<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Alumni SMA 1 Jember &#187; Jember, rek!</title>
	<atom:link href="http://sma1jember.info/category/jember-rek/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sma1jember.info</link>
	<description>Alumni Berkisah tentang Jember</description>
	<lastBuildDate>Mon, 09 Jan 2012 22:16:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
	<!-- podcast_generator="podPress/8.8" - maintenance_release="8.8.4" -->
		<copyright>Copyright &#xA9; 2012 Alumni SMA 1 Jember </copyright>
		<managingEditor>ikhlasulamal@yahoo.com ()</managingEditor>
		<webMaster>ikhlasulamal@yahoo.com ()</webMaster>
		<category>posts</category>
		<itunes:keywords></itunes:keywords>
		<itunes:subtitle></itunes:subtitle>
		<itunes:summary>Alumni Berkisah tentang Jember</itunes:summary>
		<itunes:author></itunes:author>
		<itunes:category text="Society &amp; Culture"/>
		<itunes:owner>
			<itunes:name></itunes:name>
			<itunes:email>ikhlasulamal@yahoo.com</itunes:email>
		</itunes:owner>
		<itunes:block>No</itunes:block>
		<itunes:explicit>no</itunes:explicit>
		<itunes:image href="http://sma1jember.info/wp-content/plugins/podpress/images/powered_by_podpress_large.jpg" />
		<image>
			<url>http://sma1jember.info/wp-content/plugins/podpress/images/powered_by_podpress.jpg</url>
			<title>Alumni SMA 1 Jember</title>
			<link>http://sma1jember.info</link>
			<width>144</width>
			<height>144</height>
		</image>
		<item>
		<title>Usia Jember Lebih Tua daripada Surabaya</title>
		<link>http://sma1jember.info/2011/04/usia-jember-lebih-tua-daripada-surabaya/</link>
		<comments>http://sma1jember.info/2011/04/usia-jember-lebih-tua-daripada-surabaya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Apr 2011 01:11:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rizal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jember, rek!]]></category>
		<category><![CDATA[Nostalgia]]></category>
		<category><![CDATA[Warta Berita]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[jember]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Seruji]]></category>
		<category><![CDATA[tembakau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sma1jember.info/?p=415</guid>
		<description><![CDATA[Fakta yang mengejutkan&#8230; eh fakta bukan ya&#8230; dari http://beritajatim.com/detailnews.php/6/Politik_&#38;_Pemerintahan/2011-04-04/97181/Usia_Jember_Lebih_Tua_daripada_Surabaya Senin, 04 April 2011 08:30:22 WIB Reporter : Oryza A. Wirawan Jember (beritajatim.com) &#8211; Usia Kabupaten Jember diperkirakan lebih tua daripada usia Kota Surabaya. Ada situs yang menyatakan Jember mulai ada di tahun 1088. Ihwal tahun kelahiran Jember ini tertera di situs prasasti Congapan yang berada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Fakta yang mengejutkan&#8230; eh fakta bukan ya&#8230;</p>

<p>dari http://beritajatim.com/detailnews.php/6/Politik_&amp;_Pemerintahan/2011-04-04/97181/Usia_Jember_Lebih_Tua_daripada_Surabaya</p>

<p><span>Senin, 04 April 2011 08:30:22 WIB
</span> Reporter :                 Oryza A. Wirawan</p>

<p><strong>Jember (beritajatim.com)</strong> &#8211; Usia  Kabupaten Jember diperkirakan lebih tua daripada usia Kota Surabaya. Ada  situs yang menyatakan Jember mulai ada di tahun 1088.</p>

<p>Ihwal tahun kelahiran Jember ini tertera di situs prasasti Congapan  yang berada di Desa Karangbayat Kecamatan Sumbersari. &#8220;Di situ tertulis  &#8216;tlah sanak pangilanku&#8217; yang artinya tahun 1088,&#8221; kata Didik  Purbandriyo, Koordinator Balai Pelestarian Peninggalan Purbakal  Kementerian Budaya dan Pariwisata.</p>

<p>Jika ini menjadi acuan, maka usia Jember saat ini mencapai 923 tahun.  Bandingkan dengan Surabaya yang berusia sekitar tujuh abad. Namun,  tidak seperti Surabaya yang dipastikan tanggal berdirinya pada 31 Mei,  masih sulit mengidentifikasi tanggal pasti lahirnya Jember.</p>

<p>Kendati sudah ada prasasti Congapan yang mengonfirmasi tahun  tersebut, Pemerintah Kabupaten Jember lebih memilih menggunakan  staatsblad nomor 322 tentang Bestuurshervorming, Decentralisastie,  Regentschappen Oost Java. Pengesahnya adalah Gubernur Jenderal De  Graeff. Di situ disebutkan, status Jember ditingkatkan dari afdeeling  menjadi regentschap, per 1 Januari 1929. Regentschap setara dengan  kabupaten. Inilah yang kemudian dijadikan acuan tanggal lahir Jember.</p>

<p>Didik tidak tahu persis kenapa tahun lahir bikinan Belanda itu yang  dijadikan acuan. Yang terang, di Jember ada banyak situs yang  menunjukkan usia Jember sudah sangat tua.</p>

<p>&#8220;Kalau dilihat di kitab Negara Kertagama, Jember hanya perlintasan  turne (perjalanan) Hayam Wuruk ke daerah selatan,&#8221; kata Didik.</p>

<p>Kelurahan Mangli dulu juga kerajaan kecil di bawah Blambangan.  &#8220;Perang Sadeng yang termasyhur itu juga diperkirakan terjadi di daerah  Kecamatan Balung sekarang. Perang Sadeng kemungkinan ada di sana, karena  di Balung sampai Kecamatan Semboro ada temuan benteng,&#8221; kata Didik. <strong>[wir]</strong></p>
<img src="http://sma1jember.info/?ak_action=api_record_view&id=415&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sma1jember.info/2011/04/usia-jember-lebih-tua-daripada-surabaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sedikit Jejak Sejarah Pahlawan Jember</title>
		<link>http://sma1jember.info/2011/02/sedikit-jejak-sejarah-pahlawan-jember/</link>
		<comments>http://sma1jember.info/2011/02/sedikit-jejak-sejarah-pahlawan-jember/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Feb 2011 02:43:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rizal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jember, rek!]]></category>
		<category><![CDATA[Nostalgia]]></category>
		<category><![CDATA[Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Warta Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Achmad Rizal]]></category>
		<category><![CDATA[jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[jember]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Seruji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sma1jember.info/?p=400</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin bosen ya baca postinganku tentang sejarah Jember, tapi ya gimana lagi, aku suka banget belajar sejarah, meskipun gak kuliah di Ilmu sejarah&#8230; Apalagi itu soal sejarah hal-hal yang dekat dengan kita.. sejarah Jember misalnya. Nah mumpung baru Februari kemarin sempat pulang ke Jember, ya tak mangfaatken,,(yang bener manpaatkan, munfaatkan atau manfaatkan ya..) untk napak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin bosen ya baca postinganku tentang sejarah Jember, tapi ya gimana lagi, aku suka banget belajar sejarah, meskipun gak kuliah di Ilmu sejarah&#8230; Apalagi itu soal sejarah hal-hal yang dekat dengan kita.. sejarah Jember misalnya. Nah mumpung baru Februari kemarin sempat pulang ke Jember, ya tak mangfaatken,,(yang bener manpaatkan, munfaatkan atau manfaatkan ya..) untk napak tilas tempat-tempat yang bersejarah.. Yuk mulai ceritanya.</p>

<p><a href="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/02/DSCF4183.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-401" src="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/02/DSCF4183-225x300.jpg" alt="Achmad Rizal van Patrang" width="225" height="300" /></a> Nah , kalo memasuki Kota Jember dari arah Surabaya, pasti ketemu sama patung ini (Kecuali naik Kereta Api).. letaknya pas diujung doubleway, jalan Hayam Wuruk, Kaliwates Jember. Taruhan deh.. gak banyak yang tahu ini sebenarnya patung siapa dan dalam rangka apa dan kenapa kok menunjuknya ke arah Timur.. Kok gak ngacung ke atas, kok gak mengacung pake 3 jari.. Metal &#8230; atau jari tengah he..he.. sing iki saru  <img src='http://sma1jember.info/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>

<p>Lah kenapa kok pake ngerangkul temannya yang terlihat terluka, kok gak berpelukan kayak teletubbies.. dan banyak pertanyaan kenapa yang lain.. Tapi itu kan buat orang yang kritis.. tapi juga buat orang yang kurang kerjaan kayak aku.</p>

<p>Kalo patung ini didekati, tidak ada informasi satupun yang tersisa di prasasti di bawah patung. jang kosong, cuma marmer hitam tanpa tulisan apapun&#8230;. sumpah deh..kalo gak percaya lihat nih di foto berikutnya.</p>

<p>Lho, terus buat apa bikin patung terus gak ada penanda/informasi satupun tentang maksud monumen itu didirikan, mestinya kan ada imfo-nya, jadi gak cuma jadi penghias jalan, tapi jadi bahan untuk dikenang warga Jember.</p>

<p><span id="more-400"></span></p>

<p>Beruntung sekali aku sempat membaca prasasti monumen yang mulai usang itu pada jaman dahulu kala he..he&#8230;</p>

<p><a href="../wp-content/uploads/2011/02/DSCF4185.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-402" src="../wp-content/uploads/2011/02/DSCF4185-225x300.jpg" alt="Achmad Rizal van Patrang" width="225" height="300" /></a></p>

<p>Aku lupa kapan tepatnya membaca prasasti sebelum lenyap seperti saat ini. Tapi yang aku ingat, monumen di ujung doubleway Jember ini dalam rangka mengenang gugurnya Letkol Moch Serudji dan dr Soebandi di Desa Karang Kedawung, Kecamatan Mumbul Sari, tanggal 8 Februari 1949.  Ini sekaligus menjawab beberapa pertanyaan di atas,patungnya ada 2 orang menunjukkan 2 pejuang itu.. yang katanya sih beliau gugur hampir bersamaan.</p>

<p>Tangan yang menunjuk ke arah Timur untuk menunjukkan tempat dimana beliau berdua gugur, di dekat Gunung Mumbul. yang membentang di sebleh Timur Kota Jember.</p>

<p>Nah, pertanyaan berikutnya, dimana Beliau berdua dimakamkan?.. Aku dulu curiga makam beliau berdua di pemakaman umum di Kaliwates, beberapa meter dari lokasi Patung berada, makanya aku dulu sempat blusukan mencari makamnya..:) orang yang aneh he..he.. eh ternyata bukan disitu makamnya ..tertipu aku ..</p>

<p>Makam Letkol M Serudji terletak di daerah Patrang, masuk Kelurahan Jember Lor, kalau dari Jl Sudirman, masuk ke Jalan Belimbing, nanti ada TPU Kreyongan, atau bisa dari Jalan Jambu, deket Tepbek, makam Beliau di atas Bukit dengan cungkup yang lumayan menonjol dibanding makam yang lain.</p>

<p><a href="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/02/DSCF4171.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-403" src="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/02/DSCF4171-300x225.jpg" alt="Achmad Rizal van Patrang" width="300" height="225" /></a></p>

<p>Pertama kali mengunjungi makam ini bulan Agustus 1992, saat akan memulai kegiatan Nalasud (Napak Tilas Letkol Moh Sroedji) yang diadakan oleh Pramuka UNEJ. Nah nama Ambalan dan Racana Pramuka UNEJ untuk Putra diambil dari nama Brigade Damarwulan pimpinan Letkol M Sroedji (Untuk putri nama ambalan/racananya Srikandi).</p>

<p>Dulu sebelum tahu ini makam Letkol Moch Sroedji ini, aku sudah biasa modar-mandir di pemakaman ini, biasanya dalam rangka mencari jangrik atau ngejar layangan <img src='http://sma1jember.info/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>

<p>Nah sekarang menginjak ke tokoh Pahlawan yang kedua yaitu dr Soebandi yang namanya diabadikan sebagai nama RSUD dr Soebandi di Patrang.</p>

<p><a href="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/02/DSCF4180.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-404" src="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/02/DSCF4180-225x300.jpg" alt="Achmad Rizal van patrang" width="225" height="300" /></a> Makam dr Soebandi ada di urutan 2 di TMP Baratan, Jember, di sebelah Brigdjen Pit Soendoro, yang meninggal sekitar tahun 71. Nah ini masalah lagi, padahal kan dr Soebandi gugur tahun 1949, kok makamnya urutan kedua. Jadi aku curiga, Beliau ini awalnya tidak dimakamkan di TMP tapi di tempat lain baru kemudian dipindahkan ke TMP.</p>

<p>Iya, mungkin kasusnya sama dengan Almarhum kakekku yang meninggal di satu pertempuran di Pamekasan kemudian baru beberapa tahun kemudian dipindahkan jasadnya ke TMP Panglegur di Pamekasan. Kakekku namanya Sersan Misrul, namanya diabadikan sebagai salah satu jalan di Pamekasan.</p>

<p><a href="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/02/DSCF41761.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-406" src="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/02/DSCF41761-225x300.jpg" alt="Achmad Rizal van Patrang" width="225" height="300" /></a>Pusara dr Soebandi tampak tidak terawat, informasinya juga tidak lengkap, sehingga kalo hanya melihat makamnya orang tidak bisa tahu kapan meninggalnya. Atau mungkin data lengkapnya tersedia di kantor di depan TMP ya?</p>

<p>Sayang sekali kalo orang Jember sendiri tidak paham akan sejarahnya sendiri, kalo gak masyarakat jember sendiri sopo maneh yang akan menghargai jasa pahlawan Jember.</p>

<p>Ohya, aku napak tilas ini dianter sama keponakanku yang kuliah di UNEJ&#8230; dia heran dan baru tahu tentang hal-hal yang kutunjukkan padanya&#8230; la wong Om-nya emang orang kurang kerjaan.. <img src='http://sma1jember.info/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<img src="http://sma1jember.info/?ak_action=api_record_view&id=400&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sma1jember.info/2011/02/sedikit-jejak-sejarah-pahlawan-jember/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>YANG MENARIK DI STASIUN KERETA API JEMBER</title>
		<link>http://sma1jember.info/2011/02/yang-menarik-di-stasiun-kereta-api-jember/</link>
		<comments>http://sma1jember.info/2011/02/yang-menarik-di-stasiun-kereta-api-jember/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Feb 2011 08:00:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rizal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita-cerita Enteng]]></category>
		<category><![CDATA[Jember, rek!]]></category>
		<category><![CDATA[Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Warta Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Achmad Rizal]]></category>
		<category><![CDATA[jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[jember]]></category>
		<category><![CDATA[kereta api]]></category>
		<category><![CDATA[selatan]]></category>
		<category><![CDATA[transportasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sma1jember.info/?p=392</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah kemarin tanggal 4-6 Februari aku mendapat kesempatan pulang kampung ke Jember&#8230; dan yang lebih menyenangkan lagi kepulanganku ini  kalo menurut istilah Cak Fikik adalah PUBIDI.. PUlang atas BIaya Dinas&#8230; soalnya aku ditugaskan oleh kantor untuk menghadiri resepsi pernikahan teman sekantor di Genteng, Banyuwangi. Nah sebagai PBKA (Penggemar Berat Kereta Api) ya mesti KA tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Stasiun_Jember"><img class="alignleft size-medium wp-image-393" src="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/02/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Het_stationsgebouw_te_Djember_op_Oost-Java_TMnr_60009816-300x210.jpg" alt="" width="300" height="210" /></a>Alhamdulillah kemarin tanggal 4-6 Februari aku mendapat kesempatan pulang kampung ke Jember&#8230; dan yang lebih menyenangkan lagi kepulanganku ini  kalo menurut istilah Cak Fikik adalah PUBIDI.. PUlang atas BIaya Dinas&#8230; soalnya aku ditugaskan oleh kantor untuk menghadiri resepsi pernikahan teman sekantor di Genteng, Banyuwangi.</p>

<p>Nah sebagai PBKA (Penggemar Berat Kereta Api) ya mesti KA tak jadikan pilihan utama sebagai alat trasnportasi yang akan membawaku ke kampung halaman tercinta. Meskipun hati agak dag-dig-dug soalnya gak sampai seminggu sebelumnya terjadi terjadi <a href="http://www.mediaindonesia.com/read/2011/01/28/199339/123/101/-Kecelakaan-KA-di-Banjar-akibat-Pelanggaran-Sinyal">kecelakaan KA di Stasiun Langensari</a>, Banjar yang menewaskan 3 orang (salah seorang dari korban adalah mahasiswiku). Tapi masalah jodoh, rejeki dan umur itu kan urusan ALLAH, dengan Bismillah aku berangkat ke Jember. Dan kalo naik KA pasti berhentinya di Staasiun KA, yo jelas mosok numpak sepur mudune ning terminal..</p>

<p><span id="more-392"></span></p>

<p>Nah sekarang yang di bahas Stasiun KA Jember aja ya&#8230;</p>

<p>Dulu kalo gak salah cak Faiz pernah upload foto Stasiun KA Jember di facebook  dan memang bentuk Stasiun Jember itu banyak yang tidak terlalu berubah sejak jaman dulu. Seperti gambar yang Stasiun Jember tahun 1927-1929 yang aku dapat dari <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Stasiun_Jember">sin</a>i.  Teringat foto-foto cak Faiz tadi, hati ini jadi ikut tergerak untuk mengambil gambar beberapa sudut stasiun.<a href="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/02/DSCF4189.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-394" src="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/02/DSCF4189-282x300.jpg" alt="achmad rizal van patrang" width="282" height="300" /></a></p>

<p>Nah, gambar depan stasiun ini tapi dari sudut yang berbeda dulu pernah dimuat Cak Faiz di FB, kalo dibandingkan dengan gambar versi jadulnya kok rasanya gak terlalu berubah, cuma memamg rasanya leboh rindang gambar jadulnya. Tanda +89 m itu yang membuat khas dari setiap setasiun. Perasaan gak ada tempat lain yang memuat informasi ketinggian dari atas permukaan laut secara istiqomah seperti Stasiun KA.</p>

<p>Kalo rumahku dikasih tulisan +640 rasanya para tetangga akan bergosip ria.. eh pak iku nomer opo? he..he..</p>

<p>Nah ada lagi yang lain. Jendela&#8230; Kalo diperhatikan jendela di Stasiun Jember ini masih dilestarikan keasliannya (kusennya masih asli gak ya? tapi bentuknya masih mirip dengan foto jadulnya). Jendela-nya gede-gede&#8230; biar anginnya banyak.. soalnya orang Londo yang dulu mengoperasikan sepur mungkin gak tahan sumuk <img src='http://sma1jember.info/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>

<p><a href="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/02/Jendela.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-395" src="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/02/Jendela-300x224.jpg" alt="Achmad Rizal van Patrang" width="300" height="224" /></a> Kalo sekarang meskipun jendelanya gede-gede, dalamnya masih ditutup kaca.. yo tetep sumuk rek, mangkane dikasih AC biar celep..tak iye.. Wah itu kayaknya ruang kepala Stapsiun-nya ya.. <img src='http://sma1jember.info/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>

<p>Tapi yang lebih asyik pas kalo kita masuk kedalamnya. Satsiun Jember memang tidak seramai stasiun  KA di kota-kota besar lainnya. Tapi jangan salah, Stasiun Jember adalah pusat dari PT KAI Daop IX, Daerah Operasi paling timur, bahkan sampai Bali wilayahnya.. Perasaan gak ada deh yang sampai nyebrang pulau kayak Daop IX Jember.</p>

<p>Di dalam Stasiun ada yang menari perhatianku&#8230; coba mbak-mbak, mas-mas, adik-adik lihat di Jam Dinding kuno di foto di bawah.. kira-kira apa yang unik? Kalo dari jauh gini gak kelihatan ya&#8230;</p>

<div id="attachment_396" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/02/Jam_jauh.jpg"><img class="size-medium wp-image-396" src="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/02/Jam_jauh-300x165.jpg" alt="achmad rizal van patrang" width="300" height="165" /></a><p class="wp-caption-text">Ac</p></div>

<p>Kalo aku sempat lihat jam kuno yang tergantung di dinding Stasiun&#8230;. jamnya kuno dan saking kunonya pake angka romawi.. Lah kan biasa pake angka romawi.. tapi yang ini beda&#8230; Coba lihat angka 4-nya</p>

<p><a href="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/02/Jam-dekat.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-397" src="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/02/Jam-dekat-300x225.jpg" alt="achmad rizal van patrang" width="300" height="225" /></a></p>

<p>kalo gak kelihatan, nih tak kasih gambar close-up-nya&#8230; JRENGG&#8230;.</p>

<p>Angka 4 tidak dituliskan dengan IV seperti biasanya, tapi ditulis dengan IIII.</p>

<p>Nah.. unik kan..</p>

<p>Sebelumnya aku pernah baca di Majalah KA yang sering disertakan di tempat duduk KA Eksekutif bahwa beberapa Stasiun KA masih menyimpan jam kuno dengan tulisan IIII, tapi ternyata di Jember pun ada. Bahkan jam kuno ini masih berfungsi dengan baik. Saat aku mengambil foto, memang jam segitu karena dalam rangka menunggu KA Mutiara Timur Siang jurusan Surabaya yang dijadwalnya jam 11.45 Wib.</p>

<p>Nah.. Stasiun Jember ternyata tidak hanya berjasa mengantarkan kita pergi dan pulang ke kampung halaman tercinta. Tapi juga menyimpan beberapa benda bersejarah, unik dan antik sebagai warisan dari masa lalu kota ini.  Semestinya beberapa bangunan bersejarah tetap harus dilestarikan sebagai warisan bagi anak cucu kita, semoga tidak terulang peristiwa dibongkarnya Hotel Djember, disebelah timur alun-alun (sekarang BRI) yang bersejarah.</p>
<img src="http://sma1jember.info/?ak_action=api_record_view&id=392&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sma1jember.info/2011/02/yang-menarik-di-stasiun-kereta-api-jember/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SEJARAH JEMBER.. dari Kompasiana</title>
		<link>http://sma1jember.info/2011/01/sejarah-jember-dari-kompasiana/</link>
		<comments>http://sma1jember.info/2011/01/sejarah-jember-dari-kompasiana/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Jan 2011 10:02:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rizal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jember, rek!]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Warta Berita]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[jember]]></category>
		<category><![CDATA[kereta api]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[selatan]]></category>
		<category><![CDATA[tebu]]></category>
		<category><![CDATA[tembakau]]></category>
		<category><![CDATA[transportasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sma1jember.info/?p=387</guid>
		<description><![CDATA[Mumpung lagi nemu tulisan bagus di kompasiana tulisan dari Saiful Rahman, Tulisannya panjang dan sangat serius,&#8230; cuoocoook buat yang serius pengen tahu sejarah Jember.. Monggo dinikmati Sejarah kabupaten Jember yang saya baca pada situs resmi PEMKAB Jember dibentuk berdasarkan Staatsbland Nomor 322 tanggal 9 Agustus 1928 dan sebagai dasar hukum, mulai berlaku tanggal 1 Januari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mumpung lagi nemu tulisan bagus di<a href="http://sejarah.kompasiana.com/2010/05/16/mengungkap-problematika-sejarah-dan-identitas-rakyat-jember/"> kompasiana</a> tulisan dari <a href="http://www.kompasiana.com/saifulrahman">Saiful Rahman,</a></p>

<p>Tulisannya panjang dan sangat serius,&#8230; cuoocoook buat yang serius pengen tahu sejarah Jember.. Monggo dinikmati</p>

<p>Sejarah kabupaten Jember yang saya baca pada situs resmi PEMKAB Jember dibentuk berdasarkan <em>Staatsbland</em> Nomor 322 tanggal 9 Agustus 1928 dan sebagai dasar hukum,  mulai  berlaku tanggal 1 Januari 1929. Pemerintah Hindia Belanda telah  mengeluarkan ketentuan tentang penataan kembali pemerintah  desentralisasi di wilayah Provinsi Jawa Timur, antara lain dengan  menunjuk Regenschap Djember sebagai masyarakat kesatuan hukum yang  berdiri sendiri. Secara resmi ketentuan tersebut diterbitkan oleh  Sekretaris Umum Pemerintah Hindia Belanda (De Aglemeene Secretaris) G.R.  Erdbrink, 21 Agustus 1928. oleh karena itu hari jadi kabupaten jember  ditetapkan 1 januari dan dirayakannya setiap tahun. (baca di  http://jemberkab.go.id)</p>

<p>Diskursus hari jadi kabupaten Jember  tersebut diuraikanlah jejak-rekam yang pada umumnya bersumber dari  arsip-arsip atau manuskrip yang ditulis tangan warga belanda dan  dikuatkan dengan adanya situs-situs bangunan peninggalan belanda yang  masih berdiri kokoh sampai sekarang. Menurut Tri Candra dalam makalah <em>International Conference on Urban History</em>,  di Surabaya, August 2004, mengurai bahwa proses kapitalisasi oleh  perusahaan perkebunan partikelir belanda di daerah Besuki merupakan  suatu penanda fase pertumbuhan dan berkembangnya secara nyata Jember  sebagai kota. Pada titik inilah kemudian Jember lahir sebagai kota  industri perkebunan. Ia adalah sebuah kota yang lahir dari sebuah proses  modernisasi kota-kota Hindia, sebagai akibat dari sistem perusahaan  bebas yang dianut sebagai prinsip umum ekonomi sejak masuknya kapital  besar, periode akhir abad XIX. (Candra, Tri: 2004).</p>

<p>Tak Jauh beda dengan Tri Candra, Edy Burhan  Arifin menjelaskan sejarah perkembangan pesat peradaban jember sebagai  wilayah industri perkebunan ditentukan oleh semakin merebaknya  perusahaan swasta belanda di wilayaha jember utara dan Jember tengah.</p>

<p>Adapun yang merintis usaha perkebunan swasta di Jember ialah George Birnie yang pada tanggal 21 Oktober 1859 bersama Mr. C.  Sandenberg Matthiesen dan van Gennep mendirikan NV Landbouw Maatsccappij Oud Djember (NV. LMOD) yang semula bergerak di bidang perkebunan tembakau, namun kelak kemudian hari merambah pada perkebunan aneka tanaman seperti kopi, cacao,  karet dsb. (Brosur NV. LMOD:1909). Usaha George Birnie tersebut menarik minat para ondernemer Belanda lainnya untuk menanamkan usahanya dan mendirikan perkebunan di daerah Jember, sehingga dalam waktu yang relatif singkat berdiri perkebunan swasta di daerah ini seperti Besoeki Tabac Maatscappij, Djelboek Tabac Maatscacppij dll. Kehadiran sistem perkebunan swasta ini membawa perubahan-perubahan sosial dan ekonomi pada masyarakat dan yang terpenting terjadinya perubahan status kota Jember pada tahun 1883 yakni yang semula distrik menjadi regentschap sendiiri terpisah dari Bondowoso. Sehubungan dengan berubahnya status kota Jember, maka pemerintah pusat mengadakan perombakan struktur pemerintahan dan digalakkan pembangunan infrastuktur seperti perombakan struktur pemerintahan dan digalakkan pembangunan infrastuktur seperti jembatan, jalan dan yang terpenting dibukanya jalur kereta api dari Surabaya menuju Probolinggo dan terus ke Jember, serta dari Jember  menuju Panarukan yang berfungsi sebagai pelabuhan untuk mengangkut  produk komoditi eksport pada desenia ke sembilan abad XIX. (Burhan, Edi:  2006)</p>

<p><span id="more-387"></span></p>

<p>Dengan derasnya penetrasi modal yang  ditandai dengan semakin banyaknya perusahaan-perusahaan partikelir  berekspansi di wilayah Jember membawa implikasi pada arus besar migrasi  penduduk yang ber etnis Madura dan Jawa kewilayah-wilayah industri  perkebunan di jember. Migrasi ini terjadi demi memenuhi kebutuhan tenaga  kerja dan perluasan wilayah-wilayah perkebunan di jember. Lebih lanjut  Edi Burhan arifin mengutip Bleeker, 1847 dan Tennekes, 1963  mengungkapkan, bahwa tahun 1845 penduduk Jember berjumlah hanya 9.237 orang. Namun sejak desenia ke tujuh abad XIX seiring dibukanya perkebunan swasta di daerah ini terjadi lonjakan jumlah penduduk yang sangat mencengangkan, tahun 1867 meningkat menjadi 75.780 orang. Salah satu faktor penyebabnya ialah terjadinya gelombang migrasi besar-besaran orang madura ke daerah Jember. Pada tahun 1880 meningkat menjadi 129.798 orang. Peningkatan penduduk yang sangat besar itu disebabkan karena terjadi gelombang migrasi besar-besaran  orang-orang Jawa ke daerah Jember. Terjadinya gelombang migrasi orang  Jawa itu dikarenakan pada tahun 1880-an jumlah perkebunan swasta di  daerah Jember semakin banyak dan perkebunan-perkebunan itu membutuhkan  tenaga kerja yang banyak.</p>

<p>Para migran tersebut pada  akhirnya membawa dan mengembangkan budaya asalnya ke daerah yang baru.  Dalam kontek budaya akibat arus migran dari dua entitas budaya berbeda  yang kemudian berdiam pada satu wilayah yang sama, Edi Burhan Arifin  menyebut, telah terjadi proses akulturasi budaya sehingga di daerah  Jember muncul budaya “pandhalungan” yang merupakan percampuran dua anasir budaya  menjadi budaya baru. Anehnya pernyataan yang tidak melalui penelitian  mendalam dan spesifik tersebut kemudian dikuatkan oleh Ayu Sutarto dan  lain-lain yang mengkristal menjadi diskursus kebudayaan pandhalungan di  Kabupaten Jember dengan ciri utama dilihat dari cara praktik bahasa  sehari-hari dan cara berkesenian yang merepresentasikan percampuran  antara etnis Madura dengan etnis Jawa. Menurut Ayu Sutarto, Tipe  kebudayaan orang pandalungan adalah kebudayaan agraris-egaliter. Penanda  simbolik yang tampak jelas dari tipe kebudayaan ini terdapat pada seni  pertunjukan yang digeluti dan penggunaan bahasa sehari-hari yang secara  dominan menggunakan ragam bahasa kasar (ngoko) dan bahasa campuran ‘dua  bahasa daerah atau lebih’ (Sutarto, Ayu: 2006). Sedang Hari Yuswandi  dalam Christanto P.Raharjo bernada sama memberikan definisi sederhana  tentang Pendhalungan sebagai (1) sebuah percampuran antara budaya Jawa  dan Madura dan (b) masyarakat Madura yang lahir di wilayah Jawa dan  beradaptasi dengan budaya Jawa ( Raharjo, P, Cristanto:2006).</p>

<p>Baik publikasi situs resmi PEMKAB Jember  maupun tulisan Tri Candra Ap, Edy Burhan Arifin, Ayu Sutarto, dan  lokakarya-lokakarya yang telah diselenggarakan pemerintah daerah, kalau  diamati narasinya lebih banyak berbicara dan bertumpu pada kekuatan  sumber-sumber tertulis yang telah ada. Sedang isi cerita sejarah yang  dikembangkannya lebih mengarah pada bagaimana proses perkembangan kota  Jember dimulai, sekaligus bersamaan menentukan pembabakan alur sejarah  jember secara keseluruhan. Seakan berbicara dan membayangkan Jember  lampau kemudian tak lepas dari periodisasi sejarah masa kolonialisme,  masa pendudukan Jepang, masa revolusi dan Masa pasca kemerdekaan. Dengan  demikian menganalisa dinamika perkembangan dan perubahan-perubahan  sosial masyarakatnya pun harus mengikuti dan merunut pada proses-proses  sosial pembabakan sejarah yang telah tertulis didalamnya.</p>

<p>Wacana kesejarahan Jember yang telah terdistribusi selama ini menjadi  terbatas pada penceritaan bagai mana kota jember terbentuk dan  kekuasaan administratif Jember sebagai Kabupaten terbangun. Seperti yang  telah saya paparkan diatas, dimana sejarah Jember dimulai dari  penetrasi modal besar-besaran yang masuk kejember oleh perusahaan swasta  Belanda pada tahun 1867 menyebabkan jember berkembang pesat menjadi  kota perdagangan yang melampaui wilayah-wilayah se-kerisedenan besuki  yang secara administratif kemudian pemerintah hindia belanda  berkepentingan menetapkan wilayah afdelling Jember tersendiri terpisah  dari afdelling Bondowoso. Implikasi dari wacana ini,  mainstrean sejarah Jember sebagai sejarah tertulis  berposisi  mensubordinasi sejarah lisan dan meliyankan sumber-sumber cerita  rakyat. Sejarah rakyak diasosiasikan sebatas legenda, dongeng, dan itu  sebagai omong kosong yang tak terkait dengan kebenaran sejarah Jember  masa lampau. Dampak sistemik lainnya, para kaum inteluktal yang paling  berkompeten menggali sejarah lisan menjadi malas menelusuri sejarah  Jember melalui tradisi lisan rakyat.</p>

<p>Implikasi lain menggali sejarah jember  hanya berpatokan pada sumbr tertulis yang mayoritas ditulis oleh  orang-orang kolonial belanda, kesan yang diporoleh, bahwa gelombang  sejarah jember akibat dari penetrasi modal dan kolonialisme belanda yang  dimulai dari arah utara mengakibatkan arus migrasi etnis dari madura  dan jawa. Kesan selanjutanya, peran sentral eksistensi kolonial bangsa  belanda di jember menjadi penentu arah perkembangan sejarah kabupaten  jember pada periodisasi setelahnya. Dan migrasi besar-besaran yang  mempertemukan dua etnis besar yakni etnis jawa dan Madura dalam satu  area di Jember tengah menghasilkan kebudayaan baru Jember bernama budaya  Pandhalungan, menjadi problematis, karena belum tentu merepresentasikan  kebudayaan rakyat jember secara umum. Bisa jadi ini hanya kasuistik  yang terjadi di jember tengah yang tak bisa dipukul ratakan ke wilayah  jember lainnya.</p>

<p>Superioritas penulisan sejarah Jember yang  mengutamakan sumber dokumen tertulis merupakan gejala umum penulisan  sejarah di indonesia, dengan apik Ahmad Nashih Luthfi (2006)  menggugatnya seperti berikut dibawah ini:</p>

<p>Agaknya tidak berlebihan  bila dikatakan bahwa sejarah Indonesia selama ini terkuantifikasi ke  dalam penjelasan yang sifatnya structural, kelembagaan (politik), nilai,  ideology, arus sebagai penggeraknya, tekstualitas, dan mengabaikan  eksistensi kemanusiawiannya. Sehingga muncul istilah history without  people, and people without history. Ketika sejarah mengalami  positifistikasi yang akut, ditandai dengan semboyan “no written document  no history” oleh Ranke, sejarah telah mengkhianati metode  tradisonalnya, metode Herodotus atau Thucydides ketika menulis perang  Peloponnesian, yakni metode wawancara terhadap para prajurit yang  terlibat dalam perang tersebut. Sejak saat itu sejarah mengalami  kemunduran. Namun, setelah Allan Nevins dari Columbia University pada  tahun 1948 menggunakan metode Sejarah Lisan dalam merekonstruksi masa  lalu kulit putih Amerika, Sejarah Lisan mulai kembali mengalami  kemajuan. Disusul dengan Paul Thompson dalam bukunya berjudul Voice of  The Past, Oral History, metode Sejarah Lisan mengembalikan posisi  pentingya, dan membuka potensi rekonstruksi atas masa lalu lebih mudah  dilakukan. Penulisan sejarah semacam ini (khususnya banyak menggali  aspek social) mulai berorientasi pada penulisan sejarah yang beragam,  dari lapisan bawah atau “history from below, history from within”.  Sehingga terjadi usaha pendemokratisan dalam sejarah.</p>

<p>Oleh karenanya pembabakan sejarah jember  yang telah menjadi alur maenstream sejarah dan kategorisasi budaya  pendhalungan yang telah menjadi rezim wacana, perlu ditinjau ulang.  Peninjauan ini saya maksudkan untuk melengkapi kekurangan historigrafi  Kabupaten Jember. Tinjauan pertama bahwa gelombang sejarah jember  dimulai dari jember utara dan penanggalannya mengacu pada narasi  tertulis yang tersimpan rapi dalam lemari kepustakaan pemerintah  belanda,  tanpa disadari telah menafikkan sejarah lesan dan  artefak sejarah lainnya yang berkembang dimasyarakat jember selatan,  bahkan sejarah lisan rakyat jember pada umumnya. Pengamatan saya  dilapangan pada fenomena sejarah rakyat jember yang perlu ditelusuri  kedalamannya sebagai berikut.</p>

<p>Fenomena historisatas  nama-nama desa yang memakai penamaan Jawa yang umum terjadi diseluruh  wilayah kabupaten Jember, mengindikasikan keberadaan rakyat jember ada  jauh sebelum kedatangan koloni bangsa belanda, saya kira merupakan data  yang melengkapi historigrafi yang perlu ditelusuri lebih jauh. Cerita  rakyat desa balung misalnya, (setiap tahun kronologi sejarah Desa balung  Lor dibaca pada acara selamatan desa) dikemukakan, bahwa penamaan desa  Balung bermula ditemukannya tulang tengkorak manusia pertama pembabat  hutan bernama Mbah Budeng, oleh kelompoknya kemudian prosesi penemuan  tengkorak mbah Budeng tersebut ditandai dengan nama wilayah utara hasil  pembabatam dinamai Balung Lor, sebelah barat dinamai Balung Kulon dan  sebelah selatan dinaman Balung Kidul. Mbah Budeng dan kelompoknya  keberadaannya di balung merupakan pelarian dari kerajaan mataram dan  makam mbah Budeng sampai sekarang dikeramatkan sebagai tokoh sejarah  yang melahirkan desa Balung. Lain halnya dengan cerita sejarah  kecamatan Balung, di kecamatan Puger, oleh mayarakat, nama puger  diyakini diambil dari nama pangeran puger yang sempat menetap di puger  bersama pengikutnya. Sampai sekarang cerita yang beredar disana, bahwa  rakyat puger dahulu kala adalah sebagai pengikut pangeran Puger Situs  petilasan (berbentuk makam) Mbah Tanjung, yang berada di Kucur merupakan  bukti historigrafi sejarah desa Puger yang sekarang sudah terpecah  menjadi Desa Puger wetan dan Puger Kulon. Fenomena sejarah lainnya  terjadi di Desa Tamansari Wuluhan ditemukannya oleh masyarakat setempat  artefak bekas taman masa kerajaan majapahit yang diyakini oleh  masyarakat setempat sebagai cikal bakal nama desa taman sari. Masih  banyak lagi nama-nama desa Di kabupaten Jember lainya yang memakai nama  Jawa dan ditengarai berasal dari nama ketokohan atau legenda masyarakat  setempat yang mendominasi dikabupaten Jember. Di Jember Timur, penamaan  desa Mayang Sari erat kaitannya dengan kisah legenda putri Mayang yang  oleh masyarakat setempat diyakini sebagai puteri seorang raja yang  menjadi leluhurnya. Sedang di Jember tengah dan Utara, nama-nama seperti  Gebang, Patrang, Mangli, Arjasa, merupakan legenda nama para bangasawan  kerajaan yang dilakonkan oleh Seni Ludruk setempat dalam cerita babat  tanah Jember.</p>

<p>Tinjauan kedua pada wacana budaya  pendhalungan sebagai hasil akulturasi pertemuan budaya dua atnis besar  antara etnis Madura dan Etnis Jawa di Jember Tengah (atau tepatnya di  wilayah-wiayah pinggiran kota jember) menimbulkan problemmatik  representasi  identitas tersendiri bagi diskursus kebudayaan jember. Dengan hanya  mengambil sempel masyarakat Jember tengah dengan hanya sekilas membaca  pola praktik bahasa sehari-hari dan  kesenian tradisi yang  dikembangkannya, menjadi tidak mewakili kebudayaan rakyat Jember secara  umum. Di jember selatan, (Kecamatan: Balung, Puger, Wuluhan Ambulu,  Gumuk Mas, Kencong), pengamatan saya dilapangan, tidak saya temukan  model perampuran dialek bahasa sehari-hari antara etnis jawa dan madura  seperti yang dicontohkan oleh Ayu Sutarto Di jember Tengah. Juga pada  keseneian rakyatnya tidak terjadi perubahan-perubahan yang berarti.  Etnis jawa dan Madura masih tetap bersikukuh dengan pola-pola bahasa dan  keseniannya masing-masing. Di kecamatan Balung, misalnya, kelompok  etnis madura mayoritas berdiam di sebelah utara, sedang etnis jawa  bertinggal di sebelah selatan dan mendominasi seputar kota kecamatan.  Masing-masing etnis memakai bahasa nya sendiri, baik etnis Jawa dan  Madura tidak berupaya mencampur adukkan. Dalam berkesenian, pada  kesenian jaranan misalnya, saya amati para pendukungnya adalah kelompok etnis etnis jawa, sementara kelompok etnis madura lebih memilih seni hadroh.</p>

<p>Dominasi wacana sejarah Kabupaten Jember  yang bersumber pada sejarah tertulis dan dampaknya pada kategorisasi  kebudayaan Pandhalungan di Jember Tengah yang kemudian ditarik sebagai  representasi sejarah dan identitas kebudayaan Jember, menurut hemat  saya, merupakan penjelasan sejarah dan budaya yang terburu-buru,  terkesan obsesif dan imajiner untuk menemukan Jember sebagai wilayah yang historis, khas,  unik, dan otentik. Karena sejarah lesan rakyat sebagai sumber data  Primer tidak dilibatkan didalamnya. Prosesi penarasian sejarah dimulai  dari jember Utara yang bersumber pada naskah-naskah  dokumentasi kolonial belanda (data primer), dengan tanpa melibatkan  sejarah yang berkembang wilayah Jember lainnya yang bertumpu pada  kekuatan tradisi lisan rakyat, maka, menyebabkan hilangnya pembabakan  sejarah rakyat Jember sebelum zaman berkembangannya industrialisasi  perkebunan, sebelum tahun 1800-an.</p>

<p>Padahal, narasi sejarah jember lainnya  mengungkap, bahwa tahun 1771 telah terjadi perlawanan rakyat jember pada  V.O.C Belanda yang dikoordinir oleh Sayu Wiwit dengan gemilang  menghancurkan pos Belanda di jember (babat bayu, 1773 dalam Hasan Basri:  Tanpa tahun), namun para sejarawan jember enggan menelusurinya karena  terbatasnya sumber tertulis yang bisa menjelaskannya. Mengenai Sayu  Wiwit Pemkab banyuwangi mengusulkan menjadi pahlawan nasional. Disini,  jika telah terjadi pertempuran di Jember pada tahun 1771, lepas dari  ketokohan Sayu Wiwit sebagai orang blambangan yang masuk dalam batas  geografis Banyuwangi atau kekalahan V.O.C Belanda disatu sisi, bukankah  ini pertanda bahwa telah ada pribumisasi rakyat Jember sebelum era  migarasi besar-besar akibat industri perkebunan di Jember?</p>

<p>Sejarah lisan rakyat  Jember yang membisu di ruang publik, lokusnya dominan berada di jember  selatan. Ini bisa dimaklumi karena sejarah jember yang sudah banyak  beraksi dipanggung publik alirannya dari jember utara sedang di Jember  selatan kurang terapresitif karena minimnya sumber tertulis untuk  menjelaskan fenomena sejarahmasa lampaunya. Sedang data-data untuk  menjelaskan fenomena sejarah di Jember selatan lebih banyak berasal dari  cerita rakyat, dari mulut kemulut, dan seringkali terendap diruang alam  bawah sadar. Cerita Sogol di ambulu, Mbah budeng di balung, Pangeran  puger di puger, candi deres di gumukas, situs taman bekas kerajaan  majapahit ditaman sari, dan lain lain yang masih banyak terpendam di  Jember selatan, merupakan tantangan pada diskursus sejarah jember untuk  lebih apresiatif dan serius mengadirkan sejarah jember sebenarnya secara  utuh pada khlayak luas.</p>

<p>Fakta lainnya, jika diarahkan demi  memperkaya historisitas Jember, yakni kontrakdiksi nama-nama desa yang  memakai nama Jawa -mayoritas dikabupaten Jember- namun etnis penduduk  yang berdiam didalamnya mayoritas ber etnis madura, terutama terjadi di  Jember Timur dan Jember barat. Misalnya Nama-nama desa: Pakusari, Mayang  Sari, Sumbersari, Bangsal Sari, Gambirono, yang kesemuanya mayoritas  penduduknya ber etnis Madura. Tentu hal semacam ini tak bisa diindahkan  begitu saja untuk masuk menelusuri lapisan sejarah Jember lebih dalam  lagi. Kemungkinan telah terjadi prosesi perubahan sejarah yang besar  prakolonialisme yang telah kita alpakan disini. Bisa jadi, disamping  untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja dalam skala besar, sekaligus <em>hidden agenda</em> politik belanda untuk menggusur pribumisai etnis Jawa yang telah lama mendiami wilayah Jember.</p>

<p>Oleh karenanya sangat penting menggali  sejarah jember yang masih belum terkuak, dimana data-datanya masih  berserakan dialam bawah sadar rakyat Jember. Penggalian dan pengumpulan  data sejarah rakyat hanya bisa kita kerjakan dan kita dapatkan dari  sejarah lisan mereka. Sejarah Jember yang sudah ternarasikan melalui  sumber-sumber tertulis akan lebih mendekati pada kebenaran dan lebh  indah dipermukaan, apabila tidak vis-avis dengan sejarah lisan rakyat  tetapi saling berkorelasi, dan tidak lagi berposisi mensubordinasi atau  menegasi.</p>

<p>Penelitian lisan tidak  digali dengan ’kepala kosong’. Segalanya disiapkan dalam kerangka yang  matang. Dengan demikian, informan tidak akan bicara tanpa makna, tetapi  diarahkan pada kebutuhan peneliti. Pembicaraan bersifat lentur karena mendekatkan pada proses. Namun demikian, peneliti tetap menjadi pengendali.</p>

<p>Demikian juga pada  pendekatan kultur, kemampuan peneliti ditantang. Pendekatan ini  memungkinkan terciptanya dialog yang alami. Informan tidak merasa  diinterogasi, tetapi diajak untuk berkelana mengarungi pulau masa lalu.  Pelan tapi pasti, segala persitiwa yang ingin dibidik peneliti, akan  terlontar dari informan. Pernyataan secara alami itulah, yang akan  menjadi data baru yang unik, <em>pure</em>, dan berbeda dari penuturan dokumen.</p>

<p>Dalam  sejarah lisan, peneliti memang harus membatasi hubungan dengan dokumen.  Apabila terjadi, ia hanya akan menjadi penutur sejarah terburuk.  Artinya, hanya mengulang penjelasan yang sudah ada.  Penelitian lisan berusaha menghasilkan data yang berbeda, dengan  mendekatkan pada fungsi evaluasi dan refleksi dokumen.</p>

<p>Fungsi  tersebut, memungkinkan sejarawan berdialog secara psikologis dengan  data. Proses ini akan memunculkan ’empati historis’. Sifat ini perlu  ditumbuhkan dalam jiwa sejarawan, untuk membangun logika analisa fakta.  Empati bukanlah sebuah ’dosa’, tapi justru cara membuat historiografi  menjadi lebih manusiawi.</p>

<p>Sejarah bukan <em>icon</em> kaku tanpa ekspresi. Pergulatan manusia dalam melawan nasib adalah  kerja manusiawi yang sarat pergolakan batin dan jiwa. Situasi ini akan  hidup jika muncul muatan psikologis. Data lisan memungkinkan kerja-kerja  psikologis untuk menghidupkan fakta, tanpa mengurangi validitas dan  kredibilitasnya. Kekuatan data dapat menunjukan mentalitas informan  dalam menghadapi situasi zaman. Secara kolektif akan memunculkan <em>genre</em> baru: sejarah mentalitas.</p>

<p>Sebagai akhiran, pernyataan pujangga dan sejarawan Belanda, Willem Bilderijk, pantas untuk direnungkan.<strong> </strong>Setiap kejadian memang timbul-tenggelam, tapi tidak berarti diam<strong>. </strong>Ia mengandung makna yang aktif—menyajikan pelajaran hidup yang kemudian diterjemahkan dengan nama: hikmah. Apalagi dalam kacamata historis, kejadian itu bersifat tridimensi—<em>past, present, and future.</em> <em>“Apa yang timbul, dan apa yang tenggelam, </em><em>Tidak  tercerai-berai, melainkan berkesinambungan, Hari kemarin memangku hari  sekarang. Dan hari sekarang menumbuhkan hari depan!”</em><em>(Willem Bilderijk).</em></p>
<img src="http://sma1jember.info/?ak_action=api_record_view&id=387&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sma1jember.info/2011/01/sejarah-jember-dari-kompasiana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Palagan Jumerto, Saksi Perjuangan Rakyat Jember</title>
		<link>http://sma1jember.info/2011/01/palagan-jumerto-saksi-perjuangan-rakyat-jember/</link>
		<comments>http://sma1jember.info/2011/01/palagan-jumerto-saksi-perjuangan-rakyat-jember/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Jan 2011 03:15:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rizal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jember, rek!]]></category>
		<category><![CDATA[Nostalgia]]></category>
		<category><![CDATA[Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Achmad Rizal]]></category>
		<category><![CDATA[jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[jember]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sma1jember.info/?p=380</guid>
		<description><![CDATA[Tulsan ini mungkin masih berkaitan dengan tulisanku yang lama tahun 2008 Desa Jumerto, Patrang, Jember, menyimpan sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan NKRI. Tiga belas anggota Brimob dan 20 warga setempat tewas karena ditembus peluru pasukan Cakra dari KNIL Belanda yang berniat menduduki Indonesia. Monumen Palagan Jumerto yang berdiri di depan Kelurahan Jumerto, Kecamatan Patrang, tetap kukuh. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulsan ini mungkin masih berkaitan dengan <a href="http://sma1jember.info/2007/11/hari-pahlawan-pahlawan-pahlawan-lokal-jember/">tulisanku yang lama tahun 2008 </a></p>

<p>Desa Jumerto, Patrang, Jember, menyimpan sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan NKRI. Tiga belas anggota Brimob dan 20 warga setempat tewas karena ditembus peluru pasukan Cakra dari KNIL Belanda yang berniat menduduki Indonesia.
<a href="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/01/Monumen1.jpg"><img class="size-medium wp-image-381 alignright" src="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/01/Monumen1-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a>
Monumen Palagan Jumerto yang berdiri di depan Kelurahan Jumerto, Kecamatan Patrang, tetap kukuh. Deretan nama 13 anggota Brimob Polri dan 20 warga setempat tertulis jelas pada monumen yang diresmikan 1 Juli 1984 oleh Kapolda Jawa Timur saat itu, Mayjen Polisi Soedarmadji.</p>

<p>Kapolres Jember saat itu, Letkol Polisi H Soemardiono, juga tertulis di monumen tersebut. Dua bambu runcing, logo Brimob, logo Polri, serta logo Polda Jatim, pun terpampang di monumen bersejarah tersebut.</p>

<p>Tidak banyak yang tahu sejarah monumen setinggi 10 meter tersebut. Para saksi mata peristiwa maut itu sudah tiada. Kini tinggal anak dan para cucu saksi mata yang tetap mengenang sejarah kepahlawanan 13 anggota Brimob dan 20 warga Jumerto tersebut.</p>

<p>Suhadi, salah seorang warga Ju­merto, menyatakan mendapatkan cerita kepahlawanan itu dari Abdarullah, ayahnya yang meninggal lima bulan lalu. Dia kemudian men­ceritakan peristiwa Palagan Jumerto. Kejadian tersebut bermula dari kedatangan 13 anggota Brimob yang mendapatkan tugas patroli keliling Jawa Timur (Jatim).</p>

<p>&#8220;Tiga belas anggota Brimob itu baru datang dari perjalanan panjang,&#8221; kata Suhadi. Sebelum menginap di Desa Jumerto, mereka menempuh perjalanan dari Lumajang, Malang, dan Blitar. &#8220;Ayah saya lupa harinya. Saat itu 1949,&#8221; tambahnya.</p>

<p><span id="more-380"></span></p>

<p>Lebih lanjut dia bercerita, karena sudah kelelahan, mereka memutuskan bermalam di Desa Jumerto. &#8220;Ketika sampai di Desa Jumerto, mereka bertemu Pak Yakub (salah satu warga),&#8221; tuturnya.</p>

<p><a href="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/01/Monumen2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-383" src="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/01/Monumen2-280x300.jpg" alt="" width="280" height="300" /></a>Saat ketemu Pak Yakub, salah seorang anggota Brimob memin­ta ditunjukkan rumah kepala de­sa. Memang, selama perja­lanan, mereka pasti mampir di rumah perangkat desa setempat. Termasuk saat datang ke Desa Jumerto. &#8220;Oleh Pak Yakub, mere­ka diajak ke rumah sesepuh desa bernama Pak Asmar,&#8221; ujarnya. Pak Asmar merupakan kakek Suhadi.</p>

<p>Nah, saat itulah KNIL -tentara bentukan Belanda- ternyata juga datang ke Desa Jumerto. Mereka membagi-bagikan gula untuk mengambil hati warga Jember. Kedatangan tentara KNIL tersebut tidak disadari anggota Brimob.</p>

<p>Paginya, tentara KNIL yang bersenjata lengkap langsung me­nyerbu 13 anggota Brimob yang sedang beristirahat. Mendapatkan serangan tiba-tiba, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka dengan mudah dihabisi.</p>

<p>Ratusan warga yang berniat me­­nolong akhirnya juga menjadi korban. Setidaknya 20 warga Desa Jumerto tewas karena di­tembus peluru tentara KNIL. Abdurra, anak Pak Asmar yang mengantarkan anggota Brimob, juga tertembak. Padahal, saat itu Abdurra berniat merawat anggota Brimob yang gugur.
<a href="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/01/Daftar.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-382" src="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2011/01/Daftar-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a>
Menurut kesaksian Bpk Asmar selain korban dari Brimob 13 anggota yang gugur dan rakyat 20 orang yang meninggal serta korban penganiayaan dan perkosaan, di pihak Belanda juga banyak yang tewas karena pada saat itu ada seorang warga yang ditanya oleh pasukan Belanda dimana tempat persembunyian pasukan Brimob, mereka menunjukan ke arah tentara Belanda sehingga terjadi tembak menembak sesama pasukan Belanda dari kesalah pahaman ini, banyak pasukan Belanda yang tewas tetapi jumlahnya tidak diketahui dengan pasti sampai sekarang.</p>

<p>Sumber :</p>

<p><a href="http://www.jawapos.com/radar/index.php?act=detail&amp;rid=99342">http://www.jawapos.com/radar/index.php?act=detail&amp;rid=99342</a></p>

<p><a href="http://fendyaditiya.wordpress.com/2008/09/07/palagan-jumerto-monumen-yang-terpinggirkan/">http://fendyaditiya.wordpress.com/2008/09/07/palagan-jumerto-monumen-yang-terpinggirkan/</a></p>

<p>Jika berminat mengunjungi monumen ini, bisa ke perempatan Slawu, terus ke timur arah Jumerto. Kira-kira 4 km sampai ke depan Monumen yang berdekatan dengan Balai Desa Jumerto dan Masjid Syuhada.</p>
<img src="http://sma1jember.info/?ak_action=api_record_view&id=380&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sma1jember.info/2011/01/palagan-jumerto-saksi-perjuangan-rakyat-jember/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SALAH SEBUT DI PATRANG</title>
		<link>http://sma1jember.info/2010/03/salah-sebut-di-patrang/</link>
		<comments>http://sma1jember.info/2010/03/salah-sebut-di-patrang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Mar 2010 10:34:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rizal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jember, rek!]]></category>
		<category><![CDATA[Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Achmad Rizal]]></category>
		<category><![CDATA[jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[jember]]></category>
		<category><![CDATA[Nostalgia]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sma1jember.info/?p=357</guid>
		<description><![CDATA[Kebetulan bulan Januari 2010 kemarin, aku berkesempatan untuk jalan-jalan ke Palembang, Sumatera Selatan. Selain Jembatan Ampera-nya yang membentang diatas sungai Musi, pempek dan durennya ada hal lain yang membuat aku terkesan. Di Palembang, jalan-jalan protokol dinamakan dengan nama-nama terasa asing bagi orang yang baru menginjakkan kaki di Palembang. Beberapa nama jalan itu misalnya Jalan Kapten [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kebetulan bulan Januari 2010 kemarin, aku berkesempatan untuk jalan-jalan ke<a href="http://www.facebook.com/album.php?aid=2046371&amp;id=1000298462"> Palembang, Sumatera Selatan</a>. Selain Jembatan Ampera-nya yang membentang diatas sungai Musi, pempek dan durennya ada hal lain yang membuat aku terkesan. Di Palembang, jalan-jalan protokol dinamakan dengan nama-nama terasa asing bagi orang yang baru menginjakkan kaki di Palembang. Beberapa nama jalan itu misalnya Jalan Kapten Rivai, Jalan Mayor Ruslan, Jalan Mayor Salim, Jalan Ki Ronggo Wirosentiko, Jalan Kapten Anwar Sosro, Jalan Letnan Dua Rozak dan masih banyak nama jalan lain yang menggunakan nama orang yang aku gak kenal. Dari bincang-bincang dengan teman yang tinggal di Palembang barulah aku ‘ngeh’ bahwa  nama-nama yang dipampang di jalan-jalan di kota Palembang terkait dengan peristiwa <a title="5 hari di Palembang" href="http://lianaindonesia.wordpress.com/2006/11/09/jejak-sejarah-pertempuran-5-hari-5-malam/" target="_blank">Pertempuran 5 Hari Palembang yang heroik di 1-5 Januari 1947</a>.</p>

<p>Dibandingkan di Jember sebenarnya tidak terlalu istimewa, karena di Jember juga ada Jalan M Seruji, Jalan dr Subandi, JalanR Sudarman..tapi di Jember cuma sedikit sedangkan di Palembang..beuh.. banyak banget <img src='http://sma1jember.info/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> <span id="more-357"></span></p>

<p>Awal Maret kemarin, Alhamdulillah ada kesempatan pulang kampung sambil menunaikan tugas dari kantor eh.. salah menunaikan tugas dari kantor sekalian pulang kampung. Seperti biasa dari Bandung naik Turangga dari Stasiun Hall jam 7 malam kemudian dilanjutkan dengan MutiaraTimur dari Stasiun Gubeng jam 9.15 keesokan harinya. Sampai di Jember sekitar jam 1 siang. Dari Stasiun Jember, aku naik becak supaya leluasa menikmati pemandangan dari Stasiun Jember sampai rumahku di Patrang. Awalnya tidak ada yang mengganggu, tapi di daerah Jalan Muh Seruji, di sebelah bekas Kampus Prodi Keperawatan UNEJ ada yang mengganggu mataku. Ada tulisan nama Jalan KH.Moch  Seruji.. makgubraak&#8230;.</p>

<p><a href="http://arl.blog.ittelkom.ac.id/blog/short-cv/"><img class="alignleft size-medium wp-image-358" src="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2010/03/khmseruji-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a></p>

<p>Walah.. kok KH. Moch. Seruji&#8230;. loh emang kalo ada nama Mochammad, harus Kyai Haji? Dan yang lebih parah lagi, nama jalan ini merupakan nama resmi lengkap dengan kode posnya, artinya pihak Pemda-pun tidak tahu lagi siapa itu Moch. Seruji.</p>

<p>Moch. Seruji atau nama lengkapnya Letkol Mokh Seruji (<a title="TNI Hijrah" href="/Users/endang/Documents/Pribadi/SejarahJEmber/Buku%20Sekitar%20Hijrah%20TNI.htm">Dalam buku “Sekitar TNI Hijrah” terbitan Dinas Sejarah Militer Angkatan Darat tahun 1982</a>) merupakan Komandan Brigade Damarwulan, yang gugur di Desa Karang Kedawung, Mumbulsari, 8 Februari 1949. Saking populernya beliau sampai namanya tidak hanya diabadikan di Jember, tapi juga dipakai sebagai nama jalan di Situbondo (daerah Patokan), di Lumajang (Kecamatan Kota), di Kediri (daerah Gurah), dan di beberapa tempat di Jember (Patrang, Gambirono dan kalo tidak salah di Panti juga ada jalan Seruji). Nama beliau tidak hanya dipakai sebagai nama jalan tapi juga nama Universitas. Selain Univ. Mochammad Seruji di Jember, setahuku juga ada <a title="univ seruji lumajang" href="http://www.pdp.or.id/page.php?lang=id&amp;menu=news_view&amp;news_id=909">Univ. M Seruji di Lumajang </a>(Omdhe.. bener gak?&#8230;).. Nah lo…<a href="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2010/03/PSPer1.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-360" src="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2010/03/PSPer1-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a></p>

<p>Terlepas Beliau (Letkol M Seruji ) kelahiran Jember atau bukan (yang ini jelas aku gak tahu, harus pergi ke makam beliau di Kreoyang kalo pengen tahu beliau kelahiran mana) rasanya jasa-jasanya tidak boleh dilupakan begitu saja. Katanya sih bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya, mosok jasa Moch Seruji dilupakan begitu saja oleh orang Jember. Katanya juga Pemda Jember tidak berniat mendirikan monumen Moch Seruji seperti halnya Monumen Gerbong Maut di Bondowoso (<a title="Usulan Monumen Moch Seruji" href="http://www.mediaindonesia.com/citizen_read/224" target="_blank">Media Indonesia, Rabu, 28 Oktober 2009, ditulis <strong>Marlutfi Yoandinas</strong></a>). Mungkin Patung Moch Seruji di depan kantor Pemkab Jember dianggap cukup menjadi bukti penghargaan buat beliau?&#8230;.<a title="Sejarah Jember" href="http://blogjember.blogspot.com/2009/01/jember-dulu-dan-sekarang.html"><img class="alignleft size-full wp-image-361" src="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2010/03/image63.png" alt="achmad Rizal" width="148" height="99" /></a></p>

<p>Sebagai pribadi aku mengusulkan adanya muatan lokal di SD tentang Jember, baik secara histori maupun geografi. Mosok wong Jember gak tahu berapa jumlah kecamatan di Jember,  gak tahu potensi di Jember apa saja, objek wisata di Jember apa aja. Seingatku jaman kelas 3 SD dulu sempat ada mata pelajaran Mata Angin, yang isinya pengetahuan  tentang Jember. Bukunya tipis, covernya warna hijau dengan lambang Kabupaten Jember. Di dalamnya ada peta Kabupaten Jember,  gunung-gunung yang ada di wilayah Jember, potensi tiap kecamatan dan lain-lain. Nah, apa sekarang masih ada mata pelajaran itu ya?&#8230;.</p>

<p>Nah..kalo sekarang saja Letkol Moch Seruji diubah jadi KH Moch Seruji, aku kuatir Letkol Slamet Riyadi (kebetulan di Jember juga ada Jalan Slamet Riyadi dan kebetulan di Patrang) nanti ditulis dengan Jl. KH. Slamet Riyadi.. padahal <a title="slamet riyadi" href="http://permesta.8m.net/relates/artikel_kawilarang_Kehormatan_Kopassus.html" target="_blank">Letkol Slamet Riyadi yang gugur di Fort Victoria di Ambon dalam rangka memberantas RMS</a> nama lengkapnya adalah Ignatius Slamet Riyadi&#8230; Opo tumon KH Ignatius Slamet Riyadi &#8230;</p>
<img src="http://sma1jember.info/?ak_action=api_record_view&id=357&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sma1jember.info/2010/03/salah-sebut-di-patrang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Jalur Tebu&#8221; Kereta Api Jember Wilayah Selatan</title>
		<link>http://sma1jember.info/2009/12/kereta-api-jember-selatan/</link>
		<comments>http://sma1jember.info/2009/12/kereta-api-jember-selatan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Dec 2009 03:54:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ikhlasul Amal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jember, rek!]]></category>
		<category><![CDATA[Nostalgia]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[jember]]></category>
		<category><![CDATA[kereta api]]></category>
		<category><![CDATA[selatan]]></category>
		<category><![CDATA[tebu]]></category>
		<category><![CDATA[tembakau]]></category>
		<category><![CDATA[transportasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sma1jember.info/?p=342</guid>
		<description><![CDATA[Saya punya hutang janji menulis untuk Cak Ekoz al-Guevara: tentang perkeretaapian di wilayah Jember Selatan. Sekaligus saya tersadarkan bahwa di antara kita ada yang belum sempat menyadari jalur eksotis kereta api di selatan. Jangan khawatir, bagi saya pun sayup-sayup karena sangat sedikit ingatan tentang kereta api ini. Membentang di sebelah utara sungai besar dan instalasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya punya hutang janji menulis untuk Cak Ekoz al-Guevara: tentang
perkeretaapian di wilayah Jember Selatan. Sekaligus saya tersadarkan
bahwa di antara kita ada yang belum sempat menyadari jalur eksotis
kereta api di selatan. Jangan khawatir, bagi saya pun sayup-sayup
karena sangat sedikit ingatan tentang kereta api ini.</p>

<p>Membentang di sebelah utara sungai besar dan instalasi perairan dari
desa Curah Malang, Kec. Rambipuji, hingga desa Tutul, Kec. Balung,
terdapat rel kereta api hasil pencabangan di pertigaan sohor
Kaliputih, Rambipuji. Di sisi selatan sungai terdapat jalan raya
penghubung Jember-Lumajang, yang digunakan hingga sekarang. Bak
&#8220;jalur sutera&#8221;, prasarana ini memang sengaja dibangun sejak era
kolonial untuk membuka perdagangan antarkota.</p>

<p><span id="more-342"></span></p>

<p>[field name=iframe]</p>

<h2>Ada apa di selatan zaman dulu?</h2>

<p>Di desa Tutul hingga Kencong terdapat lahan tebu sangat luas yang
memasok pabrik gula di Kencong. Pabrik gula Kencong ini berada di
sektor selatan, melengkapi sektor utara yang ditempati pabrik gula
juga di Semboro dan Jatiroto, Kab. Lumajang. Tidak berlebihan jika
Kencong termasuk salah satu cikal-bakal sejarah pabrik gula Belanda.
Lengkap dengan kompleks pabrik berupa loji hingga tanah lapang
publik yang dapat disaksikan sekarang, sejarah Kencong dapat
ditelusuri hingga <a href="http://www.google.co.id/search?hl=en&amp;as_q=kentjong+suikerfabriek&amp;as_epq=&amp;as_oq=&amp;as_eq=&amp;num=10&amp;lr=lang_nl&amp;as_filetype=&amp;ft=i&amp;as_sitesearch=&amp;as_qdr=all&amp;as_rights=&amp;as_occt=any&amp;cr=&amp;as_nlo=&amp;as_nhi=&amp;safe=images">hikayat awal industri gula Belanda</a>. Jawa Timur
sendiri merupakan penopang utama industri gula nasional, walau
kondisi pabrik-pabrik gula peninggalan Belanda tersebut mengenaskan.</p>

<p>Komoditi tambahan yang diangkut dari daerah selatan adalah beras dan
tembakau. Sudah menjadi tradisi lokal di masa itu beberapa rumah
besar memiliki lumbung dan tempat penjemuran padi keluarga. Di era
Orde Baru, sebuah lumbung besar Badan Urusan Logistik (Bulog)
didirikan di Jambearum, Kec. Puger, untuk menampung beras hasil
panen.</p>

<p><a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/2931345663/" title="Morning Blue by Ikhlasul Amal, on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3225/2931345663_30de4abe1c.jpg" width="500" height="333" alt="Morning Blue" /></a></p>

<p>Akan halnya tembakau, di tahun 1960-an, sudah lazim bagi saudagar
setempat berniaga membawa rajangan daun-daun kering tembakau hingga
Kebumen, Jawa Tengah. Keluarga besar kami yang berasal dari dua
simpul pendatang Bojonegoro dan Pulau Bawean, diduga migran
perdagangan ini. Acara menimbang daun tembakau, <a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/sets/72157607960932770/">sejumlah gudang
bambu</a>, dan konvoi pekerja bersepeda di sore hari, adalah fenomena
turun-temurun yang masih tersisa hingga sekarang.</p>

<p>Dengan pertimbangan ekonomi seperti di atas, masuk akal jika
dibuatkan rel kereta api dan jalan raya penghubung lewat Balung atau
Ambulu, Kasiyan, Kencong, Gumukmas, Yosowilangun, hingga Lumajang.
Tidak berlebihan pula seandainya sungai besar yang diapit tersebut
terhindar dari kebiasaan buruk dijadikan ruang mandi terbuka,
miniatur wisata sungai ala kota-kota di Belanda dapat
diselenggarakan.</p>

<p><a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/2930722674/" title="Gumelar, Balung, Jember of East Java by Ikhlasul Amal, on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3249/2930722674_ca4486d29d.jpg" width="500" height="375" alt="Gumelar, Balung, Jember of East Java" /></a></p>

<h2>Kereta api primadona masa lalu</h2>

<p>Di masa sebelum taman kanak-kanak, berarti sekitar tahun 1974, saya
sering menyempatkan diri duduk di belakang rumah nenek, di pinggir
sungai besar tadi, dan menyaksikan kereta api lewat dari arah utara,
Jember, menuju selatan, Lumajang. Stasiun kereta api tidak jauh dari
rumah nenek, sehingga kereta api sudah mulai melambat. Di sebelah
kanan terdapat jembatan besi kokoh bekas rel ke arah timur, Ambulu.
Saya tidak pernah melihat kereta api ke arah Ambulu ini, hanya
kisah-kisah para tetua di keluarga menyebut pengalaman mereka
mengangkut tembakau ke sana. Bukti yang masih dapat dilihat saat itu
adalah bekas jalur kereta dan jembatan di atas Sungai Bedadung.</p>

<p><a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/4024752452/" title="I Hope It's Real River Beauty by Ikhlasul Amal, on Flickr"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2481/4024752452_c1544595fa.jpg" width="333" height="500" alt="I Hope It's Real River Beauty" /></a></p>

<p>Satu-satunya pengalaman mengesankan yang masih saya ingat adalah
acara keluarga ke Lumajang naik kereta api. Yang tersisa dalam
bayangan saya adalah gerbong ekonomi, berbangku kayu panjang
berjejer, dan setiap orang duduk menghadap jendela. Mirip seperti
gerbong barang yang disulap menjadi gerbong penumpang. Karena hanya
sekali itu bepergian naik kereta yang saya ingat dan faktor usia
masih kecil juga, boleh dikata saya tidak memiliki ingatan yang
memadai tentang &#8220;naik kereta api jalur tebu Jember-Lumajang&#8221;
tersebut.</p>

<p>Tentang stasiun Balung pun saya hanya ingat dulu juga ditempati
kantor pos yang sibuk melayani surat, tabungan nasional, dan
pengiriman barang (paket). Tampaknya urusan korespondensi dititipkan
kereta api dan setelah jalur kereta api dihentikan, bangunan
tersebut masih ada di kompleks stasiun. Hingga di tahun 1980-an
pemerintah memindahkan kantor pos dari kompleks stasiun ke pinggir
jalan besar di Balungkulon dan praktis angkutan surat-menyurat
dititipkan ke bus Akas tujuan Lumajang.</p>

<p>Kompleks stasiun Balung masih ada saat ini, di sebelah barat
perempatan utama pertemuan jalur Rambipuji-Balung dan Ambulu-Balung.
Saksi sejarah yang sunyi karena memang tidak terawat, menjadi tempat
penampungan gelandangan, dan belum tahu juga kelanjutan lahan milik
PT&nbsp;Kereta Api Indonesia (KAI) yang saat ini terbengkalai.</p>

<p><a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/2512723430/" title="Balung Old Train Station by Ikhlasul Amal, on Flickr"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2264/2512723430_d0d44b39a6.jpg" width="500" height="375" alt="Balung Old Train Station" /></a></p>

<p>Cerita menarik lain: pada saat saya dan adik kanak-kanak, kami
sering bermain &#8220;sepur-sepuran&#8221; berbekal buku daftar perjalanan
kereta api tahun 1960-an se-Indonesia (Jawa dan Sumatera). Buku
tersebut berisi daftar yang sangat rinci dari nama kereta api dan
nomor serinya, asal dan tujuan perjalanan, dan waktu kedatangan dan
keberangkatan di setiap stasiun. Tidak ada orang tua yang sempat
bercerita tentang buku tersebut, namun dugaan saya dibeli oleh kakek
yang sempat berdagang tembakau hingga Kutoarjo, Jawa Tengah.</p>

<p>Saya tidak pernah mendapati buku perjalanan kereta api selengkap itu
setelahnya. Barulah pada tahun 2001 saat saya mendapat kesempatan
tinggal di Groningen, Belanda, saya melihat buku seperti itu,
<a href="http://nl.wikipedia.org/wiki/Spoorboekje"><i>Spoorboekje</i></a>, dijual di toko buku di stasiun Groningen Centraal. Format utamanya masih
mirip, dalam bentuk tabel, tentu saja gaya penyajiannya sekarang
sudah modern. Dengan kata lain, pada saat pemesanan karcis kereta
api sudah dilayani secara daring (<i>online</i>) di Belanda, buku
klasik seperti yang terdapat di &#8220;Hindia Belanda&#8221; masih dicetak dan
dijual!</p>

<p>Pertanyaan penting dalam konteks yang lebih luas: seberapa jauh kita
sanggup konsisten, istiqomah, mempertahankan infrastruktur layanan
publik yang baik? Alih-alih bongkar-pasang hapus yang lama, bikin
yang baru, nyaris tanpa upaya perawatan. Saya sempat membaca rencana
pembangunan <a href="http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&amp;id=113545">kereta api super cepat Jakarta-Bandung-Cirebon</a>: apakah
itu yang benar-benar kita perlukan jika menghidupi hajat orang
banyak seperti Kereta Rel Diesel (KRD) Bandung-Cicalengka belum juga
dapat menjadi layanan transportasi yang nyaman dan dapat diandalkan?</p>

<p>Di grup Indonesian Railway Pictures di Flickr disebutkan <a href="http://www.flickr.com/groups/irp/discuss/72157622729767210/">beberapa jalur
kereta api ditutup karena dianggap tidak layak secara ekonomis</a>. Pada
saat kereta api Jember-Lumajang ditutup pun, angkutan umum antarkota
(sebenarnya angkutan yang disediakan perorangan, bukan layanan
publik pemerintah) mulai meningkat dan &#8220;hukum rimba ekonomi&#8221; memukul
kereta api dengan telak. Sekarang ini, angkutan antarkota tersebut
ganti merana dipukul kepemilikan sepeda motor yang sudah berlebih.
Artinya, jika diserahkan kepada &#8220;hukum persediaan dan keperluan&#8221;
publik, arah penyediaan transportasi publik kita menjadi seenaknya,
tidak ekonomis dalam skala luas, dan sangat rentan dalam hal faktor
keamanan di ruang publik. Sederhana saja: coba pertimbangkan
pergeseran pengangkutan tebu, dari kereta api kemudian truk. Sekarang
ini, sebagian komoditas pertanian diangkut dengan memaksakan diri
di atas sepeda motor.</p>

<p><a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/2760904767/" title="Preparing for Cattle Feeding* by Ikhlasul Amal, on Flickr"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3190/2760904767_db0d40e82e.jpg" width="500" height="333" alt="Preparing for Cattle Feeding*" /></a></p>

<p>Saya membayangkan transportasi berbasis kereta api yang lebih baik,
tetap pada fungsinya sebagai transportasi cepat massal, lebih
daripada bernostalgia keelokan perkeretaapian di sektor selatan
Jember.</p>
<img src="http://sma1jember.info/?ak_action=api_record_view&id=342&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sma1jember.info/2009/12/kereta-api-jember-selatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bernostalgia di Jember Klinik</title>
		<link>http://sma1jember.info/2009/12/jember-klinik/</link>
		<comments>http://sma1jember.info/2009/12/jember-klinik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Dec 2009 00:28:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ikhlasul Amal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jember, rek!]]></category>
		<category><![CDATA[jember]]></category>
		<category><![CDATA[klinik]]></category>
		<category><![CDATA[Nostalgia]]></category>
		<category><![CDATA[rumah sakit]]></category>
		<category><![CDATA[smp]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sma1jember.info/?p=331</guid>
		<description><![CDATA[Jika pada kesempatan mudik lebaran tahun ini, akhir September lalu, saya berkesempatan pulang ke &#8220;tanah kelahiran&#8221; Balung, kecamatan di sebelah selatan Kab. Jember, dan tidak sempat berkunjung ke Kota Jember yang kian ramai, bulan November lalu sebaliknya: datang dan menginap di Kota Jember dan tidak sempat menjenguk Balung. Seperti biasa, ini bagian dari acara perjalanan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika pada kesempatan mudik lebaran tahun ini, akhir September lalu,
saya berkesempatan pulang ke &#8220;tanah kelahiran&#8221; Balung, kecamatan di
sebelah selatan Kab. Jember, dan tidak sempat berkunjung ke Kota
Jember yang kian ramai, bulan November lalu sebaliknya: datang dan
menginap di Kota Jember dan tidak sempat menjenguk Balung.</p>

<p>Seperti biasa, ini bagian dari acara perjalanan dinas ke Surabaya,
saya tumpangi dengan melanjutkan ke Jember karena nenek sedang
dirawat inap di Rumah Sakit Jember Klinik. Dengan keyakinan
mengingat perjalanan Surabaya-Jember sejak zaman kuliah, santai saja
saya naiki bus Akas jurusan Jember dari Terminal Purabaya,
Surabaya/Sidoarjo, pada pukul 17.30, dan sampai di Terminal
Tawangalun Jember, sekitar pukul 22. Taksi selanjutnya mengantarkan saya
hingga di R.S. Jember Klinik, yang di beberapa spot saya lihat
disingkat JeKlin.</p>

<p><span id="more-331"></span></p>

<p>Selama masa sekolah lanjutan pertama saya pernah beberapa kali ikut
menginap di sana, sewaktu almarhum ayah dirawat, ibu, dan jika tidak
salah bude juga. Karena waktu itu saya sudah kos di Jember dan
Jember Klinik tidak jauh dari SMP Negeri&nbsp;3 tempat saya
bersekolah, menjenguk keluarga yang sedang diopname menjadi kegiatan
rutin yang mudah.</p>

<p>Saya telepon keluarga di Balung, <q>Apa sekarang masih ada waktu
besuk (<i>bezoek</i>) seperti dulu di Jember Klinik?</q> Adik ipar
saya menegaskan hal itu tidak ada lagi, malah ditambahi &#8220;jawaban
politis&#8221; oleh adik saya, <q>Sejak reformasi, hal-hal seperti itu
sudah tidak ada lagi. Langsung saja datang dan masuk.</q></p>

<p>Benarlah, sampai di sana, saya langsung memindai daftar pasien,
menuju gedung yang dimaksud, cukup bertanya kepada seorang suster
jaga di meja resepsionis, dan ketemu kamar rawat nenek. Semalam saya
tinggal di sana bersama anggota Keluarga Balung yang memang menjaga
nenek. Keesokan pagi, sambil menelusuri beberapa bagian rumah sakit,
saya jadi membanding-bandingkan dengan pengalaman di masa lalu.</p>

<p>Di akhir 1980-an lalu, saya ingat sering bertugas mengirimkan bahan
pakaian atau makanan karena praktis penjaga pasien tidak seleluasa
sekarang keluar-masuk rumah sakit. Teringat juga kantin di dalam
rumah sakit yang saat itu satu-satunya tempat jajan di dalam dan
bonus untuk saya jika sedang menginap adalah coklat favorit, Full
Cream buatan Welco. Saat itu belum ada Silver Queen atau Cadbury.</p>

<p>Pagi hari juga sangat hening saat itu, selain jumlah penjaga pasien
yang lebih sedikit, belum ada acara televisi di pagi hari.
Benar-benar Minggu yang &#8220;mencekam&#8221; jika saya sedang menginap di
sana; pulang ke tempat kos pun di sore hari, terkadang mengambil
arah memutar melewati Jalan Kartini, juga senyap.</p>

<p>Untuk merekam kenangan, saya potret bagian klasik yang tak akan
terlupakan dan masih juga dipertahankan sampai saat ini di bangunan
lama, yaitu pola pintu dan jendela. Dengan ukuran yang super-besar,
mengingatkan saya pada gaya klasik bangunan &#8220;peninggalan Belanda&#8221;,
di pagi hari saat para perawat membuka ventilasi tersebut adalah
nostalgia tersendiri.</p>

<p><a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/4101905024/" title="Classic Patterns by Ikhlasul Amal, on Flickr"><img src="http://farm3.static.flickr.com/2577/4101905024_d5cd7039d1.jpg" width="375" height="500" alt="Classic Patterns" /></a></p>

<p>Tidak lama kemudian terdengar aktivitas dari kompleks di sebelah
rumah sakit, oh ya&#8230; SMP Negeri&nbsp;2 yang juga klasik. Di jalanan
depan rumah sakit dan SMP tersebut saya kenang kebaikan teman-teman
SMP yang mengajak saya naik sepeda mereka, termasuk bertemu Cak
Bambang Lelono, tokoh sentral di lingkungan akademis SMP&nbsp;3.
(Saya belum pernah satu kelas dengan Bambang sejak SMP hingga SMA
dan benar-benar kenal dengan dia dimulai dari sepanjang perjalanan
bersepeda tsb.)</p>

<p>Beberapa jam kemudian saya sudah harus meninggalkan Jember dengan
kereta api, menuju Surabaya, kemudian bergabung dengan teman kembali
lagi ke Bandung. Praktis hanya sekitar dua belas jam di Jember, di
tempat yang sangat sempit, namun nostalgia dalam pikiran memaknai
lebih luas dari ruang nyata, lebih jauh dari waktu yang terasa cepat
lewat.</p>
<img src="http://sma1jember.info/?ak_action=api_record_view&id=331&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sma1jember.info/2009/12/jember-klinik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat Bertemu di Blog, Suara Akbar!</title>
		<link>http://sma1jember.info/2009/10/selamat-bertemu/</link>
		<comments>http://sma1jember.info/2009/10/selamat-bertemu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 06:16:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ikhlasul Amal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jember, rek!]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sma1jember.info/?p=316</guid>
		<description><![CDATA[Terima kasih kepada Mas Ramadhany yang akhirnya menemukan juga tulisan &#8220;Kacepot Gullena Mera&#8230;&#8221; di blog ini. Ikut menyapa dan mengingatkan kita semua tentang Radio Akbar yang kabarnya sekarang sudah menyediakan edisi streaming segala. Ya iyalah, di masa seperti ini, sudah tipis beda teknologi antara Jember atau Jakarta &#8212; setidaknya dibanding masa lalu. Dulu saya tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Terima kasih kepada Mas Ramadhany yang akhirnya <a href="http://sma1jember.info/2007/12/radio-kitakacepot-gulena-mera/comment-page-2/#comment-8284">menemukan juga tulisan &#8220;Kacepot Gullena Mera&#8230;&#8221;</a> di blog ini. Ikut menyapa dan mengingatkan kita semua tentang Radio Akbar yang kabarnya sekarang sudah menyediakan edisi <i>streaming</i> segala. Ya iyalah, di masa seperti ini, sudah tipis beda teknologi antara Jember atau Jakarta &#8212; setidaknya dibanding masa lalu.</p>

<p>Dulu saya tidak mengerti: bagaimana sih cara meminta lagu di <a href="http://www.suaraakbar.com/">Radio Akbar</a> itu? Ada yang bilang &#8211;waktu itu&#8211; katanya perlu beli semacam kartu terus dikirim ke stasiun radio. Barangkali lumayan sebagai penghasilan tambahan dengan membeli kartu tersebut (yang berharga murah meriah). Atau juga mungkin lewat kartu pos. Entahlah. Yang jelas jika saya dengar radio swasta di Bandung, kota saya tinggal saat ini, para penyiar sudah sibuk menyebutkan pesan seperti dari Yahoo! Messenger atau Facebook. Jadi masukan dari pendengar dan luaran ke publik sudah berdampingan dengan media baru, Internet.</p>

<p>Karena Internet juga blog ini dipertemukan langsung dengan Radio Akbar, tentu saja setelah diracik oleh koki cerita masa lalu, Cak Ekoz, yang sekarang bertugas menjaga pundi-pundi bank nasional.</p>

<p>He, he, he&#8230; selalu menyenangkan bercerita masa lalu, sekaligus bernostalgia. Yang pahit terasa lucu, yang manis tentu bertambah indah&#8230;</p>

<p>Tabik, semua.</p>
<img src="http://sma1jember.info/?ak_action=api_record_view&id=316&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sma1jember.info/2009/10/selamat-bertemu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Napak Tilas Cikal Bakal Pendirian Universitas Jember</title>
		<link>http://sma1jember.info/2009/05/napak-tilas-cikal-bakal-pendirian-universitas-jember/</link>
		<comments>http://sma1jember.info/2009/05/napak-tilas-cikal-bakal-pendirian-universitas-jember/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 May 2009 05:53:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rizal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jember, rek!]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sma1jember.info/2009/05/napak-tilas-cikal-bakal-pendirian-universitas-jember/</guid>
		<description><![CDATA[Diambil dari Jawa Pos, Radar Jember, Senin, 04 Mei 2009, Ada cerita bahwa SMA 1 yang dibangun dari sumbangan botol-botol kosong dan kelapa Dana Pendidikan Kurang, Minta Sumbangan Buah Kelapa dari Warga Tak banyak orang tahu, salah satu yang punya peran penting dalam pendirian Universitas Jember (Unej) yang dulunya bernama Universitas Tawang Alun (Unita) adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Diambil dari Jawa Pos, Radar Jember,
Senin, 04 Mei 2009, Ada cerita bahwa SMA 1 yang dibangun dari sumbangan botol-botol kosong dan kelapa</p>

<p>Dana Pendidikan Kurang, Minta Sumbangan Buah Kelapa dari Warga</p>

<p>Tak banyak orang tahu, salah satu yang punya peran penting dalam pendirian Universitas Jember (Unej) yang dulunya bernama Universitas Tawang Alun (Unita) adalah Alm R. Soedjarwo. Saat Unita dirintis, dia menjabat sebagai Bupati Jember sekaligus merangkap sebagai Ketua DPRD Swatantra. Inilah penuturan Ir Suhardjo Widodo MS, putra keempat R. Soedjarwo yang juga menjadi saksi mata sejarah pendirian perguruan tinggi negeri di Jember.</p>

<p>Winardi Nawa Putra, Jember</p>

<hr />

<p>Dalam konteks pembangunan Kabupaten Jember, Unej mempunyai peranan sangat strategis. Kampus yang terletak di Tegal Boto ini telah menjadi magnet luar biasa bagi pertumbuhan ekonomi di Jember. Telah banyak lulusan Unej yang menjadi pengusaha besar dan tokoh nasional. Unej telah melahirkan generasi bangsa yang punya kualitas andal dan diperhitungkan hingga ke kancah internasional.</p>

<p>Jumlah mahasiswa Unej sekarang ini lebih dari 20 ribu mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah. Tentu ini merupakan potensi ekonomi yang luar biasa dalam meningkatkan perputaran uang yang masuk ke Jember. Keberadaan Unej sekaligus memberikan dampak pertumbuhan ekonomi yang luar biasa. Banyak usaha kos-kosan dan berbagai aktivitas usaha di sekitar kampus yang bermunculan. Tidak dapat dipungkiri, Unej memberikan wajah tersendiri bagi kota Jember sebagai salah satu kota pendidikan terpandang di Jawa Timur, selain Surabaya dan Malang.</p>

<p>Saat-saat rintisan pendirian perguruan tinggi di Jember, salah satu yang tahu banyak adalah Ir Suhardjo Widodo MS. Dia adalah putra keempat alm R. Soedjarwo, mantan bupati Jember yang juga salah satu perintis berdirinya Unej.</p>

<p>Menurut Suhardjo, periode cikal bakal pendirian Universitas Jember mulai tahun 1957-1964. &#8220;Ini diawali dengan munculnya gagasan tentang pentingnya suatu universitas di kota Jember. Tokoh yang mempunyai gagasan tersebut adalah dr R. Achmad, R. Th. Soengedi, dan M. Soerachman,&#8221; ujarnya.</p>

<p>Ketiga tokoh tersebut akhirnya berhasil mendirikan Yayasan Tawang Alun. Tujuan pokok yayasan tersebut adalah mendirikan Universitas swasta Tawang Alun (Unita). Pada waktu, Unita berdiri baru memiliki sebuah fakultas, yakni Fakultas Hukum.</p>

<p>&#8220;Pada masa itu, Unita belum mempunyai gedung, masih menempati Gedung Nasional Indonesia (GNI) Jember dan Sekolah Menengah Pertama Katolik Putra Jember,&#8221; kisahnya.</p>

<p>Memasuki tahun 1959, ujar pria kelahiran 21 Mei 1949 ini, tuntutan kepada Unita untuk terus berkembang semakin besar. Maka, atas permintaan warga Unita, pada 26 Januari 1959, R. Soedjarwo diangkat sebagai Ketua Yayasan Unita.</p>

<p>&#8220;Secara kebetulan, pada periode 1957 sampai dengan 1964, R. Soedjarwo menjabat sebagai Bupati Jember dan merangkap sebagai Ketua DPRD Swatantra,&#8221; ujarnya. Boleh dikata, sebagai Bupati Jember waktu itu, R. Soedjarwo mempunyai perhatian cukup besar terhadap pembangunan pendidikan di Kabupaten Jember.</p>

<p>Ini mengingat bahwa anggaran pemerintah saat itu masih sangat terbatas. Atas kenyataan itu, untuk menunjang bidang pendidikan, R. Soedjarwo bersama tokoh-tokoh masyarakat kemudian mendirikan Yayasan Pendidikan Kabupaten Jember (YPKD) dengan menggali dana dari masyarakat untuk menunjang dunia pendidikan.</p>

<p>&#8220;Salah satu cara yang unik dalam mengumpulkan dana, R. Soedjarwo minta sumbangan dari masyarakat Kabupaten Jember berupa buah kelapa dan botol kosong untuk dijual. Selanjutnya dananya dipergunakan untuk membantu Unita dan sekolah-sekolah yang lain,&#8221; ujar bapak berputra dua ini.</p>

<p>Dia ingat betul, saat itu dia masih duduk di bangku SMP. Dengan usaha tersebut, lanjut dia, R. Soedjarwo di kalangan masyarakat terkenal sebagai Bupati Botol Kosong.</p>

<p>Beberapa sekolah yang sempat dibantu pembangunannya oleh YPKD antara lain, Gedung SGA yang sekarang ditempati MAN II, gedung SMA I, SMEA, SKP yang sekarang ditempati SMPN 11 Jember, STM yang sekarang menjadi SMPN X , PGA, dan SPPMA. &#8220;Serta tidak kurang 50 gedung Sekolah Rakyat (SD) termasuk gedung Asrama Putri di Jalan PB Sudirman yang dibantu,&#8221; ujarnya.</p>

<p>Untuk membesarkan Unita, R. Soedjarwo kemudian membantu mendirikan gedung kampus Unita yang ada di jalan PB Sudirman seluas 656 meter persegi. Gedung tersebut dibangun di atas tanah seluas 2.160 meter persegi dengan biaya pembangunan sebesar Rp 23.243,66.</p>

<p>&#8220;Dana tersebut bersumber dari dana YPKD. Sejak tahun 1960, Unita semakin berkembang. Jumlah fakultas, satu demi satu bertambah. Meliputi, Fakultas Sosial Politik, Fakultas Kedokteran, Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan dan Fakultas Pertanian,&#8221; tambahnya.</p>

<p>Seiring perjalanan waktu, untuk menambah prasarana kampus, Unita mengundang USAID untuk mendapatkan sumbangan berupa alat laboratorium dan buku-buku. &#8220;Kampus Universitas Jember di Tegal Boto, sebenarnya sudah diimpikan R. Soedjarwo. Saat itu tahun 1960, Tegal Boto masih berupa daerah terpencil bagaikan &#8220;pulau mati&#8221; dan tidak bisa dijangkau transportasi darat,&#8221; ujarnya.</p>

<p>Untuk membuka daerah tersebut, R. Soedjarwo mulai membangun jembatan di jalan PB Sudirman arah ke Jalan Mastrip pada 1961. &#8220;Jembatan tersebut baru selesai tahun 1976 dan hingga kini dikenal sebagai jembatan Jarwo, &#8221; ujarnya.</p>

<p>Nah, awal 1961 Yayasan Unita mulai merintis upaya agar Unita bisa berstatus negeri. Untuk itu, R. Soedjarwo mengadakan koordinasi dengan segenap pengurus yayasan, pengurus Unita, tokoh-tokoh daerah, termasuk anggota DPRD.</p>

<p>&#8220;Sidang DPRD pada 19 April 1961 akhirnya menghasilkan keputusan menetapkan resolusi,&#8221; ujarnya. Resolusi tersebut isinya menyangkut beberapa hal. Pertama, tentang memperkuat ide pembukaan Fakultas Kedokteran, kedua mengirim delegasi yang terdiri dari Ketua DPRD menghadap Pemerintah Pusat, dan ketiga Universitas Tawang Alun agar diakui sebagai Universitas Negeri.</p>

<p>&#8220;Langkah selanjutnya, Yayasan Unita mengirim beberapa delegasi untuk menghadap Menteri PTIP waktu itu dipegang Prof Mr Iwa Kusumasumantri,&#8221; ujarnya.</p>

<p>Hasilnya memberikan harapan baru, pemerintah akan menegerikan Unita bersama-sama dengan Unibraw pada 20 Mei 1962. Untuk menyongsong rencana tersebut, ujar suami EM Evi ini, Yayasan Unita kemudian mengirim kembali delegasinya pada 14-24 Maret 1962. Namun di luar dugaan, telah terjadi pergantian Menteri PTIP, yaitu Prof Dr Ir Thoyib Hadiwidjaja yang mempunyai kebijakan baru bahwa tidak membenarkan penegerian dua universitas dalam satu provinsi secara bersamaan. Akibat penundaan penegerian Unita tersebut, Unita akhirnya diintegrasikan ke Universitas Brawidjaya Malang berdasarkan SK Menteri PTIP No1, tertanggal 5 Januari 1963. Hal ini menimbulkan keresahan bagi masyarakat Jember dan mahasiswa Unita khususnya.</p>

<p>Melihat hambatan tersebut R. Soedjarwo terus berusaha dengan mengirim delegasi ke Jakarta hingga mendapat dukungan dari DPRD untuk mendesak pemerintah pusat untuk menegerikan Unita menjadi universitas negeri secepatnya. &#8220;Jerih payah R. Soedjarwo dengan dibantu pihak-pihak terkait, akhirnya membuahkan hasil dengan terbitnya SK Menteri PTIP No 153 tahun 1964 tertanggal 9 November 1964 tentang Didirikannya Sebuah Universitas Negeri Jember,&#8221; paparnya.</p>

<p>&#8220;Sejak Unita menjadi Universitas Negeri R. Soedjarwo tidak aktif dalam mengembangkan Universitas Jember,&#8221; ujarnya. Menurut Suhardjo, dalam perkembangan Universitas Jember hingga maju pesat dan menjadi besar hingga berskala nasional tidak lepas dari peran dua Rektor terakhir yaitu Prof Dr Kabul Santoso MS dan Dr Ir T Sutikto MSc.</p>

<p>Tahun ini Universitas Jember akan berdies natalis ke-45. Melihat perjalanan Universitas Jember hingga maju pesat seperti ini, tak salah jika dalam dies natalis tersebut ada suatu apresiasi yang memadai bagi founding fathers Universitas Jember yang telah bersusah payah membangun pendidikan di Jember. (*)</p>

<p>Sekalipun aku bukan lulusan UNEJ, tetep aku bangga pada UNEJ, soale Bapakku kerjo ning UNEJ, adikku, mbakku, masku kabeh lulusan UNEJ, bahkan aku urip ning omah dinese UNEJ&#8230; pokok UNEJ Banget deh.. <img src='http://sma1jember.info/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<img src="http://sma1jember.info/?ak_action=api_record_view&id=272&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sma1jember.info/2009/05/napak-tilas-cikal-bakal-pendirian-universitas-jember/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

