Archive for the ‘Nostalgia’ category

Usia Jember Lebih Tua daripada Surabaya

April 5th, 2011

Fakta yang mengejutkan… eh fakta bukan ya…

dari http://beritajatim.com/detailnews.php/6/Politik_&_Pemerintahan/2011-04-04/97181/Usia_Jember_Lebih_Tua_daripada_Surabaya

Senin, 04 April 2011 08:30:22 WIB Reporter : Oryza A. Wirawan

Jember (beritajatim.com) – Usia Kabupaten Jember diperkirakan lebih tua daripada usia Kota Surabaya. Ada situs yang menyatakan Jember mulai ada di tahun 1088.

Ihwal tahun kelahiran Jember ini tertera di situs prasasti Congapan yang berada di Desa Karangbayat Kecamatan Sumbersari. “Di situ tertulis ‘tlah sanak pangilanku’ yang artinya tahun 1088,” kata Didik Purbandriyo, Koordinator Balai Pelestarian Peninggalan Purbakal Kementerian Budaya dan Pariwisata.

Jika ini menjadi acuan, maka usia Jember saat ini mencapai 923 tahun. Bandingkan dengan Surabaya yang berusia sekitar tujuh abad. Namun, tidak seperti Surabaya yang dipastikan tanggal berdirinya pada 31 Mei, masih sulit mengidentifikasi tanggal pasti lahirnya Jember.

Kendati sudah ada prasasti Congapan yang mengonfirmasi tahun tersebut, Pemerintah Kabupaten Jember lebih memilih menggunakan staatsblad nomor 322 tentang Bestuurshervorming, Decentralisastie, Regentschappen Oost Java. Pengesahnya adalah Gubernur Jenderal De Graeff. Di situ disebutkan, status Jember ditingkatkan dari afdeeling menjadi regentschap, per 1 Januari 1929. Regentschap setara dengan kabupaten. Inilah yang kemudian dijadikan acuan tanggal lahir Jember.

Didik tidak tahu persis kenapa tahun lahir bikinan Belanda itu yang dijadikan acuan. Yang terang, di Jember ada banyak situs yang menunjukkan usia Jember sudah sangat tua.

“Kalau dilihat di kitab Negara Kertagama, Jember hanya perlintasan turne (perjalanan) Hayam Wuruk ke daerah selatan,” kata Didik.

Kelurahan Mangli dulu juga kerajaan kecil di bawah Blambangan. “Perang Sadeng yang termasyhur itu juga diperkirakan terjadi di daerah Kecamatan Balung sekarang. Perang Sadeng kemungkinan ada di sana, karena di Balung sampai Kecamatan Semboro ada temuan benteng,” kata Didik. [wir]

Popularity: 4% [?]

Sedikit Jejak Sejarah Pahlawan Jember

February 22nd, 2011

Mungkin bosen ya baca postinganku tentang sejarah Jember, tapi ya gimana lagi, aku suka banget belajar sejarah, meskipun gak kuliah di Ilmu sejarah… Apalagi itu soal sejarah hal-hal yang dekat dengan kita.. sejarah Jember misalnya. Nah mumpung baru Februari kemarin sempat pulang ke Jember, ya tak mangfaatken,,(yang bener manpaatkan, munfaatkan atau manfaatkan ya..) untk napak tilas tempat-tempat yang bersejarah.. Yuk mulai ceritanya.

Achmad Rizal van Patrang Nah , kalo memasuki Kota Jember dari arah Surabaya, pasti ketemu sama patung ini (Kecuali naik Kereta Api).. letaknya pas diujung doubleway, jalan Hayam Wuruk, Kaliwates Jember. Taruhan deh.. gak banyak yang tahu ini sebenarnya patung siapa dan dalam rangka apa dan kenapa kok menunjuknya ke arah Timur.. Kok gak ngacung ke atas, kok gak mengacung pake 3 jari.. Metal … atau jari tengah he..he.. sing iki saru  :)

Lah kenapa kok pake ngerangkul temannya yang terlihat terluka, kok gak berpelukan kayak teletubbies.. dan banyak pertanyaan kenapa yang lain.. Tapi itu kan buat orang yang kritis.. tapi juga buat orang yang kurang kerjaan kayak aku.

Kalo patung ini didekati, tidak ada informasi satupun yang tersisa di prasasti di bawah patung. jang kosong, cuma marmer hitam tanpa tulisan apapun…. sumpah deh..kalo gak percaya lihat nih di foto berikutnya.

Lho, terus buat apa bikin patung terus gak ada penanda/informasi satupun tentang maksud monumen itu didirikan, mestinya kan ada imfo-nya, jadi gak cuma jadi penghias jalan, tapi jadi bahan untuk dikenang warga Jember.

» Read more: Sedikit Jejak Sejarah Pahlawan Jember

Popularity: 5% [?]

Palagan Jumerto, Saksi Perjuangan Rakyat Jember

January 17th, 2011

Tulsan ini mungkin masih berkaitan dengan tulisanku yang lama tahun 2008

Desa Jumerto, Patrang, Jember, menyimpan sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan NKRI. Tiga belas anggota Brimob dan 20 warga setempat tewas karena ditembus peluru pasukan Cakra dari KNIL Belanda yang berniat menduduki Indonesia. Monumen Palagan Jumerto yang berdiri di depan Kelurahan Jumerto, Kecamatan Patrang, tetap kukuh. Deretan nama 13 anggota Brimob Polri dan 20 warga setempat tertulis jelas pada monumen yang diresmikan 1 Juli 1984 oleh Kapolda Jawa Timur saat itu, Mayjen Polisi Soedarmadji.

Kapolres Jember saat itu, Letkol Polisi H Soemardiono, juga tertulis di monumen tersebut. Dua bambu runcing, logo Brimob, logo Polri, serta logo Polda Jatim, pun terpampang di monumen bersejarah tersebut.

Tidak banyak yang tahu sejarah monumen setinggi 10 meter tersebut. Para saksi mata peristiwa maut itu sudah tiada. Kini tinggal anak dan para cucu saksi mata yang tetap mengenang sejarah kepahlawanan 13 anggota Brimob dan 20 warga Jumerto tersebut.

Suhadi, salah seorang warga Ju­merto, menyatakan mendapatkan cerita kepahlawanan itu dari Abdarullah, ayahnya yang meninggal lima bulan lalu. Dia kemudian men­ceritakan peristiwa Palagan Jumerto. Kejadian tersebut bermula dari kedatangan 13 anggota Brimob yang mendapatkan tugas patroli keliling Jawa Timur (Jatim).

“Tiga belas anggota Brimob itu baru datang dari perjalanan panjang,” kata Suhadi. Sebelum menginap di Desa Jumerto, mereka menempuh perjalanan dari Lumajang, Malang, dan Blitar. “Ayah saya lupa harinya. Saat itu 1949,” tambahnya.

» Read more: Palagan Jumerto, Saksi Perjuangan Rakyat Jember

Popularity: 6% [?]

“Jalur Tebu” Kereta Api Jember Wilayah Selatan

December 20th, 2009

Saya punya hutang janji menulis untuk Cak Ekoz al-Guevara: tentang perkeretaapian di wilayah Jember Selatan. Sekaligus saya tersadarkan bahwa di antara kita ada yang belum sempat menyadari jalur eksotis kereta api di selatan. Jangan khawatir, bagi saya pun sayup-sayup karena sangat sedikit ingatan tentang kereta api ini.

Membentang di sebelah utara sungai besar dan instalasi perairan dari desa Curah Malang, Kec. Rambipuji, hingga desa Tutul, Kec. Balung, terdapat rel kereta api hasil pencabangan di pertigaan sohor Kaliputih, Rambipuji. Di sisi selatan sungai terdapat jalan raya penghubung Jember-Lumajang, yang digunakan hingga sekarang. Bak “jalur sutera”, prasarana ini memang sengaja dibangun sejak era kolonial untuk membuka perdagangan antarkota.

» Read more: “Jalur Tebu” Kereta Api Jember Wilayah Selatan

Popularity: 12% [?]

Jeneng Kelas di SMA 1 Jember

December 11th, 2009

Gak salah kalo jaman SMA itu dikatakan jaman yang paling menyenangkan, soalnya sekolah masih nyantai, boleh gak terlalu serius dan ketemu teman-teman seumur yang lagi lucu-lucunya. Kegiatannya selain belajar pasti maen bareng genk atau teman sekelas. Dengan motivasi meningkatkan kekompakan teman-teman sekelas biasanya  kelasnya dikasih nama yang seru-seru yang mencerminkan jiwa atau semangat kelas.

Di tulisan ini Aku pengen sharing tentang obrolanku dengan Cak ekoz, salah satu penggiat Blog SMA 1 Jember ini yang terkenal dengan daya ingatnya yang Ruuuarrr Biaaasa tentang  beberapa nama kelas yang sempat atau masih diingatnya. Obrolan ini sebenarnya kami lakukan pas bulan Ramadhan tahun 2008, cuma gak sempat ditulis untuk disebar lewat blog ini mengingat betapa malasnya diriku. Tapi membaca koment Cak Eko yang dengan memelas di posting  “Selamat Berulang Tahun Kesepuluh, Milis 1988”, diriku jadi tergerak untuk nulis…

» Read more: Jeneng Kelas di SMA 1 Jember

Popularity: 15% [?]

Pulang Kampung Sebentar Lagi

August 3rd, 2009

Idul Fitri 1430 H akan jatuh pada bulan September mendatang. Salah satu rutinitas budaya di negara kita adalah pulang kampung. Selain tujuan utama bertemu keluarga besar di Jember, kesempatan seperti ini dimanfaatkan juga untuk bersilaturahim kembali, atau menyelenggarakan reuni.

Dari catatan yang saya baca di Wall grup SMA 1 Jember di Facebook, Cak Jaka Adila, memberi kabar rencana reunian untuk alumni tahun 1976,

Tanggal pelaksanaan: 23 dan 24 September 2009
Lokasi: belum ditentukan
Kontak: dr. Bagas Kumoro, bagas_kumoro [at] yahoo.com

» Read more: Pulang Kampung Sebentar Lagi

Popularity: 8% [?]

KAMPANYE : “Carpak ler keleran..Carpak ler keleran”

March 17th, 2009

kampanye terbuka (diambil dari detik.com) Hari ini (16/03) adalah awal dari masa kampanye terbuka (baca musim pawai,konvoi,dan kadang kala ada bonus rusuhnya juga), atau kampanye yang sangat Indonesia. Gegap gempita ,hura hura dan jauh dari esensinya. Sebenarnya telah beberapa saat kampanye parpol untuk pemilihan calon anggota legislatif berkelindan di sekitar. Dimulai dari berbagai iklan Gerindra yang sampai-sampai anakku yang terkecil apal banget dan selalu berkata lirih mendesah… Ge-Rin-Dra ..setiap wajah Prabowo yang tiba-tiba menjadi sosok sangat humanis dan pro rakyat ..muncul di televisi. Lalu disusul dengan iklan-iklan ”Hidup adalah Perbuatan” si Sutrisno Bachir, yang akhirnya jadi olok-olok dimana-mana… juga..iklan simultan sang Capres gagal…Rizal Malallaranggeng yang sebenarnya sangat bagus dari sisi penggambaran alam Indonesia tapi akhirnya dihentikan karena kehabisan ”energi”.., dan tentu saja iklan kontroversial Soeharto guru bangsa versi PKS itu. Kemudian dilanjutkan dengan bertebaran wajah-wajah para caleg dengan bentuk poster foto yang mungkin penggambaran terbaik wajah mereka selama hidup mereka dengan segala slogan yang terkadang garing, bahkan cenderung menggelikan jikalau mereka tak terlalu pede untuk tampil sendiri maka dengan tanpa ijin mereka bisa menggandeng Barack Obama ato David Beckham (biasanya favorit caleg Golkar) lantaran si spice boy itu punya nomer punggung ”23” saat maen di Real Madrid. Disusul kemudian berbagai macam talkshow di TV yang kadang-kadang bikin perut mual dengan segala tingkah polah para caleg yang mencoba menjadi problem solver bagi semua masalah bangsa ini…dari soal Tambang sampai PKL, dari soal Kurs Rupiah sampai cara meningkatkan prestasi sepakbola Nasional. Dan off course,…itu semua hanya appetizer belaka…dan inilah..main Coursenya…kampanye terbuka dengan raungan motor yang garang, goyang dahsyat para pedangdut yang lupa telah ada UU pornografi dan porno aksi dan juga pekik semangat yang terasa garing di telinga…tapi ya itulah…kampanye tanpa konvoi dan penyanyi dangdut ibarat sayur tanpa garam ,..hambar….

Well aku gak akan cerita kampanye tahun ini.,,, aku mau share cerita kampanye masa silam. Sebagai anak kebun …yang masih teringat tentang keriuhan kampanye menggelora adalah di tahun 1977, saat itu bapakku dadi Zijnder Pabrik di salah satu kebun di Glenmore Banyuwangi. Di masa itu dengan 3 partai yang tersisa PPP,GOLKAR dan PDI, tentu tak serriuh rendah sekarang. Aroma persaingan nyaris tak ada, Apalagi di kebun, tak satupun berani masang tanda gambar selain Golkar, wal hasil dimana-mana yang ditemui adalah gambar beringin,warna kuning dan gambar jari mengacungkan tanda Victory yang misti dibaca ”2” nomer urut Golkar. Pertemuan umum (kampanye terbuka) yang saya ikuti adalah saat Ibu Direktur Utama dan Bapak direktur utama PTP dari Jember kerso rawuh dan memberikan ”santiaji” kepada para kawulonya para buruh kebun di Glenmore, walau masih kecil moment itu sangat melekat di memoriku…malam itu kampanye diawali dengan tari-tarian penyambutan, lalu koor puja puji bagi pemerintah dan negara dari paduan suara dadakan buruh kebun yang tentu saja pas-pasan penampilannya dan tentu saja santiaji dari ibu Dirut yang sangat piawai menggiring dengan setengah memaksa para karyawan untuk memilih GOLKAR pada Pemilu itu, pidato bahasa Indonesia diselipi bahasa Madura yang fasih itu juga ditimpali dengan yell yang digerakkan para ”combe” yang membaur bersama karyawan di braak pertemuan kebun karet itu. ” Golkar Menang, Pancasila jaya,Pembangunan Terus” di ulang-ulang sampai saatnya si ibu turun pangung dan inilah kemudian yang diganti hiburan orkes melayu yang anehnya tak satupun berani membawakan lagu-lagu Rhoma Irama yang sebenarnya lagi ngetop saat itu kayak ”Penasaran” dan ”Begadang” tentu saja ada alasannya …para pemain orkes itu gak mau bunuh diri menyanyikan lagu-lagu si raja dangdut yang saat itu menjadi ikon partai pesaing Golkar, karena bisa menggulingkan periuk nasinya….

Lima tahun kemudian 1982, tatkala aku sudah sekolah di Jember. Ritual kampanye pada waktu itu tetap menarik aku ikuti, mungkin lebih karena adanya keramaian sebagai tontonan daripada sebuah kesadaran untuk memahami dunia politik yang saat itu rasanya sama saja. Siang-siang itu aku ikut menggelosor di alun-alun kota jember yang dihadiri ratusan orang beratribut Banteng. Sama seperti kampanye 5 tahun sebelumnya, keriuhan kampanye terbuka selalu diawali dengan nyanyi, lalu pidato-pidato monotoon dengan intonasi jurkam yang dimiri miripkan suara Bung Karno dengan akhiran ”…ken ” yang khas,, dan diakhiri dengan peragaan mencoblos gambar banteng di spanduk besar oleh Soenawar Soekowati petinggi PDI dari Jakarta, aku inget sekali ikut berbaur berusaha mendekati si bapak berjas merah itu. Gemuruh massa emang bener-bener memantik adrenalin…wuiihhhh…Siang yang sangat sedappp.

Kampanye yang lebih dahsyat adalah kampanye akhir GOLKAR beberapa hari kemudian, siang itu rasanya alun-alun kota Jember gak bisa menampung gelombang peserta kampanye yang mengalir dari seantero kabupaten.Truk-truk perkebunan dengan karyawan yang berjejal memuntahkan orang-orang bekaos kuning dari baknya, para pedagang kagetan juga bederet-deret di sekitar alun-alun dari pedagang es tung-tung sampek penjual kacang rebus meraup rezeki dari keriuhan peserta kampanye. Suara riuh rendah yel penyemangat menyembur ke angkasa ..tetep dengan jargon yang sama ”Golkar Menang ,Pancasila Jaya,Pembangunan Terus”. Tapi yang menyedot perhatian khalayak siang terik itu adalah kemunculan sorang local hero,seorang real leader bahkan the real bupati of jember forever….Bapak Abdoel Hadi. Beberapa hari sebelum kampanye akhir memang beredar isu dan desas-desus bahwa panutan yang dekat dengan rakyat itu berkampanye untuk PPP alias ”Ka’bah” dan tidak lagi bersama Golkar. Tentu saja ini berita besar, apalagi nama besar pak Doel Hadi ini ibarat magnet untuk mendulang suara (vote getter), jika benar pak Doel Hadi ikut PPP wah bisa kacau perolehan Golkar di daerah basis NU yang secara tradisional akan lebih cenderung memilih PPP sebagai partai fusi sejumlah partai islam apalagi tanda gambar Ka’bah sangat mudah menarik minat rakyat yang ikut nyoblos. Golkar berusaha mematahkan itu dengan memunculkan Pak Abdoel Hadi di kampanye terakhir sekaligus menepis isu berpindahnya sang vote getter ke PPP. Maka dipenghujung kampanye dan Jurkam secara menggelora menyampaikan bahwa ada partai yang telah menghembuskan isu berpalingnya sang voe getter dari Golkar adalah isu sampah dan bohong alias ”car pak ler kele ran”..”kebohongan besar tak termaafkan”..maka seiring kemunculan Pak Abdoel Hadi ke panggung kampanye dan menyatakan masih tetap bersama GOLKAR …maka peserta kampanye berteriak histeris dengan meneriakkan hujatan kepada partai penyebar isu bahwa mereka adalah pembohong..maka…sore itu kampanye ditutup dengan yel-yel yang memekakkan telingga ” carpak ler ke leren..cerpek ler keleran..carpak lerkeleran”. Maka sepanjang perjalanan pulang ke Gebang maka tanpa sadar aku juga mengummankan kata-kata ritmis ”carpak ler-keleran..carpak ler keleran..”……..

So untuk tahun ini sampai 2014 nanti siapakah Caleg yang berjanji di saat kampanye dan mengingkarinya di saat menjabat akan disumpahi oleh pemilihnya dengan kata-kata ”carpak ler keleran”? Kita tunggu saja…..

Popularity: 13% [?]

Tombo Sepi

March 15th, 2009

PERUBAHAN NAMA KAMPUNG

Embong atawa Kampoeng Tengah? Pembatja tentoe djoega taoe jang Pembrita adaken perobahan pada adres dari kantoor boeat Redactie dan Administratie, boekan? Itoe perobahan beroepa robah “Kampoeng Tengah” mendjadi “Embong Tengah”. Sebabnja kita adaken itoe perobahan, ialah kerna djalanan jang biasanja diseboet Kampoeng Tengah djoega mempoenjai banjak gang gang di sebelah kiri dan kanannja, gang gang mana djoega dikasi nama Kampoeng Tengah, hingga tentoe ssadja bisa terbitken kekliroean kekliroean jang semoestinja tida sampe dilakoeken bila orang tida mendjadi bingoeng dengan itoe nama Kampoeng Tengah, boeat djalanan besar dan boeat kampoeng kampoeng jang berada di kiri kananja djalanan jang kita maksoedken di atas. Soepaia bisa diadaken perbedahan dalem nama dan dengen begitoe singkirken banjak kekliroean, maka dengan ini kita voorstel soepaia djalanan besar, dari Hoofdstraat sampe Djaganstraat, djalanan mana tadinja biasa diseboet Kampoeng Tengah, dirobah mendjadi Embong Tengah, sedeng itoe nama Kampoeng Tengah tetep boeat gang gang jang berada di kiri dan kanannja Embong Tengah. Kita pertjaja dan harep fihak jang berwadjib (Regentschapsraad) djoega bisa setoedjoe dengen ini perobahan jang diinginken oleh semoea orang jang tinggal di sepandjangnja djalanan terseboet.

RESTORAN

Restaurant “Sangkoeriang” Embong Tengah Djember Tiap Saptoe dan Minggoe:

Lontong tjapgome Satee – manis Soemenep Ijs Hoenkwee Bika Ambon d.l.l

SALON

Djembersch Permanenthuis en Coiffeurssalon Societeitstraat – Djember Telf. No. 61 boeat Njonja2, Toean2 dan anak. Adres jang satoe-sa- toenja boeat: permanentwave (bikin kriting dengen tang- goengan 6 boelan), watergolf, onduleeren, tjoetji ramboet, tjat ramboet dan rawat aer-moeka, menoeroet sijsteem dr. Rado. Kita selaloe goenaken barang2 dari dr. Radoe, oentoek rawat aer-moeka

    Njonja W. Becker.

Popularity: 9% [?]

Kenakalan Berjamaah di SMA

January 14th, 2009

Ada beberapa tindak ‘kenakalan’ pelajar yang dulu mungkin pernah kita lakukan secara ‘berjamaah’. Saya pun pernah (mungkin kerap, he he) terlibat di dalamnya dulu. Saya katakan tindak ‘kenakalan’ karena secara normatif hal-hal tersebut tidak bisa diterima sebagai perilaku positif dari remaja dengan label pelajar. Ada atribut ‘jamaah’ karena tindak tersebut dilakukan secara massal dan secara psikologis mungkin ‘keberjamaahan’ inilah yang bikin asyik. Bikin asyik karena mungkin itulah cara saya dan jamaah lainnya waktu itu untuk menunjukkan semangat kebersamaan / solidaritas, ‘sentimen’ anak muda dalam proses pencarian identitas.

            Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas kenakalan pelajar dalam perspektif ilmiah. Saya hanya ingin mengenang beberapa bentuk perilaku yang pernah kami lakukan bersama-sama dulu ketika saya SMA. Nah, mari kita mulai  mengulik masa lalu kita yang mungkin saat ini bisa bikin kita ngomong ’kok iso yo aku ngono, mbiyen?’, he he. Alur kenangan dalam tulisan ini akan mengalir dalam kerangka kronologis.

            Kelas satu. Dulu saya bergabung dengan kelas yang letaknya di ujung koridor di depan lapangan upacara (entah apakah layout ini masih berlaku sama sampai kini) yaitu kelas  14 (satu empat). Kelas satu SMA adalah masa-masa sekolah ketika saya harus masuk shift sekolah ke dua alias masuk siang, mulai jam 13.00 WIB, karena harus bergantian dengan Sekolah Widyatama (jika saya tidak salah mengingat nama sekolahnya). Di kelas awal ini, saya masih ingat betul ketika kelas 14 suatu saat pernah membikin Pak Karniyanto (Pak Karni, guru mata pelajaran Sejarah dan PSPB) bergetar suaranya karena menahan emosi dan (mungkin) linangan air mata (mata beliau berkaca-kaca saat itu) karena jengkel melihat ulah kami. Entah, mendapat ide dari mana, kami sekelas saat itu sepakat saling lempar kulit buah rambutan (yang kami santap buahnya bersama-sama di kelas) saat Pak Karni sibuk menulis materi pelajaran di papan tulis. Begitu Pak Karni curiga mendengar suara berisik di belakang beliau, beliau berpaling ke belakang dan entah bagaimana pula kami bisa secara simultan berhenti saling lempar dan terkesan sibuk menyalin materi pelajaran di buku kami, he he. Akhirnya Pak Karni memutuskan menulis kembali di papan tulis dan kejadian yang sama berulang, kami kembali saling lempar kulit buah rambutan. Lagi-lagi Pak Karni berpaling ke belakang dan hanya menemukan kami yang sok innocent berkonsentrasi pada materi pelajaran. Kali ke tiga kami kurang beruntung karena salah seorang teman tertangkap basah dalam posisi tangan akan melempar kulit buah rambutan. Maka bisa ditebak, apa yang telah saya uraikan sebelumnya kemudian terjadi. Pak Karni (maaf, Bapak, kami menyesal), beliau sangat murka dengan apa yang kami perbuat, sampai-sampai kami tidak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut beliau: ”Apakah kalian tidak menyukai Saya?” (InsyaAllah ini kata-kata beliau bila saya tidak salah mengingat).

            Kelas dua. Naik ke kelas dua, saya masuk dalam komunitas kelas 2 Fisika 2.  Kelas Fisika 2 terkenal di antara kelima kelas paralel Fisika lainnya (seluruhnya ada 6 kelas paralel Fisika) karena reputasinya sebagai kelas ’buangan’, kelas dengan jumlah anak-anak terbanyak untuk yang dianggap masuk dalam kategori ’bandel’, ’berandals’, bahkan ’criminals’. Sebagian penghuni Fisika 2 adalah langganan Drago (for those who don’t know what Drago is, this is the name of a place, located right behind the school, where ‘school-time escaping students’ usually communed together). Termasuk dari mereka adalah yang beberapa kali terlibat tawuran hingga main tikam-tikaman belati sampai berurusan dengan polisi, trek-trekan hanya untuk bisa dibilang gaya atau berfilosofi hidup ala ‘Peterson’ yang adalah simbol ‘anak asuhan rembulan’ atau petualang jalanan sejak malam sampai dini hari. Untuk kenakalan berjamaah, inilah saat-saat dimana kami sekelas mulai sepakat dengan acara ‘bolos bersama’, mokong melarikan diri dari beberapa jam pelajaran yang sudah kita ‘incar’ untuk kemudian pelesir berombongan naik motor menuju dua tempat favorit: Rembangan atau Pantai Watu Ulo. Wah! he he. Kami serasa keluarga besar Mafia (Makhluk Fisika Dua) yang sangat kompak! Sesudah acara ‘merasa kompak’ terpenuhi, kami bersiap untuk menanggung segala resiko yang akan terjadi akibat kekompakan kami. Beruntunglah kami karena resiko yang kami tanggung hanyalah ‘omelan wejangan’ dari bapak guru matematika saat itu, Pak Mulyani, karena memang kami sengaja memilih jam pelajaran beliau untuk slot acara mokong bersama ini.

           Kelas tiga. Masih melanjutkan atmosfer yang sama, saya kembali bertemu dengan penghuni lama dari keluarga Mafia, kali ini di kelas 3 Fisika 2. Ruang kelas 3 Fisika 2 juga berada pada deretan kelas di depan lapangan upacara, seperti lokasi kelas ketika saya masih berada di kelas 14. Kelas 3 Fisika 2 menurut saya fenomenal dalam hal kenakalan berjamaah. Satu hal yang paling saya ingat saat itu adalah kenekadan kami untuk membangkang pada ibu guru matematika yang sangat disegani sepanjang sejarah SMA 1, Ibu Purni. Masih dalam bentuk kekompakan ‘bolos bersama’, kami nekad meninggalkan kelas Ibu Purni, hingga beliau mencucurkan air mata karenanya. Entah, saya lupa sanksi apa yang kami terima saat itu, tetapi menurut kabar, itulah pertama kali dan satu-satunya saat dimana Ibu Purni, ibu guru tercinta yang sangat disegani di SMA 1 itu terlihat sangat bersedih sampai mencucurkan air mata. Apa yang kami rasakan saat itu? Entah, secara kolektif mungkin kami merasa bagai menemukan jati diri dengan ‘berani’ bersikap nekad. Entah..

            Masih ada beberapa bentuk kenakalan berjamaah lain yang saya ingat dalam periode sekolah SMA. Satu yang klasik di antaranya, yang ternyata juga terjadi pada setiap angkatan dari tahun ke tahun, adalah melakukan keisengan dengan bersembunyi di bawah meja ketika Pak Singgih, bapak guru Biologi, menghitung jumlah murid saat mengabsen kehadiran siswa di kelas. He he, sehingga beliau harus menghitung lagi dan lagi, berulang-ulang, karena setiap kali menghitung kok jumlah siswa berbeda terus? Romantika kenakalan berjamaah di sekolah, sekolah SMA..

Popularity: 24% [?]

ibu dan rinduku

December 21st, 2008

Emak….ibu….bunda….mama….ambuk….

Nama-nama itu begitu indah menghiasi relung hati, tidak terikat siap yang mengucapkan, maupun sang waktu…Sebutan itu seakan tak pernah akan mampu ditindas oleh apapun..tetap megah dan tetap mampu membahana, mengisi relung-relung kalbu

 

Ribuan kilo, jarak yang kau tempuh

Lewati rintangan untuk aku anakmu

……. Ibu by Iwan Fals

 

Nada-nada yang indah

Selalu terurai darinya

Tangisan nakal dari bibirku

Takkan jadi deritanya

Tangan halus dan suci

Tlah mengangkat tubuh ini

Jiwa raga dan seluruh hidup

Telah dia berikan

—–Bunda by Melly G

 

Hanya memberi tak harap kembali

Bagai sang surya menyinari dunia

 

Untaian syair yang menjadi begitu indah untuk disenandungkan dan merebut seluruh jiwa yang tak kan mampu memungkirinya, bagaimanapun keberadaan beliau, kita sangat mencintainya, kita sangat menghormatinya dan menempatkan beliau di tempat yang paling agung dalam hati kita. Jerih payahnya tak kan terganti..rangkaian doa-doa yang dipanjatkannya menjadi ukiran yang manis yang bersemayam dalam diri kita…oh Ibu

 

Perasaanku muncul pertama kali dari yang sempat kuingat adalah saat mengikuti persami saat masih SMP. Perjalanan dari sekolah ke rembangan kala itu, merangkaikan kepenatan jiwa yang meretas hati, bahwa tiba-tiba betapa aku tidak tahan dalam perjalanan jauh tanpanya,  Rindu itu tiba-tiba menyeruak dan hatiku pengen berlari pulang..jadilah sepanjang perjalanan bersama sofia, kami berlari dan meneriakkan…”ibu…….”

 

Bersyukur, tanggal 22 Desember 2008 ini, aku bisa menikmatinya bersama ibu yang alhamdulillah sedang ada di Depok, seperti masa-masa dulu, setiap hari yang bersejarah itu, kami (aku dan adik-adik) selalu berusaha mengambil alih seluruh pekerjaan yang biasa di handle ibu, termasuk memasak, dan pada hari itu, di masa itu, kami menyadari bahwa tak mudah menjadi seorang ibu, apalagi dengan peran ganda yang disandang ibu…dan yang paling manis di saat moment itu, ibuku yang tipe seorang ibu yang tidak banyak bicara, tetap akan ke dapur dan membuatkan kami kue kelapa mutiara yang di kukus…wah aku rindu makanan itu…

 

..oh ibu, sampai kapanpun tak kan mampu kubalas pengorbananmu….hanya doa dan doa untukmu…ibu…..

Popularity: 14% [?]