjeng Raje Tabuk.. sorry Cak guyoon). Kenalan sama Istri, anak dan mertuanya, ngobrol-ngobrol kemana-mana, dan minum teh hangat di sore yang cerah, membuat aku jadi agak blank (iki mimpi opo tenanan yo… dadi speechless, mangkane Cak Eko dadi tertipu seolah-olah diriku wonge meneng, padahal bingung 🙂

Ok, singkat cerita, sore itu serasa mimpi, pengalaman sing gak akan terlupakan, ketemu KRT Ekoz Guevara sing mbahurekso blog sma1jember.info . Sayang banget waktune sempit banget, dadi gak biso mampir ning padepokane Cak Faiz mergo wis bengi nemen, dadi langsung balik Semarang. Dadi terinspirasi, nek ono rejone jaman, aku tak dolan ning omahe Cacak-cacak & Mbakyu-mbakyu sing ngramekno blog ini… (bahasane koyok Cak Afthon wae.. nek ono rejane jaman.. dasar penggemar kartolo 🙂 ). Sambil jalan-jalan, sambil menjalin tali silaturrahim dengan sesama alumni SMA 1.