Archive for the ‘Jember, rek!’ category

Lewat IKPMJ untuk Jember

January 21st, 2009

Pada tanggal 9 Januari 2009, musibah banjir bandang dan tanah longsor kembali melanda Jember (“hadiah” yang sama untuk setiap ultah jember,kok gak pernah belajar ya?). Banjir bandang ini menghempas empat kecamatan: Mayang, Silo, Tempurejo dan Jenggawah. Setidaknya belasan rumah di Silo rusak karena longsor, katanya media massa kerugian di kecamatan Silo mencapai 5,5 M. Total empat kecamatan mencapai hingga 9 M, banyak juga ya…

Kami anggota IKPMJ mendengar berita ini bermaksud menghimpun bantuan dari segala pihak yang ingin meringakan beban saudara-saudara kita yang ada di Silo, mayang, jenggawah dan tempurejo.

Kemarin tanggal 18 Januari, saya dan beberapa teman sudah survei ke lokasi bencana. Kami pergi ke Mayang dan Pace, Silo.

Hasilnya:

ini hanya beberapa sempelnya, untuk sementara warga yang rusak rumahnya mengungsi ke rumah saudaranya. Itu kalo yang punya saudara, kalo yang gak punya ya…numpang tetangga.

Langsung saja, maksud saya menulis ini adalah untuk membuka peluang untuk om dan tante yang ingin membantu saudara di mayang dan pace. Bantuan dapat disalurkan melalui rekening mandiri atas nama Zilfana Izzatul Lailiyah 143-00-0501520-9

Hp:085236937013, uang bantuan InsyAllah akan kami barangkan dalam bentuk obat2tan, dan bahan bangunan. Penyaluran bantuan InsyAllah tanggal 25 atau 26 Januari 2009. Tenang saja uang bantuan tidak akan saya gunakan untuk kepentingan organisasi, full buat bantu korban bencana banjir dan tanah longsor. Percayalah, uang om dan tante berada di tangan yang tepat hehehe…

Demikian pemberitahuan kami, terima kasih atas perhatian dan bantuan yang diberikan. Allah yang akan membalas kebaikan om dan tante.

————————–Dari om dan tante, lewat IKPMJ untuk Jember————————

Popularity: 13% [?]

Buat Pengusaha Kos

December 1st, 2008

Mengelola tempat kos memang membutuhkan kreatifitas. Kenyamanan kamar, keindahan lingkungan tinggal dan fasilitas dikondisikan yang memiliki daya tarik. Tentu, harga menjadi daya tarik yang lain. Selain menyediakan fasilitas tempat tidur, meja belajar dan lemari pakaian di kamar, sebagian kos menyediakan fasilitas telepon, air minum gratis serta dapur dan perlengkapannya. Sebagian kos lain bahkan punya usaha ekstra untuk menjadikan tempat kos-nya menjadi semacam “one stop living”. Warung makan, wartel, persewaan komputer dan warung internet dan laundry didirikan di area tempat kos. Itu sebagian jenis tempat kos yang saya ketahui di Yogya dan di Jember belakangan ini.

Ternyata ada jenis kos yang barangkali agak lain dari yang ada sekarang. Sebuah tempat kos yang menyediakan juga semacam kursus mata pelajaran sekolah dan pendidikan ketrampilan dalam mengurus rumah tangga. Simaklah kutipan iklan dari koran lokal Jember, Pambrita, di tahun 1934 ini:

» Read more: Buat Pengusaha Kos

Popularity: 17% [?]

Hollandsche Sociëteit te Djember

November 16th, 2008

Sebagian orang Jember menyebut gedung ini dengan “socitet”, sesuai dengan namanya dulu. Sebagian lagi, lebih suka menyebutnya dengan “Bhayangkara”. Para kenek lin fasih sekali menyebutnya sebagai satu pos perhentian penting. Selain untuk acara internal kepolisian resort Jember, gedung ini juga disewakan untuk umum. Kalangan umum, kerap menggunakannya sebagai tempat penyelenggaraan Pesta Pernikahan. Di samping gedung tersebut berdiri pula TK yang mungkin dijalankan oleh ibu-ibu Korps Bhayangkara, organisasi para polwan atau istri-istri para polisi.

Belakangan, jika pulang ke Jember, saya senang sekali menyempatkan untuk membeli Mie Ayam yang berada di jalan kecil di sebelah utaranya, jl. Veteran. Rasanya mantap, bisa jadi alternatif pengganti paling baik jika tidak berhasil mendapatkan Bakmi di sebelah SMP 2. Warung mie ayam ini sebetulnya lebih menempel di dinding Balai Penelitian Perkebunan. Sementara yang menempel di dinding gedung Bhayangkara (GB) ialah tukang tambal ban.

» Read more: Hollandsche Sociëteit te Djember

Popularity: 16% [?]

“Adhek kon, engko digégéri sing nduwe”:

November 12th, 2008
Another posting from Johny Alfian K :
Tahun 80an lalu masih terbukti bahwa menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari menunjukkan status sosial ekonomi menengah bagi penggunanya. Seiring berjalannya waktu dan perkembangan jaman, penggunaan bahasa Indonesia begitu meluas. Di Surabaya (yang pernah saya ketahui), bakul rokok di dekat Unair aja berbicara bahasa Indonesia dengan Balita-nya. Alhasil, sekarang penggunaan bahasa Indonesia sudah sedemikian meluas. Banyak keluarga muda, di berbagai lapisan masyarakat, yang berbahasa Indonesia dengan anak-anak mereka. Berbahasa Indonesia tidak lagi menunjukkan status sosial menengah.  Bagaimana dengan di Jember…..”bheh, aku gak ero kon”, (sorry kurang memperhatikan). Lalu, dimanakah bahasa Indonesia sekarang. Seorang kawan dari Aceh yang seribu persen berdarah Aceh, dan besar di Aceh, beristri orang Aceh tulen, mengeluhkan nilai bahasa Aceh anaknya berkisar antara A dan B. Saya kira itu kan nilai yang bagus sekali. Ternyata nilai tersebut harus dikonversikan ke angka menjadi “3” dan “4”. Sementara nilai bahasa Indonesia-nya “8” atau “9”. “Gimana dengan nasib bahasa Aceh?”, ujar dia. Saya bilang, mungkin ada baiknya anak2nya tidak berbahasa Aceh. Sehingga memory-nya bisa digunakan untuk belajar bahasa asing (Inggris, Arab dll) dengan lebih baik. Dia pun sedang berpikir untuk sedikit demi sedikit menggunakan bahasa Aceh pad anaknya. Terus gimana dengan nasib bahasa Jêmbêr-an?  Sebetulnya Jêmbêr tidak punya bahasa khusus. Itu semata bahasa Jawa dengan aksen Madura. Selain juga menggunakan bbrp kosa kata Madura. Jadi pada prinsipnya, tidak ada persoalan serius ketika orang Jêmbêr berkomunikasi dengan orang Jawa pada umumnya dengan menggunakan bahasa Jawa. Karenanya mungkin lebih tepat disebut dengan “dialek Jember”.  Ekspresi “bheh”, “sia” (mungkin bahasa Inggrisnya dari keduanya “gosh”), “adhêk” (berarti “habis”, atau “rasakan!”) serta kata-kata seperti: “cêrèk” (pelit), “sengkah” & “ras arisen” (enggan), , “sengak” (awas), “songar” (sombong), “sik buru” (baru saja), “carok” (bertengkar), “ra kora” (cuci barang pecah belah), “carpak” (omong kosong), “la pola” (bertingkah), “co ngoco” (bohong) tak ayal merupakan pinjaman dari bahasa Madura. Ada juga ekspresi yang barangkali dari bahasa Jawa seperti : “polane” (karena) dll dsb.  Pertanyaannya: masih adakah kata2 atau ungkapan kata2 seperti itu di Jember? Belum punah kan? 

Popularity: 20% [?]

Photoblogging Jember!

October 29th, 2008

Tulisan berikut berisi beberapa foto dalam ukuran medium yang berpotensi pemuatan halaman secara utuh lebih lambat dibanding biasanya. Terima kasih.

Balung's Market Photo Session

Foto diambil oleh Ahmad Fitri Sholeh

Saya menikmati memotret dalam kegiatan keseharian: terkadang menyengaja datang di sebuah acara untuk memotret, namun lebih sering lagi melesakkan tombol kamera begitu terdapat hal yang dianggap perlu dipotret. Kamera paling praktis yang tersedia di telepon genggam, sedangkan yang lebih serius saya sebut sebagai “alat produksi” karena nawaitu saya adalah mereproduksi rekaman momen dan berbagi dengan khalayak.

» Read more: Photoblogging Jember!

Popularity: 19% [?]

Radio Dangdut Jember

May 28th, 2008

Gara-gara baca tulisan Ekoz tentang Radio Suara Akbar beberapa waktu lalu, sayup-sayup terdengar suara Bang Jali dan Bang Samiun di telinga saya. Karena tak ada rekamannya, ya saya buatlah versi rakitan sendiri.

http://alifandi.multiply.com/music/item/9/Radio_Dangdut_Madura

Mohon maaf kosa katanya sangat terbatas, sudah abit tak ada lawan bicara. Mon bedhe pantun, mara engko’ e belei.

Popularity: 22% [?]

DJEMBER …jaman Voor de Oorlog….

April 13th, 2008

Kantor Pos Jember Jaman Belanda Saat mampir di site multiplynya Johny Alfian Khusyairi (http://jalfian.multiply.com)….adiknya Anton Timur Alifandi dan Ivan Syahbana Khusyairi..ketemu tulisan bagus dengan gaya bahasa yang sangat jadul..voor de orloog…jaman Blendhe….atas Djasa baik daripada beliaow dapatlah cerita masa silam di upload… (katanya di dapat dari Suara Soerabaia tahun 1920 …check this out…

ini liputan wartawan soera soerabaia tentang kantor post Jember Tiong Gwan toelis:

Keadaan kota Djember sekarang ini keliatan bagoesnja. Di sini soedah banjak sekali didirikan roemah2 baroe, begitoelah roemah jang paling modern.Selainja itoe, semoea roemah bedak sekarang pada dirombak dan dibikin baroe. Kantoor post, jang kita tempo doeloe pernah oesik lantaran kotornja, hingga tiada pantes diseboet postkantoor, sekarang ini djoega tiada maoe ketinggalan. Tempo doeloe bila orang ada keperloean di kantor post selaloelah moesti saling mendesak, sebab tempatnja ada terlaloeh ketjil, tetapi sekarang aken diadaken anem local dan roeangannja aken lebih loeas lagi.

Tetapi sedang keadaan roemah2 pada berobah mendjadi baikan, adalah straatnja Djember selaloeh tinggal membikin poebliek poenja tjomelan. Bila ada toeroen oedjan ketjil sadja, soedah tjoekoep membikin straat Djember berobah mendjadi laoetan loempoer. Tetapi bila tiada toeroen oedjan, lantas itoe laoetan loempoer mendjadi kebon deboe, hingga bila ada angin sedikit sadja, lantas itoe deboe mengeboel ke antero djoeroesan. Ini tentoe sadja meroegikan bagi prikesehatan.Terlebih lagi bila ada auto djalan, wah, djangan harap orang bisa bernapas, bila tiada maoe makan deboe.Betoel sekarang ini di tepi-tepi straat orang moelain adaken solokan, tetapi tiada begitoe dalem, hingga satoe kali ada toeroen oedjan, aernja bila mengalir di sitoe solokan soedah tertoetoep loempoer poela.

Kita harep sadja ini keada’an bisa berobah.

sedangkan ini tentang masuknya listrik di Djember

Penerangan electris

Correspondent kita wartaken dari Djember. Semalem djoestroe taon baroe imlik bagi bangsa Tionghoa, antero lampoe electris di Djember lantas dikasi menjalah, jaito boeat pertama kalinja ini penerangan diadaken di Djember. Antero pendoedoek brada sanget girang dengen adanja ini verassing dari B.E.M. jang telah pilih hari begitoe djitoe boeat moelain kasi njalah penerangan terseboet.

Oeang abonement dari ini penerangan akan direken moelain 1 Maart j.ad. hingga itoe penerangan sedari sekarang dikasi dengan prodeo.

Dengan adanja ini lampoe electris didoega sang maling nanti mati koetoenja, sebab lama Djember memang terkenal ada tempatnja

yang paling menarik dari tulisan tentang Jember pada masa silam adalah bahasanya…yang sangat nostalgik…

kalo pengen liat Jember pada jaman koeno check this site… http://132.229.193.133/kitlv/servlet/proxy

Popularity: 27% [?]

Bedu Jadi Bupati Jember

March 14th, 2008

Serial Asbun

“Selamat Pagi, semua…….! Perkenalkan, nama saya Bedu Harikoe. Selama lima tahun kedepan, saya akan menjadi Supervisor bapak-bapak semua ”. Itulah kalimat pertama Bedu yang diucapkan didepan semua Kepala Dinas di lingkungan Kabupaten Jember. Yaa…. sekarang Bedu sudah jadi Bupati Jember untuk periode 2010-2015. Meski sehari-harinya dia hanyalah seorang Supervisor sebuah Perusahaan Obat, tetapi dengan sistem politik saat ini, yang memungkinkan adanya Calon Independent, menjadikan dia punya kesempatan jadi Bupati. Tentunya ini juga buah dari pohon investasi politik Bedu selama belasan tahun. Hampir setiap hari, selama belasan tahun itu, Bedu mengurusi “Partai Independent”-nya menjadi partai politik “beneran”. Setelah pulang dari kerja, dia rajin mengunjungi temen-temennya masyarakat Jember (dia selalu menyebut Masyarakat Jember dengan ‘Teman-temannya’). Dari satu desa bergerak ke desa yang lain, begitu setiap hari…. sampai tuntas 12 tahun tidak ada satu desa-pun di kabupaten Jember yang belum dikunjunginya. Di setiap desa yang dikunjungipun, dia hanya menemui orang-orang yang tidak beruntung disitu, karena miskin materi, sakit, panen gagal bahkan orang yang mau dicerai suami/istrinya. Mereka diajak ngobrol, berhaha-hihi….. karena memang hanya itulah yang dia bisa dan mampu dilakukan. “Bapak-bapak semua, mulai hari ini, setiap pagi dan sore kita briefing… ” Setelah briefing pagi, bapak-bapak akan jalan ke lapangan sesuai rute yang sudah saya siapkan. Menemui orang-orang yang sesuai dengan bidang tugas bapak-bapak”. Contoh, bapak yang jadi Kepala Dinas Pendidikan, harus mengunjungi sekolah-sekolah SD-Perguruan Tinggi yang tersebar di seluruh Jember ini. Setiap hari harus mengunjungi minimal 20 sekolah dengan tingkat kesuksesan kunjungan 50%. Sukses yang dimaksud adalah bapak berhasil mengatasi masalah di setiap sekolah yang dikunjungi itu.” “Bapak-bapak akan saya bekali dengan lembar kerja harian yang berisi nama-nama orang atau pihak-pihak terkait yang dikunjungi.” Bedu menunjukkan selembar kertas ukuran kwarto yang berisi kolom-kolom yang harus diisi. “Di bagian kolom yang paling kanan, jangan lupa untuk minta tanda tangan dari orang yang bapak kunjungi.” Karena dunia Bedu adalah dunia Sales, maka yang dia tahu ketika diangkat menjadi Bupati adalah bahwa semua PNS, dari staff sampai Kepala Dinas adalah “Salesman” dia. Apa yang dilakukannya selama jadi Supervisor, dia terapkan saja ketika jadi Bupati. Dengan umur yang hampir masuk setengah abad, praktis dia sudah hampir 30 tahun ‘berkarir’ di dunia jual menjual barang itu. Setelah 25 tahun bekerja jadi Salesman, dia diangkat jadi Supervisor. Itupun sebenarnya karena bossnya kasihan saja melihat Bedu. Lha wong temen-temen Bedu sudah ada yang jadi Manager, bahkan direktur di beberapa perusahaan. Bedu tetap aja jadi Salesman. Dan yang mengherankan bossnya, dia tidak pernah mengeluh dengan kerjaannya itu. Makanya sebagai bentuk penghargaan, 5 tahun lalu, Bedu diangkat jadi Supervisor. Sekarang genap 1 bulan Bedu jadi Bupati Jember. Semua Kepala Dinas melaksanakan apa yang sudah diprogramkan Bupatinya. Mereka nggak ada pilihan lain, karena Bupati Bedu tidak ada kompromi. ” Take it or Leave it…..!”. Itu kalimat satu-satunya yang diucapkan sang Bupati kalau ada keluhan dari KaDinas-nya (karena itulah satu-satunya kalimat Inggris yang dia tahu). Persis seperti yang selalu diucapkannya saat jadi Supervisor ke Salesmannya. Sekarang para Kepala Dinas diminta untuk menyampaikan hasil kunjungan ke seluruh pelosok Jember. Dan hasilnya memang bervariasi. Ka-Dinas Pertanian, misalnya, dia benar-benar bisa menceritakan dengan detail apa sebetulnya yang diharapkan Petani selama ini. Bahkan dia juga bisa menyebutkan nama-nama petani tersebut, seolah dia sudah kenal lama. Dia juga bisa membedakan, mana petani beneran, petani penggarap, petani pengusaha (atau pengusaha petani), petani jadi-jadian (yang hanya muncul pada saat ada bantuan subsidi pupuk dari Pemerintah) dan buruh tani. Ka-Dinas Perdagangan, bisa mencatat dengan persis, siapa biang keladi fluktuasi harga sembako yang buat rakyat Jember sengsara. Tapi, ketika ditanya, apa yang akan dilakukan setelah ini, dia hanya senyam senyum, “Aaah…….Pak Bupati, kayak nggak tahu aja…..?!”. Dan, senyam senyumnya berubah semakin keras, menjadi tertawa terbahak-bahak. Nggak berhenti……!!. Oalah……….!!, pak Ka-Dinas sepertinya sudah hidup didunia lain….. dunia dimana antara kenyataan dan khayalan sudah tidak bisa dibedakan. Bupati Bedu hanya bisa mengelus dada……!!. Apa yang terjadi dengan Jember dimasa pemerintahan Bedu…..?. Apakah rakyatnya semakin makmur atau bahkan semakin kacau balau…..?. Aaah…. Bedu sendiri tidak terlalu peduli. Sang Bupati terus menjalankan kebijakannya. Siapa suruh Supervisor jadi Bupati. He…he….he…….

Jogjakarta, 14 Mar 2008. Jam 22.00

Disclamer : tulisan diatas adalah fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, waktu dan tempat adalah kebetulan belaka. Maafkan daku……!! Namanya juga Asbun. Asal Bunyi.

Popularity: 22% [?]

This Used to be My Playground…

March 11th, 2008

Sebenarnya iki tulisan rodo kasep pisan..(sakdurunge dikomentari hehehe)..Lebaran 2007 kemarin, anak-anakku ngajak main ke sungai.. sudah beberapa kali saya menyampaikan kalau rumah Kakek & Nenek dekat sungai. Saya menjanjikan dua atau tiga hari kemudian dengan catatan mereka bisa bangun pagi.. 

Hari yang dinantikan tiba, seingat saya Sabtu. Pagi-pagi kami berangkat dari rumah menyeberang jalan Moh Seruji terus ke arah bagian belakang Diploma (?) ke kali Bedadung. Sudah lama sekali saya tidak main kesana.. mungkin sekitar 20 an tahun. Jalan menurun sedikit curam. Dulu sewaktu aku SMP dan SMA masih sering main ke seorang sahabat yang kini telah tiada. Dulu kalau main petasan di jalan-jalan sering dimaki orang, maka kamipun mainnya di kali Bedadung ini. Dulu jarak antara bibir sungai dan rumah lumayan jauh, sekarang .. sudah dekat sekali. Bukan karena sungainya semakin lebar, tetapi karena orangnya sudah semakin banyak.. 

Begitu tiba ditempat..yak ampuuun !!..aku lupa.. sudah terlalu lama memang tidak pernah kesini… jam-jam gini ini khan waktunya orang lagi mandi.. banyak cewek-cewek, ibu-ibu, cowok-cowok, bapak-bapak.. semua orang dah ada disini.. kayak permen Nano Nano  aja, ramai rasanya…  diantara batu-batu besar dan kecil.. aku jadi malu sendiri..he..he..he.. maklum sudah lama gak mandi di kali..sudah lama gak main di kali..  

Akhirnya kami mbalik kucing..pulang lagi.. menunggu agak siangan.. kira-kira jam 10 kami sudah tiba ditempat semula.. masih ada orang-orang mandi tetapi tidak sebanyak pagi tadi..

Anak-anakku senang banget bisa mandi dikali.. pengalaman pertama yang sangat mengasyikkan.. kasian ya anak-anakku ini.. mau mandi dan main di kali aja nunggu diajak pulang kampung dulu.. sewaktu aku masih kecil,  dulu kalo mau main ke kali ya tinggal berangkat.. kalo gak ke kali Bedadung ya yang di daerah belakang rumah.. gak tau namanya, tapi kalau dari arah Patrang ke arah Tebek.. gak terlalu jauh dari RS dr Soebandi.. 

Atau kalau pas ke rumah kakek & nenek di Yosowilangun, Lumajang, kami sering main-main di kali Bondoyudho yang hanya sepelemparan batu dari  rumah.. main gedebog pisang.. cuman heran aja dulu, kalo dinaikin koq tenggelam juga tuh.. gak kayak di filem-filem..hahaha..Kalo jaman dulu siapa sich yang gak pernah mandi di kali..?  Bisa dibilang itu tempat bermain alternatif selain di halaman rumah (dan halaman rumah tetangga).. 

This used to be my playground This used to be my childhood dream This used to be the place I ran to Whenever I was in need of a friend Why did it have to end And why do they always say

Don’t look back Keep your head held high Don’t ask them why Because life is short And before you know You’re feeling old And your heart is breaking Don’t hold on to the past Well that’s too much to ask….(Madonna:  This Used to be My Playground – OST A League of  Their Own)

Popularity: 20% [?]

Kantin Jember.. kini tinggal kenangan…

March 5th, 2008

Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan  teka-teki dari seorang teman .. “Apa yang kasih isyarat belok kiri tapi beloknya ke kanan, kasih isyarat belok kanan tapi beloknya ke kiri..?” 

jawabannya… GATOTKACA…. bener juga si Gatot itu kalau tangane ndhaplang ke kiri & kaki kirinya diangkat doi malah belok zigzag  ke kanan, begitu sebaliknya….

 hahaha.. ingatanku  melayang ke masa kanak-kanak.. awal-awal SD.. ketika itu aku punya koleksi komik-komik wayang yang berupa komedi.. semar, gareng, petruk, bagong..  ceritanya tidak panjang-panjang… paling-paling 2-4 halaman terus ganti cerita..cerita-cerita konyol terutama tentang Petruk & Gareng.. kira-kira kalo sekarang mirip dengan buku-buku Doraemon.. 

Juga ada cerita-cerita  wayang yang lebih serius (kalo gak salah karya RA Kosasih, tapi bukan yang buku tebal).. disitu diceritakan Gatotkaca yang sakti mandraguna.. otot kawat balung wesi  (keringet wedang kopi..hehe).. bisa terbang.. 

Visualisasi di komik dimana Petruk yang hidungnya panjang banget dan Gatotkaca yang bisa terbang membuat saya pingin sekali nonton yang sebenarnya… masa’ sich ada orang hidungnya panjang.. masa’ sich ada orang bisa terbang ..seingatku Ayah yang ngasih tahu kalo ada pertunjukan wayang orang dimana kita bisa ngelihat Petruk dan Gatotkaca.. tapi dimana ?? ada yang tahu  ?? 

Di Kantin… yup, disana dulu tiap malam minggu ada pertunjukan wayang orang.. Kantin ini lokasinya kalo dari alun-alun kearah Pagah..lewat SMP 2, lampu merah.. satu gedung lagi (PLN ??).. dah, disitu sebelahan .. gedungnya berwarna hijau tentara..  

Penasaran banget saya dengan bayangan saya terhadap Petruk dan Gatotkaca ini.. begitu pertunjukan sudah dimulai saya jadi agak kecewa.. ternyata si Petruk hidungnya biasa-biasa aja.. dan Gatotkaca juga gak terbang..Gatotkacanya kapan terbang? . koq gak terbang-terbang sich?.. aku tungguin terus sampe selesai..tetap gak terbang juga.. busyet dech.. kuciwa aku.. pertunjukannya pakai bahasa jawa kromo inggil.. dimana saya tidak biasa mendengarnya, sehingga agak kesulitan juga untuk mengerti..  

Sampai dirumah saya ceritakan ke anggota keluarga yang lain kalo si Petruk ini hidungnya gak kayak di buku…hidungnya biasa-biasa, kayak kita juga.. ha.ha.ha ..  Tapi ya itu.. dasar anak kecil.. saya masih penasaran .. siapa tahu Petruk ada yang mancung  beneran.. dan juga  saya suka nonton tariannya maka saya masih sering nonton wayang orang ini.. biasanya acara ini selesai sekitar jam 11-12 malam…   

Sudah bertahun-tahun kantin tersebut hampir tak bersisa.. bahkan saya kira bangunan utamanya sudah hancur..dan ditutupi seng.. tinggal bangunan sebelah selatan yang masih dipakai untuk pangkas rambut.. (entah Toko Buku Santo Yusup yang dibalik itu masih ada atau nggak..) 

Seperti nasib berbagai tempat pertunjukan kesenian tradisional di kota-kota lain di Indonesia, Kantin di Jember inipun kini tinggal kenangan…  

Sayup-sayup terdengar suara (alm.) mas John Lennon.. 

There are places I’ll remember all my life

Though some have changed

Some forever not for better

Some are gone and some remained

All these places had their moments………

(In My Life – The Beatles)

Popularity: 33% [?]