Seorang Syekh dan Beo-nya..

April 27th, 2009 by faiz_sahly 9 comments »

 

Alkisah, hiduplah seorang Syekh yang sangat ‘alim di sebuah negeri. Sang Syekh ini punya seekor  burung Beo yang begitu disayanginya. Sedemikian sayangnya, sampai-sampai Syekh tadi bertekad untuk melatih Beo-nya agar bisa mengucapkan kalimat-kalimat thoyyibah.

                Dengan tekun dan penuh kasih saying, Beo itu diajari berbagai kalimat thoyibah. Berkat ketekunan sang Syekh, akhirnya berhasil juga Beo itu mengucapkan “ Laa ‘ilaaha ‘illAllah “. Betapa girang hati sang Syekh atas keberhasilannya itu. Sebagai wujud dari sukacitanya, ditempatkanlah Beo dan sangkarnya di dekat pintu masuk rumah sang Syekh.

                Sebagai seorang yang terpandang karena ilmunya, tentulah rumah sang Syekh tak pernah sepi oleh kunjungan tamu yang sekedar bersilaturrahim hingga yang khusus datang untuk menimba ilmu agama kepada beliau ini. Jadi, tiapkali ada tamu yang datang, Beo itu menyambut dengan ucapan “Laa ‘ilaaha ‘illAllah“. Begitu pula saat para tamu itu pulang, Beo pun mengiringi dengan “Laa ‘ilaaha ‘illAllah“.

                Demikianlah, kebahagian sang Syekh berlangsung sepanjang hari hingga pada suatu hari yang tidak terduga-duga. Tatkala sang Syekh sedang asyik memberi makan si Beo, datanglah para tamu yang ingin bertemu beliau. Karena tergesa-gesa, sang Syekh lupa menutup pintu sangkar si Beo tersebut. Rupanya, kesempatan ini tidak disia-siakan oleh seekor kucing, yang acap berkeliaran di sekitar kediaman Syekh itu. Maka dengan sekali terkam, matilah si Beo “.. keekkkkkk… “

                Begitu nyaring suara si Beo itu, membuat Syekh terperanjat dan segera saja meninggalkan para tamunya. Betapa sedih sang Syekh menyaksikan kematian tragis Beo yang disayanginya. Dengan penuh kegundahan dan diiringi linangan air mata, Syekh pun mengubur si Beo dengan khidmat. Sepeninggal si Beo, Syekh pun menjadi seorang pemurung. Hari-hari banyak dilewati dengan berdiam diri, merenung dan menangis. Tak urung, perubahan ini membuat khawatir para anggota, tetangga serta para sahabat Syekh tersebut.

                Berbagai cara diupayakan untuk menghibur Syekh agar melupakan si Beo itu. Para sahabat, kerabat dan tetangga bergantian menawarkan Beo-beo yang lain sebagai pengganti. Tapi semua ditolak oleh Syekh. Demikianlah hal itu berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Hingga pada suatu hari, Syekh mengundang para kerabat, tetangga dan sahabat untuk mendengarkan penjelasan atas sikapnya setelah kematian Beo kesayangannya itu.

                “ Terima kasih atas perhatian kalian semua kepadaku. Aku memang bersedih karena Beo-ku mati. Tapi bukan karena itu aku menjadi murung berkepanjangan. Diantara kalian tentu ada yang hadir disini ketika Beo itu mati diterkam oleh kucing yang lapar itu. Kalian tentu masih ingat suara terakhir yang terucap dari mulut Beo itu.. “ keeekkkk..” .. Begitulah yang terucap. Sungguh gundah hatiku, kenapa bukan “ Laa ‘ilaaha ‘illAllah “ yang terluncur dari mulutnya saat menjelang ajal ..  Setelah peristiwa itu, makin khawatirlah aku akan keadaan diriku. Apakah aku akan mampu menyebut “ Laa ‘ilaaha ‘illAllah “ saat aku mati nanti ? “

 

Popularity: 14% [?]

CINTA DALAM HARU

April 24th, 2009 by ika 18 comments »

Wajah yang penuh garis kehidupan selintas kudapatkan pada laki2 yang tengah tercenung menatap pohon palm yang berjejer rapi di depannya, Sejak bulan lalu aku tergelitik ingin menyapanya..tapi dasar wedhian…aku mek iso nyesel setelah sampe rumah…dan akibatnya yang lain wajahnya terus membayangiku..membuatku semakin rindu pada Bapak yang jauh di Jember.

Ada rasa takut…andai beliau tidak berkenan padaku, seandainya beliau berpikir aku ini perempuan ‘reseh’ yang sok memperhatikan…aih, tapi kali ini aku tekadkan hati untuk menyapa beliau ketimbang aku gak iso turu…Repot, marai tambah lemu…

Aku menyusutkan air mata yang tiba2 jatuh, kisah Bapak itu akhirnya meluncur dengan deras, seiring dengan kerut2 yang semakin menajam menghias wajahnya saat berkisah..aku menatapnya, masih ada sisa kegantengan di wajah beliau ini, pasti dulu beliau gagah dan tampan sekali.

“Saya sendiri tidak pernah mengira, hidup saya akan berakhir di panti ini, Nak” sapanya sambil memegang tanganku.

“Kamu masih ada orang tua kan? Rawatlah mereka semaximal mungkin yang kamu bisa, karena hanya itulah kebanggaannya, telah mampu membesarkan anak2 yang tetap mencintainya”

Aku mengangguk dan berpamitan padanya, dan berjanji akan rajin menemaninya…tak lupa kucium tangan beliau dengan takzim, sebagai hormat dan respect ku pada beliau

Alhamdulillah, akhire aku mekso berbagi dengan kalian fren…Bapak-Bapak yang luar biasa, dan insyaAllah mampu menciptakan generasi yang senantiasa menghargai pengorbanan anda semua…dongengane mekaten…

*Bapak Wijaya adalah seorang Bapak yang memiliki 3 putra, dan beliau berusaha dalam hidupnya untuk menciptakan ekonomi keluarga sampai pada cita2nya..dan semuanya tercapai, Beliau bekerja siang dan malam, memaksimalkan pikiran dan tenaganya untuk mewujudkan semua itu…Hingga berada pada golongan menengah keatas, yang mampu mencukupi seluruh kebutuhan anggota keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya hingga ke luar negeri…

*kehidupan mulai dirasakan sepi saat sang istri, permaisuri hatinya berpulang…sehari-hari, beliau hanya ditemani pembantu dengan rumah yang sangaaaat besar, menyikapi hal ini, anak sulungnya mengusulkan untuk menjuak rumah itu dan membeli rumah lebih kecil, dan hidup menjadi satu keluarga, kenyataannya istri si anak sulung ini dalam merawat Bapak Wijaya, mengganti perlengkapan makannya dengan bahan dari plastik, sama seperti yang biasa di pakai sopir dan pembantunya, alasannya biar tidak pecah, padahal Bapak Wijaya meyakini bahwa dilakukannya semua itu karena mereka sayang dengan peralatan yang indah-indah itu, mereka lebih sayang barang daripada ayahnya sendiri, karena tidak tahan akhirnya dia ikut pada anak yang kedua

*Di kehidupannya bersama anak keduanya, karena anak dan menantunya bekerja, nyaris dalam rumah itu tak ada komunikasi, Bapak wijaya merasa bahwa dia hanya sebagai pelengkap dan nyaris patung yang dirasa ‘ada tapi sebenarnya tak ada’, karena tidak tahan juga, akhirnya beliau memutuskan tinggal bersama dengan anak bungsunya.

*Si bungsu adalah sosok yang sangat beliau sayang sejak dari kecil, seluruh apa yang diminta selalu beliau berikan, semua notabene dengan dasar sayang…Di kehidupan beliau bersama anak bungsunya inilah…Anak yang sangat di kasihinya mengirimkan beliau ke panti jompo itu, dengan alasan, agar banyak teman dan pasti punya kegiatan.

Ngono lho rek….lak nemen se prasaku..nyambut gawe isuk bengi demi perbaikan ekonomi, demi sebuah cita-cita membahagiakan istri dan anak-anaknya…hasilnya…..??????

Popularity: 8% [?]

KAMPANYE : “Carpak ler keleran..Carpak ler keleran”

March 17th, 2009 by ekoz_guevara 21 comments »

kampanye terbuka (diambil dari detik.com) Hari ini (16/03) adalah awal dari masa kampanye terbuka (baca musim pawai,konvoi,dan kadang kala ada bonus rusuhnya juga), atau kampanye yang sangat Indonesia. Gegap gempita ,hura hura dan jauh dari esensinya. Sebenarnya telah beberapa saat kampanye parpol untuk pemilihan calon anggota legislatif berkelindan di sekitar. Dimulai dari berbagai iklan Gerindra yang sampai-sampai anakku yang terkecil apal banget dan selalu berkata lirih mendesah… Ge-Rin-Dra ..setiap wajah Prabowo yang tiba-tiba menjadi sosok sangat humanis dan pro rakyat ..muncul di televisi. Lalu disusul dengan iklan-iklan ”Hidup adalah Perbuatan” si Sutrisno Bachir, yang akhirnya jadi olok-olok dimana-mana… juga..iklan simultan sang Capres gagal…Rizal Malallaranggeng yang sebenarnya sangat bagus dari sisi penggambaran alam Indonesia tapi akhirnya dihentikan karena kehabisan ”energi”.., dan tentu saja iklan kontroversial Soeharto guru bangsa versi PKS itu. Kemudian dilanjutkan dengan bertebaran wajah-wajah para caleg dengan bentuk poster foto yang mungkin penggambaran terbaik wajah mereka selama hidup mereka dengan segala slogan yang terkadang garing, bahkan cenderung menggelikan jikalau mereka tak terlalu pede untuk tampil sendiri maka dengan tanpa ijin mereka bisa menggandeng Barack Obama ato David Beckham (biasanya favorit caleg Golkar) lantaran si spice boy itu punya nomer punggung ”23” saat maen di Real Madrid. Disusul kemudian berbagai macam talkshow di TV yang kadang-kadang bikin perut mual dengan segala tingkah polah para caleg yang mencoba menjadi problem solver bagi semua masalah bangsa ini…dari soal Tambang sampai PKL, dari soal Kurs Rupiah sampai cara meningkatkan prestasi sepakbola Nasional. Dan off course,…itu semua hanya appetizer belaka…dan inilah..main Coursenya…kampanye terbuka dengan raungan motor yang garang, goyang dahsyat para pedangdut yang lupa telah ada UU pornografi dan porno aksi dan juga pekik semangat yang terasa garing di telinga…tapi ya itulah…kampanye tanpa konvoi dan penyanyi dangdut ibarat sayur tanpa garam ,..hambar….

Well aku gak akan cerita kampanye tahun ini.,,, aku mau share cerita kampanye masa silam. Sebagai anak kebun …yang masih teringat tentang keriuhan kampanye menggelora adalah di tahun 1977, saat itu bapakku dadi Zijnder Pabrik di salah satu kebun di Glenmore Banyuwangi. Di masa itu dengan 3 partai yang tersisa PPP,GOLKAR dan PDI, tentu tak serriuh rendah sekarang. Aroma persaingan nyaris tak ada, Apalagi di kebun, tak satupun berani masang tanda gambar selain Golkar, wal hasil dimana-mana yang ditemui adalah gambar beringin,warna kuning dan gambar jari mengacungkan tanda Victory yang misti dibaca ”2” nomer urut Golkar. Pertemuan umum (kampanye terbuka) yang saya ikuti adalah saat Ibu Direktur Utama dan Bapak direktur utama PTP dari Jember kerso rawuh dan memberikan ”santiaji” kepada para kawulonya para buruh kebun di Glenmore, walau masih kecil moment itu sangat melekat di memoriku…malam itu kampanye diawali dengan tari-tarian penyambutan, lalu koor puja puji bagi pemerintah dan negara dari paduan suara dadakan buruh kebun yang tentu saja pas-pasan penampilannya dan tentu saja santiaji dari ibu Dirut yang sangat piawai menggiring dengan setengah memaksa para karyawan untuk memilih GOLKAR pada Pemilu itu, pidato bahasa Indonesia diselipi bahasa Madura yang fasih itu juga ditimpali dengan yell yang digerakkan para ”combe” yang membaur bersama karyawan di braak pertemuan kebun karet itu. ” Golkar Menang, Pancasila jaya,Pembangunan Terus” di ulang-ulang sampai saatnya si ibu turun pangung dan inilah kemudian yang diganti hiburan orkes melayu yang anehnya tak satupun berani membawakan lagu-lagu Rhoma Irama yang sebenarnya lagi ngetop saat itu kayak ”Penasaran” dan ”Begadang” tentu saja ada alasannya …para pemain orkes itu gak mau bunuh diri menyanyikan lagu-lagu si raja dangdut yang saat itu menjadi ikon partai pesaing Golkar, karena bisa menggulingkan periuk nasinya….

Lima tahun kemudian 1982, tatkala aku sudah sekolah di Jember. Ritual kampanye pada waktu itu tetap menarik aku ikuti, mungkin lebih karena adanya keramaian sebagai tontonan daripada sebuah kesadaran untuk memahami dunia politik yang saat itu rasanya sama saja. Siang-siang itu aku ikut menggelosor di alun-alun kota jember yang dihadiri ratusan orang beratribut Banteng. Sama seperti kampanye 5 tahun sebelumnya, keriuhan kampanye terbuka selalu diawali dengan nyanyi, lalu pidato-pidato monotoon dengan intonasi jurkam yang dimiri miripkan suara Bung Karno dengan akhiran ”…ken ” yang khas,, dan diakhiri dengan peragaan mencoblos gambar banteng di spanduk besar oleh Soenawar Soekowati petinggi PDI dari Jakarta, aku inget sekali ikut berbaur berusaha mendekati si bapak berjas merah itu. Gemuruh massa emang bener-bener memantik adrenalin…wuiihhhh…Siang yang sangat sedappp.

Kampanye yang lebih dahsyat adalah kampanye akhir GOLKAR beberapa hari kemudian, siang itu rasanya alun-alun kota Jember gak bisa menampung gelombang peserta kampanye yang mengalir dari seantero kabupaten.Truk-truk perkebunan dengan karyawan yang berjejal memuntahkan orang-orang bekaos kuning dari baknya, para pedagang kagetan juga bederet-deret di sekitar alun-alun dari pedagang es tung-tung sampek penjual kacang rebus meraup rezeki dari keriuhan peserta kampanye. Suara riuh rendah yel penyemangat menyembur ke angkasa ..tetep dengan jargon yang sama ”Golkar Menang ,Pancasila Jaya,Pembangunan Terus”. Tapi yang menyedot perhatian khalayak siang terik itu adalah kemunculan sorang local hero,seorang real leader bahkan the real bupati of jember forever….Bapak Abdoel Hadi. Beberapa hari sebelum kampanye akhir memang beredar isu dan desas-desus bahwa panutan yang dekat dengan rakyat itu berkampanye untuk PPP alias ”Ka’bah” dan tidak lagi bersama Golkar. Tentu saja ini berita besar, apalagi nama besar pak Doel Hadi ini ibarat magnet untuk mendulang suara (vote getter), jika benar pak Doel Hadi ikut PPP wah bisa kacau perolehan Golkar di daerah basis NU yang secara tradisional akan lebih cenderung memilih PPP sebagai partai fusi sejumlah partai islam apalagi tanda gambar Ka’bah sangat mudah menarik minat rakyat yang ikut nyoblos. Golkar berusaha mematahkan itu dengan memunculkan Pak Abdoel Hadi di kampanye terakhir sekaligus menepis isu berpindahnya sang vote getter ke PPP. Maka dipenghujung kampanye dan Jurkam secara menggelora menyampaikan bahwa ada partai yang telah menghembuskan isu berpalingnya sang voe getter dari Golkar adalah isu sampah dan bohong alias ”car pak ler kele ran”..”kebohongan besar tak termaafkan”..maka seiring kemunculan Pak Abdoel Hadi ke panggung kampanye dan menyatakan masih tetap bersama GOLKAR …maka peserta kampanye berteriak histeris dengan meneriakkan hujatan kepada partai penyebar isu bahwa mereka adalah pembohong..maka…sore itu kampanye ditutup dengan yel-yel yang memekakkan telingga ” carpak ler ke leren..cerpek ler keleran..carpak lerkeleran”. Maka sepanjang perjalanan pulang ke Gebang maka tanpa sadar aku juga mengummankan kata-kata ritmis ”carpak ler-keleran..carpak ler keleran..”……..

So untuk tahun ini sampai 2014 nanti siapakah Caleg yang berjanji di saat kampanye dan mengingkarinya di saat menjabat akan disumpahi oleh pemilihnya dengan kata-kata ”carpak ler keleran”? Kita tunggu saja…..

Popularity: 13% [?]

Tombo Sepi

March 15th, 2009 by johny 6 comments »

PERUBAHAN NAMA KAMPUNG

Embong atawa Kampoeng Tengah? Pembatja tentoe djoega taoe jang Pembrita adaken perobahan pada adres dari kantoor boeat Redactie dan Administratie, boekan? Itoe perobahan beroepa robah “Kampoeng Tengah” mendjadi “Embong Tengah”. Sebabnja kita adaken itoe perobahan, ialah kerna djalanan jang biasanja diseboet Kampoeng Tengah djoega mempoenjai banjak gang gang di sebelah kiri dan kanannja, gang gang mana djoega dikasi nama Kampoeng Tengah, hingga tentoe ssadja bisa terbitken kekliroean kekliroean jang semoestinja tida sampe dilakoeken bila orang tida mendjadi bingoeng dengan itoe nama Kampoeng Tengah, boeat djalanan besar dan boeat kampoeng kampoeng jang berada di kiri kananja djalanan jang kita maksoedken di atas. Soepaia bisa diadaken perbedahan dalem nama dan dengen begitoe singkirken banjak kekliroean, maka dengan ini kita voorstel soepaia djalanan besar, dari Hoofdstraat sampe Djaganstraat, djalanan mana tadinja biasa diseboet Kampoeng Tengah, dirobah mendjadi Embong Tengah, sedeng itoe nama Kampoeng Tengah tetep boeat gang gang jang berada di kiri dan kanannja Embong Tengah. Kita pertjaja dan harep fihak jang berwadjib (Regentschapsraad) djoega bisa setoedjoe dengen ini perobahan jang diinginken oleh semoea orang jang tinggal di sepandjangnja djalanan terseboet.

RESTORAN

Restaurant “Sangkoeriang” Embong Tengah Djember Tiap Saptoe dan Minggoe:

Lontong tjapgome Satee – manis Soemenep Ijs Hoenkwee Bika Ambon d.l.l

SALON

Djembersch Permanenthuis en Coiffeurssalon Societeitstraat – Djember Telf. No. 61 boeat Njonja2, Toean2 dan anak. Adres jang satoe-sa- toenja boeat: permanentwave (bikin kriting dengen tang- goengan 6 boelan), watergolf, onduleeren, tjoetji ramboet, tjat ramboet dan rawat aer-moeka, menoeroet sijsteem dr. Rado. Kita selaloe goenaken barang2 dari dr. Radoe, oentoek rawat aer-moeka

    Njonja W. Becker.

Popularity: 9% [?]

Lewat IKPMJ untuk Jember

January 21st, 2009 by zilfana 17 comments »

Pada tanggal 9 Januari 2009, musibah banjir bandang dan tanah longsor kembali melanda Jember (“hadiah” yang sama untuk setiap ultah jember,kok gak pernah belajar ya?). Banjir bandang ini menghempas empat kecamatan: Mayang, Silo, Tempurejo dan Jenggawah. Setidaknya belasan rumah di Silo rusak karena longsor, katanya media massa kerugian di kecamatan Silo mencapai 5,5 M. Total empat kecamatan mencapai hingga 9 M, banyak juga ya…

Kami anggota IKPMJ mendengar berita ini bermaksud menghimpun bantuan dari segala pihak yang ingin meringakan beban saudara-saudara kita yang ada di Silo, mayang, jenggawah dan tempurejo.

Kemarin tanggal 18 Januari, saya dan beberapa teman sudah survei ke lokasi bencana. Kami pergi ke Mayang dan Pace, Silo.

Hasilnya:

ini hanya beberapa sempelnya, untuk sementara warga yang rusak rumahnya mengungsi ke rumah saudaranya. Itu kalo yang punya saudara, kalo yang gak punya ya…numpang tetangga.

Langsung saja, maksud saya menulis ini adalah untuk membuka peluang untuk om dan tante yang ingin membantu saudara di mayang dan pace. Bantuan dapat disalurkan melalui rekening mandiri atas nama Zilfana Izzatul Lailiyah 143-00-0501520-9

Hp:085236937013, uang bantuan InsyAllah akan kami barangkan dalam bentuk obat2tan, dan bahan bangunan. Penyaluran bantuan InsyAllah tanggal 25 atau 26 Januari 2009. Tenang saja uang bantuan tidak akan saya gunakan untuk kepentingan organisasi, full buat bantu korban bencana banjir dan tanah longsor. Percayalah, uang om dan tante berada di tangan yang tepat hehehe…

Demikian pemberitahuan kami, terima kasih atas perhatian dan bantuan yang diberikan. Allah yang akan membalas kebaikan om dan tante.

————————–Dari om dan tante, lewat IKPMJ untuk Jember————————

Popularity: 13% [?]

Kenakalan Berjamaah di SMA

January 14th, 2009 by ida_lumintu 56 comments »

Ada beberapa tindak ‘kenakalan’ pelajar yang dulu mungkin pernah kita lakukan secara ‘berjamaah’. Saya pun pernah (mungkin kerap, he he) terlibat di dalamnya dulu. Saya katakan tindak ‘kenakalan’ karena secara normatif hal-hal tersebut tidak bisa diterima sebagai perilaku positif dari remaja dengan label pelajar. Ada atribut ‘jamaah’ karena tindak tersebut dilakukan secara massal dan secara psikologis mungkin ‘keberjamaahan’ inilah yang bikin asyik. Bikin asyik karena mungkin itulah cara saya dan jamaah lainnya waktu itu untuk menunjukkan semangat kebersamaan / solidaritas, ‘sentimen’ anak muda dalam proses pencarian identitas.

            Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas kenakalan pelajar dalam perspektif ilmiah. Saya hanya ingin mengenang beberapa bentuk perilaku yang pernah kami lakukan bersama-sama dulu ketika saya SMA. Nah, mari kita mulai  mengulik masa lalu kita yang mungkin saat ini bisa bikin kita ngomong ’kok iso yo aku ngono, mbiyen?’, he he. Alur kenangan dalam tulisan ini akan mengalir dalam kerangka kronologis.

            Kelas satu. Dulu saya bergabung dengan kelas yang letaknya di ujung koridor di depan lapangan upacara (entah apakah layout ini masih berlaku sama sampai kini) yaitu kelas  14 (satu empat). Kelas satu SMA adalah masa-masa sekolah ketika saya harus masuk shift sekolah ke dua alias masuk siang, mulai jam 13.00 WIB, karena harus bergantian dengan Sekolah Widyatama (jika saya tidak salah mengingat nama sekolahnya). Di kelas awal ini, saya masih ingat betul ketika kelas 14 suatu saat pernah membikin Pak Karniyanto (Pak Karni, guru mata pelajaran Sejarah dan PSPB) bergetar suaranya karena menahan emosi dan (mungkin) linangan air mata (mata beliau berkaca-kaca saat itu) karena jengkel melihat ulah kami. Entah, mendapat ide dari mana, kami sekelas saat itu sepakat saling lempar kulit buah rambutan (yang kami santap buahnya bersama-sama di kelas) saat Pak Karni sibuk menulis materi pelajaran di papan tulis. Begitu Pak Karni curiga mendengar suara berisik di belakang beliau, beliau berpaling ke belakang dan entah bagaimana pula kami bisa secara simultan berhenti saling lempar dan terkesan sibuk menyalin materi pelajaran di buku kami, he he. Akhirnya Pak Karni memutuskan menulis kembali di papan tulis dan kejadian yang sama berulang, kami kembali saling lempar kulit buah rambutan. Lagi-lagi Pak Karni berpaling ke belakang dan hanya menemukan kami yang sok innocent berkonsentrasi pada materi pelajaran. Kali ke tiga kami kurang beruntung karena salah seorang teman tertangkap basah dalam posisi tangan akan melempar kulit buah rambutan. Maka bisa ditebak, apa yang telah saya uraikan sebelumnya kemudian terjadi. Pak Karni (maaf, Bapak, kami menyesal), beliau sangat murka dengan apa yang kami perbuat, sampai-sampai kami tidak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut beliau: ”Apakah kalian tidak menyukai Saya?” (InsyaAllah ini kata-kata beliau bila saya tidak salah mengingat).

            Kelas dua. Naik ke kelas dua, saya masuk dalam komunitas kelas 2 Fisika 2.  Kelas Fisika 2 terkenal di antara kelima kelas paralel Fisika lainnya (seluruhnya ada 6 kelas paralel Fisika) karena reputasinya sebagai kelas ’buangan’, kelas dengan jumlah anak-anak terbanyak untuk yang dianggap masuk dalam kategori ’bandel’, ’berandals’, bahkan ’criminals’. Sebagian penghuni Fisika 2 adalah langganan Drago (for those who don’t know what Drago is, this is the name of a place, located right behind the school, where ‘school-time escaping students’ usually communed together). Termasuk dari mereka adalah yang beberapa kali terlibat tawuran hingga main tikam-tikaman belati sampai berurusan dengan polisi, trek-trekan hanya untuk bisa dibilang gaya atau berfilosofi hidup ala ‘Peterson’ yang adalah simbol ‘anak asuhan rembulan’ atau petualang jalanan sejak malam sampai dini hari. Untuk kenakalan berjamaah, inilah saat-saat dimana kami sekelas mulai sepakat dengan acara ‘bolos bersama’, mokong melarikan diri dari beberapa jam pelajaran yang sudah kita ‘incar’ untuk kemudian pelesir berombongan naik motor menuju dua tempat favorit: Rembangan atau Pantai Watu Ulo. Wah! he he. Kami serasa keluarga besar Mafia (Makhluk Fisika Dua) yang sangat kompak! Sesudah acara ‘merasa kompak’ terpenuhi, kami bersiap untuk menanggung segala resiko yang akan terjadi akibat kekompakan kami. Beruntunglah kami karena resiko yang kami tanggung hanyalah ‘omelan wejangan’ dari bapak guru matematika saat itu, Pak Mulyani, karena memang kami sengaja memilih jam pelajaran beliau untuk slot acara mokong bersama ini.

           Kelas tiga. Masih melanjutkan atmosfer yang sama, saya kembali bertemu dengan penghuni lama dari keluarga Mafia, kali ini di kelas 3 Fisika 2. Ruang kelas 3 Fisika 2 juga berada pada deretan kelas di depan lapangan upacara, seperti lokasi kelas ketika saya masih berada di kelas 14. Kelas 3 Fisika 2 menurut saya fenomenal dalam hal kenakalan berjamaah. Satu hal yang paling saya ingat saat itu adalah kenekadan kami untuk membangkang pada ibu guru matematika yang sangat disegani sepanjang sejarah SMA 1, Ibu Purni. Masih dalam bentuk kekompakan ‘bolos bersama’, kami nekad meninggalkan kelas Ibu Purni, hingga beliau mencucurkan air mata karenanya. Entah, saya lupa sanksi apa yang kami terima saat itu, tetapi menurut kabar, itulah pertama kali dan satu-satunya saat dimana Ibu Purni, ibu guru tercinta yang sangat disegani di SMA 1 itu terlihat sangat bersedih sampai mencucurkan air mata. Apa yang kami rasakan saat itu? Entah, secara kolektif mungkin kami merasa bagai menemukan jati diri dengan ‘berani’ bersikap nekad. Entah..

            Masih ada beberapa bentuk kenakalan berjamaah lain yang saya ingat dalam periode sekolah SMA. Satu yang klasik di antaranya, yang ternyata juga terjadi pada setiap angkatan dari tahun ke tahun, adalah melakukan keisengan dengan bersembunyi di bawah meja ketika Pak Singgih, bapak guru Biologi, menghitung jumlah murid saat mengabsen kehadiran siswa di kelas. He he, sehingga beliau harus menghitung lagi dan lagi, berulang-ulang, karena setiap kali menghitung kok jumlah siswa berbeda terus? Romantika kenakalan berjamaah di sekolah, sekolah SMA..

Popularity: 24% [?]

Pada Suatu Pagi

January 11th, 2009 by ika 66 comments »

Pagi masih belum lengkap dengan kehangatan mentari, saat wajah sembab di depanku bertandang menyapa pagi hariku, yang tadinya kupikir akan berjalan seperti biasanya.

Batinku berbisik “Aduh,…ada apa ini…?”

Kubiarkan sampai ketenangan dan semburat merah agak membias di muka manis yang tadinya memucat itu.

Si gadis abu-abu itu mulai berkisah..tentang hatinya yang patah… “dia pergi, begitu saja, Bu. Dia tinggalkan semua harapan yang pernah dia tanamkan di hati ini. Dia tega Bu. Sakit…sakit banget.”

Aku diam…anak ini, kukenal cukup briliant di kelas, dalam pergaulan juga cukup menonjol, kemampuannya merefleksikan iman yang di anutnya juga cukup bagus.

Cinta…kenapa cinta kadang memporakporandakan sebuah hati…dan bagaimana aku menjelaskannya pada gadis belia ini. “Saya tidak mengira, Dia tega melakukannya. Dia tak lagi peduli sama saya, Bu.” Kembali dia terisak.

Duh..hati ini sudah mulai berbisik untuk ucapkan, …udah..ngapain di pikirin..jalan masih panjang..cari lagi..hehehe…dan malaikat hitam juga terus menggelitik hatiku…aih…bila laki2 yang diceritakan itu ada di depanku..pengen kulayangkan ‘bogem mentah untuknya’.

Hhhhh…kutarik nafas agak panjang…

“Sudahlah, masih panjang jalan di depanmu, saat ini yang utama adalah pikirkan dirimu sendiri. Bagaimanapun hidup terus berjalan. Kita petik hikmah dari ini semua. Pasti ada. Dan insyaAllah ada baiknya untukmu dikemudian hari” kataku akhirnya, yang kudengar ditelingaku sendiri sedikit sumbang.

“Sakiiiit, Bu, apakah saya bakal bisa melupakan semua ini…?” ucapnya sembari menatapku.

Ya Allah. . . , mata itu. . . seperti anak burung yang patah sayapnya…Ada harapan dan luka yang sangat disana, apa yang mesti kujawab???

Aku biaskan senyum untuknya dan mengangguk, “Saya juga akan bisa melupakan dia kah, Bu?” Kembali aku hanya bisa tersenyum. Dengan kekuatan yang tersisa aku sampaikan.” InsyaAllah… Sang waktu yang akan menentukannya.” Ah, aku menangkap suaraku sendiri tergetar, teringat yang menyeruak di hati. Saat seseorang hanya melintas sesaat dan kemudian berlalu. Dan memang perih…

Pagi kembali berlalu seperti pagi yang kemarin, dan si gadis pun telah berlalu sembari mencoba menata hidupnya, Aku hanya mampu meraba hati…Cinta dan luka adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan, dan dengan sentuhan hangat mentari dan gemerlapnya gemintang malam, Aku susuri hidupku dan menjadikan luka yang ada menjadi sapuan jiwa yang menjadikan hidup ini penuh warna…Luka..perih..dan…warna hidup.

“Bunda”. Si keriting kecil memanggilku dan tiba2 sudah di depanku. Kuhantarkan dia dalam pelukan hangatku, sehangat hati yang telah penuh warna ini.

Depok, 11 Januari 2009

Popularity: 16% [?]

ibu dan rinduku

December 21st, 2008 by ika 19 comments »

Emak….ibu….bunda….mama….ambuk….

Nama-nama itu begitu indah menghiasi relung hati, tidak terikat siap yang mengucapkan, maupun sang waktu…Sebutan itu seakan tak pernah akan mampu ditindas oleh apapun..tetap megah dan tetap mampu membahana, mengisi relung-relung kalbu

 

Ribuan kilo, jarak yang kau tempuh

Lewati rintangan untuk aku anakmu

……. Ibu by Iwan Fals

 

Nada-nada yang indah

Selalu terurai darinya

Tangisan nakal dari bibirku

Takkan jadi deritanya

Tangan halus dan suci

Tlah mengangkat tubuh ini

Jiwa raga dan seluruh hidup

Telah dia berikan

—–Bunda by Melly G

 

Hanya memberi tak harap kembali

Bagai sang surya menyinari dunia

 

Untaian syair yang menjadi begitu indah untuk disenandungkan dan merebut seluruh jiwa yang tak kan mampu memungkirinya, bagaimanapun keberadaan beliau, kita sangat mencintainya, kita sangat menghormatinya dan menempatkan beliau di tempat yang paling agung dalam hati kita. Jerih payahnya tak kan terganti..rangkaian doa-doa yang dipanjatkannya menjadi ukiran yang manis yang bersemayam dalam diri kita…oh Ibu

 

Perasaanku muncul pertama kali dari yang sempat kuingat adalah saat mengikuti persami saat masih SMP. Perjalanan dari sekolah ke rembangan kala itu, merangkaikan kepenatan jiwa yang meretas hati, bahwa tiba-tiba betapa aku tidak tahan dalam perjalanan jauh tanpanya,  Rindu itu tiba-tiba menyeruak dan hatiku pengen berlari pulang..jadilah sepanjang perjalanan bersama sofia, kami berlari dan meneriakkan…”ibu…….”

 

Bersyukur, tanggal 22 Desember 2008 ini, aku bisa menikmatinya bersama ibu yang alhamdulillah sedang ada di Depok, seperti masa-masa dulu, setiap hari yang bersejarah itu, kami (aku dan adik-adik) selalu berusaha mengambil alih seluruh pekerjaan yang biasa di handle ibu, termasuk memasak, dan pada hari itu, di masa itu, kami menyadari bahwa tak mudah menjadi seorang ibu, apalagi dengan peran ganda yang disandang ibu…dan yang paling manis di saat moment itu, ibuku yang tipe seorang ibu yang tidak banyak bicara, tetap akan ke dapur dan membuatkan kami kue kelapa mutiara yang di kukus…wah aku rindu makanan itu…

 

..oh ibu, sampai kapanpun tak kan mampu kubalas pengorbananmu….hanya doa dan doa untukmu…ibu…..

Popularity: 14% [?]

Buat Pengusaha Kos

December 1st, 2008 by johny 15 comments »

Mengelola tempat kos memang membutuhkan kreatifitas. Kenyamanan kamar, keindahan lingkungan tinggal dan fasilitas dikondisikan yang memiliki daya tarik. Tentu, harga menjadi daya tarik yang lain. Selain menyediakan fasilitas tempat tidur, meja belajar dan lemari pakaian di kamar, sebagian kos menyediakan fasilitas telepon, air minum gratis serta dapur dan perlengkapannya. Sebagian kos lain bahkan punya usaha ekstra untuk menjadikan tempat kos-nya menjadi semacam “one stop living”. Warung makan, wartel, persewaan komputer dan warung internet dan laundry didirikan di area tempat kos. Itu sebagian jenis tempat kos yang saya ketahui di Yogya dan di Jember belakangan ini.

Ternyata ada jenis kos yang barangkali agak lain dari yang ada sekarang. Sebuah tempat kos yang menyediakan juga semacam kursus mata pelajaran sekolah dan pendidikan ketrampilan dalam mengurus rumah tangga. Simaklah kutipan iklan dari koran lokal Jember, Pambrita, di tahun 1934 ini:

» Read more: Buat Pengusaha Kos

Popularity: 17% [?]

Florida Theater

November 20th, 2008 by johny 15 comments »

Akhir tahun-tahun 70-an dan awal 80an, hampir setiap malam Minggu saya selalu menonton film India yang diputar di gedung bioskop Misbar (gerimis bubar) di jalan Trunojoyo. Asyik juga menonton di Misbar. Harga tiketnya murah sekali, kalo tidak salah ingat kurang dari seratus rupiah waktu itu. Mungkin nilai itu sekitar dua pertiga sampai setengah dari harga tiket di gedung bioskop lainnya. Selain itu ada jeda waktu istirahat setelah sekitar setengah pemutaran film. Penonton bisa jajan, pipis dll. Tapi seingat saya yang paling tidak enak waktu setengah permainan itu, selalu ada seorang ibu tua yang menjadi penonton setia yang selalu (maaf) pipis di tempat. Mungkin, cara pemutaran ini kurang lazim jikalau dibandingkan dengan pemutaran film di gedung-gedung bioskop GNI, Kusuma, Jaya atau Sampurna yang memutar film dari awal hingga tuntas habis. Eh, ternyata cara pemutaran film dengan jeda barang seperempat jam juga terjadi saat saya menonton film di Leiden. Jadi memberi kesempatan penonton untuk menghela nafas sejenak atau menyapa penonton lain yang baragkali dikenal.

Ternyata, Jember sudah punya gedung bioskop jauh lebih lama lagi. Di tahun 1930an, di Jember telah berdiri Florida Theater. Menilik dari namanya, cukup kosmopolit juga. Berdasar film yang diputar pun, agaknya Hollywood dan Bollywood belum sampai membanjiri Jember. Film Perancis dan Jerman menjadi santapan penonton bioskop di Jember. Gedung ini terletak di Schoolstraat. Saya tidak tahu persis dimana tempat itu berada. Di peta tahun 1922, yang saya temukan hanya nama Schoolweg, yang sekarang di jalan… apa ya? (Maaf saya lupa) Di sepanjang jalan bekas Bank Rakyat Indonesia, SD Katolik Santa Maria, (dulu ada) Sekolah Pendidikan Guru yang berhadapan dengan rumah makan Lestari. Mungkin schoolweg di tahun 30an meningkat peringkatnya menjadi schoolstraat.

» Read more: Florida Theater

Popularity: 15% [?]