<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Alumni SMA 1 Jember &#187; Ayo Lebih Baik!</title>
	<atom:link href="http://sma1jember.info/category/ayo-lebih-baik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sma1jember.info</link>
	<description>Alumni Berkisah tentang Jember</description>
	<lastBuildDate>Mon, 09 Jan 2012 22:16:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
	<!-- podcast_generator="podPress/8.8" - maintenance_release="8.8.4" -->
		<copyright>Copyright &#xA9; 2012 Alumni SMA 1 Jember </copyright>
		<managingEditor>ikhlasulamal@yahoo.com ()</managingEditor>
		<webMaster>ikhlasulamal@yahoo.com ()</webMaster>
		<category>posts</category>
		<itunes:keywords></itunes:keywords>
		<itunes:subtitle></itunes:subtitle>
		<itunes:summary>Alumni Berkisah tentang Jember</itunes:summary>
		<itunes:author></itunes:author>
		<itunes:category text="Society &amp; Culture"/>
		<itunes:owner>
			<itunes:name></itunes:name>
			<itunes:email>ikhlasulamal@yahoo.com</itunes:email>
		</itunes:owner>
		<itunes:block>No</itunes:block>
		<itunes:explicit>no</itunes:explicit>
		<itunes:image href="http://sma1jember.info/wp-content/plugins/podpress/images/powered_by_podpress_large.jpg" />
		<image>
			<url>http://sma1jember.info/wp-content/plugins/podpress/images/powered_by_podpress.jpg</url>
			<title>Alumni SMA 1 Jember</title>
			<link>http://sma1jember.info</link>
			<width>144</width>
			<height>144</height>
		</image>
		<item>
		<title>dari Anda untuk senyum mereka</title>
		<link>http://sma1jember.info/2010/08/dari-anda-untuk-senyum-mereka/</link>
		<comments>http://sma1jember.info/2010/08/dari-anda-untuk-senyum-mereka/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Aug 2010 06:50:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zilfana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ayo Lebih Baik!]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sma1jember.info/?p=370</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab- kitab, dan nabi- nabi, dan memberikan harta yang dicintaiya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang- orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke  barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada  Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab- kitab, dan nabi- nabi, dan  memberikan harta yang dicintaiya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang  miskin, orang- orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta,  dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan  menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan  orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa  peperangan. Mereka itulah orang- orang yang benar, dan mereka itulah  orang- orang yang bertakwa.&#8221; (Al Baqarah : 177)</p>

<p>Kami  purnawirawan kelas Sosial 1 SMASa angkatan lulus 2007, mengadakan  kegiatan bakti sosial pada bulan Ramadhan ini. Bertempat di Yayasan  Penolong Pendidikan Pengajaran Anak Yatim &#8220;RAUDLATUL AKBAR&#8221; yang  beralamat di Jl. Jend Basuki Rachmad no. 58 Telp. 7783822, 400 m Selatan  Yorn Armed 8 Tegal Besar Kec. Kaliwates Kab. Jember. Yayasan Penolong  Pendidikan Pengajaran Anak Yatim Raudlatul Akbar Jember adalah salah  satu yayasan yang bergerak dibidang pendidikan untuk menolong anak- anak  yatim, keluarga tidak mampu dan terlantar, fakir- fakir miskin. Yayasan  pimpinan Drs. H. Moch Zain Ali Ridlo ini didirikan sejak 1980, dimana  beliau sebelumnya telah mendirikan yayasan pendidikan anak yatim pertama  di Kabupaten Jember, yaitu di daerah gebang pada tahun 1969.Pada Tahun  pelajara 2010/ 2011 Raudlatul Akbar mengasuh:</p>

<p>TK/RA           : 75 siswa</p>

<p>MI          : 59 siswa</p>

<p>MTs         : 76 siswa</p>

<p>MA          : 22 siswa</p>

<p>Kursus Keterampilan :   2</p>

<p>siswaJumlah  keseluruhan nanda asuh 234 siswa, sebagian siswa dipenuhi keperluan  sehari- hari termasuk seragam dan biaya sekolahnya.</p>

<p>Kepedulian  teman- teman purnawirawan Sosial 1 ini tentunya ingin direalisasikan  bersama dengan para dermawan agar dapat meringankan beban saudara kita  yang kurang beruntung. Rencananya kami akan menyumbangkan beras, pakaian  layak pakai, buku- buku, serta perangkat ibadah. Apabila Saudara turut  pula ingin menyisihkan sebagian harta utuk saudara di Raudlatul Akbar,  dapat ditransfer ke rekening mandiri 143-000-501-5209 atas nama Zilfana  Izzatul Lailiyah (085743528555), atau dapat diatar ke alamat Jl. Sumatera gang VII  no.61, Sumbersari, Jember. Penyerahan bantuan paling lambat tanggal 18  Agustus 2010, atas perhatian dan bantuan saudara kami hanya dapat  mengucapkan terima kasih yang sebesarnya, hanya Allah yang dapat  membalasnya.</p>

<p>Terima kasih ﻿^^</p>


<a href='http://sma1jember.info/2010/08/dari-anda-untuk-senyum-mereka/yayasan/' title='yayasan'>yayasan</a>
<a href='http://sma1jember.info/2010/08/dari-anda-untuk-senyum-mereka/yayasan2/' title='yayasan2'>yayasan2</a>

<img src="http://sma1jember.info/?ak_action=api_record_view&id=370&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sma1jember.info/2010/08/dari-anda-untuk-senyum-mereka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meh Pitulasan .. ana sing luput ya ?</title>
		<link>http://sma1jember.info/2009/08/meh-pitulasan-ana-sing-luput-ya/</link>
		<comments>http://sma1jember.info/2009/08/meh-pitulasan-ana-sing-luput-ya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Aug 2009 02:04:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>faiz_sahly</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ayo Lebih Baik!]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sma1jember.info/?p=307</guid>
		<description><![CDATA[Sebentar lagi, tepatnya hari SENIN PAHING kita Bangsa Indonesia akan mengenang dan memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 2009. Secara resmi, negara kita sudah berusia 64 tahun. Kalau diukur dari umur manusia, maka umur segitu sudah terbilang &#8220;lampu Kuning banget&#8221; bahkan condong kemerah-merahan alias umur siap-siap untuk dijemput oleh Malaikat Izrail. Sebab, menurut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-306" src="http://sma1jember.info/wp-content/uploads/2009/08/bendera51-300x212.jpg" alt="bendera5" width="300" height="212" /></p>

<p>Sebentar lagi, tepatnya hari SENIN PAHING kita Bangsa Indonesia akan mengenang dan memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 2009. Secara resmi, negara kita sudah berusia 64 tahun. Kalau diukur dari umur manusia, maka umur segitu sudah terbilang &#8220;<strong><em>lampu Kuning banget</em></strong>&#8221; bahkan condong kemerah-merahan alias umur siap-siap untuk dijemput oleh Malaikat Izrail. Sebab, menurut Islam, umur sebuah umat mengikuti umur Nabinya. Kalau nabi Muhammad wafat pada umur 63 tahun, maka umur rata-rata umat Islam berkisar pada usia 60 tahunan, kurang atau lebih.</p>

<p>Tapi, kalau dikaitkan dengan umur sebuah negara, 64 tahun itu bisa terbilang masih bocah atau bisa jadi sudah dewasa. Lho kenapa masih bocah? Apakah masih kurang contoh bagi kita tentang perilaku pejabat negara atau tokoh masyarakat yang begitu <em>mbocahi</em> alias tidak bisa bersikap sebagai panutan, yang bisa mengayomi dan melindungi. Kampanye Pemilu Legislatif 2009 yang baru saja berlalu sudah membuktikan bahwa banyak diantara kita masih terbilang <em>mbocahi</em> dalam bertindak.</p>

<p><em>Kabeh pada rebutan panggonan kanggo masang gendera..</em></p>

<p><em>Kabeh pada rebutan pameran janji ..</em></p>

<p><em>Kabeh uga pada rebutan mblenjani janji, nek dong ora kepilih</em> (<em>utawa nek kepilih .. </em>)</p>

<p><em>Kepiye Jal ?</em></p>

<p>Eit.. tapi bangsa kita sebenarnya juga sudah cukup dewasa. Terbukti saat Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden, rakyat dengan penuh sukacita mendatangi TPS untuk memberikan dukungan kepada Calon yang dipercayainya. Alhasil, pasca pemilu tidak terjadi kerawanan yang berujung kepada kerusuhan atau pun keributan seperti yang dikhawatirkan banyak pihak. Semua berjalan dengan baik hingga akhirnya tanggal 17 Juli 2009 hari Jumat Legi, kita semua dikejutkan oleh njebglug-nya bom di Hotel <em>Je Dabelyu Marriot</em> dan <em>Ritz Charlton</em>.</p>

<p>Gara-gara jeblugan bom ini pulalah, sobat kita Cak Eko Setiawan menjadi gundah lantaran tim balbalan sing kondhang sak jagad, idola beliauw .. tidak jadi maju ke tampil untuk melawan pasukan pak Benny Dollo. Beragam spekulasi bergulir dan menggelinding cepat menabrak logika awam tentang apa motif kejadian-kejadian itu. Tak luput pula motif spekulatif bernada ngawur bahwa yang njeblugke bom itu disuruh sama Liverpool ( .. dalam bahasa Cak Ekos : Looserpool .. ) atau kongkonane Mas Drogba bahkan mungkin Propesor Wenger, yang kita tahu merupakan lawan-lawan berat MU di kompetisi Liga Inggris kemarin, sekarang dan esok nanti ..</p>

<p>Pasca pengeboman ini pun, kita melihat kembali perilaku mbocahi dari punggawa negeri ini, yang saling bersilat lidah di media untuk membela atau memojokkan pihak lain. Sungguh tidak patut untuk disaksikan apalagi diikuti. Untuk orang-orang sekelas beliauw, semestinya dipaparkan fakta-fakta strategis untuk mencegah terulangnya jeblugan bom semacam itu, menenangkan rakyat sekaligus menggugah rakyat untuk tetap bersatu dan waspada. Bukannya melansir berita yang meresahkan bahkan bisa memecah belah persatuan warga yang sejauh ini juga masih pasang surut kondisinya.</p>

<p>Tapi, sudahlah.. Sementara ini, semua sudah berlalu dengan ditetapkannya sejumlah nama sebagai pelaku utama jeblugan bom tersebut. Tercatat ada Ibrahim <em>The Florist</em>, Dani Dwi Permana <em>si Bocah Gundah</em>, Nana Ichwan Maulana, Eko Peyang dan Air Setiawan <em>Asy Syahid</em> ( ? .. jare sing ndukung .. ) yang resmi beraksi dalam insiden itu. Sejenak kita bisa lega dengan temuan ini.</p>

<p>Kembali ke Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Yang jelas, malam Senin besok, di desa-desa, kampung-kampung, perumahan-perumahan, masjid atau tempat ibadah lainnya, bakal diselenggarakan acara Tirakatan Pitulasan untuk memperingati perjuangan para pahlawan dalam membebaskan negeri ini dari cengkeraman penjajah kala itu. Terlepas pula dari sinyalemen .. (waduh opo kuwi .. ternyata artine <em>indication; suspicion; assumption</em>) .. bahwa sejatinya bangsa dan negara kita ini belum merdeka. Terbukti dengan laporan berbagai analis keuangan tentang makin membelitnya utang negara kita, makin tidak dihormatinya kedaulatan kita, makin merosotnya derajat kehidupan kita serta berbagai tendensi negatif yang menerpa bangsa ini terus menerus.</p></p>

<p>Saya lantas berpikir, &#8220;Apa yang salah dengan bangsa dan negara ini ya?&#8221; Tercetus satu hal di benak saya. Kita ini ngakunya bangsa yang berke-Tuhanan Yang Maha Esa. Tapi coba tengok saat kita memperingati acara Pitulasan. Benarkah kita benar-benar menghadirkan Tuhan di hati dan lingkungan kita ? Rangkaian acara Pitulasan yang dikemas dalam berbagai lomba, baik itu lomba anak-anak atau pun orang dewasa, hampir dipastikan tidak lebih sekedar &#8220;<em>Pantes-pantese nek Pitulasan yo nggawe lomba-lomba sing rame ..</em>&#8221; bahkan tidak sedikit yang terbilang konyol dan tidak patut dipertontonkan dimuka publik. Misal saja, Bal-balan ibu-ibu dengan mengenakan sarung. Dimana kalau musik dibunyikan, semua peserta harus berhenti dan berjoget dulu hingga musik dimatikan. Atau pula bal-balan bapak-bapak dengan mengenakan daster. <em>Opo yo patut koyo ngono kuwi ? Wong tuwo kok mung didadekake geguyon bocah ..</em></p></p>

<p>Juga saat rangkaian itu ditutup dengan Pentas Pitulasan atau Malam Tirakatan, upaya mewarnai dengan penuh rasa syukur kok makin tipis juga. Hampir semua acara mengedepankan kegembiraan, yang kadang berlebihan. Wujud syukur serta keprihatinan terhadap nasib negara dan bangsa serta wujud terima kasih kepada mereka yang telah menyabung nyawa untuk negeri ini, seperti makin jauh saja.. Betapa gundahnya hati para pejuang negeri ini di alam penantian ketika menyaksikan kita lalai untuk bersyukur kepada Tuhannya .. <em>Duh, Gusti .. Nyuwun agunging pangaksami ..</em></p>

<p>Kalaupun dalam acara itu juga dipanjatkan doa-doa, sepertinya hanya sebagai kepantasan seremonial saja. Bagaimana doa bisa didengar oleh Tuhan, kalau kita yang memanjatkan hanya sebatas di bibir. Sedangkan hati kita berada di tempat lain .. Akankah malaikat mau mendekat untuk menjemput doa kita dalam suasana yang penuh hingar bingar seperti itu? Ah, sungguh kita makhluk yang dhalim dan pelupa..</p>

<p>Yah .. <em><em>ambegan gede</em></em> ..kalau yang seperti ini semakin ditradisikian dan diturun temurunkan, dimanakah kemerdekaan sejati kita sebagai manusia, yang oleh Tuhan dijadikan sebagai makhluk yang paling mulia, yang berakal dan (semestinya) bisa membedakan hal yang benar atau batil. Yang semestinya tugas kita hanyalah untuk beribadah kepada-Nya?</p>
<img src="http://sma1jember.info/?ak_action=api_record_view&id=307&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sma1jember.info/2009/08/meh-pitulasan-ana-sing-luput-ya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bangkit dari Mati Gaya</title>
		<link>http://sma1jember.info/2009/07/mati-gaya/</link>
		<comments>http://sma1jember.info/2009/07/mati-gaya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Jul 2009 04:00:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ikhlasul Amal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ayo Lebih Baik!]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sma1jember.info/?p=278</guid>
		<description><![CDATA[Mati gaya? Kehabisan pulsa telepon genggam? Jika di iklan layanan GSM mati gaya gara-gara kehilangan akses ke Facebook, justru dalam kasus blog ini Facebook sempat dituding penyebab kemandegan aktivitas. Memang menjadi tidak-aktif berjamaah, entah akibat kedatangan musim sibuk bersama-sama atau alasan lain yang mendera. Di milis alumni tahun 1988 aktivitas juga berkurang. Aktivitas grup SMAN [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mati gaya? Kehabisan pulsa telepon genggam?</p>

<p>Jika di iklan layanan GSM mati gaya gara-gara kehilangan akses ke
Facebook, justru dalam kasus blog ini Facebook sempat dituding
penyebab kemandegan aktivitas. Memang menjadi tidak-aktif berjamaah,
entah akibat kedatangan musim sibuk bersama-sama atau alasan lain
yang mendera. Di milis alumni tahun 1988 aktivitas juga berkurang.
Aktivitas grup SMAN 1 Jember di Facebook pun sebenarnya biasa-biasa
saja. Kamerad Ekoz menyebut keramaian terjadi pada komunikasi
personal, antarteman.</p>

<p>Barangkali&#8230;</p>

<p><span id="more-278"></span></p>

<p>Apapun, kelesuan tidak perlu terlalu mendalam dibahas. Tidak asyik
dan nanti malah repot mencari dalih. Yang lebih penting
<em>kebangkitan</em> &#8212; ah, ini istilah bulan Mei lalu, sudah lewat!
Maksudku: acara apa yang dapat disuguhkan?</p>

<p>Untuk blog, saya melakukan tindakan drastis mengganti templat
tampilan. Ini gampang, tinggal pilih yang kira-kira sesuai &#8212; aku
sendiri <em>bukan</em> desainer Web. Pilihanku: cari tema WordPress yang
cerah, membuka, dan akomodatif terhadap fasilitas baru yang
ditambahkan. Yaitu&#8230;</p>

<p>Google Friend Connect. Coba saja amati di baris bawah dan kolom
kanan. Ada tempat untuk pertemanan yang disediakan Google. Apalagi
ini? Apakah Facebook tak cukup untuk pertemanan?</p>

<p>Ingat kata-kata hikmah: sejuta teman tetap kurang, satu lawan lebih
dari cukup. Jadi buka semua pintu untuk berteman, membuat jejaring.
Alasan lainnya karena Google layanan yang sangat populer di Web,
sehingga sangat mungkin penggunanya cukup banyak untuk ditambahkan
sebagai fasilitas di sini.</p>

<p>Tidak suka atau ogah? Ya tidak usah diikuti. <img src='http://sma1jember.info/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>

<p>Saya juga akan berusaha menulis tentang Jember, mengikuti gairah
menulis blog yang [berusaha] dihidupkan kembali. Tidak santun
disebut sebagai janji, tapi akan berusaha dilakukan.</p>

<p>Kira-kira begitu. Yuk, semua: bergerak dari mati gaya!</p>
<img src="http://sma1jember.info/?ak_action=api_record_view&id=278&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sma1jember.info/2009/07/mati-gaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Jangan Hanya Pul-Kumpul&#8230;&#8221;</title>
		<link>http://sma1jember.info/2009/05/jangan-hanya-pul-kumpul/</link>
		<comments>http://sma1jember.info/2009/05/jangan-hanya-pul-kumpul/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 May 2009 15:44:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ikhlasul Amal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ayo Lebih Baik!]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sma1jember.info/?p=275</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan penting dan agaknya senantiasa muncul berkaitan dengan alumni dan kegiatan yang diselenggarakan adalah ihwal model acara reuni, acara pul-kumpul, atau reriungan. Hampir semua klub memiliki gaya masing-masing untuk bersosialisasi dan untuk klub alumni: dorongan bertemu, menyegarkan ingatan setelah terbawa masa dalam bilangan dasawarsa akan lebih kuat. Apalagi berkah Web 2.0 sudah di depan mata: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pertanyaan penting dan agaknya senantiasa muncul berkaitan dengan
alumni dan kegiatan yang diselenggarakan adalah ihwal model acara
reuni, acara pul-kumpul, atau reriungan. Hampir semua klub memiliki
gaya masing-masing untuk bersosialisasi dan untuk klub alumni:
dorongan bertemu, menyegarkan ingatan setelah terbawa masa dalam
bilangan dasawarsa akan lebih kuat. Apalagi berkah Web 2.0 sudah di
depan mata: aneka jejaring sosial kian memudahkan peserta untuk
merencanakan hingga menyelenggarakan kegiatan tambahan, yaitu dalam
bentuk pertemuan, kopdar.</p>

<p><span id="more-275"></span></p>

<p>Sekali dua pertemuan di awal tentulah elok: spontanitas, acara
mengalir, dan semua dalam hasrat untuk berjumpa lagi. Hampir semua
penyelenggara pertemuan awal sudah disibukkan oleh cara paling
praktis menghubungi sebanyak mungkin calon peserta dan tidak perlu
repot menyajikan acara. Pembawa acara dadakan, sponsor todongan,
hingga penyaji hiburan tanpa naskah pun tampil spontan.</p>

<p>Langkah berikutnya yang perlu pertimbangan. Acara itu sendiri harus
cukup menarik untuk diulang dan jangan sampai bertabur kehambaran.</p>

<p>Persoalan penting lain adalah sorotan publik &#8212; atau, dalam hal ini,
bagian dari komunitas tersebut yang beritikad baik memikirkan acara.
Tidak mudah lagi menyebut &#8220;makan-makan&#8221;, karena tidak etis di tengah
kondisi sekitar yang &#8220;perlu makan seadanya.&#8221; Perlu tindakan atau
hasil nyata, yang biasanya di forum disebut: reuni jangan hanya
begitu, tapi harus membawa manfaat buat sesuatu yang dijadikan
ikatan bersama.</p>

<p>Untuk alumni SMA tentu ikatan bersama tadi adalah sekolah atau
daerah yang ditinggalkan.</p>

<p>Format paling praktis lazimnya penggalangan sumber daya yang dapat
dialirkan ke sekolah/daerah. Format lainnya adalah mempertemukan
penyediaan dan tuntutan, misalnya pertemuan para investor sumber
daya dengan mereka yang memerlukan akses.</p>

<p>Saya tidak dalam kapasitas mengusulkan formulasi yang lebih pas,
apalagi jika diingat suasana setiap angkatan alumni bervariasi &#8211;
kendati dapat saja pengelompokannya bukan berdasar angkatan alumni,
melainkan jenis lainnya. Yang jelas: saya ingat di grup SMA Negeri 1
Jember di Facebook ada yang sudah mengingatkan perlunya, &#8220;acara
reunian itu jangan hanya pul-kumpul.&#8221;</p>

<p>Jadi, seperti apa, ya?</p>

<p>Coba saja usulkan di komentar tulisan ini: barangkali kandidat
penyelenggara kegiatan reuni mendapat inspirasi atau setidaknya tahu
potensi yang dapat dikembangkan.</p>

<p>Terima kasih sebelumnya.</p>
<img src="http://sma1jember.info/?ak_action=api_record_view&id=275&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sma1jember.info/2009/05/jangan-hanya-pul-kumpul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seorang Syekh dan Beo-nya..</title>
		<link>http://sma1jember.info/2009/04/seorang-syekh-dan-beo-nya/</link>
		<comments>http://sma1jember.info/2009/04/seorang-syekh-dan-beo-nya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Apr 2009 06:43:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>faiz_sahly</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ayo Lebih Baik!]]></category>
		<category><![CDATA[Pengalaman Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sma1jember.info/?p=270</guid>
		<description><![CDATA[  Alkisah, hiduplah seorang Syekh yang sangat ‘alim di sebuah negeri. Sang Syekh ini punya seekor  burung Beo yang begitu disayanginya. Sedemikian sayangnya, sampai-sampai Syekh tadi bertekad untuk melatih Beo-nya agar bisa mengucapkan kalimat-kalimat thoyyibah.                 Dengan tekun dan penuh kasih saying, Beo itu diajari berbagai kalimat thoyibah. Berkat ketekunan sang Syekh, akhirnya berhasil juga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"> </p>

<p class="MsoNormal">Alkisah, hiduplah seorang Syekh yang sangat ‘alim di sebuah negeri. Sang Syekh ini punya seekor<span>  </span>burung Beo yang begitu disayanginya. Sedemikian sayangnya, sampai-sampai Syekh tadi bertekad untuk melatih Beo-nya agar bisa mengucapkan kalimat-kalimat thoyyibah.</p>

<p class="MsoNormal"><span>                </span>Dengan tekun dan penuh kasih saying, Beo itu diajari berbagai kalimat thoyibah. Berkat ketekunan sang Syekh, akhirnya berhasil juga Beo itu mengucapkan “ Laa ‘ilaaha ‘illAllah “. Betapa girang hati sang Syekh atas keberhasilannya itu. Sebagai wujud dari sukacitanya, ditempatkanlah Beo dan sangkarnya di dekat pintu masuk rumah sang Syekh.</p>

<p class="MsoNormal"><span>                </span>Sebagai seorang yang terpandang karena ilmunya, tentulah rumah sang Syekh tak pernah sepi oleh kunjungan tamu yang sekedar bersilaturrahim hingga yang khusus datang untuk menimba ilmu agama kepada beliau ini. Jadi, tiapkali ada tamu yang datang, Beo itu menyambut dengan ucapan “Laa ‘ilaaha ‘illAllah“. Begitu pula saat para tamu itu pulang, Beo pun mengiringi dengan “Laa ‘ilaaha ‘illAllah“.</p>

<p class="MsoNormal"><span>                </span>Demikianlah, kebahagian sang Syekh berlangsung sepanjang hari hingga pada suatu hari yang tidak terduga-duga. Tatkala sang Syekh sedang asyik memberi makan si Beo, datanglah para tamu yang ingin bertemu beliau. Karena tergesa-gesa, sang Syekh lupa menutup pintu sangkar si Beo tersebut. Rupanya, kesempatan ini tidak disia-siakan oleh seekor kucing, yang acap berkeliaran di sekitar kediaman Syekh itu. Maka dengan sekali terkam, matilah si Beo “.. keekkkkkk… “</p>

<p class="MsoNormal"><span>                </span>Begitu nyaring suara si Beo itu, membuat Syekh terperanjat dan segera saja meninggalkan para tamunya. Betapa sedih sang Syekh menyaksikan kematian tragis Beo yang disayanginya. Dengan penuh kegundahan dan diiringi linangan air mata, Syekh pun mengubur si Beo dengan khidmat. Sepeninggal si Beo, Syekh pun menjadi seorang pemurung. Hari-hari banyak dilewati dengan berdiam diri, merenung dan menangis. Tak urung, perubahan ini membuat khawatir para anggota, tetangga serta para sahabat Syekh tersebut.</p>

<p class="MsoNormal"><span>                </span>Berbagai cara diupayakan untuk menghibur Syekh agar melupakan si Beo itu. Para sahabat, kerabat dan tetangga bergantian menawarkan Beo-beo yang lain sebagai pengganti. Tapi semua ditolak oleh Syekh. Demikianlah hal itu berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Hingga pada suatu hari, Syekh mengundang para kerabat, tetangga dan sahabat untuk mendengarkan penjelasan atas sikapnya setelah kematian Beo kesayangannya itu.</p>

<p class="MsoNormal"><span>                </span>“ Terima kasih atas perhatian kalian semua kepadaku. Aku memang bersedih karena Beo-ku mati. Tapi bukan karena itu aku menjadi murung berkepanjangan. Diantara kalian tentu ada yang hadir disini ketika Beo itu mati diterkam oleh kucing yang lapar itu. Kalian tentu masih ingat suara terakhir yang terucap dari mulut Beo itu.. “ keeekkkk..” .. Begitulah yang terucap. Sungguh gundah hatiku, kenapa bukan “ Laa ‘ilaaha ‘illAllah “ yang terluncur dari mulutnya saat menjelang ajal ..<span>  </span>Setelah peristiwa itu, makin khawatirlah aku akan keadaan diriku. <strong>Apakah aku akan mampu menyebut “ Laa ‘ilaaha ‘illAllah “ saat aku mati nanti ? “</strong></p>

<p class="MsoNormal"> </p>
<img src="http://sma1jember.info/?ak_action=api_record_view&id=270&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sma1jember.info/2009/04/seorang-syekh-dan-beo-nya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Florida Theater</title>
		<link>http://sma1jember.info/2008/11/florida-theater/</link>
		<comments>http://sma1jember.info/2008/11/florida-theater/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Nov 2008 21:45:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>johny</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ayo Lebih Baik!]]></category>
		<category><![CDATA[Perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sma1jember.info/?p=228</guid>
		<description><![CDATA[Akhir tahun-tahun 70-an dan awal 80an, hampir setiap malam Minggu saya selalu menonton film India yang diputar di gedung bioskop Misbar (gerimis bubar) di jalan Trunojoyo. Asyik juga menonton di Misbar. Harga tiketnya murah sekali, kalo tidak salah ingat kurang dari seratus rupiah waktu itu. Mungkin nilai itu sekitar dua pertiga sampai setengah dari harga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Akhir tahun-tahun 70-an dan awal 80an, hampir setiap malam Minggu saya selalu menonton film India yang diputar di gedung bioskop  Misbar (gerimis bubar) di jalan Trunojoyo. Asyik juga menonton di Misbar. Harga tiketnya murah sekali, kalo tidak salah ingat kurang dari seratus rupiah waktu itu. Mungkin nilai itu sekitar dua pertiga sampai setengah dari harga tiket di gedung bioskop lainnya. Selain itu ada jeda waktu istirahat setelah sekitar setengah pemutaran film. Penonton bisa <em>jajan</em>, <em>pipis</em> dll. Tapi seingat saya yang paling tidak enak waktu <em>setengah permainan</em> itu, selalu ada seorang ibu tua yang menjadi penonton setia yang selalu (maaf) <em>pipis</em> di tempat. Mungkin, cara pemutaran ini kurang lazim jikalau dibandingkan dengan pemutaran film di gedung-gedung bioskop GNI, Kusuma, Jaya atau Sampurna yang memutar film dari awal hingga tuntas habis. Eh, ternyata cara pemutaran film dengan jeda barang seperempat jam juga terjadi saat saya menonton film di Leiden. Jadi memberi kesempatan penonton untuk menghela nafas sejenak atau menyapa penonton lain yang baragkali dikenal.</p>

<p>Ternyata, Jember sudah punya gedung bioskop jauh lebih lama lagi. Di tahun 1930an, di Jember telah berdiri Florida Theater. Menilik dari namanya, cukup kosmopolit juga. Berdasar film yang diputar pun, agaknya Hollywood dan Bollywood belum sampai membanjiri Jember. Film Perancis dan Jerman menjadi santapan penonton bioskop di Jember. Gedung ini terletak di <em>Schoolstraat</em>. Saya tidak tahu persis dimana tempat itu berada. Di peta tahun 1922, yang saya temukan hanya nama <em>Schoolweg</em>, yang sekarang di jalan&#8230; apa ya? (Maaf saya lupa) Di sepanjang jalan bekas Bank Rakyat Indonesia, SD Katolik Santa Maria, (dulu ada) Sekolah Pendidikan Guru yang berhadapan dengan rumah makan Lestari. Mungkin <em>schoolweg</em> di tahun 30an meningkat peringkatnya menjadi <em>schoolstraat</em>.</p>

<p><span id="more-228"></span></p>

<p>Sebuah advertensi di koran lokal Jember pada awal tahun 1930an, <em>Pembrita</em>, memuat berita tentang film yang akan diputar dalam sepekan di Florida Theater.</p>

<blockquote>
<p><em>Kabar tontonan</em></p>
<p>Dalem minggoe ini, seperti biasa, kombali “Florida” Theater pertoendjoeken film2 jang boleh dibilang mendjadi papatjangnja film jang djempol. Kita seboet sadja “Un Soir de Reveillon”, satoe film Fransch jang kotjak dan menarik, dengen Henri Garat dan Meg Lemmonnier sebagai bintangnja. Film ini moelai di poeter nanti malem dan dd. 21. sedeng doea malem beroentoennja aken dipoeter Ramon Navarro poenja “Daybreak”. Siap jang tida kenal nama Ramon Novarro, itoe Djanoko jang bikin banjak hatinja Srikandi memoekoel lebi keras? Dalem “Daybreak” nanti penonton boekan sadja bisa liat Ramon poenja roman, tapi djoega bisa denger soearanja. Dan dari Kemis sampe Saptoe, dalem “Facing the Music”, pembatja bisa ketawa sampe lebi dari poeas bila liat kotjaknja Stanley Lupino, jang terkenal dalem film “Sleepless Nights”. Dansa, menjanji, muziek dan ketawa!
</p>
<p>
Samentara Martha Eggerth poenja film “Leise Flehen Meine Lieder” dipertoendjoeken pada tanggal 27. Barang siapa jang perna denger soearanja Martha Eggerth, tentoe filmnja tida perloe moesti dipoedjiken lagi, kerna film apa sadja tentoe berharga boeat diliat djika sadja Martha Eggerth toeroet ambil bagian. Tanggal 28 ini film dimain poela dengen sekarang dibarengin sama serie film baroe “Perils of Pauline” (satoe serie film jang toetoerkan satoe kedjadian resia di Tiongkok). Dan dd. 29 serie film “Perils of Pauline” brikoet lain film jang amat loetjoe, ja itoe film “Cohens and Kellys in trouble”. Lebi djaoe pembatja dipersilahken priksa advertentie.</p>
</blockquote>

<p>Ada yang tahu dimanakah gerangan Florida Theater berada? Ada pulakah diantara para warga sma1jember.info ini yang mungkin jadi kawan menonton saya di Misbar?</p>
<img src="http://sma1jember.info/?ak_action=api_record_view&id=228&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sma1jember.info/2008/11/florida-theater/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Guru-Dosen; Indonesia-Leiden</title>
		<link>http://sma1jember.info/2008/11/guru-dosen-indonesia-leiden/</link>
		<comments>http://sma1jember.info/2008/11/guru-dosen-indonesia-leiden/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Nov 2008 10:27:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>faiz_sahly</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ayo Lebih Baik!]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita-cerita Enteng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sma1jember.info/?p=221</guid>
		<description><![CDATA[Tadi buka-buka Buku Tamu, kok ada posting dari Johny &#8221; Yan &#8221; Alfian Khusyairi. Usai mbaca, ceritanya cukup menggelitik, terutama buat teman-2 yang sekarang sedang berkecimpung di dalam dunia pendidikan. Bisa dianggap sebagai kritik ataupun cermin untuk kemajuan dunia pendidikan negeri kita. Dengan seijin Cak Johny, tulisan tersebut saya muat kembali di blog, supaya bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Tadi buka-buka Buku Tamu, kok ada posting dari Johny &#8221; Yan &#8221; Alfian Khusyairi. Usai mbaca, ceritanya cukup menggelitik, terutama buat teman-2 yang sekarang sedang berkecimpung di dalam dunia pendidikan. Bisa dianggap sebagai kritik ataupun cermin untuk kemajuan dunia pendidikan negeri kita.</p>

<p class="MsoNormal">Dengan seijin Cak Johny, tulisan tersebut saya muat kembali di blog, supaya bisa dibaca lebih banyak orang dan bisa didiskusikan secara santai atau pun mendalam. Silakan dibaca&#8230;</p>

<p class="MsoNormal"> </p>

<p class="MsoNormal"><span>(248) Johny</span></p>

<p class="MsoNormal"><span>Wed, </span><span>5  November 2008</span><span> </span><span>03:46:28</span><span> -0800</span><span></span></p>

<p class="MsoNormal"><span> </span></p>

<p>&lt;</p>

<p>p class=&#8221;MsoNormal&#8221;><span><strong>Guru-Dosen; Indonesia-Leiden</strong><span><strong> </strong></span></p>

<p>Setiba di Belanda setahun lalu, saya senang sekali. Harapan untuk bersekolah di negara maju tercapai. Namun, ketika kuliah pertama akan dimulai, saya jadi cemas. Bagaimanakah cara mengajar dan sikap dosen di </span><span>Leiden</span><span>. Sebuah universitas yg di masa colonial merupakan salah satu tempat pelatihan dan pendidikan para ambtenaar sebelum dikirim ke </span><span>Indonesia</span><span>. Sebuah universitas yang sampai sekarang masih dikenal konservatif. Kenapa saya pilih sekolah di </span><span>Leiden</span><span>? Ah, nasi pun telah jadi bubur. Apapun yang akan terjadi, terjadilah.<span> </span></p>

<p>Ternyata bayangan saya tidak sepenuhnya salah. Meski tidak sepenuhnya benar. </span><span>Ada</span><span> dosen yang masih suka mengucapkan kata dom atau stom, yg keduanya berarti bodoh. Atau kata-kata lain yg menjurus kesitu, seperti kira-kira “gunakan otakmu”, atau “kalau kamu mau memutar otakmu”. Sebagian dari dosen juga ada yg mengecilkan arti kolonialisme Belanda di Indonesia, misalnya “yang kami ambil dari </span><span>Indonesia</span><span> kurang dari 10% pendapatan nasional Belanda”. Juga ada kata sinis tentang makanan pokok </span><span>Indonesia</span><span> (Jawa) dengan “your bloody rice”. </span><span>Ada</span><span> juga dosen yg masih merobek proposal mahasiswanya.<span> </span></p>

<p>Terkadang memang tindakan-tindakan tersebut bikin jengkel. Tapi setelah saya ingat-ingat, dulu saat </span><span>SMP</span><span> di Jember pun masih ada guru yg mengeluarkan penghuni sawah, ladang dan kebon binatang, seperti “kebo” dll. Masih ada juga dosen di </span><span>Indonesia</span><span> yg melempar tulisan mahasiswanya (terlepas apa pun persoalannya).<span> </span></p>

<p>Tapi tindakan semacam itu hanya dilakukan oleh sebagian kecil dosen aja. Lebih banyak dari mereka yang sangat baik tindakannya, baik di kelas maupun di luar kelas. Ditraktir kopi, dibayari foto copy dan selalu kasih respons positif terhadap apapun tulisan kita. Baru kemudian diberi kritikan. Tak jarang, malah ada dosen yang sangat menggelikan. Kamar yang saya tempati rupanya dulu tempat tinggal mahasiswa Islamic studies, asal </span><span>Indonesia</span><span> juga. Beberapa kali kawan tersebut mendengar suara takbir di bawah jendelanya. “Allaahu akbar, allaaahu akbar!”. Itu bukanlah seruan adzan, karena panggilan sholat hanya terdengar di dalam mesjid saja. Ternyata itu panggilan dari professor dia yang mau mengajak minum di bar. Ah, rupanya sudah ada profanisasi takbir. Menyerukan takbir bukan mengajak sholat, tapi minum minuman beralkohol di bar&#8230; Adakah hal serupa di </span><span>Indonesia</span><span>? Seorang teman, yang lahir dan besar di Ampel, </span><span>Surabaya</span><span>, pernah bercerita. Saat dia berada di sebuah warung di daerah “lokalisasi” di ujung timur pulau Madura, dia mendengar “Assalaamu’alaikum”. Tentulah sebagian besar yang nongkrong di warung menyahut “Wa’alakumus salaam”. Dan….transaksi birahi tetap berjalan.<span> </span></p>

<p>Salam</span></p>

<p class="MsoNormal"> </p>
<img src="http://sma1jember.info/?ak_action=api_record_view&id=221&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sma1jember.info/2008/11/guru-dosen-indonesia-leiden/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ada maXiat di Idul Fitri&#8230;</title>
		<link>http://sma1jember.info/2008/10/ada-maxiat-di-idul-fitri/</link>
		<comments>http://sma1jember.info/2008/10/ada-maxiat-di-idul-fitri/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Oct 2008 05:51:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>faiz_sahly</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ayo Lebih Baik!]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sma1jember.info/?p=217</guid>
		<description><![CDATA[Rabu lalu, saya bersama isteri dan anak, berkesempatan menunaikan Shalat Ied di Masjid Agung yang terletak di pusat kota Magelang. Kenangan akan Shalat Idul Fitri di Masjid Jami’ Al Baitul Amien seakan bisa terobati di sana. Apalagi saya sudah 3 kali Idul Fitri tidak mudik ke Jember. Namun lebih dari itu, yang berkesan mendalam di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rabu lalu, saya bersama isteri dan anak, berkesempatan menunaikan Shalat Ied di Masjid Agung yang terletak di pusat kota Magelang. Kenangan akan Shalat Idul Fitri di Masjid Jami’ Al Baitul Amien seakan bisa terobati di sana. Apalagi saya sudah 3 kali Idul Fitri tidak mudik ke Jember.</p>

<p>Namun lebih dari itu, yang berkesan mendalam di hati adalah isi khotbah Ied-nya. Disampaikan oleh khatib, bahwa pada tanggal 1 Syawal ini, Iblis beserta jajarannya sedang mempersiapkan diri untuk menyibukkan kita dengan segenap kebahagian dan kegembiraan dalam menyambut Idul Fitri ini. Luapan kegembiraan yang bisa jadi tak terbatas, perlahan menyeret kita yang tidak mawas diri untuk malah mendekati kemungkaran dan menjauhi kema’rufan.</p>

<p>Contoh pertama yang paling nyata diawali dari memandang remeh Ibadah Sunnah. Seperti kita tahu, Khutbah Shalat Ied (Fitri dan Adha) kan “cuma” Sunnah Muakkadah hukumnya. Jadi kalau anda tidak mengikuti, ya nggak apa-apa.. Hal ini terutama terjadi pada kaum wanita yang dengan tidak sabar segera melepas mukenanya saat khutbah masih berlangsung, dengan dalih : “Sumuk.. “, “ Selak mulih, wis ditunggu sedulur-sedulure..”, “Selak lunga mudik.. “ serta beragam “ Selak..” yang lainnya.. Kaum prianya pun jadi “panas” juga melihat keberanian kaum wanita melolos mukenanya. Mereka jadi tidak mau kalah. Tapi kaum adam tidak lantas membalas dengan mencopot sarungnya, tapi segera mengemasi sajadah dan segera berlalu dari Masjid.</p>

<p>Dari sedikit orang yang sudah nggak bisa menahan nafsu ini, akhirnya iblis mendapat jalan untuk ngipas-ngipasi jamaah yang lainnya. “ Ayo.. mulih wae.. wong mung sunnah wae kok, yen ditinggal ora dosa.. “. Akhirnya makin banyaklah yang meninggalkan masjid sebelum sempurna rangkaian ibadah Shalat Id-nya. Di Masjid Al baitul Amien, petugas/Ta’mir bahkan sampai harus “bersaing” dengan khatib hanya untuk mengingatkan jamaah untuk tidak bubar sebelum khutbah selesai. Nah, kalau dihitung hitung, Ramadhan baru berlalu +/- 12 jam, tapi sungguh teramat disayangkan, Ramadhan tidak berbekas apa-apa di hati mereka.</p>

<p>Selanjutnya, sepulang dari Masjid yang penuh ketergesaan, ketidak mampuan menahan diri itu pun berlanjut. Melihat beragam makanan yang uenak-enak tersaji di meja makan, mendorong mereka untuk sebanyak mungkin bisa menikmatinya. Bahkan mungkin sampai perutnya “kemlekaren.. “ alias wuarreg pol. Maklumlah, 1 bulan nggak pernah sarapan. Kapan lagi bisa begini, wong Idul Fitri itu cuma datang setahun sekali kok ya.</p>

<p>Puas dengan makanan di rumah, dilanjutkan dengan berkunjung ke tetangga serta handai taulan. Di situ pun setali tiga uang, suguhan yang enak-enak kembali ditemui. Apalagi kalau ada hidangan yang punya nilai historis tinggi, pastilah akan dicicipi</p>

<p>&#8220;Mangga di pun kedhapi.&#8221;</p>

<p>Dalam kondisi begini, perut kita yang telah 1 bulan terkondisi tenang, otomatis menjadi kaget dan bekerja extra keras.. nggiling dan nggiling terus. Bukan nggak mungkin, resiko terkena penyakit dadakan sangat besar di hari yang suci ini.</p>

<p>Buat yang tua-tua, mungkin akan menyudahi rangkaian sillaturrahim saat mendengar adzan Dzuhur berkumandang, yang dengan segera mengambil air untuk berwudlu dan menjalankan Shalat. Namun, ternyata masih banyak yang lebih eman dengan “njung –unjung”nya. “ Ah.. Shalat Dzuhur mengko wae.. nanggung iki, lagi asyik ngobrol karo sedulur.. Suwe ora ketemu jee..“ Mungkin begitu pikirnya…</p>

<p>Sementara itu, buat yang muda-muda atau yang merasa bersemangat muda, biasanya dengan dalih memeriahkan Idul Fitri, banyak digelar ragam hiburan. Yang paling rame biasanya panggung hiburan ndangdhut atau band. Wis.. dengan kemeriahan yang luar biasa, semua larut dalam kegembiraan yang luar biasa pula. Bahkan tak jarang miras dan narkoba-pun ikut bicara. Sungguh teramat disayangkan.. Naudzu billahi min dzalik.</p>

<p>Patut menjadi keprihatinan kita bersama, bahwa semestinya fitrah manusia yang terlahir suci dan hanya untuk beribadah kepada Sang Khaliq semata, bergeser sedemikian jauh maknanya. Hanya hura-hura dan hura-hura belaka yang nyata buat mereka…</p>

<p>Bila yang seperti ini cara kita merayakan Idul Fitri, jangan lah berharap akan perbaikan perilaku. Jangan pula berharap adanya niatan memperpanjang barokah Ramadhan pada bulan-bulan berikutnya.</p>

<p>Lalu apatah guna berpuasa ?</p>

<p>Ngrumangsani akeh salah karo kanca-kanca kabeh,<br />
Tulusing pangapura teka panjenengan kabeh sing dhak arep-arep.<br />
Matur nuwun.</p>
<img src="http://sma1jember.info/?ak_action=api_record_view&id=217&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sma1jember.info/2008/10/ada-maxiat-di-idul-fitri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keyword &#8230;.</title>
		<link>http://sma1jember.info/2008/09/keyword/</link>
		<comments>http://sma1jember.info/2008/09/keyword/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Sep 2008 09:26:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekoz_guevara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ayo Lebih Baik!]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sma1jember.info/?p=216</guid>
		<description><![CDATA[ini ada titipan tulisan dari Ika Listyaningtyas (class of 88) Sabtu pagi menjelang subuh kulirik HaPe yang tiba-tiba menyala danberbunyi.. SMS masuk &#8220;Ka, tolong buka emailmu&#8221;. Singkat sekali, smsdari seorang sahabat. Sesudah subuhan, karena pagi hari itu tidak ada kegiatan yang harus aku kerjakan aku langkahkan kaki menujukomputer dan menyalakannya. Wich…sudah lama aku tak buka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>i<em>ni ada titipan tulisan dari <strong>Ika Listyaningtyas</strong> (class of 88)</em></p>

<p>Sabtu pagi menjelang subuh kulirik HaPe yang tiba-tiba menyala danberbunyi.. SMS masuk &#8220;Ka, tolong buka emailmu&#8221;. Singkat sekali, smsdari seorang sahabat. Sesudah subuhan, karena pagi hari itu tidak ada kegiatan yang harus aku kerjakan aku langkahkan kaki menujukomputer dan menyalakannya.</p>

<p>Wich…sudah lama aku tak buka email-email…upps banyak juga yang belum kubaca, utamanya dari milis sma tercintaku….pandanganku terhenti pada satu nama, kubuka dan kulihat tanggal nya..sudah tiga hari yang lalu…sebenarnya isinya sederhana…&#8221;Tolong beri aku keywords untuk ikhlas…aku harus berikanHape E-90 ke dosenku, dia pengen, mbak..dan suamiku setuju&#8221;…Aku tidak tahu harus menulis apa, aku jawab via sms &#8220;beri aku waktu, aku hanya merasa koq berlebihan sekali…besok bisa ketemu di UI?&#8221; yang kemudian dijawab &#8220;OK, CU….&#8221;</p>

<p>Ikhlas…sering banget aku mendengar kata-kata ini, dan sering juga aku menghujamkan makna kata ini dalam hatiku…tapi meminta orang lain untuk ikhlas? Memberikan keywords pulak??!!, untuk hal dimana jiwa terikat pada kebendaan, aku tak punya keywords apapun…kuhela nafas panjang…..panjang banget malah, karena ngerasa koq ya berat banget… masih terbayang HP E-90 itu, biasanya kami berdua bertemu di tempat-tempat  yang biasa ada hot spot-nya…, aku biasanya langsung buka program wLAN yang ada di HP itu, untuk buka internet gratis …sambil makan, cerita dan kemudian mengomentari email-email yang dikirimkan teman-teman , baik yang lucu-lucu maupun yang bisa membuat mata kita berdua berkaca-kaca karena kisah yang begitu sedih…HaPe itu juga  menjadi idolaku, tapi belum mau kumiliki, satu-satunya alasan yang kupunya
adalah..terlalu mahal untuk dompetku dan ukurannya weleh dah nyaris kayak bawa batako hehehe…dan sekarang dia mau memberikannya ke orang lain??? Hatiku berbisik…mbok yo kekne aku…hehehe…dasar!!!….(wah, kalo  beneran di kasih, aku bakalan gak bisa mainin lagi deh….)
Allah memang Maha Mengatur, dikesempatan buka puasa bersama anak-anak disebuah yayasan Yatim piatu di Depok sore itu, di hari itu juga, seorang teman mengangsurkan sebuah buku sambil berbisik ` untukmu…bacalah..&#8217;Allah..kusebut nama-Nya saat membaca judulnya.</p>

<p>Buat Apa Shadaqoh?-</p>

<p>”Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian  harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya (QS. Ali Imran: 92).</p>

<p>Dikisahkan  Abu Thalhah ra. Beliau adalah orang Anshar yang paling kaya di Madinah, dan yang dia cintai adlah sebuah taman yang terkenal dengan nama Biyarha. Dan ketika ayat ini turun, beliau bergegas  menuju Rasulullah Saw. Dan berkata&#8221;  Harta yang paling kucintai adalah Biyarha ini. Mulai sekarang , harta ini menjadi shadaqah karena Allah. Aku berharap semoga ini menjadi kebaikan dan menjadi simpanan di sisi Allah. Gunakan kebun ini, wahai Rasulullah,
terserah dirimu…&#8221; 
Ternyata begitu juga pada Zaid ibn Haritsah &#8220;Ya Allah, Engkau tahu bahwa tak ada harta yang lebih kucintai daripada kudaku ini .Aku terpekur merenunginya….sambil berkaca pada diri ini, Apa
yang sudah kukasih ke Allah, dan sanggupkah aku untuk menyerahkan pada Allah sesuatu yang paling kucintai??? Sambil menginstropeksi diri ini aku ingat akan janjiku, kepikir juga untuk mengirimkan email ini pada sahabatku itu sebagai bahan perenungan, kutuliskan firman Allah tadi berikut berlomba-lombanya para sahabat Rasulullah saw dalam menyikapi ayat tersebut dan kutambahkan Tiada satupun yang terjadi tanpa kehendak Allah SWT… kemudian kutekan SEND . Kukirim juga sms padanya &#8220;Aku hanya mampu mengirimimu sebuah hikmah, buka email, besok saat ketemu kita bahas, CU&#8221;</p>
<img src="http://sma1jember.info/?ak_action=api_record_view&id=216&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sma1jember.info/2008/09/keyword/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>1 ramadhan</title>
		<link>http://sma1jember.info/2008/09/1-ramadhan/</link>
		<comments>http://sma1jember.info/2008/09/1-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Sep 2008 08:03:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fikik</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ayo Lebih Baik!]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sma1jember.info/?p=213</guid>
		<description><![CDATA[Ba’da salam sholat maghrib di awal ramadhan, terasa getar HPku. Masuk SMS dari istriku “bi, belum selesai ngajinya? Ummi pengin habis maghrib kita kumpul sekeluarga”. Serius amat istriku, kata-kata cinta yang biasanya mengawali SMS nggak nampak lagi. ada apa nih??? Sejurus kemudian, sesampainya dirumah kulihat anak-anaku udah rapi dengan baju kokonya. Si kecil ‘nida’ nampak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ba’da salam sholat maghrib di awal ramadhan, terasa getar HPku. Masuk SMS dari istriku “bi, belum selesai ngajinya? Ummi pengin habis maghrib kita kumpul sekeluarga”. Serius amat istriku, kata-kata cinta yang biasanya mengawali SMS nggak nampak lagi. ada apa nih???</p>

<p>Sejurus kemudian, sesampainya dirumah kulihat anak-anaku udah rapi dengan baju kokonya. Si kecil ‘nida’ nampak cantik dengan mukena merah mudanya. Wajah mereka nampak gembira, seolah-olah mereka sedang menyambut datangnya tamu agung yang selalu dirindukan. Istriku, disudut kursi tamu sedang melantunkan kalam Ilahi. Tak terasa menetes air mataku, rutinitas aktivitas diluar membuatku lalai dalam menyambut ramadhan.</p>

<p>Setelah mandi kupanggil anak-anakku. Gazie, hanzhalah, tholhah, nida sini duduk melingkar dekat abi-ummi.</p>

<p>Assalamu ‘alaikum Wr. Wb. ba’da tahmid dan shalawat, kita harus bersyukur kepada Allah. Kalian tahu kenapa kita harus bersyukur? Karena kita bertemu dengan bulan ramadhan lagi, anakku saling berebut memberikan jawaban.</p>

<p>‘Ya, sebetulnya banyak sekali mengapa kita harus bersyukur. Misal, hidung gazie yang menghadap ke bawah dan bibir tholhah yang datar di bawah hidung tidak miring ke atas (vertical) dipipi. Kalian pernah berdo’a ‘Allohumma bariklana fi rajaban wa sya’ban wabalighna ramadhan?</p>

<p>‘Udah di ajari bi, tapi nggak pernah berdo’a’.</p>

<p>‘Nah betapa sayangnya Allah, kalian tidak pernah minta tetapi kalian diberi, diberi kesempatan bertemu dengan ramadhan. Makanya ramadhan kali ini harus jadi ramadhan terbaik. Apa yang mau kalian lakukan di bulan ini? Berapa target tilawah kalian?</p>

<p>‘Gazie 1 juz/ hari. Tholhah ½ juz. Hanzhalah 2 juz. Mendengar adiknya 2 juz, gazie menaikkan target jadi 3 juz’. Sholat traweh tiap malam, subuh berjamaah ke masjid. Trus habis subuh mau jalan-jalan.</p>

<p>tholhah, minta uang 500 setiap hari untuk infaq.</p>

<p>‘semangat kali kalian buat target, tapi ingat, target harus disesuaikan dengan kemampuan. Selama ini kalian tilawah hanya 5 halaman/ hari, sekarang target kalian 3 juz (60 hal) apa bisa?</p>

<p>Insya Allah, mudah-mudahan kami bisa memenuhi target.</p>

<p>mudah-mudahan Allah memberi kemampuan pada kita semua, menyelesaikan ramadhan dengan baik tidak hanya mendapat lapar dan dahaga.</p>

<p>Adzan isya’ udah terdengar. Yok, kita bersiap ke masjid, jangan sampai kita nggak kebagian tempat.</p>

<p>1 ramadhan 1429 h</p>

<p class="MsoNormal">banda aceh</p>
<img src="http://sma1jember.info/?ak_action=api_record_view&id=213&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sma1jember.info/2008/09/1-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

