Sedikit Jejak Sejarah Pahlawan Jember

Mungkin bosen ya baca postinganku tentang sejarah Jember, tapi ya gimana lagi, aku suka banget belajar sejarah, meskipun gak kuliah di Ilmu sejarah… Apalagi itu soal sejarah hal-hal yang dekat dengan kita.. sejarah Jember misalnya. Nah mumpung baru Februari kemarin sempat pulang ke Jember, ya tak mangfaatken,,(yang bener manpaatkan, munfaatkan atau manfaatkan ya..) untk napak tilas tempat-tempat yang bersejarah.. Yuk mulai ceritanya.

Achmad Rizal van Patrang Nah , kalo memasuki Kota Jember dari arah Surabaya, pasti ketemu sama patung ini (Kecuali naik Kereta Api).. letaknya pas diujung doubleway, jalan Hayam Wuruk, Kaliwates Jember. Taruhan deh.. gak banyak yang tahu ini sebenarnya patung siapa dan dalam rangka apa dan kenapa kok menunjuknya ke arah Timur.. Kok gak ngacung ke atas, kok gak mengacung pake 3 jari.. Metal … atau jari tengah he..he.. sing iki saru  🙂

Lah kenapa kok pake ngerangkul temannya yang terlihat terluka, kok gak berpelukan kayak teletubbies.. dan banyak pertanyaan kenapa yang lain.. Tapi itu kan buat orang yang kritis.. tapi juga buat orang yang kurang kerjaan kayak aku.

Kalo patung ini didekati, tidak ada informasi satupun yang tersisa di prasasti di bawah patung. jang kosong, cuma marmer hitam tanpa tulisan apapun…. sumpah deh..kalo gak percaya lihat nih di foto berikutnya.

Lho, terus buat apa bikin patung terus gak ada penanda/informasi satupun tentang maksud monumen itu didirikan, mestinya kan ada imfo-nya, jadi gak cuma jadi penghias jalan, tapi jadi bahan untuk dikenang warga Jember.

Continue reading “Sedikit Jejak Sejarah Pahlawan Jember”

YANG MENARIK DI STASIUN KERETA API JEMBER

Alhamdulillah kemarin tanggal 4-6 Februari aku mendapat kesempatan pulang kampung ke Jember… dan yang lebih menyenangkan lagi kepulanganku ini  kalo menurut istilah Cak Fikik adalah PUBIDI.. PUlang atas BIaya Dinas… soalnya aku ditugaskan oleh kantor untuk menghadiri resepsi pernikahan teman sekantor di Genteng, Banyuwangi.

Nah sebagai PBKA (Penggemar Berat Kereta Api) ya mesti KA tak jadikan pilihan utama sebagai alat trasnportasi yang akan membawaku ke kampung halaman tercinta. Meskipun hati agak dag-dig-dug soalnya gak sampai seminggu sebelumnya terjadi terjadi kecelakaan KA di Stasiun Langensari, Banjar yang menewaskan 3 orang (salah seorang dari korban adalah mahasiswiku). Tapi masalah jodoh, rejeki dan umur itu kan urusan ALLAH, dengan Bismillah aku berangkat ke Jember. Dan kalo naik KA pasti berhentinya di Staasiun KA, yo jelas mosok numpak sepur mudune ning terminal..

Continue reading “YANG MENARIK DI STASIUN KERETA API JEMBER”

Palagan Jumerto, Saksi Perjuangan Rakyat Jember

Tulsan ini mungkin masih berkaitan dengan tulisanku yang lama tahun 2008

Desa Jumerto, Patrang, Jember, menyimpan sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan NKRI. Tiga belas anggota Brimob dan 20 warga setempat tewas karena ditembus peluru pasukan Cakra dari KNIL Belanda yang berniat menduduki Indonesia. Monumen Palagan Jumerto yang berdiri di depan Kelurahan Jumerto, Kecamatan Patrang, tetap kukuh. Deretan nama 13 anggota Brimob Polri dan 20 warga setempat tertulis jelas pada monumen yang diresmikan 1 Juli 1984 oleh Kapolda Jawa Timur saat itu, Mayjen Polisi Soedarmadji.

Kapolres Jember saat itu, Letkol Polisi H Soemardiono, juga tertulis di monumen tersebut. Dua bambu runcing, logo Brimob, logo Polri, serta logo Polda Jatim, pun terpampang di monumen bersejarah tersebut.

Tidak banyak yang tahu sejarah monumen setinggi 10 meter tersebut. Para saksi mata peristiwa maut itu sudah tiada. Kini tinggal anak dan para cucu saksi mata yang tetap mengenang sejarah kepahlawanan 13 anggota Brimob dan 20 warga Jumerto tersebut.

Suhadi, salah seorang warga Ju­merto, menyatakan mendapatkan cerita kepahlawanan itu dari Abdarullah, ayahnya yang meninggal lima bulan lalu. Dia kemudian men­ceritakan peristiwa Palagan Jumerto. Kejadian tersebut bermula dari kedatangan 13 anggota Brimob yang mendapatkan tugas patroli keliling Jawa Timur (Jatim).

“Tiga belas anggota Brimob itu baru datang dari perjalanan panjang,” kata Suhadi. Sebelum menginap di Desa Jumerto, mereka menempuh perjalanan dari Lumajang, Malang, dan Blitar. “Ayah saya lupa harinya. Saat itu 1949,” tambahnya.

Continue reading “Palagan Jumerto, Saksi Perjuangan Rakyat Jember”

SALAH SEBUT DI PATRANG

Kebetulan bulan Januari 2010 kemarin, aku berkesempatan untuk jalan-jalan ke Palembang, Sumatera Selatan. Selain Jembatan Ampera-nya yang membentang diatas sungai Musi, pempek dan durennya ada hal lain yang membuat aku terkesan. Di Palembang, jalan-jalan protokol dinamakan dengan nama-nama terasa asing bagi orang yang baru menginjakkan kaki di Palembang. Beberapa nama jalan itu misalnya Jalan Kapten Rivai, Jalan Mayor Ruslan, Jalan Mayor Salim, Jalan Ki Ronggo Wirosentiko, Jalan Kapten Anwar Sosro, Jalan Letnan Dua Rozak dan masih banyak nama jalan lain yang menggunakan nama orang yang aku gak kenal. Dari bincang-bincang dengan teman yang tinggal di Palembang barulah aku ‘ngeh’ bahwa  nama-nama yang dipampang di jalan-jalan di kota Palembang terkait dengan peristiwa Pertempuran 5 Hari Palembang yang heroik di 1-5 Januari 1947.

Dibandingkan di Jember sebenarnya tidak terlalu istimewa, karena di Jember juga ada Jalan M Seruji, Jalan dr Subandi, JalanR Sudarman..tapi di Jember cuma sedikit sedangkan di Palembang..beuh.. banyak banget 🙂 Continue reading “SALAH SEBUT DI PATRANG”

Florida Theater

Akhir tahun-tahun 70-an dan awal 80an, hampir setiap malam Minggu saya selalu menonton film India yang diputar di gedung bioskop Misbar (gerimis bubar) di jalan Trunojoyo. Asyik juga menonton di Misbar. Harga tiketnya murah sekali, kalo tidak salah ingat kurang dari seratus rupiah waktu itu. Mungkin nilai itu sekitar dua pertiga sampai setengah dari harga tiket di gedung bioskop lainnya. Selain itu ada jeda waktu istirahat setelah sekitar setengah pemutaran film. Penonton bisa jajan, pipis dll. Tapi seingat saya yang paling tidak enak waktu setengah permainan itu, selalu ada seorang ibu tua yang menjadi penonton setia yang selalu (maaf) pipis di tempat. Mungkin, cara pemutaran ini kurang lazim jikalau dibandingkan dengan pemutaran film di gedung-gedung bioskop GNI, Kusuma, Jaya atau Sampurna yang memutar film dari awal hingga tuntas habis. Eh, ternyata cara pemutaran film dengan jeda barang seperempat jam juga terjadi saat saya menonton film di Leiden. Jadi memberi kesempatan penonton untuk menghela nafas sejenak atau menyapa penonton lain yang baragkali dikenal.

Ternyata, Jember sudah punya gedung bioskop jauh lebih lama lagi. Di tahun 1930an, di Jember telah berdiri Florida Theater. Menilik dari namanya, cukup kosmopolit juga. Berdasar film yang diputar pun, agaknya Hollywood dan Bollywood belum sampai membanjiri Jember. Film Perancis dan Jerman menjadi santapan penonton bioskop di Jember. Gedung ini terletak di Schoolstraat. Saya tidak tahu persis dimana tempat itu berada. Di peta tahun 1922, yang saya temukan hanya nama Schoolweg, yang sekarang di jalan… apa ya? (Maaf saya lupa) Di sepanjang jalan bekas Bank Rakyat Indonesia, SD Katolik Santa Maria, (dulu ada) Sekolah Pendidikan Guru yang berhadapan dengan rumah makan Lestari. Mungkin schoolweg di tahun 30an meningkat peringkatnya menjadi schoolstraat.

Continue reading “Florida Theater”

VISA ON ARRIVAL

This unforgettable story was happened in October 2003 when I would participate International Furniture Fair (INDEX) in Dubai, UAE and High Point International Furniture Fair, High Point, North Carolina, USA. Ticket + Visa untuk USA udah siap sebulan sebelum hari H. Nah, pas seminggu sebelum hari H, temenku sempat nanya, :”mbak Anna, visa ke Dubai gimana mbak? “ aku bilang kalo visa ke Dubai sama kayak tahun kemaren, pake visa on arrival. Tapi… aku ragu, lalu aku langsung telpon organizer, BPEN (Badan Pengembangan Ekspor Nasional or NAFED)) apakah ke Dubai masih tetap pake visa on arrival. But oh my God!!!!! Ternyata jawaban dari BPEN adalah bukan visa on arrival lagi!!!!!. Aku panik banget,tapi aku langsung contact perwakilan kita yg di Jakarta untuk segera mengurusnya, dan di hari yg sama, aku kirim pasportku ama passport temenku ke Jakarta dengan one day delivery service courier. Aku gak tau informasi itu karena aku gak ikut Indonesian group, karena aku masih harus berlanjut ke High Point Fair setelah INDEX Dubai selesai. Nah, untungnya travel agent yg ditunjuk oleh BPEN bersedia membantu mempercepat proses visa.

Biasanya kalo ikut pameran ke luar dan aku berdua ama temenku, aku nggak pernah ikut rombongan. Aku selalu arrange sendiri karena biaya jadi jauh lebih murah. Nah karena arrange sendiri, aku ketinggalan informasi. Aku juga gak nanya2 secara details, nggampangin gitu lho.

Express visa diupayakan akan selesai pada tanggal keberangkatan, and visa akan di antar ama orang kita yg di Jakarta langsung ke bandara Soekarno Hatta.

Pas hari H, rute pertama adalah Surabaya- Jakarta. Pesawat yang seharusnya take off jam 12 siang, ternyata harus di tunda dengan alasan yg gak jelas, padahal kan aku udah harus berada di Bandara Soekarno Hatta jam 4 sore untuk berlanjut ke Singapore (rute selanjutnya adalah Singapore – Bangkok – Istanbul – Dubai – New York – Washington DC – Greensboro). Schedule udah connect sampe balik Jakarta.

Setelah mencak2, teriak2, ngamuk2, kasih ancaman kalo pihak airlines harus ganti semua biaya kalo aku gak bisa connect dengan flightku karena adanya keterlambatan itu, akhirnya aku + temenku dipindah ke airlines lain di business class, and pihak airlines yg delay itu yang menanggung biaya tiket baru.

Tapi pindah ke airlines lain itu, bukan inisiatif dari pihak airlines yang telat itu. Ngamuk2nya kan nggak sekali ngamuk, tapi pas setelah ngamuk pertama, aku langsung cek seat di airlines lain. Ada seats untuk 2 orang, tapi di business class. Ya udah, aku langsung booking untuk 2 orang, tapi aku bilang kalo yg bayar adalah si airlines yg telat itu. They understood me well.

Setelah ngamuk2 lagi dengan sangat hebat, dan memaksa pihak airlines untuk bayar tiket baru, trus setelah mereka foto copy semua tiketku, telpon sana telpon sini, akhirnya mereka bersedia membayar tiket baru business class untuk 2 orang.

Setelah nyampe di Jakarta dengan selamat, ternyata orang kita masih ada di UAE Embassy, Visa blom selesai!!!!! Lebih panik lagi, karena sampe jam 3 sore orang kita masih blom dapat visanya, padahal pesawat (Garuda) akan take off ke Singapore jam 4 sore. Karena udah ngerasa pasti kita nggak bisa terbang dengan flight yg jam 4 sore itu, aku langung ke counter airlines lain untuk tujuan ke Singapore. Ternyata yg masih ada 2 seat untuk tujuan Singapore adalah Air France, take off jam 6 sore . Aku langsung booking 2 seats, tetapi diperbolehkan untuk tidak langsung membayar, sampe visa datang.

Dan Visa baru bisa dikeluarkan UAE Embassy jam 4 sore, tapi koq ndilalah si pembawa visa terjebak macet!!!!!!! Duniaku seolah mau runtuh guys!!!!!! Orang kita yg bawa visa nyampe bandara jam 6.30, and the only one flight which could bring us had been taken off…..untuk beberapa saat kita berdua lemes…. selonjoroan di lantai, hopeless…..

Tapi pasti ada jalan. Kita langsung cari hotel, aku telpon travel agent yg di Surabaya (fortunately aku simpan no HP si customer service, meskipun udah malam tetapi mbak customer service masih mau mendengarkan dan melayani karena udah langganan). Atas saran mbak CS, besok paginya aku pergi ke airlines office (Turkish airlines) untuk ganti ke flight berikutnya, sedangkan yang dari Jakarta Singapore, akan di handle oleh travel agent Surabaya.

Tapi gak semudah itu, karena flight berikutnya (rute Singapore – Bangkok – Istanbul – Dubai ) udah full, gak ada seat blas, tetapi mereka akan usahain semaksimal mungkin, setelah aku jelasin semuanya kenapa aku gak GO SHOW.

Tahun 2003 kan masih seru2nya tentang teroris , dan waktu itu emang ada warning untuk orang Indonesia yg mau visit ke Dubai, nggak semuanya boleh gitu lho, makanya proses visanya agak sulit.

Setelah dari airlines office, aku langsung kirim surat by fax ke head office Turkish airlines yg di Istanbul. Aku jelasin semua kenapa aku gak bisa GO SHOW, trus aku request supaya diberikan 2 seats, karena aku harus ada di Dubai sebelum pameran di mulai. Aku gak ngerti prosesnya bagaimana, yang pasti aku harus tinggal di Jakarta selama 4 hari untuk dapat konfirmasi apakah ada 2 seats atau tidak, nanti pihak airlines yang di jakarta akan memberikan konfirmasi by phone.

Hari ke empat di Jakarta, pas makan siang dan udah pasrah banget, dan yg bisa kita lakukan hanya berdo’a, akhirnya aku ditelpon, dan Alhamdulillah ya Allah, confirmed, aku dapat seats, and semua flightku terconnect kembali……..

Kita berdua selamat sampe Dubai, dan hanya punya waktu 1 hari untuk persiapan pameran, tetapi karena ada salah satu buyer kita yg di Dubai yg care banget, sehingga beliau mengirim beberapa workers-nya untuk bantu build up barang pameran.

Setelah pameran Dubai selesai, tujuan selanjutnya adalah ke High Point dengan rute Dubai – Istanbul – New York – Washington DC – Greensboro. Dari Istanbul ke New York, kita cuma berdua waktu itu yang dari Indonesia, tapi petugas imigrasi di Istanbul gak pandang bulu, meskipun kita berdua perempuan,tetapi harus melalui pemeriksaan or interogasi tepatnya yg sangat details, di cek lamaaaaa banget di computer mereka, sehingga kita berdua adalah passengers terakhir yg boarding.

Nah, pas sampe New York, karena antrian yang sangat panjang, sehingga untuk sampe ke terminal lain untuk tujuan ke Washington DC jadi telat, ketinggalan pesawat lagi…. tapi untungnya masih ada flight berikutnya, dan masih ada seat juga untuk 2 orang. Ya udah, akhirnya aku ikut flight berikutnya. Semua penumpang udah naik, pesawat udah mulai jalan, (pesawat kecil yg untuk rute coast to coast itu lho), tapi koq muter muter aja yaaaa….. (waktu itu aku merem, karena ngantuk, malah aku sempet berpikir, apakah untuk ke Greensboro, pesawat gak perlu terbang yaaaa, koq dari tadi muter murer mulu, gak terbang2. Eh…. Trus mandeg, penumpang di suruh turun semua, trus di suruh balik ke waiting room lagi, trus beberapa saat, suruh ambil bagasi milik masing2, dan ternyata, pesawat nggak bisa terbang karena ada kerusakan mesin, dan penerbangan di tunda besok pagi. Ya ampun….

Kita bingung kan…. kalo besok, kita harus tidur dimana?????? Sebenarnya telat kan salah kita yaaaa…. bukan salah airlines…. tapi daripada kleleran di bandara, aku langsung bicara ke petugas airlines. Aku bilang ama dia, kalo harus berangkat besok, pihak airlines harus nyediain hotel buat aku ama temenku, nggak lucu kan kalo harus kleleran di bandara. Akhirnya si petugas tadi telpon2, trus aku suruh nunggu sebentar, tapi aku nggak beranjak dari meja dia, trus setelah beberapa saat , aku di kasih voucher hotel, dikasih petunjuk untuk keluar melalui pintu tertentu, karena 24 hour shuttle service udah siap untuk antar ke RAMADA PLAZA HOTEL JFK, keren banget.

Besok paginya,perjalanan lancar sampe Greensboro, tidak ada hambatan apapun. I got a lot of fun there, sampe balik lagi ke Surabaya.

Sejak saat itu, aku jadi kapok banget, aku gak mau ceroboh lagi, aku lebih prepare lagi, dan aku jadi lebih deket lagi ama Allah, karena aku percaya Allah bener2 sayang ama aku, and I believe that it was a kind of a miracle.

3S, Seminar, Shopping & Sowan

Sejak awal tahun 2008, sudah ngincer tuh satu seminar di Yogya yang namanya SNATI (Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi) yang tiap tahun di selenggarakan oleh UII (Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta). Di sela-sela waktu ngajar, paper disiapkan untuk dikirim. Nah pada saat yang ditentukan, paper dikirim secara online ke server seminar. Wah terbayang tar ke Yogya, seminar sekalian jalan-jalan sama anak-istri, soalnya istriku tak tulis juga namanya sebagai penulis 2 (dia juga dosen di PT yang sama cuma beda jurusan). Sebenarnya tanpa ada seminarpun bisa aja ke Yogya, tapi kalo pake acara seminar khan enaknya ongkos jalannya dikasih sama Institusi (gak mau rugi ceritanya… 🙂

Pas pengumuman paper yang diterima, aku gak terima email konfirmasi… waduh ada yang salah nih. Padahal teman-teman yang lain yang papernya diterima atau tidak tetep dapat email dari panitia. Wah rencana ke Yogya buyar nih… Tapi beberapa minggu kemudian ada email dari panitianya..”Maap, server kami rusak, jadi paper yang ada disitu ilang deh….Jadi anda diminta mengirim ulang papernya”… weleh..weleh aya-aya wae.. tapi tetap papernya dikirim ulang dan akhirnya diterima dengan sukses.. Asyik.

Menjelang hari H, tiket didapat (wah kebagiannya Lodaya Malam, kelas Bisnis, yang Eksekutif habis) dan segala sesuatu dipersiapkan, terus kontak-kontak Cak Faiz buat minta alamat Cak Eko (soalnya setahuku tempat Cak Eko di dekat jalan kaliurang). Anakku dengan gembiranya bilang ..Jogja.. (kayak iklan rokok di TV). Nah ada yang diluar rencana pas mau berangkat, ternyata Bapak & Ibu mertua mau berangkat ke Yogya juga dari Semarang supaya bisa ketemu cucunya dan anak mantunya yang baik hati ini. Pas sampai Stasiun Tugu Yogya, wah Yangkung dan Yangti udah nunggu di Stasiun (Emang enak kalo punya mertua yang baik hati dan tidak sombong..) jadi enak. Singkat cerita. Pagi aku seminar di UII, anak &istriku sama Bapak-Ibu , jalan-jalan. Sambil seminar kontak-kontak Cak Eko buat janjian ketemu di pesanggrahannya.

Jam 13, belum juga kelar itu seminar, aku cabut ke Pasar Beringharjo dengan rombongku (maksudnya rombongananku) belanja-belanja. Tapi dasar si Shafa, di Beringharjo bukannya jalan-jalan malah minta maen odong-odong sama maen mandi bola (jan tenan arek iki). Jam 4 hampir sampai, waktu yang disepakati buat ketemu Cak Eko aku cabut dari sana. Mampir bentar ke Yu Jum buat beli gudeg kendilnya. Terus lanjut ke Sawitsari.

Duh ternyata Cak Eko yang dulu cuma dilihat di blognya ternyata gak jauh beda dengan aslinya, tetep akrab meskipun baru sekali ketemu, nada bicaranya khas Jember (Cak Faiz gaya bicaranya juga mirip, kalo di telpon lo), dan yang pasti beeesaaarrrr (he..he… kalo di sebelah ada istilah ABG ayah baru gendut, kalo menurutku Cak Eko pantesnya menyandang gelar KRT, Kanjeng Raje Tabuk.. sorry Cak guyoon). Kenalan sama Istri, anak dan mertuanya, ngobrol-ngobrol kemana-mana, dan minum teh hangat di sore yang cerah, membuat aku jadi agak blank (iki mimpi opo tenanan yo… dadi speechless, mangkane Cak Eko dadi tertipu seolah-olah diriku wonge meneng, padahal bingung 🙂

Ok, singkat cerita, sore itu serasa mimpi, pengalaman sing gak akan terlupakan, ketemu KRT Ekoz Guevara sing mbahurekso blog sma1jember.info . Sayang banget waktune sempit banget, dadi gak biso mampir ning padepokane Cak Faiz mergo wis bengi nemen, dadi langsung balik Semarang. Dadi terinspirasi, nek ono rejone jaman, aku tak dolan ning omahe Cacak-cacak & Mbakyu-mbakyu sing ngramekno blog ini… (bahasane koyok Cak Afthon wae.. nek ono rejane jaman.. dasar penggemar kartolo 🙂 ). Sambil jalan-jalan, sambil menjalin tali silaturrahim dengan sesama alumni SMA 1.

Dua tahun sudah bencana itu…

28 Mei 2008

Hari ini tepat dua tahun semburan lumpur di Sidoarjo terjadi. Sudah banyak cerita duka, kepedihan, air mata, benci, amarah dan luka yang tertoreh dalam di hati warga Porong khususnya. Aku tak hendak mengajak itu semua, pun tak ingin membagi duka dan amarah. Biarlah semua yang sudah terjadi, karena waktu takkan berhenti dan juga tak mundur lagi. Kehidupan dan harapan yang lebih baik harus dimulai dari sekarang, sekalipun tampaknya harapan itu hanya setitik saja, tapi Sang Pencipta lebih tahu apa yang terbaik buat warga Porong.

Hari Jumat lalu, tanpa rencana sebelumnya aku meluncur begitu saja ke daerah lumpur di Porong. Sekedar ingin mendokumentasikan keadaan setelah 2 tahun lumpur mengoyak tanah Porong. Tidak ada maksud apapun, barangkali suatu saat anak cucu kita bisa melihat kondisi wilayah Porong yang sekarang. Karena kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti. Foto-foto yang aku ambil bisa disimak disini :

http://flickr.com/photos/sevidiana/

Selamat menikmati, salam hangat buat semuanya

SEBUAH KERINDUAN

(Malam Jumat 20 Maret 2008)

Merinding aku dibuatnya ,ketika wajah wajah syahdu itu melantunkan -sebuah doa, berjamaah, dan penuh makna …… Tampak tatapan mereka seolah-olah jauh kesana. Menatap sebuah kerinduan………….. Kerinduan atas kekasihnya, yang telah membentangkan cahaya keimanan. Dari madinah bahkan terasa sampai di ujung timur pulau Jawa,Maka Selawatpun mengema………….. Terbayang olehku siroh perjalanannya. Terbayang olehku penghambaanya………

Ketika pintu syurga telah terbuka seluas luasnya sebagaimana dijanjikan Alloh Swt untuk baginda. Beliau masih sempat berdiri, rukuk dan sujud diwaktu sepi dimalam hari. Meski kakinya menjadi bengkak untuk kemahuan jiwanya yg tinggi Sayidatina Aisyah pernah bertanya, “Ya Rasululloh, bukankah engkau telah dijamin Syurga? Mengapa engkau masih bersusah payah begini?” Dengan kelembutannya beliau bersabda, “Ya Aisyah, bukankah aku ini hanyalah seorang hamba? Sesungguhnya aku ingin menjadi hamba Nya yang bersyukur.”

Subhanalloh…

(mudah mudahan kita bisa mencontohnya……….)

Terbayang sekali lagi olehku akhlaknyaYang ketika pakaiannya koyak, beliau menambal tanpa menyuruh istrinya Sayidatina Aisyah Ra pernah bercerita, “Kalau Nabi berada di rumah, beliau selalu membantu urusan rumahtangga.” Jika mendengar Adzan beliau segera ke Masjid & segera kembali sesudahnya.

Dan pernah suatu ketika beliau pulang kerumah dalam kondisi yg lapar tapi tak menemukan apa-apa, maka Nabi bertanya, “belum ada sarapan ya Khumairoh?” Aisyah Ra pun menjawab, “Belum ada apa-apa ya Rosululloh.” Lantas Nabi berkata, “Kalau begitu hari ini aku puasa.” Tanpa sedikitpun tergambar rasa kesal di wajahnya. Karena Nabi pun pernah bersabda, “sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik dan lemah lembut terhadap istrinya.” Subhanalloh… (mudah-mudahan termasuk kita…)

Tersadar olehku sepotong hadist, “Sampaikan pesanku walau sepotong ayat.”

Dan saat ini Ya Rosululloh aku telah menyampaikanya walau lewat sepengal cerita

Selawat dan Salam untuk mu.

(ROFIQ BALUNG)

Garut, Kota Wisata di Jawa Barat.

Akhir tahun 2007 penuh dengan cuti bersama, sekalipun sebenarnya gak ngaruh buatku karena tuntutan profesiku (libur gak libur diatur sendiri he..he..) tapi lumayan buat refreshing buat menyegarkan pikiran. Dari awal bulan Desember rencana disusun. Target ditetapkan Cipanas, Garut. Sekalian Bapak-Ibu mertua akan didatangkan dari Semarang supaya bisa ikut bersantai sejenak. Beberapa hotel di telepon, untuk  booking bungalow. Eh… ternyata pada penuh sampai 1 Januari….. Untung masih dapat 1 bungalow di Hotel Cipanas Indah (asli masih blank..gak tahu  itu hotel bagus apa gak…soalnya biasa di Kampung Sumber Alam).  Kamar didapat, DP ditransfer, dan dikonfirmasi. Siap untuk tanggal 29-30 Desember. 

Pada hari H, semua dipersiapkan. Bapak-Ibu mertua  datang pagi-pagi naik KA Harina, so pas subuh harus cabut dulu ke Stasiun Hall, Bandung. Jam 9 pagi kita cabut, rencana lewat jalan Cijapati, lewat daerah perkebunan sambil cuci mata lihat pemandangan…Eh salah jalan, akhirnya lewat jalan biasa, Rancaekek, Nagrek terus Garut. Nah…yang mengejutkan.. ditengah jalan.. Gus Faiz  nelpon  sambil berfatwa..”Zal, CD Mp3 Kartolomu wis siap, saiki lagi tak kirim nganggo Kilat Khusus bil Khusus…”. Alhamdulillah, tambah seneng atiku, jalan-jalan, ditelpon Gus Faiz pisan..he..he.. danau-dariza.JPG

Nah saiki cerito soal Garut dan ojek wisatanya. Tempat wisata paporit (soalnya yang cerito wong sundo he..he..) di Kab. Garut (+/- 65 km Tenggara Bandung) adalah Cipanas. Daerah ini di kaki gunung Guntur, dan memiliki banyak sekali pemandian air panas. Kalo ditempat lain paling hanya ada 1 sumber /kolam air panas (misal, Ciater-Subang,  Ciwalini-Ciwidey Bandung) maka kalo di Cipanas, kolam renang air panasnya saambreg, akeh banget. Tinggal pilih, di hotel kelas melati (ato bahkan kelas kembang tembelek-tembelekan..he..he..) ato di Hotel kelas bintang 3. Pokok sak kuat kantong panjenengan. Dari yang bentuknya losmen, sampai bungalow (spt Kampung Sumber Alam), atau kamar-kamar di atas danau (Danau Dariza), ada, pokok komplit. Untuk sarana rekreasi selain berenang biasa, masih ada water boom, sepeda air, flyng fox dll. 

Cuma itu tempat wisatanya…. Eit sabar dulu… Selain Cipanas, Garut punya tempat wisata yang lain. Mulai dari Gunung, Danau, Kebun teh, Candi sampai pantai. Untuk gunung, sebut saja Gunung Papandayan, dengan naik mobil kita bisa sampai di dekat puncak/kawah Papandayan. Jaraknya sekitar 27 Km dari kota Garut, tepatnya di Kecamatan Cisurupan. Soal pemandangan, gak kalah dengan Tangkuban Perahu yang kondang itu. Kawah Derajat, Cuma 16-17 Km dari Garut, tempat explorasi panas bumi PT Chevron, juga ada Kampung Sampireuen yang terkenal itu. Danau, Garut punya Situ Cangkuang (terkenal dengan Candi Cangkuang dan Kampung Pulo, kampung adat seperti Kampung Naga di Tasikmalaya),  Situ Bagendit dan situ-situ lainnya (disini Danau atau Ranu disebut dengan Situ). 

Pantai di Garut juga indah, emang tidak seterkenal Pangandaran, Carita dll, tapi cukup bagus dijadikan tujuan wisata, misalnya pantai Ranca Buaya, Pameungpeuk, Leuweng Sancang, pantai Santolo dan lain-lain. 

Untuk informasi lebih lengkapnya mungkin tidak ada salahnya buka di www.garut.go.id . Informasinya jauh lebih lengkap dibandingkan pemkabjember.go.id yang menurutku lebih banyak nampilin wajah pejabatnya.. Ada yang berminat melancong ke Garut, sekalian  mensukseskan Tahun Kunjungan Wisata 2008 he..he.. Pokok mau pantai, gunung, hutan, semua ada di Garut. Perlu pemandu, silahkan kontak diriku.(Wis dulu, kepalaku gatel, mau tak garut dulu eh..digaruk dhink….)