Bernostalgia di Jember Klinik

December 11th, 2009 by Ikhlasul Amal 15 comments »

Jika pada kesempatan mudik lebaran tahun ini, akhir September lalu, saya berkesempatan pulang ke “tanah kelahiran” Balung, kecamatan di sebelah selatan Kab. Jember, dan tidak sempat berkunjung ke Kota Jember yang kian ramai, bulan November lalu sebaliknya: datang dan menginap di Kota Jember dan tidak sempat menjenguk Balung.

Seperti biasa, ini bagian dari acara perjalanan dinas ke Surabaya, saya tumpangi dengan melanjutkan ke Jember karena nenek sedang dirawat inap di Rumah Sakit Jember Klinik. Dengan keyakinan mengingat perjalanan Surabaya-Jember sejak zaman kuliah, santai saja saya naiki bus Akas jurusan Jember dari Terminal Purabaya, Surabaya/Sidoarjo, pada pukul 17.30, dan sampai di Terminal Tawangalun Jember, sekitar pukul 22. Taksi selanjutnya mengantarkan saya hingga di R.S. Jember Klinik, yang di beberapa spot saya lihat disingkat JeKlin.

» Read more: Bernostalgia di Jember Klinik

Popularity: 10% [?]

Selamat Berulang Tahun Kesepuluh, Milis 1988

November 16th, 2009 by Ikhlasul Amal 6 comments »

Kendati Cak Sigit sudah memindahkan kerajinannya menulis kalimat bijak dari mailing list ke status Facebook, dia tetap seorang yang awas terhadap hal kecil namun penting, yaitu keberkahan dari kelahiran. Secara filosofis, kata “kelahiran” dapat bermakna “diadakan”, “diejahwantakan”, dan kian panjang dalam diskusi-diskusi hakikat eksistensi diri. Berat, berat, abot rek, nek nggowo-nggowo gagayaan kayak ngono!

Padahal, praktisnya: milis alumni 1988 SMA Negeri 1 Jember genap berusia sepuluh tahun sejak pertama kali disediakan, 15 November 1999. Selamat untuk warga mailing list!

» Read more: Selamat Berulang Tahun Kesepuluh, Milis 1988

Popularity: 4% [?]

Buku Tamu

November 7th, 2009 by Ikhlasul Amal 3 comments »

Mohon jangan lupa bahwa blog kita ini memiliki Buku Tamu.

Asal muasalnya: beberapa komentar dianggap di luar topik (atau dikenal sebagai OOT) karena mohon dimaklum begitu bertemu di bangku warung ya mengobrollah ke sana dan sini. Belum lagi jika memang yang ingin memasang tulisan itu “sekadar” uluk salam, panggil-panggil teman dekat, (dulu) pujaan hati, atau berteriak lantang komando untuk angkatan.

Diakomodasi akhirnya dalam bentuk Buku Tamu.

» Read more: Buku Tamu

Popularity: 7% [?]

Selamat Bertemu di Blog, Suara Akbar!

October 12th, 2009 by Ikhlasul Amal 7 comments »

Terima kasih kepada Mas Ramadhany yang akhirnya menemukan juga tulisan “Kacepot Gullena Mera…” di blog ini. Ikut menyapa dan mengingatkan kita semua tentang Radio Akbar yang kabarnya sekarang sudah menyediakan edisi streaming segala. Ya iyalah, di masa seperti ini, sudah tipis beda teknologi antara Jember atau Jakarta — setidaknya dibanding masa lalu.

Dulu saya tidak mengerti: bagaimana sih cara meminta lagu di Radio Akbar itu? Ada yang bilang –waktu itu– katanya perlu beli semacam kartu terus dikirim ke stasiun radio. Barangkali lumayan sebagai penghasilan tambahan dengan membeli kartu tersebut (yang berharga murah meriah). Atau juga mungkin lewat kartu pos. Entahlah. Yang jelas jika saya dengar radio swasta di Bandung, kota saya tinggal saat ini, para penyiar sudah sibuk menyebutkan pesan seperti dari Yahoo! Messenger atau Facebook. Jadi masukan dari pendengar dan luaran ke publik sudah berdampingan dengan media baru, Internet.

Karena Internet juga blog ini dipertemukan langsung dengan Radio Akbar, tentu saja setelah diracik oleh koki cerita masa lalu, Cak Ekoz, yang sekarang bertugas menjaga pundi-pundi bank nasional.

He, he, he… selalu menyenangkan bercerita masa lalu, sekaligus bernostalgia. Yang pahit terasa lucu, yang manis tentu bertambah indah…

Tabik, semua.

Popularity: 6% [?]

Meh Pitulasan .. ana sing luput ya ?

August 14th, 2009 by faiz_sahly 4 comments »

bendera5

Sebentar lagi, tepatnya hari SENIN PAHING kita Bangsa Indonesia akan mengenang dan memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 2009. Secara resmi, negara kita sudah berusia 64 tahun. Kalau diukur dari umur manusia, maka umur segitu sudah terbilang “lampu Kuning banget” bahkan condong kemerah-merahan alias umur siap-siap untuk dijemput oleh Malaikat Izrail. Sebab, menurut Islam, umur sebuah umat mengikuti umur Nabinya. Kalau nabi Muhammad wafat pada umur 63 tahun, maka umur rata-rata umat Islam berkisar pada usia 60 tahunan, kurang atau lebih.

Tapi, kalau dikaitkan dengan umur sebuah negara, 64 tahun itu bisa terbilang masih bocah atau bisa jadi sudah dewasa. Lho kenapa masih bocah? Apakah masih kurang contoh bagi kita tentang perilaku pejabat negara atau tokoh masyarakat yang begitu mbocahi alias tidak bisa bersikap sebagai panutan, yang bisa mengayomi dan melindungi. Kampanye Pemilu Legislatif 2009 yang baru saja berlalu sudah membuktikan bahwa banyak diantara kita masih terbilang mbocahi dalam bertindak.

Kabeh pada rebutan panggonan kanggo masang gendera..

Kabeh pada rebutan pameran janji ..

Kabeh uga pada rebutan mblenjani janji, nek dong ora kepilih (utawa nek kepilih .. )

Kepiye Jal ?

Eit.. tapi bangsa kita sebenarnya juga sudah cukup dewasa. Terbukti saat Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden, rakyat dengan penuh sukacita mendatangi TPS untuk memberikan dukungan kepada Calon yang dipercayainya. Alhasil, pasca pemilu tidak terjadi kerawanan yang berujung kepada kerusuhan atau pun keributan seperti yang dikhawatirkan banyak pihak. Semua berjalan dengan baik hingga akhirnya tanggal 17 Juli 2009 hari Jumat Legi, kita semua dikejutkan oleh njebglug-nya bom di Hotel Je Dabelyu Marriot dan Ritz Charlton.

Gara-gara jeblugan bom ini pulalah, sobat kita Cak Eko Setiawan menjadi gundah lantaran tim balbalan sing kondhang sak jagad, idola beliauw .. tidak jadi maju ke tampil untuk melawan pasukan pak Benny Dollo. Beragam spekulasi bergulir dan menggelinding cepat menabrak logika awam tentang apa motif kejadian-kejadian itu. Tak luput pula motif spekulatif bernada ngawur bahwa yang njeblugke bom itu disuruh sama Liverpool ( .. dalam bahasa Cak Ekos : Looserpool .. ) atau kongkonane Mas Drogba bahkan mungkin Propesor Wenger, yang kita tahu merupakan lawan-lawan berat MU di kompetisi Liga Inggris kemarin, sekarang dan esok nanti ..

Pasca pengeboman ini pun, kita melihat kembali perilaku mbocahi dari punggawa negeri ini, yang saling bersilat lidah di media untuk membela atau memojokkan pihak lain. Sungguh tidak patut untuk disaksikan apalagi diikuti. Untuk orang-orang sekelas beliauw, semestinya dipaparkan fakta-fakta strategis untuk mencegah terulangnya jeblugan bom semacam itu, menenangkan rakyat sekaligus menggugah rakyat untuk tetap bersatu dan waspada. Bukannya melansir berita yang meresahkan bahkan bisa memecah belah persatuan warga yang sejauh ini juga masih pasang surut kondisinya.

Tapi, sudahlah.. Sementara ini, semua sudah berlalu dengan ditetapkannya sejumlah nama sebagai pelaku utama jeblugan bom tersebut. Tercatat ada Ibrahim The Florist, Dani Dwi Permana si Bocah Gundah, Nana Ichwan Maulana, Eko Peyang dan Air Setiawan Asy Syahid ( ? .. jare sing ndukung .. ) yang resmi beraksi dalam insiden itu. Sejenak kita bisa lega dengan temuan ini.

Kembali ke Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Yang jelas, malam Senin besok, di desa-desa, kampung-kampung, perumahan-perumahan, masjid atau tempat ibadah lainnya, bakal diselenggarakan acara Tirakatan Pitulasan untuk memperingati perjuangan para pahlawan dalam membebaskan negeri ini dari cengkeraman penjajah kala itu. Terlepas pula dari sinyalemen .. (waduh opo kuwi .. ternyata artine indication; suspicion; assumption) .. bahwa sejatinya bangsa dan negara kita ini belum merdeka. Terbukti dengan laporan berbagai analis keuangan tentang makin membelitnya utang negara kita, makin tidak dihormatinya kedaulatan kita, makin merosotnya derajat kehidupan kita serta berbagai tendensi negatif yang menerpa bangsa ini terus menerus.

Saya lantas berpikir, “Apa yang salah dengan bangsa dan negara ini ya?” Tercetus satu hal di benak saya. Kita ini ngakunya bangsa yang berke-Tuhanan Yang Maha Esa. Tapi coba tengok saat kita memperingati acara Pitulasan. Benarkah kita benar-benar menghadirkan Tuhan di hati dan lingkungan kita ? Rangkaian acara Pitulasan yang dikemas dalam berbagai lomba, baik itu lomba anak-anak atau pun orang dewasa, hampir dipastikan tidak lebih sekedar “Pantes-pantese nek Pitulasan yo nggawe lomba-lomba sing rame ..” bahkan tidak sedikit yang terbilang konyol dan tidak patut dipertontonkan dimuka publik. Misal saja, Bal-balan ibu-ibu dengan mengenakan sarung. Dimana kalau musik dibunyikan, semua peserta harus berhenti dan berjoget dulu hingga musik dimatikan. Atau pula bal-balan bapak-bapak dengan mengenakan daster. Opo yo patut koyo ngono kuwi ? Wong tuwo kok mung didadekake geguyon bocah ..

Juga saat rangkaian itu ditutup dengan Pentas Pitulasan atau Malam Tirakatan, upaya mewarnai dengan penuh rasa syukur kok makin tipis juga. Hampir semua acara mengedepankan kegembiraan, yang kadang berlebihan. Wujud syukur serta keprihatinan terhadap nasib negara dan bangsa serta wujud terima kasih kepada mereka yang telah menyabung nyawa untuk negeri ini, seperti makin jauh saja.. Betapa gundahnya hati para pejuang negeri ini di alam penantian ketika menyaksikan kita lalai untuk bersyukur kepada Tuhannya .. Duh, Gusti .. Nyuwun agunging pangaksami ..

Kalaupun dalam acara itu juga dipanjatkan doa-doa, sepertinya hanya sebagai kepantasan seremonial saja. Bagaimana doa bisa didengar oleh Tuhan, kalau kita yang memanjatkan hanya sebatas di bibir. Sedangkan hati kita berada di tempat lain .. Akankah malaikat mau mendekat untuk menjemput doa kita dalam suasana yang penuh hingar bingar seperti itu? Ah, sungguh kita makhluk yang dhalim dan pelupa..

Yah .. ambegan gede ..kalau yang seperti ini semakin ditradisikian dan diturun temurunkan, dimanakah kemerdekaan sejati kita sebagai manusia, yang oleh Tuhan dijadikan sebagai makhluk yang paling mulia, yang berakal dan (semestinya) bisa membedakan hal yang benar atau batil. Yang semestinya tugas kita hanyalah untuk beribadah kepada-Nya?

Popularity: 6% [?]

Sang Saka Merah Putih atau Hinomaru ya ?

August 4th, 2009 by faiz_sahly 5 comments »
JFC meet The KAIGUN..

JFC meet The KAIGUN..

Posting pertama saya setelah sekian bulan ” minggat ” ke Facebook dan berkubang dengan virus-virus FB yang betul-betul melenakan dan meninabobokkan.

Pagi ini saya membuka situs Suaramerdeka.com. Pada halaman utamanya, terpampang foto salah satu peserta karnaval tahunan di kota Jember, yang perlahan tapi pasti, bakal menjadi salah satu ikon budaya kota Jember, yaitu JEMBER FASHION CARNAVAL. Tahun ini adalah pergelaran JFC yang ke-8.

Demikian isi berita foto yang saya kutip dari suara merdeka.com “ Seorang peserta mengenakan kostum merah putih sedang mengikuti Jember Fashion Carnival di Jember Jawa Timur. (reuters- smcn) ” (Ganbar sebelah kiri).

Sepintas mencermati foto tadi, pikiran saya lantas beralih ke salah satu Band Metal asal Jepang, yang konon pernah digandrungi penikmat musik metal sejagad, tidak terkecuali di kota Jember, yaitu LOUDNESS. Band yang kondang dengan sederetan lagu pilihan antara lain : Run For Your Life (paling sering dinyanyikan oleh band rock jawa timuran), Let It Go ( pernah dinyanyikan Anang dan Morgenster di Stadion Notohadinegoro), Crazy Nights serta So Lonely.

Setelah googling sebentar, akhirnya saya dapatkan foto sampul album ” THUNDER IN THE EAS.T ” ( Gambar sebelah kanan), yang merupakan pintu pembuka bagi Loudness untuk menapak ke pelataran musik dunia. Lalu saya googling lagi dengan kata kunci “Hinomaru “, untuk memastikan saya tidak salah memilih judul posting kali ini.  ”Hinomaru” adalah sebutan untuk bendera negara Jepang.

Dengan tidak mengurangi respek saya terhadap jerih payah desainer kita, anggapan saya bahwa beliau ingin mengangkat tema yang terkait dengan suasana menyambut perayaan kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 64 di tahun 2009 ini. Dalam fantasi saya, desain itu seolah menggambarkan kemegahan kepak sayap burung garuda yang kokoh dan megah. Andai saja desain itu bisa dilengkapi dengan semacam alat, yang bisa menerbangkan si peragawan untuk melayang-layang di angkasa.. ahh, tentu lebih hebat rasanya.

Namun demikian, kembali kepada perasaan saya yang telah “teracuni” dengan bayangan  ”hinomaru“, saya mat-matke kok desain itu lebih mirip ke bendera “saudara tua” kita ya.. ketimbang Sang Saka Merah Putih kita. Apakah nasionalisme saya mulai luntur ya?

Semoga tidak! Respon ini saya buat sebagai apresiasi positif sekaligus kritik konstruktif kepada para desainer peserta JFC untuk tetap berkarya dan menggali ide-ide lokal untuk diwujudkan menjadi issue-issue global. Agar desainer kita makin memperluas wawasan serta mempertajam visi, sehingga desain yang awalnya bernafas ” Nasionalis “, tidak menjadi Nasionalisme Bercabang..

Matur nuwun.

Popularity: 8% [?]

Pulang Kampung Sebentar Lagi

August 3rd, 2009 by Ikhlasul Amal 5 comments »

Idul Fitri 1430 H akan jatuh pada bulan September mendatang. Salah satu rutinitas budaya di negara kita adalah pulang kampung. Selain tujuan utama bertemu keluarga besar di Jember, kesempatan seperti ini dimanfaatkan juga untuk bersilaturahim kembali, atau menyelenggarakan reuni.

Dari catatan yang saya baca di Wall grup SMA 1 Jember di Facebook, Cak Jaka Adila, memberi kabar rencana reunian untuk alumni tahun 1976,

Tanggal pelaksanaan: 23 dan 24 September 2009
Lokasi: belum ditentukan
Kontak: dr. Bagas Kumoro, bagas_kumoro [at] yahoo.com

» Read more: Pulang Kampung Sebentar Lagi

Popularity: 8% [?]

Bangkit dari Mati Gaya

July 29th, 2009 by Ikhlasul Amal 5 comments »

Mati gaya? Kehabisan pulsa telepon genggam?

Jika di iklan layanan GSM mati gaya gara-gara kehilangan akses ke Facebook, justru dalam kasus blog ini Facebook sempat dituding penyebab kemandegan aktivitas. Memang menjadi tidak-aktif berjamaah, entah akibat kedatangan musim sibuk bersama-sama atau alasan lain yang mendera. Di milis alumni tahun 1988 aktivitas juga berkurang. Aktivitas grup SMAN 1 Jember di Facebook pun sebenarnya biasa-biasa saja. Kamerad Ekoz menyebut keramaian terjadi pada komunikasi personal, antarteman.

Barangkali…

» Read more: Bangkit dari Mati Gaya

Popularity: 4% [?]

“Jangan Hanya Pul-Kumpul…”

May 11th, 2009 by Ikhlasul Amal 22 comments »

Pertanyaan penting dan agaknya senantiasa muncul berkaitan dengan alumni dan kegiatan yang diselenggarakan adalah ihwal model acara reuni, acara pul-kumpul, atau reriungan. Hampir semua klub memiliki gaya masing-masing untuk bersosialisasi dan untuk klub alumni: dorongan bertemu, menyegarkan ingatan setelah terbawa masa dalam bilangan dasawarsa akan lebih kuat. Apalagi berkah Web 2.0 sudah di depan mata: aneka jejaring sosial kian memudahkan peserta untuk merencanakan hingga menyelenggarakan kegiatan tambahan, yaitu dalam bentuk pertemuan, kopdar.

» Read more: “Jangan Hanya Pul-Kumpul…”

Popularity: 8% [?]

Napak Tilas Cikal Bakal Pendirian Universitas Jember

May 4th, 2009 by rizal 17 comments »

Diambil dari Jawa Pos, Radar Jember, Senin, 04 Mei 2009, Ada cerita bahwa SMA 1 yang dibangun dari sumbangan botol-botol kosong dan kelapa

Dana Pendidikan Kurang, Minta Sumbangan Buah Kelapa dari Warga

Tak banyak orang tahu, salah satu yang punya peran penting dalam pendirian Universitas Jember (Unej) yang dulunya bernama Universitas Tawang Alun (Unita) adalah Alm R. Soedjarwo. Saat Unita dirintis, dia menjabat sebagai Bupati Jember sekaligus merangkap sebagai Ketua DPRD Swatantra. Inilah penuturan Ir Suhardjo Widodo MS, putra keempat R. Soedjarwo yang juga menjadi saksi mata sejarah pendirian perguruan tinggi negeri di Jember.

Winardi Nawa Putra, Jember


Dalam konteks pembangunan Kabupaten Jember, Unej mempunyai peranan sangat strategis. Kampus yang terletak di Tegal Boto ini telah menjadi magnet luar biasa bagi pertumbuhan ekonomi di Jember. Telah banyak lulusan Unej yang menjadi pengusaha besar dan tokoh nasional. Unej telah melahirkan generasi bangsa yang punya kualitas andal dan diperhitungkan hingga ke kancah internasional.

Jumlah mahasiswa Unej sekarang ini lebih dari 20 ribu mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah. Tentu ini merupakan potensi ekonomi yang luar biasa dalam meningkatkan perputaran uang yang masuk ke Jember. Keberadaan Unej sekaligus memberikan dampak pertumbuhan ekonomi yang luar biasa. Banyak usaha kos-kosan dan berbagai aktivitas usaha di sekitar kampus yang bermunculan. Tidak dapat dipungkiri, Unej memberikan wajah tersendiri bagi kota Jember sebagai salah satu kota pendidikan terpandang di Jawa Timur, selain Surabaya dan Malang.

Saat-saat rintisan pendirian perguruan tinggi di Jember, salah satu yang tahu banyak adalah Ir Suhardjo Widodo MS. Dia adalah putra keempat alm R. Soedjarwo, mantan bupati Jember yang juga salah satu perintis berdirinya Unej.

Menurut Suhardjo, periode cikal bakal pendirian Universitas Jember mulai tahun 1957-1964. “Ini diawali dengan munculnya gagasan tentang pentingnya suatu universitas di kota Jember. Tokoh yang mempunyai gagasan tersebut adalah dr R. Achmad, R. Th. Soengedi, dan M. Soerachman,” ujarnya.

Ketiga tokoh tersebut akhirnya berhasil mendirikan Yayasan Tawang Alun. Tujuan pokok yayasan tersebut adalah mendirikan Universitas swasta Tawang Alun (Unita). Pada waktu, Unita berdiri baru memiliki sebuah fakultas, yakni Fakultas Hukum.

“Pada masa itu, Unita belum mempunyai gedung, masih menempati Gedung Nasional Indonesia (GNI) Jember dan Sekolah Menengah Pertama Katolik Putra Jember,” kisahnya.

Memasuki tahun 1959, ujar pria kelahiran 21 Mei 1949 ini, tuntutan kepada Unita untuk terus berkembang semakin besar. Maka, atas permintaan warga Unita, pada 26 Januari 1959, R. Soedjarwo diangkat sebagai Ketua Yayasan Unita.

“Secara kebetulan, pada periode 1957 sampai dengan 1964, R. Soedjarwo menjabat sebagai Bupati Jember dan merangkap sebagai Ketua DPRD Swatantra,” ujarnya. Boleh dikata, sebagai Bupati Jember waktu itu, R. Soedjarwo mempunyai perhatian cukup besar terhadap pembangunan pendidikan di Kabupaten Jember.

Ini mengingat bahwa anggaran pemerintah saat itu masih sangat terbatas. Atas kenyataan itu, untuk menunjang bidang pendidikan, R. Soedjarwo bersama tokoh-tokoh masyarakat kemudian mendirikan Yayasan Pendidikan Kabupaten Jember (YPKD) dengan menggali dana dari masyarakat untuk menunjang dunia pendidikan.

“Salah satu cara yang unik dalam mengumpulkan dana, R. Soedjarwo minta sumbangan dari masyarakat Kabupaten Jember berupa buah kelapa dan botol kosong untuk dijual. Selanjutnya dananya dipergunakan untuk membantu Unita dan sekolah-sekolah yang lain,” ujar bapak berputra dua ini.

Dia ingat betul, saat itu dia masih duduk di bangku SMP. Dengan usaha tersebut, lanjut dia, R. Soedjarwo di kalangan masyarakat terkenal sebagai Bupati Botol Kosong.

Beberapa sekolah yang sempat dibantu pembangunannya oleh YPKD antara lain, Gedung SGA yang sekarang ditempati MAN II, gedung SMA I, SMEA, SKP yang sekarang ditempati SMPN 11 Jember, STM yang sekarang menjadi SMPN X , PGA, dan SPPMA. “Serta tidak kurang 50 gedung Sekolah Rakyat (SD) termasuk gedung Asrama Putri di Jalan PB Sudirman yang dibantu,” ujarnya.

Untuk membesarkan Unita, R. Soedjarwo kemudian membantu mendirikan gedung kampus Unita yang ada di jalan PB Sudirman seluas 656 meter persegi. Gedung tersebut dibangun di atas tanah seluas 2.160 meter persegi dengan biaya pembangunan sebesar Rp 23.243,66.

“Dana tersebut bersumber dari dana YPKD. Sejak tahun 1960, Unita semakin berkembang. Jumlah fakultas, satu demi satu bertambah. Meliputi, Fakultas Sosial Politik, Fakultas Kedokteran, Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan dan Fakultas Pertanian,” tambahnya.

Seiring perjalanan waktu, untuk menambah prasarana kampus, Unita mengundang USAID untuk mendapatkan sumbangan berupa alat laboratorium dan buku-buku. “Kampus Universitas Jember di Tegal Boto, sebenarnya sudah diimpikan R. Soedjarwo. Saat itu tahun 1960, Tegal Boto masih berupa daerah terpencil bagaikan “pulau mati” dan tidak bisa dijangkau transportasi darat,” ujarnya.

Untuk membuka daerah tersebut, R. Soedjarwo mulai membangun jembatan di jalan PB Sudirman arah ke Jalan Mastrip pada 1961. “Jembatan tersebut baru selesai tahun 1976 dan hingga kini dikenal sebagai jembatan Jarwo, ” ujarnya.

Nah, awal 1961 Yayasan Unita mulai merintis upaya agar Unita bisa berstatus negeri. Untuk itu, R. Soedjarwo mengadakan koordinasi dengan segenap pengurus yayasan, pengurus Unita, tokoh-tokoh daerah, termasuk anggota DPRD.

“Sidang DPRD pada 19 April 1961 akhirnya menghasilkan keputusan menetapkan resolusi,” ujarnya. Resolusi tersebut isinya menyangkut beberapa hal. Pertama, tentang memperkuat ide pembukaan Fakultas Kedokteran, kedua mengirim delegasi yang terdiri dari Ketua DPRD menghadap Pemerintah Pusat, dan ketiga Universitas Tawang Alun agar diakui sebagai Universitas Negeri.

“Langkah selanjutnya, Yayasan Unita mengirim beberapa delegasi untuk menghadap Menteri PTIP waktu itu dipegang Prof Mr Iwa Kusumasumantri,” ujarnya.

Hasilnya memberikan harapan baru, pemerintah akan menegerikan Unita bersama-sama dengan Unibraw pada 20 Mei 1962. Untuk menyongsong rencana tersebut, ujar suami EM Evi ini, Yayasan Unita kemudian mengirim kembali delegasinya pada 14-24 Maret 1962. Namun di luar dugaan, telah terjadi pergantian Menteri PTIP, yaitu Prof Dr Ir Thoyib Hadiwidjaja yang mempunyai kebijakan baru bahwa tidak membenarkan penegerian dua universitas dalam satu provinsi secara bersamaan. Akibat penundaan penegerian Unita tersebut, Unita akhirnya diintegrasikan ke Universitas Brawidjaya Malang berdasarkan SK Menteri PTIP No1, tertanggal 5 Januari 1963. Hal ini menimbulkan keresahan bagi masyarakat Jember dan mahasiswa Unita khususnya.

Melihat hambatan tersebut R. Soedjarwo terus berusaha dengan mengirim delegasi ke Jakarta hingga mendapat dukungan dari DPRD untuk mendesak pemerintah pusat untuk menegerikan Unita menjadi universitas negeri secepatnya. “Jerih payah R. Soedjarwo dengan dibantu pihak-pihak terkait, akhirnya membuahkan hasil dengan terbitnya SK Menteri PTIP No 153 tahun 1964 tertanggal 9 November 1964 tentang Didirikannya Sebuah Universitas Negeri Jember,” paparnya.

“Sejak Unita menjadi Universitas Negeri R. Soedjarwo tidak aktif dalam mengembangkan Universitas Jember,” ujarnya. Menurut Suhardjo, dalam perkembangan Universitas Jember hingga maju pesat dan menjadi besar hingga berskala nasional tidak lepas dari peran dua Rektor terakhir yaitu Prof Dr Kabul Santoso MS dan Dr Ir T Sutikto MSc.

Tahun ini Universitas Jember akan berdies natalis ke-45. Melihat perjalanan Universitas Jember hingga maju pesat seperti ini, tak salah jika dalam dies natalis tersebut ada suatu apresiasi yang memadai bagi founding fathers Universitas Jember yang telah bersusah payah membangun pendidikan di Jember. (*)

Sekalipun aku bukan lulusan UNEJ, tetep aku bangga pada UNEJ, soale Bapakku kerjo ning UNEJ, adikku, mbakku, masku kabeh lulusan UNEJ, bahkan aku urip ning omah dinese UNEJ… pokok UNEJ Banget deh.. :)

Popularity: 10% [?]