Kenakalan Berjamaah di SMA

Ada beberapa tindak ‘kenakalan’ pelajar yang dulu mungkin pernah kita lakukan secara ‘berjamaah’. Saya pun pernah (mungkin kerap, he he) terlibat di dalamnya dulu. Saya katakan tindak ‘kenakalan’ karena secara normatif hal-hal tersebut tidak bisa diterima sebagai perilaku positif dari remaja dengan label pelajar. Ada atribut ‘jamaah’ karena tindak tersebut dilakukan secara massal dan secara psikologis mungkin ‘keberjamaahan’ inilah yang bikin asyik. Bikin asyik karena mungkin itulah cara saya dan jamaah lainnya waktu itu untuk menunjukkan semangat kebersamaan / solidaritas, ‘sentimen’ anak muda dalam proses pencarian identitas.

            Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas kenakalan pelajar dalam perspektif ilmiah. Saya hanya ingin mengenang beberapa bentuk perilaku yang pernah kami lakukan bersama-sama dulu ketika saya SMA. Nah, mari kita mulai  mengulik masa lalu kita yang mungkin saat ini bisa bikin kita ngomong ’kok iso yo aku ngono, mbiyen?’, he he. Alur kenangan dalam tulisan ini akan mengalir dalam kerangka kronologis.

            Kelas satu. Dulu saya bergabung dengan kelas yang letaknya di ujung koridor di depan lapangan upacara (entah apakah layout ini masih berlaku sama sampai kini) yaitu kelas  14 (satu empat). Kelas satu SMA adalah masa-masa sekolah ketika saya harus masuk shift sekolah ke dua alias masuk siang, mulai jam 13.00 WIB, karena harus bergantian dengan Sekolah Widyatama (jika saya tidak salah mengingat nama sekolahnya). Di kelas awal ini, saya masih ingat betul ketika kelas 14 suatu saat pernah membikin Pak Karniyanto (Pak Karni, guru mata pelajaran Sejarah dan PSPB) bergetar suaranya karena menahan emosi dan (mungkin) linangan air mata (mata beliau berkaca-kaca saat itu) karena jengkel melihat ulah kami. Entah, mendapat ide dari mana, kami sekelas saat itu sepakat saling lempar kulit buah rambutan (yang kami santap buahnya bersama-sama di kelas) saat Pak Karni sibuk menulis materi pelajaran di papan tulis. Begitu Pak Karni curiga mendengar suara berisik di belakang beliau, beliau berpaling ke belakang dan entah bagaimana pula kami bisa secara simultan berhenti saling lempar dan terkesan sibuk menyalin materi pelajaran di buku kami, he he. Akhirnya Pak Karni memutuskan menulis kembali di papan tulis dan kejadian yang sama berulang, kami kembali saling lempar kulit buah rambutan. Lagi-lagi Pak Karni berpaling ke belakang dan hanya menemukan kami yang sok innocent berkonsentrasi pada materi pelajaran. Kali ke tiga kami kurang beruntung karena salah seorang teman tertangkap basah dalam posisi tangan akan melempar kulit buah rambutan. Maka bisa ditebak, apa yang telah saya uraikan sebelumnya kemudian terjadi. Pak Karni (maaf, Bapak, kami menyesal), beliau sangat murka dengan apa yang kami perbuat, sampai-sampai kami tidak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut beliau: ”Apakah kalian tidak menyukai Saya?” (InsyaAllah ini kata-kata beliau bila saya tidak salah mengingat).

            Kelas dua. Naik ke kelas dua, saya masuk dalam komunitas kelas 2 Fisika 2.  Kelas Fisika 2 terkenal di antara kelima kelas paralel Fisika lainnya (seluruhnya ada 6 kelas paralel Fisika) karena reputasinya sebagai kelas ’buangan’, kelas dengan jumlah anak-anak terbanyak untuk yang dianggap masuk dalam kategori ’bandel’, ’berandals’, bahkan ’criminals’. Sebagian penghuni Fisika 2 adalah langganan Drago (for those who don’t know what Drago is, this is the name of a place, located right behind the school, where ‘school-time escaping students’ usually communed together). Termasuk dari mereka adalah yang beberapa kali terlibat tawuran hingga main tikam-tikaman belati sampai berurusan dengan polisi, trek-trekan hanya untuk bisa dibilang gaya atau berfilosofi hidup ala ‘Peterson’ yang adalah simbol ‘anak asuhan rembulan’ atau petualang jalanan sejak malam sampai dini hari. Untuk kenakalan berjamaah, inilah saat-saat dimana kami sekelas mulai sepakat dengan acara ‘bolos bersama’, mokong melarikan diri dari beberapa jam pelajaran yang sudah kita ‘incar’ untuk kemudian pelesir berombongan naik motor menuju dua tempat favorit: Rembangan atau Pantai Watu Ulo. Wah! he he. Kami serasa keluarga besar Mafia (Makhluk Fisika Dua) yang sangat kompak! Sesudah acara ‘merasa kompak’ terpenuhi, kami bersiap untuk menanggung segala resiko yang akan terjadi akibat kekompakan kami. Beruntunglah kami karena resiko yang kami tanggung hanyalah ‘omelan wejangan’ dari bapak guru matematika saat itu, Pak Mulyani, karena memang kami sengaja memilih jam pelajaran beliau untuk slot acara mokong bersama ini.

           Kelas tiga. Masih melanjutkan atmosfer yang sama, saya kembali bertemu dengan penghuni lama dari keluarga Mafia, kali ini di kelas 3 Fisika 2. Ruang kelas 3 Fisika 2 juga berada pada deretan kelas di depan lapangan upacara, seperti lokasi kelas ketika saya masih berada di kelas 14. Kelas 3 Fisika 2 menurut saya fenomenal dalam hal kenakalan berjamaah. Satu hal yang paling saya ingat saat itu adalah kenekadan kami untuk membangkang pada ibu guru matematika yang sangat disegani sepanjang sejarah SMA 1, Ibu Purni. Masih dalam bentuk kekompakan ‘bolos bersama’, kami nekad meninggalkan kelas Ibu Purni, hingga beliau mencucurkan air mata karenanya. Entah, saya lupa sanksi apa yang kami terima saat itu, tetapi menurut kabar, itulah pertama kali dan satu-satunya saat dimana Ibu Purni, ibu guru tercinta yang sangat disegani di SMA 1 itu terlihat sangat bersedih sampai mencucurkan air mata. Apa yang kami rasakan saat itu? Entah, secara kolektif mungkin kami merasa bagai menemukan jati diri dengan ‘berani’ bersikap nekad. Entah..

            Masih ada beberapa bentuk kenakalan berjamaah lain yang saya ingat dalam periode sekolah SMA. Satu yang klasik di antaranya, yang ternyata juga terjadi pada setiap angkatan dari tahun ke tahun, adalah melakukan keisengan dengan bersembunyi di bawah meja ketika Pak Singgih, bapak guru Biologi, menghitung jumlah murid saat mengabsen kehadiran siswa di kelas. He he, sehingga beliau harus menghitung lagi dan lagi, berulang-ulang, karena setiap kali menghitung kok jumlah siswa berbeda terus? Romantika kenakalan berjamaah di sekolah, sekolah SMA..