dr. H Soemarno Sosroatmodjo, Dari Jember untuk Indonesia

Dari gempita berita tentang Pilkada DKI Jakarta 2012 lalu, sebuah artikel di detik.com menarik perhatianku. Di sana dituliskan nama-nama gubernur DKI yang pernah menjabat  sebelum Jokowi . Diantara nama-nama itu tercantum nama dr H Soemarno Sosroatmojo yang tertulis lahir di Rambipuji, Jember tanggal 24 April 1911. Beliau bahkan menjabat Gubernur DKI Jakarta 2 kali, yaitu periode 1960 – 1964 dan periode 1965 – 1966. Masa jabatan kedua itu dilakoni beliau merangkap sebagai Mentri Dalam Negeri pada Kabinet Dwikora.

Melihat informasi ini, beberapa sumber di internet aku kumpulkan dan yang lebih menggembirakan, ternyata beliau sempat menuliskan buku autobiografi yang judul “Dari Rimba Raya ke Jakarta Raya” yang diterbitkan oleh Penerbit Gunung Agung tahun 1981. Saat ini pasti buku ini sudah tidak ada di toko buku biasa. Alhamdulillah, lewat toko buku online, buku beliau aku dapatkan dan membuatku terngaga membaca perjalanan hidup beliau yang sangat berwarna.

Buku dr H Soemarno

Continue reading “dr. H Soemarno Sosroatmodjo, Dari Jember untuk Indonesia”

Seorang Syekh dan Beo-nya..

 

Alkisah, hiduplah seorang Syekh yang sangat ‘alim di sebuah negeri. Sang Syekh ini punya seekor  burung Beo yang begitu disayanginya. Sedemikian sayangnya, sampai-sampai Syekh tadi bertekad untuk melatih Beo-nya agar bisa mengucapkan kalimat-kalimat thoyyibah.

                Dengan tekun dan penuh kasih saying, Beo itu diajari berbagai kalimat thoyibah. Berkat ketekunan sang Syekh, akhirnya berhasil juga Beo itu mengucapkan “ Laa ‘ilaaha ‘illAllah “. Betapa girang hati sang Syekh atas keberhasilannya itu. Sebagai wujud dari sukacitanya, ditempatkanlah Beo dan sangkarnya di dekat pintu masuk rumah sang Syekh.

                Sebagai seorang yang terpandang karena ilmunya, tentulah rumah sang Syekh tak pernah sepi oleh kunjungan tamu yang sekedar bersilaturrahim hingga yang khusus datang untuk menimba ilmu agama kepada beliau ini. Jadi, tiapkali ada tamu yang datang, Beo itu menyambut dengan ucapan “Laa ‘ilaaha ‘illAllah“. Begitu pula saat para tamu itu pulang, Beo pun mengiringi dengan “Laa ‘ilaaha ‘illAllah“.

                Demikianlah, kebahagian sang Syekh berlangsung sepanjang hari hingga pada suatu hari yang tidak terduga-duga. Tatkala sang Syekh sedang asyik memberi makan si Beo, datanglah para tamu yang ingin bertemu beliau. Karena tergesa-gesa, sang Syekh lupa menutup pintu sangkar si Beo tersebut. Rupanya, kesempatan ini tidak disia-siakan oleh seekor kucing, yang acap berkeliaran di sekitar kediaman Syekh itu. Maka dengan sekali terkam, matilah si Beo “.. keekkkkkk… “

                Begitu nyaring suara si Beo itu, membuat Syekh terperanjat dan segera saja meninggalkan para tamunya. Betapa sedih sang Syekh menyaksikan kematian tragis Beo yang disayanginya. Dengan penuh kegundahan dan diiringi linangan air mata, Syekh pun mengubur si Beo dengan khidmat. Sepeninggal si Beo, Syekh pun menjadi seorang pemurung. Hari-hari banyak dilewati dengan berdiam diri, merenung dan menangis. Tak urung, perubahan ini membuat khawatir para anggota, tetangga serta para sahabat Syekh tersebut.

                Berbagai cara diupayakan untuk menghibur Syekh agar melupakan si Beo itu. Para sahabat, kerabat dan tetangga bergantian menawarkan Beo-beo yang lain sebagai pengganti. Tapi semua ditolak oleh Syekh. Demikianlah hal itu berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Hingga pada suatu hari, Syekh mengundang para kerabat, tetangga dan sahabat untuk mendengarkan penjelasan atas sikapnya setelah kematian Beo kesayangannya itu.

                “ Terima kasih atas perhatian kalian semua kepadaku. Aku memang bersedih karena Beo-ku mati. Tapi bukan karena itu aku menjadi murung berkepanjangan. Diantara kalian tentu ada yang hadir disini ketika Beo itu mati diterkam oleh kucing yang lapar itu. Kalian tentu masih ingat suara terakhir yang terucap dari mulut Beo itu.. “ keeekkkk..” .. Begitulah yang terucap. Sungguh gundah hatiku, kenapa bukan “ Laa ‘ilaaha ‘illAllah “ yang terluncur dari mulutnya saat menjelang ajal ..  Setelah peristiwa itu, makin khawatirlah aku akan keadaan diriku. Apakah aku akan mampu menyebut “ Laa ‘ilaaha ‘illAllah “ saat aku mati nanti ? “

 

Mereka yang menukar nyawanya demi kelahiran anaknya….

Sekitar Srowot (DIY)…BN HOLEC (prameks Jogja-Solo) 29 Mei 2008 06.12.13 WIB….. Nokia hitam menjerit ….tanda ada SMS masuk…. “Innalillahi wainnaillaihi rojiun…..Telah meninggal dunia,teman kita : FRIDA SAFRIANA DEWI…karena sakit di RS PKU Muhammadiyah Surakarta….Kami mohonkan maaf atas segala kesalahan beliau selama hidupnya ” …BNI Sentra Kredit Kecil Solo….. Berita itu begitu menghanyakkan aku…..menghantam telak….meningalkan rasa kehampaan yang dalam…..rasa itu selalu muncul setiap ada berita kematian kawa ato sodara yang sampai pada diriku…

FRIDA …secara pribadi ..bagiku yang barusan mendarat di Solo…bukanlah kawan dalam ati harfiah…karena aku gak pernah jumpa….sekadar kawan satu korps di Bank BNI…tapi berita kematiannya…sama mengejutkannya dengan berita kematian seorang Mbak Wulan….

sempat aku menengok dia…2 hari silam di ICU PKU Muhammadiyah…..dan keadaannya sudah sangat payah ….bertahannya beliau selain karena takdir yang belum dipastikan..Ventilator dan berbagai peralatan medik di PKU Muhamadiyah juga berandil besar…..FRIDA ..menjadi koma setelah pembuluh darah otaknya pecah lantaran tak tahan saat diberikan obat pemacu dalam usahanya melahirkan putra pertamanya yang direncanakan secara normal….lantaran ada riwayat Asthma dia tidak kuat mengawal kelahiran itu secara normal….tapi ketika obat pemacu diberikan…ternyata tubuhnya “kalah”….anaknya dimabil sehat secara caesar sectio….FRIDA ..harus dilarikan ke ICU…..

FRIDA …setelah bertahan …berkat doa da upaya semua dokter…paling tidak ada asa untuk menimang sang putra ….saat hari ke 9…pagi tadi….Allah SWT berkehedak lain…. FRIDA ..harus Syahid….pergi keharibaan Allah SWT…tanpa sempat mengetahui bahwa anak yang diprjuangkan dengan taruhan nyawanya….telah lahir selamat…..

FRIDA adalah Syahidah ..dalam pandangan dan keyakinan saya….karena dia hantarkan ..dia tukarkan nyawanya demi kelahiran anaknya…demi peradaban yang baru….. sejak bumi dihamparkan oleh Allah SWT…saya yakin jutaan wanita telah syahid demi kelahiran sang putra….jutaan wanita telah rela menukar nyawanya……

maka..jika..seorang berani melawan Ibunya ….apakah dia layak disebut sebagai manusia?…. Wanita adalah kemuliaan yang sesunguhnya……

Selamat jalan Kawan….Semoga Syurga adalah tempatmu yang kekal…..

untuk FRIDA….dan para syahidah…..

Mereka ….Menukar Nyawa untuk Anaknya…….

Kereta BN HOLEC …Prambanan Express (gerbong 2)….06.10 WIB..sebuah SMS masuk… ” Innalillahi wainna illaihi roji’un….telah meninggal dunia teman kita : FRIDA SAFRIANA DEWI ..karena sakit di RS PKU Muhammaddiyah Solo. Kami mohonkan maaf atas segala kesalahan beliau selama hidupnya “ BNI Sentra Kredit Kecil Solo berita yang menghentak….FRIDA bukan kawan karib..bahkan kenal pribadipun tidak….dia teman satu corps belaka ….tapi setiap kehilangan seorang kawan ato sodara….kaki terasa dingin…..ada kehampaan karena kehilangan…

dua hari lalu aku sempat nengok beliau..di ICU PKU Muhammadiyah Solo (RS yang kondang gara-gara polisi Densus 88 mengambil paksa Ustadz Baasyir yang lagi sakit) ….dengan selang yang bersliweran di sekujur badan…alo alat Ventilator dan lainnya yang berbunyi ritmis….terus terang..melemparkan saya ..ke masa-masa saat harus menerima kenyataan anak keduaku MUHAMMAD RASHEED…harus berjuang di R NICU di RS Elizabeth Semarang……walau akhirnya Allah berkehendak dia harus pulang ke hadapanNYa….

Frida …adalah seorang ibu yang belum sempat menimang anak yang diperjuangkannya selama ini …karena asthma yang dideritanya…dia mengalami pecah pembuluh darah otak…ketika obat pemacu kelahiran diberikan dokter ….tak ayal setelah operasi cesar yang menolong anaknya …dia harus mengalamai coma ….dipertahankan hidupnya dengan mesin…. Saya sangat yakin…Frida kawan yang belum sempat aku jabat tangannya itu….senantiasa berjuang di bawah sadarnya untuk bisa kembali…kembali…untuk menimang anak yang didambakannya itu…. …setelah berjuang selama 9 hari …badannya menyerah jua…Allah memanggilnya pulang…..Dia seorang Syahidah…orang yang menukar nyawanya demi kelahiran anaknya ……

tercekat aku memandangi layar Nokia hitamku…..rasa dingin merayapi hatiku…sakit..dan…mematikan rasa sejenak…..selama dunia ini dihamparkan oleh Allah….entah berapa juta wanita yang jadi Syahidah…menukar

STROKE NYARIS MERENGUT NYAWA SUAMIKU (by: Triani Widowati)

Penyakit stroke sebenarnya telah aku kenal jauh sebelum aku menikah, karena bapakku (almarhum) pernah terserang stroke sampai 3 kali. Namun sungguh aku tidak pernah menyangka kalau penyakit itu juga akan menyerang suamiku.

Kejadiannya memang sudah sekitar 3 tahun lalu, tapi dampaknya sungguh luar biasa pada suamiku, hingga saat ini dia belum pulih 100%, namun kami sungguh sangat beruntung karena Allah masih memberi kesempatan suamiku untuk sembuh, tetap hidup, dan lebih dekat dengan-Nya.

Sejak awal semestinya kami harus hati2, karena beberapa kali kalau suamiku salah makan, tensinya akan naik. Kalau tidak enak badan, kami pergi ke dokter, nebus obat dan sembuh. Sebenarnya beberapa dokter telah menyarankan agar selalu minum obat untuk mengontrol hipertensi. Namun suamiku menganggap enteng dan sempat marah2 karena dia tidak mau tergantung dengan obat apalagi kalau harus minum obat setiap hari. Mungkin karena dia merasa akan bisa jaga makanan dan mengimbangi dengan olah raga cukup.

Akan tetapi saat kami “didapuk” jadi panitia di acara pernikahan famili pada hari minggu tanggal 1 Mei 2005 di Graha Sativa Dolog Jatim, suamiku bener2 tergoda dengan secara diam2 (tanpa sepengetahuanku) makan daging kambing (kambing guling).

Setelah acara tersebut, besoknya (hari senin) suamiku masih bisa mengantar adikku ke Juanda untuk kembali ke Jakarta. Dan sempet menjemput aku di kantor. Akupun sudah pesankan tiket untuk suamiku ke Jakarta pada hari minggu Tanggal 8 Mei 2005 {sudah janjian sama kakaknya suamiku (yang juga berprofesi pelukis) untuk ikut bantu2 di acara pameran lukisan kakak di Jakarta dan sekalian ingin survei / cari tempat untuk pameran lukisan suamiku}.

Semestinya kami harus waspada atau pergi ke dokter saat hari selasa malam & rabu malam suamiku bilang kakinya kram2 (padahal ternyata maksud suamiku itu kakinya kesemutan). Dan agak aneh juga karena tidurnya pulas banget seperti orang kecapean. Tapi sama sekali kami tidak menyadari akan adanya bahaya yang mengancam. Hari Kamis saat dia jemput aku di kantor (jam 6 sore) dia bilang kepalanya pusing. Akupun santai aja, aku fikir dia lagi manja dan aku bilang kalau kepalaku juga pusing (emang lagi pusing sih he3) dan langsung nyelonong ke parkiran. Kami pun sempat mengisi bensin. Namun saat melaju beberapa saat (sampai depan bioskop Surabaya Teater) suamiku bilang kalau pusing banget dan akupun baru sadar kalau suamiku bener2 pusing berat. Akhirnya kamipun berhenti didepan bioskop Surabaya Teater. Akupun mulai memperhatikan dia dan tanya2 makan apa tadi, badannya panas apa enggak dll. Setelah berhenti sejenak, suamiku bilang kalo sudah mendingan dan ngajak langsung pulang aja. Baru beberapa meter melaju, mobil kami sudah nyrempet kendaraan lain untung yang kami srempet nyantai aja dan meneruskan perjalanan. Tapi feelingku sudah tidak enak, aku bilang ke suamiku “jangan pulang dulu, kita ke DKS (Dewan Kesenian Surabaya) aja” (pikirku kan kalau istirahat di sana lebih aman, dan disana banyak teman kalau ada apa2 kan banyak yang nolong). Akhirnya suamiku tidak jadi ambil jalur kanan (ke arah tol) namun jalan terus. Aku mulai panik saat suamiku nyetirnya oleng lagi aku pun memutuskan untuk berhenti lagi. Sedih juga rasanya kenapa aku nggak bisa nyopir dan selama ini nggak mau belajar nyopir. Tapi suamiku bilang nggak papa kan DKS dah deket. Tapi waktu tak bilang ya udah pakai sabuk pengaman lagi, anehnya suamiku kayak orang bingung cari2 di dashboard dan bicaranya dah gak jelas. Aku panik banget dan bilang kita naik taxi aja. Tapi suamiku bilang gak papa pelan2 aja, dan terus nyetir sambil tak bantu pegang setir karena takut oleng lagi. Lega banget ketika kami sampai DKS tapi ternyata waktu mau masuk ke DKS situasinya pas ramai sedangkan kondisi suamiku dah kelihatan lemas, akhirnya tak putuskan kami terus sedikit dan masuk ke parkiran Gedung DPRD tingkat II (sebelahnya DKS/ sebelah Bioskop Mitra). Begitu mobil berhenti, suamiku langsung pingsan. Akupun lari cari bantuan ke satpam Gedung. Akhirnya suamiku digotong masuk Gedung dan akupun mulai nelpon keluargaku sambil nangis dan panik luar biasa. Posisi kakakku ternyata dah sampai rumah (Sidoarjo), adikku masih di Kantor (Gresik), akupun telpon kakak suamiku yang untungnya posisinya pas berada di Surabaya. Alhamdulilah tidak begitu lama kakak iparku datang dan langsung mengantar ke PUSURA (yang baru aku sadar kalau hanya berada di seberang jalan). Begitu aku lapor, suster langsung membawakan kursi roda, namun baru aja masuk Pusura, suster bilang “Bu, bapak ini sudah lumpuh separuh, bapak terkena serangan stroke, sebaiknya langsung dibawa ke rumah sakit terdekat untuk segera mendapat penanganan serius” rasanya seperti tersambar petir bener2 aku shock luar biasa, namun aku harus berusaha tetep tenang dan berpikir cepat untuk menyelamatkan suamiku.

Aku putuskan ke Rumah Sakit terdekat (Dr Sutomo) dan langsung ke Unit Terpadu. Alhamdulilah ada 2 dokter yang langsung menangani suamiku dengan serius , akupun hanya bisa menangis, berdo’a dan memohon dokter untuk menyelamatkan suamiku. Untung dokternya sangat cekatan dan berbaik hati memberikan penjelasan tentang kondisi suamiku, memberikan saran2 dan menenangkan aku. Ternyata suamiku memang kena serangan Stroke (pendarahan di otak). Dokter bilang untung suamiku segera dibawa ke Rumah Sakit kalau sampai terlambat sedikit saja bisa fatal akibatnya dan penyembuhan akan lebih baik dilakukan dengan cara pengobatan, cuman kami harus bersabar karena itu membutuhkan waktu agak lama dan suamiku harus dirawat di rumah sakit paling tidak 3 mingguan untuk pengobatan dan memantau pendarahan otaknya. Jika dilakukan Operasi, resikonya bisa lebih besar apalagi suamiku masih relatif muda (waktu itu 39 tahun). Agak lega juga karena ada harapan suamiku bisa sembuh dan kami akhirnya mendapat kamar di Unit Stroke (Khusus untuk penderita Stroke) dan adikku pun datang menenangkan aku, membantu mengambilkan mobil yang kami parkir di depan Gedung DPRD tingkat II dan mengambilkan uang. Kakak Ipar dan keluarganya pun pulang ke Tuban dan adikku tak minta pulang aja karena besoknya dia kan harus ngantor, meski ngeri juga sebenarnya tinggal sendirian nunggui suami sakit di kamar rumah sakit yang besar. Tapi aku harus tetep tegar dan kuat.

Besoknya, aku pulang ke rumah diantar adikku ambil barang2 yang diperlukan di rumah sakit (biar gak riwa riwi). Satu minggu aku ambil cuti. Dan selanjutnya, rumah sakit menjadi rumah ke dua, karena berangkat ke kantor dari rumah sakit & pulang kantor langsung ke rumah sakit termasuk aktivitas mandi, makan, tidur dll. Untungnya Sibu (Ibu Mertua) yang sangat aku sayangi dan sangat menyayangi aku, datang dari Pacitan (dikabari kakak) dan ikut menemani di Rumah sakit. Ibuku sendiri sengaja tidak kami kabari dulu (takut kaget) karena juga memiliki Hipertensi dan posisi beliau pas berada di Jakarta.

Alhamdulilah kami mendapatkan dokter yang sangat baik dan telaten “Prof.dr. Saiful Islam” specialist syaraf, juga dokter lain dan para perawat yang ramah dan baik hati. Dua minggu suamiku tidak boleh duduk ataupun berdiri (hanya berbaring saja). Sehingga akupun harus sigap mengurus mandinya (seka), buang air kecil ataupun besar. Repotnya, suamiku tidak bisa bicara (pelo) dan ternyata lupa akan istilah2 dan nama2 benda. Seringkali kalau mau buang air kecil (pipis) dia hanya kaget dan kasih isyarat sampai aku harus mengajari untuk bisa bilang “pipis” atau (maaf) “pup/eek” karena sungkan ama suster karena sering ganti sprei. Tapi ya tetep aja belum bisa bilang pipis atau eek jadinya aku harus menunjukkan 2 alat penampung untuk bisa dipilih. Aku paling seneng kalau yang bagian mandiin pas cowok, jadinya aku bisa istirahat dan mengurus yang lain. Kalau dimandiin cewek, kasihan suamiku, dia pasti sungkan banget. He3.

Trenyuh juga waktu dokter Saiful datang dan kasih salam “Assalamuaikum”, suamiku hanya bisa tersenyum dan menjawab “ya”. Ditanya nama, apalagi alamat, sama sekali tidak bisa menjawab. Masih alhamdulilah suamiku masih bisa kenal aku dan bisa menyebut “istri saya”. Dia juga masih mengenal keluarga namun tidak bisa menyebut namaku maupun nama2 yang lain. Ada kejadian lucu, waktu dokter nunjukin gambar kelinci dan Tanya “gambar apa ini pak ?” suamiku jawab “istri saya” begitu juga waktu menunjuk foto lukisan kuda, suamiku jawab “istri saya” ha3 jadinya dokter, perawat, dokter2 muda dan kami semua pada tertawa. Ternyata suamiku hanya bisa ngomong “Ya” & “istri saya” dan ajaibnya beberapa hari kemudian suamiku bisa melafalkan surat “alfatikah” dengan lengkap dan bisa memanggil aku “adhek” (kebiasaannya memanggil aku dengan adhek). Tapi tetap saja tidak bisa menjawab salam dari dokter (baru sadar kalo kami di rumah memang tidak terbiasa mengucap salam. He3).

Meskipun perkembangan memory suamiku sangat lambat, namun aku sangat bersyukur karena hampir tiap hari ada perkembangan baik. Karena suamiku juga hobi menyanyi kami diminta bawa Tape recorder dan membawa kaset2 kesukaan suami. Kalau dari kamar pasien lain sering terdengar suara tangisan (ada yang meninggal) atau pengajian atau teriakan. Tapi dari kamar kami sering terdengar lagu “You raise me up” atau “kasih tak sampai (padi)” dari Tape Recorder yang diikuti dengan paduan suara dari para dokter muda & suster yang membimbing suamiku untuk mengingat lagu2 kesayangannya. Usaha dokter lumayan berhasil, suamiku bisa menirukan notasinya (tapi cuman hem4) tanpa bisa melafalkan kata2 nya.

Ada juga pengalaman cukup menakutkan, pada tengah malam atau dini hari suamiku terkadang ketakutan dan tak lama kemudian ada suara teriakan dan tangisan dari kamar lain (pasti ada yang meninggal). Akupun harus pinter2 menenangkan dan menutup pintu kamar rapat2. Kalau ada pasien yang sudah gawat, perawat akan kasih tau ke aku untuk siap2 ada suara2 jeritan dari kamar lain, dan biasanya aku akan menutup kamar rapat2 dan menghidupkan lagu dengan volume kecil untuk suamiku, sekedar mengalihkan perhatiannya. Biasanya yang meninggal itu pindahan dari rumah sakit lain (rumah sakit lain sudah angkat tangan) atau pasien stroke yang terlambat dibawa ke rumah sakit (dengan kasus pendarahan otak dengan cc yang sama dengan suamiku ada yang meninggal).

Setelah 2 minggu lebih, suamiku boleh duduk, boleh jalan2 aku dorong pakai kursi roda lihat2 sekeliling rumah sakit dan harus menjalani latihan terapi jalan. Alhamdulilah dengan susah payah bisa jalan tapi tetap harus kami papah jangan sampai jatuh. Hampir sebulan di Rumah Sakit, akhirnnya suamiku diperbolehkan pulang oleh dokter.

Oh ya, selama kami di rumah sakit, kendaraan kami terpaksa ikut nginep disana dan karena atas kemurahan hati pihak rumah sakit, kendaraan bisa kami pindahkan di dalam rumah sakit ikut parkir di parkir khusus dokter2. he3 (karena di rumah sakit ternyata tidak boleh parkir/ninggalin mobil terus menerus).

Kami pulang pakai kendaraan kami sendiri disopiri kenalannya kakak yang bekerja di rumah sakit.

Agak lega kami dah bisa berada di rumah. Namun perjuangan ternyata masih berat karena harus melatih suami menyebut benda2 yang ada di rumah. Mulai ini tembok, meja, kursi, piring, gelas dll, juga agar mengingat namanya sendiri (Hary Soebagyo) dan alamat rumah, dan karena suamiku berubah menjadi sangat sensitive dan emosional rasanya duniaku jadi terbalik-balik. Kami harus rutin kontrol ke dokter dari seminggu sekali, dua minggu sekali dan akhirnya satu bulan sekali. Juga kontrol ke labaratorium. Sudah tak ku hitung lagi berapa banyak biaya yang telah kami keluarkan apalagi kami harus riwa riwi naik taxi. Tapi melihat perkembangan suamiku semakin membaik ada rasa puas dan bersyukur yang luar biasa.

Dengan berjalannya waktu, dr,Saiful memintaku untuk melatih suamiku lebih mandiri lagi. Akhirnya kalo mau kontrol dokter, aku ijinkan dia ke kantorku sendirian naik Taxi atau bemo (jadi aku gak perlu pulang dulu dan bisa menghemat waktu dan uang taxi). Awalnya suamiku diantar sama pembantu. Lalu diantar pembantu sampai Joyoboyo. Lama2 bisa mandiri.

Ada banyak kejadian lucu, waktu aku dikantor, tiba2 suamiku telpon tanya aku sambil panik “dhek, tempat berkumpulnya bemo2 itu apa ya “? Untung aku cerdas “ Joyoboyo ta” ? Suamiku langsung seneng dan bilang oh ya, ya,ya langsung nutup telpon. Ternyata dia habis beli cat lukis dan bingung cari bemo jurusan joyoboyo tapi dia lupa namanya. He3. Dia juga jadi takut sama hujan dan petir. Kalo nyebut hujan “air yang jatuh” kalo menyebut pesawat “ yang terbang di atas” tapi giliran Tanya “tempat berkumpulnya pesawat” (maksudnya juanda) dia bisa ingat kata pesawatnya he3.

Sekitar satu setengah tahun kemudian, suamiku sudah banyak kemajuan akupun memberanikan diri bilang ke dokter kalo tabungan kami dah menipis gimana solusinya mengingat obatnya suamiku yang sangat mahal itu. Alhamdulilah dokter tidak marah dan beliau memberikan obat generik untuk darah tinggi dan kolestrolnya. Untuk obat syarafnya tidak bisa generic tapi dicarikan yang lebih murah. Demikian juga untuk vitamin mata.

Aku senang sekali waktu suamiku bisa sms lagi, meski kalau nulis atau balas sms masih lama banget. Diapun mulai bisa menyanyi meski sepotong-sepotong. Lagu pertama yang berhasil dia ingat dan dinyanyikan dengan lengkap adalah “ Tanah Airku” yang syairnya : “Tanah air ku tidak kulupakan, kan terkenang selama hidupku, biarpun saya pergi jauh dst” terharu juga karena bisa jadi itu bukti kalo dia cinta banget sama negeri ini. He3. Dia juga sudah bisa nyetir lagi, awalnya seputar perumahan, meningkat ke supermall (dekat rumah), ngantar aku ke kantor, ke sidoarjo dan ke gresik. Tapi terus terang aku sebenarnya kalo boleh memilih jangan nyetir dulu, tapi gimana lagi kan dia juga perlu memulihkan kepercayaan diri lagi. Cuman kalo malam hari, dia harus hati2 karena ternyata ada gangguan di luas pandangannya (penyempitan luas pandang). Kamipun agak lega karena suamiku tidak ada penyakit kencing manis. Semoga saja penglihatan suamiku bisa pulih total. Amin.

Setelah hampir tiga tahun suamiku berjuang melawan dampak stroke, alhamdulilah, kesabaranku mulai berbuah. Dia sudah mulai lebih sabar, bicara sudah lancar, lebih bersemangat hidup, aktif melukis lagi dan yang lebih penting, jadi rajin sholat. Secara fisik sepertinya dia sudah sehat namun masih ada kelemahan di memorynya. Memory yang lama2 ingat duluan. Memory yang baru2 ada beberapa yang belum pulih misalnya sampai sekarang dia belum bisa menyanyikan lagu2 favoritnya yang dia sukai sebelum stroke. Dia juga belum bisa ambil uang di ATM, dan meski membaca sudah mulai lancar, namun masih dieja seperti anak SD. He3. Tapi kami tidak boleh putus asa, kami yakin seiring berjalannya waktu, semuanya akan semakin membaik. Amin Ya Robbal Alamin.

Dikesempatan ini ijinkan sekali lagi kami mengucapkan syukur yang tak terhingga kepada Allah yang masih memberikan kesempatan suamiku hidup, terimakasih yang sebesar-besarnya kepada dr.Syaiful Islam, para dokter, perawat dan petugas di RS Dr.Soetomo, Satpam di gedung DPRD II Surabaya, Petugas/suster di Pusura, keluarga besarku, keluarga besar suamiku, dewan direksi kantorku yang meluangkan waktu bezuk dan memberi obat china, rekan2 kantorku, rekan2 pelukis, beberapa kolektor lukisan, dan semua pihak yang sudah mencurahkan perhatian, bantuan, dorongan semangat dan doanya. Semoga Allah membalas semua kebaikan yang telah diberikan kepada kami. Amin.

Banyak hikmah yang bisa kami ambil dari pengalaman tersebut a.l Kami semakin dekat dengan-Nya, aku semakin perhatian dan sayang ke suamiku (he3), kami lebih berhati2 menjaga makanan kami, aku lebih mandiri dan menjadi wanita yang kuat, aku jadi lebih berani naik bemo kemana-mana. Semoga pengalaman hidup kami ini, bisa bermanfaat buat pembaca & rekan2 semua untuk lebih berhati-hati. Wassalam.

demo….

‘ayah, harus transparan!”, teriak anak2ku, ditengah-tengah suara pukulan kaleng dan panci. Anak sulungku yang beranjak ABG mimpin lima adiknya demo.

’Ssst..ssst jangan berisik’ malu ama tetangga. ’ada apa? Kalau demo peralatannya yang lengkap donk. Mana spanduk, pamflet, ikat kepalanya? He..he..he…Kalian kan udah sering liat ayah berangkat demo. ’Kacang ora ninggalake lanjarane’ kata pepatah, nek bapake tukang demo, anake yo bakalan dadi tukang demo.

Emangnya ada apa, kok tahu2 ayah disuruh transparan. Apa selama ini ayah nggak transparan?

‘kami dengar ayah baru naik gaji. Kami ingin kebutuhan kami selalu terpenuhi. kalau kami minta beli buku, kami nggak mau denger ‘no money’. Coba ayah bayangin, untuk beli buku jawabanya selalu nggak ada uang, tunggu gajian… tapi beli rokok selalu ada uang. penting mana beli buku dengan beli rokok.?

Aku terdiam nggak bisa jawab. ‘jadi mau kalian bagaimana?

’kami ingin ayah buat anggaran yang jelas. Sehingga, kami tahu berapa rupiah yang dianggarkan untuk masing2 kami.

’baik kalau mau kalian begitu’. Istriku yang dari tadi hanya senyum2 liat tingkah pola anak2nya menimpali. ’ayah dan bunda, akan susun anggarannya’.

Rupanya nyusun anggaran untuk keluarga nggak sesimpel yang aku bayangkan. Anak2ku bergantian mendekati aku dan istriku tuk lakukan lobi2. entah belajar dimana mereka, apa dia tahu proses penyusunan anggaran dinegeri ini juga dari hasil lobi…semakin tinggi IP (indeks pendekatan) semakin mudah anggaran gool…seneng juga aku, melihat anak2 udah bisa membaca kondisi sekelilingnya. Bekal untuk melakukan perubahan dimasanya nanti…tinggal bagaimana kita arahkan mereka…

’ayah, maya pengin jatah maya lebih besar dibanding adik2. maya anak sulung, udah ABG jadi wajar kalau dapatnya paling banyak’ lobi anak sulungku.

Lain waktu anak kt-3 ku datang, ’Gazie pengin paling banyak jatahnya. Ekstrakurikuler disekolah banyak. Gazie juga pengin ikut les bahasa inggris, tennis, dan karate. ’Kalau gazie dapat banyak, tiap malam gazie mau pijitin ayah’ suap anakku.

Ke-empat anakku yang lain juga nggak mau kalah, dari janji2 sekedar lebih rajin bantu kerjaan ibunya sampai janji rajin mengaji dan menghafal qur’an. Semua jurus dikeluarkan anak2ku agar dapat jatah paling banyak.

Tidak terasa, udah seminggu proses penyusunan anggaran dilakukan. Sebanyak anggaran diajukan ke rapat pleno, sebanyak itu pula ditolak anak2. akhirnya, aku gunakan jurus kekuasaanku, ’kalau ditolak terus oleh kalian, kapan kita kerjanya. sekarang udah tanggal 10, maret tinggal dua puluh satu hari lagi. Sekarang, kalian mau terima atau tidak, kalau tidak terima, nggak ada lagi anggaran di keluarga ini. Biarin aja ayah dibilang nggak transparan’.

’Ayah, kami setuju…tapi kalau bisa biaya tamunya di hapus. Nilainya besar sekali’

’lantas kalau ada tamu bagaimana? Darimana ayah ambil dananya?

’terserah ayah, pintar2nya ayah aja. pokoknya kami nggak mau anggaran kami dipotong untuk biaya tamu. Kalau mau ada biaya tamu, gaji ayah harus dinaikin lagi’ timpal anak2ku hampir serentak.

Aku hanya bisa geleng2 kepala, tidak ada pilihan lain’Ok. Kita deal’

Hari-hari berikutnya, kami semua sibuk untuk merealisasikan anggaran yang telah disepakati. Betapa peningnya kepalaku karena banyak pengeluaran tidak didukung oleh anggaran…revisi anggaran tidak dimungkinkan lagi, sulap sana sulap sini, anggaran A realisasinya kita fiktifkan agar dananya dapat dipakai untuk pengeluaran yang tidak ada anggarannya. Selama ini, aku selalu ajari anak2 untuk tidak pernah berbohong, ternyata kali ini AKU telah BERBOHONG. Ya Allah ampuni aku?!!!…anak-anak jadi berlomba-lomba menghabiskan dana yang tersedia, walaupun akhirnya mereka membeli barang2 yang tidak perlu, yang penting anggarannya habis… bisa jadi, mark up juga terjadi disana untuk mempercepat proses habisnya anggaran….

Ah…baru ngatur rumah tangga aja sulitnya bukan main…bagaimana ngatur satu wilayah…bagaimana ngatur kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi bahkan negara…ah nggak sanggup aku membayangkan…betapa banyak kesalahan demi kesalahan akan kulakukan. Keinginan jadi orang no 1 mendadak lenyap.

Lantas, kalau pada mundur, nggak mau jadi pemimpin, siapa yang bakal mimpin? Kalau kita yang tahu benar dan salah tidak berani menanggung resiko… apa kita rela negeri ini diatur oleh orang yang tidak berhak? Diatur oleh orang yang tahunya, bagaimana bisa memenuhi kebutuhan diri dan golongannya saja? Diatur oleh orang yang tidak peduli dengan kondisi rakyatnya? Diatur oleh orang…dll. Tentu saja nggak rela…kita harus berambisi untuk merebut semua itu. Sebagaimana ambisi nabi yusuf untuk diangkat jadi bendahara negara, karena dipandang tidak ada lagi orang yang mampu melaksanakan tugas secara amanah… yang penting amanah dalam menjalankan tugas, ubah sistem, ubah pelaksana sistem, ubah semuanya demi kebaikan.

Adakah orang yang layak mimpin negeri ini dengan amanah?

Banda aceh, libur jumat 2008

(Tanggal berapa ya?

Dasar PNS tahunya tanggal 1 aja)

Fikik hamzah

TERIMA KASIH CINTA : Sebuah renungan dari Ika Listyaningtyas

Poster Filem ayat-ayat cinta ”cerita renungan ini adalah coretan Ika Listyaningtyas Van Gebang…angkatan 88..katane sih belum ndaftar di Blog sehingga blon bias upload..so dia titip untuk diuploadkan…sudah lama seharusnya tulisan ini di upload ..berhubung saat ini lagi ada momentum meledaknya filem ayat-ayat cinta..kayaknya tulisan beliau jadi relevan banget…check this out”

Di penghujung bulan February ini, ……. Ada sedikit coretan yang sekedar ingin kutuang, untuk menggores satu percikan tentang bulan yang penuh dengan cerita, terutama bagi para pemuda pemudi…seperti kita-kita waktu 20 an tahun yang lalu kali yee…

Pagi masih teramat pagi, maklum kota Depok termasuk daerah bagian Jawa yang paling bontot terima cahaya hangat itu …. Kasak kusuk terjadi disana sini, maklum anak-anak SMA dengan segala ceritanya,

aku kadang hanya bisa tersenyum dalam hati saat kadang secara tidak sengaja telinga ini mendengar bisak bisik mereka, dan obrolan mereka tentang cinta. CINTA???? Yo’i…yang kata orang sih, satu rasa yang tak akan pernah berubah sepanjang masa…. (Berubah sih enggak…tapi ngebunglon???…hehehe)

“Bu, cinta itu apa?” Tanya salah seorang anak didikku..Aku yo kaget, karena tadinya dia kupanggil ngadep hanya untuk sekedar menanyakan kemerosotan prestasinya. Dengan sedikit agak nyengir aku coba aja masuk ke dunianya. CINTA??? Apa ya????

Meluncurlah cerita tentang cinta yang dirasakan pemuda di depanku, sambil mendengarkan dengan penuh pengertian aku perhatikan sosoknya. Tinggi sedang, badan tegap, Kulit agak sawo matang, bersih, rambut sedikit ikal, hidung mancung….ah…cakep juga, tapi… kenapa dengan cintanya????

Akhirnya dengan kekuatan yang setengah menerawang dan kata-kata penuh keoptimisan aku sampaikan padanya ” sekarang kan sudah kelas III, di kesampingkan dulu lah!!! Tak kan lari gunung di kejar, kalaupun jodoh tak kan kemana, yang penting sekarang.. Fokus dan berprestasilah” Klise…sangat klise…padahal lho, semua itu kan juga tetap harus diikhtiarkan..yo enggak???

Kalo menyikapi saat usia sudah banyak begini…Aku meng iya kan, tapi sempet terlintas jua, dulu saat masih se usia mereka????, aku bertanya juga dalam hati…mbiyen aku piye yo??? Hehehe “Tahu enggak mbak, gara-gara aku gak bisa ungkapkan perasaanku pada orang yang dulu kucintai, aku benar-benar kehilangan dia!!” kata salah satu teman wanitaku beberapa bulan yang lalu, waktu ada acara talk show tentang cinta di salah satu sekolah di Depok.

“Yaaaeyaaalaaah, zaman kita kan pamali, nekad begitu” komentarku padanya sambil ketawa ngikik…walah walah..Gak kebayang!..nembak cowok gitu loh!!! Kalau di terima? Kalau dianya nyengiiiir doang….Phyuuuh!!!! mau disembunyikan dimana muka ini, ke sekolah pake masker or ber topeng??

Cinta memang ternyata banyak warna, dan aku berterima kasih banyak pada sang cinta, sang Maha penuh Cinta…seiring perjalanan sang waktu aku memahami apa itu cinta (Versi masing-masing bisa gak sama lah)..cinta kasih orang tua, karena saat ini aku berada di posisi seperti mereka, cinta sahabat, yang ternyata hingga saat ini masih terjaga rapi (…tak cangking awak2mu rek…), cinta seseorang yang dikirim Allah untuk temani hari-hariku, cinta seorang putri yang diamanahkan oleh Sang Maha Cinta padaku…..dan koq aku jadi teringat kisah teman wanitaku tadi, sambil mencoba meng explore diri, meneropong hati, mencuri kejujuran diri… Jangan-jangan, sebenarnya ada yang masih menempati sudut hati, yang bisa jadi ternyata kisahnya seperti yang tertulis diatas tadi…’ora tekan’ hehehe…. Heiiiii….atau…. ada juga yang ternyata saat ini tengah berbaris di belakangku????

Tiga tahun lalu, tsunami….

..Tulisan berikut ini adalah pengalaman sejati alumni SMAN 1 JEMBER yang mengalami kedahsyatan Tsunami…pernah dipost di milis angkatan 88…mengingat begitu banyak ibrah yang bisa dipetik..maka atas persetujuan dan jasa baik Taufiq Maulana Hamzah aka Fikik 88..tulisan ini di posting ulang di blog ini….bisa jadi ada juga alumni kita yang pada saat kejadian juga berada di Aceh ato Nias…semoga tergerak untuk berbagi cerita disini...(ekoz guevara)

Ass, Wr. Wb mengenang 26 desember 2004,,iki rek pengalaman pribadiku,, Pagi 26 Desember 2007, sebagai ketua panitia, aku kudu ke kantor tuk mimpin rapat persiapan RAKER. Berat terasa kaki melangkah, bukannya karena hari itu hari libur, tapi sedang terbayang kembali kisah tiga tahun yang lalu,tsunami… Bakda subuh 26 desember 2004, aku dan dua temen berangkat ke bandara Sultan iskandar muda (SIM). Jemput pemateri dari Jakarta. Rencananya jam 9 pagi, kami punya gawe ‘Leadership training’ selama 2 hari.

Sampai di SIM, selama -+10 menit aceh dikocok gempa. Awalnya, gerakan gempa horisontal terasa seperti naik kereta api, berikutnya berubah jadi gerakan vertikal. Kulihat hampir semua orang nggak sanggup lagi berdiri. Ingat rumah dinas yang berumur tidak muda lagi, membuatku khawatir dengan keselamatan istri dan anak-anakku. Namun, apa daya HP udah nggak fungsi lagi. Aku hanya bisa tawakkal menyerahkan semuanya kapada Allah. Kita adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah.

Sepanjang perjalanan menuju kota, kulihat beberapa bangunan nampak roboh, anehnya didominasi oleh bangunan- bangunan baru. Diperempatan jambo tape, kami singgah sarapan. Beberapa kali gempa susulan mengganggu nikmatnya sarapan, sebanyak itu pula, kami berlarian keluar ruko. Puncaknya, ketika terdengar bunyi sirine yang begitu kuat, diikuti banyaknya orang berlarian dari arah pantai, ‘ie lut ka ik’ (air laut udah naik). Sontak semua berlarian, termasuk penjual nasi. Alhamdulillah dalam kondisi panik, kami masih sempat bayar walaupun si penjual udah ngak konsen untuk menghitung berapa biaya makanan kami.

‘akh taufik, lupakan acara, kita jemput keluarga antum dulu’ usul salah seorang tamuku. Rombongan bergerak menuju tempat tinggalku di daerah Peurada kurang lebih 2,5 km dari jambo tape. Namun, mendekati jembatan dekat kantor gubernur, kulihat air udah naik melewati jembatan. Membuat kami harus putar kendaraan. Kubersyukur kepada Allah, seandainya kami telah melewati jembatan, bisa jadi aku nggak nulis kisah ini. Setelah menitipkan tamu-tamuku di rumah teman, kumulai mencari jalan menuju rumah. Tidak ada pilihan lain, kami harus mencari jalan memutar yang cukup jauh. Sampai di daerah ie masin kayee adang (2 km dari rumahku), air sisa tsunami masih menggenang. Kami turun dan mulai jalan kaki. Entah kekuatan apa yang muncul membuat aku jauh meninggalkan dua rekanku. Padahal usia mereka 10 th lebih muda dariku. Bahkan salah seoarang diantaranya, belakangan jadi guru kempo di kantorku.

Air yang mulanya hanya setapak kaki, sampai dirumahku setinggi dada. Kulihat rumahku dalam posisi terkunci. Rumah masih utuh walaupun isi dalamnya udah pada jebol dan berantakan. Tetangga pada geleng kepala ketika kutanyakan tentang keluargaku. Ya Allah selamatkanlah istri dan anak-anakku. Rasanya aku belum siap dipisahkan dengan mereka. Betapa aku mencintai mereka…kemudian aku mulai bergerak mencari keluargaku, setiap rumah yang berlantai dua kumasuki dan kutanyakan, adakah istri dan anak-anakku?…rata-rata mereka gelengkan kepala,’nggak ada pak. Sumayyah dan adik-adiknya ngak ada disini’..aku terus melangkah menuju masjid. Begitu banyak orang berkumpul, salah seorang remaja masjid berbisik, ‘di lantai dua udah terkumpul kurang lebih 40 syuhada, lihat aja siapa tahu ada salah seorang anggota keluarga bapak’..Setengah berlari aku naik ke lantai dua, kulihat jajaran mayat memenuhi sektor utara, sementara sektor selatan dipenuhi dengan orang yang cidera. Suara isak tangis cukup membuat diriku merinding… Satu persatu mulai kubuka kain penutup para syuhada,, alhamdulillah tak seorangpun anggota keluargaku terbaringada disitu. Walaupun terhadap beberapa jenazah, ada kemiripan dengan anakku..

Pencarian terus kulakukan, di masjid kedua belum juga kutemukan. Dekat sekolah TK anakku, kulihat mayat seorang perempuan telanjang dalam posisi telungkup, tidak seberapa jauh dari situ, kulihat mayat seorang anak kecil, yang mirip dengan anakku kelima. Gemuknya dan warna kulitnya, mirip sekali dengan Tholhah anakku. Tanda luka dikakinya terkelupas, sehingga timbulkan tanya, apakah betul ini anakku? Seandainya dia anakku, jangan-jangan mayat yang disana adalah mayat istriku.. kalau dia mayat istriku..kenapa dia telanjang? Ya Allah bukankah selama ini istriku selalu menutup aurat, kenapa diakhir hayatnya mesti telanjang? Aku tidak memiliki keberanian membalik mayat perempuan itu, aku khawatir auratnya akan kelihatan oleh orang banyak..sesuatu yang udah ditutup oleh Allah, aku tidak berani membukanya. Benarkah dia istri dan anakku? Terus anak-anakku yang lain mana? ?? air setinggi dada, menyulitkan aku mencari petunjuk lain. Keretaku (sepeda motor) tidak nampak disekitar itu. Kuputuskan, untuk terus mencari, mudah-mudahan mereka bukan anggota keluargaku.

Setibanya di masjid yang ketiga, terdengar suara adzan. Begitu menyejukkan ditengah galaunya hati. Waktu yang tepat untuk mengadu kepada Allah. Keluargaku hilang, adakah mereka selamat? Bila tidak, dimanakah jenazahnya? Ya Allah berilah aku kesempatan untuk bersama keluargaku lagi… saat ambil air wudlu, aku bertemu sahabatku, seorang ustadz yang juga anggota dewan, kami berpelukan dan kusampaikan keluargaku hilang, setengah berbisik dia berkata : “akhi, keluarga antum ada di lantai 2”. ..alhamdulillah, betapa Allah telah mengabulkan doaku. Aku masih diberi kesempatan tuk berkumpul dengan keluarga. “bi, ngak jadi rapatnya?”. suara istri, membuyarkan ingatanku.. terima kasih Ya Allah, hamba ingin menjadi orang yang bersyukur, senantiasa menyayangi istri dan anak-anakku…istriku, anak-anakku, maafkan bila setelah tiga tahun tsunami berlalu, abi belum bisa memberikan yang terbaik buat kalian… Istriku, Andi qadriah shiam, aku selalu mencintaimu Anak-anakku,

Sumayyah Ula Syahidah Dini Khairu Zadi M. Gazie Shawwaf M. Hanzhalah Gasielul Malaikah M. Tholhah Syahid Al Hayah Syahidah Nida Amani

doaku selalu bersamamu, jadilah orang-orang kuat, sekuat kalian berlari meninggalkan gelombang tsunami

Banda aceh, 26 desember 2007

maaf yo rek, kepanjangan, belum diedit…Taufik Maulana hamzah