Hari Pahlawan, Pahlawan-Pahlawan Lokal Jember

November 9th, 2007 by rizal 30 comments »

Rasanya semakin hari kita (tepatnya aku.. he..he..) semakin lupa kalo tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan (soalnya gak tanggal merah). Kalo dulu pas jaman sekolah, kita dipaksa inget karena dipaksa upacara. Yang terbayang saat mempringati Hari Pahlawan adalah semangat perjuangan Arek-Arek Suroboyo yang heroik, tapi mosok cuma arek-arek Suroboyo aja sing heroik. Di tulisan ini aku pengen sedikit sharing tentang Arek-Arek Jember gak kalah heroik, banyak peristiwa kepahlawanan lokal yang sebenarnya bisa menjadi kebanggan kita sebagai Arek Jember. Mohon kalo ada yang punya informasi lebih, bisa dibagi di blog ini.

  1. Moehamad Seroedji — Kalo ke Patrang dari arah kota, pasti lewat jalan yang namanya Jl Muhamad Seruji. Nama ini diambil dari nama Letkol Muhamad Seruji, pimpinan perjuangan di jaman perang kemerdekaan. Aku gak punya lengkap tentang beliau, tapi setahuku minimal ada 5 tempat yang berkaitan dengan beliau.

    • Jalan Muhamad Seruji, di Patrang;
    • Patung Muhamad Seruji, di depan kantor PEMDA Jember, Jl. Sudarman no 1, depan alun-alun;
    • Makam Muhamad Seruji, Pemakaman Umum Kreyongan, bisa dicapai dari jalan Jambu (Tepbek) atau masuk dari jalan Belimbing (dr Jl Sudirman). Makamnya di atas bukit dan ada bangunan yang cukup menonjol di sana;
    • Patung Pahlawan di Kaliwates (ujung double way), di prasasti yang tercantum ditulis bahwa Letkol M Seruji meninggal di desa Karang Kedawung, Mumbulsari;
    • Monumen di desa Karang Kedawung, Mumbul Sari, monumen ini relatif kecil dan letaknya di pinggir jalan desa dekat kebun tebu. Konon beliau gugur setelah berhari-hari dikejar pasukan Belanda, route gerilya beliau biasanya tiap tahun dinapaktilasi oleh Pramuka UNEJ dengan nama kegiatan NALASUD (Napak Tilas Muhamad Seroedji), acaranya biasa dilakukan pada awal bulan Agustus, diawali dengan ziarah ke makam beliau di Kreyongan, dilanjutkan dengan long march dari Desa Manggisan (Tanggul), menyusuri lereng barat Argorpuro, ke Sukorejo (Bangsal), sampai Sumber Rejo (Ambulu), Tempurejo terakhir di Karang Kedawung (Mumbul Sari) selama 3 hari 3 malam. Aku gak tahu apakah kegiatan ini masih ada apa gak, soalnya dulu waktu SMA kelas 2 (tahun ‘93) sempat ikutan acara itu (lumayan.. bolos 3 hari, pokok heroik banget deh..maksud’e heroik mbolose).
  2. dr Soebandi — Nama beliau ini menjadi nama jalan dimana Rumah Sakit Umum Daerah Dr Soebandi terletak. Aku gak tahu bagaimana kiprah beliau di jaman perjuangan, tapi setahuku beliau sejaman dengan Muhamad Seruji. Makamnya di TMP jln Slamet Riyadi (Baratan), urutannya termasuk paling depan (nomer 2 atau 3). Sayang tidak ada informasi tentang perjuangan beliau, tidak seperti dr Karyadi (namanya diabadikan sebagai nama RS di Semarang) yang terlibat dalam peristiwa pertempuran 5 hari di Semarang.

  3. R. Sudarman-Notohadinegoro — Nama R. Sudarman diabadikan sebagai nama jalan dimana kantor PEMKAB Jember yang dihiasi patung Letkol Muhamad Seruji. Awalnya aku gak tahu siapa beliau ini, kok namanya bisa dijadikan menjadi nama jalan yang sangat penting di Jember. Ternyata beliau adalah bupati Jember ketiga yang memerintah tahun 1943-1947. Sedangkan Notohadinegoro, yang namanya diabadikan menjadi nama stadion kebanggan warga Jember, (markasnya PERSID Jember, si Macan Sangar..) adalah bupati pertama Jember 1929-1942 (http://pemkabjember.go.id/v2/selayangpandang/kepala_daerah.php). Sayangnya lagi tidak ada juga informasi yang cukup tentang beliau berdua. Tapi yang pasti beliau adalah pahlawan-pahlawan buat masyarakat Jember.

  4. Palagan Djoemerto — Kalo di Ambarawa terkenal dengan Palagan Ambarawa, nah Jember punya cerita heroik dengan nama Palagan Jumerto. Desa Jumerto masuk ke wilayah Kecamatan Patrang, bisa dijangkau dari perempatan Gebang Poreng lurus ke arah Jumerto (binung aku, utara apa selatan), bisa juga dari Cangkring deket Stadion (sebelum Gudang Garam). Disini terjadi pertempuran antara pasukan Brimob dari Kepolisian (jaman itu polisi kan ikut perang juga) yang sedang dari perjalanan dari Kediri (atau Blitar?) menuju Bondowoso. Di Jumerto ini, pasukan ini dilindungi oleh warga sekitar dari kejaran pasukan Kumpeni. Hasilnya beberapa puluh warga dan beberapa pejuang gugur. Nama-nama mereka tercantung dalam monumen yang letaknya tidak jauh dari kantor kepala desa Jumerto. Di dekat monumen ada makam dan masjid Assyhuhada. Gak tahu apakah mereka yang gugur dimakamkan di makam di belakang monumen. Sayang lebaran kemarin gak sempat photo tempat itu.

  5. Sogol — Sogol ini mirip Sakera-nya Bangil. Jadi mungkin sedikit kayak mitos, aku juga tahunya dari sebuah majalah terbitan Surabaya (Liberty) yang sempat tak konfirmasi ke Mbah-mbahku yang kebetulan aslinya di daerah Desa Kasiyan, Puger. Sogol ini beroperasinya di daerah Grenden, Puger dan daerah sekitarnya. Gak tahu bentuk perjuangannya seperti apa, tapi yang jelas biasalah pendekar jaman dulu, single fighter. Meniggalnya di Kali Mayang yang bermuara di Puger (opo bener ya), makamnya di belakang Panti Wreda di desa Kasiyan (dekat pertigaan Puger-Gumuk Mas). Katanya dulu Panti Wreda itu dulunya penjara (soalnya bapaknya Mbah Buyutku, berarti Canggah ya, itu pegawai penjara). Salah satu peninggalan Sogol ini sumur gumuling, di pinggir jalan Ambulu menuju Watu Ulo. Cuma memang kalo cerita kayak gini nyampur dengan legenda.

Mestinya masih banyak pahlawan Jember yang lain, kalo mo nyari lagi, coba cari nama jalan yang pake nama orang tetapi bukan pahlawan nasional. Mestinya beliau punya jasa besar sehingga namanya dijadikan nama jalan. Aku pribadi sik penasaran karo nama Imam Syafi’i. Nama ini pernah dijadikan nama jalan yang sekarang jadi jalan Diponegoro (almarhum Bioskop Sampurna), mestinya beliau juga pnya jasa besar (bukan mentang-mentang nama Bapakku Syafii juga. Atau nama Pasar Johar (sebelum jadi Matahari Johar Plasa), nama Johar ini dari nama pohon Johar atau nama orang. Kalo gedung Sutarjo, itu nama rektor Unej (1968 – 1978) kebetulan tonggoku ning Patrang (meninggal tahun 78, so aku gak sempat kenal beliau). Nah ada cerita yang lain soal pahlawan Jember?

Popularity: 30% [?]

Politik anak SMA…Anak SMA berpolitik

November 3rd, 2007 by ekoz_guevara 41 comments »

Demonstrasi pelajar SMA Lincoln -East LA Jum’at siang kemarin 1 November 2007, seribu lebih anak SMA se Jabodetabek menyerbu Kantor Depdiknas melakukan demonstrasi menolak ujian nasional 6 mata pelajaran, mereka menuntut Depdiknas untuk menggembalikan kebijakan UNAS hanya untuk 3 mata pelajaran saja. Demo serupa secara paralel terjadi di Surabaya dan Medan. Menurut wartawan Kompas Cyber Media..ada satu pelajar ditangkap karena memaki polisi…dan dari pengakuan para siswa mereka berkumpul tanpa pemimpin dan hanya disatukan oleh perasaan senasib yang ditularkan dari sms antar pelajar yang telah beberapa hari beredar di kalangan mereka. Terlepas dari pro kontra yang terjadi seputar isu yang diangkat ( bahkan salah satu penelopon Metro TV..mengatakan bahwa demonstrasi itu adalah bukti ketidak percayaan diri dan kemalasan di kalangan pelajar..sama UNAS aja takut…padahal passing gradenya sangat rendah 5,6 saja)…yang patut dicermati adalah….para pelajar saat ini sangat paham sekali akan hakikat sebuah media/event untuk mengangkat dan mewacanakan sebuah isu melalui demonstrasi yang diliput luas oleh media….namun demo kemarin itu sekaligus menunjukkan bahwa pengkaderan pemimpin sejak dini /SMA tidak berhasil ..karena tidak ada satu orang atau pihakpun yang berani menjadi pemimpin atas ribuan siswa itu…sehingga demopun berjalan tanpa arah dan target pencapaiannnya hanya sekedar untuk melontarkan wacana penolakan itu…..enough….padahal dalam memperjuangkan sebuah ide selain dilontarkan dalam bentuk wacana juga perlu diingat bahwa mengawal ide-ide itu agar tak mati dikalangan pelajar dan juga para pengambil keputusan adalah yang terberat, sampai tuntutan untuk mengembalikan UAN hanya untuk 3 mata kuliah saja tercapai….. Yang terjadi di Demo kemaren itu ya berhenti pada wacana saja…dari sisi itu nampaknya mereka perlu banyak belajar …bagaimana memainkan peran politiknya sehingga menjadi kekuatan yang diperhitungkan…Padahal saat mereka bisa mengumpulkan seribu pelajar untuk turun berdemonstrasi menunjukkan kemampuan yang luarbiasa untuk menggerakkan rekan-rekan satu ide…sayang sekali momentum itu terlepas begitu saja….

Sekarang coba kita bandingkan dengan yang terjadi ditahun 1968..di East Los Angeles terjadi demonstrasi besar-besaran (20.000) para pelajar SMA yang berasal dari etnis Latino atau dikenal sebagai Chicano (keturunan Mexico,Kuba,Dominika,Philipina dll) atau para pelajar yang bahasa ibunya Spanyol…Mereka melakukan protes setelah didiskriminasi oleh Dinas Pendidikan Los Angeles antara lain..tidak boleh berbahasa spanyol di lingkungan sekolah…dilarang memakai WC saat jam istrirahat….demonstrasi ini berhasil menghapus diskriminasi bagi para pelajar Chicano….keberhasilan itu sendiri terjadi karena para pelajar itu ada yang memimpin yaitu para formal dan informal leader SMA yang mayoritasnya Chicano…..cerita ini telah difilmkan oleh HBO dengan judul Walk Out…….

Perbandingan ini ditunjukkan betapa kita sangat ketinggalan dalam menumbuhkan semangat untuk selalu membela kebenaran dan melawan ketidakadilan yang dirasakan oleh pelajar..atau bahasa singkatnya…pelajar Indonesia kalah jauh dibandingkan rekan sebayanya di US dalam menyadari dan memperjuangka hak-hak politiknya…walaupun dibandingkan jaman kita dulu..apa yang dicapai pelajar SMA saat ini jauh lebih baik dalam hal kesadaran akan hak-hak politisnya maupun cara implementasi hak itu pada saat kepentingannya dilanggar siapapun…..Tapi tetap aja tak ada pemimpin pelajar yang lahir demonstrasi itu…

Harus diakui bahwa Rezim Orde Baru telah begitu berhasil menanamkan doktrin dahsyat dalam membendung hasrat azasi pelajar untuk mengenal politik…..berbagai gaya indokstrinasi seperti Penataran P4 yang simultan (SMP,SMA,PT dan saat mo kerja),harus hapal 36 butir-butir pancasila, sampai pelajaran PSPB lalu PMP masih ditambah hormat bendera sebelum pelajaran…pokoknya semua diarahkan meningkatkan jiwa”Nasionalisme” dan rasa cinta tanah air ….dan nasionalisme itu sendiri kemudian melebar menjadi….dokrin bahwa “Politik itu kotor”..”menentang Orde Baru berarti aNasionalis dan a pancasialis”..”Ikut organisasi pelajar diluar yang disediakan pemerintah adalah a nasionalis” saat itu organisasi yang direstui pemerintah adalah OSIS, Pramuka (yang baik hati dan tidak sombong itu), PMR, dan PA …semuanya itu akhirnya berhasil membentuk generasi yan apolitis dan anti aktivitas politik..kalopun ada yang begerak di OSIS tidaklah bener-bener sadar bagaimana membuat OSIS sebagai kendaraan aspirasi siswa…OSIS saat itu adalah sebuah Panitia Besar dengan masa tugas satu tahun….karena para pengurusnya akhirnya terjebak pada kepanitian peringatan agama, panitia upacara bendera,panitia lomba-lomba olahraga antar kelas,panitia persiapan Gerakjalan,panitia persiapan lomba PBB dsb coba kita lihat nama-nama departemen/seksi dalam osis kala itu….ada Seksi Penanaman rasa Kebangsaan dan Cinta tanah air (dibaca seksi PBB dan Upacara bendera)..ada Seksi Budi pekerti luhur ( dibaca Seksi Kerohanian dll) Seksi Pembentukan Jiwa dan Jasmani Luhur (ato seksi Olahraga dan Seni) …nama-nama aneh yang sangat ORDE BARU..dan kita gak bisa apa-apa lha wong saat kita SMA adalah saat jaya-jayanya ORBA (penganugerahan Bapak Pembangunan dll) maka semuanya ditelan aja….akhirnya jarang sekali dari kita dapat mengingat apa saja yang asyik dari OSIS kita ato sebutkan 10 orang pengurusnya aja mungkin gak apal…paling yang diingat ketua OSISnya Yanar wakilnya Firman Kurniawan…saat itu betul-betul deh kita itu….

Tapi bukan berarti gak ada riaknya lho kehidupan SMA kita…satu peristiwa yang paling aku ingat…saat aku kelas 1..ada kakak kelas 3 yang tidak mau melakukan hormat bendera baik saat di kelas sampai saat upacara…kalo gak salah namanya Gani ( adiknya namanya Gaston-1987 dan adiknya lagi Geigy-1990) anaknya seorang dokter terkenal di Tegalboto…wah pihak sekolah saat itu seperti kebakaran jenggot dan bertindak reaksioner untuk mencegah aksi politik yang termasuk berani untuk ukuran anak SMA tidak diikuti oleh murid lainnya..keberanian kakak kelas kita itu konon sebagai dampak munculnya kesadaran politik setelah bergabung dengan sebuah organisasi pelajar extra sekolah…malah denger-denger mas Gani dan ortunya sampe dipanggil oleh POLISI dan Intel Kodim….tapi ya itu tadi akibat doktrin yang kuat dan sikap totaliter pihak sekolah akhirnya aksi itu hanya dicatat sebagai bentuk “kegenitan” anak SMA aja……selain itu gak ada lagi aksi politik yang sejenak membuat kita menyadari ada yang salah dalam kehidupan masa sekolah kita itu…

Hal ini bukan berati gak ada sama sekali murid SMA 1 yang tertarik sama kehidupan politik dan organisasi lho.. saat SMA itu aku tau bahwa beberapa teman kita sebenarnya telah mempunyai basis pengetahuan politik dan organisasi yang lumayan…banyak teman-teman kita yang telah menjadi anggota dan aktif diberbagai organisasi pelajar extra sekolah seperti IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) dan IPPNU (Ikatan Pelajar Putra Putri nahdatul Ulama) tapi aku lupa orang-orangnya …maklum mereka bergerak secara klandestin (diam-diam) dan tidak melakukan perekrutan dan pengkaderan anggota secara terbuka di sekolah kita…. entah alasannya apa…mungkin takut dibilang anti pancasila….atau anasionalis….sehingga dampak ikutnya mereka dalam organisasi extra itu dalam memberdayakan OSIS kita gak terasa…

secara umum Rezim ORBA telah berhasil menciptakan kader-kader yang betul-betul apolitis..dan dampaknya sampai sekarang lho..he..he..he…banyak teman-temanku alergi jika saat kongkow-kongkow mulai membahas isu-isu politis….baik yang ditingkat lokal perusahaan…apalagi daerah dan Nasional…gak aja deh kata mereka….

Kekurangan pengalaman organisasi dan politik ini saat kentara saat aku bergaul dengan kawan-kawan mahasiswa di UGM…banyak dari mereka yang langsung tune in dalam berbagai aktivitas mahasiswa dan aktivitas politik mahasiswa tanpa canggung…sedang aku pada awalnya selalu ragu bergerak…gak ada inisiatip kata mereka….ternyata memang sebagian besar telah mendapatkan bekal yang cukup kala mereka SMA baik dari OSIS yang cukup terbuka dan organisasi extra sekolah yang agresif dalam melakukan pengkaderan…

Jadi apa yang dilakukan rekan-rekan Pelajar Jabodetabek kemaren..terlepas dari isu yang prematur..namun keberanian seribuan orang pelajar untuk menggunakan hak politisnya secara terbuka patut diacungin jempol…”keberanian bergerak”…adalah salah satu keberhasilan pembelajaran politik pada zaman reformasi….tinggal saja dilakukan pendampingan yang baik dari para guru saya yakin energi hak politik mereka akan bisa disalurkan untuk menghasilkan karya-karya yang berguna bagi pendewasaan sikap dan penumbuhan semangat Leadership….. semoga saat anak kita beranjak SMA..gak ada lagi model indoktrinasi kayak ORDEBARU..biarkan saja mereka mempelajari kehidupan organisasi dan aktivitas politik ala SMA namun tentu saja kalo kita gak kepengen ada apa-apa kita harus selalu ada saat mereka bertanya ato meminta saran atas kegelisahan tertindasnya hak-hak politik mereka di sekolah…..Karena kebebasan demokrasi adalah prasyarat utama lahirnya generasi pemimpin bangsa ini…dan semoga mereka itu adalah anak-anak kita…

Jadi seberapa asyik Politik SMA kalian saat itu?….kalo aku hanya bisa nyesel karena hanya menjadi bagian dari pelajar yang terindoktrinasi menjadi insan apolitis sejati……pelajar yang kehilangan kesempatan untuk mendapatkan dasar kepemimpinan sejak dini…..

Popularity: 16% [?]

Dolan cara Kita dulu…..

October 27th, 2007 by ekoz_guevara 14 comments »

Reuni di Ranu Klakah Sore tadi aku telponan agak lamaan dengan Faiz…pemicunya saat bersih-bersih kamar kos..biasalah namanya juga dah lama gak Kos..maka begitu Kos lagi…maka yang namanya mbersihin kamar kos bisanya hanya seminggu sekali….males banget yach….. lha saat bongkar-bongkar kamar.. kok ketemu sama album foto…yang berisi foto masa lalu…foto SMP dan SMA….wooow….aku tereak kegirangan…karena dah beberapa lama tak cariin di Jogja kok gak ada..eh ternyata keangkut ke Balikpapan……abis liat-liat wajah-wajah yangngangenin itu…ada beberapa wajah kawan yang dah gak kedengaran kabarnya…salah satunya adalah adik kelasnya Faiz di Fishery UNIBRAW….terus aja tak telepon dia..ha..ha..he..he.. jadinya kita…telpon-telponan agak lama…sampai saat kukabari aku dah nemuin album foto SMAku…spontan..dia tereak” scan..and upload”….makanya abis Maghrib aku langsung meluncur ke kantor dan scan itu foto….dan…mo upload sebagian…. ini dia..

Reuni Biologi 3 gambar-gambar itu adalah Reuni Pertama alumni Biologi 3 angkatan 88 ..The Chernobyl Tribes….kalo gak salah itu tahun 1990an..kala aku baru setaun di UGM….reuni yang diwujudkan dalam dolan bareng ke Ranu Klakah di Lumajang sana…..DOLAN…ah..saat kita SMP dan SMA ini adalah cara refreshing yang asyik selain Rujakan tentu saja…. Dolan bagi kita kala itu bisa hanya sekedar rame-rame naek motor naek ke Rembangan…ato…ke rumah teman yang di luar kota…..ato yang sering dilakukan adalah Dolan rame-rame satu kelas pakek motor menuju tempat rekreasi yang asyik…. Kita (Biologi 3) dulu pernah naek motor rame-rame ke Watu Ulo…aku,Arik,Sevi,Ani Astuti,Eddy,Rudi dll…aku ingat betul betapa cerianya kita …berombongan naek motor bareng-bareng…Aku dengan RC 100, Arik dengan Supercubnya, Sevi ama Ani astuti pake astrea 80 ….berpose narsis abis di pantai Papuma yang putih banget pasirnya…liat ombak berkejaran…ah ..senangnya….walo..pulangnya diguyur hujan deras…..

Acara dolan laennya yang kuingat adalah Reuni pertama Biologi di Ranu Klakah itu….tapi kala itu kita naek bis dari Tawang Alun …turun di Klakah…lalu dilanjut dengan naek angkutan pedesaan dan dilanjut jalan kaki ..terus turun ke Ranu kalakah yang indah banget itu….seneng sekali..apalagi saat itu ..bisa dikatakan dah hampir 2 tahun kita tak saling ketemuan secara bareng-bareng..cerita-cerita..guyon..sambil bernostalgia dengan berbagai peristiwa masa silam kita…ahhhh…jadi kangen….

bagi kita yang namanya dolan dah jadi pilihan utama untuk Get away pasca ujian…biasanya gak terencana mateng..dari ngobrol-ngobrol ..terus saling informasi….setuju…saat hari H ketemuan dimana …terus Ruenggggg…..menyusuri aspal jalanan…

sebagian besar dolan dilakukan oleh kelompok-kelompok kecil perkawanan (clique) dari yang sekadar bertujuan di seputar Jember..ato bahkan sampe ke Malang dan Bali (tempat favorit kita)….kalo aku…yang namanya dolan dah jadi semacam keharusan…. saat masih di SMP 2 dulu…selesai piknik sekolah ke Malang dan Blitar (ada foto-fotonya di Gallery)..aku ama Andreas dan Poerwahjoedi berencana pergi ke Bali….makanya begitu tiba dari Malang…besoknya subuh kumpul di rumah Poer terus cabut ke denpasar..sayangnya mendadak Poer gak bisa berangkat….maka Aku ama Andreas Dewanto sajalah yang berangkat…naik bis ekonomi…Jember-Denpasar..bekalku hanya Carrier ama Rp.25.000 aja… meluncurlah dua anak nekat (saat itu kami kelas 3 SMP) ke Denpasar…daerah yang gak pernah dijejakinya…dan itu perjalanan terjauhku yang pertama….tiba di terminal Ubung..kita celingukan…bingung…abis sarapan warteg…kita lanjut naek bemo ke Kuta…saat itu Kuta dah ramai…tapi gak se crowded sekarang….kita langsung menuju ke pantai sampe sunset menjelang …andreas dah cas cis cus aja mempraktekan hasil kursus inggris melalui Radio australianya….wah takjub aku ama kawanku ini….pede abis….saat semburat senja dah turun …baru kita kebingungan…mo tidur kemana kita malam ini….mo di Kuta Beach Hotel jelas gak mampulah…mo ke bunggalow saat itu aja sekamarnya dah Rp. 100 ribu….wah bakalan tidur di pantai nih..batinku….terus kita berjalan dari motel-ke motel…sampe akhirnya ketemu yang namanya Pension Sareg di Jl.pantai Kuta..sebuah losmen sederhana tapi bersih…dan yang terpenting murah…Rp. 10.000 semalam….besoknya kita ke Tabanan..ke rumah temannya si Andreas…kalo gak salah itu rumahnya si Henny…jangan-jangan ini Henny yang sama dengan Henny yang jadi Ny. Andreas Dewanto sekarang?…… Perjalanan ke Bali ini sangat membekas di hatiku….dan menjadi episode awal …timbulnya kegilaan akan Dolan sebagai refreshing akhir tahun…. berikut ini beberapa perjalanan dolanku yang kuingat…sayangnya gak semua ada fotonya…. Bali Motor Tour I — bersama Ludi naek GL Max merah ke Singaraja bareng Gede Iwan Kusuma Jaya

Bali Motor Tour II ….bersama Arik naek RC 100 ku ke Denpasar dan singaraja..juga bareng Gede Iwan Kusuma Jaya (dimana dia sekarang ya?)

Bande Alit Beach…. bersama anak-anak Wanataru (Poer,Joni,Winanto,haris,Ludi,Endang, dll) 3 hari di kebun dan pelantikan anggota baru di teluknya yang indah…kita kemping di pantai 2 hari…aseeeek sekaleeee

Gn.Raung trail…bersama Joni dan anak-anak Wanataru, perjalanan berat dan sulit..duingin banget karena aku belum punya Sleepin bag…so hanya mantel dan selimut aja….

Gn. Ijen trail…bersama anak-anak Wanataru lagi ..wooww..kemping di lembahnya yang aduhai..dilanjut pacu gunung ke kawahnya yang legendaris itu….

Gn. Lamongan Reunion trailReuni di Ranu Klakah….bersama anak wanataru juga..yang berkesan…pendakian ini adalah pendakian reuni Wanataru setelah anggota terdiaspora ke berbagai kota pasca lulus SMA..yang lebih lagi..saat itu Alm. Dolok Sukamto juga ikut pendakian itu…sayang foto-fotonya ketlesut

beberapakali dolan jarak pendek sama anak-anak kelas…seperti ke Rembangan,Watu Ulo,ranu klakah..ato bersama Ludi ke kebun Keputren dan Durjo….keliling Jatim ama arik pakek GL-100 ku…ah banyak lagi…

dolan emang sesuatu yang mengasyikkan..perjalanan batin yang begitu indah saat kita kenang pada masa tua kita ini…dolan cara kita..emang menggetarkan dan menimbulkan kerinduan yang dalam akan satu persatu teman…..

Popularity: 16% [?]

GURU kita…….Motivator kita?

October 27th, 2007 by ekoz_guevara 25 comments »

Howdy…….. Liburan panjang bagiku 10 hari..dampak kebijakan pemerintah yang kuambil posisi positifnya….selama itu aku banyak mengulang baca buku ato novel koleksiku….( tahu gak….jika kita punya buku/novel dan dibaca di dua tempat -di Balikpapan-Yogja…rasanya…perasaan kebatinannya beda lho?..)..kalo diJogja biasanya jam 3 aku dah bangun..maklum Ichaku selalu terjaga pada jam itu dan menagih jatah Enfapronya…tak handlelah..karena bagi ortu kayak aku yang ketemu anak bojo tidak sesering panjenengan…bisa gantiiin tugas istri bikin susu untuk anak ..dan kemudian bisa mbujuk dia tidur lagi…sensasinya luarbiasa banget lho…suerrrrr…abis mbujuk dia tidur lagi…aku malah yang jadi gak bisa tidur lagi…

Sambil nunggu adzan subuh dari mesjid sebelah rumah.. biasanya kubaca ulang novel favoritku dan bisa ditebaklah….yang berulang dibaca adalah Laskar Pelanginya Andrea Hirata….bagian paling menarik dari buku ini menurutku adalah….kekuatan dari ketulusan seorang pengabdi kemanusian …seperti Ibu Muslimah yang jadi guru di sekolah Muhammadiyah dan digaji setara 15 kg beras saja..selama bertahun-tahun lagi…..tetap semangat dan membagi energi kehidupan yang mendorong murid-muridnya untuk semangat belajar dalam keterbatasan yang tak terperikan….ada satu muridnya yang demikian terbakar semangat belajarnya..Arai namanya ….mengayuh 20 km PP setiap hari ( berarti Jember-Rambipuji)..untuk menuntaskan kehausan akan pendidikan…tak menghiraukan cuaca apa yang dihadapinya panas terik ato hujan membadai ..yang terpikir adalah sekolah..sekolah..bertemu Bu Mus…untuk mendapatkan energi mimpi-mimpi yang terus menyala-menyala……buku ini…jadi menarik karena…yang diangkat adalah Realitas…kejadian yang sebenarnya……seperti saat kemunculan Para Laskar Pelangi di Kick Andy 4 Oktober 2007 …..ibu yang bersahaja itu…dipertemukan dengan 2 orang muridnya yang terbakar energi mimpi-mimpi akan pendidikan yang lebih baik Andrea Hirata …pengarang Laskar Pelangi…yang lulusan Fak Ekonomi Universitas di Inggris….dan Universitas Sorbonne Perancis….bayangkan dari anak tak punya daya dukung ekonomi yang masuk akal untuk mencapai cita-cita mencecap ilmu sampai ke Sorbonne….berkat ilmu, semangat, integritas, keberanian bercita-cita, dan ajakan untuk tidak menyerah pada rintangan apapun yang didapatnya dari Ibu Muslimah guru SD Muhammadiyah di Belitong itu…si Andrea..bisa menggapai mimpi-mimpinya …..pertanyaannya mengapa energi seperti itu tak pernah mampir dalam hidupku?….energi yang membikin kita terbakar untuk memperjuangkan mimpi-mimpi kita…segila apapun itu…

Tiba-tiba saja otakku melakukan flash back…kejadian yang tak terjadi saat membaca laskar pelangi di Balikpapan…Saat termanggu itu…aku coba berkontemplasi sesaat….membandingkan dengan kondisiku …jalan hidupku sampai saat ini adalah capaian terbaikku …ibaratnya jika bagi Andrea Hirata mimpinya adalah kuliah dan lulus dari universitas Sorbonne…bagiku kuliah dan lulus UGM adalah episode terindah dan penting dalam milestone kehidupannku…karena di Yogyalah…beberapa penggalan sejarah indah terjadi…dapat istri…kuliah S-2 ( my man ini karunia yang sangat luar biasa…beyond my dreamlah..)..punya anak…Kehidupan Jogja jugalah yang bikin aku lebih percaya diri…mengenal berbagai komunitas..meluaskan pergaulan dan wawasan….berdekat-dekat dengan ilmu dan pengayaan batiniah yang luar biasa…pengembaraan batiniah itu berujung pada kesadaran bahwa lompatan perubahan kehidupanku saat ini adalah ditentukan pada saat berani memutuskan ikut UMPTN lagi untuk menembus UGM walau dibayangi keraguan akan daya dukung kecerdasan pribadi dan kemampuan orang tua untuk membiayai kuliah di jogja…hal yang cukup berat untuk seorang Zijnder Fabrik PTP dengan 3 anaknya yang sekolahnya makin butuh biaya tinggi…..pertanyaan kemudian muncul lagi di kepalaku…Mengapa aku kok pengin sekolah di UGM? Mengapa gak di Unej aja..ato IPB…ato Unibraw…yang sama-sama punya fak Pertanian dengan reputasi bagus?…karena emang cita-citaku adalah pengen jadi Engsinyur Pertanian..lalu kerja di Kebun sebagai Zijnderr Kebooon….. betapa gagahnya keluar masuk blok kebun kopi, Kakao ato Karet…dengan menaiki Motor trail menginspeksi pekerjaan karyawan-karyawan keboon….seperti oom Ir.Wibowo (zijndeer dan kemudian ADM kebun PTP 26 di Kalikempit) ….yang lulusan Pertanian UGM saat inspeksi ke kebun kakao ato karet di afdeeling-afdeeling yang dibawahinya….gagah betul…Mengapa aku bisa seperti termotivasi abis untuk sekolah di UGM?….siapa yang memotivasi?… ada gak ya guru selama masa aku belajar…sejak TK Anggraeni di Glenmore Banyuwangi, SD Kalikempit Glenmore, SD Pasewaran di kebun PTP XXVI yang ada di Banyuwangi utara, SD Jember Kidul VII, SMPN 2 Jember , SMAN 1 Jember, yang bertanggung jawab atas kenekatannku untuk keukeuh kuliah di UGM?….kuputar terus memori itu…kucoba keras berpikir…coba untuk mencoba mencari kapan tepatnya saat ada energi yang membakar semangatku …sehingga waktu itu aku berani mengejar mimpi untuk sekolah di UGM Jogja…ratusan KM dari Jember…bagi beberapa teman bisa jadi…capaian itu…biasa aja…gak ada istimewanya…tapi bagiku …itu luarbiasa…..bahwa masa-masa saat ini kadang tak terbayang tergapai ….dan sodara-sodara jawabnya “…gak ada….”….mungkin aku kurang keras menggalinya…sehingga tak kutemukan satu nama gurupun yang bertanggung jawab atas aksi nekat ikut UMPTN lagi itu… ato jangan-jangan aku sudah sedemikian congkak sehingga lupa akan jasa-jasa para guruku itu..astaghfirullah hal adziem…..memang tak pernah ada seorang Ibu Muslimah bagiku….yang secara individual bisa menyalurkan energi motivasi yang besar bagi anggota laskar pelangi….kalo untuk aku mungkin yang terjadi adalah gabungan mozaik energi motivasi dari semua guru yang pernah membagikan ilmu kebaikan bagiku…sedikit dari Ibu Wardiastuti di TK Anggraeni Glenmore Banyuwangi….beberapa dari Pak Soemardi di SD Pasewaran….ato Pak Idris di SD Jemberkidul VI….3 atau 10 unit energi motivasi dari Pak Purwono ato Ibu Sri Sumarie kala SMPN 2 ….bahkan mungkin separuhnya dari motivasi eksentrik dari Pak Singgih the Biology Guy from SMAN 1 Jember……

Haaaaaaaaah…….Pak Singih?……terus terang saat itu aku langsung berdoa agar beliau mendapatkan pahala yang besar atas ilmu-ilmunya …..dan mendadak ada perasaan kegetiran dan guilty feeling yang sangat-sangat besar menyesakkan dadaku…perasaan bersalah …karena terus terang saat SMA dulu…aku juga mungkin beberapa dari kawan-kawan lebih melihat beliau sebagai bahan lelucon ato trigger lawakan….karena keeksentrikan cara ngajar beliau….bapak yang begitu datang ke kelas tanpa basa-basa lagi lalu balik kanan menghadap papan tulis dan mencatatkan bahan pelajaran biologi hampir 75% dari waktu ajarnya…dan 25% sisanya untuk menerangkan dan menunggu untuk menjawab pertanyaan dari muridnya…sebuah penantian yang berujung pada kekecewaan….karena gak pernah ada pertanyaan….karena….muridnya pengen segera mengakhiri kelas untuk kemudian kabur ke Rambo atau pak Rie…sedemikian tidak pedulinya kita pada beliau….sehingga pada akhirnya…kita semua mafhum bahwa cara mengajar yang 75% mencatat itu adalah karunia untuk anak-anak malas dan nakal sepertiku….begitu beliau balik kanan menghadap papan tulis…sebegitu juga aku keluarkan berbagai barang refreshing…bisa Komik Jaka Sembung….bisa beberapa jilid cersil Bu Kek Siansu-nya Kho Ping Hoo yang harus diselesaikan…malah kadang-kadang Nick Carter wkkk..wkk… begitu juga kawan lain…ada yang baca Gadis,Hai,Mode Indonesia…ato sekadar..nyelesaikan bobok yang terpotong sekolah…bukan sebuah pemandangan yang terpuji bagi Mentri Pendidikan tentunya….jika saat itu dia Sidak ke SMA 1 Jember… bahkan kadang aku dan beberapa kawan cekikikan kegelian melihat sebuah pemandangan ajaib…sepatu pantofel sang bapak dicat putih sebagian mirip sepatu Tiger Wood ato Jack Niclaus di padang golf…bener-bener dicat man…sebuah trigger lawakan..pencetus kegembiraan sesaat…saat itu rasanya tak ada yang salah dari perbuatan kita itu…mengolok-olok dan menertawai guru kita dibalik punggung beliau…terus terang setelah membaca Laskar Pelangi dan melihat betapa hormatnya Andrea Hirata sang master ekonomi telekomunikasi lulusan Inggris dan Sorbonne pada Bu Muslimah guru SDnya itu…saya jadi malu dengan apa yang pernah saya lakukan pada Pak Singgih…karena apapun..perbuatanku dulu adalah bentuk ketidak hormatan yang sepatutnya kepada beliau…se eksentrik apapun seorang guru…mereka tetaplah punya saham terhadap hidup bahagia yang kita jalani saat ini…Mohon Maaf Pak singgih….semoga bapak mendapatkan pahala besar disisi Allah SWT atas ilmu biologimu yang dibagi sama muridmu ini….ameenn… ( ah…pengen mencari Bu muslimah versiku…lha kok malah yang ketemu pengakuan dosa dan guilty feeling ama Pak singgih…..)

so kawan ada gak guru yang demikian memotivasi panjenengan semua untuk mencapai mimpi-mimpi saat SMA dulu…..siapa yang memotivasi Sevi kuliah dan jadi dokter di Unbraw?..

Siapa yang mendorong Faiz Sahly sehingga menjadi keasyikan bertapa di wadaslintang?

Guru mana yang membuat Ludi jadi Metalurgist dari ITS?…Arik jadi Marketer handal?…Hartoyo jadi Polisi?..Amal jadi filosof sekaligus ahli komputer dan kuliah sampek Holand?…Ivan jadi Ahli System komputer?

Dr Iwan dan Dr Bagus jadi dosen dan birokrat UJ yang kuliah sampai Thailand ada gak guru yang memotivasinya?…

Dr B Lelono? Andi irawan,rahmat Moelyono dan Ketut Ramasari menjadi hotelier?…sopo zal yang mendorongmu sampe jadi kayak sekarang….

ayo kawan-kawan…speak up….tentang guru Kita….
ato tepatnya pengakuan dosa ya…wkkk…wkkk….wkkkk

Popularity: 25% [?]

Makanan, jajanan dan ketemu artis

October 26th, 2007 by sevi 6 comments »

dsc00243.JPGdsc00235.JPGdsc00224.JPGdsc00218.JPG

Satu gambar bisa bercerita banyak hal, mau dibuat satu dua kalimat bisa, mau bermain dengan kalimat-kalimat puitis dan indah ala Andrea Hirata pun oke. Terserah saja. Begitu juga gambar-gambar yang sempat kujepret di atas. Aku memberi kesempatan untuk berimajinasi terhadap gambar di atas.

Dan ada sedikit cerita perjalanan ke Makasar kemarin, memenuhi request Ekos. Berikut ceritanya adik-adik sayang…..

Mudik ke Makasar kemarin, sebenarnya cukup lama juga, sekitar 10 hari. Tapi karena salah prediksi, akhirnya ada beberapa hari yang terlewatkan di rumah saja. Jadi terasa singkat, karena ada beberapa tempat makanan yang wajib dikunjungi saat ke Makasar tidak sempat dicicipi karena terbatasnya waktu.

Beberapa makanan yang sempat dicicipi selama di sana, adalah pisang eppe’ di Tanjung Bunga, coto Makasar, dan sop konro. Agak menyesal karena belum sempat mencicipi ikan bakar khas Makasar di Pohtere’. Tempat terakhir ini, beberapa waktu lalu sempat dikunjungi oleh SBY. Tempatnya biasa saja sebenarnya, di daerah pelabuhan dan perkampungan nelayan tradisional tapi soal rasa……rrruarr biasa! Enyak-enyak…! Buat yang mau ke Makasar jangan lupa ikan bakar di Pohtere’ .

Sop konro yang terkenal sop konro Karebosi. Malam itu, rame-rame ke tempat tsb. Saat asik makan, tiba-tiba beberapa orang lelaki masuk berombongan. Dan duduk pas di meja sebelah kami. Agak surprise karena mereka adalah The Titans…….Wah, heboh sekali orang-orang yang duduk di meja kami. Opo maneh aku. Anakku tak provokasi untuk foto dengan mereka. Akhirnya aku pasang wajah ramah dan sedikit SKSD jadilah anak2ku berfoto sama mas Andika cs. Guanteng-ganteng tenan arek-arek saiki…..

Sayang juga, aku belum sempat menikmati coto kuda, karena belum-belum sudah dibilang nanti begini begitulah. Ya sudah, tamune nurut ae. Pun juga teddong palu basa, gagal juga diicipi. Padahal sudah mau membuat reportase buat Rizal. Sori dik, ntik pasti kucoba deh. Atau barangkali Rizal dulu yang sudah mencicipi, bisa cerita ke saya.

Popularity: 9% [?]

Makasar

October 25th, 2007 by sevi 3 comments »

Pantai Losari

Aku menginjakkan kaki pertamakali di Makasar th. ’92. Ikon pantai Losari yang terkenal dengan restoran terpanjang di Indonesia, menjadi daya tarik yang kuat waktu itu. Tentu saja berfoto siang hari di tepi pantai menjadi agenda utamaku (sedikit narsisistik memang), dan menikmati sore hari di tepi pantai sambil makan pisang eppe’ dan nun di ufuk barat langit semburat merah mengantar mentari tenggelam, adalah pemandangan yang amat berkesan dan indah. Sangat natural…..

Tapi itu duluuuuu, kenanganku 15 tahun yll. Losari yang kukunjungi lebaran kemarin adalah Losari yang tetap indah, tapi tidak natural. Terlalu banyak make up justru menghilangkan inner beauty-nya. Mungkin dengan dalih pembangunan, revitalisasi atau apalah istilahnya. Sekarang , tidak ada lagi penjual pisang eppe’, ikan bakar, es degan di sepanjang tepian pantai. Mereka direlokasi di satu tempat tidak jauh dari pantai Losari, yaitu di Tanjung Bunga. Kemudian ditepi pantai dibangun taman dari beton yang menjorok ke laut, cukup luas sehingga bisa jadi tempat pentas musik. Tapi buatku yang bukan orang Makasar, agak sedih mungkin. Karena kenangan 15 tahun yll amatlah berkesan.

Popularity: 12% [?]

TELEVISI

October 24th, 2007 by Ludi 7 comments »

TELEVISI

Mohon maaf atas kalau mengganggu..

Walau jarang nonton karena waktu habis untuk bekerja dan bermacet ria di kota jakarta, selintas tayangan nya sudah membuat kami para orang tua resah. Rasa khawatir selalu membayangi, ketika kekerasan fisik dan mental, sinetron percintaan anak2 kecil berseragam secara vulgar tampil dilayar kaca, cerita mistik yang membuat syirik. Sungguh tayangan-tayangan tidak bermutu dan tidak menididik, bahkan membodohi. Memang ada TV yang berusaha untuk membuat yang tayangan yang baik…seperti Metro dengan Eagle award..dll, atau acara semacam cerdas cermat jaman dulu…

Tidak bisa dipungkiri bahwa menyuburnya kekerasan yang terjadi saat ini juga akibat pengaruh tayangan Televisi. Penetrasinya sungguh luar biasa

Orang “bijak..?” berkata:Ya…masyarakat kita kan sudah dewasa…sudah bisa memilah mana yang baik dan mana yang harus dihindari. Hmm masih saja berkilah…

Satu cuplikan berita Suara karya (4/1007);Menanggapi sorotan tajam Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) terhadap tayangan sinetron di TV swasta, Ketua Umum Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI) KAMI ILYAS balik menuding KPI belum maksimal pengontrolan terhadap tayangan-tayangan Televisi. Dari 10 TV swasta hanya 3 yang keuangannya mapan, 7 diantaranya payah, bahkan diambang kebangkrutan. Untuk 7 TV tersebut pasti lebih memilih acara yang “diminati” masyarakat yang memiliki rating tinggi.

Untuk orang tua macam saya dan istri yang harus mengayuh sampan berdua, kegelisahan makin menjadi ketika saat tertentu terdengar kata2 “aneh” dengan nada tinggi keluar dari si kecil. Setelah ditanya dari mana asal kata “aneh” tersebut, jawabnya televisi.

Kita semua adalah korban, apakah kita hanya bisa mengeluh seperti tulisan ini, atau kah kita bisa berbuat lebih….KPI hanya bisa menghibau, MUI begitu, bahkan Presiden sekalipun….

Kekuatan sebenarnya ada ditangan kita semua….Apakah perlu hari tanpa telivisi…bayangkan kekuatannya….berapa puluh bahkan ratus juta kerugian TV swasta….kita bisa menekan mereka….kita bisa membuat mereka membuat tayangan yang lebih baik….untuk anak kita, untuk masyarakat kita.. Ekos dan temen2 ..pls…kalian pasti punya ide yang lebih cemerlang..

Aku ingin membeli tv 72 inchi…Untuk bisa aku nikmati….Bersama sanak famili….Menyenangkan punya televisi…Lihat dunia yang berwarna-warni…Asal jangan acaranya basi….Cuma bikin keqi…Aku ingin muncul di tv…Buat acara sendiri…Bukan gossipnya selebriti…Harus yang lebih berisi (TELEVISI by NAIF)

Popularity: 11% [?]

IDUL FITRI 1428 H dalam kenangan (posting ulang..)

October 22nd, 2007 by faiz_sahly 6 comments »

( He..he..he, judule kurang kreatif. Njiplak tulisane Jeng Sevi )

Untuk alasan yang cukup kuat, Idul Fitri 1428 ini adalah tahun ke-2 saya nggak pulang ke Jember. Tahun 2007 merupakan tahun penuh ujian, khususnya pasca kecelakaan Mei lalu, yang mengharuskan saya untuk pensiun sementara dari jalanan Magelang – Wadaslintang.

Vonis dokter yang mengharuskan saya menjalani operasi pencabutan pin dan sekrup dari lutut saya, pada Juni 2008 nanti, membuat saya menahan hasrat untuk bisa bersua dengan keluarga serta sanak kerabat lainnya di hari raya Idul Fitri, yang begitu dinanti oleh kebanyakan masyarakat kita.

Sebenarnya, dari sudut pandang lain, mudik menjelang Idul Fitri menimbulkan “ketakutan” tersendiri bagi sebagian orang. Di layar Tivi atau di radio, setiap hari dilaporkan bagaimana situasi menjelang lebaran di pelabuhan, stasiun atau bandara. Repotnya, sumpeknya, gerahnya, ruwetnya serta amarahnya orang-2 dalam upaya “ngalap” berkah lebaran. Bahkan sampai-2 puasa ramadhan di 10 hari terakhir jadi terkikis kekhidmatannya, sekedar untuk bisa mudik.. Emann tenan..

<

p> Bersyukurlah bagi teman-2, yang tahun 2007 ini bisa mudik ke tanah leluhur masing-2 tanpa perlu mengalami kerepotan seperti yang tergambar di layar tivi anda. Perjalanan yang nyaman dan menyenangkan adalah idaman, meski diakui tidak semua bisa mendapatkan..

<

p> Idul Fitri tahun ini merupakan berkah ( dan cobaan ) bagi saya. Kejutan pertama datang pada hari Minggu, 7-10-2007. Ibu dan adik-2 saya datang dari Jember. Alhamdulillah.. Rasa syukur yang tak tergantikan. Betul-2 kejutan yang menyenangkan.. ditiliki wong tuwo, adik-adik lan keponakan sing lucu-lucu. Kemeriahan selama 3 hari 2 malam di Magelang, betul-2 terasa seperti seteguk air di padang tandus.

<

p> Malam itu juga, kami melepas rindu dengan bertukar kabar masing-2, cerita-2 seru masa lalu dan masa kini. Nggak Cuma yang tuwo-2, sing cilik-2 juga nggak mau kalah, ngobrol sampai jam 1 malem. Dan subuh sudah bangun, langsung ambil sepeda dan main bareng sampai siang. Bisa dibayangkan, terakhir ketemu Januari 2005 saat masih umur 3 dan 6.5 tahun, sekarang sudah umur 4.5 dan 8 tahun. Jann ngecipriss buangett ngobrolnya..

<

p> Akhirnya, Rabu 10-10-2007, rombongan Jember harus kembali ke base camp di Jalan Nias III/5.. Buat yang gede, bisa melepaskan kepergian rombongan dengan lila legawa. Sing repot adalah mbujuk cilikane.. mesti pake tipu-2 karena sudah mau katut ikut ke Jember. Syukurlah kalau akhirnya “ Problem Solved.. “ Rumah kembali sepi, untuk sementara tak ada lagi canda tawa serta teriak gembira bocah-2 cilik.. Tapi itu tak berlangsung lama. Kesibukan lain pun menunggu.. “Ketegangan” menunggu ketetapan Pemerintah “ Jum’at atau Sabtu lebarannya.. ? “ bersyukurlah buat teman-2 yang sudah punya ketetapan hari, sehingga bisa mudik dengan tanpa was-was lagi.

<

p> Tiap kali ada liburan lebaran, bagi kami petani-petani ikan di wadaslintang, mesti sedikit tegang nunggu ketetapannya. Ngurusi ikan ibarat ngurusi bocah, nggak boleh lengah agar masalah bisa dihindarkan dengan sebaik-baiknya. Piket jaga dan piket ngasih pakan mesti diatur, agar target produksi tetap terpenuhi. Mungkin petani ikan bisa dianggap orang-2 yang mbalelo sama kebijakan Pemerintah yang “kontra produktif” dalam hal cuti bersama. Tobat kalau liburnya pemerintah dituruti, ikannya bisa “gering” ora ndaging.. Makanya, tiap ditanya soal cuti bersama, jawabannya selalu sama : “H +2 sudah masuk kerja”.. Nek iwak ora kopen, awak yo iso ora kopen pisan sedulur….

<

p> Akhirnya Idul Fitrinya tiba. Masjid Jami Magelang agak longgar, karena sebagian Saudara kita sudah Shalat sehari sebelumnya. No problem….. Yang jadi problem adalah sebagian saudara kita yang Jumat sudah nggak puasa, tapi Sabtu baru Shalat ‘Id-nya.. Mon oreng madureh ngocak : “KARDI” alias “ KARepa DIbik”. Sedih lho melihat mereka bikin aturan sendiri. Alasan yang dilontarkan cukup menggelikan “ Lhah.. timbangane salah loro, mendingan salah siji..” Mas’udnya : Daripada berdosa karena puasa di tanggal 1 Syawal, yang susah untuk menghapus dosanya. Lebih baik berdosa karena tidak puasa 1 hari, yang lebih mudah menebusnya.

<

p> Akhirnya, mereka-2 ini mengambil keputusan sendiri dengan sudah nggak puasa karena takut dosa haramnya puasa 1 Syawal, tapi Shalat ‘Id pada hari berikutnya karena takut dirasani tonggone.. Ahh… Subhanallah…. Padahal, dari beberapa pendapat yang bisa dipercaya, bila sudah yakin dengan satu ketetapan, mesti mengikuti ketetapan itu secara menyeluruh. (Buat teman-2 yang mantap dengan pilihannya.. Good Choice, My Friend )

Kalau nuruti kemauan sendiri, bukannya cuma salah satu, malah salah semua pemikirannya. ( Correct me If I’m wrong ). Hal ini menjadi kegelisahan saya, karena pendapat-2 awam yang seperti ini kurang mendapat tanggapan media massa. Hanya perselisihan tanggal saja yang punya porsi besar di halaman-2 utama mereka. Kasihan kan.. Orang bingung, jadi tambah mbingungi..

<

p> Maaf, kalau kegelisahan ini saya tulis. Saya anggap kita semua yang nge-blog disini cukup punya wawasan luas. Sehingga bisa mengerti masalahnya. Ini bukan SARA lho, Cak, Mbakyu.. Tapi masalah ini benar-2 ada di sekitar panjenengan semua. Silakan diperhatikan pada Idul Fitri mendatang, andaikata ada indikasi perbedaan penetapan harinya, akan banyak orang-2 yang bersikap begitu.. So, masalah ini menarik untuk diperhatikan sekaligus dikomentari demi kebaikan bersama.. Setuju ?

<

p> Nah, cool down lagi.. Hingga akhirnya tanggal 16-10-2007, saya berkesempatan sowan ke Dalem Kasepuhan Sawit Sari Anggrek Bi Tri Ngayogyakarta Hadiningrat. Adalah KGPGW ( Kanjeng Gusti Pangeran Gedhe Wetenge) Eko Guevara Setiawan yang menyambut sendiri kehadiran saya bersama keluarga. Suasana hangat mengiringi obrolan-2 kami. Waktu sejam berlalu tanpa terasa, hingga pertanda mahrib akan tiba mengingatkan saya agar segera undur diri pamitan untuk kembali ke Magelang. Setiap kali ketemu teman lama, selalu saya upayakan untuk bisa berfoto bersamanya, agar semua bisa tahu seperti apa kondisi real-nya teman kita sekarang ini..

<

p> Ahh.. sudah cukup panjang yaa.. Stop disini dulu. Ngasih kesempatan yang lain untuk nulis atau ngomentari.. Tulis.. tulis..tulis……….

Tabik..

Popularity: 94% [?]

Antara meminta dan memberi

October 7th, 2007 by sevi 6 comments »

Lebaran tinggal menghitung hari. Seperti sudah lazim dan menjadi budaya (sejak kapan ya?), kebiasaan mengirim parcel dan bingkisan lebaran tampak marak di mana-mana. Larangan pemerintah untuk mengirim parcel kepada para pejabat, tampaknya hanya membuat tiarap sesaat saja, karena banyak pihak yang berkepentingan dengan berkirim parcel. Mulai dari pengusaha parcel, produsen mamin dan pernak-pernik parcel, para pejabat, pengusaha dan jaringannya yang memiliki banyak kepentingan.

Saya tidak mengerti dan sering bertanya sendiri, apakah dengan berkirim parcel menunjukkan bahwa masyarakat kita adalah masyarakat yang mempunyai budaya untuk saling memberi atau budaya untuk meminta atau budaya tidak punya malu?

5 hari yang lalu, klinik tempat saya bekerja mendapat surat resmi dari kelurahan dan koramil setempat (kebetulan lokasinya persis di depan klinik saya), yang meminta secara terus terang untuk mengirim bingkisan lebaran buat kepala desa dan perangkatnya. Bingkisan harus sudah diserahkan paling lambat tgl 5 oktober di kelurahan. Tentu saja permintaan tsb. ditolak mentah2 oleh bos saya. Begitu juga surat dari koramil, beberapa hari setelah surat dikirim, seorang anggota koramil datang ke tempat saya untuk menanyakan respon surat. Respon dari bos saya idem.

Hal serupa juga dialami oleh perusahaan tempat suami saya bekerja (dan mungkin juga banyak perusahaan lain). Adalah hal yang rutin, jika setiap tahun perusahaan2 selalu diminta oleh kelurahan, kecamatan, polsek, koramil setempat (dengan dalih untuk keamanan lebaran) untuk mengirim bingkisan bagi komandan dan aparatnya serta lurah, camat dan perangkatnya. Kondisi ini sudah berlangsung bertahun-tahun dan berlaku sampai sekarang.

Kalimat apa yang tepat untuk kasus di atas?

Bukan saya hendak mendiskreditkan pihak2 tertentu dengan menuliskan nama instansi di atas. Tapi suka tak suka, mau tak mau itulah yang terjadi di tengah-tengah kita. Jadi tidak perlu ada yang marah atau kebakaran jenggot. Sekedar untuk tahu dan menjadi renungan saja. Pun juga tidak perlu kita menggeneralisasi kondisi itu, karena saya yakin selalu ada perkecualian di dunia ini.

Buat yang memang ingin berbagi rejeki atas nikmat yang sudah diberikan Allah, mungkin berbagi dengan orang-orang yang dekat dan ada di sekitar kita lebih terasa nikmatnya. Mungkin kepada bapak pengangkut sampah yang sudah bekerja menjaga kebersihan sekitar rumah, penjaga keamanan yang ada di lingkungan rumah, OB di tempat kerja yang dengan berpeluh-peluh membuat ruangan kerja kita jadi bersih dan wangi, penjual sayur keliling, atau abang becak yang mengantar jemput sekolah anak2.

Jadi, kalau parcel diidentikkan dengan saling memberi dan berbagi, yang hanya diberikan saat lebaran. Ada hal lain yang lebih bernilai dan lebih langgeng dengan berbagi yang bisa kita berikan setiap saat tanpa perlu menunggu lebaran tiba. Bukankan senyum, sapaan ramah dan tulus, sekedar berbincang sejenak dengan orang-orang yang dekat dan ada di sekitar kita adalah hal indah yang bisa kita lakukan sehari-hari?

Selamat bersiap-siap mudik, jaga kesehatan buat semuanya, maaf kalau ada kata yang tak berkenan. Selamat lebaran.

Popularity: 6% [?]

Lebaran dalam kenangan

September 30th, 2007 by sevi 21 comments »

Kemarin2, si Ekos wis nulis cerita posoan yang seru puol! Jian Ekos jagone lek soal ingatan masa lalu. Nah, saiki wis cedhak lebaran, mall2 podo rame banget, tapi mesjid tetap rame juga kok di Sidoarjo. Jadi yang mau belanja ya belanja, tarawihnya di rumah saja mungkin. Yang ke mesjid ya tetap ke mesjid dan beriktikaf.

Suasana lebaran sudah mulai terasa, terutama yang mau mudik lebaran. Oleh2 buat ortu, saudara, keponakan, beli tiket…..wah urusane akeh bangetlah. Dan mungkin sudah jadi agenda tahunan buat sebagian banyak orang. Apalagi yang jauh dari kampung halaman, suasana rumah di kampung selalu dirindukan. Karena tahun ini aku mudik ke Makasar (pas jadwal rutin mudik 3 tahunan), jadi mungkin aku tidak bisa merasakan suasana lebaran di Jember. Tapi ada sedikit ingatanku tentang lebaran di Jember yang pernah kulewati, yang selalu membuatku tertawa sendiri ataupun tertawa ramai2 dengan temanku.

Lebaran paling menyenangkan adalah saat2 usia 6-10 tahunan, waktu itu aku masih tinggal di daerah Tembaan, dulu namanya jl. Untung Suropati (sekarang ganti jl. A. Yani kalau tidak salah). Waktu itu arek cilik2 ga tahu melu neng mesjid (di kampungku), wayah orang ke masjid, arek cilik2 wis adus isuk2, nggawe klambi anyar, nyepakno dompet anyar. Aku eling, waktu itu aku wis rodo2 girlie. Rambut diroll, nganggo gulungan koran ben ngeblu lek dijungkati, gak lali pupuran…wis dandan habis2an lah.

Nah, saat orang turun mesjid, aku dan gank-ku wis kumpul di satu tempat. Tunggu kira2 1/2 jam, langsung deh ber’operasi’ unjung2 ke rumah2. Wis, pokoke ben omah dileboni. Jurus andalan….”Kulo nuwun opo Assalamualaikum,…sepuntene Bu”…., terus salaman dan uang recehpun berpindah tangan dari tuan dan nyonya rumah ke dalam dompet. Pernah disuruh duduk dulu sama empunya rumah…”ayo dimakan dulu kue2nya”, gank-ku cuma diam ae karo sikut2an (kabeh dho mbatin, kok ga ndang diwehi duwit yo) …diam2an saja saling berpandangan. Akhirnya si empu rumah ‘ngeh’, dan setelah duwit yang dinanti2 keluar, dengan kompaknya tanpa dikomando semua langsung berdiri…”sampun Bu, matur nuwun”…. wis jian semata-mata tenan!

Soal siapa yang dikunjungi, ‘asas keadilan dan pemerataan’ ternyata justru dimiliki oleh anak seusia itu. Bagaimana tidak, tanpa pandang bulu semua rumah dikunjungi, baik yang nasrani, konghucu, rumah tacik pemilik toko sing jelas2 ga lebaran yo dileboni ae. Dan mereka juga welcome banget, karena membuka pintu rumah, menerima dengan baik, menyediakan kue2 juga dan yang penting buatku dan bolo2ku (waktu itu) mereka juga memberi uang receh! Yang pasti, lebaran buatku waktu itu…….kaya rek! duwe duwit dewe. Mau njajan opo ae ga ada sing nglarang.

Masa SMP, lebaran kuisi dengan main ke rumah sahabat2ku saja, nyoba dan menghabiskan kue lebaran di rumah teman. Beberapa yang kuingat, karena selalu ke sana tiap lebaran a.l. Ning Nastiti, Dian Prita (wah di rumah pak Rahmat ini, kue kaastengelnya paling toooop! jadi sasaranku pertama), Nurhayati, Widya..itu saja sih yang diingat.

Masa SMA lumayan lebih seru dibanding SMP. Karena sudah bisa bawa vespa, mobilitas dan akses ke teman lebih banyak. Biasanya hari ke 2 lebaran, Ani Astuti (sohibku di SMA mulai klas 1-3, ada yang tahu dimana dia?) ke rumahku, setelah itu berdua ke rumah Sri Hidayati , terus bertiga ke rumah siapa lagi, begitu terus sampai bisa 6-7 orang terkumpul dan akhirnya keliling ke rumah teman sekelas. Tak absen dhisik ingatanku, sopo ae sing pernah kukunjungi waktu lebaran : Farida, Reni Fitri (sekarang di Sidoarjo juga), Nuri (dia di Sby), Diah (dulu rumahnya di Gebang), Yanti, Anasri, Erna Budi, Feni, Christ dan Jovita(ini dulu jadi penggembira), wwalah kok cekak ingatanku, mung semono ae. Sak elingku pernah ke rumah Ekos, Arik, Nanang, Atok. Biarpun cewek2, tapi rumah konco cowok yo diparani juga. Yo mergo rumongso akeh dosane, dadi njaluk sepuro yo gak perlu isin neng omah konco lanang. Setahuh pisan rek.

Paling seneng lek berkunjung ke rumah Feni ‘cluthak’ (jik eling areke Kos?). Omahe deket kolam renang kebonagung. Wah, jajane akeh tenan rek! Rong meja kebak jajan, mulai jajan kering aneka rupa sampai kacang2an, emping, krupuk2an, jenang, madu mongso wah jangkeplah. Mergo rombongane akeh, jajan rong meja yo meh entek tenan. Lek wis entek, saatnya berpamitan pulang. Jik eling aku, waktu pamit sama ibune Feni, beliau bilang….”kok cepat2 se mbak, dihabiskan dulu kuenya”…. Sambil mesam mesem kisinan, dengan kompaknya ngomong…..”kuenya sudah habis Bu”….”Ohhh……”ibune Feni ngguyu (karo mbatin be’e). Tapi top banget si Feni itu.

Masa mudik, sebenarnya dimulai saat kuliah. Seneng banget rasane kalau sudah mau libur lebaran. Meskipun waktu itu jadwal kuliah di tempatku amat padat, jadi jadwal mudik selalu satu hari sebelum lebaran dan harus kembali ke kampus di hari kedua lebaran. Alhasil, teman2ku yang tinggal jauh dari Malang jarang yang pulang kampung. Dan teganya lagi itu fakultas tempatku belajar, hari ketiga lebaran yo langsung kuliah dan praktikum! Dan kalau pas jadwal mid test yo langsung ujian….wis jian teganya..teganya.. teganya…! Paling nelangsa waktu jaman ko ass di RS, kalau pas kena giliran di bagian gede yang pakai acara jaga segala, wah dijamin lebaran di RS deh! Untungnya aku tidak sempat mengalami lebaran Idul Fitri di RS, kalau lebaran Qurban di RS pernah merasakan, tapi Idul Adha kan suasananya tidak seperti Idul Fitri, jadi ….never mind.

Oke, selamat mudik buat yang mau mudik, selamat lebaran buat semuanya saja. Mohon maaf kalau ada silap kata yang tak berkenan di hati . Habis lebaran mungkin banyak cerita yang bisa dibagi untuk semua. Buat Rizal, saat ke Makasar nanti saya mau coba coto kuda dan teddong (kerbau) pallu basa. Nanti tak ceritakan bagaimana rasanya.

Popularity: 10% [?]