Dalam perjalanan menuju Dinkes dengan seorang kolega kemarin pagi, di tengah angin kencang dan hujan deras yang mengguyur Sidoarjo, kami sempat terlibat pembicaraan ringan tentang bencana alam yang terjadi di negeri ini, terutama di Jawa Timur. Sekarang ini, dimanapun kita tinggal rasanya semua punya potensi untuk terkena bencana alam.
Dulu, kupikir tinggal di daerah dataran tinggi, semisal Malang akan menyenangkan sekali. Sudah hawanya sejuk, panorama alam indah, tanaman mudah tumbuh dan air yang selalu segar. Tapi tampaknya keadaan tsb. tidak selalu demikian adanya. Sekarang ini, tinggal di daerah tinggi, justru ancaman tanah longsor mengintai sewaktu-waktu, terutama saat musim hujan tiba.
Di daerah pesisirpun, sebenarnya menyenangkan juga. Sekalipun hawanya relatif lebih panas. Tetapi kita bisa dekat dengan laut, bisa melihat cakrawala luas, melihat matahari tenggelam atau terbit, asik juga. Tapi, kalau mengingat bahwa tiap saat tsunami bisa datang dengan tiba-tiba, banjir pasang air laut dan badai yang memporak porandakan semua yang ada di pesisir, tentu ada perasaan takut juga. Sangat manusiawi.
Bagaimana dengan di perkotaan? Wah, tentu saja enak sekali. Secara fasilitas, semua ada dan lengkap, tinggal pilih saja yang penting ada uang. Tapi, karena biasanya penduduk lebih padat, tentu saja kawasan pemukiman jadi lebih rapat, daerah resapan air berkurang karena banyaknya bangunan2, belum lagi perilaku masyarakat yang tidak disiplin menjaga kebersihan, sistem drainase yang asal saja, perencanaan tata ruang kota yang tidak holistik. Membuat permasalahan di kota lebih kompleks. Akibatnya, ketika musim kemarau, air susah didapat dan kadang berbau serta kotor. Sedangkan saat musim hujan, air cepat sekali meluap sekalipun hanya diguyur hujan deras 1-2 jam saja.
Bagaimana jika tinggal di daerah sekitar aliran sungai? Kalau melihat betapa hebatnya sungai Bengawan Solo menenggelamkan kota2 di sepanjang alirannya dan menghancurkan semuanya, aku ngeri juga membayangkan. Padahal di Jember saat kecil dulu, keluargaku tinggal di pinggir sungai Bedadung. Sampai kelas 4 SD, rumahku di daerah Tembaan (d/h jl. Untung Suropati), masuk gang, dan rumahnya berjarak 50 meter dari tepi sungai. Ketika musim panas menyenangkan sekali bermain di sungai. Berenang, cari ikan, atau sekedar duduk2 di bebatuan yang besar sambil menikmati sensasi kaki yang digigiti ikan kecil-kecil. Airnya masih jernih kala itu, ikan-ikan yang berenang tampak jelas, wah asik dah! Tapi jangan tanya kalau pas musim hujan. Air sungai Bedadung yang tadinya jernih, bisa berubah jadi coklat, lebar sungai jadi 2 kali lipat, permukaan air meninggi, belum lagi suaranya yang gemuruh. Serem! Hanya karena posisi sungainya yang dalam, kekhawatiran karena banjir tidak pernah ada. Entah sekarang, bagaimana kabar si Bedadung?
Lantas, dimana sebaiknya kita tinggal? Yah…, dimanapun kita tinggal kini, apapun dan bagaimanapun keadaannya, itulah tempat kita yang terbaik. Asal kita bisa menjaga, merawat dan mencintai lingkungan sekitar dan rumah kita, tentu akan menjadi tempat yang sehat, indah, nyaman dan menjadi tempat yang paling dirindukan saat kita pergi.
Tak terasa, percakapan pagi itu harus diakhiri karena sudah sampai di tujuan. Hujan masih deras, angin sudah berkurang kecepatannya, jalan raya Porong hari itu ditutup total karena tanggul jebol dan membanjiri jalan raya sampai setinggi dada. Benar-benar pagi yang suram, tapi banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran dan renungan.
Aku jadi ingat pertanyaan yang dilontarkan anak sulungku kepada ayahnya. “Pa, orang Amerika sekarang sudah merencanakan untuk tinggal di bulan, jika tanah di bumi sudah habis. Lalu kita orang Indonesia mau tinggal di mana?” Apakah kecemasan dan kekhawatiran yang akan kita tinggalkan untuk anak cucu kita? Kuharap tentu tidak.
Popularity: 13% [?]