Dua tahun sudah bencana itu…

28 Mei 2008

Hari ini tepat dua tahun semburan lumpur di Sidoarjo terjadi. Sudah banyak cerita duka, kepedihan, air mata, benci, amarah dan luka yang tertoreh dalam di hati warga Porong khususnya. Aku tak hendak mengajak itu semua, pun tak ingin membagi duka dan amarah. Biarlah semua yang sudah terjadi, karena waktu takkan berhenti dan juga tak mundur lagi. Kehidupan dan harapan yang lebih baik harus dimulai dari sekarang, sekalipun tampaknya harapan itu hanya setitik saja, tapi Sang Pencipta lebih tahu apa yang terbaik buat warga Porong.

Hari Jumat lalu, tanpa rencana sebelumnya aku meluncur begitu saja ke daerah lumpur di Porong. Sekedar ingin mendokumentasikan keadaan setelah 2 tahun lumpur mengoyak tanah Porong. Tidak ada maksud apapun, barangkali suatu saat anak cucu kita bisa melihat kondisi wilayah Porong yang sekarang. Karena kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti. Foto-foto yang aku ambil bisa disimak disini :

http://flickr.com/photos/sevidiana/

Selamat menikmati, salam hangat buat semuanya

Sekilas info ‘Stroke’ terkini

Tulisan ini sekedar berbagi informasi tentang Stroke, yang merupakan manifestasi gangguan fungsi tubuh yang disebabkan kelainan di otak dan timbulnya tiba-tiba. Juga terinspirasi oleh tulisan mbak Wiwid yang luar biasa menyentuh, suatu pengalaman hidup yang mengharu biru dan cerita yang sangat sering saya dengar dari keluarga pasien yang mengalami serangan stroke.

Tanpa basa basi, beberapa hal yang perlu diketahui sebagai faktor resiko stroke adalah:

  1. Faktor resiko yang tidak dapat diubah, yaitu
    • genetik, artinya orang yang mempunyai riwayat keluarga menderita stroke berpotensi untuk terkena stroke;
    • orang yang sudah pernah kena stroke, beresiko terkena stroke lagi (berulangnya dalam kurun waktu 5 tahun mencapai 15%-40%);
    • usia yang bertambah tua cenderung lebih beresiko.
  2. Faktor resiko yang dapat diubah, artinya dapat dikelola dan diperbaiki, misalnya pola hidup yang tidak sehat dan tidak seimbang seperti kurang olahraga, merokok, obesitas, minum alkohol berlebihan, penyakit degeneratif seperti tekanan darah tinggi, penyakit jantung, kolesterol tinggi dan kencing manis/diabetes. Dari faktor-faktor di atas, yang tersering menimbulkan serangan stroke adalah tekanan darah tinggi, penyakit jantung koroner, diabetes dan merokok.

Waspadai gejalanya. Satu ciri khas gejala stroke adalah timbul mendadak tanpa ada keluhan sebelumnya. Beberapa gejala yang perlu dikenali adalah rasa baal/lemah di wajah, kaki, tangan yang timbul mendadak, terutama pada satu sisi tubuh (kadang hal ini tidak disadari oleh penderita), sulit memakai alas kaki, sulit memakai pakaian atau tiba-tiba terjatuh. Bicara menjadi pelo, sulit mengerti pembicaraan dan sulit bicara, mulut mencong, gangguan penglihatan, nyeri kepala hebat, tidak sadar atau kehilangan keseimbangan (beberapa gejala dialami oleh suami mbak Wiwid). Pada keadaan tertentu, bisa juga disertai muntah hebat dan mengompol.

Stroke merupakan kasus gawat darurat, sehingga harus segera ditangani. Karena semakin dini mendapatkan penanganan medis maka kerusakan otak yang sifatnya berat dapat dihindari. Periode waktu 3 jam setelah serangan adalah periode emas untuk melakukan penanganan stroke, karena masih ada kesempatan waktu untuk menyelamatkan kerusakan sel otak yang terjadi.

Perlu diketahui juga bahwa anggapan jika stroke adalah milik mereka yang usia tua adalah tidak tepat, karena usia mudapun termasuk rentan terkena stroke. Waspadalah!

Istilah mencegah lebih baik daripada mengobati adalah suatu hal yang amat mungkin dilakukan. Tak perlu biaya mahal untuk mencegah stroke, cukup dimulai dari hal sederhana dalam aktivitas sehari-hari, misalnya:

  1. Periksa rutin tekanan darah, kadar gula, kolesterol darah secara rutin. Sesekali pemeriksaan jantung.
  2. Jika sudah menderita penyakit-penyakit tersebut di atas, pastikan untuk selalu rutin kontrol ke dokter dan mengkonsumsi obat secara teratur.
  3. Stop merokok saat ini juga.
  4. Hindari alkohol.
  5. Olahraga rutin, dianjurkan yang ringan namun rutin, bukan yang berat namun jarang.
  6. Konsumsi makanan sehat yang rendah lemak, rendah garam, tinggi serat.
  7. Jika obesitas, mulailah program diet, kalau perlu konsultasi dengan dokter. (Lain waktu aku akan menulis pengalaman melawan obesitas, ‘the true story’ )
  8. Waspada dan kenali gejala stroke seperti di atas, jika terjadi segera cari pertolongan dokter.

Inti dari tulisan di atas adalah mencegah dan mengelola faktor resiko merupakan cara yang paling tepat untuk mencegah serangan stroke. Semoga bermanfaat buat semua. Jaga nikmat kesehatan yang sudah diberikan Allah buat kita. Dan semoga sehat selalu buat kita dan orang-orang terdekat yang kita cintai. Amin.

(disarikan dari ‘Dokter Kita’, Jan 2008)

Salam dari Sidoarjo.

Permen dari masa ke masa

Pernah lihat acara Lemon Tea di SCTV tiap sore? Itu loh acara “arek cilik2” jaman sekarang. Ada yang namanya Cinta Monyet, Pacar Pertama, CLBK, deelel. Satu hal yang menarik di acara tsb- yang mengingatkan aku akan cerita masa kecil, adalah permen. Di acara Lemon Tea itu, di akhir acara biasanya cewek atau cowok yang dipilih diberi permen Kiss, dan di bungkus permen itu ada macam2 tulisan yang menggambarkan jawaban dari “lakon”nya. Unik dan lucu2 tulisannya, misalnya capeee deh, I love you, cute abizzzz, forever love, temenan aja…..etc. Ini gaya komunikasi anak sekarang, menurutku asik juga lo. Tinggal beli satu bungkus permen Kiss, tinggal pilih tulisan apa yang ingin kita sampaikan pada teman atau ojob, itulah ungkapan hati kita. Tak pikir sah-sah saja kalau ingin memberikan suatu kejutan yang manis buat pasangan kita. Aku sih pengennya, ojobku memberikan permen Kiss yang bertuliskan “Cute abizzz” hehehe….(dasar narsis…)

Duluuuuu, jaman aku masih SD sekitar th 70an, aku suka sekali beli permen cecek dan permen bubuk. Yang namanya permen cecek itu, sebenarnya kedelai yang dilapisi gula2 warna warni. Satu bungkus sebesar jari kelingking, isinya sekitar 10-15 butir, harganya mungkin Rp. 5 – 10an. Nah, kalau permen bubuk itu, sebenarnya hanyalah gula bubuk yang diwarnai saja, kemudian direntengi dalam plastik kecil2 dan dilengkapi dengan sendok plastik yang imut banget. Jenenge arek cilik, barang legi yo mesti enak ae.

Selain yang manis-manis, aku juga suka sekali manisan mangga dan cerme. Kalau manisan mangga, sepertinya masih ada dijual di toko2 makanan, tapi rasanya gak ada yang mengalahkan permen manggaku jaman kecil dulu. Oh iya, permen mangga itu dulu tak arani juga permen upil, karena secara morfologis tidak beda jauh, hanya ukurannya lebih gede…Kalau permen cerme, dikemas dalam kotak2 kecil warna kuning, wis enak tenan rek.

Kalau permen atau manisan atau gula2 yang dijual di sekolah waktu SD, beda lagi. Ada yang namanya gelali. Biasanya ditaruh diatas baki kayu, warnanya seperti gula gosong atau karamel, trus diatasnya ditaburi wijen. Kalau kita beli, satu porsinya hanya seukuran kotak korek api, ditaruh di atas kertas. Boleh langsung dimakan, atau kalau pengen dimakan nanti2 bisa disimpan dan gulanya jadi mengeras serta warnanya berubah menjadi coklat pucat. Rasanya? Tetep enak….Kalau pengen makan permen sambil main seruling bisa juga. Manisan ini, warnanya orange menyala, ditaruh dalam wajan. Kita bisa beli manisan tsb dengan macam2 cetakan yang tersedia. Ada bentuk burung yang bisa ditiup seperti suling, bunga, binatang dan lain2. Rasanya lebih enak daripada gelali.

Permen memang selalu enak untuk dinikmati, paling tidak buatku. Permen karet juga menjadi salah satu favoritku juga. Masih TK, aku suka permen karet Pusan. Selain karena permennya empuk, enak dan gampang ditiup, juga karena dibungkus bagian dalamnya ada tatoo air. Tinggal basahi tangan pake ludah, tempel bungkus Pusan, ditekan2 sebentar…taraaaaa…!!! jadilah gambar tatoo di tangan. Asiiik kan?

Permen karet memang melegenda. Waktu SMA tahun 80an, di majalah HAI booming serial Lupus yang identik dengan jahil, slebor, cuek dan PERMEN KARET!! Sampai2 ikon Lupus digambarkan sedang meniup permen karet sampai guede. Aku gak tahu apakah kita2 waktu itu juga tergila-gila sama permen karet karena ngefans sama Lupus. Permen karet sekarang ini sudah banyak macamnya, baik rasa, kemasan, manfaat dan kandungan di dalamnya, tinggal pilih yang kita mau.

Ada satu peristiwa masa SMA yang masih tak ingat betul. Kala itu aku di kelas 2 Bio 3, dan lagi seru2nya Beng-beng beriklan di televisi dengan iklan yang menggoda, yaitu 1 batang Beng-beng digigit di masing2 ujungnya oleh cewe dan cowo. Wiih, tentu saja adegan yang bikin seeer buat anak SMA. Karena godaan iklan, dan  termasuk permen jenis baru masa itu, wah yang namanya Beng-beng laris manis di koperasi OSIS. Sepertinya ketinggalan jaman deh kalau belum makan Beng-beng. Karena tahu begitu tingginya animo beli dan makan Beng-beng, si Ekos sampai2 rela menawarkan diri untuk mentraktir teman2 cewek beli Beng-beng, dengan syarat makan Beng-bengnya harus seperti di iklan TV. Sayangnya, penawaran Ekos yang luar biasa ini tidak mendapatkan sambutan hangat dari cewek2 di kelasku, termasuk aku…..hiks…hiks…Sori Kos.

Permen tak selamanya manis. Karena gara-gara permen juga, saat ujian EBTANAS SMP aku harus belajar di ruang tunggu dokter gigi karena mesti antre untuk menambal gigiku. Gak enak tenan sakit gigi itu, pengennya marah kalau dengar orang ngobrol atau ada suara2 keras, pokoke gak enak blas!!! Mungkin pencipta lagu “……lebih baik sakit gigi, daripada sakit hati….” (opo judul lagune ?) gak tahu ngrasakno loro untu rek!

Karena aku suka permen yang rasanya manis, legit dan nyam nyam itu , makanya aku tetap maniezzzz sampai sekarang.  Oops…….glodhaaag!…….praaaaang!!!…….buuuuugg!!!! hahaha…(Hidup narsis…!!!)

Salam manis….

Mau tinggal di mana kita?

Dalam perjalanan menuju Dinkes dengan seorang kolega kemarin pagi, di tengah angin kencang dan hujan deras yang mengguyur Sidoarjo, kami sempat terlibat pembicaraan ringan tentang bencana alam yang terjadi di negeri ini, terutama di Jawa Timur. Sekarang ini, dimanapun kita tinggal rasanya semua punya potensi untuk terkena bencana alam.

Dulu, kupikir tinggal di daerah dataran tinggi, semisal Malang akan menyenangkan sekali. Sudah hawanya sejuk, panorama alam indah, tanaman mudah tumbuh dan air yang selalu segar. Tapi tampaknya keadaan tsb. tidak selalu demikian adanya. Sekarang ini, tinggal di daerah tinggi, justru ancaman tanah longsor mengintai sewaktu-waktu, terutama saat musim hujan tiba.

Di daerah pesisirpun, sebenarnya menyenangkan juga. Sekalipun hawanya relatif lebih panas. Tetapi kita bisa dekat dengan laut, bisa melihat cakrawala luas, melihat matahari tenggelam atau terbit, asik juga. Tapi, kalau mengingat bahwa tiap saat tsunami bisa datang dengan tiba-tiba, banjir pasang air laut dan badai yang memporak porandakan semua yang ada di pesisir, tentu ada perasaan takut juga. Sangat manusiawi.

Bagaimana dengan di perkotaan? Wah, tentu saja enak sekali. Secara fasilitas, semua ada dan lengkap, tinggal pilih saja yang penting ada uang. Tapi, karena biasanya penduduk lebih padat, tentu saja kawasan pemukiman jadi lebih rapat, daerah resapan air berkurang karena banyaknya bangunan2, belum lagi perilaku masyarakat yang tidak disiplin menjaga kebersihan, sistem drainase yang asal saja, perencanaan tata ruang kota yang tidak holistik. Membuat permasalahan di kota lebih kompleks. Akibatnya, ketika musim kemarau, air susah didapat dan kadang berbau serta kotor. Sedangkan saat musim hujan, air cepat sekali meluap sekalipun hanya diguyur hujan deras 1-2 jam saja.

Bagaimana jika tinggal di daerah sekitar aliran sungai? Kalau melihat betapa hebatnya sungai Bengawan Solo menenggelamkan kota2 di sepanjang alirannya dan menghancurkan semuanya, aku ngeri juga membayangkan. Padahal di Jember saat kecil dulu, keluargaku tinggal di pinggir sungai Bedadung. Sampai kelas 4 SD, rumahku di daerah Tembaan (d/h jl. Untung Suropati), masuk gang, dan rumahnya berjarak 50 meter dari tepi sungai. Ketika musim panas menyenangkan sekali bermain di sungai. Berenang, cari ikan, atau sekedar duduk2 di bebatuan yang besar sambil menikmati sensasi kaki yang digigiti ikan kecil-kecil. Airnya masih jernih kala itu, ikan-ikan yang berenang tampak jelas, wah asik dah! Tapi jangan tanya kalau pas musim hujan. Air sungai Bedadung yang tadinya jernih, bisa berubah jadi coklat, lebar sungai jadi 2 kali lipat, permukaan air meninggi, belum lagi suaranya yang gemuruh. Serem! Hanya karena posisi sungainya yang dalam, kekhawatiran karena banjir tidak pernah ada. Entah sekarang, bagaimana kabar si Bedadung?

Lantas, dimana sebaiknya kita tinggal? Yah…, dimanapun kita tinggal kini, apapun dan bagaimanapun keadaannya, itulah tempat kita yang terbaik. Asal kita bisa menjaga, merawat dan mencintai lingkungan sekitar dan rumah kita, tentu akan menjadi tempat yang sehat, indah, nyaman dan menjadi tempat yang paling dirindukan saat kita pergi.

Tak terasa, percakapan pagi itu harus diakhiri karena sudah sampai di tujuan. Hujan masih deras, angin sudah berkurang kecepatannya, jalan raya Porong hari itu ditutup total karena tanggul jebol dan membanjiri jalan raya sampai setinggi dada. Benar-benar pagi yang suram, tapi banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran dan renungan.

Aku jadi ingat pertanyaan yang dilontarkan anak sulungku kepada ayahnya. “Pa, orang Amerika sekarang sudah merencanakan untuk tinggal di bulan, jika tanah di bumi sudah habis. Lalu kita orang Indonesia mau tinggal di mana?” Apakah kecemasan dan kekhawatiran yang akan kita tinggalkan untuk anak cucu kita? Kuharap tentu tidak.

Serunya ulang tahun…..

Hari sabtu, 1 Desember kemarin, aku ngalup ke jember. Perjalanan seperti biasa , sambang ortu dan kakak. Kebetulan juga anakku yang kecil mau ultah yang ke 7, jadi sekalian dirayakan di sana sekalipun sekedar makan malam di RM. Lestari. Dan kebetulan yang menyenangkan juga, pas nunggu pesanan datang aku bisa ketemu sama Iwan Taruna dan ojobnya. Bersay hello, ngobrol dan hahahihi sebentar. Justru Ekos yang heboh, minta foto bersama segala. (lho kok ketemu Ekos pisan?)

Ngomong-ngomong soal ultah, pasti kita punya cerita seru tentang acara paling di tunggu-tunggu itu, apalagi kalau ada yang memberi kado di hari ultah. Aku ingat waktu jaman SD, saat itu musim kotak pensil yang pake magnit, trus ada kaca kecilnya, ada tempat khusus penggaris dan bahkan rautan pensilpun menyatu di kotak tsb. Bentuknya ada model2 binatang, kartun cantik warna pink…..duuuuh pokoke cute banget. Sayangnya, kotak pensilku sekalipun pake magnet, tapi yang kecil dan bentuknya kotak saja, maklum anak bapakku banyak jadi ga kuat kalau beli kotak pensil yang gede dan cute.  Sampai suatu ketika, saat ultah yang ke 10 , aku mengundang beberapa sahabat dekatku makan siang di rumah. Dan tahu nggak, beberapa hadiah ultah yang aku terima adalah kotak pensil warna pink, yang gede, cute, gambar kartun putri cantik… pokoknya impiankulah, dan jumlahnya gak tanggung-tanggung…ada 5 rek! Jadilah aku yang kegirangan , ganti2 kotak pensil tiap hari……nggaya tenan!

Saat aku klas 6 SD, aku punya wali kelas yang cantik, lembut dan sabar, wajahnya mirip foto ibu Kartini. Namanya bu Jum. Wah, aku dan teman sekelas sayang banget sama guruku satu itu. Sampai suatu hari aku dan konco dekatku, mencari tahu hari ultah bu Jum di kantor TU. Setelah tahu tgl ultahnya, aku sampaikan rencanaku ke teman sekelas kalau ingin merayakan ultah bu Jum. Teman2ku setuju kabeh, dan kami serkiler/urunan sak ikhlase, lek gak salah rata2 urunan 50 rupiah (jaman iku rek). Uang yang terkumpul dibelikan satu set gelas plus teko-nya, warnanya hijau muda yang harganya waktu itu Rp. 1500an (aku eling banget, soale aku karo ibuku sing tuku). Pas hari H-nya kami memberi kejutan, saat beliau masuk kelas kami spontan menyanyikan lagu ‘Selamat ulang tahun’ dan ‘Happy Birthday’ sambil memberikan kado ultah untuk beliau. Aku ingat sekali, bu Jum sampai berlinang airmata, tersenyum haru dan bicara terima kasih dengan suara tersendat-sendat. Kamipun puas dan ikut terharu, terlebih lagi beberapa waktu kemudian, aku tahu bahwa beliau menyimpan kado kami di lemari kaca ruang tamunya. Semoga beliau tetap sehat sekarang (aku tidak mendengar kabar terakhir beliau).  Setelah acara selesai, bu Jum mengajari lagu baru buat kami, judulnya ‘Amboina’ (itu lagu baru aku tahu dan lagunya indah sekali).

Kira2 begini liriknya : Duduk termenung di tepi pantai, nikmati malam purnama yang indah permai. Seakan beta ada di sana, di pantai Ambon dengan pasir putihnya….. Siang jadi kenangan, malam menjadi impian. Di pantai Amboina yang kukenang dan kucinta……hiks…hiks..hiks..

Masa SMP, sepertinya gak ada cerita tentang ultah. Nah…., yang seru itu acara ultah saat SMA. Tahu sendiri kan, saat klas II SMA, banyak teman2 cewek yang merayakan sweet seventeen. Sekalipun aku tidak merayakan ultah ke 17 ku, tapi waktu itu aku banyak sekali dapat undangan acara ultah 17an, hampir tiap minggu ada undangan ultah.

Ada satu acara ultah yang berkesan banget (dari segi menu yang terhidang…hehehe, dasar perut karet). Waktu itu klas II SMA, aku lupa nama yang ngundang (Eli apa ya?) sori lali jenenge, soale ga sekelas sih.  Rumahnya di daerah Kaliwates daerah PTP situ. Hari minggu siang itu, setelah rapat sispena aku meluncur ke rumah Eli bareng Sri Hidayati. Setelah masuk dan duduk lesehan, snack pertama keluar yaitu kue spiku dan  donat kentang guede-guede nan menggoda…., comot satu. Lalu ngobrol2, acara makan mulai. Menunya bakso pak Sabar (yang lagi top2nya), gado2, ayam goreng…..pokoke akeh banget dan enak2 tenan, tak incip kabeh menunya sekalipun dikit2. Habis makan ada acara potong kue tart, jane wis wareg tapi kue tart-nya menggoda juga, dimakan juga akhirnya. Tak pikir wis entek acara makannya, eh lha kok masih ada acara rujak manis, endi maneh irisan buahnya gede2, buahnya seger2, bumbune sawangane enak  banget…….yaaa sayang kalau dicuekin, makan lagi juga. Untungnya, celana panjang yang kupake model pinggangnya pake karet, jadi muat2 saja. Sri ini yang kerepotan karena mesti nyopot sabuk dan kancing celana jins-nya…..Alhasil saat pulang, gak iso ngadheg, mergo kekenyangan. Dan aku tidak makan sama sekali di rumah sampai besok paginya……

Di kelasku 3 Bio 3, acara ultah yo gak kalah seru rek. Aku dan bolo2, punya daftar ultah arek2 sak kelas. Biasanya beberapa hari sebelum seseorang ultah, aku dan bolo2 ngompori arek yang mau ultah, dan H-1 biasane aku nulis woro-woro gede2 neng papan tulis, kalau besok si A ultah, siap-siap jangan makan pagi atau makan siang karena ada traktiran dari A (bernada provokatif ….hehehe), dan diakhiri tanda tangan Sevi (menteri ulang tahun jare arek2). Macam2 yang dibawa saat ada yang ultah, sekedar makan bakso rame2 di pak Ri, bagi2 coklat fullcream (iki acarane Jovita), bawa  biscuit kaleng atau kacang kulit dll.

Ada satu yang berkesan dan aku ingat betul. Waktu itu si Oon (Wismadi Laksono, saiki jarene dadi camat di pulau garam) mau ultah. Seperti biasa aku provokasi dia untuk menyiapkan acara ultah. Karena responnya ‘malu-malu’, no comment dan senyum2 saja, aku tidak berharap banyak sakjane, sekalipun ritual menulis woro2 tetap kulakukan seperti biasa. Eh lha kok pas hari H-nya, si Oon datang pagi2 ke sekolah bawa 2 kardus ukuran indomie, trus diserahkan ke aku. Katanya ini tolong dibagi ke anak2 untuk acara ultahnya.  Weeee….gantian aku yang surprise banget! karena di dalam kardus ada sudah terdapat banyak paket lemper dan satu kue lagi (lupa) yang dibungkus plastik dan diberi tissue kue , persis acara arisan ibu2 PKK. Jujur, waktu itu aku nyesel juga karena jadi ngrepoti ibune Oon sekaligus kudu ngguyu. Btw, tengkyu kuenya On!

Saat kuliah, aku punya genk cewek2 beranggota 6 orang.  Genk sekedar tempat curhat, diskusi, jalan2 atau ngumpul2 saja. Ritual ultah anggota genk-ku lumayan juga, ya karena faktor usia jadi acara ultah biasanya kami isi dengan wisata kuliner, mencoba tempat makan yang enak2 yang belum pernah di kunjungi (tentu saja yang ultah mbayari rek),  kado tetap saja model serkiler, tetapi tema untuk kado berubah tiap tahunnya. Jadi kalau tahun ini temanya tas, ya kadonya mesti tas semua. Kalau tahun depan temanya baju/kain, kadonya juga sesuai tema. Dan asiknya, tema yang diambil selalu kami diskusikan sebelumnya, juga berapa budget yang mesti dikeluarkan untuk beli kado. Artinya, kalau kami terima kado ya tahulah berapa kira2 harga kadonya dan beli di mana. Lha wong belanjanya mesti rame2 minus yang mau ultah , tahun ke tahun yo muter ae kayak susur…….

Setahun + 179 hari

Menurut berita Jawa Pos tadi pagi, hari ini genap setahun + 179 hari bencana lumpur di Porong Sidoarjo sudah berlangsung. Setelah sekian lama, kira-kira seminggu yang lalu aku berkesempatan ‘jalan-jalan’ ke lokasi bencana. Diantar seorang teman baik, aku diajak berkeliling menyusuri lokasi bencana mulai dari sisi utara, timur, barat dan selatan. Sangat terbengong-bengong, karena tidak pernah membayangkan sampai separah dan sedemikian besar kerusakan yang terjadi. Pokoke serem, mengenaskan, memilukan…wah udan tangis pendeke…hehehe..

Cerita2 tentang bencana tsb. kupikir sudah banyak yang tahulah. Aku hanya berbagi cerita lewat beberapa gambar yang sempat kuambil. Silakan membayangkan sendiri kesedihan yang terjadi di sana. Jika ada yang singgah ke Sidoarjo, aku bersedia menjadi guide yang baik hati dan tidak sombong…..wkk…wkk….

Ini ada beberapa foto yang sempat kuambil gambarnya.

p1010085-edr.jpgp1010089-edr.jpgp1010092-edr.jpgp1010103-edr.jpgp1010108edr.jpgp1010130-edr.jpgp1010138-edr.jpg

Makanan, jajanan dan ketemu artis

dsc00243.JPGdsc00235.JPGdsc00224.JPGdsc00218.JPG

Satu gambar bisa bercerita banyak hal, mau dibuat satu dua kalimat bisa, mau bermain dengan kalimat-kalimat puitis dan indah ala Andrea Hirata pun oke. Terserah saja. Begitu juga gambar-gambar yang sempat kujepret di atas. Aku memberi kesempatan untuk berimajinasi terhadap gambar di atas.

Dan ada sedikit cerita perjalanan ke Makasar kemarin, memenuhi request Ekos. Berikut ceritanya adik-adik sayang…..

Mudik ke Makasar kemarin, sebenarnya cukup lama juga, sekitar 10 hari. Tapi karena salah prediksi, akhirnya ada beberapa hari yang terlewatkan di rumah saja. Jadi terasa singkat, karena ada beberapa tempat makanan yang wajib dikunjungi saat ke Makasar tidak sempat dicicipi karena terbatasnya waktu.

Beberapa makanan yang sempat dicicipi selama di sana, adalah pisang eppe’ di Tanjung Bunga, coto Makasar, dan sop konro. Agak menyesal karena belum sempat mencicipi ikan bakar khas Makasar di Pohtere’. Tempat terakhir ini, beberapa waktu lalu sempat dikunjungi oleh SBY. Tempatnya biasa saja sebenarnya, di daerah pelabuhan dan perkampungan nelayan tradisional tapi soal rasa……rrruarr biasa! Enyak-enyak…! Buat yang mau ke Makasar jangan lupa ikan bakar di Pohtere’ .

Sop konro yang terkenal sop konro Karebosi. Malam itu, rame-rame ke tempat tsb. Saat asik makan, tiba-tiba beberapa orang lelaki masuk berombongan. Dan duduk pas di meja sebelah kami. Agak surprise karena mereka adalah The Titans…….Wah, heboh sekali orang-orang yang duduk di meja kami. Opo maneh aku. Anakku tak provokasi untuk foto dengan mereka. Akhirnya aku pasang wajah ramah dan sedikit SKSD jadilah anak2ku berfoto sama mas Andika cs. Guanteng-ganteng tenan arek-arek saiki…..

Sayang juga, aku belum sempat menikmati coto kuda, karena belum-belum sudah dibilang nanti begini begitulah. Ya sudah, tamune nurut ae. Pun juga teddong palu basa, gagal juga diicipi. Padahal sudah mau membuat reportase buat Rizal. Sori dik, ntik pasti kucoba deh. Atau barangkali Rizal dulu yang sudah mencicipi, bisa cerita ke saya.

Makasar

Pantai Losari

Aku menginjakkan kaki pertamakali di Makasar th. ’92. Ikon pantai Losari yang terkenal dengan restoran terpanjang di Indonesia, menjadi daya tarik yang kuat waktu itu. Tentu saja berfoto siang hari di tepi pantai menjadi agenda utamaku (sedikit narsisistik memang), dan menikmati sore hari di tepi pantai sambil makan pisang eppe’ dan nun di ufuk barat langit semburat merah mengantar mentari tenggelam, adalah pemandangan yang amat berkesan dan indah. Sangat natural…..

Tapi itu duluuuuu, kenanganku 15 tahun yll. Losari yang kukunjungi lebaran kemarin adalah Losari yang tetap indah, tapi tidak natural. Terlalu banyak make up justru menghilangkan inner beauty-nya. Mungkin dengan dalih pembangunan, revitalisasi atau apalah istilahnya. Sekarang , tidak ada lagi penjual pisang eppe’, ikan bakar, es degan di sepanjang tepian pantai. Mereka direlokasi di satu tempat tidak jauh dari pantai Losari, yaitu di Tanjung Bunga. Kemudian ditepi pantai dibangun taman dari beton yang menjorok ke laut, cukup luas sehingga bisa jadi tempat pentas musik. Tapi buatku yang bukan orang Makasar, agak sedih mungkin. Karena kenangan 15 tahun yll amatlah berkesan.

Antara meminta dan memberi

Lebaran tinggal menghitung hari. Seperti sudah lazim dan menjadi budaya (sejak kapan ya?), kebiasaan mengirim parcel dan bingkisan lebaran tampak marak di mana-mana. Larangan pemerintah untuk mengirim parcel kepada para pejabat, tampaknya hanya membuat tiarap sesaat saja, karena banyak pihak yang berkepentingan dengan berkirim parcel. Mulai dari pengusaha parcel, produsen mamin dan pernak-pernik parcel, para pejabat, pengusaha dan jaringannya yang memiliki banyak kepentingan.

Saya tidak mengerti dan sering bertanya sendiri, apakah dengan berkirim parcel menunjukkan bahwa masyarakat kita adalah masyarakat yang mempunyai budaya untuk saling memberi atau budaya untuk meminta atau budaya tidak punya malu?

5 hari yang lalu, klinik tempat saya bekerja mendapat surat resmi dari kelurahan dan koramil setempat (kebetulan lokasinya persis di depan klinik saya), yang meminta secara terus terang untuk mengirim bingkisan lebaran buat kepala desa dan perangkatnya. Bingkisan harus sudah diserahkan paling lambat tgl 5 oktober di kelurahan. Tentu saja permintaan tsb. ditolak mentah2 oleh bos saya. Begitu juga surat dari koramil, beberapa hari setelah surat dikirim, seorang anggota koramil datang ke tempat saya untuk menanyakan respon surat. Respon dari bos saya idem.

Hal serupa juga dialami oleh perusahaan tempat suami saya bekerja (dan mungkin juga banyak perusahaan lain). Adalah hal yang rutin, jika setiap tahun perusahaan2 selalu diminta oleh kelurahan, kecamatan, polsek, koramil setempat (dengan dalih untuk keamanan lebaran) untuk mengirim bingkisan bagi komandan dan aparatnya serta lurah, camat dan perangkatnya. Kondisi ini sudah berlangsung bertahun-tahun dan berlaku sampai sekarang.

Kalimat apa yang tepat untuk kasus di atas?

Bukan saya hendak mendiskreditkan pihak2 tertentu dengan menuliskan nama instansi di atas. Tapi suka tak suka, mau tak mau itulah yang terjadi di tengah-tengah kita. Jadi tidak perlu ada yang marah atau kebakaran jenggot. Sekedar untuk tahu dan menjadi renungan saja. Pun juga tidak perlu kita menggeneralisasi kondisi itu, karena saya yakin selalu ada perkecualian di dunia ini.

Buat yang memang ingin berbagi rejeki atas nikmat yang sudah diberikan Allah, mungkin berbagi dengan orang-orang yang dekat dan ada di sekitar kita lebih terasa nikmatnya. Mungkin kepada bapak pengangkut sampah yang sudah bekerja menjaga kebersihan sekitar rumah, penjaga keamanan yang ada di lingkungan rumah, OB di tempat kerja yang dengan berpeluh-peluh membuat ruangan kerja kita jadi bersih dan wangi, penjual sayur keliling, atau abang becak yang mengantar jemput sekolah anak2.

Jadi, kalau parcel diidentikkan dengan saling memberi dan berbagi, yang hanya diberikan saat lebaran. Ada hal lain yang lebih bernilai dan lebih langgeng dengan berbagi yang bisa kita berikan setiap saat tanpa perlu menunggu lebaran tiba. Bukankan senyum, sapaan ramah dan tulus, sekedar berbincang sejenak dengan orang-orang yang dekat dan ada di sekitar kita adalah hal indah yang bisa kita lakukan sehari-hari?

Selamat bersiap-siap mudik, jaga kesehatan buat semuanya, maaf kalau ada kata yang tak berkenan. Selamat lebaran.

Lebaran dalam kenangan

Kemarin2, si Ekos wis nulis cerita posoan yang seru puol! Jian Ekos jagone lek soal ingatan masa lalu. Nah, saiki wis cedhak lebaran, mall2 podo rame banget, tapi mesjid tetap rame juga kok di Sidoarjo. Jadi yang mau belanja ya belanja, tarawihnya di rumah saja mungkin. Yang ke mesjid ya tetap ke mesjid dan beriktikaf.

Suasana lebaran sudah mulai terasa, terutama yang mau mudik lebaran. Oleh2 buat ortu, saudara, keponakan, beli tiket…..wah urusane akeh bangetlah. Dan mungkin sudah jadi agenda tahunan buat sebagian banyak orang. Apalagi yang jauh dari kampung halaman, suasana rumah di kampung selalu dirindukan. Karena tahun ini aku mudik ke Makasar (pas jadwal rutin mudik 3 tahunan), jadi mungkin aku tidak bisa merasakan suasana lebaran di Jember. Tapi ada sedikit ingatanku tentang lebaran di Jember yang pernah kulewati, yang selalu membuatku tertawa sendiri ataupun tertawa ramai2 dengan temanku.

Lebaran paling menyenangkan adalah saat2 usia 6-10 tahunan, waktu itu aku masih tinggal di daerah Tembaan, dulu namanya jl. Untung Suropati (sekarang ganti jl. A. Yani kalau tidak salah). Waktu itu arek cilik2 ga tahu melu neng mesjid (di kampungku), wayah orang ke masjid, arek cilik2 wis adus isuk2, nggawe klambi anyar, nyepakno dompet anyar. Aku eling, waktu itu aku wis rodo2 girlie. Rambut diroll, nganggo gulungan koran ben ngeblu lek dijungkati, gak lali pupuran…wis dandan habis2an lah.

Nah, saat orang turun mesjid, aku dan gank-ku wis kumpul di satu tempat. Tunggu kira2 1/2 jam, langsung deh ber’operasi’ unjung2 ke rumah2. Wis, pokoke ben omah dileboni. Jurus andalan….”Kulo nuwun opo Assalamualaikum,…sepuntene Bu”…., terus salaman dan uang recehpun berpindah tangan dari tuan dan nyonya rumah ke dalam dompet. Pernah disuruh duduk dulu sama empunya rumah…”ayo dimakan dulu kue2nya”, gank-ku cuma diam ae karo sikut2an (kabeh dho mbatin, kok ga ndang diwehi duwit yo) …diam2an saja saling berpandangan. Akhirnya si empu rumah ‘ngeh’, dan setelah duwit yang dinanti2 keluar, dengan kompaknya tanpa dikomando semua langsung berdiri…”sampun Bu, matur nuwun”…. wis jian semata-mata tenan!

Soal siapa yang dikunjungi, ‘asas keadilan dan pemerataan’ ternyata justru dimiliki oleh anak seusia itu. Bagaimana tidak, tanpa pandang bulu semua rumah dikunjungi, baik yang nasrani, konghucu, rumah tacik pemilik toko sing jelas2 ga lebaran yo dileboni ae. Dan mereka juga welcome banget, karena membuka pintu rumah, menerima dengan baik, menyediakan kue2 juga dan yang penting buatku dan bolo2ku (waktu itu) mereka juga memberi uang receh! Yang pasti, lebaran buatku waktu itu…….kaya rek! duwe duwit dewe. Mau njajan opo ae ga ada sing nglarang.

Masa SMP, lebaran kuisi dengan main ke rumah sahabat2ku saja, nyoba dan menghabiskan kue lebaran di rumah teman. Beberapa yang kuingat, karena selalu ke sana tiap lebaran a.l. Ning Nastiti, Dian Prita (wah di rumah pak Rahmat ini, kue kaastengelnya paling toooop! jadi sasaranku pertama), Nurhayati, Widya..itu saja sih yang diingat.

Masa SMA lumayan lebih seru dibanding SMP. Karena sudah bisa bawa vespa, mobilitas dan akses ke teman lebih banyak. Biasanya hari ke 2 lebaran, Ani Astuti (sohibku di SMA mulai klas 1-3, ada yang tahu dimana dia?) ke rumahku, setelah itu berdua ke rumah Sri Hidayati , terus bertiga ke rumah siapa lagi, begitu terus sampai bisa 6-7 orang terkumpul dan akhirnya keliling ke rumah teman sekelas. Tak absen dhisik ingatanku, sopo ae sing pernah kukunjungi waktu lebaran : Farida, Reni Fitri (sekarang di Sidoarjo juga), Nuri (dia di Sby), Diah (dulu rumahnya di Gebang), Yanti, Anasri, Erna Budi, Feni, Christ dan Jovita(ini dulu jadi penggembira), wwalah kok cekak ingatanku, mung semono ae. Sak elingku pernah ke rumah Ekos, Arik, Nanang, Atok. Biarpun cewek2, tapi rumah konco cowok yo diparani juga. Yo mergo rumongso akeh dosane, dadi njaluk sepuro yo gak perlu isin neng omah konco lanang. Setahuh pisan rek.

Paling seneng lek berkunjung ke rumah Feni ‘cluthak’ (jik eling areke Kos?). Omahe deket kolam renang kebonagung. Wah, jajane akeh tenan rek! Rong meja kebak jajan, mulai jajan kering aneka rupa sampai kacang2an, emping, krupuk2an, jenang, madu mongso wah jangkeplah. Mergo rombongane akeh, jajan rong meja yo meh entek tenan. Lek wis entek, saatnya berpamitan pulang. Jik eling aku, waktu pamit sama ibune Feni, beliau bilang….”kok cepat2 se mbak, dihabiskan dulu kuenya”…. Sambil mesam mesem kisinan, dengan kompaknya ngomong…..”kuenya sudah habis Bu”….”Ohhh……”ibune Feni ngguyu (karo mbatin be’e). Tapi top banget si Feni itu.

Masa mudik, sebenarnya dimulai saat kuliah. Seneng banget rasane kalau sudah mau libur lebaran. Meskipun waktu itu jadwal kuliah di tempatku amat padat, jadi jadwal mudik selalu satu hari sebelum lebaran dan harus kembali ke kampus di hari kedua lebaran. Alhasil, teman2ku yang tinggal jauh dari Malang jarang yang pulang kampung. Dan teganya lagi itu fakultas tempatku belajar, hari ketiga lebaran yo langsung kuliah dan praktikum! Dan kalau pas jadwal mid test yo langsung ujian….wis jian teganya..teganya.. teganya…! Paling nelangsa waktu jaman ko ass di RS, kalau pas kena giliran di bagian gede yang pakai acara jaga segala, wah dijamin lebaran di RS deh! Untungnya aku tidak sempat mengalami lebaran Idul Fitri di RS, kalau lebaran Qurban di RS pernah merasakan, tapi Idul Adha kan suasananya tidak seperti Idul Fitri, jadi ….never mind.

Oke, selamat mudik buat yang mau mudik, selamat lebaran buat semuanya saja. Mohon maaf kalau ada silap kata yang tak berkenan di hati . Habis lebaran mungkin banyak cerita yang bisa dibagi untuk semua. Buat Rizal, saat ke Makasar nanti saya mau coba coto kuda dan teddong (kerbau) pallu basa. Nanti tak ceritakan bagaimana rasanya.