YANG MENARIK DI STASIUN KERETA API JEMBER

Alhamdulillah kemarin tanggal 4-6 Februari aku mendapat kesempatan pulang kampung ke Jember… dan yang lebih menyenangkan lagi kepulanganku ini  kalo menurut istilah Cak Fikik adalah PUBIDI.. PUlang atas BIaya Dinas… soalnya aku ditugaskan oleh kantor untuk menghadiri resepsi pernikahan teman sekantor di Genteng, Banyuwangi.

Nah sebagai PBKA (Penggemar Berat Kereta Api) ya mesti KA tak jadikan pilihan utama sebagai alat trasnportasi yang akan membawaku ke kampung halaman tercinta. Meskipun hati agak dag-dig-dug soalnya gak sampai seminggu sebelumnya terjadi terjadi kecelakaan KA di Stasiun Langensari, Banjar yang menewaskan 3 orang (salah seorang dari korban adalah mahasiswiku). Tapi masalah jodoh, rejeki dan umur itu kan urusan ALLAH, dengan Bismillah aku berangkat ke Jember. Dan kalo naik KA pasti berhentinya di Staasiun KA, yo jelas mosok numpak sepur mudune ning terminal..

Continue reading “YANG MENARIK DI STASIUN KERETA API JEMBER”

Sang Saka Merah Putih atau Hinomaru ya?

JFC meet The KAIGUN..
JFC meet The KAIGUN..

Posting pertama saya setelah sekian bulan ” minggat ” ke Facebook dan berkubang dengan virus-virus FB yang betul-betul melenakan dan meninabobokkan.

Pagi ini saya membuka situs Suaramerdeka.com. Pada halaman utamanya, terpampang foto salah satu peserta karnaval tahunan di kota Jember, yang perlahan tapi pasti, bakal menjadi salah satu ikon budaya kota Jember, yaitu JEMBER FASHION CARNAVAL. Tahun ini adalah pergelaran JFC yang ke-8.

Demikian isi berita foto yang saya kutip dari suara merdeka.com ” Seorang peserta mengenakan kostum merah putih sedang mengikuti Jember Fashion Carnival di Jember Jawa Timur. (reuters- smcn) ” (Ganbar sebelah kiri).

Sepintas mencermati foto tadi, pikiran saya lantas beralih ke salah satu Band Metal asal Jepang, yang konon pernah digandrungi penikmat musik metal sejagad, tidak terkecuali di kota Jember, yaitu LOUDNESS. Band yang kondang dengan sederetan lagu pilihan antara lain : Run For Your Life (paling sering dinyanyikan oleh band rock jawa timuran), Let It Go ( pernah dinyanyikan Anang dan Morgenster di Stadion Notohadinegoro), Crazy Nights serta So Lonely.

Setelah googling sebentar, akhirnya saya dapatkan foto sampul album ” THUNDER IN THE EAS.T ” ( Gambar sebelah kanan), yang merupakan pintu pembuka bagi Loudness untuk menapak ke pelataran musik dunia. Lalu saya googling lagi dengan kata kunci “Hinomaru “, untuk memastikan saya tidak salah memilih judul posting kali ini.  “Hinomaru” adalah sebutan untuk bendera negara Jepang.

Dengan tidak mengurangi respek saya terhadap jerih payah desainer kita, anggapan saya bahwa beliau ingin mengangkat tema yang terkait dengan suasana menyambut perayaan kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 64 di tahun 2009 ini. Dalam fantasi saya, desain itu seolah menggambarkan kemegahan kepak sayap burung garuda yang kokoh dan megah. Andai saja desain itu bisa dilengkapi dengan semacam alat, yang bisa menerbangkan si peragawan untuk melayang-layang di angkasa.. ahh, tentu lebih hebat rasanya.

Namun demikian, kembali kepada perasaan saya yang telah “teracuni” dengan bayangan  “hinomaru“, saya mat-matke kok desain itu lebih mirip ke bendera “saudara tua” kita ya.. ketimbang Sang Saka Merah Putih kita. Apakah nasionalisme saya mulai luntur ya?

Semoga tidak! Respon ini saya buat sebagai apresiasi positif sekaligus kritik konstruktif kepada para desainer peserta JFC untuk tetap berkarya dan menggali ide-ide lokal untuk diwujudkan menjadi issue-issue global. Agar desainer kita makin memperluas wawasan serta mempertajam visi, sehingga desain yang awalnya bernafas ” Nasionalis “, tidak menjadi Nasionalisme Bercabang..

Matur nuwun.

CINTA DALAM HARU

Wajah yang penuh garis kehidupan selintas kudapatkan pada laki2 yang tengah tercenung menatap pohon palm yang berjejer rapi di depannya, Sejak bulan lalu aku tergelitik ingin menyapanya..tapi dasar wedhian…aku mek iso nyesel setelah sampe rumah…dan akibatnya yang lain wajahnya terus membayangiku..membuatku semakin rindu pada Bapak yang jauh di Jember.

Ada rasa takut…andai beliau tidak berkenan padaku, seandainya beliau berpikir aku ini perempuan ‘reseh’ yang sok memperhatikan…aih, tapi kali ini aku tekadkan hati untuk menyapa beliau ketimbang aku gak iso turu…Repot, marai tambah lemu…

Aku menyusutkan air mata yang tiba2 jatuh, kisah Bapak itu akhirnya meluncur dengan deras, seiring dengan kerut2 yang semakin menajam menghias wajahnya saat berkisah..aku menatapnya, masih ada sisa kegantengan di wajah beliau ini, pasti dulu beliau gagah dan tampan sekali.

“Saya sendiri tidak pernah mengira, hidup saya akan berakhir di panti ini, Nak” sapanya sambil memegang tanganku.

“Kamu masih ada orang tua kan? Rawatlah mereka semaximal mungkin yang kamu bisa, karena hanya itulah kebanggaannya, telah mampu membesarkan anak2 yang tetap mencintainya”

Aku mengangguk dan berpamitan padanya, dan berjanji akan rajin menemaninya…tak lupa kucium tangan beliau dengan takzim, sebagai hormat dan respect ku pada beliau

Alhamdulillah, akhire aku mekso berbagi dengan kalian fren…Bapak-Bapak yang luar biasa, dan insyaAllah mampu menciptakan generasi yang senantiasa menghargai pengorbanan anda semua…dongengane mekaten…

*Bapak Wijaya adalah seorang Bapak yang memiliki 3 putra, dan beliau berusaha dalam hidupnya untuk menciptakan ekonomi keluarga sampai pada cita2nya..dan semuanya tercapai, Beliau bekerja siang dan malam, memaksimalkan pikiran dan tenaganya untuk mewujudkan semua itu…Hingga berada pada golongan menengah keatas, yang mampu mencukupi seluruh kebutuhan anggota keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya hingga ke luar negeri…

*kehidupan mulai dirasakan sepi saat sang istri, permaisuri hatinya berpulang…sehari-hari, beliau hanya ditemani pembantu dengan rumah yang sangaaaat besar, menyikapi hal ini, anak sulungnya mengusulkan untuk menjuak rumah itu dan membeli rumah lebih kecil, dan hidup menjadi satu keluarga, kenyataannya istri si anak sulung ini dalam merawat Bapak Wijaya, mengganti perlengkapan makannya dengan bahan dari plastik, sama seperti yang biasa di pakai sopir dan pembantunya, alasannya biar tidak pecah, padahal Bapak Wijaya meyakini bahwa dilakukannya semua itu karena mereka sayang dengan peralatan yang indah-indah itu, mereka lebih sayang barang daripada ayahnya sendiri, karena tidak tahan akhirnya dia ikut pada anak yang kedua

*Di kehidupannya bersama anak keduanya, karena anak dan menantunya bekerja, nyaris dalam rumah itu tak ada komunikasi, Bapak wijaya merasa bahwa dia hanya sebagai pelengkap dan nyaris patung yang dirasa ‘ada tapi sebenarnya tak ada’, karena tidak tahan juga, akhirnya beliau memutuskan tinggal bersama dengan anak bungsunya.

*Si bungsu adalah sosok yang sangat beliau sayang sejak dari kecil, seluruh apa yang diminta selalu beliau berikan, semua notabene dengan dasar sayang…Di kehidupan beliau bersama anak bungsunya inilah…Anak yang sangat di kasihinya mengirimkan beliau ke panti jompo itu, dengan alasan, agar banyak teman dan pasti punya kegiatan.

Ngono lho rek….lak nemen se prasaku..nyambut gawe isuk bengi demi perbaikan ekonomi, demi sebuah cita-cita membahagiakan istri dan anak-anaknya…hasilnya…..??????

Pada Suatu Pagi

Pagi masih belum lengkap dengan kehangatan mentari, saat wajah sembab di depanku bertandang menyapa pagi hariku, yang tadinya kupikir akan berjalan seperti biasanya.

Batinku berbisik “Aduh,…ada apa ini…?”

Kubiarkan sampai ketenangan dan semburat merah agak membias di muka manis yang tadinya memucat itu.

Si gadis abu-abu itu mulai berkisah..tentang hatinya yang patah… “dia pergi, begitu saja, Bu. Dia tinggalkan semua harapan yang pernah dia tanamkan di hati ini. Dia tega Bu. Sakit…sakit banget.”

Aku diam…anak ini, kukenal cukup briliant di kelas, dalam pergaulan juga cukup menonjol, kemampuannya merefleksikan iman yang di anutnya juga cukup bagus.

Cinta…kenapa cinta kadang memporakporandakan sebuah hati…dan bagaimana aku menjelaskannya pada gadis belia ini. “Saya tidak mengira, Dia tega melakukannya. Dia tak lagi peduli sama saya, Bu.” Kembali dia terisak.

Duh..hati ini sudah mulai berbisik untuk ucapkan, …udah..ngapain di pikirin..jalan masih panjang..cari lagi..hehehe…dan malaikat hitam juga terus menggelitik hatiku…aih…bila laki2 yang diceritakan itu ada di depanku..pengen kulayangkan ‘bogem mentah untuknya’.

Hhhhh…kutarik nafas agak panjang…

“Sudahlah, masih panjang jalan di depanmu, saat ini yang utama adalah pikirkan dirimu sendiri. Bagaimanapun hidup terus berjalan. Kita petik hikmah dari ini semua. Pasti ada. Dan insyaAllah ada baiknya untukmu dikemudian hari” kataku akhirnya, yang kudengar ditelingaku sendiri sedikit sumbang.

“Sakiiiit, Bu, apakah saya bakal bisa melupakan semua ini…?” ucapnya sembari menatapku.

Ya Allah. . . , mata itu. . . seperti anak burung yang patah sayapnya…Ada harapan dan luka yang sangat disana, apa yang mesti kujawab???

Aku biaskan senyum untuknya dan mengangguk, “Saya juga akan bisa melupakan dia kah, Bu?” Kembali aku hanya bisa tersenyum. Dengan kekuatan yang tersisa aku sampaikan.” InsyaAllah… Sang waktu yang akan menentukannya.” Ah, aku menangkap suaraku sendiri tergetar, teringat yang menyeruak di hati. Saat seseorang hanya melintas sesaat dan kemudian berlalu. Dan memang perih…

Pagi kembali berlalu seperti pagi yang kemarin, dan si gadis pun telah berlalu sembari mencoba menata hidupnya, Aku hanya mampu meraba hati…Cinta dan luka adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan, dan dengan sentuhan hangat mentari dan gemerlapnya gemintang malam, Aku susuri hidupku dan menjadikan luka yang ada menjadi sapuan jiwa yang menjadikan hidup ini penuh warna…Luka..perih..dan…warna hidup.

“Bunda”. Si keriting kecil memanggilku dan tiba2 sudah di depanku. Kuhantarkan dia dalam pelukan hangatku, sehangat hati yang telah penuh warna ini.

Depok, 11 Januari 2009

“Adhek kon, engko digégéri sing nduwe”:

Another posting from Johny Alfian K :
Tahun 80an lalu masih terbukti bahwa menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari menunjukkan status sosial ekonomi menengah bagi penggunanya. Seiring berjalannya waktu dan perkembangan jaman, penggunaan bahasa Indonesia begitu meluas. Di Surabaya (yang pernah saya ketahui), bakul rokok di dekat Unair aja berbicara bahasa Indonesia dengan Balita-nya. Alhasil, sekarang penggunaan bahasa Indonesia sudah sedemikian meluas. Banyak keluarga muda, di berbagai lapisan masyarakat, yang berbahasa Indonesia dengan anak-anak mereka. Berbahasa Indonesia tidak lagi menunjukkan status sosial menengah.  Bagaimana dengan di Jember…..”bheh, aku gak ero kon”, (sorry kurang memperhatikan). Lalu, dimanakah bahasa Indonesia sekarang. Seorang kawan dari Aceh yang seribu persen berdarah Aceh, dan besar di Aceh, beristri orang Aceh tulen, mengeluhkan nilai bahasa Aceh anaknya berkisar antara A dan B. Saya kira itu kan nilai yang bagus sekali. Ternyata nilai tersebut harus dikonversikan ke angka menjadi “3” dan “4”. Sementara nilai bahasa Indonesia-nya “8” atau “9”. “Gimana dengan nasib bahasa Aceh?”, ujar dia. Saya bilang, mungkin ada baiknya anak2nya tidak berbahasa Aceh. Sehingga memory-nya bisa digunakan untuk belajar bahasa asing (Inggris, Arab dll) dengan lebih baik. Dia pun sedang berpikir untuk sedikit demi sedikit menggunakan bahasa Aceh pad anaknya. Terus gimana dengan nasib bahasa Jêmbêr-an?  Sebetulnya Jêmbêr tidak punya bahasa khusus. Itu semata bahasa Jawa dengan aksen Madura. Selain juga menggunakan bbrp kosa kata Madura. Jadi pada prinsipnya, tidak ada persoalan serius ketika orang Jêmbêr berkomunikasi dengan orang Jawa pada umumnya dengan menggunakan bahasa Jawa. Karenanya mungkin lebih tepat disebut dengan “dialek Jember”.  Ekspresi “bheh”, “sia” (mungkin bahasa Inggrisnya dari keduanya “gosh”), “adhêk” (berarti “habis”, atau “rasakan!”) serta kata-kata seperti: “cêrèk” (pelit), “sengkah” & “ras arisen” (enggan), , “sengak” (awas), “songar” (sombong), “sik buru” (baru saja), “carok” (bertengkar), “ra kora” (cuci barang pecah belah), “carpak” (omong kosong), “la pola” (bertingkah), “co ngoco” (bohong) tak ayal merupakan pinjaman dari bahasa Madura. Ada juga ekspresi yang barangkali dari bahasa Jawa seperti : “polane” (karena) dll dsb.  Pertanyaannya: masih adakah kata2 atau ungkapan kata2 seperti itu di Jember? Belum punah kan? 

Guru-Dosen; Indonesia-Leiden

Tadi buka-buka Buku Tamu, kok ada posting dari Johny ” Yan ” Alfian Khusyairi. Usai mbaca, ceritanya cukup menggelitik, terutama buat teman-2 yang sekarang sedang berkecimpung di dalam dunia pendidikan. Bisa dianggap sebagai kritik ataupun cermin untuk kemajuan dunia pendidikan negeri kita.

Dengan seijin Cak Johny, tulisan tersebut saya muat kembali di blog, supaya bisa dibaca lebih banyak orang dan bisa didiskusikan secara santai atau pun mendalam. Silakan dibaca…

 

(248) Johny

Wed, 5 November 2008 03:46:28 -0800

 

<

p class=”MsoNormal”>Guru-Dosen; Indonesia-Leiden 

Setiba di Belanda setahun lalu, saya senang sekali. Harapan untuk bersekolah di negara maju tercapai. Namun, ketika kuliah pertama akan dimulai, saya jadi cemas. Bagaimanakah cara mengajar dan sikap dosen di Leiden. Sebuah universitas yg di masa colonial merupakan salah satu tempat pelatihan dan pendidikan para ambtenaar sebelum dikirim ke Indonesia. Sebuah universitas yang sampai sekarang masih dikenal konservatif. Kenapa saya pilih sekolah di Leiden? Ah, nasi pun telah jadi bubur. Apapun yang akan terjadi, terjadilah. 

Ternyata bayangan saya tidak sepenuhnya salah. Meski tidak sepenuhnya benar. Ada dosen yang masih suka mengucapkan kata dom atau stom, yg keduanya berarti bodoh. Atau kata-kata lain yg menjurus kesitu, seperti kira-kira “gunakan otakmu”, atau “kalau kamu mau memutar otakmu”. Sebagian dari dosen juga ada yg mengecilkan arti kolonialisme Belanda di Indonesia, misalnya “yang kami ambil dari Indonesia kurang dari 10% pendapatan nasional Belanda”. Juga ada kata sinis tentang makanan pokok Indonesia (Jawa) dengan “your bloody rice”. Ada juga dosen yg masih merobek proposal mahasiswanya. 

Terkadang memang tindakan-tindakan tersebut bikin jengkel. Tapi setelah saya ingat-ingat, dulu saat SMP di Jember pun masih ada guru yg mengeluarkan penghuni sawah, ladang dan kebon binatang, seperti “kebo” dll. Masih ada juga dosen di Indonesia yg melempar tulisan mahasiswanya (terlepas apa pun persoalannya). 

Tapi tindakan semacam itu hanya dilakukan oleh sebagian kecil dosen aja. Lebih banyak dari mereka yang sangat baik tindakannya, baik di kelas maupun di luar kelas. Ditraktir kopi, dibayari foto copy dan selalu kasih respons positif terhadap apapun tulisan kita. Baru kemudian diberi kritikan. Tak jarang, malah ada dosen yang sangat menggelikan. Kamar yang saya tempati rupanya dulu tempat tinggal mahasiswa Islamic studies, asal Indonesia juga. Beberapa kali kawan tersebut mendengar suara takbir di bawah jendelanya. “Allaahu akbar, allaaahu akbar!”. Itu bukanlah seruan adzan, karena panggilan sholat hanya terdengar di dalam mesjid saja. Ternyata itu panggilan dari professor dia yang mau mengajak minum di bar. Ah, rupanya sudah ada profanisasi takbir. Menyerukan takbir bukan mengajak sholat, tapi minum minuman beralkohol di bar… Adakah hal serupa di Indonesia? Seorang teman, yang lahir dan besar di Ampel, Surabaya, pernah bercerita. Saat dia berada di sebuah warung di daerah “lokalisasi” di ujung timur pulau Madura, dia mendengar “Assalaamu’alaikum”. Tentulah sebagian besar yang nongkrong di warung menyahut “Wa’alakumus salaam”. Dan….transaksi birahi tetap berjalan. 

Salam

 

Panther…

“Ni hou ma?”
“Wo hen hou, xie xie,” balasku. Percakapan tadi bukan terjadi di Singapura, Hongkong ataupun Taiwan. Tetapi di kota Surabaya pertengahan Agustus 2008 yang lalu.

Secarik kertas dengan coretan-coretan yang berisikan perintah dari atasan untuk melakukan presentasi ke suatu perusahaan di Surabaya. Seketika aku teringat, jangan-jangan ini perusahaan di mana Mbak Wiwied, salah satu dedengkot blog SMA 1 Jember, bekerja. Walaupun yang disebutkan adalah nama lama perusahaan dan sekarang sudah diganti kepemilikan namun nama itu masih melekat dalam ingatan saya. Tapi untuk lebih meyakinkan hati, saya segera SMS ke mbak Wiwied. Ternyata benar adanya. “Wah, kita bisa re-unian dong,” kata Mbak Wiwied. Hahaha, ketemu aja belum pernah malah sudah ngajak reuni.

Hari yang dinantipun tiba. Pagi-pagi benar jam 4 sebuah Taxi Blue Bird sudah nyampe di depan rumah. Bahkan ayam yang bertugas untuk berkokokpun belum pada bangun jam segini..Akhir kata, jam 7 pagi saya mendarat di Bandara Juanda menggunakan Sriwijaya Air.. Menunggu teman sebentar yang naik pesawat lain, akhirnya kami bertiga meluncur ke pusat kota Surabaya.

Salah satu dari teman saya ini seringkali bertugas di Surabaya dan sangat menguasai lika liku tempat makan paling enak di sini. Dia bilang, dulu kalau bertugas sebulan di Surabaya pasti Berat Badan jadi naik 4-5 kilo..entah kalo Bau Badan, ada perubahan yang signifikan juga apa tidak.. saya nggak sempat nanya.

Sarapan sebentar, kami kemudian sampai di kantornya Mbak Wiwied ini sekitar 09.45. Disela-sela presentasi saya sempat menginformasikan keberadaanku dikantornya.. ”akhirnya datang juga” balasannya..hahaha.. kebanyakan nonton TV rupanya orang ini.. Ada tiga presentasi yang berbeda dan kebetulan saya kebagian yang pertama. Karena antara lain saya harus balik ke Jakarta lagi hari itu juga.

Saat giliran saya selesai, saya segera menelpon Mbak Wiwed ini dan kemudian duduk menunggu di ruang tamu. Karena belum pernah sekalipun bertemu saya belum bisa membayangkan seperti apa Mbak Wiwied ini. Dari jauh ada seorang wanita sambil membawa map tampak mendekati sambil cengar-cengir..karena saya belum yakin, ya saya diam aja.. terus dia bilang, “Ni hou ma?” “Wo hen hou, xie xie,” balasku, percakapan terpanjang dalam bahasa mandarin yang pernah saya lakukan selama ini..hehehe.

E..e..e.. ternyata oh ternyata.. ini adalah Mbak Triani Wiedowati alias Mbak Wiwied, salah satu dedengkot Blog SMA 1 tercinta ini.. yang komentar-komentarnya selalu dinantikan pada setiap tulisan.. (apalagi pada topik PPR ya Mbak.. hehe)

Mbak Wiwied ini orang yang ramah sekali..walaupun kedatangan saya bisa dibilang tidak tepat waktu, karena pada jam kantor dan beliau sibuk sekali.. bahkan sebenarnya ada tamu dari cabang Jakarta (salah satu atasannya) yang sedang berkunjung terpaksa beliau tinggalkan untuk menemui saya.. ck..ck..ck.. kalau bosnya ini kenal Meggy Z, mungkin dia akan menyanyikan “ teganya, teganya, teganya..“ hahaha..

Saya diajak ke lantai atas untuk melihat-lihat kantornya, dan dikenalkan ke semua orang sebagai long lost friend.

Sebenarnya mau ketemuan juga dengan Anna sebelum pulang.. cuman dia sedang ada miting dengan bosnya. Tau tuh, ngapain juga kerja pake piting-pitingan.. hahaha..

Petualangan sebenarnya terjadi ketika naik pesawat kembali ke Jakarta. Tiket yang saya dapat adalah untuk maskapai tertentu. Tapi ketika naik malah ke maskapai yang lain. Saya sudah tahu dari dulu kalau keduanya ini saudara dekat.. tapi gak menyangka juga kalau ternyata mereka itu seperti kembar siam…dempet di brutu..hehe

Jadwal seharusnya adalah 16.45.. tapi begitu check ini tertulis “Delay 40 menit”.. Lucunya tulisan delay ini tidak hanya untuk jurusan Jakarta saja, tetapi juga untuk jurusan lainnya..Makassar, Denpasar dsb.. ada sekitar 4 atau 5 tujuan.. woww.. kacau bener rupanya…

Menunggu adalah pekerjaan yang paling menyebalkan..tapi tidak ada yang bisa saya lakukan saat itu.. akhirnya pesawat diberangkatkan sekitar jam 18.30..baru tau aku kalau dari jam 16.45 ke 18.30 itu ternyata hanya “40 menit”.. tampaknya logika matematika ku tidak terlalu bagus sewaktu sekolah dulu.. atau mungkin pas pelajaran ini aku sedang mbolos..Atau mungkin juga, kalau orang maskapai ini dulu di ajar sama almh. Bu Purni kepalanya pasti sudah benjol-benjol semua..hahaha..

Akhirnya, setelah capek menunggu selama “40 menit” yang panjang itu diumumkan kalau pesawat sudah siap.. Pesawat ini adalah MD 82.. sedikit lebih panjang daripada Boeing 737..Karena nomor kursi saya 24 maka saya dianjurkan untuk naik dari belakang… ternyata naiknya dari belakang beneran..kayak kalo di pesawat Hercules..dari buntut..

Ketika sudah siap berangkat suara pesawat ini kenceng banget..kayak mesin diesel kalau pada mobil..saya liat ke atas.. petunjuk yang biasanya menunjukkan bahwa sabuk harus dalam keadaan terpasang hanya sebagian kecil yang menyala.. ketika pramugari sedang memperagakan keselamatan saya melihat ada brosur yang terjepit di kursi.. wow,.. ternyata berisikan doa doa keselamatan dari berbagai agama, berikut terjemahannya dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Kalau untuk yang beragama Islam adalah surat Hud: 41. (“…Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya.” Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.) dan ada lagi satu doa yang cukup panjang yang saya tidak sempat catat.

Waduh.. saya berkata dalam hati, semoga pesawat ini tidak menyerahkan perawatan dan keselamatan pesawatnya pada doa doa para penumpangnya saja. Terus terang saja, baru kali ini saya merasa takut bener naik pesawat. Saya yang tadi belum sempat sholat maghrib cepat-cepat bertayamum dan sholat di pesawat..

Suara mesin pesawat ini kenceng banget.. telinga ini berkali-kali berdengung..berkali-kali pula saya harus menutup hidung dan menelan ludah untuk menetralisir efek perdengungan ini..Dan baru kali ini saya mengalami telinga berdengung sebanyak ini.. Sewaktu di atas, saya sebenarnya juga pengen pipis.. tapi melihat keadaan pesawat yang seperti ini, saya jadi ragu-ragu.. jangan-jangan..jangan-jangan WC-nya…saya masih memikirkan apakah nanti tidak menimbulkan efek kerusakan di bumi…. takutnya WCnya bolong kayak di kereta api.. bisa-bisa para ilmuwan mengira itu hujan asam dan menghubung-hubungkannya dengan pemanasan global..padahal itu sebenarnya cuman hujan urine..hehehe

Akhirnya saya mengerti kenapa pesawat ini bisa murah.. jangan-jangan ini gak pakai avtur.. tapi pake solar.. pesawat versi Panther..cring..cring.. wus..wuss..wusss.

URBAN LIFE STYLE?

Beberapa hari silam, saat chatting dengan kandidat doctor Pemasaran UI, Firman Kurniawan (SMAN1-88), dia melontarkan pertanyaan yang sama dengan beberapa rekan yang mengetahui kepindahanku dari Balikpapan ke Solo… Firman ask .”wah enak sekarang..bisa pulang pergi dari Solo ke Jogja”…. saat kujawab “ aku gak nglaju (pulang pergi tiap hari)..aku kos di Solo…”.. beliaow nanyak “ Lho kan cuman sejam?…itu jauh lebih cepet daripada pekerja Jakarta yang berumah di Bogor,Tangerang..bisa 2 jam’an baru tiba di rumah…bahkan lebih…” Aku berpikir “ wah iya juga ya….tapi dengan jam kerja yang gak pasti..kadang ada meeting after work hour ato ketemu ama relasi yang kadang sampek malam ..kayaknya lebih safe Kos aja..he..he..he” Aku njawab sekenanya aja “ tapi bos..aku pulang setiap Rebo malem balik Solo kamis subuh…dan pulang lagi Jum’at malem dan balik Solo lagi Senin Subuh…gitu bos jadi..2 kali seminggu ketemu keluarga…kalo ditambah weekend ya 3 hari ketemu deh…jauh lebih baik dibanding saat tugas di balikpapan yang pulangnya baru bisa 3 minggu sekali.

BN Holec ...Prameks Kutoarj-Jogja-Solo Saat beberapa kali pulang ke Jogja dengan KRDE Prambanan Ekspress….baru ketahuan kalo yang pulang-pergi dari Jogja –Solo ternyata banyak juga…..terlihat wajah-wajah yang sama selalu naik dan turun di stasiun yang sama…..mayoritas sih ibu-ibu ato nonik-nonik…emang bagi orang yang terbiasa dengan kehidupan serba tergesa gesa kayak di Jabodetabek…melewatkan kesempatan pulang-pergi dari rumah ke kantor yang hanya 1 jam itu terasa mengada=-ngada….tapi bagiku yang terbiasa dengan ritme …30 menit sebelum jam 08.00 baru sampai kantor…mengejar-ngejar kereta sejak subuh (KRDE Prameks paling pagi adalah 05.45 WIB) untuk bisa sampai kantor sebelum 08.00 Wib..dan harus terburu-buru ninggalin kantor jam 17.00 teng..karena KRDE yang paling enak adalah yang 17.45 WIB itu ..kok kayaknya nyiksa betul…padahal sebagai pekerja bank yang berada dijalur Marketing…kadang jam 17.00 wib masih ada di lokasi pabrik klien ato lagi meeting internal yang gak mungkin dipercepat ato ditinggalin….dideadline waktu kok terasa menyiksa….sebenarnya bisa aja naek bis (24 jam selalu ada) namun membayangkan sampai rumah jam 22.00 Wib ..dan anak-istri kadang harus terbangun untuk bukain pintu dan setelahnya bangun shubuh untuk ngejar kereta pagi (Si Asti yang sulung belum bangun tentunya….kalo Ica sih jam 03.00 WIB dah tereak-tereak dia…) kok rasanya gak worthed gitu….belum lagi resiko telat masuk kantor…dan kemrungsungnya itu lho…bisa-bisa ngrusak ritme kerja hari itu…..untungnya istriku malah ndukung aku kos…kasian mungkin liat suaminya kemrungsung setiap paginya..he..he..he….mangkanya sebagai jalan tengahnya setiap Wednesday sore pulang…dan weekend tetirah di Jogja….weekday at downtown and weekend at suburban..masak Jogja disamakan dengan sub urbannya Solo?…

Tak piker-pikir jaman sekarang ini….jauhnya tempat kerja dengan rumah tinggal menyebabkan pola hubungan social bahkan di dalam keluarga sangat berbeda dengan jaman kita dulu..kayaknya jaman dulu meliat orang berangkat kerja jam 07.00 Wib dan 15.00 Wib dah sarungan ato maen bulutangkis di rumah..kayak bapakku yang kerja di PTP XXVI… ato pakde Jo yang kerja di Perusahaan swasta ato Cak Mat yang kerja di PEMDA Jember….kayaknya asyik betul gitu..deket keluarga dan sore dah bisa kongkow ama tetangga…terus dilanjut Bulutangkis,sepaktakraw ato Volley ball tergantung sedang apa musimnya he..he..he..lha kalok pas musim layangan ya bapak-bapak itu juga nimbrung kok…ato..ikut kegiatan Doro Racing di sawah sono…dan kalok malamnya iso ikut arisan tahlil..barzanji ndek Musholla ato sekadar reriungan di Musholla sambil nunggu isya’ tiba….pokoknya sore dan malam adalah tempat kehidupan sosial masyarakat idup….bagi saya..hal-hal kayak gitu jadi mimpi dan nostalgi belaka….tapi sekarang dah mending kalok Minggu pagi isok Bulutangkis bareng tetangga di sawitsari yang kebetulan adalah kawan-kawan dosen Faperta dan FE UGM yang dulu dah kenal saat kuliah…jadi yo rodok ada dunia sosialitanya lah….asyiik juga..walo gak seheboh dan seheroik kenangan sore dan malam di Kampung Gebang Kemundung at Jember….. Sampeyan gimana?…

“Henohenomoheji”

Henohenomoheji, sebuah frase yang terdiri dari beberapa hiragana (huruf dasar bahasa jepang): he(へ) no(の) he(へ) no(の) mo(も) he(へ) ji(じ) . Yang kalau ditulis jadi membentuk wajah manusia:

Menarik,kan?

Biasa di pasang di wajah-wajah orang-orangan sawah. Yang berarti udah membudaya sejak lama. Di beberapa tokoh di manga (komik jepang) pun ada:

  • In the popular anime Naruto, the character Kakashi Hatake’s face is the subject of an entire episode (no. 101), in which his students try to remove his mask. Against one of them he uses a decoy (scarecrow) of himself, with the Henohenomoheji drawn on the face; which is appropriate enough, given that his name (Kakashi) means “scarecrow” in Japanese. Also, Kakashi is able to summon a small pack of eight dogs, all of which have the Henohenomoheji on their backs.
  • In the anime One Piece, Igaram makes dummies with the Henohenomoheji face to impersonate Luffy, Zoro, and Nami.
  • In the MSX game Parodius, one of the bosses is based on this.
  • In the Sega Genesis game Crusader of Centy, a puppet controlled by a boss has this for a face.
  • In the popular anime Digimon, the Digimon Nohemon, a scarecrow Digimon, has Henohenomoheji on its face.
  • In the Nintendo DS game Animal Crossing: Wild World, the visitor Blanca’s face is that of a Henohenomoheji, and can be altered to the player’s own design.
  • In the PlayStation 2 video game Ōkami, characters are represented with a Henohenomoheji icon floating above their heads whenever they are too far to be seen.
  • In the PlayStation 2 video game Chulip, the generic factory workers all have Henohenomohe faces.
  • In the anime The Melancholy of Haruhi Suzumiya, a brief scene in episode 11 showed Koizumi’s fleet with a crew full of Henohenomoheji.
  • In the manga Ranma ½, the title character Ranma Saotome often wears the Henohenomoheji face.
  • Mangaka Yuu Watase is often portrayed in a Henohenomoheji mask.
  • In the anime Mononoke, the Medicine Seller briefly wears a Henohenomoheji on his blank face during the Noppera-bō arc before restoring his own.
  • In the anime Samurai Champloo, the baseball catcher doll in episode 23 “Baseball Blues” has a Henohenomeheji on its face.
(wikipedia.org)

Di bahasa indonesia ada nggak ya?

Meskipun sederhana, budaya ini tetap dijaga. salut juga sih. Sekaligus malu, karena budaya ku sendiri sudah ada yang kulupakan. Bahasa krama (bahasa halus jawa) sudah lupa, padahal sekarang sedang belajar bahasa-bahasa halus/merendah dalam bahasa jepang, yang notabene sama seperti bahasa krama juga.

Bicara tentang bahasa, sabtu kemarin di masjid Osaka, orang Mesir memberi pelajaran bahasa Arab,dan sedikit logat Mesir. Di awali dengan cara menulis dan membaca huruf arab. Setelah memperhatikan, dan sedikit latihan pengucapan, ternyata ada beberapa pengucapan yang berbeda dengan yang diajarkan padaku waktu kecil. Tetapi, sayangnya kemarin hanya belajar sampai huruf ke 7 (خ), sedangkan sabtu ini aku gak bisa ke masjid. Karena lusa, Jumat 18 Juli, insayaallah, aku terbang ke indonesia untuk tanggal 20 nya terbang lagi ke Vietnam untuk ikut IPhO (International Physics Olympiad) 2008 di Hanoi, Vietnam.

Mohon Doanya semoga bisa membawa nama baik Indonesia.

Oh,ya baru ingat, aku bertemu seorang alumni SMA 1 Jember yang sekarang di Jepang: Achmad Chamdani Eka P , angkatannya, mungkin, tahun-tahun dekat tahun kelahiranku, 1990. Dan waktu pengajian aku bertemu dosen ITB , maaf, lupa namanya, yang sedang berkunjung ke Jepang, yang juga alumni SMA 1 Jember.

sekali lagi, Mohon Doanya semoga bisa membawa nama baik Indonesia.

Bisnis yang menggiurkan..

Bapak hampir ketipu seperti Pak xxx modusnya sama akan ada konferensi international, supaya bapak menghubungi P. Rasio (kepala kanwil depdiknas) jatim terus bapak bilang ndak2, trs dianya menutup tlp kantor jam 12 kurang dikit kira2 sama dg Pak xxx saat itu.

Pukul 13.50 kemarin (11 juni 2008) saya menerima SMS dari Ibu mengabarkan informasi diatas. Tentang bisnis yang paling menguntungkan di Indonesia.. Ya, penipuan memang sudah dijadikan ladang bisnis yang sangat menggiurkan bagi sebagian orang yang suka tertawa pada penderitaan orang lain. Kurang dari seminggu yang lalu, rekan bapak saya yang bernama Pak xxx tertipu mentah-mentah sampai harus merelakan belasan juta rupiah tabungan yang telah disimpannya bertahun-tahun.. berapa sich gaji seorang dosen senior di Indonesia.. Untuk bisa menabung sedemikian beliau itu harus bermandikan darah dan air mata.. Kebetulan waktu itu Bapak saya sedang satu mobil dengan Pak xxx dalam perjalanan ke Surabaya. Ditengah perjalanan Pak xxx ini ditelpon oleh orang yang mengaku dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi akan adanya undangan seminar di Jakarta. Biaya perjalanan akan ditanggung sehingga Pak xxx ini tidak perlu minta SPJ dari Universitas. Untuk itu Pak xxx diminta untuk menghubungi Pak Rasio dari Depdiknas Jatim. Tentu saja para penipu ini mencatut nama pejabat yang sebenarnya. Waktu itu Bapak saya sempat nyeletuk, “ koq tumben urusannya ke diknas jatim”. Mungkin Pak xxx ini sedang mengalami euphoria sehingga menjadi tidak waspada. Permainan ini sangat ditentukan oleh kecepatan dari para penipu untuk segera membujuk calon korbannya ke ATM. Kalau waktu terlalu lama, maka korban akan punya banyak kesempatan untuk berpikir secara rasional. Pak xxx ini kemudian menghubungi nomor pejabat gadungan yang dikasih oleh para penipu, dan diberitahu kalau biaya perjalanan untuk seminar di Jakarta akan segera ditransfer.. tolong dicek di ATM terdekat…akhirnya, seperti yang sudah sudah.. korban bertambah lagi..

Sejak dulu saya berpendapat bahwa bisnis yang paling menguntungkan di Indonesia adalah penipuan. Pasarnya tersedia.. sangat luas bahkan.. segmentasinya bermacam-macam.. ada untuk penipuan tenaga kerja (paling banyak), undian berhadiah, beasiswa, koperasi simpan pinjam (kospin).. bahkan penipuan kelamin.. hahaha.. dijanjikan untuk dinikahi setelah diutak atik ditinggalkan..

Ini seharusnya menjadi bahan yang sangat menarik untuk disertasi untuk bidang sosiologi atau antropologi.. bahan berita selalu ada.. paling tidak kalau berlangganan koran, minimal seminggu 3 kali ada berita tentang penipuan-penipuan dengan berbagai modus operandi.. Keserakahan dari para penipu dan sifat serba instan yang disukai oleh orang Indonesia menjadikan kasus-kasus ini tidak pernah sepi .. baik peminat ataupun korban..

Gimana ? mau berbisnis..? waspadalah.. waspadalah