“Jalur Tebu” Kereta Api Jember Wilayah Selatan

Saya punya hutang janji menulis untuk Cak Ekoz al-Guevara: tentang perkeretaapian di wilayah Jember Selatan. Sekaligus saya tersadarkan bahwa di antara kita ada yang belum sempat menyadari jalur eksotis kereta api di selatan. Jangan khawatir, bagi saya pun sayup-sayup karena sangat sedikit ingatan tentang kereta api ini.

Membentang di sebelah utara sungai besar dan instalasi perairan dari desa Curah Malang, Kec. Rambipuji, hingga desa Tutul, Kec. Balung, terdapat rel kereta api hasil pencabangan di pertigaan sohor Kaliputih, Rambipuji. Di sisi selatan sungai terdapat jalan raya penghubung Jember-Lumajang, yang digunakan hingga sekarang. Bak “jalur sutera”, prasarana ini memang sengaja dibangun sejak era kolonial untuk membuka perdagangan antarkota.

Continue reading ““Jalur Tebu” Kereta Api Jember Wilayah Selatan”

Bernostalgia di Jember Klinik

Jika pada kesempatan mudik lebaran tahun ini, akhir September lalu, saya berkesempatan pulang ke “tanah kelahiran” Balung, kecamatan di sebelah selatan Kab. Jember, dan tidak sempat berkunjung ke Kota Jember yang kian ramai, bulan November lalu sebaliknya: datang dan menginap di Kota Jember dan tidak sempat menjenguk Balung.

Seperti biasa, ini bagian dari acara perjalanan dinas ke Surabaya, saya tumpangi dengan melanjutkan ke Jember karena nenek sedang dirawat inap di Rumah Sakit Jember Klinik. Dengan keyakinan mengingat perjalanan Surabaya-Jember sejak zaman kuliah, santai saja saya naiki bus Akas jurusan Jember dari Terminal Purabaya, Surabaya/Sidoarjo, pada pukul 17.30, dan sampai di Terminal Tawangalun Jember, sekitar pukul 22. Taksi selanjutnya mengantarkan saya hingga di R.S. Jember Klinik, yang di beberapa spot saya lihat disingkat JeKlin.

Continue reading “Bernostalgia di Jember Klinik”

Selamat Bertemu di Blog, Suara Akbar!

Terima kasih kepada Mas Ramadhany yang akhirnya menemukan juga tulisan “Kacepot Gullena Mera…” di blog ini. Ikut menyapa dan mengingatkan kita semua tentang Radio Akbar yang kabarnya sekarang sudah menyediakan edisi streaming segala. Ya iyalah, di masa seperti ini, sudah tipis beda teknologi antara Jember atau Jakarta — setidaknya dibanding masa lalu.

Dulu saya tidak mengerti: bagaimana sih cara meminta lagu di Radio Akbar itu? Ada yang bilang –waktu itu– katanya perlu beli semacam kartu terus dikirim ke stasiun radio. Barangkali lumayan sebagai penghasilan tambahan dengan membeli kartu tersebut (yang berharga murah meriah). Atau juga mungkin lewat kartu pos. Entahlah. Yang jelas jika saya dengar radio swasta di Bandung, kota saya tinggal saat ini, para penyiar sudah sibuk menyebutkan pesan seperti dari Yahoo! Messenger atau Facebook. Jadi masukan dari pendengar dan luaran ke publik sudah berdampingan dengan media baru, Internet.

Karena Internet juga blog ini dipertemukan langsung dengan Radio Akbar, tentu saja setelah diracik oleh koki cerita masa lalu, Cak Ekoz, yang sekarang bertugas menjaga pundi-pundi bank nasional.

He, he, he… selalu menyenangkan bercerita masa lalu, sekaligus bernostalgia. Yang pahit terasa lucu, yang manis tentu bertambah indah…

Tabik, semua.

Napak Tilas Cikal Bakal Pendirian Universitas Jember

Diambil dari Jawa Pos, Radar Jember, Senin, 04 Mei 2009, Ada cerita bahwa SMA 1 yang dibangun dari sumbangan botol-botol kosong dan kelapa

Dana Pendidikan Kurang, Minta Sumbangan Buah Kelapa dari Warga

Tak banyak orang tahu, salah satu yang punya peran penting dalam pendirian Universitas Jember (Unej) yang dulunya bernama Universitas Tawang Alun (Unita) adalah Alm R. Soedjarwo. Saat Unita dirintis, dia menjabat sebagai Bupati Jember sekaligus merangkap sebagai Ketua DPRD Swatantra. Inilah penuturan Ir Suhardjo Widodo MS, putra keempat R. Soedjarwo yang juga menjadi saksi mata sejarah pendirian perguruan tinggi negeri di Jember.

Winardi Nawa Putra, Jember


Dalam konteks pembangunan Kabupaten Jember, Unej mempunyai peranan sangat strategis. Kampus yang terletak di Tegal Boto ini telah menjadi magnet luar biasa bagi pertumbuhan ekonomi di Jember. Telah banyak lulusan Unej yang menjadi pengusaha besar dan tokoh nasional. Unej telah melahirkan generasi bangsa yang punya kualitas andal dan diperhitungkan hingga ke kancah internasional.

Jumlah mahasiswa Unej sekarang ini lebih dari 20 ribu mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah. Tentu ini merupakan potensi ekonomi yang luar biasa dalam meningkatkan perputaran uang yang masuk ke Jember. Keberadaan Unej sekaligus memberikan dampak pertumbuhan ekonomi yang luar biasa. Banyak usaha kos-kosan dan berbagai aktivitas usaha di sekitar kampus yang bermunculan. Tidak dapat dipungkiri, Unej memberikan wajah tersendiri bagi kota Jember sebagai salah satu kota pendidikan terpandang di Jawa Timur, selain Surabaya dan Malang.

Saat-saat rintisan pendirian perguruan tinggi di Jember, salah satu yang tahu banyak adalah Ir Suhardjo Widodo MS. Dia adalah putra keempat alm R. Soedjarwo, mantan bupati Jember yang juga salah satu perintis berdirinya Unej.

Menurut Suhardjo, periode cikal bakal pendirian Universitas Jember mulai tahun 1957-1964. “Ini diawali dengan munculnya gagasan tentang pentingnya suatu universitas di kota Jember. Tokoh yang mempunyai gagasan tersebut adalah dr R. Achmad, R. Th. Soengedi, dan M. Soerachman,” ujarnya.

Ketiga tokoh tersebut akhirnya berhasil mendirikan Yayasan Tawang Alun. Tujuan pokok yayasan tersebut adalah mendirikan Universitas swasta Tawang Alun (Unita). Pada waktu, Unita berdiri baru memiliki sebuah fakultas, yakni Fakultas Hukum.

“Pada masa itu, Unita belum mempunyai gedung, masih menempati Gedung Nasional Indonesia (GNI) Jember dan Sekolah Menengah Pertama Katolik Putra Jember,” kisahnya.

Memasuki tahun 1959, ujar pria kelahiran 21 Mei 1949 ini, tuntutan kepada Unita untuk terus berkembang semakin besar. Maka, atas permintaan warga Unita, pada 26 Januari 1959, R. Soedjarwo diangkat sebagai Ketua Yayasan Unita.

“Secara kebetulan, pada periode 1957 sampai dengan 1964, R. Soedjarwo menjabat sebagai Bupati Jember dan merangkap sebagai Ketua DPRD Swatantra,” ujarnya. Boleh dikata, sebagai Bupati Jember waktu itu, R. Soedjarwo mempunyai perhatian cukup besar terhadap pembangunan pendidikan di Kabupaten Jember.

Ini mengingat bahwa anggaran pemerintah saat itu masih sangat terbatas. Atas kenyataan itu, untuk menunjang bidang pendidikan, R. Soedjarwo bersama tokoh-tokoh masyarakat kemudian mendirikan Yayasan Pendidikan Kabupaten Jember (YPKD) dengan menggali dana dari masyarakat untuk menunjang dunia pendidikan.

“Salah satu cara yang unik dalam mengumpulkan dana, R. Soedjarwo minta sumbangan dari masyarakat Kabupaten Jember berupa buah kelapa dan botol kosong untuk dijual. Selanjutnya dananya dipergunakan untuk membantu Unita dan sekolah-sekolah yang lain,” ujar bapak berputra dua ini.

Dia ingat betul, saat itu dia masih duduk di bangku SMP. Dengan usaha tersebut, lanjut dia, R. Soedjarwo di kalangan masyarakat terkenal sebagai Bupati Botol Kosong.

Beberapa sekolah yang sempat dibantu pembangunannya oleh YPKD antara lain, Gedung SGA yang sekarang ditempati MAN II, gedung SMA I, SMEA, SKP yang sekarang ditempati SMPN 11 Jember, STM yang sekarang menjadi SMPN X , PGA, dan SPPMA. “Serta tidak kurang 50 gedung Sekolah Rakyat (SD) termasuk gedung Asrama Putri di Jalan PB Sudirman yang dibantu,” ujarnya.

Untuk membesarkan Unita, R. Soedjarwo kemudian membantu mendirikan gedung kampus Unita yang ada di jalan PB Sudirman seluas 656 meter persegi. Gedung tersebut dibangun di atas tanah seluas 2.160 meter persegi dengan biaya pembangunan sebesar Rp 23.243,66.

“Dana tersebut bersumber dari dana YPKD. Sejak tahun 1960, Unita semakin berkembang. Jumlah fakultas, satu demi satu bertambah. Meliputi, Fakultas Sosial Politik, Fakultas Kedokteran, Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan dan Fakultas Pertanian,” tambahnya.

Seiring perjalanan waktu, untuk menambah prasarana kampus, Unita mengundang USAID untuk mendapatkan sumbangan berupa alat laboratorium dan buku-buku. “Kampus Universitas Jember di Tegal Boto, sebenarnya sudah diimpikan R. Soedjarwo. Saat itu tahun 1960, Tegal Boto masih berupa daerah terpencil bagaikan “pulau mati” dan tidak bisa dijangkau transportasi darat,” ujarnya.

Untuk membuka daerah tersebut, R. Soedjarwo mulai membangun jembatan di jalan PB Sudirman arah ke Jalan Mastrip pada 1961. “Jembatan tersebut baru selesai tahun 1976 dan hingga kini dikenal sebagai jembatan Jarwo, ” ujarnya.

Nah, awal 1961 Yayasan Unita mulai merintis upaya agar Unita bisa berstatus negeri. Untuk itu, R. Soedjarwo mengadakan koordinasi dengan segenap pengurus yayasan, pengurus Unita, tokoh-tokoh daerah, termasuk anggota DPRD.

“Sidang DPRD pada 19 April 1961 akhirnya menghasilkan keputusan menetapkan resolusi,” ujarnya. Resolusi tersebut isinya menyangkut beberapa hal. Pertama, tentang memperkuat ide pembukaan Fakultas Kedokteran, kedua mengirim delegasi yang terdiri dari Ketua DPRD menghadap Pemerintah Pusat, dan ketiga Universitas Tawang Alun agar diakui sebagai Universitas Negeri.

“Langkah selanjutnya, Yayasan Unita mengirim beberapa delegasi untuk menghadap Menteri PTIP waktu itu dipegang Prof Mr Iwa Kusumasumantri,” ujarnya.

Hasilnya memberikan harapan baru, pemerintah akan menegerikan Unita bersama-sama dengan Unibraw pada 20 Mei 1962. Untuk menyongsong rencana tersebut, ujar suami EM Evi ini, Yayasan Unita kemudian mengirim kembali delegasinya pada 14-24 Maret 1962. Namun di luar dugaan, telah terjadi pergantian Menteri PTIP, yaitu Prof Dr Ir Thoyib Hadiwidjaja yang mempunyai kebijakan baru bahwa tidak membenarkan penegerian dua universitas dalam satu provinsi secara bersamaan. Akibat penundaan penegerian Unita tersebut, Unita akhirnya diintegrasikan ke Universitas Brawidjaya Malang berdasarkan SK Menteri PTIP No1, tertanggal 5 Januari 1963. Hal ini menimbulkan keresahan bagi masyarakat Jember dan mahasiswa Unita khususnya.

Melihat hambatan tersebut R. Soedjarwo terus berusaha dengan mengirim delegasi ke Jakarta hingga mendapat dukungan dari DPRD untuk mendesak pemerintah pusat untuk menegerikan Unita menjadi universitas negeri secepatnya. “Jerih payah R. Soedjarwo dengan dibantu pihak-pihak terkait, akhirnya membuahkan hasil dengan terbitnya SK Menteri PTIP No 153 tahun 1964 tertanggal 9 November 1964 tentang Didirikannya Sebuah Universitas Negeri Jember,” paparnya.

“Sejak Unita menjadi Universitas Negeri R. Soedjarwo tidak aktif dalam mengembangkan Universitas Jember,” ujarnya. Menurut Suhardjo, dalam perkembangan Universitas Jember hingga maju pesat dan menjadi besar hingga berskala nasional tidak lepas dari peran dua Rektor terakhir yaitu Prof Dr Kabul Santoso MS dan Dr Ir T Sutikto MSc.

Tahun ini Universitas Jember akan berdies natalis ke-45. Melihat perjalanan Universitas Jember hingga maju pesat seperti ini, tak salah jika dalam dies natalis tersebut ada suatu apresiasi yang memadai bagi founding fathers Universitas Jember yang telah bersusah payah membangun pendidikan di Jember. (*)

Sekalipun aku bukan lulusan UNEJ, tetep aku bangga pada UNEJ, soale Bapakku kerjo ning UNEJ, adikku, mbakku, masku kabeh lulusan UNEJ, bahkan aku urip ning omah dinese UNEJ… pokok UNEJ Banget deh.. 🙂

Lewat IKPMJ untuk Jember

Pada tanggal 9 Januari 2009, musibah banjir bandang dan tanah longsor kembali melanda Jember (“hadiah” yang sama untuk setiap ultah jember,kok gak pernah belajar ya?). Banjir bandang ini menghempas empat kecamatan: Mayang, Silo, Tempurejo dan Jenggawah. Setidaknya belasan rumah di Silo rusak karena longsor, katanya media massa kerugian di kecamatan Silo mencapai 5,5 M. Total empat kecamatan mencapai hingga 9 M, banyak juga ya…

Kami anggota IKPMJ mendengar berita ini bermaksud menghimpun bantuan dari segala pihak yang ingin meringakan beban saudara-saudara kita yang ada di Silo, mayang, jenggawah dan tempurejo.

Kemarin tanggal 18 Januari, saya dan beberapa teman sudah survei ke lokasi bencana. Kami pergi ke Mayang dan Pace, Silo.

Hasilnya:

ini hanya beberapa sempelnya, untuk sementara warga yang rusak rumahnya mengungsi ke rumah saudaranya. Itu kalo yang punya saudara, kalo yang gak punya ya…numpang tetangga.

Langsung saja, maksud saya menulis ini adalah untuk membuka peluang untuk om dan tante yang ingin membantu saudara di mayang dan pace. Bantuan dapat disalurkan melalui rekening mandiri atas nama Zilfana Izzatul Lailiyah 143-00-0501520-9

Hp:085236937013, uang bantuan InsyAllah akan kami barangkan dalam bentuk obat2tan, dan bahan bangunan. Penyaluran bantuan InsyAllah tanggal 25 atau 26 Januari 2009. Tenang saja uang bantuan tidak akan saya gunakan untuk kepentingan organisasi, full buat bantu korban bencana banjir dan tanah longsor. Percayalah, uang om dan tante berada di tangan yang tepat hehehe…

Demikian pemberitahuan kami, terima kasih atas perhatian dan bantuan yang diberikan. Allah yang akan membalas kebaikan om dan tante.

————————–Dari om dan tante, lewat IKPMJ untuk Jember————————

Buat Pengusaha Kos

Mengelola tempat kos memang membutuhkan kreatifitas. Kenyamanan kamar, keindahan lingkungan tinggal dan fasilitas dikondisikan yang memiliki daya tarik. Tentu, harga menjadi daya tarik yang lain. Selain menyediakan fasilitas tempat tidur, meja belajar dan lemari pakaian di kamar, sebagian kos menyediakan fasilitas telepon, air minum gratis serta dapur dan perlengkapannya. Sebagian kos lain bahkan punya usaha ekstra untuk menjadikan tempat kos-nya menjadi semacam “one stop living”. Warung makan, wartel, persewaan komputer dan warung internet dan laundry didirikan di area tempat kos. Itu sebagian jenis tempat kos yang saya ketahui di Yogya dan di Jember belakangan ini.

Ternyata ada jenis kos yang barangkali agak lain dari yang ada sekarang. Sebuah tempat kos yang menyediakan juga semacam kursus mata pelajaran sekolah dan pendidikan ketrampilan dalam mengurus rumah tangga. Simaklah kutipan iklan dari koran lokal Jember, Pambrita, di tahun 1934 ini:

Continue reading “Buat Pengusaha Kos”

Hollandsche Sociëteit te Djember

Sebagian orang Jember menyebut gedung ini dengan “socitet”, sesuai dengan namanya dulu. Sebagian lagi, lebih suka menyebutnya dengan “Bhayangkara”. Para kenek lin fasih sekali menyebutnya sebagai satu pos perhentian penting. Selain untuk acara internal kepolisian resort Jember, gedung ini juga disewakan untuk umum. Kalangan umum, kerap menggunakannya sebagai tempat penyelenggaraan Pesta Pernikahan. Di samping gedung tersebut berdiri pula TK yang mungkin dijalankan oleh ibu-ibu Korps Bhayangkara, organisasi para polwan atau istri-istri para polisi.

Belakangan, jika pulang ke Jember, saya senang sekali menyempatkan untuk membeli Mie Ayam yang berada di jalan kecil di sebelah utaranya, jl. Veteran. Rasanya mantap, bisa jadi alternatif pengganti paling baik jika tidak berhasil mendapatkan Bakmi di sebelah SMP 2. Warung mie ayam ini sebetulnya lebih menempel di dinding Balai Penelitian Perkebunan. Sementara yang menempel di dinding gedung Bhayangkara (GB) ialah tukang tambal ban.

Continue reading “Hollandsche Sociëteit te Djember”

“Adhek kon, engko digégéri sing nduwe”:

Another posting from Johny Alfian K :
Tahun 80an lalu masih terbukti bahwa menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari menunjukkan status sosial ekonomi menengah bagi penggunanya. Seiring berjalannya waktu dan perkembangan jaman, penggunaan bahasa Indonesia begitu meluas. Di Surabaya (yang pernah saya ketahui), bakul rokok di dekat Unair aja berbicara bahasa Indonesia dengan Balita-nya. Alhasil, sekarang penggunaan bahasa Indonesia sudah sedemikian meluas. Banyak keluarga muda, di berbagai lapisan masyarakat, yang berbahasa Indonesia dengan anak-anak mereka. Berbahasa Indonesia tidak lagi menunjukkan status sosial menengah.  Bagaimana dengan di Jember…..”bheh, aku gak ero kon”, (sorry kurang memperhatikan). Lalu, dimanakah bahasa Indonesia sekarang. Seorang kawan dari Aceh yang seribu persen berdarah Aceh, dan besar di Aceh, beristri orang Aceh tulen, mengeluhkan nilai bahasa Aceh anaknya berkisar antara A dan B. Saya kira itu kan nilai yang bagus sekali. Ternyata nilai tersebut harus dikonversikan ke angka menjadi “3” dan “4”. Sementara nilai bahasa Indonesia-nya “8” atau “9”. “Gimana dengan nasib bahasa Aceh?”, ujar dia. Saya bilang, mungkin ada baiknya anak2nya tidak berbahasa Aceh. Sehingga memory-nya bisa digunakan untuk belajar bahasa asing (Inggris, Arab dll) dengan lebih baik. Dia pun sedang berpikir untuk sedikit demi sedikit menggunakan bahasa Aceh pad anaknya. Terus gimana dengan nasib bahasa Jêmbêr-an?  Sebetulnya Jêmbêr tidak punya bahasa khusus. Itu semata bahasa Jawa dengan aksen Madura. Selain juga menggunakan bbrp kosa kata Madura. Jadi pada prinsipnya, tidak ada persoalan serius ketika orang Jêmbêr berkomunikasi dengan orang Jawa pada umumnya dengan menggunakan bahasa Jawa. Karenanya mungkin lebih tepat disebut dengan “dialek Jember”.  Ekspresi “bheh”, “sia” (mungkin bahasa Inggrisnya dari keduanya “gosh”), “adhêk” (berarti “habis”, atau “rasakan!”) serta kata-kata seperti: “cêrèk” (pelit), “sengkah” & “ras arisen” (enggan), , “sengak” (awas), “songar” (sombong), “sik buru” (baru saja), “carok” (bertengkar), “ra kora” (cuci barang pecah belah), “carpak” (omong kosong), “la pola” (bertingkah), “co ngoco” (bohong) tak ayal merupakan pinjaman dari bahasa Madura. Ada juga ekspresi yang barangkali dari bahasa Jawa seperti : “polane” (karena) dll dsb.  Pertanyaannya: masih adakah kata2 atau ungkapan kata2 seperti itu di Jember? Belum punah kan? 

Photoblogging Jember!

Tulisan berikut berisi beberapa foto dalam ukuran medium yang berpotensi pemuatan halaman secara utuh lebih lambat dibanding biasanya. Terima kasih.

Balung's Market Photo Session

Foto diambil oleh Ahmad Fitri Sholeh

Saya menikmati memotret dalam kegiatan keseharian: terkadang menyengaja datang di sebuah acara untuk memotret, namun lebih sering lagi melesakkan tombol kamera begitu terdapat hal yang dianggap perlu dipotret. Kamera paling praktis yang tersedia di telepon genggam, sedangkan yang lebih serius saya sebut sebagai “alat produksi” karena nawaitu saya adalah mereproduksi rekaman momen dan berbagi dengan khalayak.

Continue reading “Photoblogging Jember!”

Radio Dangdut Jember

Gara-gara baca tulisan Ekoz tentang Radio Suara Akbar beberapa waktu lalu, sayup-sayup terdengar suara Bang Jali dan Bang Samiun di telinga saya. Karena tak ada rekamannya, ya saya buatlah versi rakitan sendiri.

http://alifandi.multiply.com/music/item/9/Radio_Dangdut_Madura

Mohon maaf kosa katanya sangat terbatas, sudah abit tak ada lawan bicara. Mon bedhe pantun, mara engko’ e belei.