Di Luar Riuh Rencana Reuni: Terjujur Versi Integritas UN

Bukan, tulisan kali ini bukan tentang agenda Seribu Alumni Pulang Kampung, tetapi lebih dalam lagi: SMA Negeri 1 Jember meraih peringkat keenam nasional sekolah paling jujur dan terbaik se-Jawa Timur berdasarkan Indeks Integritas UN 2015. Benar, begitulah adanya.

Berita peringkat nasional:

Di penghujung tahun lalu, Kemdikbud mengeluarkan daftar 503 sekolah dengan indeks integritas UN tertinggi dan konsisten selama enam tahun. Para kepala sekolah dari 503 institusi jenjang SMP dan SMA sederajat itu pun diundang ke Jakarta untuk menerima penghargaan dari Mendikbud Anies Baswedan dan disaksikan langsung oleh Presiden Joko Widodo. Dari daftar tersebut, berikut sekolah paling jujur se-Indonesia, seperti dirangkum Okezone, Selasa (6/1/2016).

Sumber: Sekolah Paling Jujur Se-Indonesia

Continue reading “Di Luar Riuh Rencana Reuni: Terjujur Versi Integritas UN”

“Investor Malaikat” untuk Membangun Kampung Halaman

Di acara reuni alumni angkatan di perguruan tinggi, saya mengobrol dengan teman yang sudah berhasil menjadi pengusaha di ibukota dan salah satu ide yang dia paparkan adalah “investor malaikat” untuk alumni perguruan tinggi yang bersedia mengembangkan bisnis di kampung asalnya. Latar belakang pendidikan si calon pelaku bisnis menjadi pertimbangan juga; sesuatu yang pantas menurut saya, karena dengan demikian tidak sia-sialah ybs. belajar di perguruan tinggi sesuai kesukaannya.

Ada tiga poin yang saya catat: Continue reading ““Investor Malaikat” untuk Membangun Kampung Halaman”

dari Anda untuk senyum mereka

“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab- kitab, dan nabi- nabi, dan memberikan harta yang dicintaiya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang- orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang- orang yang benar, dan mereka itulah orang- orang yang bertakwa.” (Al Baqarah : 177)

Kami purnawirawan kelas Sosial 1 SMASa angkatan lulus 2007, mengadakan kegiatan bakti sosial pada bulan Ramadhan ini. Bertempat di Yayasan Penolong Pendidikan Pengajaran Anak Yatim “RAUDLATUL AKBAR” yang beralamat di Jl. Jend Basuki Rachmad no. 58 Telp. 7783822, 400 m Selatan Yorn Armed 8 Tegal Besar Kec. Kaliwates Kab. Jember. Yayasan Penolong Pendidikan Pengajaran Anak Yatim Raudlatul Akbar Jember adalah salah satu yayasan yang bergerak dibidang pendidikan untuk menolong anak- anak yatim, keluarga tidak mampu dan terlantar, fakir- fakir miskin. Yayasan pimpinan Drs. H. Moch Zain Ali Ridlo ini didirikan sejak 1980, dimana beliau sebelumnya telah mendirikan yayasan pendidikan anak yatim pertama di Kabupaten Jember, yaitu di daerah gebang pada tahun 1969.Pada Tahun pelajara 2010/ 2011 Raudlatul Akbar mengasuh:

TK/RA : 75 siswa

MI : 59 siswa

MTs : 76 siswa

MA : 22 siswa

Kursus Keterampilan : 2

siswaJumlah keseluruhan nanda asuh 234 siswa, sebagian siswa dipenuhi keperluan sehari- hari termasuk seragam dan biaya sekolahnya.

Kepedulian teman- teman purnawirawan Sosial 1 ini tentunya ingin direalisasikan bersama dengan para dermawan agar dapat meringankan beban saudara kita yang kurang beruntung. Rencananya kami akan menyumbangkan beras, pakaian layak pakai, buku- buku, serta perangkat ibadah. Apabila Saudara turut pula ingin menyisihkan sebagian harta utuk saudara di Raudlatul Akbar, dapat ditransfer ke rekening mandiri 143-000-501-5209 atas nama Zilfana Izzatul Lailiyah (085743528555), atau dapat diatar ke alamat Jl. Sumatera gang VII no.61, Sumbersari, Jember. Penyerahan bantuan paling lambat tanggal 18 Agustus 2010, atas perhatian dan bantuan saudara kami hanya dapat mengucapkan terima kasih yang sebesarnya, hanya Allah yang dapat membalasnya.

Terima kasih ^^

Meh Pitulasan .. ana sing luput ya ?

bendera5

Sebentar lagi, tepatnya hari SENIN PAHING kita Bangsa Indonesia akan mengenang dan memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 2009. Secara resmi, negara kita sudah berusia 64 tahun. Kalau diukur dari umur manusia, maka umur segitu sudah terbilang “lampu Kuning banget” bahkan condong kemerah-merahan alias umur siap-siap untuk dijemput oleh Malaikat Izrail. Sebab, menurut Islam, umur sebuah umat mengikuti umur Nabinya. Kalau nabi Muhammad wafat pada umur 63 tahun, maka umur rata-rata umat Islam berkisar pada usia 60 tahunan, kurang atau lebih.

Tapi, kalau dikaitkan dengan umur sebuah negara, 64 tahun itu bisa terbilang masih bocah atau bisa jadi sudah dewasa. Lho kenapa masih bocah? Apakah masih kurang contoh bagi kita tentang perilaku pejabat negara atau tokoh masyarakat yang begitu mbocahi alias tidak bisa bersikap sebagai panutan, yang bisa mengayomi dan melindungi. Kampanye Pemilu Legislatif 2009 yang baru saja berlalu sudah membuktikan bahwa banyak diantara kita masih terbilang mbocahi dalam bertindak.

Kabeh pada rebutan panggonan kanggo masang gendera..

Kabeh pada rebutan pameran janji ..

Kabeh uga pada rebutan mblenjani janji, nek dong ora kepilih (utawa nek kepilih .. )

Kepiye Jal ?

Eit.. tapi bangsa kita sebenarnya juga sudah cukup dewasa. Terbukti saat Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden, rakyat dengan penuh sukacita mendatangi TPS untuk memberikan dukungan kepada Calon yang dipercayainya. Alhasil, pasca pemilu tidak terjadi kerawanan yang berujung kepada kerusuhan atau pun keributan seperti yang dikhawatirkan banyak pihak. Semua berjalan dengan baik hingga akhirnya tanggal 17 Juli 2009 hari Jumat Legi, kita semua dikejutkan oleh njebglug-nya bom di Hotel Je Dabelyu Marriot dan Ritz Charlton.

Gara-gara jeblugan bom ini pulalah, sobat kita Cak Eko Setiawan menjadi gundah lantaran tim balbalan sing kondhang sak jagad, idola beliauw .. tidak jadi maju ke tampil untuk melawan pasukan pak Benny Dollo. Beragam spekulasi bergulir dan menggelinding cepat menabrak logika awam tentang apa motif kejadian-kejadian itu. Tak luput pula motif spekulatif bernada ngawur bahwa yang njeblugke bom itu disuruh sama Liverpool ( .. dalam bahasa Cak Ekos : Looserpool .. ) atau kongkonane Mas Drogba bahkan mungkin Propesor Wenger, yang kita tahu merupakan lawan-lawan berat MU di kompetisi Liga Inggris kemarin, sekarang dan esok nanti ..

Pasca pengeboman ini pun, kita melihat kembali perilaku mbocahi dari punggawa negeri ini, yang saling bersilat lidah di media untuk membela atau memojokkan pihak lain. Sungguh tidak patut untuk disaksikan apalagi diikuti. Untuk orang-orang sekelas beliauw, semestinya dipaparkan fakta-fakta strategis untuk mencegah terulangnya jeblugan bom semacam itu, menenangkan rakyat sekaligus menggugah rakyat untuk tetap bersatu dan waspada. Bukannya melansir berita yang meresahkan bahkan bisa memecah belah persatuan warga yang sejauh ini juga masih pasang surut kondisinya.

Tapi, sudahlah.. Sementara ini, semua sudah berlalu dengan ditetapkannya sejumlah nama sebagai pelaku utama jeblugan bom tersebut. Tercatat ada Ibrahim The Florist, Dani Dwi Permana si Bocah Gundah, Nana Ichwan Maulana, Eko Peyang dan Air Setiawan Asy Syahid ( ? .. jare sing ndukung .. ) yang resmi beraksi dalam insiden itu. Sejenak kita bisa lega dengan temuan ini.

Kembali ke Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Yang jelas, malam Senin besok, di desa-desa, kampung-kampung, perumahan-perumahan, masjid atau tempat ibadah lainnya, bakal diselenggarakan acara Tirakatan Pitulasan untuk memperingati perjuangan para pahlawan dalam membebaskan negeri ini dari cengkeraman penjajah kala itu. Terlepas pula dari sinyalemen .. (waduh opo kuwi .. ternyata artine indication; suspicion; assumption) .. bahwa sejatinya bangsa dan negara kita ini belum merdeka. Terbukti dengan laporan berbagai analis keuangan tentang makin membelitnya utang negara kita, makin tidak dihormatinya kedaulatan kita, makin merosotnya derajat kehidupan kita serta berbagai tendensi negatif yang menerpa bangsa ini terus menerus.

Saya lantas berpikir, “Apa yang salah dengan bangsa dan negara ini ya?” Tercetus satu hal di benak saya. Kita ini ngakunya bangsa yang berke-Tuhanan Yang Maha Esa. Tapi coba tengok saat kita memperingati acara Pitulasan. Benarkah kita benar-benar menghadirkan Tuhan di hati dan lingkungan kita ? Rangkaian acara Pitulasan yang dikemas dalam berbagai lomba, baik itu lomba anak-anak atau pun orang dewasa, hampir dipastikan tidak lebih sekedar “Pantes-pantese nek Pitulasan yo nggawe lomba-lomba sing rame ..” bahkan tidak sedikit yang terbilang konyol dan tidak patut dipertontonkan dimuka publik. Misal saja, Bal-balan ibu-ibu dengan mengenakan sarung. Dimana kalau musik dibunyikan, semua peserta harus berhenti dan berjoget dulu hingga musik dimatikan. Atau pula bal-balan bapak-bapak dengan mengenakan daster. Opo yo patut koyo ngono kuwi ? Wong tuwo kok mung didadekake geguyon bocah ..

Juga saat rangkaian itu ditutup dengan Pentas Pitulasan atau Malam Tirakatan, upaya mewarnai dengan penuh rasa syukur kok makin tipis juga. Hampir semua acara mengedepankan kegembiraan, yang kadang berlebihan. Wujud syukur serta keprihatinan terhadap nasib negara dan bangsa serta wujud terima kasih kepada mereka yang telah menyabung nyawa untuk negeri ini, seperti makin jauh saja.. Betapa gundahnya hati para pejuang negeri ini di alam penantian ketika menyaksikan kita lalai untuk bersyukur kepada Tuhannya .. Duh, Gusti .. Nyuwun agunging pangaksami ..

Kalaupun dalam acara itu juga dipanjatkan doa-doa, sepertinya hanya sebagai kepantasan seremonial saja. Bagaimana doa bisa didengar oleh Tuhan, kalau kita yang memanjatkan hanya sebatas di bibir. Sedangkan hati kita berada di tempat lain .. Akankah malaikat mau mendekat untuk menjemput doa kita dalam suasana yang penuh hingar bingar seperti itu? Ah, sungguh kita makhluk yang dhalim dan pelupa..

Yah .. ambegan gede ..kalau yang seperti ini semakin ditradisikian dan diturun temurunkan, dimanakah kemerdekaan sejati kita sebagai manusia, yang oleh Tuhan dijadikan sebagai makhluk yang paling mulia, yang berakal dan (semestinya) bisa membedakan hal yang benar atau batil. Yang semestinya tugas kita hanyalah untuk beribadah kepada-Nya?

Bangkit dari Mati Gaya

Mati gaya? Kehabisan pulsa telepon genggam?

Jika di iklan layanan GSM mati gaya gara-gara kehilangan akses ke Facebook, justru dalam kasus blog ini Facebook sempat dituding penyebab kemandegan aktivitas. Memang menjadi tidak-aktif berjamaah, entah akibat kedatangan musim sibuk bersama-sama atau alasan lain yang mendera. Di milis alumni tahun 1988 aktivitas juga berkurang. Aktivitas grup SMAN 1 Jember di Facebook pun sebenarnya biasa-biasa saja. Kamerad Ekoz menyebut keramaian terjadi pada komunikasi personal, antarteman.

Barangkali…

Continue reading “Bangkit dari Mati Gaya”

“Jangan Hanya Pul-Kumpul…”

Pertanyaan penting dan agaknya senantiasa muncul berkaitan dengan alumni dan kegiatan yang diselenggarakan adalah ihwal model acara reuni, acara pul-kumpul, atau reriungan. Hampir semua klub memiliki gaya masing-masing untuk bersosialisasi dan untuk klub alumni: dorongan bertemu, menyegarkan ingatan setelah terbawa masa dalam bilangan dasawarsa akan lebih kuat. Apalagi berkah Web 2.0 sudah di depan mata: aneka jejaring sosial kian memudahkan peserta untuk merencanakan hingga menyelenggarakan kegiatan tambahan, yaitu dalam bentuk pertemuan, kopdar.

Continue reading ““Jangan Hanya Pul-Kumpul…””

Seorang Syekh dan Beo-nya..

 

Alkisah, hiduplah seorang Syekh yang sangat ‘alim di sebuah negeri. Sang Syekh ini punya seekor  burung Beo yang begitu disayanginya. Sedemikian sayangnya, sampai-sampai Syekh tadi bertekad untuk melatih Beo-nya agar bisa mengucapkan kalimat-kalimat thoyyibah.

                Dengan tekun dan penuh kasih saying, Beo itu diajari berbagai kalimat thoyibah. Berkat ketekunan sang Syekh, akhirnya berhasil juga Beo itu mengucapkan “ Laa ‘ilaaha ‘illAllah “. Betapa girang hati sang Syekh atas keberhasilannya itu. Sebagai wujud dari sukacitanya, ditempatkanlah Beo dan sangkarnya di dekat pintu masuk rumah sang Syekh.

                Sebagai seorang yang terpandang karena ilmunya, tentulah rumah sang Syekh tak pernah sepi oleh kunjungan tamu yang sekedar bersilaturrahim hingga yang khusus datang untuk menimba ilmu agama kepada beliau ini. Jadi, tiapkali ada tamu yang datang, Beo itu menyambut dengan ucapan “Laa ‘ilaaha ‘illAllah“. Begitu pula saat para tamu itu pulang, Beo pun mengiringi dengan “Laa ‘ilaaha ‘illAllah“.

                Demikianlah, kebahagian sang Syekh berlangsung sepanjang hari hingga pada suatu hari yang tidak terduga-duga. Tatkala sang Syekh sedang asyik memberi makan si Beo, datanglah para tamu yang ingin bertemu beliau. Karena tergesa-gesa, sang Syekh lupa menutup pintu sangkar si Beo tersebut. Rupanya, kesempatan ini tidak disia-siakan oleh seekor kucing, yang acap berkeliaran di sekitar kediaman Syekh itu. Maka dengan sekali terkam, matilah si Beo “.. keekkkkkk… “

                Begitu nyaring suara si Beo itu, membuat Syekh terperanjat dan segera saja meninggalkan para tamunya. Betapa sedih sang Syekh menyaksikan kematian tragis Beo yang disayanginya. Dengan penuh kegundahan dan diiringi linangan air mata, Syekh pun mengubur si Beo dengan khidmat. Sepeninggal si Beo, Syekh pun menjadi seorang pemurung. Hari-hari banyak dilewati dengan berdiam diri, merenung dan menangis. Tak urung, perubahan ini membuat khawatir para anggota, tetangga serta para sahabat Syekh tersebut.

                Berbagai cara diupayakan untuk menghibur Syekh agar melupakan si Beo itu. Para sahabat, kerabat dan tetangga bergantian menawarkan Beo-beo yang lain sebagai pengganti. Tapi semua ditolak oleh Syekh. Demikianlah hal itu berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Hingga pada suatu hari, Syekh mengundang para kerabat, tetangga dan sahabat untuk mendengarkan penjelasan atas sikapnya setelah kematian Beo kesayangannya itu.

                “ Terima kasih atas perhatian kalian semua kepadaku. Aku memang bersedih karena Beo-ku mati. Tapi bukan karena itu aku menjadi murung berkepanjangan. Diantara kalian tentu ada yang hadir disini ketika Beo itu mati diterkam oleh kucing yang lapar itu. Kalian tentu masih ingat suara terakhir yang terucap dari mulut Beo itu.. “ keeekkkk..” .. Begitulah yang terucap. Sungguh gundah hatiku, kenapa bukan “ Laa ‘ilaaha ‘illAllah “ yang terluncur dari mulutnya saat menjelang ajal ..  Setelah peristiwa itu, makin khawatirlah aku akan keadaan diriku. Apakah aku akan mampu menyebut “ Laa ‘ilaaha ‘illAllah “ saat aku mati nanti ? “

 

Florida Theater

Akhir tahun-tahun 70-an dan awal 80an, hampir setiap malam Minggu saya selalu menonton film India yang diputar di gedung bioskop Misbar (gerimis bubar) di jalan Trunojoyo. Asyik juga menonton di Misbar. Harga tiketnya murah sekali, kalo tidak salah ingat kurang dari seratus rupiah waktu itu. Mungkin nilai itu sekitar dua pertiga sampai setengah dari harga tiket di gedung bioskop lainnya. Selain itu ada jeda waktu istirahat setelah sekitar setengah pemutaran film. Penonton bisa jajan, pipis dll. Tapi seingat saya yang paling tidak enak waktu setengah permainan itu, selalu ada seorang ibu tua yang menjadi penonton setia yang selalu (maaf) pipis di tempat. Mungkin, cara pemutaran ini kurang lazim jikalau dibandingkan dengan pemutaran film di gedung-gedung bioskop GNI, Kusuma, Jaya atau Sampurna yang memutar film dari awal hingga tuntas habis. Eh, ternyata cara pemutaran film dengan jeda barang seperempat jam juga terjadi saat saya menonton film di Leiden. Jadi memberi kesempatan penonton untuk menghela nafas sejenak atau menyapa penonton lain yang baragkali dikenal.

Ternyata, Jember sudah punya gedung bioskop jauh lebih lama lagi. Di tahun 1930an, di Jember telah berdiri Florida Theater. Menilik dari namanya, cukup kosmopolit juga. Berdasar film yang diputar pun, agaknya Hollywood dan Bollywood belum sampai membanjiri Jember. Film Perancis dan Jerman menjadi santapan penonton bioskop di Jember. Gedung ini terletak di Schoolstraat. Saya tidak tahu persis dimana tempat itu berada. Di peta tahun 1922, yang saya temukan hanya nama Schoolweg, yang sekarang di jalan… apa ya? (Maaf saya lupa) Di sepanjang jalan bekas Bank Rakyat Indonesia, SD Katolik Santa Maria, (dulu ada) Sekolah Pendidikan Guru yang berhadapan dengan rumah makan Lestari. Mungkin schoolweg di tahun 30an meningkat peringkatnya menjadi schoolstraat.

Continue reading “Florida Theater”

Guru-Dosen; Indonesia-Leiden

Tadi buka-buka Buku Tamu, kok ada posting dari Johny ” Yan ” Alfian Khusyairi. Usai mbaca, ceritanya cukup menggelitik, terutama buat teman-2 yang sekarang sedang berkecimpung di dalam dunia pendidikan. Bisa dianggap sebagai kritik ataupun cermin untuk kemajuan dunia pendidikan negeri kita.

Dengan seijin Cak Johny, tulisan tersebut saya muat kembali di blog, supaya bisa dibaca lebih banyak orang dan bisa didiskusikan secara santai atau pun mendalam. Silakan dibaca…

 

(248) Johny

Wed, 5 November 2008 03:46:28 -0800

 

<

p class=”MsoNormal”>Guru-Dosen; Indonesia-Leiden 

Setiba di Belanda setahun lalu, saya senang sekali. Harapan untuk bersekolah di negara maju tercapai. Namun, ketika kuliah pertama akan dimulai, saya jadi cemas. Bagaimanakah cara mengajar dan sikap dosen di Leiden. Sebuah universitas yg di masa colonial merupakan salah satu tempat pelatihan dan pendidikan para ambtenaar sebelum dikirim ke Indonesia. Sebuah universitas yang sampai sekarang masih dikenal konservatif. Kenapa saya pilih sekolah di Leiden? Ah, nasi pun telah jadi bubur. Apapun yang akan terjadi, terjadilah. 

Ternyata bayangan saya tidak sepenuhnya salah. Meski tidak sepenuhnya benar. Ada dosen yang masih suka mengucapkan kata dom atau stom, yg keduanya berarti bodoh. Atau kata-kata lain yg menjurus kesitu, seperti kira-kira “gunakan otakmu”, atau “kalau kamu mau memutar otakmu”. Sebagian dari dosen juga ada yg mengecilkan arti kolonialisme Belanda di Indonesia, misalnya “yang kami ambil dari Indonesia kurang dari 10% pendapatan nasional Belanda”. Juga ada kata sinis tentang makanan pokok Indonesia (Jawa) dengan “your bloody rice”. Ada juga dosen yg masih merobek proposal mahasiswanya. 

Terkadang memang tindakan-tindakan tersebut bikin jengkel. Tapi setelah saya ingat-ingat, dulu saat SMP di Jember pun masih ada guru yg mengeluarkan penghuni sawah, ladang dan kebon binatang, seperti “kebo” dll. Masih ada juga dosen di Indonesia yg melempar tulisan mahasiswanya (terlepas apa pun persoalannya). 

Tapi tindakan semacam itu hanya dilakukan oleh sebagian kecil dosen aja. Lebih banyak dari mereka yang sangat baik tindakannya, baik di kelas maupun di luar kelas. Ditraktir kopi, dibayari foto copy dan selalu kasih respons positif terhadap apapun tulisan kita. Baru kemudian diberi kritikan. Tak jarang, malah ada dosen yang sangat menggelikan. Kamar yang saya tempati rupanya dulu tempat tinggal mahasiswa Islamic studies, asal Indonesia juga. Beberapa kali kawan tersebut mendengar suara takbir di bawah jendelanya. “Allaahu akbar, allaaahu akbar!”. Itu bukanlah seruan adzan, karena panggilan sholat hanya terdengar di dalam mesjid saja. Ternyata itu panggilan dari professor dia yang mau mengajak minum di bar. Ah, rupanya sudah ada profanisasi takbir. Menyerukan takbir bukan mengajak sholat, tapi minum minuman beralkohol di bar… Adakah hal serupa di Indonesia? Seorang teman, yang lahir dan besar di Ampel, Surabaya, pernah bercerita. Saat dia berada di sebuah warung di daerah “lokalisasi” di ujung timur pulau Madura, dia mendengar “Assalaamu’alaikum”. Tentulah sebagian besar yang nongkrong di warung menyahut “Wa’alakumus salaam”. Dan….transaksi birahi tetap berjalan. 

Salam

 

ada maXiat di Idul Fitri…

Rabu lalu, saya bersama isteri dan anak, berkesempatan menunaikan Shalat Ied di Masjid Agung yang terletak di pusat kota Magelang. Kenangan akan Shalat Idul Fitri di Masjid Jami’ Al Baitul Amien seakan bisa terobati di sana. Apalagi saya sudah 3 kali Idul Fitri tidak mudik ke Jember.

Namun lebih dari itu, yang berkesan mendalam di hati adalah isi khotbah Ied-nya. Disampaikan oleh khatib, bahwa pada tanggal 1 Syawal ini, Iblis beserta jajarannya sedang mempersiapkan diri untuk menyibukkan kita dengan segenap kebahagian dan kegembiraan dalam menyambut Idul Fitri ini. Luapan kegembiraan yang bisa jadi tak terbatas, perlahan menyeret kita yang tidak mawas diri untuk malah mendekati kemungkaran dan menjauhi kema’rufan.

Contoh pertama yang paling nyata diawali dari memandang remeh Ibadah Sunnah. Seperti kita tahu, Khutbah Shalat Ied (Fitri dan Adha) kan “cuma” Sunnah Muakkadah hukumnya. Jadi kalau anda tidak mengikuti, ya nggak apa-apa.. Hal ini terutama terjadi pada kaum wanita yang dengan tidak sabar segera melepas mukenanya saat khutbah masih berlangsung, dengan dalih : “Sumuk.. “, “ Selak mulih, wis ditunggu sedulur-sedulure..”, “Selak lunga mudik.. “ serta beragam “ Selak..” yang lainnya.. Kaum prianya pun jadi “panas” juga melihat keberanian kaum wanita melolos mukenanya. Mereka jadi tidak mau kalah. Tapi kaum adam tidak lantas membalas dengan mencopot sarungnya, tapi segera mengemasi sajadah dan segera berlalu dari Masjid.

Dari sedikit orang yang sudah nggak bisa menahan nafsu ini, akhirnya iblis mendapat jalan untuk ngipas-ngipasi jamaah yang lainnya. “ Ayo.. mulih wae.. wong mung sunnah wae kok, yen ditinggal ora dosa.. “. Akhirnya makin banyaklah yang meninggalkan masjid sebelum sempurna rangkaian ibadah Shalat Id-nya. Di Masjid Al baitul Amien, petugas/Ta’mir bahkan sampai harus “bersaing” dengan khatib hanya untuk mengingatkan jamaah untuk tidak bubar sebelum khutbah selesai. Nah, kalau dihitung hitung, Ramadhan baru berlalu +/- 12 jam, tapi sungguh teramat disayangkan, Ramadhan tidak berbekas apa-apa di hati mereka.

Selanjutnya, sepulang dari Masjid yang penuh ketergesaan, ketidak mampuan menahan diri itu pun berlanjut. Melihat beragam makanan yang uenak-enak tersaji di meja makan, mendorong mereka untuk sebanyak mungkin bisa menikmatinya. Bahkan mungkin sampai perutnya “kemlekaren.. “ alias wuarreg pol. Maklumlah, 1 bulan nggak pernah sarapan. Kapan lagi bisa begini, wong Idul Fitri itu cuma datang setahun sekali kok ya.

Puas dengan makanan di rumah, dilanjutkan dengan berkunjung ke tetangga serta handai taulan. Di situ pun setali tiga uang, suguhan yang enak-enak kembali ditemui. Apalagi kalau ada hidangan yang punya nilai historis tinggi, pastilah akan dicicipi

“Mangga di pun kedhapi.”

Dalam kondisi begini, perut kita yang telah 1 bulan terkondisi tenang, otomatis menjadi kaget dan bekerja extra keras.. nggiling dan nggiling terus. Bukan nggak mungkin, resiko terkena penyakit dadakan sangat besar di hari yang suci ini.

Buat yang tua-tua, mungkin akan menyudahi rangkaian sillaturrahim saat mendengar adzan Dzuhur berkumandang, yang dengan segera mengambil air untuk berwudlu dan menjalankan Shalat. Namun, ternyata masih banyak yang lebih eman dengan “njung –unjung”nya. “ Ah.. Shalat Dzuhur mengko wae.. nanggung iki, lagi asyik ngobrol karo sedulur.. Suwe ora ketemu jee..“ Mungkin begitu pikirnya…

Sementara itu, buat yang muda-muda atau yang merasa bersemangat muda, biasanya dengan dalih memeriahkan Idul Fitri, banyak digelar ragam hiburan. Yang paling rame biasanya panggung hiburan ndangdhut atau band. Wis.. dengan kemeriahan yang luar biasa, semua larut dalam kegembiraan yang luar biasa pula. Bahkan tak jarang miras dan narkoba-pun ikut bicara. Sungguh teramat disayangkan.. Naudzu billahi min dzalik.

Patut menjadi keprihatinan kita bersama, bahwa semestinya fitrah manusia yang terlahir suci dan hanya untuk beribadah kepada Sang Khaliq semata, bergeser sedemikian jauh maknanya. Hanya hura-hura dan hura-hura belaka yang nyata buat mereka…

Bila yang seperti ini cara kita merayakan Idul Fitri, jangan lah berharap akan perbaikan perilaku. Jangan pula berharap adanya niatan memperpanjang barokah Ramadhan pada bulan-bulan berikutnya.

Lalu apatah guna berpuasa ?

Ngrumangsani akeh salah karo kanca-kanca kabeh,
Tulusing pangapura teka panjenengan kabeh sing dhak arep-arep.
Matur nuwun.