Halaman ini disediakan untuk memperkenalkan diri, berdiskusi di luar topik blog, atau pembicaraan “tak-bertopik”.
Diskusi sebaiknya,
- topik yang bersifat terbuka, dapat dibaca dan dikomentari oleh siapapun pengunjung situs ini — yang berarti bukan hanya alumni SMA 1 Jember;
- hormati kawan bicara dengan diskusi yang santun;
dan pertimbangkan baik-baik tentang,
- pernyataan ofensif kepada pihak lain atau menyerang secara pribadi;
- informasi yang bersifat pribadi (baik dari diri sendiri atau orang lain), seperti alamat rumah, nomor HP — karena informasi tersebut akan terbaca oleh semua pengunjung;
Hindari pemasangan iklan/promosi yang berlebihan, karena mengganggu pengunjung lain. Dalam batas wajar — misalnya berkaitan dengan usaha sekolah atau non-profit — masih diperkenankan, namun jika banyak pihak merasa terganggu, akan dihapus. Batasan wajar ini memang agak sulit dirumuskan, oleh karena itu dimohon perhatian masing-masing.
Spam, yaitu iklan yang dipasang oleh pihak asing dan tak ada kaitan dengan kegiatan di situs ini, tidak ditoleransi, akan dihapus.
Selamat berbincang di sini!
(374)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38
Malaysia : Negara Alternatif untuk Berobat Penyakit Kanker dan Jantung. Berteknologi Tinggi, Harga Kompetitif dan User Friendly Bagi Pasien Indonesia.
Tahukah anda? penyakit kanker dan serangan jantung adalah penyebab utama kematian di Indonesia. Deteksi dini dan perawatan dengan teknologi modern, oleh pakar kompeten mampu mencegah resiko yang lebih besar. Sime Darby Medical Centre (SDMC) Malaysia dilengkapi dengan fasilitas berteknologi tinggi dan dokter-dokter spesialis expert di bidangnya. Dibanding dengan Singapura, Cina, Jepang, Eropa, Biaya pengobatan di Malaysia jauh lebih kompetitif dan user friendly bagi pasien Indonesia (bahasa, makanan dan budaya).
Hadiri seminar yang dibawakan oleh Dokter spesialis dari Sime Darby Medical Centre (SDMC), Subang Jaya Malaysia.
Sabtu, 29 November 2008
Hotel Ibis Rajawali Surabaya.
(Coffee break & Lunch served)
Topik Seminar :
1. Common Cancers and Current Treatment
Speaker : Dr. Martin Mellor, Consultant Ancologist
MBBS,AM,FFRRCS (Irlandia) Cancer and
Radiosurgery Centre.
2. Common Heart Problem and Current Treatment
Speaker : Dr. Nik Isahak, Consultant Cardiologist
MBBS,MRCP (Inggris) Heart Centre.
Gratis! Undangan terbatas 100 orang.
Segera daftarkan diri Anda.
ketik: Nama_Alamat lengkap_No HP
kirim sms ke no: 081 2300 1557 ,
atau email ke: obc@obctour.com
Contack:OBCTour, Jl.Ry Juanda, Rk.Permata B72.
Tel/Fax: 031-8671229, www.obctour.com/sdmc
Tahukah anda? penyakit kanker dan serangan jantung adalah penyebab utama kematian di Indonesia. Deteksi dini dan perawatan dengan teknologi modern, oleh pakar kompeten mampu mencegah resiko yang lebih besar. Sime Darby Medical Centre (SDMC) Malaysia dilengkapi dengan fasilitas berteknologi tinggi dan dokter-dokter spesialis expert di bidangnya. Dibanding dengan Singapura, Cina, Jepang, Eropa, Biaya pengobatan di Malaysia jauh lebih kompetitif dan user friendly bagi pasien Indonesia (bahasa, makanan dan budaya).
Hadiri seminar yang dibawakan oleh Dokter spesialis dari Sime Darby Medical Centre (SDMC), Subang Jaya Malaysia.
Sabtu, 29 November 2008
Hotel Ibis Rajawali Surabaya.
(Coffee break & Lunch served)
Topik Seminar :
1. Common Cancers and Current Treatment
Speaker : Dr. Martin Mellor, Consultant Ancologist
MBBS,AM,FFRRCS (Irlandia) Cancer and
Radiosurgery Centre.
2. Common Heart Problem and Current Treatment
Speaker : Dr. Nik Isahak, Consultant Cardiologist
MBBS,MRCP (Inggris) Heart Centre.
Gratis! Undangan terbatas 100 orang.
Segera daftarkan diri Anda.
ketik: Nama_Alamat lengkap_No HP
kirim sms ke no: 081 2300 1557 ,
atau email ke: obc@obctour.com
Contack:OBCTour, Jl.Ry Juanda, Rk.Permata B72.
Tel/Fax: 031-8671229, www.obctour.com/sdmc
@ Johnny,
setelah aku cek ke bagian posting entry, ternyata, komentar sampean belum di-approve oleh Cak Amal. Nanti tak sampaikan ke Cak Amal biar di muat komentarnya.
setelah aku cek ke bagian posting entry, ternyata, komentar sampean belum di-approve oleh Cak Amal. Nanti tak sampaikan ke Cak Amal biar di muat komentarnya.
Mas/Mbak,
Sudah dua kali saya kasih komentar pada blog tentang Guru-Dosen, tapi anehnya kok gak muncul ya. Saya kasih komentar di halaman terbawah blog yg ada komentar2nya. Apa sebaiknya komentar ditulis lewat buku tamu?
Salam
Sudah dua kali saya kasih komentar pada blog tentang Guru-Dosen, tapi anehnya kok gak muncul ya. Saya kasih komentar di halaman terbawah blog yg ada komentar2nya. Apa sebaiknya komentar ditulis lewat buku tamu?
Salam
Sorry cak/mbak moderator,kalo memang pantas tolong tulisan berikut dimuat di Blog. Mator sakalangkong!
“Adhek kon, engko digégéri sing nduwe”:
Masih adakah dialek Jember?
Tahun 80an lalu masih terbukti bahwa menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari menunjukkan status sosial ekonomi menengah bagi penggunanya. Seiring berjalannya waktu dan perkembangan jaman, penggunaan bahasa Indonesia begitu meluas. Di Surabaya (yang pernah saya ketahui), bakul rokok di dekat Unair aja berbicara bahasa Indonesia dengan Balita-nya. Alhasil, sekarang penggunaan bahasa Indonesia sudah sedemikian meluas. Banyak keluarga muda, di berbagai lapisan masyarakat, yang berbahasa Indonesia dengan anak-anak mereka. Berbahasa Indonesia tidak lagi menunjukkan status sosial menengah.
Bagaimana dengan di Jember…..”bheh, aku gak ero kon”, (sorry kurang memperhatikan). Lalu, dimanakah bahasa Indonesia sekarang. Seorang kawan dari Aceh yang seribu persen berdarah Aceh, dan besar di Aceh, beristri orang Aceh tulen, mengeluhkan nilai bahasa Aceh anaknya berkisar antara A dan B. Saya kira itu kan nilai yang bagus sekali. Ternyata nilai tersebut harus dikonversikan ke angka menjadi “3” dan “4”. Sementara nilai bahasa Indonesia-nya “8” atau “9”. “Gimana dengan nasib bahasa Aceh?”, ujar dia. Saya bilang, mungkin ada baiknya anak2nya tidak berbahasa Aceh. Sehingga memory-nya bisa digunakan untuk belajar bahasa asing (Inggris, Arab dll) dengan lebih baik. Dia pun sedang berpikir untuk sedikit demi sedikit menggunakan bahasa Aceh pad anaknya. Terus gimana dengan nasib bahasa Jêmbêr-an?
Sebetulnya Jêmbêr tidak punya bahasa khusus. Itu semata bahasa Jawa dengan aksen Madura. Selain juga menggunakan bbrp kosa kata Madura. Jadi pada prinsipnya, tidak ada persoalan serius ketika orang Jêmbêr berkomunikasi dengan orang Jawa pada umumnya dengan menggunakan bahasa Jawa. Karenanya mungkin lebih tepat disebut dengan “dialek Jember”.
Ekspresi “bheh”, “sia” (mungkin bahasa Inggrisnya dari keduanya “gosh”), “adhêk” (berarti “habis”, atau “rasakan!”) serta kata-kata seperti: “cêrèk” (pelit), “sengkah” & “ras arisen” (enggan), , “sengak” (awas), “songar” (sombong), “sik buru” (baru saja), “carok” (bertengkar), “ra kora” (cuci barang pecah belah), “carpak” (omong kosong), “la pola” (bertingkah), “co ngoco” (bohong) tak ayal merupakan pinjaman dari bahasa Madura. Ada juga ekspresi yang barangkali dari bahasa Jawa seperti : “polane” (karena) dll dsb.
Pertanyaannya: masih adakah kata2 atau ungkapan kata2 seperti itu di Jember? Belum punah kan?
“Adhek kon, engko digégéri sing nduwe”:
Masih adakah dialek Jember?
Tahun 80an lalu masih terbukti bahwa menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari menunjukkan status sosial ekonomi menengah bagi penggunanya. Seiring berjalannya waktu dan perkembangan jaman, penggunaan bahasa Indonesia begitu meluas. Di Surabaya (yang pernah saya ketahui), bakul rokok di dekat Unair aja berbicara bahasa Indonesia dengan Balita-nya. Alhasil, sekarang penggunaan bahasa Indonesia sudah sedemikian meluas. Banyak keluarga muda, di berbagai lapisan masyarakat, yang berbahasa Indonesia dengan anak-anak mereka. Berbahasa Indonesia tidak lagi menunjukkan status sosial menengah.
Bagaimana dengan di Jember…..”bheh, aku gak ero kon”, (sorry kurang memperhatikan). Lalu, dimanakah bahasa Indonesia sekarang. Seorang kawan dari Aceh yang seribu persen berdarah Aceh, dan besar di Aceh, beristri orang Aceh tulen, mengeluhkan nilai bahasa Aceh anaknya berkisar antara A dan B. Saya kira itu kan nilai yang bagus sekali. Ternyata nilai tersebut harus dikonversikan ke angka menjadi “3” dan “4”. Sementara nilai bahasa Indonesia-nya “8” atau “9”. “Gimana dengan nasib bahasa Aceh?”, ujar dia. Saya bilang, mungkin ada baiknya anak2nya tidak berbahasa Aceh. Sehingga memory-nya bisa digunakan untuk belajar bahasa asing (Inggris, Arab dll) dengan lebih baik. Dia pun sedang berpikir untuk sedikit demi sedikit menggunakan bahasa Aceh pad anaknya. Terus gimana dengan nasib bahasa Jêmbêr-an?
Sebetulnya Jêmbêr tidak punya bahasa khusus. Itu semata bahasa Jawa dengan aksen Madura. Selain juga menggunakan bbrp kosa kata Madura. Jadi pada prinsipnya, tidak ada persoalan serius ketika orang Jêmbêr berkomunikasi dengan orang Jawa pada umumnya dengan menggunakan bahasa Jawa. Karenanya mungkin lebih tepat disebut dengan “dialek Jember”.
Ekspresi “bheh”, “sia” (mungkin bahasa Inggrisnya dari keduanya “gosh”), “adhêk” (berarti “habis”, atau “rasakan!”) serta kata-kata seperti: “cêrèk” (pelit), “sengkah” & “ras arisen” (enggan), , “sengak” (awas), “songar” (sombong), “sik buru” (baru saja), “carok” (bertengkar), “ra kora” (cuci barang pecah belah), “carpak” (omong kosong), “la pola” (bertingkah), “co ngoco” (bohong) tak ayal merupakan pinjaman dari bahasa Madura. Ada juga ekspresi yang barangkali dari bahasa Jawa seperti : “polane” (karena) dll dsb.
Pertanyaannya: masih adakah kata2 atau ungkapan kata2 seperti itu di Jember? Belum punah kan?
Monggo, Dana.
Selamat bergabung dengan blog ini. Silakan kirim-2 cerita tentang kisah hidup di Jember yang masih terkenang sampai sekarang.
Selamat bergabung dengan blog ini. Silakan kirim-2 cerita tentang kisah hidup di Jember yang masih terkenang sampai sekarang.
Saya Dana Asfriyawan lahir di sungailiat bangka 21-12-1973. saya alumni SMU Widyatama Jember tahun 1992.
Guru-Dosen; Indonesia-Leiden
Setiba di Belanda setahun lalu, saya senang sekali. Harapan untuk bersekolah di negara maju tercapai. Namun, ketika kuliah pertama akan dimulai, saya jadi cemas. Bagaimanakah cara mengajar dan sikap dosen di Leiden. Sebuah universitas yg di masa colonial merupakan salah satu tempat pelatihan dan pendidikan para ambtenaar sebelum dikirim ke Indonesia. Sebuah universitas yang sampai sekarang masih dikenal konservatif. Kenapa saya pilih sekolah di Leiden? Ah, nasi pun telah jadi bubur. Apapun yang akan terjadi, terjadilah.
Ternyata bayangan saya tidak sepenuhnya salah. Meski tidak sepenuhnya benar. Ada dosen yang masih suka mengucapkan kata dom atau stom, yg keduanya berarti bodoh. Atau kata-kata lain yg menjurus kesitu, seperti kira-kira “gunakan otakmu”, atau “kalau kamu mau memutar otakmu”. Sebagian dari dosen juga ada yg mengecilkan arti kolonialisme Belanda di Indonesia, misalnya “yang kami ambil dari Indonesia kurang dari 10% pendapatan nasional Belanda”. Juga ada kata sinis tentang makanan pokok Indonesia (Jawa) dengan “your bloody rice”. Ada juga dosen yg masih merobek proposal mahasiswanya.
Terkadang memang tindakan-tindakan tersebut bikin jengkel. Tapi setelah saya ingat-ingat, dulu saat SMP di Jember pun masih ada guru yg mengeluarkan penghuni sawah, ladang dan kebon binatang, seperti “kebo” dll. Masih ada juga dosen di Indonesia yg melempar tulisan mahasiswanya (terlepas apa pun persoalannya).
Tapi tindakan semacam itu hanya dilakukan oleh sebagian kecil dosen aja. Lebih banyak dari mereka yang sangat baik tindakannya, baik di kelas maupun di luar kelas. Ditraktir kopi, dibayari foto copy dan selalu kasih respons positif terhadap apapun tulisan kita. Baru kemudian diberi kritikan. Tak jarang, malah ada dosen yang sangat menggelikan. Kamar yang saya tempati rupanya dulu tempat tinggal mahasiswa Islamic studies, asal Indonesia juga. Beberapa kali kawan tersebut mendengar suara takbir di bawah jendelanya. “Allaahu akbar, allaaahu akbar!”. Itu bukanlah seruan adzan, karena panggilan sholat hanya terdengar di dalam mesjid saja. Ternyata itu panggilan dari professor dia yang mau mengajak minum di bar. Ah, rupanya sudah ada profanisasi takbir. Menyerukan takbir bukan mengajak sholat, tapi minum minuman beralkohol di bar... Adakah hal serupa di Indonesia? Seorang teman, yang lahir dan besar di Ampel, Surabaya, pernah bercerita. Saat dia berada di sebuah warung di daerah “lokalalisasi” di ujung timur pulau Madura, dia mendengar “Assalaamu’alaikum”. Tentulah sebagian besar yang nongkrong di warung menyahut “Wa’alakumus salaam”. Dan….transaksi birahi tetap berjalan.
Salam
Setiba di Belanda setahun lalu, saya senang sekali. Harapan untuk bersekolah di negara maju tercapai. Namun, ketika kuliah pertama akan dimulai, saya jadi cemas. Bagaimanakah cara mengajar dan sikap dosen di Leiden. Sebuah universitas yg di masa colonial merupakan salah satu tempat pelatihan dan pendidikan para ambtenaar sebelum dikirim ke Indonesia. Sebuah universitas yang sampai sekarang masih dikenal konservatif. Kenapa saya pilih sekolah di Leiden? Ah, nasi pun telah jadi bubur. Apapun yang akan terjadi, terjadilah.
Ternyata bayangan saya tidak sepenuhnya salah. Meski tidak sepenuhnya benar. Ada dosen yang masih suka mengucapkan kata dom atau stom, yg keduanya berarti bodoh. Atau kata-kata lain yg menjurus kesitu, seperti kira-kira “gunakan otakmu”, atau “kalau kamu mau memutar otakmu”. Sebagian dari dosen juga ada yg mengecilkan arti kolonialisme Belanda di Indonesia, misalnya “yang kami ambil dari Indonesia kurang dari 10% pendapatan nasional Belanda”. Juga ada kata sinis tentang makanan pokok Indonesia (Jawa) dengan “your bloody rice”. Ada juga dosen yg masih merobek proposal mahasiswanya.
Terkadang memang tindakan-tindakan tersebut bikin jengkel. Tapi setelah saya ingat-ingat, dulu saat SMP di Jember pun masih ada guru yg mengeluarkan penghuni sawah, ladang dan kebon binatang, seperti “kebo” dll. Masih ada juga dosen di Indonesia yg melempar tulisan mahasiswanya (terlepas apa pun persoalannya).
Tapi tindakan semacam itu hanya dilakukan oleh sebagian kecil dosen aja. Lebih banyak dari mereka yang sangat baik tindakannya, baik di kelas maupun di luar kelas. Ditraktir kopi, dibayari foto copy dan selalu kasih respons positif terhadap apapun tulisan kita. Baru kemudian diberi kritikan. Tak jarang, malah ada dosen yang sangat menggelikan. Kamar yang saya tempati rupanya dulu tempat tinggal mahasiswa Islamic studies, asal Indonesia juga. Beberapa kali kawan tersebut mendengar suara takbir di bawah jendelanya. “Allaahu akbar, allaaahu akbar!”. Itu bukanlah seruan adzan, karena panggilan sholat hanya terdengar di dalam mesjid saja. Ternyata itu panggilan dari professor dia yang mau mengajak minum di bar. Ah, rupanya sudah ada profanisasi takbir. Menyerukan takbir bukan mengajak sholat, tapi minum minuman beralkohol di bar... Adakah hal serupa di Indonesia? Seorang teman, yang lahir dan besar di Ampel, Surabaya, pernah bercerita. Saat dia berada di sebuah warung di daerah “lokalalisasi” di ujung timur pulau Madura, dia mendengar “Assalaamu’alaikum”. Tentulah sebagian besar yang nongkrong di warung menyahut “Wa’alakumus salaam”. Dan….transaksi birahi tetap berjalan.
Salam
Asalamu'alaikum wr.wb.
Sepuntene nggih... Nyuwun sewu numpang ngetik teng ngriki. Kulo alumni SMA 1, lulus taun '91. Tumut sispena angkatan 12. Rencange Mas Dodik Prakoso. Wah sak niki mas Dodike pinter banget bahasa inggris nggih. Wonten malih sing namine Mas Satriyo Budi S. Mireng2 sak niki pun dadi bos nggih Mas Samio? He he he, mugi2 tasik ileng teng kulo. Nyuwun pangapunten lek wonten salah bahasa.
Wassalam...
Sepuntene nggih... Nyuwun sewu numpang ngetik teng ngriki. Kulo alumni SMA 1, lulus taun '91. Tumut sispena angkatan 12. Rencange Mas Dodik Prakoso. Wah sak niki mas Dodike pinter banget bahasa inggris nggih. Wonten malih sing namine Mas Satriyo Budi S. Mireng2 sak niki pun dadi bos nggih Mas Samio? He he he, mugi2 tasik ileng teng kulo. Nyuwun pangapunten lek wonten salah bahasa.
Wassalam...
Asalamu'alaikum wr.wb.
Sepuntene nggih... Nyuwun sewu numpang ngetik teng ngriki. Kulo alumni SMA 1, lulus taun '91. Tumut sispena angkatan 12. Rencange Mas Dodik Prakoso. Wah sak niki mas Dodike pinter banget bahasa inggris nggih. Wonten malih sing namine Mas Satriyo Budi S. Mireng2 sak niki pun dadi bos nggih Mas Samio? He he he, mugi2 tasik ileng teng kulo. Nyuwun pangapunten lek wonten salah bahasa.
Wassalam...
Sepuntene nggih... Nyuwun sewu numpang ngetik teng ngriki. Kulo alumni SMA 1, lulus taun '91. Tumut sispena angkatan 12. Rencange Mas Dodik Prakoso. Wah sak niki mas Dodike pinter banget bahasa inggris nggih. Wonten malih sing namine Mas Satriyo Budi S. Mireng2 sak niki pun dadi bos nggih Mas Samio? He he he, mugi2 tasik ileng teng kulo. Nyuwun pangapunten lek wonten salah bahasa.
Wassalam...
Popularity: 22% [?]


