Keyword ….

ini ada titipan tulisan dari Ika Listyaningtyas (class of 88)

Sabtu pagi menjelang subuh kulirik HaPe yang tiba-tiba menyala danberbunyi.. SMS masuk “Ka, tolong buka emailmu”. Singkat sekali, smsdari seorang sahabat. Sesudah subuhan, karena pagi hari itu tidak ada kegiatan yang harus aku kerjakan aku langkahkan kaki menujukomputer dan menyalakannya.

Wich…sudah lama aku tak buka email-email…upps banyak juga yang belum kubaca, utamanya dari milis sma tercintaku….pandanganku terhenti pada satu nama, kubuka dan kulihat tanggal nya..sudah tiga hari yang lalu…sebenarnya isinya sederhana…”Tolong beri aku keywords untuk ikhlas…aku harus berikanHape E-90 ke dosenku, dia pengen, mbak..dan suamiku setuju”…Aku tidak tahu harus menulis apa, aku jawab via sms “beri aku waktu, aku hanya merasa koq berlebihan sekali…besok bisa ketemu di UI?” yang kemudian dijawab “OK, CU….”

Ikhlas…sering banget aku mendengar kata-kata ini, dan sering juga aku menghujamkan makna kata ini dalam hatiku…tapi meminta orang lain untuk ikhlas? Memberikan keywords pulak??!!, untuk hal dimana jiwa terikat pada kebendaan, aku tak punya keywords apapun…kuhela nafas panjang…..panjang banget malah, karena ngerasa koq ya berat banget… masih terbayang HP E-90 itu, biasanya kami berdua bertemu di tempat-tempat yang biasa ada hot spot-nya…, aku biasanya langsung buka program wLAN yang ada di HP itu, untuk buka internet gratis …sambil makan, cerita dan kemudian mengomentari email-email yang dikirimkan teman-teman , baik yang lucu-lucu maupun yang bisa membuat mata kita berdua berkaca-kaca karena kisah yang begitu sedih…HaPe itu juga menjadi idolaku, tapi belum mau kumiliki, satu-satunya alasan yang kupunya adalah..terlalu mahal untuk dompetku dan ukurannya weleh dah nyaris kayak bawa batako hehehe…dan sekarang dia mau memberikannya ke orang lain??? Hatiku berbisik…mbok yo kekne aku…hehehe…dasar!!!….(wah, kalo beneran di kasih, aku bakalan gak bisa mainin lagi deh….) Allah memang Maha Mengatur, dikesempatan buka puasa bersama anak-anak disebuah yayasan Yatim piatu di Depok sore itu, di hari itu juga, seorang teman mengangsurkan sebuah buku sambil berbisik ` untukmu…bacalah..’Allah..kusebut nama-Nya saat membaca judulnya.

Buat Apa Shadaqoh?-

”Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya (QS. Ali Imran: 92).

Dikisahkan Abu Thalhah ra. Beliau adalah orang Anshar yang paling kaya di Madinah, dan yang dia cintai adlah sebuah taman yang terkenal dengan nama Biyarha. Dan ketika ayat ini turun, beliau bergegas menuju Rasulullah Saw. Dan berkata” Harta yang paling kucintai adalah Biyarha ini. Mulai sekarang , harta ini menjadi shadaqah karena Allah. Aku berharap semoga ini menjadi kebaikan dan menjadi simpanan di sisi Allah. Gunakan kebun ini, wahai Rasulullah, terserah dirimu…” Ternyata begitu juga pada Zaid ibn Haritsah “Ya Allah, Engkau tahu bahwa tak ada harta yang lebih kucintai daripada kudaku ini .Aku terpekur merenunginya….sambil berkaca pada diri ini, Apa yang sudah kukasih ke Allah, dan sanggupkah aku untuk menyerahkan pada Allah sesuatu yang paling kucintai??? Sambil menginstropeksi diri ini aku ingat akan janjiku, kepikir juga untuk mengirimkan email ini pada sahabatku itu sebagai bahan perenungan, kutuliskan firman Allah tadi berikut berlomba-lombanya para sahabat Rasulullah saw dalam menyikapi ayat tersebut dan kutambahkan Tiada satupun yang terjadi tanpa kehendak Allah SWT… kemudian kutekan SEND . Kukirim juga sms padanya “Aku hanya mampu mengirimimu sebuah hikmah, buka email, besok saat ketemu kita bahas, CU”

1 ramadhan

Ba’da salam sholat maghrib di awal ramadhan, terasa getar HPku. Masuk SMS dari istriku “bi, belum selesai ngajinya? Ummi pengin habis maghrib kita kumpul sekeluarga”. Serius amat istriku, kata-kata cinta yang biasanya mengawali SMS nggak nampak lagi. ada apa nih???

Sejurus kemudian, sesampainya dirumah kulihat anak-anaku udah rapi dengan baju kokonya. Si kecil ‘nida’ nampak cantik dengan mukena merah mudanya. Wajah mereka nampak gembira, seolah-olah mereka sedang menyambut datangnya tamu agung yang selalu dirindukan. Istriku, disudut kursi tamu sedang melantunkan kalam Ilahi. Tak terasa menetes air mataku, rutinitas aktivitas diluar membuatku lalai dalam menyambut ramadhan.

Setelah mandi kupanggil anak-anakku. Gazie, hanzhalah, tholhah, nida sini duduk melingkar dekat abi-ummi.

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb. ba’da tahmid dan shalawat, kita harus bersyukur kepada Allah. Kalian tahu kenapa kita harus bersyukur? Karena kita bertemu dengan bulan ramadhan lagi, anakku saling berebut memberikan jawaban.

‘Ya, sebetulnya banyak sekali mengapa kita harus bersyukur. Misal, hidung gazie yang menghadap ke bawah dan bibir tholhah yang datar di bawah hidung tidak miring ke atas (vertical) dipipi. Kalian pernah berdo’a ‘Allohumma bariklana fi rajaban wa sya’ban wabalighna ramadhan?

‘Udah di ajari bi, tapi nggak pernah berdo’a’.

‘Nah betapa sayangnya Allah, kalian tidak pernah minta tetapi kalian diberi, diberi kesempatan bertemu dengan ramadhan. Makanya ramadhan kali ini harus jadi ramadhan terbaik. Apa yang mau kalian lakukan di bulan ini? Berapa target tilawah kalian?

‘Gazie 1 juz/ hari. Tholhah ½ juz. Hanzhalah 2 juz. Mendengar adiknya 2 juz, gazie menaikkan target jadi 3 juz’. Sholat traweh tiap malam, subuh berjamaah ke masjid. Trus habis subuh mau jalan-jalan.

tholhah, minta uang 500 setiap hari untuk infaq.

‘semangat kali kalian buat target, tapi ingat, target harus disesuaikan dengan kemampuan. Selama ini kalian tilawah hanya 5 halaman/ hari, sekarang target kalian 3 juz (60 hal) apa bisa?

Insya Allah, mudah-mudahan kami bisa memenuhi target.

mudah-mudahan Allah memberi kemampuan pada kita semua, menyelesaikan ramadhan dengan baik tidak hanya mendapat lapar dan dahaga.

Adzan isya’ udah terdengar. Yok, kita bersiap ke masjid, jangan sampai kita nggak kebagian tempat.

1 ramadhan 1429 h

banda aceh

Retorika Keadilan

Karena Ibu Lorentina, ibu guru BK Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Kota Bandung, memulai tulisannya dengan judul, Adilkah Hanya Guru yang Disalahkan? — sebuah pertanyaan retorika, saya ingin memulai dengan pikiran singkat: tentu tidak adil! Tidak dimaksudkan sebagai jawaban, karena retorika acapkali sudah mengarahkan penjawabnya pada simpulan tertentu.

Tidak hanya guru, setiap pihak tentu keberatan jika hanya dia yang disalahkan. Ini berlaku umum, namun sebelum salah-menyalahkan, coba dipikir dengan baik: sebenarnya siapa yang menyalahkan semata-mata pada guru? Persoalan di negara kita — hampir semua orang sudah menyadari — memang kompleks, berkelindan. (Kendati sangat mungkin penduduk negara lain juga akan menyebut seperti itu terhadap persoalan di negara mereka, jadi bukan istimewa juga sebenarnya.) Justru karena dalam kehidupan ini terdapat banyak faktor yang saling mempengaruhi, kita harus memilah, mengurai bagian atau sub-bagian yang diselesaikan terlebih dulu. Dalam ungkapan yang lebih umum: meletakkan sesuatu secara proporsional.

Look What Happens Inside

Continue reading “Retorika Keadilan”