Dari jauh tampak seorang laki-laki tua sedang berjalan, rancak beriringan bersama sandal jepitnya yang tinggal sepasang, perlahan tapi mengoreskan kesan , karena diwajahnya tampak kesungguhan, dan dimatanya tampak penuh harapan.
Popularity: 20% [?]
Dari jauh tampak seorang laki-laki tua sedang berjalan, rancak beriringan bersama sandal jepitnya yang tinggal sepasang, perlahan tapi mengoreskan kesan , karena diwajahnya tampak kesungguhan, dan dimatanya tampak penuh harapan.
Popularity: 20% [?]
Membaca postingan Rizal, membuat saya tergelitik untuk mencoba membuat peta perjalanan Rizal dari Rumah ke Sekolah yang demikian heroik-nya. Dengan dibantu peta download-an dari sebuah SMKN di Jember, saya coba telusuri satu per satu rute Rizal.
Akhirnya, saya berhasil menelusuri ke-7 rute tersebut. Nampak di peta, seperti tidak seberapa. Tapi pada kenyataannya, kita semua harus angkat topi untuk “nafsu” Rizal yang cukup besar guna menyalurkan energi jasmaninya yang “meluap-luap’
Mungkin Peta ini kurang jelas, tapi setidaknya bayangan di benak kita akan terjawab rasa penasarannya dengan mencermati “tekad” Rizal yang Ruarrrr Biasssahh itu..
Oya.. saya juga sisipkan posisi rumah teman-2 yang pernah saya kunjungi..
Popularity: 19% [?]
Ketika zamannya media televisi di negeri ini masih dikuasai oleh hanya satu stasiun televisi milik pemerintah, yang disebut TVRI, yang jam siarnya hanya dari sore jam lima hingga jam 12 malam sementara era global informatika dengan internetnya belum menyentuh pergaulan sosial manusia Indonesia, bermain dengan tetangga menjadi menu hiburan utama. Bayangkan betapa sedikitnya pilihan alternatif hiburan yang tersaji, dunia musikpun belum berkembang sehebat masa kini. Maka, bermain rame-rame di malam hari kala acara tv yang berisi lebih banyak doktrinasi kebijakan pemerintah penguasa yang dijamin membosankan menjadi pilihan yang menyenangkan. Inilah sebagian lirik lagu yang sebagian di antaranya seringkali dimodifikasi menjadi lirik yang jorok alias cabul ‘gak karuan’. Tetapi apapun itu, ini adalah bagian dari kreativitas manusia Pagah & Jember di Jawa juga… Inilah beberapa lagu itu:
Popularity: 28% [?]
Jamak sudah di kalangan kita orang Indonesia, orang Jawa khususnya, yang menegur anaknya ketika hendak menerima pemberian sesuatu dari orang lain dengan mengatakan: “…ayo pakai tangan bagus!”. Maksud orang tua penegur itu adalah ‘pergunakan tangan kanan’ untuk menerima (memberi) sesuatu kepada (dari) orang lain sebagai suatu penghormatan dan standar kesopanan kepada orang lain. Kanan dalam banyak konteks budaya memang merupakan posisi yang lebih baik, terhormat, dimuliakan, dll. Ingat, orang bersalaman di belahan dunia manapun dengan tangan kanan, ketika makan orang lebih banyak mempergunakan tangan kanan untuk memegang sendok, lebih banyak orang yang mempergunakan tangan kanan dalam menulis daripada tangan kiri, memberi sesuatu kepada orang lain juga mempergunakan kanan ini.
Namun pada suatu ketika (& ini bukan konon), ada beberapa abang becak di jalanan di kampung Pagah (AREPA, Arek Pagah), Jember yang memperdebatkan mengenai tangan mana sesungguhnya yang paling berjasa bagi manusia. Seperti biasa, debat kusir kalangan tukang becak ini tanpa jelas juntrungnya dan dari mana asal muasalnya. Mereka asal berdebat sejauh apa yang mereka amati dan ketahui sambil tentu saja menanti orderan penumpang yang gak datang jua.
Dengan hati yang sedikit dongkol dan protes karena beberapa saat sebelumnya ada seorang ibu setelah memarahi anaknya tidak memakai ‘tangan bagus’ setelah menerima uang kembalian dari toko kelontong di dekatnya, seseorang dengan memancing bertanya:” Hayo… tangan mana yang lebih bagus dan berjasa, kiri atau kanan???” (dengan agak provokatif meminta tanggapan). Dengan spontan kawan sesama abang becak menimpali: “Kan… tadi sudah denger sendiri cak dari ibu itu, yaaa… tangan kanan longor..!!” Si penanya senyum-senyum memancing rasa penasaran menunggu jawaban dari kawannya yang lain, sembari menimpali: ” Goblok…! Ayo, siapa yang bisa jawab??”. Tiga orang sesudahnya sambil tertawa dan meremehkan memberikan jawaban yang sama, ya… tangan kanan. Sekali lagi oleh sang penanya dijawab: “Goblok semua… pantes kalian bisanya cuma mbecak!”.
Agak lama kemudian setelah lawan bicara sang penanya kehabisan akal dan mulai sewot dibilang (berkali-kali) goblok, barulah diungkap jawaban yang ‘dikehendaki’. Ini dia (dan pasti), TANGAN KIRI!
Kenapa? Menurut sang abang becak penanya tadi, karena tangan kanan itu pemalas!! Pendengar lainnya:…@#…!!????? “La Kok… bisa…??” Jawabnya, ya… tangan kanan itu sombong. Saat makan, salaman, dan hal-hal baik saja si tangan kanan ini mau bekerja! Nah, setelah kalian si manusia buang air besar & kecil siapa yang bekerja bersih-bersih Cawik/cewok kalau bukan tangan kiri? Hayo…!!
SETOEDJOE??
Popularity: 19% [?]
Kemarin saya melongok ke forum tetangga sebelah. Yang sedang diomongkan adalah booming band-band sekarang. Sebut saja nama Matta, Peterpan, Drive, Kangen Band, Pilot, Kapten, Vagetos, D’Masiv, Letto dan masih segudang nama lagi yang nggak bisa saya ingat, karena saya nggak punya albumnya dan nggak tertarik untuk mendengarkan lagunya.
Tahun 80-an dulu, kita semua ingat saat JK Records begitu berjaya dengan sederet wanita cantik sebagai artisnya. Mengusung lagu bertema cinta yang mendayu, merupakan senjata utama yang terbukti laris manis dibeli oleh konsumen musik kala itu. Bila diwawancara, para artis ini jujur mengakui bahwa lagunya melankolis dan cengeng, karena aransemen musik yang mengiringi mereka tidaklah se-kompleks musik sekarang.Tapi kepolosan dan kejujuran ini, membuat orang yang tidak suka dengan lagu-2 cengeng, juga memberi pengakuan tentang eksistensi musik dari artis-2 JK Records ini. Selain JK Records, janganlah dilupakan peran Rinto Harahap yang dengan gigih membawa panji-panji Lollipop. Meskipun diserang bahkan dicerca karya-2-nya, tapi Bang Rinto berani terus melaju dengan lagu-2-nya.
Memang, di masa-2 itu, agak susah untuk mendapatkan produser yang mau merekam dan mengedarkan album-2 lagu yang terbilang idealis. Kurangnya dukungan skill sound mixer di studio rekaman, membuat kualitas rekaman di Indonesia seperti tidak berkembang. Saya sering membandingkan, meski cuma membayangkan, tentang teknologi rekaman tahun 70-an dan 80-an ini. Anggap saja teknologi yang dipunyai studio-2 musik 80-an itu sama dengan studio musik di luar negeri tahun 65 – 70-an, ternyata mutu rekaman yang dihasilkan tidak bisa optimal. Karena saya ini penggemar musik Rock, otomatis yang jadi ukuran adalah suara gitar , keyboard dan gebukan drum. Ketiga instrumen ini yang dominan mewarnai sebuah lagu rock.
Rekaman tahun 80-an, apa pun lagunya, sentuhan sound mixer-nya masih mengacu pada sentuhan pop. Vokal penyanyi paling ditonjolkan, sementara instrumen lain ditampilkan dengan suara lamat-2 atau malu.. Pokoknya nggak boleh melebihi level suara Vokalisnya. Bagi yang punya kaset Nicky Astria-Jarum Neraka dan Tangan-tangan Setan, God Bless-Semut-Cermin dan Semut Hitam, SAS-Sirkuit dan sebangsanya, tentu merasakan bahwa lagu-2 rock direkam tidak terasa sangar dan menggempur. Suara gitarnya melempem dan mendhelep, Drum-nya berbunyi nanggung.. masih lebih mantap rekaman Kendhang Kempul..
Seiring berjalannya waktu, musik Indonesia akhirnya semakin membaik baik kualitas maupun kuantitasnya. Rekaman Rock yang saya anggap punya standar Internasional dalam hal olah suaranya adalah Album “Jabrik”-nya Edane.. simak deh. Edane betul-2 eddaaannn.. Perbaikan kualitas ini merata di berbagai jenis musik, nggak cuma rock. Saat ini saya bilang, mutu rekaman lagu lokal sudah berani bersaing di level regional atau pun internasional. Lagu-2 lokal bakal meledak atau tidak, selanjutnya lebih tergantung dari kemampuan manajemen artis untuk mengelolanya.
Lalu apa kaitan intro tulisan ini dengan paragaraf lanjutannya ? Sekarang sudah Jaman Reformasi, dimana kebebasan Hak Azasi begitu dikedepankan, bahkan terkesan tidak lagi peduli dengan hak azasi orang lain. Mengacu pada kebebasannya orang-2 di barat sana, yang kadang dipahami secara mentah oleh orang-2 kita, membuat orang ingin menonjolkan diri ” It’s me.. Ini saya dan ini musik saya. Musik saya adalah musik saya, bukan musik seperti si A, si B dan si C…”
Nah band-2 kini sering malu-2 kucing untuk mengakui bahwa mereka ini sebenarnya band-2 cengeng seperti artis-2 era JK Records tadi. Hampir sama dan sebangun dalam pilihan rasa dan tema lagu. Kalau ditanya, kebanyakan akan ngakoni kalau musiknya itu ” Pop Rock ” atau ” Musik kami, ya musik kami.. ”
Yang meresahkan buat saya, banyak lagu-2 mereka yang seperti tema melegalkan “Selingkuh”. Cerita cinta antara pria dan wanita, dimana si Pria ternyata masih menaruh hati pada wanita selain pasangannya atau pun sebaliknya.. begitu umum untuk kita temui. Meski saya nggak bisa nyebut satu persatu, coba anda simak (bila sempat).. Mungkin satu ayng bisa saya sebut lagunya Astrid ” Jadikan aku yang kedua.. ” atau Achmad Dhani dengan cuplikan lirik ” skali lagi maafkanlah aku, karena cinta kau dan dia.. “.. Saya tak hendak ngomong tentang poligami lho, tapi bila direnungkan.. Cinta terkesan jadi satu hal yang main-2 dan jauh dari tanggung jawab..
..ahh, pusiingg….
Popularity: 28% [?]
Cerita ini bisa merusak reputasi seorang teman sesama lulusan SMA satu, jadi tolong disebarluaskan he he. Caveat lainnya adalah cerita ini agak jorok, mohon maaf kalau menyinggung pembaca yang norma susilanya lebih ketat dari saya.
Waktu itu kami bertiga lulusan SMA1 baru diterima di UGM. Saya dan teman ini, sebut saja H main ke tempat kos seorang teman SMA1 lainnya, Rico Amanto yang juga pernah tampil di blog ini, di daerah Pogung Baru.
Dasar mahasiswa pemalas kurang kerjaan, kami akhirnya main kartu dg beberapa teman lain. Si H waktu itu sedang penuh jerawat dan sering mengeluh bahwa segala macam pengobatan ternyata tidak mujarab. Entah bagaimana Rico kemudian nyeletuk, Ke’ono kathok jerone arek wedho…iso waras, sambil terus main kartu.
Si H langsung menjawab “Mari, wis” , …kami semua terperangah mendengar jawabannya karena Rico setahuku cuma bergurau. Mari di sini dipakai dalam pengertian Jember, bukan dalam pengertian Yogya yang berarti sembuh. Si H waktu itu wajahnya masih seperti permukaan bulan.
Permainan kartu terhenti dan si H kemudian bercerita panjang lebar bagaimana dia mencuri celana dalam dari jemuran rumah kos campurnya. Rupanya dia meminta dua orang kawan sekosnya untuk berjaga-jaga sementara dia dengan gerak cepat menyambar jemuran. Bagi yang kenal kota Yogya, dia waktu itu kos di samping RS Sarjito di sebuah rumah yang kebanyakan dihuni mahasiswi berjilbab.
Aku jadi ingat cerita ini lagi karena baca posting Rico di salah satu halaman ini dan tertawa sendiri. Please excuse my immature sense of humour.
Jadi kalau anda pernah kehilangan jemuran, jangan-jangan dipakai si pencuri untuk pengobatan alternatif.
Oh ya, saya sudah lama sekali nggak ketemu si H tapi saya lumayan yakin dia gak akan marah karena cerita ini saya sebarkan.
Popularity: 23% [?]
Tulisan ini sekedar berbagi informasi tentang Stroke, yang merupakan manifestasi gangguan fungsi tubuh yang disebabkan kelainan di otak dan timbulnya tiba-tiba. Juga terinspirasi oleh tulisan mbak Wiwid yang luar biasa menyentuh, suatu pengalaman hidup yang mengharu biru dan cerita yang sangat sering saya dengar dari keluarga pasien yang mengalami serangan stroke.
Tanpa basa basi, beberapa hal yang perlu diketahui sebagai faktor resiko stroke adalah:
Waspadai gejalanya. Satu ciri khas gejala stroke adalah timbul mendadak tanpa ada keluhan sebelumnya. Beberapa gejala yang perlu dikenali adalah rasa baal/lemah di wajah, kaki, tangan yang timbul mendadak, terutama pada satu sisi tubuh (kadang hal ini tidak disadari oleh penderita), sulit memakai alas kaki, sulit memakai pakaian atau tiba-tiba terjatuh. Bicara menjadi pelo, sulit mengerti pembicaraan dan sulit bicara, mulut mencong, gangguan penglihatan, nyeri kepala hebat, tidak sadar atau kehilangan keseimbangan (beberapa gejala dialami oleh suami mbak Wiwid). Pada keadaan tertentu, bisa juga disertai muntah hebat dan mengompol.
Stroke merupakan kasus gawat darurat, sehingga harus segera ditangani. Karena semakin dini mendapatkan penanganan medis maka kerusakan otak yang sifatnya berat dapat dihindari. Periode waktu 3 jam setelah serangan adalah periode emas untuk melakukan penanganan stroke, karena masih ada kesempatan waktu untuk menyelamatkan kerusakan sel otak yang terjadi.
Perlu diketahui juga bahwa anggapan jika stroke adalah milik mereka yang usia tua adalah tidak tepat, karena usia mudapun termasuk rentan terkena stroke. Waspadalah!
Istilah mencegah lebih baik daripada mengobati adalah suatu hal yang amat mungkin dilakukan. Tak perlu biaya mahal untuk mencegah stroke, cukup dimulai dari hal sederhana dalam aktivitas sehari-hari, misalnya:
Inti dari tulisan di atas adalah mencegah dan mengelola faktor resiko merupakan cara yang paling tepat untuk mencegah serangan stroke. Semoga bermanfaat buat semua. Jaga nikmat kesehatan yang sudah diberikan Allah buat kita. Dan semoga sehat selalu buat kita dan orang-orang terdekat yang kita cintai. Amin.
(disarikan dari ‘Dokter Kita’, Jan 2008)
Salam dari Sidoarjo.
Popularity: 23% [?]
Beberapa minggu lalu, rumah kami kebobolan maling. Si pencuri beraksi di siang hari, masuk dari halaman belakang lalu, memecah kaca jendela toilet. Beberapa benda hilang. Berapa bulan lalu, tetangga sebelah juga dibobol maling. Lewat modus yg sama. Katanya, kebanyakan maling di sini adalah anak-anak ABG nakal, yang mulai ketergantungan sama obat-obatan, minuman dan sejenisnya. Karena hidup yang cukup susah, biaya hidup yg pas-pasan, membuat beberapa anak –anak ABG yg ketergantungan ini mencuri milik tetangganya. Ya, sudahlah saya ikhlas. Merenung kejadian ini, saya teringat waktu masa – masa ABG saya. Lulus dari SMPN favorit di kota Jember. (semoga saudara Eko mengakui kehebatan SMP kami). Masuk ke SMAN 1 Jember, yang katanya favorit juga. Mulai merasa apa itu arti „perbedaan“. Berasal dari keluarga menengah ke bawah, saya dapat uang saku yang cukup untuk naik bus kota dari jompo ke sumbersari. Jadi kalau mau makan bakso atau apa di warung SMA jember, ya pulangnya mesti jalan kaki atau buka celengan. Yang saya ingat, saya sering pulang sekolah jalan kaki, uang busnya ditabung.
“Perbedaan”: waktu smp yg naik sepeda motor bisa dihitung dengan mudah. Sedangkan waktu SMA, jelas beda banget, halaman belakang sekolah penuh dengan sepeda motor. Teman-teman sudah banyak „gandengannya“, berkat sepeda motor. Saya tidak mengeneralisasi, kalau kaum hawa adalah kaum yang materialistis loh. Cuma dari pemantauan saya yang sempit ini, banyak yang gampang dapat gandengan berkat sepeda motor. Dengan sepeda motor, bisa hunting ke gladak kembar, kebonsari, talangsari dll dengan cepat. Bahkan ada yang masih ingat, jenis-jenis sepeda motor temannya.
“Perbedaan”: ada juga yang bisa ikutan kegiatan ekstrakurikuler, misalnya pencinta alam. Untuk kaum kelas bawah, biaya sekolah aja susah, boro-boro mau bilang ikutan pencinta alam, nanti nambah biaya lagi.Meskipun berbeda, saya tetap bahagia, masih ada beberapa teman yang minim fasilitas, bahkan mungkin lebih minim lagi. Suatu hari saya dimarahi orang tua, karena ketahuan saya dan beberapa teman mengamen di kampung orang lain. Kebetulan saya bisa bermain guitar, pas malam minggu, lidah lagi sepet (alias ora ono duit buat tuku rokok), teman saya punya ide untuk ngamen. Semenjak itu, guitar saya tidak boleh keluar rumah.
“Perbedaan“ ini akan menjadi awal kehancuran atau kemenangan buat orang yang fasilitasnya terbatas. Orang yang mengalami „perbedaan“ bisa mengakhiri dengan kegiatan kriminal. Atau bisa juga „perbedaan“ menjadi semangat untuk berkarya.
Surya D. Pandita
(lagi liburan, tapi tetap diminta untuk kerja)
Popularity: 40% [?]
“fik, mau nikah nggak?” temen kantorku tiba2 nanya.
Siapa sih yang nggak mau nikah, dari smp pun aku udah mau nikah. (Bahkan sampai sekarang pun masih pengin lagi…he2. Orang bilang ngamalin sunnah nabi).
“ada apa nih, kok tiba2 nanyain tentang nikah?”.
”nggak papa, ni ada cewek yang udah siap dinikahin.”
Aku mulai berhitung, nikah-nggak-nikah-nggak-nikah. Cukup nggak tabunganku ya? Dari uang pindah masih tersisa 250 ribu. Untuk ukuran makasar uang segitu nggak ada artinya..biaya pernikahan cukup mahal di makasar, (betul bu dokter sevi?)..selain biaya mendatangkan keluarga dari jawa, biaya uang naik juga mahal…pembantuku yang hanya jebolan kelas 3 SD, uang naiknya sampai 3 juta. Sementara cewek yang ditawarin ke aku, keturunan bangsawan, sarjana, berapa uang naiknya ??? hitung punya hitung, akhirnya aku mundur…”nggak dulu lah, belum cukup uangku”. Toh aku masih muda, ditunda sedikit masih bisa. Kejadian itu pada pertengahan 1992, setengah tahun setelah aku tinggalkan jawa.
Di penghujung tahun 1992, aku ditanya lagi…kali ini, aku bertekad tuk terima tawaran itu, meski tabunganku masih tetep 250 ribu.. . alhamdulillah, setelah aku bertekad dan mempercayakan semuanya padaNya, ternyata Dia banyak memberi kemudahan, rejeki mengalir begitu mudahnya,,cukup untuk mendatangkan keluarga, persiapan pesta, dan yang penting…mertuaku ternyata nggak minta “uang naik’ sepeserpun… aku jadi teringat dengan janji Nya, Dia akan meng-kayakan orang dengan pernikahan…Dia akan memudahkan jalan bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Nya. Dan …jadilah aku menikah pada 8 april 1993.
Waktu tsunami di aceh, banyak relawan datang dari penjuru negeri. Diantaranya, salah seorang mahasiswa dari Solo-aku lupa namanya- dia cerita bahwa disemester dua, dia sudah menikah. Lantas, bagaimana dia bisa menghidupi keluarga ? Dengan jualan buku katanya. Setiap ada pengajian, kegiatan keagamaan, dia selalu bawa barang dagangannya..alhamdulillah, sampai sekarang-katanya- kebutuhan keluarga dapat terpenuhi walaupun tidak berlebihan, istrinya kini udah selesai kuliah (paramedis) dan bisa membantu nafkah suaminya.
Masih banyak cerita-cerita senada,, yang sekarang sering aku ceritakan ama teman2ku (kumpulanku masih banyak mahasiswa). Sampai-sampai aku sering dipanggil tukang kompor. Kadang berhasil kadang nggak. Kadang ada yang terbakar, kadang ada yang tetep dingin, seperti wajan yang bawahnya terlalu tebal angusnya, biar dipanasin tetep nggak panas2. Yang terbakar, kadang ada juga yang mempercayakan ama aku pengurusan nikahnya. Jadi, selain PNS, tukang kompor, dan kadang2 mak comblang jadi profesiku saat ini.
Lambatnya teman2 untuk menikah karena (diantaranya) adalah adanya rasa takut tidak bisa memberi nafkah yang cukup untuk keluarga. Seolah-olah kitalah Sang pengatur rejeki. Padahal kita semua tahu, bahwa rejeki adalah ditangan Allah. Kita selalu berhitung dengan kalkulasi matematika di atas kertas 1 + 1 = 2.. padahal Allah memiliki rumus matematika yang lain, sebagaimana sahabat yang mengadu sama rasul, bahwa dirinya adalah miskin.. sebagai solusi disarankan oleh rasul untuk menikah. Setelah menikah, dia masih merasa miskin. Disarankan untuk menikah lagi, kalau nggak salah sampai istrinya cukup empat. (bener nggak, ceritane cak faiz?). ternyata dengan menikah dia bisa memberikan nafkah kepada keluarganya, nggak hanya satu tapi empat…
Sebenarnya nggak hanya dalam konteks pernikahan kita kurang yakin akan kebesaran Nya, kurang yakin akan kemurahan Nya, kurang yakin akan janji2Nya…dalam banyak hal, dalam segala hal kehidupan kita. Sehingga terhadap sesuatu yang sudah ada takarannya (misal rejeki) kita habis-habisan mengejarnya, dan terhadap sesuatu hal yang tidak pasti (misal surga) kita santai2 aja.
Jadilah seperti burung, pagi dia terbang tanpa tahu tujuan tuk cari nafkah, sore dia pulang dengan perut kenyang.
Dia sangat yakin bahwa rejeki adalah dari Nya. Dia sangat yakin akan pertolongan Nya.
Untuk bisa jadi orang ’yakin’ sulitnya bukan main, namun bukan suatu hal yang mustahil.
Banda Aceh,
Fikik hamzah
Popularity: 25% [?]
Dua hari yang lalu (Selasa 11 Maret 2008) di harian Kompas ada berita yang menyebutkan 35 orang telah tewas akibat kecelakaan lalu lintas di DKI (atau Jabotabek) akibat adanya lubang-lubang di jalanan.. belum lagi bicara tentang ratusan orang cedera.. (sorry gak dapat link-nya).. terus tempo hari ada truk container terbalik..dan banyak lagi yang semua bermuara dari lebih banyaknya lubang daripada jalan benernya.. lebih ironis lagi di berita Kompas Rabu 12 Maret, pendapatan DKI dari pajak kendaraan ini mencapai Rp 4,58 trilyun.. yak, bener TRILYUN.. itu duit semua lho, gak ada yang daun..hehehe..
Kalau ditelaah lebih dalam lagi sebenarnya angka-angka tersebut bukan sekedar angka statistik yang mati. Saya melihat ada potensi bangsa yang dirugikan disini akibat adanya pembiaran lubang-lubang berdiri menganga oleh pemerintah (pusat ataupun pemda).. saya tidak kenal satupun yang meninggal.. bagi yang ditinggalkan, bila yang meninggal adalah pencari nafkah utama (ayah), bisa dipastikan sang ibu pasti terpontal-pontal mencari nafkah untuk anak-anaknya..untuk biaya sehari-hari, biaya sekolah dll.. bisa jadi sang anak terputus sekolahnya karena kekurangan biaya.
Kembali ke potensi bangsa tadi. Maksud saya adalah, bagaimana jika seandainya kecelakaan tidak terjadi.. untuk skala yang lebih kecil, tingkat keluarga.. maka pemasukan keluarga akan tetap lancar, biaya sehari-hari tertutupi,anak-anak bisa sekolah setinggi mungkin. Untuk skala yang lebih besar, bangsa dan negara..bagaimana seandainya.. satu saja diantara korban yang tewas itu sebenarnya orang yang pintar dibidangnya.. taruhlah misalnya peneliti dibidang obat-obatan.. yang sebenarnya dibenak orang tersebut sedang berpikir untuk menemukan obat untuk penyakit kanker atau HIV/Aids.. atau orang tersebut adalah seorang calon pebisnis ukm yang sedang merintis usaha, yang mungkin saja pada nantinya akan merupakan usahawan sukses yang bisa menyerap ribuan tenaga kerja.. atau anak dari korban ternyata pinter, dan pada suatu saat bisa menang hadiah NOBEL.. atau banyak lagi seandainya seandainya yang lain… tapi tidak dapat terjadi karena adanya kematian yang dini akibat lubang-lubang jalanan..
Ini yang saya maksud sebagai POTENSI BANGSA yang dirugikan dengan adanya kematian yang sia-sia tersebut..Padahal ini baru ngomongin korban yang disekitar Jakarta aja.. belum diwilayah lain..
Mungkin nanti akan ada yang berkomentar bahwa kematian adalah takdir dan kita tidak bisa menghindarinya.. memang, tapi “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu merubahnya sendiri”.. Kita bisa lihat bahwa di negara-negara maju tingkat kecelakaan bisa ditekan seminim mungkin karena mereka menerapkan aturan-aturan yang ketat.. (dan juga jalan2 yang mulus)..
Seperti SBY pernah bilang, “Kalau negara lain bisa kenapa kita tidak bisa”.. Ditunggu keseriusan pemerintah dalam menghindarkan rakyatnya dari kematian yang sia-sia ini.. Kalau DKI sich sekarang sudah punya ahlinya..he..he
Popularity: 28% [?]