Archive for the ‘Jember, rek!’ category

Lenyapnya Jalan Imam Syafi’i di Jember

January 31st, 2008

Suatu hari di tahun 90′an waktu masih kuliah di Surabaya, saya berkesempatan mudik ke Jember, biasa.. sowan orangtua (tapi alasan utamanya sih, kente’an duwit.. maklum anak kost dan waktu itu ATM belum ngetrend)

Setiba di Jember, saya kaget dua kali, Pertama : jalur jalur jalan utama yang seumur hidup udah familiar, tiba2 banyak yang berubah, terutama di seputaran bioskop Sampurna (dulu), Johar Plasa, dan kawasan Jompo. Yang Kedua: beberapa Jalan sudah “lenyap“, tentunya bukan karena dimakan Tsunami, tapi nama jalan ternyata banyak yang berubah, dan sebagian lagi dipakai oleh nama jalan yang lain …

Jl. Diponegoro/Imam Bonjol menjadi –> Jl. Gajahmada, Jl. Teuku Umar menjadi –> Jl Hayam Wuruk, Jl. Mangunsarkoro menjadi –> Jl Gatot Subroto, Jl. Imam Syafi’i menjadi –> Jl Diponegoro, Jl. Pattimura menjadi –> Jl.Melati, Jl. Melati menjadi Jl. Dr. Sutomo, Jl. Kenanga menjadi –> Jl. Wahid Hasyim, Jl Wahid Hasyim menjadi –> Jl. Kenanga (?), Jl. Agus Salim menjadi–> Jl. Kacapiring(?), Jl. Ronggowarsito menjadi–> Jl. Nusa Indah, Jl. Hasanuddin menjadi –> Jl. Bungur, Jl. Untung Surapati menjadi –> Jl. A Yani, Jl Bromo menjadi –> Jl. Dahlia, Jl. Pelita menjadi –> Jl. Jayanegara, Jl Yos Sudarso (depan sekolah kita) menjadi –> Jl. Mayjend Panjaitan, Jl. Mayjen Panjaitan menjadi –> Jl. KH Ahmad Dahlan, Jl. Khairil Anwar menjadi –> Letjend Soeprapto, Jl Setiakawan Asia Afrika menjadi –> Jl. WR Supratman (tadinya WR supratman disamping Johar Plasa), dan beberapa nama jalan lain yang saya tidak hafal perubahannya

Apa yang menjadi alasan Pemda Jember waktu itu untuk merubah2 nama jalan di atas, sampai sekarang belum jelas, ada yang bilang untuk memudahkan nama2 jalan tersebut dikelompokkan atas klasifikasi masing-masing, misalnya untuk kelompok nama bunga di daerah ngGebang dan sekitarnya, ada yang bilang untuk penataan kembali nama-nama jalan, ada yang bilang agar pak tukang pos lebih giat lagi belajar menghapal nama jalan, ada juga yang bilang agar pengusaha percetakan dan disain grafis kebanjiran order.. dsb.

Tapi yang menarik, ada alasan yang sedikit politis, karena Imam Syafi’i dan KH Wahid Hasyim adalah panutan warga Nahdliyin, maka pemda dan DPRD yang waktu itu didominasi orang-orang Muhammadiyah, berusaha me’lenyap’kan nama Imam Syafi’i, dan memindahkan KH Wahid Hasyim ke jalan yang lebih kecil, sambil memunculkan nama Jl.KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), tapi tentu alasan ini juga masih katanya anu, ..katanya ini, ..katanya itu…. jadi masih perlu dipertanyakan kebenarannya.

Mungkin temen2 disini ada yang tahu alasan sebenarnya?..

Wallahu a’lam bish showab..

Popularity: 17% [?]

Jember-Koe

January 11th, 2008

Tulisan dan photo K. Faiz mengenai Jember ditambah dgn artikel Kompas, Minggu, 6 Januari 2008, yang kebetulan mengulas sosok Dynand Fariz (DF) sebagai penggagas Jember Fashion Carnaval (JFC), ‘memaksa’ saya jadi belajar menulis. Sesuatu yang agak jarang ditemui dalam dunia kerja saya yang serba ‘koboi-koboian’ ini. Jadi jangan heran kalau tulisanku rodho ‘ngoboi’ alias ancur.Khusus mengenai DF, bukan JFC-nya yang menjadi fokus perhatian, tetapi pola pikir dari seorang DF yang menurut saya sangat menarik. Dan lebih menarik lagi kalau hal ini dikaitkan dengan perkembangan Jember saat ini, yang bagian kecilnya terlihat dari photo-photo K. Faiz. 

Paling tidak ada 3 poin yang bisa diambil dari pola pemikiran DF :

  1. Melihat dengan cara berbeda (dari kebanyakan orang)

Jujur saja, saya tidak pernah bisa membayangkan Jember akan menjadi pusat perhatian Mode/fashion (setidaknya itu yang bisa dilihat dari begitu banyaknya ulasan Media Dalam Negeri dan Luar Negeri mengenai JFC). Masyarakat Jember selama ini di kenal sebagai masyarakat agraris dengan kultur santri yang kuat khas masyarakat Tapal Kuda. Mungkin seorang Clifford Geertz-pun akan sedikit bingung melihat keunikan Jember ini, karena dia hanya mengelompokkan masyarakat Jawa dalam dikotomi Santri, Abangan dan Priyayi. Di Jember, ketiga komponen ini, nyaris tidak bisa dipisahkan dalam alur yang jelas, seperti masyarakat Jawa di Jawa Tengah. Dalam setiap studi yang berkaitan dengan masyarakat Jember, hampir selalu mengelompokkan kedudukan Jember di Jawa Timur dalam lingkup komunitas Santri Agraris, seperti halnya kota-kota  Bondowoso, Situbondo, Probolinggo, Lumajang sampai Pasuruan. Dengan pola pemikiran semacam ini, yang ada dalam benak kita adalah kalaupun Jember nantinya akan terkenal, pasti nggak jauh dari hal-hal yang berkaitan dengan Pertanian, Perkebunan, Pondok Pesantren, Kyai/Ulama, Santri dan seterusnya.Tetapi DF melihat Jember dengan cara berbeda. Jember justru punya potensi dalam hal  Mode/Fashion ataupun segala sesuatu yang berbau hedonisme, yang selama ini hanya didominasi oleh kota-kota Besar. DF adalah produk asli Jember dengan penambahan ’bumbu’ ilmu pengetahuan dari luar Jember (bahkan dari luar negeri). Melihat background dia, rasanya kita bisa memaklumi mengapa dia mempunyai kemampuan seperti itu. Baru-baru ini ada suatu survey dari harian Jawa Pos (saya lupa tanggalnya), yang membandingkan performance Kabupaten/Kodya di Jawa Timur. Perbandingan itu menyangkut hampir semua sektor di masyarakat, seperti Pendidikan, Sosial Budaya, Ekonomi . Yang memprihatinkan, hampir disemua kategori, Jember sekarang relatif tertinggal dibandingkan kabupaten/kodya di Jawa Timur. Rasanya kalau tidak ada terobosan yang ’Progressif Revolusioner”(meminjam istilah Kamerad Ekos), Jember akan semakin ketinggalan. Mungkin kita harus berpikir seperti DF untuk membuat Jember lebih berkembang. Saya percaya ’bahan baku’ Jember adalah bukanlah sekedar ’bahan baku’ yang ecek-ecek. Persilangan 2 budaya Jawa dan Madura yang membuat Jember nyaris tidak punya Budaya Asli, justru akan menghasilkan masyarakat yang cenderung egaliter dgn etos kerja yang hebat. Mungkin kalau diminta menuliskan orang Jember yang ’sukses’ dibidangnya,kita perlu berlembar kertas . Orang-orang ini adalah modal dasar berharga untuk mendapatkan pemikiran yang berbeda (baca : kreatif), seperti halnya DF. Sekarang tinggal gimana caranya membuat wadah buat orang hebat Jember agar mereka mau menuangkan ’ide gilanya’ untuk kemajuan Jember. 

  1. Kemampuan menuangkan pemikiran ( ke dalam penerapan lapangan).

Pemikiran bagus tanpa implementasi yang bagus, juga akan mubazhir alias sia-sia. Implementasi bagus juga tidak stagnan pada hal-hal yang sudah menjadi common sense selama ini, selama itu masih dalam koridor konsep pemikiran, implementasi tidak akan kehilangan esensinya. Mungkin kalau DF hanya terpaku pada penerapan mode/fashion dalam bentuk fashion show atau pembukaan boutique, JFC tidak akan terkenal begitu cepat atau bahkan akan mati cepat. Dengan cerdik dia memlih konsep Carnaval, yang bahkan dikota-kota besar di Indonesia, belum diterapkan. Pilihan ini tentunya juga sudah mempertimbangkan segala hal yang berkaitan dengan Jember. Saya pernah membaca tulisan dari DR Ayu Sutarto, Budayawan dari Univ. Jember, salah satu ciri Masyarakat Kultur Pendalungan, seperti halnya masyarakat Jember, adalah terbuka dan mempunyai kemampuan beradaptasi yang luar biasa. Ketika memilih cara menerapkan konsep pemikiran kita di Jember, kita tidak perlu takut akan terjadi penolakan besar-besaran dari masyarakat Jember, selama kita yakin hal ini akan membawa masyarakat Jember ke arah yang lebih baik. Contoh, dengan tanpa bermaksud mempertentangkan pembukaan Lapter Notohadinegoro, selama itu akan membuka keterisolasian Jember, terutama keterisolasian intelektual, kenapa hal ini tidak diteruskan saja. Apalagi duit yang sudah dikeluarkan Pemda juga tidak sedikit. Penerapan Bulan Berkunjung Jember (BBJ) di Agustus, lebih diletakkan pada koridor Pariwisata. Kenapa tidak dikembangkan sebagai bulan penggalian intelektual agar semua ’bahan baku’ berpartisipasi dalam pengembangan Jember. 

  1. Berani mengambil resiko (dari penerapan pemikiran tersebut).

Tidak banyak orang yang mempunyai keberanian mengambil resiko dari konsekuensi penerapan konsep pemikirannya. Apalagi melihat karakter masyarakat Jember yang cenderung keras, ekspresif dan sedikit temperamental (benar nggak sich……?). DF berani menerobos hal ini. Tentunya keberanian ini bukanlah keberanian membabi buta, tetapi keberanian dengan juga mempertimbangkan segala aspek. Pilihan tema dan busana yang dikenakan peserta Carnaval sebagai contoh, bukanlah hal-hal yang serba ’terbuka’, tetapi tetap mempertimbangkan kondisi psikologis masyarakat Jember yang berkultur santri. Sebenarnya bupati Jember sekarang (MZA Jalal), sudah menunjukkan ’nyali’, ketika berani merubah dengan ekstrim tampilan alun-alun dengan berbagai macam fasilitas olahraga dan juga memberikan nuansa padang pasir di depan Masjid Jami’ Al Baitul Amien (lihat hasil jepretan K.Faiz di Gallery). Meskipun terkesan norak dan dipaksakan, tapi toch pada akhirnya Jember punya sesuatu yang ’dibanggakan’. Nyali itu harus terus dikembangkan ke hal-hal yang langsung bersentuhan dengan  masyarakat. Kalau Jember dikenal dengan daerah dengan angka anak putus sekolah yang besar, mengapa tidak ada keberanian untuk membebaskan saja uang SPP sampai SMA. Masalahnya tinggal di kemauan dan penempatan prioritas program dari Pemda dan Muspida Jember. Jember juga mempunyai Universitas Negeri yang bisa ’dipaksa’ untuk lebih berkontribusi terhadap perkembangan Jember. Ketika banyak orang pintar di Universitas ini turut berpartisipasi dalam pengembangan daerah lain, kenapa hal yang sama tidak terjadi di Jember. Ketika banyak orang miskin mengeluhkan biaya pengobatan dan obat yang makin tinggi, kenapa Jember tidak mempelopori untuk membebaskan biaya pengobatan bagi masyarakatnya yang kebetulan belum beruntung dari sudut materi. Rasanya problemnya bukan di kemampuan financial, tetapi, sekali lagi, kemauan dan setting prioritas program kerja. 

Akhirnya Jember mau jadi bagus atau tidak, semuanya berpulang pada masyarakat, pemimpin dan juga kita sebagai salah satu ’civitas academica’. Kalau DF saja bisa membuat Jember ’berbeda’ dengan kabupaten lain, maka konco-koncoku alumni SMA 1 Jbr, sing terkenal pinter-pinter, mesthine bisa melakukan lebih dari sekedar ’berbeda’, alias berbeda yang hasilnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat Jember. Yok opo, rek……?. 

Wallahualam bissowab.

Popularity: 19% [?]

Hari Pahlawan, Pahlawan-Pahlawan Lokal Jember

November 9th, 2007

Rasanya semakin hari kita (tepatnya aku.. he..he..) semakin lupa kalo tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan (soalnya gak tanggal merah). Kalo dulu pas jaman sekolah, kita dipaksa inget karena dipaksa upacara. Yang terbayang saat mempringati Hari Pahlawan adalah semangat perjuangan Arek-Arek Suroboyo yang heroik, tapi mosok cuma arek-arek Suroboyo aja sing heroik. Di tulisan ini aku pengen sedikit sharing tentang Arek-Arek Jember gak kalah heroik, banyak peristiwa kepahlawanan lokal yang sebenarnya bisa menjadi kebanggan kita sebagai Arek Jember. Mohon kalo ada yang punya informasi lebih, bisa dibagi di blog ini.

  1. Moehamad Seroedji — Kalo ke Patrang dari arah kota, pasti lewat jalan yang namanya Jl Muhamad Seruji. Nama ini diambil dari nama Letkol Muhamad Seruji, pimpinan perjuangan di jaman perang kemerdekaan. Aku gak punya lengkap tentang beliau, tapi setahuku minimal ada 5 tempat yang berkaitan dengan beliau.

    • Jalan Muhamad Seruji, di Patrang;
    • Patung Muhamad Seruji, di depan kantor PEMDA Jember, Jl. Sudarman no 1, depan alun-alun;
    • Makam Muhamad Seruji, Pemakaman Umum Kreyongan, bisa dicapai dari jalan Jambu (Tepbek) atau masuk dari jalan Belimbing (dr Jl Sudirman). Makamnya di atas bukit dan ada bangunan yang cukup menonjol di sana;
    • Patung Pahlawan di Kaliwates (ujung double way), di prasasti yang tercantum ditulis bahwa Letkol M Seruji meninggal di desa Karang Kedawung, Mumbulsari;
    • Monumen di desa Karang Kedawung, Mumbul Sari, monumen ini relatif kecil dan letaknya di pinggir jalan desa dekat kebun tebu. Konon beliau gugur setelah berhari-hari dikejar pasukan Belanda, route gerilya beliau biasanya tiap tahun dinapaktilasi oleh Pramuka UNEJ dengan nama kegiatan NALASUD (Napak Tilas Muhamad Seroedji), acaranya biasa dilakukan pada awal bulan Agustus, diawali dengan ziarah ke makam beliau di Kreyongan, dilanjutkan dengan long march dari Desa Manggisan (Tanggul), menyusuri lereng barat Argorpuro, ke Sukorejo (Bangsal), sampai Sumber Rejo (Ambulu), Tempurejo terakhir di Karang Kedawung (Mumbul Sari) selama 3 hari 3 malam. Aku gak tahu apakah kegiatan ini masih ada apa gak, soalnya dulu waktu SMA kelas 2 (tahun ‘93) sempat ikutan acara itu (lumayan.. bolos 3 hari, pokok heroik banget deh..maksud’e heroik mbolose).
  2. dr Soebandi — Nama beliau ini menjadi nama jalan dimana Rumah Sakit Umum Daerah Dr Soebandi terletak. Aku gak tahu bagaimana kiprah beliau di jaman perjuangan, tapi setahuku beliau sejaman dengan Muhamad Seruji. Makamnya di TMP jln Slamet Riyadi (Baratan), urutannya termasuk paling depan (nomer 2 atau 3). Sayang tidak ada informasi tentang perjuangan beliau, tidak seperti dr Karyadi (namanya diabadikan sebagai nama RS di Semarang) yang terlibat dalam peristiwa pertempuran 5 hari di Semarang.

  3. R. Sudarman-Notohadinegoro — Nama R. Sudarman diabadikan sebagai nama jalan dimana kantor PEMKAB Jember yang dihiasi patung Letkol Muhamad Seruji. Awalnya aku gak tahu siapa beliau ini, kok namanya bisa dijadikan menjadi nama jalan yang sangat penting di Jember. Ternyata beliau adalah bupati Jember ketiga yang memerintah tahun 1943-1947. Sedangkan Notohadinegoro, yang namanya diabadikan menjadi nama stadion kebanggan warga Jember, (markasnya PERSID Jember, si Macan Sangar..) adalah bupati pertama Jember 1929-1942 (http://pemkabjember.go.id/v2/selayangpandang/kepala_daerah.php). Sayangnya lagi tidak ada juga informasi yang cukup tentang beliau berdua. Tapi yang pasti beliau adalah pahlawan-pahlawan buat masyarakat Jember.

  4. Palagan Djoemerto — Kalo di Ambarawa terkenal dengan Palagan Ambarawa, nah Jember punya cerita heroik dengan nama Palagan Jumerto. Desa Jumerto masuk ke wilayah Kecamatan Patrang, bisa dijangkau dari perempatan Gebang Poreng lurus ke arah Jumerto (binung aku, utara apa selatan), bisa juga dari Cangkring deket Stadion (sebelum Gudang Garam). Disini terjadi pertempuran antara pasukan Brimob dari Kepolisian (jaman itu polisi kan ikut perang juga) yang sedang dari perjalanan dari Kediri (atau Blitar?) menuju Bondowoso. Di Jumerto ini, pasukan ini dilindungi oleh warga sekitar dari kejaran pasukan Kumpeni. Hasilnya beberapa puluh warga dan beberapa pejuang gugur. Nama-nama mereka tercantung dalam monumen yang letaknya tidak jauh dari kantor kepala desa Jumerto. Di dekat monumen ada makam dan masjid Assyhuhada. Gak tahu apakah mereka yang gugur dimakamkan di makam di belakang monumen. Sayang lebaran kemarin gak sempat photo tempat itu.

  5. Sogol — Sogol ini mirip Sakera-nya Bangil. Jadi mungkin sedikit kayak mitos, aku juga tahunya dari sebuah majalah terbitan Surabaya (Liberty) yang sempat tak konfirmasi ke Mbah-mbahku yang kebetulan aslinya di daerah Desa Kasiyan, Puger. Sogol ini beroperasinya di daerah Grenden, Puger dan daerah sekitarnya. Gak tahu bentuk perjuangannya seperti apa, tapi yang jelas biasalah pendekar jaman dulu, single fighter. Meniggalnya di Kali Mayang yang bermuara di Puger (opo bener ya), makamnya di belakang Panti Wreda di desa Kasiyan (dekat pertigaan Puger-Gumuk Mas). Katanya dulu Panti Wreda itu dulunya penjara (soalnya bapaknya Mbah Buyutku, berarti Canggah ya, itu pegawai penjara). Salah satu peninggalan Sogol ini sumur gumuling, di pinggir jalan Ambulu menuju Watu Ulo. Cuma memang kalo cerita kayak gini nyampur dengan legenda.

Mestinya masih banyak pahlawan Jember yang lain, kalo mo nyari lagi, coba cari nama jalan yang pake nama orang tetapi bukan pahlawan nasional. Mestinya beliau punya jasa besar sehingga namanya dijadikan nama jalan. Aku pribadi sik penasaran karo nama Imam Syafi’i. Nama ini pernah dijadikan nama jalan yang sekarang jadi jalan Diponegoro (almarhum Bioskop Sampurna), mestinya beliau juga pnya jasa besar (bukan mentang-mentang nama Bapakku Syafii juga. Atau nama Pasar Johar (sebelum jadi Matahari Johar Plasa), nama Johar ini dari nama pohon Johar atau nama orang. Kalo gedung Sutarjo, itu nama rektor Unej (1968 – 1978) kebetulan tonggoku ning Patrang (meninggal tahun 78, so aku gak sempat kenal beliau). Nah ada cerita yang lain soal pahlawan Jember?

Popularity: 30% [?]

Another JFC…

August 6th, 2007

2 hari terakhir berita Jember Fashion Carnaval (JFC) banyak ditayangkan di Tivi, disamping di koran. Tahun lalu, Cak Amal dan Cak Firman pernah berkomentar agak panjang dan serius tentang JFC ini dari sudut pandang beliau berdua ( lupa, posting nomer berapa, Cak ? )

Dalam tiap bulan Agustus, menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia, kita selalu disibukkan oleh berbagai kegiatan, baik di sekolah atau pun di kampung tempat kita tinggal. Mulai dari berbagai lomba tingkat anak seperti lari kelereng, mengenakan baju hingga yang antar kampung tingkat dewasa berupa tanding voli atau sepak bola.

Sementara di sekolah pun kita tidak lepas dari kegiatan senada, baik yang berskala antar kelas atau antar sekolah, berupa gerak jalan lingkot 5 – 7 km, karnaval tingkat TK, SD sampai SLTA. Sedangkan untuk umum kita kenal karnaval umum dan “gong”-nya peringatan 17-an yaitu “Tajem”..

Semua ini adalah upaya untuk memeriahkan peringatan 17- Agustusan.

 

Barangkali JFC merupakan satu bentuk penyegaran, lepas dari semua kontroversinya, dari beragam bentuk pawai yang pernah ada di kota Jember. Kalau saat ini JFC bisa menarik antusiasme dan kreativitas masyarakat kota Jember, layaklah hal itu menjadi berita.. Jember adalah kota “kecil”, tapi menyimpan potensi besar. Inilah potensi terselubung yang perlahan tapi pasti menjadi sesuatu yang patut diperhitungkan..

 

JFC bisa dipandang sebagai bentuk “kegerahan” sebagian kalangan komunitas di Jember, yang sudah bosan dengan menu yang “itu-itu” saja menjelang Agustus. Mungkin, mereka berpikir bahwa di era yang lebih bebas dan demokratis (?) ini, perlu perwujudan ide yang lebih bebas ( tapi bertanggung jawab, kan ) dalam berkreasi. Perlu warna baru untuk mengisi kemerdekaan… Akhirnya JFC tercetus dan terwujud hingga kini telah mencapai tahun ke-6 pelaksanaannya.

Acung jempol untuk kerja keras segenap panitia, semoga tahun-tahun mendatang selalu ada ide segar dan tidak terjebak dalam rutinitas belaka dalam mewujudkan JFC tersebut.

 

 

Popularity: 9% [?]

JEMBER FASHION CARNAVAL

August 6th, 2007

Gak sengaja pagi tadi nonton berita di TV7. Eh ndilalah ada kabar tentang Jember Fashion Carnaval yang diadakan tanggal 5 Agustus 2007.  Nggaya banget Rek… katanya tahun depan mo diproyeksikan untuk kegiatan nasional bahkan internasional. Dan tahun ini ternyata sudah masuk tahun ke-6. Kok aku baru ngerti yo….  Tapi nek tak eling-eling tahun kemarin aku juga sempat dengar berita itu tentang JFC, cuma tak pikir bukan acara tahunan.

Tahun ini JFC mengambil tema “Save Our World” ynag berorientasi pada trend dunia: Human, Vegetal, Mineral dan Imagination. Dengan konsep 4 E ( Education, Entertaintment, Exhibiton dan Economic Benefit ) sekitar 450 peserta terdiri dari pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum mendapatkan in house training cuma-cuma yang meliputi Fashion Runway, Fashion Dance, Dance, Singing, Fashion Trend, Make-Up & Hair Style, Basic Fashion Design, Accessories, Presenter, Majorette dan Event Organizer. Keunikan JFC adalah: 1.Peserta ( bukan designer, bukan model, bukan dancer ) merancang dan memperagakan sendiri kostumnya.

Hebat khan mbak. Cak.. (Maap, informasi ini untuk alumni yang gak di Jember lagi, kalo yang masih di Jember mestinya tahu acara ini.). Coba aku ngerti dan sempet ke Jember, wah kebayang rame dan panasnya he..he.. lha wong karnaval biasa sing tradisional wae biasane ning Jember ramene koyo ngono, opo maneh karnaval unik koyo JFC.

Dan hebatnya ada visi luar biasa dari pihak penyelenggara (yang asli nirlaba.. gak mikiri untung rugi) pengene menjadikan Jember sebagai “The World Fashion Carnival” City. Wah iso nyaingi Parade Bunga Mawar di Pasadena, utowo karnaval di Rio de Janero , Brazil. Kebayang kutho Jember sing terpencil ning pelososk Jawa Timur duwe kegiatan sing mendunia, kalo bisa meng-akherat ..he.he.. (maksud..lho).

Pokok salut pisan, hebat euy, top markotop, goodmarsogood…. Semoga tercapai cita-citanya dan selalu dalam lindungan Yang Maha Kuasa..(lho kok)

website resmi. http://jemberfashioncarnaval.com 

Popularity: 13% [?]

BASKET SMAN 1 JEMBER : Tim Elite !!!

July 12th, 2007

Ekoz Versus Michael Jordan “Team Basket elite dari SMAN 1 Jember bersama SMA Lawang Malang akan bertarung dengan 2 SMA dari Surabaya di grup maut pada putaran awal kompetisi Bola Basket SMA se Jawatimur yang dikenal dengan Liga Deteksi Jawa Pos ….”…begitu kutipan dari Jawa Pos tgl. 9 Juli silam….wah..wah..hebat iki SMAN 1 Jember …sak iki team basketnya masuk ke jajaran team elite di Jatim..konon sih karena pada taun silam mereka masuk Final four Liga Basket Deteksi itu…berarti suatu prestasi yang hebat…bangga dan iri campur dadi satu…karena yang kayak gituan itu (olahraga dan hobby) yang didukung oleh sekolah untuk berprestasi sampai regional pada jaman kita tahun 1988an gak mungkinlah di masa itu….trade mark SMAN 1 Jember saat itu adalah sekolahe arek-arek pinter sak karesidenan mBesuki..gak cumak nJember tok…dadine kita-kita ini baru dianggap dan didukung oleh sekolahan kalo berkompetisi dalam hal pelajaran dan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan jiwa Orde Baru atau lomba-lomba yang bersifat top down dari Depdikbud…semisal lomba PBB (baris-berbaris)…lomba Cepat tepat P-4 ( Soeharto U Suck!!!!)..ato lomba LKIR ..ato gerak jalan..ato Karnaval (mosok sih?)..namun kalo urusan kegiatan extrakurikuler yang bersifat non formal kayak turnamen sepakbola antar SMA ato Volley antar SMA..apalagi Basket..lha wong lapangan basket gak nduwe ..jadi ya itu tadi…kita-kita ini emang lulusan SMA yang prototypenya dikehendaki oleh rezim Soeharto….rajin,pinter,baik hati dan tidak sombong..de el el….aku pernah ngalami episode njengkelin..waktu itu ada turnamen Sepakbola antar SMA di Lap.Talangsari ..lha OSIS mo minta permisi pulang lebih cepat (jam 12 karna tanding jam 3 sore) gak dikasih ..akhirnya berangkatnya kedandapan…dan hasilnya..sepanjang aku di SMAN 1 Jember ..gak ada cerita kita pernah menang sepakbola…opo maneh bolavolley….tapi kalo urusan LKIr ato cepat tepat..yo sorry aja sak jember lewat….sehingga waktu aku kuliah di jogjakarta…wah seperti kena culture shock…temen-temenku yang dari SMA jogja (seperti SMA3, SMA 6, De Britto, stella duce,Muhammadiyah satu de el el)…selain pinter mereka juga jago organisasi dan jago olahraga …dan usut punya usut mereka tuh emang didorong dan difasilitasi untuk berprestasi di segala bidang gak cumak sinau tok…mangkannya setelah baca berita di Japos.. aku juga bangga ternyata SMA 1 Jember akhirnya berubah …gak cumak ndorong pinter tapi juga Extrakurikulernya jalan…karena aku haqqul yakin…pinter tok..gak bikin alumni isok survive…sing penting pengalamannya banyak..sehingga bisa bertarung di segala bidang..yo gak… nah kembali ke team Basket….aku kenal basket pas kelas 1 SMA..aku ngikut klub Indonesia Muda di depan GNI (dulu ada lapangan basket) latian dari jam 06.30-09.00 wib..gak masalah soalnya kan kelas satu masuk siang…sialnya baru berlatih 3 bulan ..lapangan basket digusur..yok wis mandek…sementara di SMA 1 Jember..gak onok Ekskul basket…OR paling-paling senam matrass..bal-balan ndek Polres..utowo…volley…jam olahraga 2 jam..digunakan hanya 1 jam..karena 1 jam sisanya untuk beli baksonya Pak Rie (cedhek musholla)….pernah sekali thok dilatih softball..setelah itu blasss..pokoknya jaman itu jan tenanan deh..olahraga di SMAN 1 bener-bener hanya basa-basi …lumayan saat kelas 2 dan 3…mulai bikin turnamen illegal ..totoan antar kelas…yo Bal-balan yo Volley..tapi kelasku akeh kalae…menangnya gur sepisan dengan kelasnya Ludi (F-3 yo?)..lainnya kalah….mangkanya begitu ngeliat Jember yang lun-alunnya ada lapangan Basket fiberglass aku iri tenan..kok jamanku gak onok…oalah nduwe Bupati kok yo Soepono sing gak seneng olahraga blass…..jadi bagi anak-anak era Reformasi yang telah tercapai adanya keseimbangan dukungan sekolahan untuk berprestasi di bidang akademik dan Extrakurikuler harusnya mereka nantinya lebih hebat dari angkatan 88 dan sebelumnya..karena yang diumbar kayak kita aja bisa punya co founder asian Bloger…masak mereka gakbisa lebih….oh ya sekalian aku merestui team basket SMAN 1 Jember untuk berkompetisi di tingkat regional…dengan semangat 36 butir Pancasila..aku doakan kalian berjaya…( sopo sing njaluk restu mbah..wkkk…wkkk…wkkk…)…

Popularity: 13% [?]

JEMBER…Kinclong Rek?

July 10th, 2007

Jember Kids Baru kemaren aku balek dari Jember…setelah 3 tahun gak balik..adalah saat menyenangkan bisa menginjakkan lagi kaki di nGebang..my home town…sejak masuk ke Rambipuji suasananya emang dah berubah…ada poster dan spanduk galak sekali..” ..Rakyat Jember tolak Prostitusi dan Lokalisasi..!!!”….membentang di daerah dekat KALPUT or white River..daerah lampu merah legendaris di Jember….masuk ke seputaran Tawang alun..aha..warung Bebas malah tambah besar ( inget ketika lulusan ama Genk Biologi 3 ..nyobain warung yang menganut all you can eat..dulu rp. 1.500..)..terus di prapatan Mangli..ada rencana pembangunan perumahan elite di dekat rel sepur…katanya sih..lengkap ama mall segala…setelah lewat daerah Al Huda yang sekarang semrawut karena Pedagang Kaki Lima bebas merdeka menjajah area trotoar yang dulu steril dari keruwetan..akhirnya sampe juga di nGebang Kemundung sekarang namanya Bungur ( namanya cemen banget…) dan semrawut juga karena Lapangan sepakbola kami telah berubah jadi Pasar…. Malamnya ketika pergi ke alun-alun…wooow….semarang dengan lampu hias yang berkilauan…sementara itu warga jember pada bersante..anak-anak mudanya asyik bermaen basket di dua lapangan yang cukup representatif lengkap dengan papan fiberglassnya….di tengah lapangan beberapa kelompok bocah maen sepakbola dibawah guyuran lampu yang setara dengan kekuatan lampu stadion Notohadinegoro..benar-benar gilang gemilang…esok paginya ketika menempatkan lebih lama di laun-alun..suasana yang energetik menyeruak…beberapa orang tua dan remaja memadati jogging track…sementara anak-anak dan keluarga bermaen di kids playground….disisi laen ada yang bermaen volleyball…dan yang paling bikin iri ya itu tadi…2 lapangan basket juga rame dengan anak-anak muda yang berpeluh mendribble bola..lay up..sedikit medium shoot….ada rebound cantik…wah…permaen mereka gak kalah dengan anak muda di Yogyakarta,Jakarta ato Balikpapan…yang membedakan ..hanya beberapa anak tidak pakai sepatu…nekaat bener..kayaknya mereka dah kebal sama lecet dan cedera angkle …suasana gembira,energetic dan hommy…menegaskan emang sebuah kota butuh sekali sebuah taman bermaen…walau tidak segemerlap Taman menteng di Jakarta …keberadaan Alun-alun jember yang telah disulap jadi sangat ramah bagi community mengambanrkan ada semangat perbaikan yang sustainable…moga-moga aja…karena terus terang capek juga ndenger berita di media massa…tentang korupsi mantan Bupati…ontran-ontran penyelewengan dana pendidikan di FK Unej (bener gak sih Roen?)..ato sumpah pocong dukun santet di Silo….begitu liat alun-alun sebagai halaman depan kota jember ..ada semangat positif untuk berubah..pembangunan kayaknya sudah ramah bagi komunitas jember….sayang karena cuman 3 hari gak banyak yang bisa aku liat….tetapi aku kok yakin kalo ada semangat kebersamaan..harusnya Jember bisa lebih baik dari sekarang….

Popularity: 7% [?]