Kenakalan Berjamaah di SMA

Ada beberapa tindak ‘kenakalan’ pelajar yang dulu mungkin pernah kita lakukan secara ‘berjamaah’. Saya pun pernah (mungkin kerap, he he) terlibat di dalamnya dulu. Saya katakan tindak ‘kenakalan’ karena secara normatif hal-hal tersebut tidak bisa diterima sebagai perilaku positif dari remaja dengan label pelajar. Ada atribut ‘jamaah’ karena tindak tersebut dilakukan secara massal dan secara psikologis mungkin ‘keberjamaahan’ inilah yang bikin asyik. Bikin asyik karena mungkin itulah cara saya dan jamaah lainnya waktu itu untuk menunjukkan semangat kebersamaan / solidaritas, ‘sentimen’ anak muda dalam proses pencarian identitas.

            Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas kenakalan pelajar dalam perspektif ilmiah. Saya hanya ingin mengenang beberapa bentuk perilaku yang pernah kami lakukan bersama-sama dulu ketika saya SMA. Nah, mari kita mulai  mengulik masa lalu kita yang mungkin saat ini bisa bikin kita ngomong ’kok iso yo aku ngono, mbiyen?’, he he. Alur kenangan dalam tulisan ini akan mengalir dalam kerangka kronologis.

            Kelas satu. Dulu saya bergabung dengan kelas yang letaknya di ujung koridor di depan lapangan upacara (entah apakah layout ini masih berlaku sama sampai kini) yaitu kelas  14 (satu empat). Kelas satu SMA adalah masa-masa sekolah ketika saya harus masuk shift sekolah ke dua alias masuk siang, mulai jam 13.00 WIB, karena harus bergantian dengan Sekolah Widyatama (jika saya tidak salah mengingat nama sekolahnya). Di kelas awal ini, saya masih ingat betul ketika kelas 14 suatu saat pernah membikin Pak Karniyanto (Pak Karni, guru mata pelajaran Sejarah dan PSPB) bergetar suaranya karena menahan emosi dan (mungkin) linangan air mata (mata beliau berkaca-kaca saat itu) karena jengkel melihat ulah kami. Entah, mendapat ide dari mana, kami sekelas saat itu sepakat saling lempar kulit buah rambutan (yang kami santap buahnya bersama-sama di kelas) saat Pak Karni sibuk menulis materi pelajaran di papan tulis. Begitu Pak Karni curiga mendengar suara berisik di belakang beliau, beliau berpaling ke belakang dan entah bagaimana pula kami bisa secara simultan berhenti saling lempar dan terkesan sibuk menyalin materi pelajaran di buku kami, he he. Akhirnya Pak Karni memutuskan menulis kembali di papan tulis dan kejadian yang sama berulang, kami kembali saling lempar kulit buah rambutan. Lagi-lagi Pak Karni berpaling ke belakang dan hanya menemukan kami yang sok innocent berkonsentrasi pada materi pelajaran. Kali ke tiga kami kurang beruntung karena salah seorang teman tertangkap basah dalam posisi tangan akan melempar kulit buah rambutan. Maka bisa ditebak, apa yang telah saya uraikan sebelumnya kemudian terjadi. Pak Karni (maaf, Bapak, kami menyesal), beliau sangat murka dengan apa yang kami perbuat, sampai-sampai kami tidak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut beliau: ”Apakah kalian tidak menyukai Saya?” (InsyaAllah ini kata-kata beliau bila saya tidak salah mengingat).

            Kelas dua. Naik ke kelas dua, saya masuk dalam komunitas kelas 2 Fisika 2.  Kelas Fisika 2 terkenal di antara kelima kelas paralel Fisika lainnya (seluruhnya ada 6 kelas paralel Fisika) karena reputasinya sebagai kelas ’buangan’, kelas dengan jumlah anak-anak terbanyak untuk yang dianggap masuk dalam kategori ’bandel’, ’berandals’, bahkan ’criminals’. Sebagian penghuni Fisika 2 adalah langganan Drago (for those who don’t know what Drago is, this is the name of a place, located right behind the school, where ‘school-time escaping students’ usually communed together). Termasuk dari mereka adalah yang beberapa kali terlibat tawuran hingga main tikam-tikaman belati sampai berurusan dengan polisi, trek-trekan hanya untuk bisa dibilang gaya atau berfilosofi hidup ala ‘Peterson’ yang adalah simbol ‘anak asuhan rembulan’ atau petualang jalanan sejak malam sampai dini hari. Untuk kenakalan berjamaah, inilah saat-saat dimana kami sekelas mulai sepakat dengan acara ‘bolos bersama’, mokong melarikan diri dari beberapa jam pelajaran yang sudah kita ‘incar’ untuk kemudian pelesir berombongan naik motor menuju dua tempat favorit: Rembangan atau Pantai Watu Ulo. Wah! he he. Kami serasa keluarga besar Mafia (Makhluk Fisika Dua) yang sangat kompak! Sesudah acara ‘merasa kompak’ terpenuhi, kami bersiap untuk menanggung segala resiko yang akan terjadi akibat kekompakan kami. Beruntunglah kami karena resiko yang kami tanggung hanyalah ‘omelan wejangan’ dari bapak guru matematika saat itu, Pak Mulyani, karena memang kami sengaja memilih jam pelajaran beliau untuk slot acara mokong bersama ini.

           Kelas tiga. Masih melanjutkan atmosfer yang sama, saya kembali bertemu dengan penghuni lama dari keluarga Mafia, kali ini di kelas 3 Fisika 2. Ruang kelas 3 Fisika 2 juga berada pada deretan kelas di depan lapangan upacara, seperti lokasi kelas ketika saya masih berada di kelas 14. Kelas 3 Fisika 2 menurut saya fenomenal dalam hal kenakalan berjamaah. Satu hal yang paling saya ingat saat itu adalah kenekadan kami untuk membangkang pada ibu guru matematika yang sangat disegani sepanjang sejarah SMA 1, Ibu Purni. Masih dalam bentuk kekompakan ‘bolos bersama’, kami nekad meninggalkan kelas Ibu Purni, hingga beliau mencucurkan air mata karenanya. Entah, saya lupa sanksi apa yang kami terima saat itu, tetapi menurut kabar, itulah pertama kali dan satu-satunya saat dimana Ibu Purni, ibu guru tercinta yang sangat disegani di SMA 1 itu terlihat sangat bersedih sampai mencucurkan air mata. Apa yang kami rasakan saat itu? Entah, secara kolektif mungkin kami merasa bagai menemukan jati diri dengan ‘berani’ bersikap nekad. Entah..

            Masih ada beberapa bentuk kenakalan berjamaah lain yang saya ingat dalam periode sekolah SMA. Satu yang klasik di antaranya, yang ternyata juga terjadi pada setiap angkatan dari tahun ke tahun, adalah melakukan keisengan dengan bersembunyi di bawah meja ketika Pak Singgih, bapak guru Biologi, menghitung jumlah murid saat mengabsen kehadiran siswa di kelas. He he, sehingga beliau harus menghitung lagi dan lagi, berulang-ulang, karena setiap kali menghitung kok jumlah siswa berbeda terus? Romantika kenakalan berjamaah di sekolah, sekolah SMA..

ibu dan rinduku

Emak….ibu….bunda….mama….ambuk….

Nama-nama itu begitu indah menghiasi relung hati, tidak terikat siap yang mengucapkan, maupun sang waktu…Sebutan itu seakan tak pernah akan mampu ditindas oleh apapun..tetap megah dan tetap mampu membahana, mengisi relung-relung kalbu

 

Ribuan kilo, jarak yang kau tempuh

Lewati rintangan untuk aku anakmu

……. Ibu by Iwan Fals

 

Nada-nada yang indah

Selalu terurai darinya

Tangisan nakal dari bibirku

Takkan jadi deritanya

Tangan halus dan suci

Tlah mengangkat tubuh ini

Jiwa raga dan seluruh hidup

Telah dia berikan

—–Bunda by Melly G

 

Hanya memberi tak harap kembali

Bagai sang surya menyinari dunia

 

Untaian syair yang menjadi begitu indah untuk disenandungkan dan merebut seluruh jiwa yang tak kan mampu memungkirinya, bagaimanapun keberadaan beliau, kita sangat mencintainya, kita sangat menghormatinya dan menempatkan beliau di tempat yang paling agung dalam hati kita. Jerih payahnya tak kan terganti..rangkaian doa-doa yang dipanjatkannya menjadi ukiran yang manis yang bersemayam dalam diri kita…oh Ibu

 

Perasaanku muncul pertama kali dari yang sempat kuingat adalah saat mengikuti persami saat masih SMP. Perjalanan dari sekolah ke rembangan kala itu, merangkaikan kepenatan jiwa yang meretas hati, bahwa tiba-tiba betapa aku tidak tahan dalam perjalanan jauh tanpanya,  Rindu itu tiba-tiba menyeruak dan hatiku pengen berlari pulang..jadilah sepanjang perjalanan bersama sofia, kami berlari dan meneriakkan…”ibu…….”

 

Bersyukur, tanggal 22 Desember 2008 ini, aku bisa menikmatinya bersama ibu yang alhamdulillah sedang ada di Depok, seperti masa-masa dulu, setiap hari yang bersejarah itu, kami (aku dan adik-adik) selalu berusaha mengambil alih seluruh pekerjaan yang biasa di handle ibu, termasuk memasak, dan pada hari itu, di masa itu, kami menyadari bahwa tak mudah menjadi seorang ibu, apalagi dengan peran ganda yang disandang ibu…dan yang paling manis di saat moment itu, ibuku yang tipe seorang ibu yang tidak banyak bicara, tetap akan ke dapur dan membuatkan kami kue kelapa mutiara yang di kukus…wah aku rindu makanan itu…

 

..oh ibu, sampai kapanpun tak kan mampu kubalas pengorbananmu….hanya doa dan doa untukmu…ibu…..

Hollandsche Sociëteit te Djember

Sebagian orang Jember menyebut gedung ini dengan “socitet”, sesuai dengan namanya dulu. Sebagian lagi, lebih suka menyebutnya dengan “Bhayangkara”. Para kenek lin fasih sekali menyebutnya sebagai satu pos perhentian penting. Selain untuk acara internal kepolisian resort Jember, gedung ini juga disewakan untuk umum. Kalangan umum, kerap menggunakannya sebagai tempat penyelenggaraan Pesta Pernikahan. Di samping gedung tersebut berdiri pula TK yang mungkin dijalankan oleh ibu-ibu Korps Bhayangkara, organisasi para polwan atau istri-istri para polisi.

Belakangan, jika pulang ke Jember, saya senang sekali menyempatkan untuk membeli Mie Ayam yang berada di jalan kecil di sebelah utaranya, jl. Veteran. Rasanya mantap, bisa jadi alternatif pengganti paling baik jika tidak berhasil mendapatkan Bakmi di sebelah SMP 2. Warung mie ayam ini sebetulnya lebih menempel di dinding Balai Penelitian Perkebunan. Sementara yang menempel di dinding gedung Bhayangkara (GB) ialah tukang tambal ban.

Continue reading “Hollandsche Sociëteit te Djember”

Radio Dangdut Jember

Gara-gara baca tulisan Ekoz tentang Radio Suara Akbar beberapa waktu lalu, sayup-sayup terdengar suara Bang Jali dan Bang Samiun di telinga saya. Karena tak ada rekamannya, ya saya buatlah versi rakitan sendiri.

http://alifandi.multiply.com/music/item/9/Radio_Dangdut_Madura

Mohon maaf kosa katanya sangat terbatas, sudah abit tak ada lawan bicara. Mon bedhe pantun, mara engko’ e belei.

1000 Jalan ke SMA 1

Salah satu kriteria memilih sekolah selain kualitas sekolah adalah lokasi sekolah. Sebelum memutuskan untuk memilih SMA 1 dulu, aku menimbang-nimbang masalah transport ke sekolah. Harus naik angkot atau cukup naik sepeda pancalku saja..(maklum gak punya sepeda motor). Dulu pertimbanganku, kalo milih SMA 2, bosen lewat jalan Jawa terus, soalnya SMPku di SMP 3.

Angkot alias Lin kujadikan transportasi utama untuk menempuh perjalanan ke SMA 1 tercinta dalam rangka menuntut ilmu bagi masa depanku (bahasane gak karuan yo…) meskipun kadang Lin kadang tidak bias diandalkan. Soalnya, kalo jam 6.10 baru nyanggong di pinggir jalan, pasti Lin udah pada penuh dan hasilnya telat masuk sekolah.

Untuk berangkat ke sekolah banyak cara yang biasa kulakukan. Karena rumah di Patrang (belakang kamar mayat RSUD dr Subandi), maka cara paling mudah, naik Lin dari pinggir kali Bedadung (Lin A,B,N atau O) atau bis Damri (A atau B) turun bilang turun di Gladak kembar (turunnya biasanya di Almarhum Bank Duta), terus jalan kaki lewat gladak kembar bersam teman-teman seperjuangan. Kalo males jalan kaki kadang naik Lin lagi atau nggandol bus Damri. Dengan metode ini kadang sampai jam 6.30 gak dapat Lin juga, yo telat rek wong masuknya jam 6.30 (pas kelas 2 dan 3, kelas 1 aku masuk siang jadi jarang telat), nah kalo telat biasanya aku lewat jalur alternative, naik Lin K, turun di Karimata deket Gunung Batu, terus jalan kaki sampai SMA 1 (asli kurang gawean tenan yo..). Harapannya sampai SMA 1 sekitar jam 8.00 pas jam istirahat pertama (soalnya bias langsung masuk kelas tanpa minta ijin ke guru jam pertama atau urusan asma guru BP). Paling-paling kalo gurunya kenal aku, beliau bilang, ‘Lo perasaan pas jam pelajaranku, kamu gak masuk ya Zal?’ he… he…

Yang lebih seru adalah perjuangan untuk pulang ke rumah. Jalan alternatifnya sangat banyak.

  1. Naik LIN ke arah Tawang Alun/Ajung terus turun di Al Huda, dari sini jalan alternatifnya juga banyak. Misalnya langsung naik lin A atau B (kalo B lewat Gebang), tapi kalo masih kurang seru, aku kadang naik Lin P, lewat Gebang Poreng terus turun di depan Rumah Sakit
  2. Jalan ke depan perhutani, terus naik lin K. Ini termasuk paling enak karena langsung ke Patrang , cuma nunggunya agak lama. Kalo sudah dapat Lin K enaknya tar di jalan Jawa, dapat pemandangan indah, cewek-cewek SMA 2 (he..he..)
  3. Jalan kaki ke Kantor Pos deket alun-alun, terus naik Lin/Bis ke Patrang. Waduh, ini bikin keringetan, dilakukan Cuma kalo lagi suntuk atau agak stress di sekolah, jadi sambil jalan sambil merenung (sok sakti tenan )
  4. Nah ini yang paling ekstrim, jalan kaki ke rumah. Biasanya lewat jalan Sumatera, jalan Kalimantan terus Mastrip, terus jalan sampai rumah di jalan Nanas. Wah ini dilakukan biasanya kalo lagi sangat stress atau untuk mbayar nadzar…misalnya kalo ulangan matematika dapat nilai bagus.. ya jalan kaki ke rumah. Biasanya sih sendirian, gak ada teman yang mau nemenin kalo yang ini (biasanya istrirahat sebentar di Sanggar Pramuka UNEJ, belakang PKM, ngobrol sama teman-teman pramuka di sana)

Banyak cerita yang kita alami selama naik angkutan umum pergi atau pulang sekolah. Bercanda dengan teman, bercerita tentang kejadian seharian di sekolah, PDKT sama cewek yang diincer, atau pake gayanya Cak Eko, ngakali kondektur bis biar gak usah bayar…

Tahun 91 atau 92, Gladak Kembar di perbaiki, jadi Bus Damri jurusan Pakusari mesti muter lewat jl Sumatera terus ke jl Kalimantan, Mastrip, Sudirman… ini menyenangkan buatku, jadi tinggal jalan ke lampu merah Mastrip, sampai deh ke SMA 1… Memang masa-masa di SMA 1 sungguh menyenangkan, sampai perjalanan menuju kesana meninggalkan kesan yang dalam.

DJEMBER …jaman Voor de Oorlog….

Kantor Pos Jember Jaman Belanda Saat mampir di site multiplynya Johny Alfian Khusyairi (http://jalfian.multiply.com)….adiknya Anton Timur Alifandi dan Ivan Syahbana Khusyairi..ketemu tulisan bagus dengan gaya bahasa yang sangat jadul..voor de orloog…jaman Blendhe….atas Djasa baik daripada beliaow dapatlah cerita masa silam di upload… (katanya di dapat dari Suara Soerabaia tahun 1920 …check this out…

ini liputan wartawan soera soerabaia tentang kantor post Jember Tiong Gwan toelis:

Keadaan kota Djember sekarang ini keliatan bagoesnja. Di sini soedah banjak sekali didirikan roemah2 baroe, begitoelah roemah jang paling modern.Selainja itoe, semoea roemah bedak sekarang pada dirombak dan dibikin baroe. Kantoor post, jang kita tempo doeloe pernah oesik lantaran kotornja, hingga tiada pantes diseboet postkantoor, sekarang ini djoega tiada maoe ketinggalan. Tempo doeloe bila orang ada keperloean di kantor post selaloelah moesti saling mendesak, sebab tempatnja ada terlaloeh ketjil, tetapi sekarang aken diadaken anem local dan roeangannja aken lebih loeas lagi.

Tetapi sedang keadaan roemah2 pada berobah mendjadi baikan, adalah straatnja Djember selaloeh tinggal membikin poebliek poenja tjomelan. Bila ada toeroen oedjan ketjil sadja, soedah tjoekoep membikin straat Djember berobah mendjadi laoetan loempoer. Tetapi bila tiada toeroen oedjan, lantas itoe laoetan loempoer mendjadi kebon deboe, hingga bila ada angin sedikit sadja, lantas itoe deboe mengeboel ke antero djoeroesan. Ini tentoe sadja meroegikan bagi prikesehatan.Terlebih lagi bila ada auto djalan, wah, djangan harap orang bisa bernapas, bila tiada maoe makan deboe.Betoel sekarang ini di tepi-tepi straat orang moelain adaken solokan, tetapi tiada begitoe dalem, hingga satoe kali ada toeroen oedjan, aernja bila mengalir di sitoe solokan soedah tertoetoep loempoer poela.

Kita harep sadja ini keada’an bisa berobah.

sedangkan ini tentang masuknya listrik di Djember

Penerangan electris

Correspondent kita wartaken dari Djember. Semalem djoestroe taon baroe imlik bagi bangsa Tionghoa, antero lampoe electris di Djember lantas dikasi menjalah, jaito boeat pertama kalinja ini penerangan diadaken di Djember. Antero pendoedoek brada sanget girang dengen adanja ini verassing dari B.E.M. jang telah pilih hari begitoe djitoe boeat moelain kasi njalah penerangan terseboet.

Oeang abonement dari ini penerangan akan direken moelain 1 Maart j.ad. hingga itoe penerangan sedari sekarang dikasi dengan prodeo.

Dengan adanja ini lampoe electris didoega sang maling nanti mati koetoenja, sebab lama Djember memang terkenal ada tempatnja

yang paling menarik dari tulisan tentang Jember pada masa silam adalah bahasanya…yang sangat nostalgik…

kalo pengen liat Jember pada jaman koeno check this site… http://132.229.193.133/kitlv/servlet/proxy

Menyesal di Roti Sentral

Sebagai selingan pecel dan sambel tempe, waktu kecil dulu dangkadang saya disuruh ibu beli roti di Toko Sentral di Jalan Raya.  Saya bicara zaman pra Wina Bakery ini, tapi waktu belum begitu banyak saingan pun, Roti Sentral gak gitu enak. Agak manis dan tak begitu padat berisi. Maaf kalau ada sodara pemilik Toko Sentral di komunitas ini. 

Ragam sajian roti Sentral saya sudah lupa tapi penjualnya saya ingat sampai sekarang.  Waktu itu dia sudah setengah tua dan tidak terlalu banyak bicara. Di tembok samping  terpampang foto berpigura ketika dia masih muda, dengan celana pendek putih dan kaos gelap menjabat tangan Presiden Sukarno.

Menurut bapak saya,  dia adalah The San Liong (Tee San Liong, nggak jelas ejaan yang betul).  Dari tulisan koran-koran, saya kemudian tahu bahwa dia adalah salah satu trio maut PSSI tahun 1950an,  Ramang-Djamiat Dalhar-San Liong.

Beberapa tahun lalu saya dengar/baca bahwa San Liong sudah meninggal dunia.  Sebagai penggemar sepakbola, saya menyesal tidak pernah berkenalan atau paling tidak berjabat tangan dengan dia.

Ketika saya ketik di Google, ternyata tidak banyak tulisan tentang dia, masih lebih banyak tentang  Phua Sian Liong alias Januar Pribadi.  Mungkin kawan-kawan di sini ada yang lebih tahu tentang dia?

Saya kira dia merupakan salah satu tokoh besar asal Jember. Kalau meminjam analogi Manchester United, Ramang-Djamiat-San Liong ibarat holy trinity Denis Law-George Best- Bobby Charlton.

Orang Jember lainnya yang saya ingin kenal adalah Mulyadi alias Ang Tjing Siang, finalis All England tahun 1973 pemain Piala Thomas. Juli nanti sambil pulang ke Jember, sesudah makan pecel lele di Lestari, saya ingin berfoto sama dia.

KOMIK……gak ada matinya….

Godam ” …maka dipadang pembantaian itu bergabung seluruh kekuatan baik dan jahat di dunia untuk menuntaskan demdam kesumat antara ,mereka….di faksi kebaikan tampak Godam,Gundala,Maza,Aquanus,Kapten Mlaar yang dibantu jagoan-jagoan dari negara manca seperti Superman,Batman,Robin,Captain America,Sun Go Kong,Wonder Woman mempersiapkan serangan terakhir ke kubu kejahatan yang dimotori oleh Lex Luthor,Penguin,Octopus dan semua tokoh kejahatan. yang ada di dunia……”

itulah secuplik ingatan tentang perang dahsyat yang penghabisan dari sequel GODAM yang berjudul”BRUTAL”….aku begitu terlarut dari kedahsyatan aura permusuhan yang muncul dari gambar-gambar komik tersebut…sementara teman-temanku menggeloso di lantai rumah budeku yang dingin…Jember 1985 siang yang panas pada bulan puasa…adalah saat yang paling enak untuk membaca bareng-bareng komik-komik yang kami pinjam dari persewaan komik keliling yang 2 kali dalam seminggu menyambangi rumah budeku di Jl.Hassanudin Tugu itu…saat-saat berjuang menahan lapar tak terasa lagi…kaena larut dari kedahsyatan cerita-cerita dari komik tersebut….

Persewaan komik keliling adalah sebuah rombong ukuran 1 meter X 3 meter yang penuh sesak dengan berbagai macam komik,novel,buku cersil…dengan roda gerobak warna biru..sementara mas yang mempunyai persewaan adalah sosok umur 30 tahunan dengan baju lengan panjang,celana jeans cutbray ato kadang celana corduroy yang aksi…dipadu padan dengan kacamata rayban yang keren….rambutnya sebahu dengan gaya mumbul…kayak gaya penyanyi vicky vendy ( penyanyi top pada taun itu dari Sorbejeh)….dengan kesabaran yang luar biasa dia akan melayani kami-kami yang banyak maunya tetapi seret duitnya..he..he..he…

Kalo hari Rabu ato kamis siang (bubar sekolah) dari jauh terlihat …rombong warna biru ber gethebang-gedhebang mendekati Tugu Hassanudin..maka kita bersicepat merogoh kantong celana,ato lemari bahkan merengek kepada orang tua kami untuk diberi recehan buat urunan sewa komik…kita ber enam (aku dan 5 sepupuku) selalu urunan untuk bisa menyewa komik-komik kesenangan kita….soal siapa yang baca duluan ..dilakukan dengan bergilir…befitupun yang menentukan mo pinjam apa hari itu juga bergilir…… komik favorit kami adalah komik superhero asli Indonesia kayak Gundala,Godam,Maza,Aquanus dan Kapten Mlaar yang dibesut Hasmi….sayang aku lupa apa saja yang menjadi favoritku Beberapa yang jadi favorit lainnya adalah

Serial Si Tolol dan Jaka Sembung…karangan Djair…walau gambar komiknya gak sebagus Wid NS ato Jan Mintaraga tetapi ceritanya yang bersetting jaman VOC cukup menggetarkan dan membius kita-kita semua… “jaka sembung naik ojek…” pantun yang terkenal ini menunjukkan seberapa banyak fans jagoan dari Kandanghaur itu…

Serial silat dengan gambar romantik karangan Jan Mintaraga..aku lupa tokohnya…yang aku ingat dia mempunyai ilmu :Pukulan Tanpa Wujud”..gambar komiknya luarbiasa indah..

Serial Si Buta dari Goa Hantu dan Mandala dari ganes TH.. pokoknya kita begitub terhanyut dalam cerita-cerita yang menegangkan tersebut….kehebatan Ganes TH melakukan deskripsi daerah di tanah air membuat penasaran..allhamdulillah akhirnya aku sempat liat Kota Donggala yang menjadi setting cerita “PRAHARA di DONGGALA”..kota pelabuhan terkenal di teluk Palu ini memang menyimpan bangunan-bangunan kuno seperti yang digambarkan oleh beliau…wah….hebat pokoknya…

Kesukaannku pada komik bisa dibagi dalam beberapa episode…

Saat SD ..bacaan favoritku adalah Album Cerita Ternama…cerita-ceritanya sangat bermutu dengan gambar yang begitu mempesona …antara lain…Taras Bulba, Quo Vadis, The Three Musketeers, petualangan Old Shaterhand, Spartacus dll…..selain itu juga menyenangi komik yang ada di majalah seperti Kerajaan Trigan,STORM ato Coki Si pelukis cepat yang ada di majalah HAI..ato jagoan bola Roel Dijkstra….juga Deni si manusia ikan yang ada di majalah BOBO

saat SMP..bacaan favoritku adalah komik seperti Godam,Si Buta dari Goa Hantu,Mandala,Deni Manusia ikan dll…Selain itu udah mulai merambah ke komik mancanegara seperti Lucky Luke ..ato Petualangan Tin-Tin.karya Herge…dari “Harta Jarun Racham Merah”..”penerbangan 714″ yang bersetting Indonesia….sampai “Lotus Biru”….Sejuta topan badai adalah ungkapan favorit kami dari serial Tintin ini….pada saat SMP aku juga jadi anggota Perpustakaan Daerah yang di mesjid lama AL Baitul Amiin..disini aku pinjam Novelnya Karl May seperti petualangan Old Shaterhand dan Winnetou, Kara Ben Nemsi, dll…..

Saat SMA…mulai meninggalkan komik dan beralih kebacaan yang lebih banyak tulisannya dibandingkan gambarnya…kayak cersilnya Kho Ping Hoo…mulai Bu Kek Siansu, Bu Punsu dll…sehingga saat kita ngobrol dan bercanda mulai memasukkan idiom-idiom kho ping hoo misalnya kalo ada temenku yang play boy…pasti dipanggil Jay Hwa Cat (durjana pemetik Bunga)..kalo ada temanku ditolak cewek..maka cewek itu disebul MO Li (iblis wanita)..hua..ha..ha pada jaman SMA ini juga..mas si pemilik persewaan keliling membolehkan kita untuk meminjam novel Nick Carter atao novel dewasa lainnya kayak Marga T atau Ashadi Siregar yang novelnya “Cintaku di Kampus Biru” menndorongku untuk kuliah di UGM…he..he..he

Saat kuliah di UGM..bacaan favoriku adalah komik komik Jepang (Mangga) kayak Kungfu Boy, Slam Dunk, dll…komik adalah sarana pelepasan kejenuhan yang mengasyikkan pokoknya..disamping bacaan novel berat kayak Suro Bulldog,Forsythe,dll..yang kupinjam din persewaan depan Fotocopy Apollo di Jl.Kaliurang…..

Bagaimana serunya jaman komik yang mengharu biru jaman 1980an … ini ada kutipan dari TEMPO

Pembaca komik penghujung tahun 1960-an hingga awal 1980-an sangat mengenal nama Wid N.S., bersanding dengan nama-nama komikus besar semacam Yan Mintaraga (Rhapsody Dalam Sendu), Teguh Santoso (Sandhora ), Ganes T.H. (Si Buta dari Goa Hantu), Hans Jaladara (Panji Tengkorak), Hasmi (Gundala Putra Petir). Nama Wid kondang lewat seri komiknya, Godam. Saat itu Godam mencuri perhatian pecinta komik yang umumnya remaja, dari judul seri Tirani Biru di Negeri Godam, Black Magic, Sang Kolektor, Bocah Atlantis, Mentjari Djedjak Majat, hingga Mata Sinar X Godam.

Demam tokoh Superman di Amerika Serikat merambah ke Indonesia, salah satunya lewat sosok Godam. Tapi, Wid tak larut dengan kecenderungan menggarap bentuk figur superhero yang terinspirasi figur komik Amerika, semacam Superman atau Spiderman, dengan proporsi bentuk fisik Eropa: dada bidang, wajah cenderung muda. Wid justru menjadikan sosok Godam dan tokoh di dalam komiknya dengan bentuk fisik Asia. “Godam adalah superhero Melayu dengan fisik Melayu,” kata Hasmi, komikus dan sekaligus sobat kental Wid. Tak heran figur Godam terasa lebih membumi dan berhasil memuaskan fantasi remaja pecandu komik superhero berjubah yang membasmi kejahatan. “

kalo sekarang,…aku sih masih senang komik…tapi yang bernilai edukasi ..kayak Tele tubbies,dll…he..he..he..maksudnya harus suka karena itu adalah komik kesukaan Icha yang setiap saat disodorin ke aku…untuk dibacakan sebagai teman mo tidur…jika terdengar suara Icha ” ..apak..apak… abbies..abbies..lalaa..pooo…” sambil menyeret komik Teletubbiesnya…itu berarti tugas mulia untuk membacakan komik yang telah berulang-ulang kita bacakan …mesti dibaca ulang.lagi..untuk kesekian kalinnya..he..he..he…

kayaknya anakku akan meneruskan hobby baca komik….sehingga bapaknya bisa ngampung moco…hidup komik……..

komik opo favoritmu duluuuuuurrrrrrrrr ?????????

This Used to be My Playground…

Sebenarnya iki tulisan rodo kasep pisan..(sakdurunge dikomentari hehehe)..Lebaran 2007 kemarin, anak-anakku ngajak main ke sungai.. sudah beberapa kali saya menyampaikan kalau rumah Kakek & Nenek dekat sungai. Saya menjanjikan dua atau tiga hari kemudian dengan catatan mereka bisa bangun pagi.. 

Hari yang dinantikan tiba, seingat saya Sabtu. Pagi-pagi kami berangkat dari rumah menyeberang jalan Moh Seruji terus ke arah bagian belakang Diploma (?) ke kali Bedadung. Sudah lama sekali saya tidak main kesana.. mungkin sekitar 20 an tahun. Jalan menurun sedikit curam. Dulu sewaktu aku SMP dan SMA masih sering main ke seorang sahabat yang kini telah tiada. Dulu kalau main petasan di jalan-jalan sering dimaki orang, maka kamipun mainnya di kali Bedadung ini. Dulu jarak antara bibir sungai dan rumah lumayan jauh, sekarang .. sudah dekat sekali. Bukan karena sungainya semakin lebar, tetapi karena orangnya sudah semakin banyak.. 

Begitu tiba ditempat..yak ampuuun !!..aku lupa.. sudah terlalu lama memang tidak pernah kesini… jam-jam gini ini khan waktunya orang lagi mandi.. banyak cewek-cewek, ibu-ibu, cowok-cowok, bapak-bapak.. semua orang dah ada disini.. kayak permen Nano Nano  aja, ramai rasanya…  diantara batu-batu besar dan kecil.. aku jadi malu sendiri..he..he..he.. maklum sudah lama gak mandi di kali..sudah lama gak main di kali..  

Akhirnya kami mbalik kucing..pulang lagi.. menunggu agak siangan.. kira-kira jam 10 kami sudah tiba ditempat semula.. masih ada orang-orang mandi tetapi tidak sebanyak pagi tadi..

Anak-anakku senang banget bisa mandi dikali.. pengalaman pertama yang sangat mengasyikkan.. kasian ya anak-anakku ini.. mau mandi dan main di kali aja nunggu diajak pulang kampung dulu.. sewaktu aku masih kecil,  dulu kalo mau main ke kali ya tinggal berangkat.. kalo gak ke kali Bedadung ya yang di daerah belakang rumah.. gak tau namanya, tapi kalau dari arah Patrang ke arah Tebek.. gak terlalu jauh dari RS dr Soebandi.. 

Atau kalau pas ke rumah kakek & nenek di Yosowilangun, Lumajang, kami sering main-main di kali Bondoyudho yang hanya sepelemparan batu dari  rumah.. main gedebog pisang.. cuman heran aja dulu, kalo dinaikin koq tenggelam juga tuh.. gak kayak di filem-filem..hahaha..Kalo jaman dulu siapa sich yang gak pernah mandi di kali..?  Bisa dibilang itu tempat bermain alternatif selain di halaman rumah (dan halaman rumah tetangga).. 

This used to be my playground This used to be my childhood dream This used to be the place I ran to Whenever I was in need of a friend Why did it have to end And why do they always say

Don’t look back Keep your head held high Don’t ask them why Because life is short And before you know You’re feeling old And your heart is breaking Don’t hold on to the past Well that’s too much to ask….(Madonna:  This Used to be My Playground – OST A League of  Their Own)

Kantin Jember.. kini tinggal kenangan…

Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan  teka-teki dari seorang teman .. “Apa yang kasih isyarat belok kiri tapi beloknya ke kanan, kasih isyarat belok kanan tapi beloknya ke kiri..?” 

jawabannya… GATOTKACA…. bener juga si Gatot itu kalau tangane ndhaplang ke kiri & kaki kirinya diangkat doi malah belok zigzag  ke kanan, begitu sebaliknya….

 hahaha.. ingatanku  melayang ke masa kanak-kanak.. awal-awal SD.. ketika itu aku punya koleksi komik-komik wayang yang berupa komedi.. semar, gareng, petruk, bagong..  ceritanya tidak panjang-panjang… paling-paling 2-4 halaman terus ganti cerita..cerita-cerita konyol terutama tentang Petruk & Gareng.. kira-kira kalo sekarang mirip dengan buku-buku Doraemon.. 

Juga ada cerita-cerita  wayang yang lebih serius (kalo gak salah karya RA Kosasih, tapi bukan yang buku tebal).. disitu diceritakan Gatotkaca yang sakti mandraguna.. otot kawat balung wesi  (keringet wedang kopi..hehe).. bisa terbang.. 

Visualisasi di komik dimana Petruk yang hidungnya panjang banget dan Gatotkaca yang bisa terbang membuat saya pingin sekali nonton yang sebenarnya… masa’ sich ada orang hidungnya panjang.. masa’ sich ada orang bisa terbang ..seingatku Ayah yang ngasih tahu kalo ada pertunjukan wayang orang dimana kita bisa ngelihat Petruk dan Gatotkaca.. tapi dimana ?? ada yang tahu  ?? 

Di Kantin… yup, disana dulu tiap malam minggu ada pertunjukan wayang orang.. Kantin ini lokasinya kalo dari alun-alun kearah Pagah..lewat SMP 2, lampu merah.. satu gedung lagi (PLN ??).. dah, disitu sebelahan .. gedungnya berwarna hijau tentara..  

Penasaran banget saya dengan bayangan saya terhadap Petruk dan Gatotkaca ini.. begitu pertunjukan sudah dimulai saya jadi agak kecewa.. ternyata si Petruk hidungnya biasa-biasa aja.. dan Gatotkaca juga gak terbang..Gatotkacanya kapan terbang? . koq gak terbang-terbang sich?.. aku tungguin terus sampe selesai..tetap gak terbang juga.. busyet dech.. kuciwa aku.. pertunjukannya pakai bahasa jawa kromo inggil.. dimana saya tidak biasa mendengarnya, sehingga agak kesulitan juga untuk mengerti..  

Sampai dirumah saya ceritakan ke anggota keluarga yang lain kalo si Petruk ini hidungnya gak kayak di buku…hidungnya biasa-biasa, kayak kita juga.. ha.ha.ha ..  Tapi ya itu.. dasar anak kecil.. saya masih penasaran .. siapa tahu Petruk ada yang mancung  beneran.. dan juga  saya suka nonton tariannya maka saya masih sering nonton wayang orang ini.. biasanya acara ini selesai sekitar jam 11-12 malam…   

Sudah bertahun-tahun kantin tersebut hampir tak bersisa.. bahkan saya kira bangunan utamanya sudah hancur..dan ditutupi seng.. tinggal bangunan sebelah selatan yang masih dipakai untuk pangkas rambut.. (entah Toko Buku Santo Yusup yang dibalik itu masih ada atau nggak..) 

Seperti nasib berbagai tempat pertunjukan kesenian tradisional di kota-kota lain di Indonesia, Kantin di Jember inipun kini tinggal kenangan…  

Sayup-sayup terdengar suara (alm.) mas John Lennon.. 

There are places I’ll remember all my life

Though some have changed

Some forever not for better

Some are gone and some remained

All these places had their moments………

(In My Life – The Beatles)