Jember Trip 2008

Menjelang tanggal 31 Desember 2007, aku sedikit was-was. Rencana ke Jember untuk sowan orang tua dan njemput anak terancam gagal sebagai akibat banjir yang melanda wilayah Jateng dan Jatim. Luapan air Bengawan Solo yang makin menyebar, membuat jasa transportasi antar kota terganggu. Setelah cari info sana-sini, akhirnya tak tekati mabur dari Jogja ke Surabaya.

Senin jam 13.15 waktu Surabaya. Angin sejuk menerpa, sedikit mendung membuat suasana kota Surabaya terasa nyaman. Nggak seperti biasanya.. puanass. Aku nelpon Dr. Sevi dan Cak Ariek untuk melaporkan kehadiranku di Jawa Timur setelah hampir 2 tahun meninggalkannya. Tepat jam 2 siang, Bis Patas TJIPTO mengantarkan aku dan istri melalui kota “setengah mati” PORONG.

Continue reading “Jember Trip 2008”

Mau tinggal di mana kita?

Dalam perjalanan menuju Dinkes dengan seorang kolega kemarin pagi, di tengah angin kencang dan hujan deras yang mengguyur Sidoarjo, kami sempat terlibat pembicaraan ringan tentang bencana alam yang terjadi di negeri ini, terutama di Jawa Timur. Sekarang ini, dimanapun kita tinggal rasanya semua punya potensi untuk terkena bencana alam.

Dulu, kupikir tinggal di daerah dataran tinggi, semisal Malang akan menyenangkan sekali. Sudah hawanya sejuk, panorama alam indah, tanaman mudah tumbuh dan air yang selalu segar. Tapi tampaknya keadaan tsb. tidak selalu demikian adanya. Sekarang ini, tinggal di daerah tinggi, justru ancaman tanah longsor mengintai sewaktu-waktu, terutama saat musim hujan tiba.

Di daerah pesisirpun, sebenarnya menyenangkan juga. Sekalipun hawanya relatif lebih panas. Tetapi kita bisa dekat dengan laut, bisa melihat cakrawala luas, melihat matahari tenggelam atau terbit, asik juga. Tapi, kalau mengingat bahwa tiap saat tsunami bisa datang dengan tiba-tiba, banjir pasang air laut dan badai yang memporak porandakan semua yang ada di pesisir, tentu ada perasaan takut juga. Sangat manusiawi.

Bagaimana dengan di perkotaan? Wah, tentu saja enak sekali. Secara fasilitas, semua ada dan lengkap, tinggal pilih saja yang penting ada uang. Tapi, karena biasanya penduduk lebih padat, tentu saja kawasan pemukiman jadi lebih rapat, daerah resapan air berkurang karena banyaknya bangunan2, belum lagi perilaku masyarakat yang tidak disiplin menjaga kebersihan, sistem drainase yang asal saja, perencanaan tata ruang kota yang tidak holistik. Membuat permasalahan di kota lebih kompleks. Akibatnya, ketika musim kemarau, air susah didapat dan kadang berbau serta kotor. Sedangkan saat musim hujan, air cepat sekali meluap sekalipun hanya diguyur hujan deras 1-2 jam saja.

Bagaimana jika tinggal di daerah sekitar aliran sungai? Kalau melihat betapa hebatnya sungai Bengawan Solo menenggelamkan kota2 di sepanjang alirannya dan menghancurkan semuanya, aku ngeri juga membayangkan. Padahal di Jember saat kecil dulu, keluargaku tinggal di pinggir sungai Bedadung. Sampai kelas 4 SD, rumahku di daerah Tembaan (d/h jl. Untung Suropati), masuk gang, dan rumahnya berjarak 50 meter dari tepi sungai. Ketika musim panas menyenangkan sekali bermain di sungai. Berenang, cari ikan, atau sekedar duduk2 di bebatuan yang besar sambil menikmati sensasi kaki yang digigiti ikan kecil-kecil. Airnya masih jernih kala itu, ikan-ikan yang berenang tampak jelas, wah asik dah! Tapi jangan tanya kalau pas musim hujan. Air sungai Bedadung yang tadinya jernih, bisa berubah jadi coklat, lebar sungai jadi 2 kali lipat, permukaan air meninggi, belum lagi suaranya yang gemuruh. Serem! Hanya karena posisi sungainya yang dalam, kekhawatiran karena banjir tidak pernah ada. Entah sekarang, bagaimana kabar si Bedadung?

Lantas, dimana sebaiknya kita tinggal? Yah…, dimanapun kita tinggal kini, apapun dan bagaimanapun keadaannya, itulah tempat kita yang terbaik. Asal kita bisa menjaga, merawat dan mencintai lingkungan sekitar dan rumah kita, tentu akan menjadi tempat yang sehat, indah, nyaman dan menjadi tempat yang paling dirindukan saat kita pergi.

Tak terasa, percakapan pagi itu harus diakhiri karena sudah sampai di tujuan. Hujan masih deras, angin sudah berkurang kecepatannya, jalan raya Porong hari itu ditutup total karena tanggul jebol dan membanjiri jalan raya sampai setinggi dada. Benar-benar pagi yang suram, tapi banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran dan renungan.

Aku jadi ingat pertanyaan yang dilontarkan anak sulungku kepada ayahnya. “Pa, orang Amerika sekarang sudah merencanakan untuk tinggal di bulan, jika tanah di bumi sudah habis. Lalu kita orang Indonesia mau tinggal di mana?” Apakah kecemasan dan kekhawatiran yang akan kita tinggalkan untuk anak cucu kita? Kuharap tentu tidak.

Setahun + 179 hari

Menurut berita Jawa Pos tadi pagi, hari ini genap setahun + 179 hari bencana lumpur di Porong Sidoarjo sudah berlangsung. Setelah sekian lama, kira-kira seminggu yang lalu aku berkesempatan ‘jalan-jalan’ ke lokasi bencana. Diantar seorang teman baik, aku diajak berkeliling menyusuri lokasi bencana mulai dari sisi utara, timur, barat dan selatan. Sangat terbengong-bengong, karena tidak pernah membayangkan sampai separah dan sedemikian besar kerusakan yang terjadi. Pokoke serem, mengenaskan, memilukan…wah udan tangis pendeke…hehehe..

Cerita2 tentang bencana tsb. kupikir sudah banyak yang tahulah. Aku hanya berbagi cerita lewat beberapa gambar yang sempat kuambil. Silakan membayangkan sendiri kesedihan yang terjadi di sana. Jika ada yang singgah ke Sidoarjo, aku bersedia menjadi guide yang baik hati dan tidak sombong…..wkk…wkk….

Ini ada beberapa foto yang sempat kuambil gambarnya.

p1010085-edr.jpgp1010089-edr.jpgp1010092-edr.jpgp1010103-edr.jpgp1010108edr.jpgp1010130-edr.jpgp1010138-edr.jpg

Makasar

Pantai Losari

Aku menginjakkan kaki pertamakali di Makasar th. ’92. Ikon pantai Losari yang terkenal dengan restoran terpanjang di Indonesia, menjadi daya tarik yang kuat waktu itu. Tentu saja berfoto siang hari di tepi pantai menjadi agenda utamaku (sedikit narsisistik memang), dan menikmati sore hari di tepi pantai sambil makan pisang eppe’ dan nun di ufuk barat langit semburat merah mengantar mentari tenggelam, adalah pemandangan yang amat berkesan dan indah. Sangat natural…..

Tapi itu duluuuuu, kenanganku 15 tahun yll. Losari yang kukunjungi lebaran kemarin adalah Losari yang tetap indah, tapi tidak natural. Terlalu banyak make up justru menghilangkan inner beauty-nya. Mungkin dengan dalih pembangunan, revitalisasi atau apalah istilahnya. Sekarang , tidak ada lagi penjual pisang eppe’, ikan bakar, es degan di sepanjang tepian pantai. Mereka direlokasi di satu tempat tidak jauh dari pantai Losari, yaitu di Tanjung Bunga. Kemudian ditepi pantai dibangun taman dari beton yang menjorok ke laut, cukup luas sehingga bisa jadi tempat pentas musik. Tapi buatku yang bukan orang Makasar, agak sedih mungkin. Karena kenangan 15 tahun yll amatlah berkesan.