<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Alumni SMA 1 Jember &#187; Warta Berita</title>
	<atom:link href="http://sma1jember.info/category/warta-berita/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sma1jember.info</link>
	<description>Alumni Berkisah tentang Jember</description>
	<lastBuildDate>Mon, 09 Jan 2012 22:16:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
	<!-- podcast_generator="podPress/8.8" - maintenance_release="8.8.4" -->
		<copyright>Copyright &#xA9; 2012 Alumni SMA 1 Jember </copyright>
		<managingEditor>ikhlasulamal@yahoo.com ()</managingEditor>
		<webMaster>ikhlasulamal@yahoo.com ()</webMaster>
		<category>posts</category>
		<itunes:keywords></itunes:keywords>
		<itunes:subtitle></itunes:subtitle>
		<itunes:summary>Alumni Berkisah tentang Jember</itunes:summary>
		<itunes:author></itunes:author>
		<itunes:category text="Society &amp; Culture"/>
		<itunes:owner>
			<itunes:name></itunes:name>
			<itunes:email>ikhlasulamal@yahoo.com</itunes:email>
		</itunes:owner>
		<itunes:block>No</itunes:block>
		<itunes:explicit>no</itunes:explicit>
		<itunes:image href="http://sma1jember.info/wp-content/plugins/podpress/images/powered_by_podpress_large.jpg" />
		<image>
			<url>http://sma1jember.info/wp-content/plugins/podpress/images/powered_by_podpress.jpg</url>
			<title>Alumni SMA 1 Jember</title>
			<link>http://sma1jember.info</link>
			<width>144</width>
			<height>144</height>
		</image>
		<item>
		<title>Usia Jember Lebih Tua daripada Surabaya</title>
		<link>http://sma1jember.info/2011/04/usia-jember-lebih-tua-daripada-surabaya/</link>
		<comments>http://sma1jember.info/2011/04/usia-jember-lebih-tua-daripada-surabaya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Apr 2011 01:11:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rizal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jember, rek!]]></category>
		<category><![CDATA[Nostalgia]]></category>
		<category><![CDATA[Warta Berita]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[jember]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Seruji]]></category>
		<category><![CDATA[tembakau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sma1jember.info/?p=415</guid>
		<description><![CDATA[Fakta yang mengejutkan&#8230; eh fakta bukan ya&#8230; dari http://beritajatim.com/detailnews.php/6/Politik_&#38;_Pemerintahan/2011-04-04/97181/Usia_Jember_Lebih_Tua_daripada_Surabaya Senin, 04 April 2011 08:30:22 WIB Reporter : Oryza A. Wirawan Jember (beritajatim.com) &#8211; Usia Kabupaten Jember diperkirakan lebih tua daripada usia Kota Surabaya. Ada situs yang menyatakan Jember mulai ada di tahun 1088. Ihwal tahun kelahiran Jember ini tertera di situs prasasti Congapan yang berada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Fakta yang mengejutkan&#8230; eh fakta bukan ya&#8230;</p>

<p>dari http://beritajatim.com/detailnews.php/6/Politik_&amp;_Pemerintahan/2011-04-04/97181/Usia_Jember_Lebih_Tua_daripada_Surabaya</p>

<p><span>Senin, 04 April 2011 08:30:22 WIB
</span> Reporter :                 Oryza A. Wirawan</p>

<p><strong>Jember (beritajatim.com)</strong> &#8211; Usia  Kabupaten Jember diperkirakan lebih tua daripada usia Kota Surabaya. Ada  situs yang menyatakan Jember mulai ada di tahun 1088.</p>

<p>Ihwal tahun kelahiran Jember ini tertera di situs prasasti Congapan  yang berada di Desa Karangbayat Kecamatan Sumbersari. &#8220;Di situ tertulis  &#8216;tlah sanak pangilanku&#8217; yang artinya tahun 1088,&#8221; kata Didik  Purbandriyo, Koordinator Balai Pelestarian Peninggalan Purbakal  Kementerian Budaya dan Pariwisata.</p>

<p>Jika ini menjadi acuan, maka usia Jember saat ini mencapai 923 tahun.  Bandingkan dengan Surabaya yang berusia sekitar tujuh abad. Namun,  tidak seperti Surabaya yang dipastikan tanggal berdirinya pada 31 Mei,  masih sulit mengidentifikasi tanggal pasti lahirnya Jember.</p>

<p>Kendati sudah ada prasasti Congapan yang mengonfirmasi tahun  tersebut, Pemerintah Kabupaten Jember lebih memilih menggunakan  staatsblad nomor 322 tentang Bestuurshervorming, Decentralisastie,  Regentschappen Oost Java. Pengesahnya adalah Gubernur Jenderal De  Graeff. Di situ disebutkan, status Jember ditingkatkan dari afdeeling  menjadi regentschap, per 1 Januari 1929. Regentschap setara dengan  kabupaten. Inilah yang kemudian dijadikan acuan tanggal lahir Jember.</p>

<p>Didik tidak tahu persis kenapa tahun lahir bikinan Belanda itu yang  dijadikan acuan. Yang terang, di Jember ada banyak situs yang  menunjukkan usia Jember sudah sangat tua.</p>

<p>&#8220;Kalau dilihat di kitab Negara Kertagama, Jember hanya perlintasan  turne (perjalanan) Hayam Wuruk ke daerah selatan,&#8221; kata Didik.</p>

<p>Kelurahan Mangli dulu juga kerajaan kecil di bawah Blambangan.  &#8220;Perang Sadeng yang termasyhur itu juga diperkirakan terjadi di daerah  Kecamatan Balung sekarang. Perang Sadeng kemungkinan ada di sana, karena  di Balung sampai Kecamatan Semboro ada temuan benteng,&#8221; kata Didik. <strong>[wir]</strong></p>
<img src="http://sma1jember.info/?ak_action=api_record_view&id=415&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sma1jember.info/2011/04/usia-jember-lebih-tua-daripada-surabaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sedikit Jejak Sejarah Pahlawan Jember</title>
		<link>http://sma1jember.info/2011/02/sedikit-jejak-sejarah-pahlawan-jember/</link>
		<comments>http://sma1jember.info/2011/02/sedikit-jejak-sejarah-pahlawan-jember/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Feb 2011 02:43:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rizal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jember, rek!]]></category>
		<category><![CDATA[Nostalgia]]></category>
		<category><![CDATA[Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Warta Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Achmad Rizal]]></category>
		<category><![CDATA[jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[jember]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Seruji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sma1jember.info/?p=400</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin bosen ya baca postinganku tentang sejarah Jember, tapi ya gimana lagi, aku suka banget belajar sejarah, meskipun gak kuliah di Ilmu sejarah&#8230; Apalagi itu soal sejarah hal-hal yang dekat dengan kita.. sejarah Jember misalnya. Nah mumpung baru Februari kemarin sempat pulang ke Jember, ya tak mangfaatken,,(yang bener manpaatkan, munfaatkan atau manfaatkan ya..) untk napak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin bosen ya baca postinganku tentang sejarah Jember, tapi ya gimana lagi, aku suka banget belajar sejarah, meskipun gak kuliah di Ilmu sejarah&#8230; Apalagi itu soal sejarah hal-hal yang dekat dengan kita.. sejarah Jember misalnya. Nah mumpung baru Februari kemarin sempat pulang ke Jember, ya tak mangfaatken,,(yang bener manpaatkan, munfaatkan atau manfaatkan ya..) untk napak tilas tempat-tempat yang bersejarah.. Yuk mulai ceritanya.</p>

<p><a href="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/02/DSCF4183.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-401" src="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/02/DSCF4183-225x300.jpg" alt="Achmad Rizal van Patrang" width="225" height="300" /></a> Nah , kalo memasuki Kota Jember dari arah Surabaya, pasti ketemu sama patung ini (Kecuali naik Kereta Api).. letaknya pas diujung doubleway, jalan Hayam Wuruk, Kaliwates Jember. Taruhan deh.. gak banyak yang tahu ini sebenarnya patung siapa dan dalam rangka apa dan kenapa kok menunjuknya ke arah Timur.. Kok gak ngacung ke atas, kok gak mengacung pake 3 jari.. Metal &#8230; atau jari tengah he..he.. sing iki saru  <img src='http://sma1jember.info/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>

<p>Lah kenapa kok pake ngerangkul temannya yang terlihat terluka, kok gak berpelukan kayak teletubbies.. dan banyak pertanyaan kenapa yang lain.. Tapi itu kan buat orang yang kritis.. tapi juga buat orang yang kurang kerjaan kayak aku.</p>

<p>Kalo patung ini didekati, tidak ada informasi satupun yang tersisa di prasasti di bawah patung. jang kosong, cuma marmer hitam tanpa tulisan apapun&#8230;. sumpah deh..kalo gak percaya lihat nih di foto berikutnya.</p>

<p>Lho, terus buat apa bikin patung terus gak ada penanda/informasi satupun tentang maksud monumen itu didirikan, mestinya kan ada imfo-nya, jadi gak cuma jadi penghias jalan, tapi jadi bahan untuk dikenang warga Jember.</p>

<p><span id="more-400"></span></p>

<p>Beruntung sekali aku sempat membaca prasasti monumen yang mulai usang itu pada jaman dahulu kala he..he&#8230;</p>

<p><a href="../wp-content/uploads/2011/02/DSCF4185.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-402" src="../wp-content/uploads/2011/02/DSCF4185-225x300.jpg" alt="Achmad Rizal van Patrang" width="225" height="300" /></a></p>

<p>Aku lupa kapan tepatnya membaca prasasti sebelum lenyap seperti saat ini. Tapi yang aku ingat, monumen di ujung doubleway Jember ini dalam rangka mengenang gugurnya Letkol Moch Serudji dan dr Soebandi di Desa Karang Kedawung, Kecamatan Mumbul Sari, tanggal 8 Februari 1949.  Ini sekaligus menjawab beberapa pertanyaan di atas,patungnya ada 2 orang menunjukkan 2 pejuang itu.. yang katanya sih beliau gugur hampir bersamaan.</p>

<p>Tangan yang menunjuk ke arah Timur untuk menunjukkan tempat dimana beliau berdua gugur, di dekat Gunung Mumbul. yang membentang di sebleh Timur Kota Jember.</p>

<p>Nah, pertanyaan berikutnya, dimana Beliau berdua dimakamkan?.. Aku dulu curiga makam beliau berdua di pemakaman umum di Kaliwates, beberapa meter dari lokasi Patung berada, makanya aku dulu sempat blusukan mencari makamnya..:) orang yang aneh he..he.. eh ternyata bukan disitu makamnya ..tertipu aku ..</p>

<p>Makam Letkol M Serudji terletak di daerah Patrang, masuk Kelurahan Jember Lor, kalau dari Jl Sudirman, masuk ke Jalan Belimbing, nanti ada TPU Kreyongan, atau bisa dari Jalan Jambu, deket Tepbek, makam Beliau di atas Bukit dengan cungkup yang lumayan menonjol dibanding makam yang lain.</p>

<p><a href="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/02/DSCF4171.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-403" src="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/02/DSCF4171-300x225.jpg" alt="Achmad Rizal van Patrang" width="300" height="225" /></a></p>

<p>Pertama kali mengunjungi makam ini bulan Agustus 1992, saat akan memulai kegiatan Nalasud (Napak Tilas Letkol Moh Sroedji) yang diadakan oleh Pramuka UNEJ. Nah nama Ambalan dan Racana Pramuka UNEJ untuk Putra diambil dari nama Brigade Damarwulan pimpinan Letkol M Sroedji (Untuk putri nama ambalan/racananya Srikandi).</p>

<p>Dulu sebelum tahu ini makam Letkol Moch Sroedji ini, aku sudah biasa modar-mandir di pemakaman ini, biasanya dalam rangka mencari jangrik atau ngejar layangan <img src='http://sma1jember.info/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>

<p>Nah sekarang menginjak ke tokoh Pahlawan yang kedua yaitu dr Soebandi yang namanya diabadikan sebagai nama RSUD dr Soebandi di Patrang.</p>

<p><a href="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/02/DSCF4180.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-404" src="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/02/DSCF4180-225x300.jpg" alt="Achmad Rizal van patrang" width="225" height="300" /></a> Makam dr Soebandi ada di urutan 2 di TMP Baratan, Jember, di sebelah Brigdjen Pit Soendoro, yang meninggal sekitar tahun 71. Nah ini masalah lagi, padahal kan dr Soebandi gugur tahun 1949, kok makamnya urutan kedua. Jadi aku curiga, Beliau ini awalnya tidak dimakamkan di TMP tapi di tempat lain baru kemudian dipindahkan ke TMP.</p>

<p>Iya, mungkin kasusnya sama dengan Almarhum kakekku yang meninggal di satu pertempuran di Pamekasan kemudian baru beberapa tahun kemudian dipindahkan jasadnya ke TMP Panglegur di Pamekasan. Kakekku namanya Sersan Misrul, namanya diabadikan sebagai salah satu jalan di Pamekasan.</p>

<p><a href="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/02/DSCF41761.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-406" src="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/02/DSCF41761-225x300.jpg" alt="Achmad Rizal van Patrang" width="225" height="300" /></a>Pusara dr Soebandi tampak tidak terawat, informasinya juga tidak lengkap, sehingga kalo hanya melihat makamnya orang tidak bisa tahu kapan meninggalnya. Atau mungkin data lengkapnya tersedia di kantor di depan TMP ya?</p>

<p>Sayang sekali kalo orang Jember sendiri tidak paham akan sejarahnya sendiri, kalo gak masyarakat jember sendiri sopo maneh yang akan menghargai jasa pahlawan Jember.</p>

<p>Ohya, aku napak tilas ini dianter sama keponakanku yang kuliah di UNEJ&#8230; dia heran dan baru tahu tentang hal-hal yang kutunjukkan padanya&#8230; la wong Om-nya emang orang kurang kerjaan.. <img src='http://sma1jember.info/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<img src="http://sma1jember.info/?ak_action=api_record_view&id=400&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sma1jember.info/2011/02/sedikit-jejak-sejarah-pahlawan-jember/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>YANG MENARIK DI STASIUN KERETA API JEMBER</title>
		<link>http://sma1jember.info/2011/02/yang-menarik-di-stasiun-kereta-api-jember/</link>
		<comments>http://sma1jember.info/2011/02/yang-menarik-di-stasiun-kereta-api-jember/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Feb 2011 08:00:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rizal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita-cerita Enteng]]></category>
		<category><![CDATA[Jember, rek!]]></category>
		<category><![CDATA[Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Warta Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Achmad Rizal]]></category>
		<category><![CDATA[jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[jember]]></category>
		<category><![CDATA[kereta api]]></category>
		<category><![CDATA[selatan]]></category>
		<category><![CDATA[transportasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sma1jember.info/?p=392</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah kemarin tanggal 4-6 Februari aku mendapat kesempatan pulang kampung ke Jember&#8230; dan yang lebih menyenangkan lagi kepulanganku ini  kalo menurut istilah Cak Fikik adalah PUBIDI.. PUlang atas BIaya Dinas&#8230; soalnya aku ditugaskan oleh kantor untuk menghadiri resepsi pernikahan teman sekantor di Genteng, Banyuwangi. Nah sebagai PBKA (Penggemar Berat Kereta Api) ya mesti KA tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Stasiun_Jember"><img class="alignleft size-medium wp-image-393" src="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/02/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Het_stationsgebouw_te_Djember_op_Oost-Java_TMnr_60009816-300x210.jpg" alt="" width="300" height="210" /></a>Alhamdulillah kemarin tanggal 4-6 Februari aku mendapat kesempatan pulang kampung ke Jember&#8230; dan yang lebih menyenangkan lagi kepulanganku ini  kalo menurut istilah Cak Fikik adalah PUBIDI.. PUlang atas BIaya Dinas&#8230; soalnya aku ditugaskan oleh kantor untuk menghadiri resepsi pernikahan teman sekantor di Genteng, Banyuwangi.</p>

<p>Nah sebagai PBKA (Penggemar Berat Kereta Api) ya mesti KA tak jadikan pilihan utama sebagai alat trasnportasi yang akan membawaku ke kampung halaman tercinta. Meskipun hati agak dag-dig-dug soalnya gak sampai seminggu sebelumnya terjadi terjadi <a href="http://www.mediaindonesia.com/read/2011/01/28/199339/123/101/-Kecelakaan-KA-di-Banjar-akibat-Pelanggaran-Sinyal">kecelakaan KA di Stasiun Langensari</a>, Banjar yang menewaskan 3 orang (salah seorang dari korban adalah mahasiswiku). Tapi masalah jodoh, rejeki dan umur itu kan urusan ALLAH, dengan Bismillah aku berangkat ke Jember. Dan kalo naik KA pasti berhentinya di Staasiun KA, yo jelas mosok numpak sepur mudune ning terminal..</p>

<p><span id="more-392"></span></p>

<p>Nah sekarang yang di bahas Stasiun KA Jember aja ya&#8230;</p>

<p>Dulu kalo gak salah cak Faiz pernah upload foto Stasiun KA Jember di facebook  dan memang bentuk Stasiun Jember itu banyak yang tidak terlalu berubah sejak jaman dulu. Seperti gambar yang Stasiun Jember tahun 1927-1929 yang aku dapat dari <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Stasiun_Jember">sin</a>i.  Teringat foto-foto cak Faiz tadi, hati ini jadi ikut tergerak untuk mengambil gambar beberapa sudut stasiun.<a href="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/02/DSCF4189.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-394" src="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/02/DSCF4189-282x300.jpg" alt="achmad rizal van patrang" width="282" height="300" /></a></p>

<p>Nah, gambar depan stasiun ini tapi dari sudut yang berbeda dulu pernah dimuat Cak Faiz di FB, kalo dibandingkan dengan gambar versi jadulnya kok rasanya gak terlalu berubah, cuma memamg rasanya leboh rindang gambar jadulnya. Tanda +89 m itu yang membuat khas dari setiap setasiun. Perasaan gak ada tempat lain yang memuat informasi ketinggian dari atas permukaan laut secara istiqomah seperti Stasiun KA.</p>

<p>Kalo rumahku dikasih tulisan +640 rasanya para tetangga akan bergosip ria.. eh pak iku nomer opo? he..he..</p>

<p>Nah ada lagi yang lain. Jendela&#8230; Kalo diperhatikan jendela di Stasiun Jember ini masih dilestarikan keasliannya (kusennya masih asli gak ya? tapi bentuknya masih mirip dengan foto jadulnya). Jendela-nya gede-gede&#8230; biar anginnya banyak.. soalnya orang Londo yang dulu mengoperasikan sepur mungkin gak tahan sumuk <img src='http://sma1jember.info/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>

<p><a href="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/02/Jendela.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-395" src="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/02/Jendela-300x224.jpg" alt="Achmad Rizal van Patrang" width="300" height="224" /></a> Kalo sekarang meskipun jendelanya gede-gede, dalamnya masih ditutup kaca.. yo tetep sumuk rek, mangkane dikasih AC biar celep..tak iye.. Wah itu kayaknya ruang kepala Stapsiun-nya ya.. <img src='http://sma1jember.info/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>

<p>Tapi yang lebih asyik pas kalo kita masuk kedalamnya. Satsiun Jember memang tidak seramai stasiun  KA di kota-kota besar lainnya. Tapi jangan salah, Stasiun Jember adalah pusat dari PT KAI Daop IX, Daerah Operasi paling timur, bahkan sampai Bali wilayahnya.. Perasaan gak ada deh yang sampai nyebrang pulau kayak Daop IX Jember.</p>

<p>Di dalam Stasiun ada yang menari perhatianku&#8230; coba mbak-mbak, mas-mas, adik-adik lihat di Jam Dinding kuno di foto di bawah.. kira-kira apa yang unik? Kalo dari jauh gini gak kelihatan ya&#8230;</p>

<div id="attachment_396" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/02/Jam_jauh.jpg"><img class="size-medium wp-image-396" src="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/02/Jam_jauh-300x165.jpg" alt="achmad rizal van patrang" width="300" height="165" /></a><p class="wp-caption-text">Ac</p></div>

<p>Kalo aku sempat lihat jam kuno yang tergantung di dinding Stasiun&#8230;. jamnya kuno dan saking kunonya pake angka romawi.. Lah kan biasa pake angka romawi.. tapi yang ini beda&#8230; Coba lihat angka 4-nya</p>

<p><a href="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/02/Jam-dekat.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-397" src="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/02/Jam-dekat-300x225.jpg" alt="achmad rizal van patrang" width="300" height="225" /></a></p>

<p>kalo gak kelihatan, nih tak kasih gambar close-up-nya&#8230; JRENGG&#8230;.</p>

<p>Angka 4 tidak dituliskan dengan IV seperti biasanya, tapi ditulis dengan IIII.</p>

<p>Nah.. unik kan..</p>

<p>Sebelumnya aku pernah baca di Majalah KA yang sering disertakan di tempat duduk KA Eksekutif bahwa beberapa Stasiun KA masih menyimpan jam kuno dengan tulisan IIII, tapi ternyata di Jember pun ada. Bahkan jam kuno ini masih berfungsi dengan baik. Saat aku mengambil foto, memang jam segitu karena dalam rangka menunggu KA Mutiara Timur Siang jurusan Surabaya yang dijadwalnya jam 11.45 Wib.</p>

<p>Nah.. Stasiun Jember ternyata tidak hanya berjasa mengantarkan kita pergi dan pulang ke kampung halaman tercinta. Tapi juga menyimpan beberapa benda bersejarah, unik dan antik sebagai warisan dari masa lalu kota ini.  Semestinya beberapa bangunan bersejarah tetap harus dilestarikan sebagai warisan bagi anak cucu kita, semoga tidak terulang peristiwa dibongkarnya Hotel Djember, disebelah timur alun-alun (sekarang BRI) yang bersejarah.</p>
<img src="http://sma1jember.info/?ak_action=api_record_view&id=392&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sma1jember.info/2011/02/yang-menarik-di-stasiun-kereta-api-jember/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SEJARAH JEMBER.. dari Kompasiana</title>
		<link>http://sma1jember.info/2011/01/sejarah-jember-dari-kompasiana/</link>
		<comments>http://sma1jember.info/2011/01/sejarah-jember-dari-kompasiana/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Jan 2011 10:02:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rizal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jember, rek!]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Warta Berita]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[jember]]></category>
		<category><![CDATA[kereta api]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[selatan]]></category>
		<category><![CDATA[tebu]]></category>
		<category><![CDATA[tembakau]]></category>
		<category><![CDATA[transportasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sma1jember.info/?p=387</guid>
		<description><![CDATA[Mumpung lagi nemu tulisan bagus di kompasiana tulisan dari Saiful Rahman, Tulisannya panjang dan sangat serius,&#8230; cuoocoook buat yang serius pengen tahu sejarah Jember.. Monggo dinikmati Sejarah kabupaten Jember yang saya baca pada situs resmi PEMKAB Jember dibentuk berdasarkan Staatsbland Nomor 322 tanggal 9 Agustus 1928 dan sebagai dasar hukum, mulai berlaku tanggal 1 Januari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mumpung lagi nemu tulisan bagus di<a href="http://sejarah.kompasiana.com/2010/05/16/mengungkap-problematika-sejarah-dan-identitas-rakyat-jember/"> kompasiana</a> tulisan dari <a href="http://www.kompasiana.com/saifulrahman">Saiful Rahman,</a></p>

<p>Tulisannya panjang dan sangat serius,&#8230; cuoocoook buat yang serius pengen tahu sejarah Jember.. Monggo dinikmati</p>

<p>Sejarah kabupaten Jember yang saya baca pada situs resmi PEMKAB Jember dibentuk berdasarkan <em>Staatsbland</em> Nomor 322 tanggal 9 Agustus 1928 dan sebagai dasar hukum,  mulai  berlaku tanggal 1 Januari 1929. Pemerintah Hindia Belanda telah  mengeluarkan ketentuan tentang penataan kembali pemerintah  desentralisasi di wilayah Provinsi Jawa Timur, antara lain dengan  menunjuk Regenschap Djember sebagai masyarakat kesatuan hukum yang  berdiri sendiri. Secara resmi ketentuan tersebut diterbitkan oleh  Sekretaris Umum Pemerintah Hindia Belanda (De Aglemeene Secretaris) G.R.  Erdbrink, 21 Agustus 1928. oleh karena itu hari jadi kabupaten jember  ditetapkan 1 januari dan dirayakannya setiap tahun. (baca di  http://jemberkab.go.id)</p>

<p>Diskursus hari jadi kabupaten Jember  tersebut diuraikanlah jejak-rekam yang pada umumnya bersumber dari  arsip-arsip atau manuskrip yang ditulis tangan warga belanda dan  dikuatkan dengan adanya situs-situs bangunan peninggalan belanda yang  masih berdiri kokoh sampai sekarang. Menurut Tri Candra dalam makalah <em>International Conference on Urban History</em>,  di Surabaya, August 2004, mengurai bahwa proses kapitalisasi oleh  perusahaan perkebunan partikelir belanda di daerah Besuki merupakan  suatu penanda fase pertumbuhan dan berkembangnya secara nyata Jember  sebagai kota. Pada titik inilah kemudian Jember lahir sebagai kota  industri perkebunan. Ia adalah sebuah kota yang lahir dari sebuah proses  modernisasi kota-kota Hindia, sebagai akibat dari sistem perusahaan  bebas yang dianut sebagai prinsip umum ekonomi sejak masuknya kapital  besar, periode akhir abad XIX. (Candra, Tri: 2004).</p>

<p>Tak Jauh beda dengan Tri Candra, Edy Burhan  Arifin menjelaskan sejarah perkembangan pesat peradaban jember sebagai  wilayah industri perkebunan ditentukan oleh semakin merebaknya  perusahaan swasta belanda di wilayaha jember utara dan Jember tengah.</p>

<p>Adapun yang merintis usaha perkebunan swasta di Jember ialah George Birnie yang pada tanggal 21 Oktober 1859 bersama Mr. C.  Sandenberg Matthiesen dan van Gennep mendirikan NV Landbouw Maatsccappij Oud Djember (NV. LMOD) yang semula bergerak di bidang perkebunan tembakau, namun kelak kemudian hari merambah pada perkebunan aneka tanaman seperti kopi, cacao,  karet dsb. (Brosur NV. LMOD:1909). Usaha George Birnie tersebut menarik minat para ondernemer Belanda lainnya untuk menanamkan usahanya dan mendirikan perkebunan di daerah Jember, sehingga dalam waktu yang relatif singkat berdiri perkebunan swasta di daerah ini seperti Besoeki Tabac Maatscappij, Djelboek Tabac Maatscacppij dll. Kehadiran sistem perkebunan swasta ini membawa perubahan-perubahan sosial dan ekonomi pada masyarakat dan yang terpenting terjadinya perubahan status kota Jember pada tahun 1883 yakni yang semula distrik menjadi regentschap sendiiri terpisah dari Bondowoso. Sehubungan dengan berubahnya status kota Jember, maka pemerintah pusat mengadakan perombakan struktur pemerintahan dan digalakkan pembangunan infrastuktur seperti perombakan struktur pemerintahan dan digalakkan pembangunan infrastuktur seperti jembatan, jalan dan yang terpenting dibukanya jalur kereta api dari Surabaya menuju Probolinggo dan terus ke Jember, serta dari Jember  menuju Panarukan yang berfungsi sebagai pelabuhan untuk mengangkut  produk komoditi eksport pada desenia ke sembilan abad XIX. (Burhan, Edi:  2006)</p>

<p><span id="more-387"></span></p>

<p>Dengan derasnya penetrasi modal yang  ditandai dengan semakin banyaknya perusahaan-perusahaan partikelir  berekspansi di wilayah Jember membawa implikasi pada arus besar migrasi  penduduk yang ber etnis Madura dan Jawa kewilayah-wilayah industri  perkebunan di jember. Migrasi ini terjadi demi memenuhi kebutuhan tenaga  kerja dan perluasan wilayah-wilayah perkebunan di jember. Lebih lanjut  Edi Burhan arifin mengutip Bleeker, 1847 dan Tennekes, 1963  mengungkapkan, bahwa tahun 1845 penduduk Jember berjumlah hanya 9.237 orang. Namun sejak desenia ke tujuh abad XIX seiring dibukanya perkebunan swasta di daerah ini terjadi lonjakan jumlah penduduk yang sangat mencengangkan, tahun 1867 meningkat menjadi 75.780 orang. Salah satu faktor penyebabnya ialah terjadinya gelombang migrasi besar-besaran orang madura ke daerah Jember. Pada tahun 1880 meningkat menjadi 129.798 orang. Peningkatan penduduk yang sangat besar itu disebabkan karena terjadi gelombang migrasi besar-besaran  orang-orang Jawa ke daerah Jember. Terjadinya gelombang migrasi orang  Jawa itu dikarenakan pada tahun 1880-an jumlah perkebunan swasta di  daerah Jember semakin banyak dan perkebunan-perkebunan itu membutuhkan  tenaga kerja yang banyak.</p>

<p>Para migran tersebut pada  akhirnya membawa dan mengembangkan budaya asalnya ke daerah yang baru.  Dalam kontek budaya akibat arus migran dari dua entitas budaya berbeda  yang kemudian berdiam pada satu wilayah yang sama, Edi Burhan Arifin  menyebut, telah terjadi proses akulturasi budaya sehingga di daerah  Jember muncul budaya “pandhalungan” yang merupakan percampuran dua anasir budaya  menjadi budaya baru. Anehnya pernyataan yang tidak melalui penelitian  mendalam dan spesifik tersebut kemudian dikuatkan oleh Ayu Sutarto dan  lain-lain yang mengkristal menjadi diskursus kebudayaan pandhalungan di  Kabupaten Jember dengan ciri utama dilihat dari cara praktik bahasa  sehari-hari dan cara berkesenian yang merepresentasikan percampuran  antara etnis Madura dengan etnis Jawa. Menurut Ayu Sutarto, Tipe  kebudayaan orang pandalungan adalah kebudayaan agraris-egaliter. Penanda  simbolik yang tampak jelas dari tipe kebudayaan ini terdapat pada seni  pertunjukan yang digeluti dan penggunaan bahasa sehari-hari yang secara  dominan menggunakan ragam bahasa kasar (ngoko) dan bahasa campuran ‘dua  bahasa daerah atau lebih’ (Sutarto, Ayu: 2006). Sedang Hari Yuswandi  dalam Christanto P.Raharjo bernada sama memberikan definisi sederhana  tentang Pendhalungan sebagai (1) sebuah percampuran antara budaya Jawa  dan Madura dan (b) masyarakat Madura yang lahir di wilayah Jawa dan  beradaptasi dengan budaya Jawa ( Raharjo, P, Cristanto:2006).</p>

<p>Baik publikasi situs resmi PEMKAB Jember  maupun tulisan Tri Candra Ap, Edy Burhan Arifin, Ayu Sutarto, dan  lokakarya-lokakarya yang telah diselenggarakan pemerintah daerah, kalau  diamati narasinya lebih banyak berbicara dan bertumpu pada kekuatan  sumber-sumber tertulis yang telah ada. Sedang isi cerita sejarah yang  dikembangkannya lebih mengarah pada bagaimana proses perkembangan kota  Jember dimulai, sekaligus bersamaan menentukan pembabakan alur sejarah  jember secara keseluruhan. Seakan berbicara dan membayangkan Jember  lampau kemudian tak lepas dari periodisasi sejarah masa kolonialisme,  masa pendudukan Jepang, masa revolusi dan Masa pasca kemerdekaan. Dengan  demikian menganalisa dinamika perkembangan dan perubahan-perubahan  sosial masyarakatnya pun harus mengikuti dan merunut pada proses-proses  sosial pembabakan sejarah yang telah tertulis didalamnya.</p>

<p>Wacana kesejarahan Jember yang telah terdistribusi selama ini menjadi  terbatas pada penceritaan bagai mana kota jember terbentuk dan  kekuasaan administratif Jember sebagai Kabupaten terbangun. Seperti yang  telah saya paparkan diatas, dimana sejarah Jember dimulai dari  penetrasi modal besar-besaran yang masuk kejember oleh perusahaan swasta  Belanda pada tahun 1867 menyebabkan jember berkembang pesat menjadi  kota perdagangan yang melampaui wilayah-wilayah se-kerisedenan besuki  yang secara administratif kemudian pemerintah hindia belanda  berkepentingan menetapkan wilayah afdelling Jember tersendiri terpisah  dari afdelling Bondowoso. Implikasi dari wacana ini,  mainstrean sejarah Jember sebagai sejarah tertulis  berposisi  mensubordinasi sejarah lisan dan meliyankan sumber-sumber cerita  rakyat. Sejarah rakyak diasosiasikan sebatas legenda, dongeng, dan itu  sebagai omong kosong yang tak terkait dengan kebenaran sejarah Jember  masa lampau. Dampak sistemik lainnya, para kaum inteluktal yang paling  berkompeten menggali sejarah lisan menjadi malas menelusuri sejarah  Jember melalui tradisi lisan rakyat.</p>

<p>Implikasi lain menggali sejarah jember  hanya berpatokan pada sumbr tertulis yang mayoritas ditulis oleh  orang-orang kolonial belanda, kesan yang diporoleh, bahwa gelombang  sejarah jember akibat dari penetrasi modal dan kolonialisme belanda yang  dimulai dari arah utara mengakibatkan arus migrasi etnis dari madura  dan jawa. Kesan selanjutanya, peran sentral eksistensi kolonial bangsa  belanda di jember menjadi penentu arah perkembangan sejarah kabupaten  jember pada periodisasi setelahnya. Dan migrasi besar-besaran yang  mempertemukan dua etnis besar yakni etnis jawa dan Madura dalam satu  area di Jember tengah menghasilkan kebudayaan baru Jember bernama budaya  Pandhalungan, menjadi problematis, karena belum tentu merepresentasikan  kebudayaan rakyat jember secara umum. Bisa jadi ini hanya kasuistik  yang terjadi di jember tengah yang tak bisa dipukul ratakan ke wilayah  jember lainnya.</p>

<p>Superioritas penulisan sejarah Jember yang  mengutamakan sumber dokumen tertulis merupakan gejala umum penulisan  sejarah di indonesia, dengan apik Ahmad Nashih Luthfi (2006)  menggugatnya seperti berikut dibawah ini:</p>

<p>Agaknya tidak berlebihan  bila dikatakan bahwa sejarah Indonesia selama ini terkuantifikasi ke  dalam penjelasan yang sifatnya structural, kelembagaan (politik), nilai,  ideology, arus sebagai penggeraknya, tekstualitas, dan mengabaikan  eksistensi kemanusiawiannya. Sehingga muncul istilah history without  people, and people without history. Ketika sejarah mengalami  positifistikasi yang akut, ditandai dengan semboyan “no written document  no history” oleh Ranke, sejarah telah mengkhianati metode  tradisonalnya, metode Herodotus atau Thucydides ketika menulis perang  Peloponnesian, yakni metode wawancara terhadap para prajurit yang  terlibat dalam perang tersebut. Sejak saat itu sejarah mengalami  kemunduran. Namun, setelah Allan Nevins dari Columbia University pada  tahun 1948 menggunakan metode Sejarah Lisan dalam merekonstruksi masa  lalu kulit putih Amerika, Sejarah Lisan mulai kembali mengalami  kemajuan. Disusul dengan Paul Thompson dalam bukunya berjudul Voice of  The Past, Oral History, metode Sejarah Lisan mengembalikan posisi  pentingya, dan membuka potensi rekonstruksi atas masa lalu lebih mudah  dilakukan. Penulisan sejarah semacam ini (khususnya banyak menggali  aspek social) mulai berorientasi pada penulisan sejarah yang beragam,  dari lapisan bawah atau “history from below, history from within”.  Sehingga terjadi usaha pendemokratisan dalam sejarah.</p>

<p>Oleh karenanya pembabakan sejarah jember  yang telah menjadi alur maenstream sejarah dan kategorisasi budaya  pendhalungan yang telah menjadi rezim wacana, perlu ditinjau ulang.  Peninjauan ini saya maksudkan untuk melengkapi kekurangan historigrafi  Kabupaten Jember. Tinjauan pertama bahwa gelombang sejarah jember  dimulai dari jember utara dan penanggalannya mengacu pada narasi  tertulis yang tersimpan rapi dalam lemari kepustakaan pemerintah  belanda,  tanpa disadari telah menafikkan sejarah lesan dan  artefak sejarah lainnya yang berkembang dimasyarakat jember selatan,  bahkan sejarah lisan rakyat jember pada umumnya. Pengamatan saya  dilapangan pada fenomena sejarah rakyat jember yang perlu ditelusuri  kedalamannya sebagai berikut.</p>

<p>Fenomena historisatas  nama-nama desa yang memakai penamaan Jawa yang umum terjadi diseluruh  wilayah kabupaten Jember, mengindikasikan keberadaan rakyat jember ada  jauh sebelum kedatangan koloni bangsa belanda, saya kira merupakan data  yang melengkapi historigrafi yang perlu ditelusuri lebih jauh. Cerita  rakyat desa balung misalnya, (setiap tahun kronologi sejarah Desa balung  Lor dibaca pada acara selamatan desa) dikemukakan, bahwa penamaan desa  Balung bermula ditemukannya tulang tengkorak manusia pertama pembabat  hutan bernama Mbah Budeng, oleh kelompoknya kemudian prosesi penemuan  tengkorak mbah Budeng tersebut ditandai dengan nama wilayah utara hasil  pembabatam dinamai Balung Lor, sebelah barat dinamai Balung Kulon dan  sebelah selatan dinaman Balung Kidul. Mbah Budeng dan kelompoknya  keberadaannya di balung merupakan pelarian dari kerajaan mataram dan  makam mbah Budeng sampai sekarang dikeramatkan sebagai tokoh sejarah  yang melahirkan desa Balung. Lain halnya dengan cerita sejarah  kecamatan Balung, di kecamatan Puger, oleh mayarakat, nama puger  diyakini diambil dari nama pangeran puger yang sempat menetap di puger  bersama pengikutnya. Sampai sekarang cerita yang beredar disana, bahwa  rakyat puger dahulu kala adalah sebagai pengikut pangeran Puger Situs  petilasan (berbentuk makam) Mbah Tanjung, yang berada di Kucur merupakan  bukti historigrafi sejarah desa Puger yang sekarang sudah terpecah  menjadi Desa Puger wetan dan Puger Kulon. Fenomena sejarah lainnya  terjadi di Desa Tamansari Wuluhan ditemukannya oleh masyarakat setempat  artefak bekas taman masa kerajaan majapahit yang diyakini oleh  masyarakat setempat sebagai cikal bakal nama desa taman sari. Masih  banyak lagi nama-nama desa Di kabupaten Jember lainya yang memakai nama  Jawa dan ditengarai berasal dari nama ketokohan atau legenda masyarakat  setempat yang mendominasi dikabupaten Jember. Di Jember Timur, penamaan  desa Mayang Sari erat kaitannya dengan kisah legenda putri Mayang yang  oleh masyarakat setempat diyakini sebagai puteri seorang raja yang  menjadi leluhurnya. Sedang di Jember tengah dan Utara, nama-nama seperti  Gebang, Patrang, Mangli, Arjasa, merupakan legenda nama para bangasawan  kerajaan yang dilakonkan oleh Seni Ludruk setempat dalam cerita babat  tanah Jember.</p>

<p>Tinjauan kedua pada wacana budaya  pendhalungan sebagai hasil akulturasi pertemuan budaya dua atnis besar  antara etnis Madura dan Etnis Jawa di Jember Tengah (atau tepatnya di  wilayah-wiayah pinggiran kota jember) menimbulkan problemmatik  representasi  identitas tersendiri bagi diskursus kebudayaan jember. Dengan hanya  mengambil sempel masyarakat Jember tengah dengan hanya sekilas membaca  pola praktik bahasa sehari-hari dan  kesenian tradisi yang  dikembangkannya, menjadi tidak mewakili kebudayaan rakyat Jember secara  umum. Di jember selatan, (Kecamatan: Balung, Puger, Wuluhan Ambulu,  Gumuk Mas, Kencong), pengamatan saya dilapangan, tidak saya temukan  model perampuran dialek bahasa sehari-hari antara etnis jawa dan madura  seperti yang dicontohkan oleh Ayu Sutarto Di jember Tengah. Juga pada  keseneian rakyatnya tidak terjadi perubahan-perubahan yang berarti.  Etnis jawa dan Madura masih tetap bersikukuh dengan pola-pola bahasa dan  keseniannya masing-masing. Di kecamatan Balung, misalnya, kelompok  etnis madura mayoritas berdiam di sebelah utara, sedang etnis jawa  bertinggal di sebelah selatan dan mendominasi seputar kota kecamatan.  Masing-masing etnis memakai bahasa nya sendiri, baik etnis Jawa dan  Madura tidak berupaya mencampur adukkan. Dalam berkesenian, pada  kesenian jaranan misalnya, saya amati para pendukungnya adalah kelompok etnis etnis jawa, sementara kelompok etnis madura lebih memilih seni hadroh.</p>

<p>Dominasi wacana sejarah Kabupaten Jember  yang bersumber pada sejarah tertulis dan dampaknya pada kategorisasi  kebudayaan Pandhalungan di Jember Tengah yang kemudian ditarik sebagai  representasi sejarah dan identitas kebudayaan Jember, menurut hemat  saya, merupakan penjelasan sejarah dan budaya yang terburu-buru,  terkesan obsesif dan imajiner untuk menemukan Jember sebagai wilayah yang historis, khas,  unik, dan otentik. Karena sejarah lesan rakyat sebagai sumber data  Primer tidak dilibatkan didalamnya. Prosesi penarasian sejarah dimulai  dari jember Utara yang bersumber pada naskah-naskah  dokumentasi kolonial belanda (data primer), dengan tanpa melibatkan  sejarah yang berkembang wilayah Jember lainnya yang bertumpu pada  kekuatan tradisi lisan rakyat, maka, menyebabkan hilangnya pembabakan  sejarah rakyat Jember sebelum zaman berkembangannya industrialisasi  perkebunan, sebelum tahun 1800-an.</p>

<p>Padahal, narasi sejarah jember lainnya  mengungkap, bahwa tahun 1771 telah terjadi perlawanan rakyat jember pada  V.O.C Belanda yang dikoordinir oleh Sayu Wiwit dengan gemilang  menghancurkan pos Belanda di jember (babat bayu, 1773 dalam Hasan Basri:  Tanpa tahun), namun para sejarawan jember enggan menelusurinya karena  terbatasnya sumber tertulis yang bisa menjelaskannya. Mengenai Sayu  Wiwit Pemkab banyuwangi mengusulkan menjadi pahlawan nasional. Disini,  jika telah terjadi pertempuran di Jember pada tahun 1771, lepas dari  ketokohan Sayu Wiwit sebagai orang blambangan yang masuk dalam batas  geografis Banyuwangi atau kekalahan V.O.C Belanda disatu sisi, bukankah  ini pertanda bahwa telah ada pribumisasi rakyat Jember sebelum era  migarasi besar-besar akibat industri perkebunan di Jember?</p>

<p>Sejarah lisan rakyat  Jember yang membisu di ruang publik, lokusnya dominan berada di jember  selatan. Ini bisa dimaklumi karena sejarah jember yang sudah banyak  beraksi dipanggung publik alirannya dari jember utara sedang di Jember  selatan kurang terapresitif karena minimnya sumber tertulis untuk  menjelaskan fenomena sejarahmasa lampaunya. Sedang data-data untuk  menjelaskan fenomena sejarah di Jember selatan lebih banyak berasal dari  cerita rakyat, dari mulut kemulut, dan seringkali terendap diruang alam  bawah sadar. Cerita Sogol di ambulu, Mbah budeng di balung, Pangeran  puger di puger, candi deres di gumukas, situs taman bekas kerajaan  majapahit ditaman sari, dan lain lain yang masih banyak terpendam di  Jember selatan, merupakan tantangan pada diskursus sejarah jember untuk  lebih apresiatif dan serius mengadirkan sejarah jember sebenarnya secara  utuh pada khlayak luas.</p>

<p>Fakta lainnya, jika diarahkan demi  memperkaya historisitas Jember, yakni kontrakdiksi nama-nama desa yang  memakai nama Jawa -mayoritas dikabupaten Jember- namun etnis penduduk  yang berdiam didalamnya mayoritas ber etnis madura, terutama terjadi di  Jember Timur dan Jember barat. Misalnya Nama-nama desa: Pakusari, Mayang  Sari, Sumbersari, Bangsal Sari, Gambirono, yang kesemuanya mayoritas  penduduknya ber etnis Madura. Tentu hal semacam ini tak bisa diindahkan  begitu saja untuk masuk menelusuri lapisan sejarah Jember lebih dalam  lagi. Kemungkinan telah terjadi prosesi perubahan sejarah yang besar  prakolonialisme yang telah kita alpakan disini. Bisa jadi, disamping  untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja dalam skala besar, sekaligus <em>hidden agenda</em> politik belanda untuk menggusur pribumisai etnis Jawa yang telah lama mendiami wilayah Jember.</p>

<p>Oleh karenanya sangat penting menggali  sejarah jember yang masih belum terkuak, dimana data-datanya masih  berserakan dialam bawah sadar rakyat Jember. Penggalian dan pengumpulan  data sejarah rakyat hanya bisa kita kerjakan dan kita dapatkan dari  sejarah lisan mereka. Sejarah Jember yang sudah ternarasikan melalui  sumber-sumber tertulis akan lebih mendekati pada kebenaran dan lebh  indah dipermukaan, apabila tidak vis-avis dengan sejarah lisan rakyat  tetapi saling berkorelasi, dan tidak lagi berposisi mensubordinasi atau  menegasi.</p>

<p>Penelitian lisan tidak  digali dengan ’kepala kosong’. Segalanya disiapkan dalam kerangka yang  matang. Dengan demikian, informan tidak akan bicara tanpa makna, tetapi  diarahkan pada kebutuhan peneliti. Pembicaraan bersifat lentur karena mendekatkan pada proses. Namun demikian, peneliti tetap menjadi pengendali.</p>

<p>Demikian juga pada  pendekatan kultur, kemampuan peneliti ditantang. Pendekatan ini  memungkinkan terciptanya dialog yang alami. Informan tidak merasa  diinterogasi, tetapi diajak untuk berkelana mengarungi pulau masa lalu.  Pelan tapi pasti, segala persitiwa yang ingin dibidik peneliti, akan  terlontar dari informan. Pernyataan secara alami itulah, yang akan  menjadi data baru yang unik, <em>pure</em>, dan berbeda dari penuturan dokumen.</p>

<p>Dalam  sejarah lisan, peneliti memang harus membatasi hubungan dengan dokumen.  Apabila terjadi, ia hanya akan menjadi penutur sejarah terburuk.  Artinya, hanya mengulang penjelasan yang sudah ada.  Penelitian lisan berusaha menghasilkan data yang berbeda, dengan  mendekatkan pada fungsi evaluasi dan refleksi dokumen.</p>

<p>Fungsi  tersebut, memungkinkan sejarawan berdialog secara psikologis dengan  data. Proses ini akan memunculkan ’empati historis’. Sifat ini perlu  ditumbuhkan dalam jiwa sejarawan, untuk membangun logika analisa fakta.  Empati bukanlah sebuah ’dosa’, tapi justru cara membuat historiografi  menjadi lebih manusiawi.</p>

<p>Sejarah bukan <em>icon</em> kaku tanpa ekspresi. Pergulatan manusia dalam melawan nasib adalah  kerja manusiawi yang sarat pergolakan batin dan jiwa. Situasi ini akan  hidup jika muncul muatan psikologis. Data lisan memungkinkan kerja-kerja  psikologis untuk menghidupkan fakta, tanpa mengurangi validitas dan  kredibilitasnya. Kekuatan data dapat menunjukan mentalitas informan  dalam menghadapi situasi zaman. Secara kolektif akan memunculkan <em>genre</em> baru: sejarah mentalitas.</p>

<p>Sebagai akhiran, pernyataan pujangga dan sejarawan Belanda, Willem Bilderijk, pantas untuk direnungkan.<strong> </strong>Setiap kejadian memang timbul-tenggelam, tapi tidak berarti diam<strong>. </strong>Ia mengandung makna yang aktif—menyajikan pelajaran hidup yang kemudian diterjemahkan dengan nama: hikmah. Apalagi dalam kacamata historis, kejadian itu bersifat tridimensi—<em>past, present, and future.</em> <em>“Apa yang timbul, dan apa yang tenggelam, </em><em>Tidak  tercerai-berai, melainkan berkesinambungan, Hari kemarin memangku hari  sekarang. Dan hari sekarang menumbuhkan hari depan!”</em><em>(Willem Bilderijk).</em></p>
<img src="http://sma1jember.info/?ak_action=api_record_view&id=387&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sma1jember.info/2011/01/sejarah-jember-dari-kompasiana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Reuni Kelas Biologi 1 Alumni 1988</title>
		<link>http://sma1jember.info/2008/10/reuni-biologi-1/</link>
		<comments>http://sma1jember.info/2008/10/reuni-biologi-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Oct 2008 23:22:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ikhlasul Amal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Alumni]]></category>
		<category><![CDATA[Warta Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sma1jember.info/?p=219</guid>
		<description><![CDATA[Acara ketemuan berlangsung pada tanggal 3 Oktober, dimulai sekitar jam 19.00. Di mana tempat sohor yang disebut Kafe Cak Tawal tersebut? Inilah &#8220;kekacauan&#8221; pertama karena saya sok yakin tidak mencatat nomor telepon genggam Cak Suja&#8217;i dan semua teman di konferensi YM sebelumnya hanya menyebut Kafe Cak Tawal, sonder nama resmi di sana. Menanyakan nama pemilik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><i>Acara ketemuan berlangsung pada tanggal 3 Oktober, dimulai
sekitar jam 19.00.</i></p>

<p>Di mana tempat sohor yang disebut Kafe Cak Tawal tersebut? Inilah
&#8220;kekacauan&#8221; pertama karena saya sok yakin tidak mencatat nomor
telepon genggam Cak Suja&#8217;i dan semua teman di konferensi YM
sebelumnya hanya menyebut Kafe Cak Tawal, sonder nama resmi di sana.
Menanyakan nama pemilik kafe di Jalan Jawa tentu bisa salah maksud:
barangkali Cak Tawal dikenal dengan panggilan lain atau orang-orang
di sana belum tentu tahu pemilik kafe ybs.</p>

<p>Tapi ini Jember, jangan terlalu seriuslah! Bukan Batavia yang
perlu lompatan publikasi di media nasional seperti Omah Sendok,
bukan Bandung yang memiliki manager Hotel Bel Air yang juga disitir
media cetak. Di Jember, ritme turun, sinyal 3G beralih ke <abbr title="General Packet Radio Service">GPRS</abbr>, dan manusia
kembali menemukan &#8220;tanah air&#8221;, yaitu tanah dengan genangan air atau
<i>bechek</i> kata salah satu selebritas simbol penutur non-pribumi.</p>

<p>Sekali putar, bersama Rofiq yang menemani saya datang ke acara
reuni, kami mencari spot keramaian (boleh juga disebut
<i>hotspot</i>, karena konsumsi kalor sebanding dengan jumlah
manusia). Tidak salah Mbak Etha &#8220;dipajang&#8221; di beranda pinggir
trotoar. Saya sudah membayangkan keceriaannya, teringat perannya
sebagai pemandu sorak kelas saat kami bersama di tahun ajaran
pertama SMA. Manusia memang dianugerahi pengenalan pola-suara, dan
itu melengkapi deskripsi visual postur tubuh dan muka. (Harris pun
pada pertemuan lain keesokan harinya mengaku melihat hadirin sudah
tua, tapi cekakakan &#8212; bukan &#8220;cekikikan&#8221; &#8212; miliknya tak parau
dimangsa sekian pancaroba.)</p>

<p>Alhasil, trio Cak Tawal-Cak Adib-Mbak Etha (ketiganya dari kelas
1-5), mengantarkan saya pada persentuhan dengan lorong masa lalu.
Teristimewa terhadap pihak perempuan yang memang sebagian pernah
saya kenal kemudian lupa, sebagian lagi benar-benar belum sempat
berkenalan. Praktis satu botol minuman dingin dan satu gelas es jus
minuman pembuka tandas untuk mencocokkan data dan bertukar metadata
saat ini. Harta, tahta, dan wanita diterjemahkan sebagai,
&#8220;kendaraan-rumah&#8221;, &#8220;posisi di kantor&#8221;, dan &#8220;pasangan hidup.&#8221;
Berkuasa atau dikuasai, itulah tiga fitnah yang dikendalikan
umat manusia hingga akhir zaman.</p>

<p><a href="http://www.flickr.com/photos/tauladan_adib/2954580033/"> <img src="http://farm4.static.flickr.com/3244/2954580033_1e07f1d25c.jpg?v=0" alt="" /></a></p>

<p><i>Foto di atas diambil oleh Cak Adib dan merujuk pada tautan ke
akun Flickr miliknya.</i></p>

<p><span id="more-219"></span></p>

<p>Pidato pembukaan rupanya <i>didapukkan</i> kepada mereka yang datang
dari &#8220;negeri jauh.&#8221; Cak Adib dari ibukota tentu paling &#8220;bermandi
keringat&#8221; walaupun mungkin beliau mencarter pesawat capung pertama
bandara Notohadinegoro, sedangkan saya mewakili perjalanan di alam
maya memberi icip-icip manis jejak petualang sejak bertemu Cak
Bambang <i>ba&#8217;da</i> sarapan <i>dhuha</i> di kantin kampus hingga
provokasi para kamerad untuk menegakkan blog.</p>

<p>Agar tak seperti Hanafi dalam roman <cite>Salah Asuhan</cite>, yang
mengalami gegar budaya saat kembali ke kampung, saya jelaskan bahwa
aktivitas di Internet tersebut semata-mata alasan kepraktisan bagi
sebagian teman. Tetap saja, sebagian informasi yang lain malah lebih
gamblang beredar di seputar Kafe Cak Tawal. Intinya: tentu akan
lebih baik jika dua keadaan tersebut dapat dihubungkan dengan cara
tertentu. &#8220;Penguasa angin&#8221; dan &#8220;penguasa air&#8221; menurut kisah Avatar.</p>

<p>Topik penting pertama yang dibicarakan berikutnya adalah keinginan
warga B-1 atau Krokus untuk menyelenggarakan kumpul-kumpul rutin
setiap tahun. Lebaran secara <i>de facto</i> dianggap sebagai masa
yang tepat untuk merealisasikan rencana tersebut, sehingga hadirin
langsung mengajukan pilihan: tanggal 2 atau 3 Syawal? Hingga akhir
pertemuan tidak dicapai kata sepakat ihwal tanggal kumpul-kumpul,
namun dugaan saya pribadi dua hari tersebut fleksibel untuk dipilih
dan &#8220;relatif menguntungkan.&#8221; Paling yang perlu dikomunikasikan:
almanak Hijriah berpotensi &#8220;membingungkan&#8221; dari sisi penetapannya,
terutama untuk bulan Syawal. Jadi nanti akan dikembalikan kepada
panitia reuni untuk menetapkan realisasi bilangan Masehinya.</p>

<p>Tempat penyelenggaraan kumpul-kumpul akan dirundingkan kemudian,
yang jelas Kafe Cak Tawal sudah dijadikan &#8220;posko aliran informasi&#8221;,
terutama untuk menghubungkan mereka yang masih di Jember dan para
pengelana yang berbekal alamat maya. Mbak Etha juga menulis daftar
para komite: pengarah, pelaksana, dan tak ketinggalan para sponsor.
Sejumlah &#8220;tokoh masyarakat&#8221; dan &#8220;agen pembaharuan atau <abbr title="Lembaga Swadaya Masyarakat">LSM</abbr> pribadi&#8221; diarahkan
mengisi pos-pos tersebut.</p>

<p>Topik kedua tentang usulan rintisan usaha yang dapat dijalankan
bersama. Salah satu rujukan yang dilontarkan saat itu adalah
kegiatan usaha salah satu kelompok alumni Fakultas Peternakan Unej.
Teman-teman B-1 melihat pola investor dan pelaksana dapat dijalankan
dengan menggunakan pertemanan alumni. Sebuah model bisnis &#8220;yang
guyub&#8221; barangkali. Saya melihat hal ini sebagai sebuah konsekuensi
sekaligus pengikat tambahan sebuah reuni, bentuk yang lebih matang
dari sekadar cangkrukan era Warung Rambo. Biasanya tema sosial atau
model bisnis paguyuban dapat dijadikan buhul pengikat rindu, pemikat
hati.</p>

<p>Kafe Cak Tawal juga dilihat dari perspektif tersebut: barangkali
hendak diperluas atau ditambahi model usaha lain, siapa sangka?
Kedelai nikmat, semangka segar, dan camilan renyah, lebih-lebih
percakapan setelah dua dasawarsa tiada bersua, memendamkan ide
tersebut sebagai wacana sore tersebut dan akan ditindaklanjuti
berikutnya.</p>

<p><i>Aduhai, seperti sepasang sejoli yang baru bertemu kembali: banyak
kisah semerbak hendak dibisikkan lewat lisan, namun degup jantung
menahan rindu agar akal tetap sehat bahwa masa bersua berbilang
singkat.</i></p>

<p>Demikianlah, perhelatan sebagian &#8212; karena yang disebut reuni di
mana pun bukan harus menghadirkan semua &#8212; teman-teman
Biologi&nbsp;1 yang meriah dalam rasa. Sepanjang acara hingga saya
dan Rofiq pamit pulang boleh dikata dibalut &#8220;perkenalan ulang&#8221;,
meringkas masa yang panjang dalam kata-kata kunci yang terbatas.</p>

<p>Apapun, saya ucapkan uluk salam hangat untuk teman-teman Krokus yang
berniat menghidupkan kebersamaan kelas dengan cara mereka sendiri.
Lepas dari diskusi di milis alumni tahun 1988 akan pilihan reuni
kelas atau angkatan dalam jumlah lebih besar, tentu keduanya sangat
mungkin berjalan beriring. Tidak semua kelas punya pretensi untuk
berkumpul seperti yang telah dilakukan Krokus, menjadikan pertemuan
angkatan dalam wadah yang &#8220;lebih lebar&#8221; dan &#8220;lebih lepas&#8221; masih
diperlukan. Barangkali juga dari sekian teman-teman alumni 1988 juga
memiliki reuni yang jauh lebih kecil lagi, misalkan pertemanan
belajar bersama atau kebetulan satu gang di Kebonsari, adalah sangat
mungkin di era jejaring sosial seperti sekarang. Ungkapan baru atau
orisinil sih, bukan; melainkan semacam revitalisasi.</p>

<p>Saya mewakili pengelola aset di ranah maya membuka diri dan
menawarkan seandainya ada sesuatu yang dapat dijadikan kerja sama
pemakaian fasilitas, <i>monggo kerso</i>, dibicarakan. Insya Allah,
manfaat untuk lebih luas lagi yang kita dambakan. Memulai dari
tindakan lokal, bermanfaat untuk hadirin global.</p>

<p>Di perjalanan pulang, saya bercakap dengan Rofiq tentang
karakteristik kelas-kelas angkatan kita dan sangat mungkin untuk
Biologi&nbsp;1 diperlihatkan dengan potensi kebersamaan mereka dalam
bentuk di atas.</p>
<img src="http://sma1jember.info/?ak_action=api_record_view&id=219&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sma1jember.info/2008/10/reuni-biologi-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bisnis yang menggiurkan..</title>
		<link>http://sma1jember.info/2008/06/bisnis-yang-menggiurkan/</link>
		<comments>http://sma1jember.info/2008/06/bisnis-yang-menggiurkan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jun 2008 03:15:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita-cerita Enteng]]></category>
		<category><![CDATA[Warta Berita]]></category>
		<category><![CDATA[atm]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis menggiurkan]]></category>
		<category><![CDATA[penipuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sma1jember.info/?p=204</guid>
		<description><![CDATA[Bapak hampir ketipu seperti Pak xxx modusnya sama akan ada konferensi international, supaya bapak menghubungi P. Rasio (kepala kanwil depdiknas) jatim terus bapak bilang ndak2, trs dianya menutup tlp kantor jam 12 kurang dikit kira2 sama dg Pak xxx saat itu. Pukul 13.50 kemarin (11 juni 2008) saya menerima SMS dari Ibu mengabarkan informasi diatas. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bapak hampir ketipu seperti Pak xxx modusnya sama akan ada konferensi international, supaya bapak menghubungi P. Rasio (kepala kanwil depdiknas) jatim terus bapak bilang ndak2, trs dianya menutup tlp kantor jam 12 kurang dikit kira2 sama dg Pak xxx saat itu.</p>

<p>Pukul 13.50 kemarin (11 juni 2008) saya menerima SMS dari Ibu mengabarkan informasi diatas. Tentang bisnis yang paling menguntungkan di Indonesia.. Ya, penipuan memang sudah dijadikan ladang bisnis yang sangat menggiurkan bagi sebagian orang yang suka tertawa pada penderitaan orang lain. Kurang dari seminggu yang lalu, rekan bapak saya yang bernama Pak xxx tertipu mentah-mentah sampai harus merelakan belasan juta rupiah tabungan yang telah disimpannya bertahun-tahun.. berapa sich gaji seorang dosen senior di Indonesia.. Untuk bisa menabung sedemikian beliau itu harus bermandikan darah dan air mata.. Kebetulan waktu itu Bapak saya sedang satu mobil dengan Pak xxx dalam perjalanan ke Surabaya. Ditengah perjalanan Pak xxx ini ditelpon oleh orang yang mengaku dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi akan adanya undangan seminar di Jakarta. Biaya perjalanan akan ditanggung sehingga Pak xxx ini tidak perlu minta SPJ dari Universitas. Untuk itu Pak xxx diminta untuk menghubungi Pak Rasio dari Depdiknas Jatim. Tentu saja para penipu ini mencatut nama pejabat yang sebenarnya. Waktu itu Bapak saya sempat nyeletuk, <em>“ koq tumben urusannya ke diknas jatim”</em>. Mungkin Pak xxx ini sedang mengalami <em>euphoria</em> sehingga menjadi tidak waspada. Permainan ini sangat ditentukan oleh kecepatan dari para penipu untuk segera membujuk calon korbannya ke ATM. Kalau waktu terlalu lama, maka korban akan punya banyak kesempatan untuk berpikir secara rasional. Pak xxx ini kemudian menghubungi nomor pejabat gadungan yang dikasih oleh para penipu, dan <span style="yes;"> </span>diberitahu kalau biaya perjalanan untuk seminar di Jakarta akan segera ditransfer.. tolong dicek di ATM terdekat&#8230;akhirnya, seperti yang sudah sudah.. korban bertambah lagi..</p>

<p>Sejak dulu saya berpendapat bahwa bisnis yang paling menguntungkan di Indonesia adalah penipuan. Pasarnya tersedia.. sangat luas bahkan.. segmentasinya bermacam-macam.. ada untuk penipuan tenaga kerja (paling banyak), undian berhadiah, beasiswa, koperasi simpan pinjam (kospin).. bahkan penipuan kelamin.. hahaha.. dijanjikan untuk dinikahi setelah diutak atik ditinggalkan..</p>

<p>Ini seharusnya menjadi bahan yang sangat menarik untuk disertasi untuk bidang sosiologi atau antropologi.. bahan berita selalu ada.. paling tidak kalau berlangganan koran, minimal seminggu 3 kali ada berita tentang penipuan-penipuan dengan berbagai modus operandi.. Keserakahan dari para penipu dan sifat serba instan yang disukai oleh orang Indonesia menjadikan kasus-kasus ini tidak pernah sepi .. baik peminat ataupun korban..</p>

<p>Gimana ? mau berbisnis..? waspadalah.. waspadalah</p>
<img src="http://sma1jember.info/?ak_action=api_record_view&id=204&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sma1jember.info/2008/06/bisnis-yang-menggiurkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berita Duka</title>
		<link>http://sma1jember.info/2008/05/berita-duka/</link>
		<comments>http://sma1jember.info/2008/05/berita-duka/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 May 2008 03:03:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>afton</dc:creator>
				<category><![CDATA[Warta Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sma1jember.info/?p=188</guid>
		<description><![CDATA[Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun Telah berpulang ke Rahmatullah, rekan kita saudara kita : S U C I W U L A N D A R I ( W U L A N) Mantan Ketua OSIS SMA Negeri 1 Jember 1986-1987 (dalam usia 39 tahun) Pada hari ini, 16 Mei 2008 Rumah duka : [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun</p>

<p>Telah berpulang ke Rahmatullah, rekan kita saudara kita :</p>

<p>S U C I    W U L A N D A R I  ( W U L A N)</p>

<p>Mantan Ketua OSIS SMA Negeri 1 Jember 1986-1987</p>

<p>(dalam usia 39 tahun)</p>

<p>Pada hari ini,  16 Mei 2008</p>

<p>Rumah duka : Perumahan Palem Semi Jl Panda 1 no 12 Karawaci, Tangerang, Banten</p>

<p>Ucapan duka cita, dapat menghubungi Bp Dientos (081586181381)</p>

<p>Semoga Almarhumah mendapatkan tempat yang layak disisiNya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, Amin&#8230;</p>
<img src="http://sma1jember.info/?ak_action=api_record_view&id=188&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sma1jember.info/2008/05/berita-duka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>55</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

