Pada Suatu Pagi

January 11th, 2009 by ika 66 comments »

Pagi masih belum lengkap dengan kehangatan mentari, saat wajah sembab di depanku bertandang menyapa pagi hariku, yang tadinya kupikir akan berjalan seperti biasanya.

Batinku berbisik “Aduh,…ada apa ini…?”

Kubiarkan sampai ketenangan dan semburat merah agak membias di muka manis yang tadinya memucat itu.

Si gadis abu-abu itu mulai berkisah..tentang hatinya yang patah… “dia pergi, begitu saja, Bu. Dia tinggalkan semua harapan yang pernah dia tanamkan di hati ini. Dia tega Bu. Sakit…sakit banget.”

Aku diam…anak ini, kukenal cukup briliant di kelas, dalam pergaulan juga cukup menonjol, kemampuannya merefleksikan iman yang di anutnya juga cukup bagus.

Cinta…kenapa cinta kadang memporakporandakan sebuah hati…dan bagaimana aku menjelaskannya pada gadis belia ini. “Saya tidak mengira, Dia tega melakukannya. Dia tak lagi peduli sama saya, Bu.” Kembali dia terisak.

Duh..hati ini sudah mulai berbisik untuk ucapkan, …udah..ngapain di pikirin..jalan masih panjang..cari lagi..hehehe…dan malaikat hitam juga terus menggelitik hatiku…aih…bila laki2 yang diceritakan itu ada di depanku..pengen kulayangkan ‘bogem mentah untuknya’.

Hhhhh…kutarik nafas agak panjang…

“Sudahlah, masih panjang jalan di depanmu, saat ini yang utama adalah pikirkan dirimu sendiri. Bagaimanapun hidup terus berjalan. Kita petik hikmah dari ini semua. Pasti ada. Dan insyaAllah ada baiknya untukmu dikemudian hari” kataku akhirnya, yang kudengar ditelingaku sendiri sedikit sumbang.

“Sakiiiit, Bu, apakah saya bakal bisa melupakan semua ini…?” ucapnya sembari menatapku.

Ya Allah. . . , mata itu. . . seperti anak burung yang patah sayapnya…Ada harapan dan luka yang sangat disana, apa yang mesti kujawab???

Aku biaskan senyum untuknya dan mengangguk, “Saya juga akan bisa melupakan dia kah, Bu?” Kembali aku hanya bisa tersenyum. Dengan kekuatan yang tersisa aku sampaikan.” InsyaAllah… Sang waktu yang akan menentukannya.” Ah, aku menangkap suaraku sendiri tergetar, teringat yang menyeruak di hati. Saat seseorang hanya melintas sesaat dan kemudian berlalu. Dan memang perih…

Pagi kembali berlalu seperti pagi yang kemarin, dan si gadis pun telah berlalu sembari mencoba menata hidupnya, Aku hanya mampu meraba hati…Cinta dan luka adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan, dan dengan sentuhan hangat mentari dan gemerlapnya gemintang malam, Aku susuri hidupku dan menjadikan luka yang ada menjadi sapuan jiwa yang menjadikan hidup ini penuh warna…Luka..perih..dan…warna hidup.

“Bunda”. Si keriting kecil memanggilku dan tiba2 sudah di depanku. Kuhantarkan dia dalam pelukan hangatku, sehangat hati yang telah penuh warna ini.

Depok, 11 Januari 2009

Popularity: 18% [?]

ibu dan rinduku

December 21st, 2008 by ika 19 comments »

Emak….ibu….bunda….mama….ambuk….

Nama-nama itu begitu indah menghiasi relung hati, tidak terikat siap yang mengucapkan, maupun sang waktu…Sebutan itu seakan tak pernah akan mampu ditindas oleh apapun..tetap megah dan tetap mampu membahana, mengisi relung-relung kalbu

 

Ribuan kilo, jarak yang kau tempuh

Lewati rintangan untuk aku anakmu

……. Ibu by Iwan Fals

 

Nada-nada yang indah

Selalu terurai darinya

Tangisan nakal dari bibirku

Takkan jadi deritanya

Tangan halus dan suci

Tlah mengangkat tubuh ini

Jiwa raga dan seluruh hidup

Telah dia berikan

—–Bunda by Melly G

 

Hanya memberi tak harap kembali

Bagai sang surya menyinari dunia

 

Untaian syair yang menjadi begitu indah untuk disenandungkan dan merebut seluruh jiwa yang tak kan mampu memungkirinya, bagaimanapun keberadaan beliau, kita sangat mencintainya, kita sangat menghormatinya dan menempatkan beliau di tempat yang paling agung dalam hati kita. Jerih payahnya tak kan terganti..rangkaian doa-doa yang dipanjatkannya menjadi ukiran yang manis yang bersemayam dalam diri kita…oh Ibu

 

Perasaanku muncul pertama kali dari yang sempat kuingat adalah saat mengikuti persami saat masih SMP. Perjalanan dari sekolah ke rembangan kala itu, merangkaikan kepenatan jiwa yang meretas hati, bahwa tiba-tiba betapa aku tidak tahan dalam perjalanan jauh tanpanya,  Rindu itu tiba-tiba menyeruak dan hatiku pengen berlari pulang..jadilah sepanjang perjalanan bersama sofia, kami berlari dan meneriakkan…”ibu…….”

 

Bersyukur, tanggal 22 Desember 2008 ini, aku bisa menikmatinya bersama ibu yang alhamdulillah sedang ada di Depok, seperti masa-masa dulu, setiap hari yang bersejarah itu, kami (aku dan adik-adik) selalu berusaha mengambil alih seluruh pekerjaan yang biasa di handle ibu, termasuk memasak, dan pada hari itu, di masa itu, kami menyadari bahwa tak mudah menjadi seorang ibu, apalagi dengan peran ganda yang disandang ibu…dan yang paling manis di saat moment itu, ibuku yang tipe seorang ibu yang tidak banyak bicara, tetap akan ke dapur dan membuatkan kami kue kelapa mutiara yang di kukus…wah aku rindu makanan itu…

 

..oh ibu, sampai kapanpun tak kan mampu kubalas pengorbananmu….hanya doa dan doa untukmu…ibu…..

Popularity: 16% [?]

Buat Pengusaha Kos

December 1st, 2008 by johny 15 comments »

Mengelola tempat kos memang membutuhkan kreatifitas. Kenyamanan kamar, keindahan lingkungan tinggal dan fasilitas dikondisikan yang memiliki daya tarik. Tentu, harga menjadi daya tarik yang lain. Selain menyediakan fasilitas tempat tidur, meja belajar dan lemari pakaian di kamar, sebagian kos menyediakan fasilitas telepon, air minum gratis serta dapur dan perlengkapannya. Sebagian kos lain bahkan punya usaha ekstra untuk menjadikan tempat kos-nya menjadi semacam “one stop living”. Warung makan, wartel, persewaan komputer dan warung internet dan laundry didirikan di area tempat kos. Itu sebagian jenis tempat kos yang saya ketahui di Yogya dan di Jember belakangan ini.

Ternyata ada jenis kos yang barangkali agak lain dari yang ada sekarang. Sebuah tempat kos yang menyediakan juga semacam kursus mata pelajaran sekolah dan pendidikan ketrampilan dalam mengurus rumah tangga. Simaklah kutipan iklan dari koran lokal Jember, Pambrita, di tahun 1934 ini:

» Read more: Buat Pengusaha Kos

Popularity: 18% [?]

Florida Theater

November 20th, 2008 by johny 15 comments »

Akhir tahun-tahun 70-an dan awal 80an, hampir setiap malam Minggu saya selalu menonton film India yang diputar di gedung bioskop Misbar (gerimis bubar) di jalan Trunojoyo. Asyik juga menonton di Misbar. Harga tiketnya murah sekali, kalo tidak salah ingat kurang dari seratus rupiah waktu itu. Mungkin nilai itu sekitar dua pertiga sampai setengah dari harga tiket di gedung bioskop lainnya. Selain itu ada jeda waktu istirahat setelah sekitar setengah pemutaran film. Penonton bisa jajan, pipis dll. Tapi seingat saya yang paling tidak enak waktu setengah permainan itu, selalu ada seorang ibu tua yang menjadi penonton setia yang selalu (maaf) pipis di tempat. Mungkin, cara pemutaran ini kurang lazim jikalau dibandingkan dengan pemutaran film di gedung-gedung bioskop GNI, Kusuma, Jaya atau Sampurna yang memutar film dari awal hingga tuntas habis. Eh, ternyata cara pemutaran film dengan jeda barang seperempat jam juga terjadi saat saya menonton film di Leiden. Jadi memberi kesempatan penonton untuk menghela nafas sejenak atau menyapa penonton lain yang baragkali dikenal.

Ternyata, Jember sudah punya gedung bioskop jauh lebih lama lagi. Di tahun 1930an, di Jember telah berdiri Florida Theater. Menilik dari namanya, cukup kosmopolit juga. Berdasar film yang diputar pun, agaknya Hollywood dan Bollywood belum sampai membanjiri Jember. Film Perancis dan Jerman menjadi santapan penonton bioskop di Jember. Gedung ini terletak di Schoolstraat. Saya tidak tahu persis dimana tempat itu berada. Di peta tahun 1922, yang saya temukan hanya nama Schoolweg, yang sekarang di jalan… apa ya? (Maaf saya lupa) Di sepanjang jalan bekas Bank Rakyat Indonesia, SD Katolik Santa Maria, (dulu ada) Sekolah Pendidikan Guru yang berhadapan dengan rumah makan Lestari. Mungkin schoolweg di tahun 30an meningkat peringkatnya menjadi schoolstraat.

» Read more: Florida Theater

Popularity: 15% [?]

Hollandsche Sociëteit te Djember

November 16th, 2008 by johny 10 comments »

Sebagian orang Jember menyebut gedung ini dengan “socitet”, sesuai dengan namanya dulu. Sebagian lagi, lebih suka menyebutnya dengan “Bhayangkara”. Para kenek lin fasih sekali menyebutnya sebagai satu pos perhentian penting. Selain untuk acara internal kepolisian resort Jember, gedung ini juga disewakan untuk umum. Kalangan umum, kerap menggunakannya sebagai tempat penyelenggaraan Pesta Pernikahan. Di samping gedung tersebut berdiri pula TK yang mungkin dijalankan oleh ibu-ibu Korps Bhayangkara, organisasi para polwan atau istri-istri para polisi.

Belakangan, jika pulang ke Jember, saya senang sekali menyempatkan untuk membeli Mie Ayam yang berada di jalan kecil di sebelah utaranya, jl. Veteran. Rasanya mantap, bisa jadi alternatif pengganti paling baik jika tidak berhasil mendapatkan Bakmi di sebelah SMP 2. Warung mie ayam ini sebetulnya lebih menempel di dinding Balai Penelitian Perkebunan. Sementara yang menempel di dinding gedung Bhayangkara (GB) ialah tukang tambal ban.

» Read more: Hollandsche Sociëteit te Djember

Popularity: 17% [?]

“Adhek kon, engko digégéri sing nduwe”:

November 12th, 2008 by faiz_sahly 21 comments »
Another posting from Johny Alfian K :
Tahun 80an lalu masih terbukti bahwa menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari menunjukkan status sosial ekonomi menengah bagi penggunanya. Seiring berjalannya waktu dan perkembangan jaman, penggunaan bahasa Indonesia begitu meluas. Di Surabaya (yang pernah saya ketahui), bakul rokok di dekat Unair aja berbicara bahasa Indonesia dengan Balita-nya. Alhasil, sekarang penggunaan bahasa Indonesia sudah sedemikian meluas. Banyak keluarga muda, di berbagai lapisan masyarakat, yang berbahasa Indonesia dengan anak-anak mereka. Berbahasa Indonesia tidak lagi menunjukkan status sosial menengah.  Bagaimana dengan di Jember…..”bheh, aku gak ero kon”, (sorry kurang memperhatikan). Lalu, dimanakah bahasa Indonesia sekarang. Seorang kawan dari Aceh yang seribu persen berdarah Aceh, dan besar di Aceh, beristri orang Aceh tulen, mengeluhkan nilai bahasa Aceh anaknya berkisar antara A dan B. Saya kira itu kan nilai yang bagus sekali. Ternyata nilai tersebut harus dikonversikan ke angka menjadi “3” dan “4”. Sementara nilai bahasa Indonesia-nya “8” atau “9”. “Gimana dengan nasib bahasa Aceh?”, ujar dia. Saya bilang, mungkin ada baiknya anak2nya tidak berbahasa Aceh. Sehingga memory-nya bisa digunakan untuk belajar bahasa asing (Inggris, Arab dll) dengan lebih baik. Dia pun sedang berpikir untuk sedikit demi sedikit menggunakan bahasa Aceh pad anaknya. Terus gimana dengan nasib bahasa Jêmbêr-an?  Sebetulnya Jêmbêr tidak punya bahasa khusus. Itu semata bahasa Jawa dengan aksen Madura. Selain juga menggunakan bbrp kosa kata Madura. Jadi pada prinsipnya, tidak ada persoalan serius ketika orang Jêmbêr berkomunikasi dengan orang Jawa pada umumnya dengan menggunakan bahasa Jawa. Karenanya mungkin lebih tepat disebut dengan “dialek Jember”.  Ekspresi “bheh”, “sia” (mungkin bahasa Inggrisnya dari keduanya “gosh”), “adhêk” (berarti “habis”, atau “rasakan!”) serta kata-kata seperti: “cêrèk” (pelit), “sengkah” & “ras arisen” (enggan), , “sengak” (awas), “songar” (sombong), “sik buru” (baru saja), “carok” (bertengkar), “ra kora” (cuci barang pecah belah), “carpak” (omong kosong), “la pola” (bertingkah), “co ngoco” (bohong) tak ayal merupakan pinjaman dari bahasa Madura. Ada juga ekspresi yang barangkali dari bahasa Jawa seperti : “polane” (karena) dll dsb.  Pertanyaannya: masih adakah kata2 atau ungkapan kata2 seperti itu di Jember? Belum punah kan? 

Popularity: 19% [?]

Guru-Dosen; Indonesia-Leiden

November 6th, 2008 by faiz_sahly 24 comments »

Tadi buka-buka Buku Tamu, kok ada posting dari Johny ” Yan ” Alfian Khusyairi. Usai mbaca, ceritanya cukup menggelitik, terutama buat teman-2 yang sekarang sedang berkecimpung di dalam dunia pendidikan. Bisa dianggap sebagai kritik ataupun cermin untuk kemajuan dunia pendidikan negeri kita.

Dengan seijin Cak Johny, tulisan tersebut saya muat kembali di blog, supaya bisa dibaca lebih banyak orang dan bisa didiskusikan secara santai atau pun mendalam. Silakan dibaca…

 

(248) Johny

Wed, 5 November 2008 03:46:28 -0800

 

<

p class=”MsoNormal”>Guru-Dosen; Indonesia-Leiden 

Setiba di Belanda setahun lalu, saya senang sekali. Harapan untuk bersekolah di negara maju tercapai. Namun, ketika kuliah pertama akan dimulai, saya jadi cemas. Bagaimanakah cara mengajar dan sikap dosen di Leiden. Sebuah universitas yg di masa colonial merupakan salah satu tempat pelatihan dan pendidikan para ambtenaar sebelum dikirim ke Indonesia. Sebuah universitas yang sampai sekarang masih dikenal konservatif. Kenapa saya pilih sekolah di Leiden? Ah, nasi pun telah jadi bubur. Apapun yang akan terjadi, terjadilah. 

Ternyata bayangan saya tidak sepenuhnya salah. Meski tidak sepenuhnya benar. Ada dosen yang masih suka mengucapkan kata dom atau stom, yg keduanya berarti bodoh. Atau kata-kata lain yg menjurus kesitu, seperti kira-kira “gunakan otakmu”, atau “kalau kamu mau memutar otakmu”. Sebagian dari dosen juga ada yg mengecilkan arti kolonialisme Belanda di Indonesia, misalnya “yang kami ambil dari Indonesia kurang dari 10% pendapatan nasional Belanda”. Juga ada kata sinis tentang makanan pokok Indonesia (Jawa) dengan “your bloody rice”. Ada juga dosen yg masih merobek proposal mahasiswanya. 

Terkadang memang tindakan-tindakan tersebut bikin jengkel. Tapi setelah saya ingat-ingat, dulu saat SMP di Jember pun masih ada guru yg mengeluarkan penghuni sawah, ladang dan kebon binatang, seperti “kebo” dll. Masih ada juga dosen di Indonesia yg melempar tulisan mahasiswanya (terlepas apa pun persoalannya). 

Tapi tindakan semacam itu hanya dilakukan oleh sebagian kecil dosen aja. Lebih banyak dari mereka yang sangat baik tindakannya, baik di kelas maupun di luar kelas. Ditraktir kopi, dibayari foto copy dan selalu kasih respons positif terhadap apapun tulisan kita. Baru kemudian diberi kritikan. Tak jarang, malah ada dosen yang sangat menggelikan. Kamar yang saya tempati rupanya dulu tempat tinggal mahasiswa Islamic studies, asal Indonesia juga. Beberapa kali kawan tersebut mendengar suara takbir di bawah jendelanya. “Allaahu akbar, allaaahu akbar!”. Itu bukanlah seruan adzan, karena panggilan sholat hanya terdengar di dalam mesjid saja. Ternyata itu panggilan dari professor dia yang mau mengajak minum di bar. Ah, rupanya sudah ada profanisasi takbir. Menyerukan takbir bukan mengajak sholat, tapi minum minuman beralkohol di bar… Adakah hal serupa di Indonesia? Seorang teman, yang lahir dan besar di Ampel, Surabaya, pernah bercerita. Saat dia berada di sebuah warung di daerah “lokalisasi” di ujung timur pulau Madura, dia mendengar “Assalaamu’alaikum”. Tentulah sebagian besar yang nongkrong di warung menyahut “Wa’alakumus salaam”. Dan….transaksi birahi tetap berjalan. 

Salam

 

Popularity: 17% [?]

Photoblogging Jember!

October 29th, 2008 by Ikhlasul Amal 19 comments »

Tulisan berikut berisi beberapa foto dalam ukuran medium yang berpotensi pemuatan halaman secara utuh lebih lambat dibanding biasanya. Terima kasih.

Balung's Market Photo Session

Foto diambil oleh Ahmad Fitri Sholeh

Saya menikmati memotret dalam kegiatan keseharian: terkadang menyengaja datang di sebuah acara untuk memotret, namun lebih sering lagi melesakkan tombol kamera begitu terdapat hal yang dianggap perlu dipotret. Kamera paling praktis yang tersedia di telepon genggam, sedangkan yang lebih serius saya sebut sebagai “alat produksi” karena nawaitu saya adalah mereproduksi rekaman momen dan berbagi dengan khalayak.

» Read more: Photoblogging Jember!

Popularity: 19% [?]

Reuni Kelas Biologi 1 Alumni 1988

October 26th, 2008 by Ikhlasul Amal 21 comments »

Acara ketemuan berlangsung pada tanggal 3 Oktober, dimulai sekitar jam 19.00.

Di mana tempat sohor yang disebut Kafe Cak Tawal tersebut? Inilah “kekacauan” pertama karena saya sok yakin tidak mencatat nomor telepon genggam Cak Suja’i dan semua teman di konferensi YM sebelumnya hanya menyebut Kafe Cak Tawal, sonder nama resmi di sana. Menanyakan nama pemilik kafe di Jalan Jawa tentu bisa salah maksud: barangkali Cak Tawal dikenal dengan panggilan lain atau orang-orang di sana belum tentu tahu pemilik kafe ybs.

Tapi ini Jember, jangan terlalu seriuslah! Bukan Batavia yang perlu lompatan publikasi di media nasional seperti Omah Sendok, bukan Bandung yang memiliki manager Hotel Bel Air yang juga disitir media cetak. Di Jember, ritme turun, sinyal 3G beralih ke GPRS, dan manusia kembali menemukan “tanah air”, yaitu tanah dengan genangan air atau bechek kata salah satu selebritas simbol penutur non-pribumi.

Sekali putar, bersama Rofiq yang menemani saya datang ke acara reuni, kami mencari spot keramaian (boleh juga disebut hotspot, karena konsumsi kalor sebanding dengan jumlah manusia). Tidak salah Mbak Etha “dipajang” di beranda pinggir trotoar. Saya sudah membayangkan keceriaannya, teringat perannya sebagai pemandu sorak kelas saat kami bersama di tahun ajaran pertama SMA. Manusia memang dianugerahi pengenalan pola-suara, dan itu melengkapi deskripsi visual postur tubuh dan muka. (Harris pun pada pertemuan lain keesokan harinya mengaku melihat hadirin sudah tua, tapi cekakakan — bukan “cekikikan” — miliknya tak parau dimangsa sekian pancaroba.)

Alhasil, trio Cak Tawal-Cak Adib-Mbak Etha (ketiganya dari kelas 1-5), mengantarkan saya pada persentuhan dengan lorong masa lalu. Teristimewa terhadap pihak perempuan yang memang sebagian pernah saya kenal kemudian lupa, sebagian lagi benar-benar belum sempat berkenalan. Praktis satu botol minuman dingin dan satu gelas es jus minuman pembuka tandas untuk mencocokkan data dan bertukar metadata saat ini. Harta, tahta, dan wanita diterjemahkan sebagai, “kendaraan-rumah”, “posisi di kantor”, dan “pasangan hidup.” Berkuasa atau dikuasai, itulah tiga fitnah yang dikendalikan umat manusia hingga akhir zaman.

Foto di atas diambil oleh Cak Adib dan merujuk pada tautan ke akun Flickr miliknya.

» Read more: Reuni Kelas Biologi 1 Alumni 1988

Popularity: 18% [?]

Liputan Reuni 2008 di Jember

October 12th, 2008 by Ikhlasul Amal 68 comments »

Konon dengan berbekal “kartu pers” majalah dinding, Eko Setiawan pada saat menjabat redaktur mading sekolah, mendapat akses langsung ke panggung God Bless. Kejadian di abad lalu, saat kompetisi media massa belum mencapai ledakan blog seperti di abad XXI. Kendati demikian, saya gunakan juga “fasilitas” peliput milis dan blog sebagai kartu tanda masuk untuk dua reuni yang telah berlangsung di bulan Oktober 2008, bulan Syawal dalam kalender Qomariyah.

» Read more: Liputan Reuni 2008 di Jember

Popularity: 22% [?]