Usai Reuni, Jangan Lupakan Rencana Baik

Reuni Perak, 25 tahun, untuk angkatan bertahun lulus 1988 selesai dilaksanakan tanggal 11 lalu, hampir sepekan sudah. Ekspresi wajah yang gembira bertemu teman-teman lama – boleh dikatakan hampir semua alumnus bertemu teman yang benar-benar belum pernah ditemui sejak lulus, ada saja! Semua gembira, terpancar dari foto-foto yang menyemarakkan grup alumni di Facebook. Para kontributor foto masih berkelanjutan memasang hasil bidikan, sesuatu yang lumrah untuk zaman kini namun mewah seperempat abad lalu.

Kita telah melampaui batas yang tak terbayangkan di masa silam.
Kami telah berkelana melewati sejumlah pengalaman: sepercik air dalam sejarah manusia, namun tetaplah bersemai aneka hikmah penuh makna.

Continue reading “Usai Reuni, Jangan Lupakan Rencana Baik”

Undangan “Reuni Perak 2013” untuk Alumni Tahun Lulus 1988

Tahun 2013 ini menarik untuk hal-hal yang berkaitan dengan angka 1988, yaitu “dua puluh lima tahun”. Karena periodisasi di sekolah lanjutan ditandai dengan tahun lulus (bukan tahun masuk), jadi pada hari-hari inilah, seperempat abad yang lalu, kami telah menyelesaikan EBTANAS dan bersiap-siap melanjutkan fase berikutnya. Sebagian dari kami berancang-ancang untuk melanjutkan kuliah, ada juga yang bersiap-siap bekerja. Akhir masa SMA pada masa tsb. terasa lebih menentukan untuk pilihan-pilihan besar pada masa tsb.

Dua puluh lima tahun itu pula sebagian dari kami meninggalkan Kota Jember dan karena pada masa tsb. belum ada Internet yang memudahkan komunikasi, kami berangkat tersebar ke aneka kota dan sebagian tak sempat berkabar satu dengan yang lain. Sampai akhirnya, media sosial zaman ini memudahkan “mengumpulkan tulang yang berserak” dan sekaligus ditandai tahun 2013 ini untuk acara besar, Reuni Perak alumni SMA Negeri 1 Jember tahun lulus 1988.

Continue reading “Undangan “Reuni Perak 2013” untuk Alumni Tahun Lulus 1988″

Pulang Kampung Sebentar Lagi

Idul Fitri 1430 H akan jatuh pada bulan September mendatang. Salah satu rutinitas budaya di negara kita adalah pulang kampung. Selain tujuan utama bertemu keluarga besar di Jember, kesempatan seperti ini dimanfaatkan juga untuk bersilaturahim kembali, atau menyelenggarakan reuni.

Dari catatan yang saya baca di Wall grup SMA 1 Jember di Facebook, Cak Jaka Adila, memberi kabar rencana reunian untuk alumni tahun 1976,

Tanggal pelaksanaan: 23 dan 24 September 2009
Lokasi: belum ditentukan
Kontak: dr. Bagas Kumoro, bagas_kumoro [at] yahoo.com

Continue reading “Pulang Kampung Sebentar Lagi”

Reuni Kelas Biologi 1 Alumni 1988

Acara ketemuan berlangsung pada tanggal 3 Oktober, dimulai sekitar jam 19.00.

Di mana tempat sohor yang disebut Kafe Cak Tawal tersebut? Inilah “kekacauan” pertama karena saya sok yakin tidak mencatat nomor telepon genggam Cak Suja’i dan semua teman di konferensi YM sebelumnya hanya menyebut Kafe Cak Tawal, sonder nama resmi di sana. Menanyakan nama pemilik kafe di Jalan Jawa tentu bisa salah maksud: barangkali Cak Tawal dikenal dengan panggilan lain atau orang-orang di sana belum tentu tahu pemilik kafe ybs.

Tapi ini Jember, jangan terlalu seriuslah! Bukan Batavia yang perlu lompatan publikasi di media nasional seperti Omah Sendok, bukan Bandung yang memiliki manager Hotel Bel Air yang juga disitir media cetak. Di Jember, ritme turun, sinyal 3G beralih ke GPRS, dan manusia kembali menemukan “tanah air”, yaitu tanah dengan genangan air atau bechek kata salah satu selebritas simbol penutur non-pribumi.

Sekali putar, bersama Rofiq yang menemani saya datang ke acara reuni, kami mencari spot keramaian (boleh juga disebut hotspot, karena konsumsi kalor sebanding dengan jumlah manusia). Tidak salah Mbak Etha “dipajang” di beranda pinggir trotoar. Saya sudah membayangkan keceriaannya, teringat perannya sebagai pemandu sorak kelas saat kami bersama di tahun ajaran pertama SMA. Manusia memang dianugerahi pengenalan pola-suara, dan itu melengkapi deskripsi visual postur tubuh dan muka. (Harris pun pada pertemuan lain keesokan harinya mengaku melihat hadirin sudah tua, tapi cekakakan — bukan “cekikikan” — miliknya tak parau dimangsa sekian pancaroba.)

Alhasil, trio Cak Tawal-Cak Adib-Mbak Etha (ketiganya dari kelas 1-5), mengantarkan saya pada persentuhan dengan lorong masa lalu. Teristimewa terhadap pihak perempuan yang memang sebagian pernah saya kenal kemudian lupa, sebagian lagi benar-benar belum sempat berkenalan. Praktis satu botol minuman dingin dan satu gelas es jus minuman pembuka tandas untuk mencocokkan data dan bertukar metadata saat ini. Harta, tahta, dan wanita diterjemahkan sebagai, “kendaraan-rumah”, “posisi di kantor”, dan “pasangan hidup.” Berkuasa atau dikuasai, itulah tiga fitnah yang dikendalikan umat manusia hingga akhir zaman.

Foto di atas diambil oleh Cak Adib dan merujuk pada tautan ke akun Flickr miliknya.

Continue reading “Reuni Kelas Biologi 1 Alumni 1988”

Liputan Reuni 2008 di Jember

Konon dengan berbekal “kartu pers” majalah dinding, Eko Setiawan pada saat menjabat redaktur mading sekolah, mendapat akses langsung ke panggung God Bless. Kejadian di abad lalu, saat kompetisi media massa belum mencapai ledakan blog seperti di abad XXI. Kendati demikian, saya gunakan juga “fasilitas” peliput milis dan blog sebagai kartu tanda masuk untuk dua reuni yang telah berlangsung di bulan Oktober 2008, bulan Syawal dalam kalender Qomariyah.

Continue reading “Liputan Reuni 2008 di Jember”

Panther…

“Ni hou ma?”
“Wo hen hou, xie xie,” balasku. Percakapan tadi bukan terjadi di Singapura, Hongkong ataupun Taiwan. Tetapi di kota Surabaya pertengahan Agustus 2008 yang lalu.

Secarik kertas dengan coretan-coretan yang berisikan perintah dari atasan untuk melakukan presentasi ke suatu perusahaan di Surabaya. Seketika aku teringat, jangan-jangan ini perusahaan di mana Mbak Wiwied, salah satu dedengkot blog SMA 1 Jember, bekerja. Walaupun yang disebutkan adalah nama lama perusahaan dan sekarang sudah diganti kepemilikan namun nama itu masih melekat dalam ingatan saya. Tapi untuk lebih meyakinkan hati, saya segera SMS ke mbak Wiwied. Ternyata benar adanya. “Wah, kita bisa re-unian dong,” kata Mbak Wiwied. Hahaha, ketemu aja belum pernah malah sudah ngajak reuni.

Hari yang dinantipun tiba. Pagi-pagi benar jam 4 sebuah Taxi Blue Bird sudah nyampe di depan rumah. Bahkan ayam yang bertugas untuk berkokokpun belum pada bangun jam segini..Akhir kata, jam 7 pagi saya mendarat di Bandara Juanda menggunakan Sriwijaya Air.. Menunggu teman sebentar yang naik pesawat lain, akhirnya kami bertiga meluncur ke pusat kota Surabaya.

Salah satu dari teman saya ini seringkali bertugas di Surabaya dan sangat menguasai lika liku tempat makan paling enak di sini. Dia bilang, dulu kalau bertugas sebulan di Surabaya pasti Berat Badan jadi naik 4-5 kilo..entah kalo Bau Badan, ada perubahan yang signifikan juga apa tidak.. saya nggak sempat nanya.

Sarapan sebentar, kami kemudian sampai di kantornya Mbak Wiwied ini sekitar 09.45. Disela-sela presentasi saya sempat menginformasikan keberadaanku dikantornya.. ”akhirnya datang juga” balasannya..hahaha.. kebanyakan nonton TV rupanya orang ini.. Ada tiga presentasi yang berbeda dan kebetulan saya kebagian yang pertama. Karena antara lain saya harus balik ke Jakarta lagi hari itu juga.

Saat giliran saya selesai, saya segera menelpon Mbak Wiwed ini dan kemudian duduk menunggu di ruang tamu. Karena belum pernah sekalipun bertemu saya belum bisa membayangkan seperti apa Mbak Wiwied ini. Dari jauh ada seorang wanita sambil membawa map tampak mendekati sambil cengar-cengir..karena saya belum yakin, ya saya diam aja.. terus dia bilang, “Ni hou ma?” “Wo hen hou, xie xie,” balasku, percakapan terpanjang dalam bahasa mandarin yang pernah saya lakukan selama ini..hehehe.

E..e..e.. ternyata oh ternyata.. ini adalah Mbak Triani Wiedowati alias Mbak Wiwied, salah satu dedengkot Blog SMA 1 tercinta ini.. yang komentar-komentarnya selalu dinantikan pada setiap tulisan.. (apalagi pada topik PPR ya Mbak.. hehe)

Mbak Wiwied ini orang yang ramah sekali..walaupun kedatangan saya bisa dibilang tidak tepat waktu, karena pada jam kantor dan beliau sibuk sekali.. bahkan sebenarnya ada tamu dari cabang Jakarta (salah satu atasannya) yang sedang berkunjung terpaksa beliau tinggalkan untuk menemui saya.. ck..ck..ck.. kalau bosnya ini kenal Meggy Z, mungkin dia akan menyanyikan “ teganya, teganya, teganya..“ hahaha..

Saya diajak ke lantai atas untuk melihat-lihat kantornya, dan dikenalkan ke semua orang sebagai long lost friend.

Sebenarnya mau ketemuan juga dengan Anna sebelum pulang.. cuman dia sedang ada miting dengan bosnya. Tau tuh, ngapain juga kerja pake piting-pitingan.. hahaha..

Petualangan sebenarnya terjadi ketika naik pesawat kembali ke Jakarta. Tiket yang saya dapat adalah untuk maskapai tertentu. Tapi ketika naik malah ke maskapai yang lain. Saya sudah tahu dari dulu kalau keduanya ini saudara dekat.. tapi gak menyangka juga kalau ternyata mereka itu seperti kembar siam…dempet di brutu..hehe

Jadwal seharusnya adalah 16.45.. tapi begitu check ini tertulis “Delay 40 menit”.. Lucunya tulisan delay ini tidak hanya untuk jurusan Jakarta saja, tetapi juga untuk jurusan lainnya..Makassar, Denpasar dsb.. ada sekitar 4 atau 5 tujuan.. woww.. kacau bener rupanya…

Menunggu adalah pekerjaan yang paling menyebalkan..tapi tidak ada yang bisa saya lakukan saat itu.. akhirnya pesawat diberangkatkan sekitar jam 18.30..baru tau aku kalau dari jam 16.45 ke 18.30 itu ternyata hanya “40 menit”.. tampaknya logika matematika ku tidak terlalu bagus sewaktu sekolah dulu.. atau mungkin pas pelajaran ini aku sedang mbolos..Atau mungkin juga, kalau orang maskapai ini dulu di ajar sama almh. Bu Purni kepalanya pasti sudah benjol-benjol semua..hahaha..

Akhirnya, setelah capek menunggu selama “40 menit” yang panjang itu diumumkan kalau pesawat sudah siap.. Pesawat ini adalah MD 82.. sedikit lebih panjang daripada Boeing 737..Karena nomor kursi saya 24 maka saya dianjurkan untuk naik dari belakang… ternyata naiknya dari belakang beneran..kayak kalo di pesawat Hercules..dari buntut..

Ketika sudah siap berangkat suara pesawat ini kenceng banget..kayak mesin diesel kalau pada mobil..saya liat ke atas.. petunjuk yang biasanya menunjukkan bahwa sabuk harus dalam keadaan terpasang hanya sebagian kecil yang menyala.. ketika pramugari sedang memperagakan keselamatan saya melihat ada brosur yang terjepit di kursi.. wow,.. ternyata berisikan doa doa keselamatan dari berbagai agama, berikut terjemahannya dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Kalau untuk yang beragama Islam adalah surat Hud: 41. (“…Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya.” Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.) dan ada lagi satu doa yang cukup panjang yang saya tidak sempat catat.

Waduh.. saya berkata dalam hati, semoga pesawat ini tidak menyerahkan perawatan dan keselamatan pesawatnya pada doa doa para penumpangnya saja. Terus terang saja, baru kali ini saya merasa takut bener naik pesawat. Saya yang tadi belum sempat sholat maghrib cepat-cepat bertayamum dan sholat di pesawat..

Suara mesin pesawat ini kenceng banget.. telinga ini berkali-kali berdengung..berkali-kali pula saya harus menutup hidung dan menelan ludah untuk menetralisir efek perdengungan ini..Dan baru kali ini saya mengalami telinga berdengung sebanyak ini.. Sewaktu di atas, saya sebenarnya juga pengen pipis.. tapi melihat keadaan pesawat yang seperti ini, saya jadi ragu-ragu.. jangan-jangan..jangan-jangan WC-nya…saya masih memikirkan apakah nanti tidak menimbulkan efek kerusakan di bumi…. takutnya WCnya bolong kayak di kereta api.. bisa-bisa para ilmuwan mengira itu hujan asam dan menghubung-hubungkannya dengan pemanasan global..padahal itu sebenarnya cuman hujan urine..hehehe

Akhirnya saya mengerti kenapa pesawat ini bisa murah.. jangan-jangan ini gak pakai avtur.. tapi pake solar.. pesawat versi Panther..cring..cring.. wus..wuss..wusss.

Reuni Kecil di Belakang Panggung

Cerita ini dua bulan lalu, baru sekarang sempat diangkat ke sini. Sedikit banyak membawa-bawa cerita alumni, jadi bolehlah dituturkan sebagai entri blog.

Pada kunjungan adik saya, alumni SMA Negeri 1 Jember juga, ke Bandung bulan Juli lalu, kami melihat baliho berisi informasi acara Opick naik panggung di GOR Saparua. Ono acarane Opick, yuk ndelok, komentar adik dan kami tetapkan untuk menonton beberapa hari kemudian.

Adik saya, Ahmad Fitri Sholeh, memang pernah menyebut tahu Opick waktu masih sekolah dulu. Saya pikir pernah melihat atau sekadar berhalo-halo pada masa itu.

Ternyata, di belakang panggung, mereka bereuni kecil: jadi di tempat kos-kosan adik saya, si Opick ini sering datang, mengobrol dengan mereka, dan waktu masih main band era SMA tersebut, salah satu pemainnya ada di tempat kos adik. Termasuk salah satu konco petualangnya tinggal di Kec. Balung, kampung kami, sehingga jadi meriah curi waktu reunian di belakang pentas tersebut.

Opick and Fitri

Iyo, sak marine deweke lungo neng Jakarta, wis suwe aku gak tau pethuk, dadi iki kesempatan ketemu Cak Ropik, demikian penjelasan adik.

Ooo… jebule!

Bonus: ikut berpose bersama penyanyi sohor, barangkali dapat tombo ati

A Shot Gift from My Brother

Ada apa dengan SMASa???

Alkisah, tersebutlah sebuah Sekolah Menengah Atas Negeri yang terkenal puol… di Kebupaten Jember. SMA itu bernama SMA 1 Jember. SMA 1 Jember ternobat menjadi salah satu SMA terfavorit di Jember. Berbondong- bondong siswa SMP dari Jember dan sekitarnya, mendaftarkan diri agar bisa menjadi bagian dari SMA favorit ini. Jika saya tidak salah (berarti benar) sejak tahun 2005 SMA 1 Jember dinobatkan sebagai salah satu SMA di Jawa Timur yang menyandang gelar Sekolah Nasional Berstandar Internasional (SNBI). Hal ini sangat membanggakan, tetapi juga harus dipertanyakan, pantaskah gelar ini disandang SMA 1 Jember?

Dalam satu angkatan ada 7 kelas: terdiri dari 5 kelas IPA dan 2 kelas jurusan IPS. Penjurusan dilakukan menjelang kenaikan kelas 1 ke kelas 2. Saat angkatan saya akan memilih jurusan, banyak dari teman- teman saya yang tergolong anak pintar dan rajin yang ingin masuk ke jurusan IPS, akan tetapi wali kelas+BK seakan- akan menghambat dan siswa itu dibuat ragu untuk nyemplung ke jurusan IPS. Kecuali siswa yang seperti saya (yg ulangan kimianya sering dapet 35) tidak terlalu ‘didesak’ untuk memilih jurusan IPA. Anak IPS masih dianak tirikan! padahal seharusnya seimbang perlakuan terhadap jurusan IPA dan IPS. Angkatan saya IPS terdiri dari 2 kelas, IPS 1 dan 2, tiap-tiap kelas berisi 22 siswa (dikit banget kan). Tapi ternyata kami bisa membuktikan bahwa IPS juga bisa berprestasi, salah satu siswa IPS berhasil mendapatkan medali perunggu pada olimpiade sains nasional th 2006 untuk mapel ekonomi. Pihak sekolah mulai mengakui keberadaan jurusan sosial ini.

Saya juga akan sedikit bercerita tentang aksi para aktifis SMASa angkatanku. Memasuki semester V, saat itu saya kelas 3 semester awal. Ada pemberitahuan berupa selembar kertas yang dibagikan pada masing2 siswa untuk disampaikan pada wali murid. Memberitakan bahwa SPP yang mulanya 60ribuan, naik menjadi 116.000. Dan di dalam selebaran itu tidak di jelaskan mengapa kenaikan SPP itu terjadi. Lantas para siswa yang ditanyai wali muridnya, juga tidak bisa menjawab apa- apa. Kemudian beberapa dari mereka bertanya pada MPK (Majelis Perwakilan Kelas) perihal kenaikan ini. Lalu pihak MPK  menindaklanjutinya dengan bertanya kepada aparat2 sekolah (waka-waka)… mereka menjawab kenaikan ini untuk membiayai opersional SMASa, kemudian kami bertanya kok naiknya jauh banget. Jadi jika diijinkan kami ingin mengetahui laporan keuangan sekolah, untuk pengeluaran apa saja uang kami selama ini? jadi para wali muridpun tidak akan bertanya- tanya lagi. Apa jawaban dari pihak pengelola sekolah? mereka mengatakan bahwa MPK tidak memiliki hak untuk mengetahuinya yang memiliki hak adalah pihak Komite Sekolah. Ou…begitu… OK dech!

Tapi rupanya anak2 MPK tidak puas dengan jawaban itu, akhirnya mereka benar- benar mencari informasi mengenai alamat rumah Komite Sekolah, dan mereka berhasil mendatangi rumah dan bertemu dengan Ketua Komite Sekolah saat itu.  Mereka menjelaskan maksud kedatangan mereka, Komite Sekolah menerima dengan tangan terbuka. Lalu kami menyampaikan bahwa kami ingin mengetahui mengapa kenaikan terjadi, dan sekaligus kami ingin mengetahui Laporan Keuangan sekolah selama ini. Komite Sekolah tidak merasa keberatan, lalu menunjukkan Laporan Keuangan itu. Dari laporan keuangan yang kami cermati, dalam laporan keuangan OSIS selalu menghasilkan saldo laba yang terus bertambah dari tahun- ke tahun. Lalu mengapa harus ada kenaikan? padahal dalam anggaran yang diberikan pada pengurus OSIS, ekskul maupun MPK sama sekali tidak mengalami kenaikan. Mumpung ketemu komite, akhirnya kami mengadukan segala ketidaknyamanan fasilitas yang kami alami di seolah. Ada bebrapa kelas yang atapnya bocor, dan tidak segera di perbaiki, padahal saat itu musim hujan,  jadi hampir setiap pagi kelas itu becek. Kelas ini adalah kelasku, kelas IPS. Kami sudah empat kali mengadu pada Waka Sarana Prasarana, bahkan kepada Kepala Sekolah, tetapi tidak pernah mendapat respon yang positif. Toilet cowok juga sangat memprihatinkan, saat itu mereka tidak memakai gayung tapi kaleng bekas, belum lagi ada beberapa pintu yang tidak bisa dikunci. Fasilitas yang kami dapatkan sama sekali tidak sebanding dengan harga uang gedung yang kami bayar. BEP aja nggak!

Setelah mulut kami lelah berkeluh kesah pada pihak komite, akhirnya kami pamit pulang. Komite berjanji akan meneruskannya pada aparat2 sekolah yang berwenang dalam masalah ini dan berusaha untuk menampung segala aspirasi kami (kebetulan malam harinya adalah malam LPJnya pengelola sekolah pada Komite Sekolah). Keesokan harinya, matahari bersinar cerah…sekali. Bel tanda aktifitas belajar dan mengajar berbunyi, tampak siswa- siswi SMASa memasuki ruang kelas dengan rapi. Kemudian tampak beberapa anak keluar dari ruang kelas mereka menuju laboraturium kimia untuk memenuhi panggilan dari kepala sekolah. Hehehe… seluruh anggota MPK dan pengurus harian OSIS dipanggil oleh para pengelola sekolah, kemudian kepala sekolah mengatakan penyesalannya atas tindakan MPK yang mendatangi pihak komite sekolah. “Mengapa hal ini harus terjadi?”, katanya.

Tiga jam kami “diarahkan” agar selanjutnya tidak mengulangi tindakan yang sama. Keluar dari ruangan itu, kami masih belum berubah, kami masih sama seperti hari yang kemarin. Kami akan terus mengejar kebenaran sampai dapat. Meskipun pada akhirnya tidak ada perubahan pada nominal SPP kami. Tapi setidaknya kami sudah memperingatkan mereka para pengelola sekolah. Jangan mengajarkan apa itu transparansi, akuntabilitas, demokrasi kepada kami jika tidak ingin kami balik bertanya dan mempraktekkannya.

Sejauh ini, aku sudah jarang lagi mengikuti perkembangna di SMASa. Tapi yang kudengar, banyak keluhan dari pengurus OSIS, MPK dan ekskul mengenai minat yang semakin sedikit dari siswa baru untuk terjun dalam dunia organisasi sekolah. Padahal buanyak buanget yang bisa mereka dapatkan jika mereka bergabung dalam suatu organisasi sekolah. Anak2 jaman sekarang lebih suka nge-band dan jalan2 di Mall daripada mereka harus mengeluarkan keringat, dan mengrenyitkan alis sejenak,berpikir untuk membuat suatu perubahan yang lebih baik.

Kematian yang sia-sia…

Dua hari yang lalu (Selasa 11 Maret 2008) di harian Kompas ada berita yang menyebutkan 35 orang telah tewas akibat kecelakaan lalu lintas di DKI (atau Jabotabek) akibat adanya lubang-lubang di jalanan.. belum lagi bicara tentang ratusan orang cedera.. (sorry gak dapat link-nya).. terus tempo hari ada truk container terbalik..dan banyak lagi yang semua bermuara dari lebih banyaknya lubang daripada jalan benernya.. lebih ironis lagi di berita Kompas Rabu 12 Maret, pendapatan DKI dari pajak kendaraan ini mencapai Rp 4,58 trilyun.. yak, bener TRILYUN.. itu duit semua lho, gak ada yang daun..hehehe..

Kalau ditelaah lebih dalam lagi sebenarnya angka-angka tersebut bukan sekedar angka statistik yang mati. Saya melihat ada potensi bangsa yang dirugikan disini akibat adanya pembiaran lubang-lubang berdiri menganga oleh pemerintah (pusat ataupun pemda).. saya tidak kenal satupun yang meninggal.. bagi yang ditinggalkan, bila yang meninggal adalah pencari nafkah utama (ayah), bisa dipastikan sang ibu pasti terpontal-pontal mencari nafkah untuk anak-anaknya..untuk biaya sehari-hari, biaya sekolah dll.. bisa jadi sang anak terputus sekolahnya karena kekurangan biaya.

Kembali ke potensi bangsa tadi. Maksud saya adalah, bagaimana jika seandainya kecelakaan tidak terjadi.. untuk skala yang lebih kecil, tingkat keluarga.. maka pemasukan keluarga akan tetap lancar, biaya sehari-hari tertutupi,anak-anak bisa sekolah setinggi mungkin. Untuk skala yang lebih besar, bangsa dan negara..bagaimana seandainya.. satu saja diantara korban yang tewas itu sebenarnya orang yang pintar dibidangnya.. taruhlah misalnya peneliti dibidang obat-obatan.. yang sebenarnya dibenak orang tersebut sedang berpikir untuk menemukan obat untuk penyakit kanker atau HIV/Aids.. atau orang tersebut adalah seorang calon pebisnis ukm yang sedang merintis usaha, yang mungkin saja pada nantinya akan merupakan usahawan sukses yang bisa menyerap ribuan tenaga kerja.. atau anak dari korban ternyata pinter, dan pada suatu saat bisa menang hadiah NOBEL.. atau banyak lagi seandainya seandainya yang lain… tapi tidak dapat terjadi karena adanya kematian yang dini akibat lubang-lubang jalanan..

Ini yang saya maksud sebagai POTENSI BANGSA yang dirugikan dengan adanya kematian yang sia-sia tersebut..Padahal ini baru ngomongin korban yang disekitar Jakarta aja.. belum diwilayah lain..

Mungkin nanti akan ada yang berkomentar bahwa kematian adalah takdir dan kita tidak bisa menghindarinya.. memang, tapi “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu merubahnya sendiri”.. Kita bisa lihat bahwa di negara-negara maju tingkat kecelakaan bisa ditekan seminim mungkin karena mereka menerapkan aturan-aturan yang ketat.. (dan juga jalan2 yang mulus)..

Seperti SBY pernah bilang, “Kalau negara lain bisa kenapa kita tidak bisa”.. Ditunggu keseriusan pemerintah dalam menghindarkan rakyatnya dari kematian yang sia-sia ini.. Kalau DKI sich sekarang sudah punya ahlinya..he..he

Perkenalan

foto004.jpg

Wah..sungguh sangat disayangkan bulan Agustus 2007 terlewatkan acara di Jakarta, padahal waktu itu aku berdomisili di Jakarta, setelah sebelumnya selama 4 tahun bertugas di daerah konflik Poso. Kenapa bisa terlewatkan ya

Memang waktu itu aku belum ketemu dengan yang namanya Alumni SMA 1 ini, padahal si Mirza al Kordut tahun 1997 pernah sama-sama aku Diklat Prajabatan di Rindam Jaya.

Setelah itu, aku terus berkelana ke penjuru Nusantara mulai dari Sulawesi, Kalimantan sampai ke Papua. Jadi ngaak ketemu lagi sama si Mirza. sempat aku dengan Yanar ada di Gorontalo aku cari tapi nggak ketemu.

Namaku Achmad Soedjajanto, alumni 88 Biologi 2, cuma ilmu itu nggak kepake karena kemudian aku masuk Fak. Hukum Unej dan sekarang Kasi Intelijen Kejaksaan Negeri Tolitoli Sulawesi Tengah.

Kalau ada acara lagi kumpul bareng undang aku ya?