Alkisah, hiduplah seorang Syekh yang sangat ‘alim di sebuah negeri. Sang Syekh ini punya seekor burung Beo yang begitu disayanginya. Sedemikian sayangnya, sampai-sampai Syekh tadi bertekad untuk melatih Beo-nya agar bisa mengucapkan kalimat-kalimat thoyyibah.
Dengan tekun dan penuh kasih saying, Beo itu diajari berbagai kalimat thoyibah. Berkat ketekunan sang Syekh, akhirnya berhasil juga Beo itu mengucapkan “ Laa ‘ilaaha ‘illAllah “. Betapa girang hati sang Syekh atas keberhasilannya itu. Sebagai wujud dari sukacitanya, ditempatkanlah Beo dan sangkarnya di dekat pintu masuk rumah sang Syekh.
Sebagai seorang yang terpandang karena ilmunya, tentulah rumah sang Syekh tak pernah sepi oleh kunjungan tamu yang sekedar bersilaturrahim hingga yang khusus datang untuk menimba ilmu agama kepada beliau ini. Jadi, tiapkali ada tamu yang datang, Beo itu menyambut dengan ucapan “Laa ‘ilaaha ‘illAllah“. Begitu pula saat para tamu itu pulang, Beo pun mengiringi dengan “Laa ‘ilaaha ‘illAllah“.
Demikianlah, kebahagian sang Syekh berlangsung sepanjang hari hingga pada suatu hari yang tidak terduga-duga. Tatkala sang Syekh sedang asyik memberi makan si Beo, datanglah para tamu yang ingin bertemu beliau. Karena tergesa-gesa, sang Syekh lupa menutup pintu sangkar si Beo tersebut. Rupanya, kesempatan ini tidak disia-siakan oleh seekor kucing, yang acap berkeliaran di sekitar kediaman Syekh itu. Maka dengan sekali terkam, matilah si Beo “.. keekkkkkk… “
Begitu nyaring suara si Beo itu, membuat Syekh terperanjat dan segera saja meninggalkan para tamunya. Betapa sedih sang Syekh menyaksikan kematian tragis Beo yang disayanginya. Dengan penuh kegundahan dan diiringi linangan air mata, Syekh pun mengubur si Beo dengan khidmat. Sepeninggal si Beo, Syekh pun menjadi seorang pemurung. Hari-hari banyak dilewati dengan berdiam diri, merenung dan menangis. Tak urung, perubahan ini membuat khawatir para anggota, tetangga serta para sahabat Syekh tersebut.
Berbagai cara diupayakan untuk menghibur Syekh agar melupakan si Beo itu. Para sahabat, kerabat dan tetangga bergantian menawarkan Beo-beo yang lain sebagai pengganti. Tapi semua ditolak oleh Syekh. Demikianlah hal itu berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Hingga pada suatu hari, Syekh mengundang para kerabat, tetangga dan sahabat untuk mendengarkan penjelasan atas sikapnya setelah kematian Beo kesayangannya itu.
“ Terima kasih atas perhatian kalian semua kepadaku. Aku memang bersedih karena Beo-ku mati. Tapi bukan karena itu aku menjadi murung berkepanjangan. Diantara kalian tentu ada yang hadir disini ketika Beo itu mati diterkam oleh kucing yang lapar itu. Kalian tentu masih ingat suara terakhir yang terucap dari mulut Beo itu.. “ keeekkkk..” .. Begitulah yang terucap. Sungguh gundah hatiku, kenapa bukan “ Laa ‘ilaaha ‘illAllah “ yang terluncur dari mulutnya saat menjelang ajal .. Setelah peristiwa itu, makin khawatirlah aku akan keadaan diriku. Apakah aku akan mampu menyebut “ Laa ‘ilaaha ‘illAllah “ saat aku mati nanti ? “
Popularity: 14% [?]
Hari ini (16/03) adalah awal dari masa kampanye terbuka (baca musim pawai,konvoi,dan kadang kala ada bonus rusuhnya juga), atau kampanye yang sangat Indonesia. Gegap gempita ,hura hura dan jauh dari esensinya. Sebenarnya telah beberapa saat kampanye parpol untuk pemilihan calon anggota legislatif berkelindan di sekitar. Dimulai dari berbagai iklan Gerindra yang sampai-sampai anakku yang terkecil apal banget dan selalu berkata lirih mendesah… Ge-Rin-Dra ..setiap wajah Prabowo yang tiba-tiba menjadi sosok sangat humanis dan pro rakyat ..muncul di televisi. Lalu disusul dengan iklan-iklan ”Hidup adalah Perbuatan” si Sutrisno Bachir, yang akhirnya jadi olok-olok dimana-mana… juga..iklan simultan sang Capres gagal…Rizal Malallaranggeng yang sebenarnya sangat bagus dari sisi penggambaran alam Indonesia tapi akhirnya dihentikan karena kehabisan ”energi”.., dan tentu saja iklan kontroversial Soeharto guru bangsa versi PKS itu. Kemudian dilanjutkan dengan bertebaran wajah-wajah para caleg dengan bentuk poster foto yang mungkin penggambaran terbaik wajah mereka selama hidup mereka dengan segala slogan yang terkadang garing, bahkan cenderung menggelikan jikalau mereka tak terlalu pede untuk tampil sendiri maka dengan tanpa ijin mereka bisa menggandeng Barack Obama ato David Beckham (biasanya favorit caleg Golkar) lantaran si spice boy itu punya nomer punggung ”23” saat maen di Real Madrid. Disusul kemudian berbagai macam talkshow di TV yang kadang-kadang bikin perut mual dengan segala tingkah polah para caleg yang mencoba menjadi problem solver bagi semua masalah bangsa ini…dari soal Tambang sampai PKL, dari soal Kurs Rupiah sampai cara meningkatkan prestasi sepakbola Nasional. Dan off course,…itu semua hanya appetizer belaka…dan inilah..main Coursenya…kampanye terbuka dengan raungan motor yang garang, goyang dahsyat para pedangdut yang lupa telah ada UU pornografi dan porno aksi dan juga pekik semangat yang terasa garing di telinga…tapi ya itulah…kampanye tanpa konvoi dan penyanyi dangdut ibarat sayur tanpa garam ,..hambar….


