1 ramadhan

Ba’da salam sholat maghrib di awal ramadhan, terasa getar HPku. Masuk SMS dari istriku “bi, belum selesai ngajinya? Ummi pengin habis maghrib kita kumpul sekeluarga”. Serius amat istriku, kata-kata cinta yang biasanya mengawali SMS nggak nampak lagi. ada apa nih???

Sejurus kemudian, sesampainya dirumah kulihat anak-anaku udah rapi dengan baju kokonya. Si kecil ‘nida’ nampak cantik dengan mukena merah mudanya. Wajah mereka nampak gembira, seolah-olah mereka sedang menyambut datangnya tamu agung yang selalu dirindukan. Istriku, disudut kursi tamu sedang melantunkan kalam Ilahi. Tak terasa menetes air mataku, rutinitas aktivitas diluar membuatku lalai dalam menyambut ramadhan.

Setelah mandi kupanggil anak-anakku. Gazie, hanzhalah, tholhah, nida sini duduk melingkar dekat abi-ummi.

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb. ba’da tahmid dan shalawat, kita harus bersyukur kepada Allah. Kalian tahu kenapa kita harus bersyukur? Karena kita bertemu dengan bulan ramadhan lagi, anakku saling berebut memberikan jawaban.

‘Ya, sebetulnya banyak sekali mengapa kita harus bersyukur. Misal, hidung gazie yang menghadap ke bawah dan bibir tholhah yang datar di bawah hidung tidak miring ke atas (vertical) dipipi. Kalian pernah berdo’a ‘Allohumma bariklana fi rajaban wa sya’ban wabalighna ramadhan?

‘Udah di ajari bi, tapi nggak pernah berdo’a’.

‘Nah betapa sayangnya Allah, kalian tidak pernah minta tetapi kalian diberi, diberi kesempatan bertemu dengan ramadhan. Makanya ramadhan kali ini harus jadi ramadhan terbaik. Apa yang mau kalian lakukan di bulan ini? Berapa target tilawah kalian?

‘Gazie 1 juz/ hari. Tholhah ½ juz. Hanzhalah 2 juz. Mendengar adiknya 2 juz, gazie menaikkan target jadi 3 juz’. Sholat traweh tiap malam, subuh berjamaah ke masjid. Trus habis subuh mau jalan-jalan.

tholhah, minta uang 500 setiap hari untuk infaq.

‘semangat kali kalian buat target, tapi ingat, target harus disesuaikan dengan kemampuan. Selama ini kalian tilawah hanya 5 halaman/ hari, sekarang target kalian 3 juz (60 hal) apa bisa?

Insya Allah, mudah-mudahan kami bisa memenuhi target.

mudah-mudahan Allah memberi kemampuan pada kita semua, menyelesaikan ramadhan dengan baik tidak hanya mendapat lapar dan dahaga.

Adzan isya’ udah terdengar. Yok, kita bersiap ke masjid, jangan sampai kita nggak kebagian tempat.

1 ramadhan 1429 h

banda aceh

demo….

‘ayah, harus transparan!”, teriak anak2ku, ditengah-tengah suara pukulan kaleng dan panci. Anak sulungku yang beranjak ABG mimpin lima adiknya demo.

’Ssst..ssst jangan berisik’ malu ama tetangga. ’ada apa? Kalau demo peralatannya yang lengkap donk. Mana spanduk, pamflet, ikat kepalanya? He..he..he…Kalian kan udah sering liat ayah berangkat demo. ’Kacang ora ninggalake lanjarane’ kata pepatah, nek bapake tukang demo, anake yo bakalan dadi tukang demo.

Emangnya ada apa, kok tahu2 ayah disuruh transparan. Apa selama ini ayah nggak transparan?

‘kami dengar ayah baru naik gaji. Kami ingin kebutuhan kami selalu terpenuhi. kalau kami minta beli buku, kami nggak mau denger ‘no money’. Coba ayah bayangin, untuk beli buku jawabanya selalu nggak ada uang, tunggu gajian… tapi beli rokok selalu ada uang. penting mana beli buku dengan beli rokok.?

Aku terdiam nggak bisa jawab. ‘jadi mau kalian bagaimana?

’kami ingin ayah buat anggaran yang jelas. Sehingga, kami tahu berapa rupiah yang dianggarkan untuk masing2 kami.

’baik kalau mau kalian begitu’. Istriku yang dari tadi hanya senyum2 liat tingkah pola anak2nya menimpali. ’ayah dan bunda, akan susun anggarannya’.

Rupanya nyusun anggaran untuk keluarga nggak sesimpel yang aku bayangkan. Anak2ku bergantian mendekati aku dan istriku tuk lakukan lobi2. entah belajar dimana mereka, apa dia tahu proses penyusunan anggaran dinegeri ini juga dari hasil lobi…semakin tinggi IP (indeks pendekatan) semakin mudah anggaran gool…seneng juga aku, melihat anak2 udah bisa membaca kondisi sekelilingnya. Bekal untuk melakukan perubahan dimasanya nanti…tinggal bagaimana kita arahkan mereka…

’ayah, maya pengin jatah maya lebih besar dibanding adik2. maya anak sulung, udah ABG jadi wajar kalau dapatnya paling banyak’ lobi anak sulungku.

Lain waktu anak kt-3 ku datang, ’Gazie pengin paling banyak jatahnya. Ekstrakurikuler disekolah banyak. Gazie juga pengin ikut les bahasa inggris, tennis, dan karate. ’Kalau gazie dapat banyak, tiap malam gazie mau pijitin ayah’ suap anakku.

Ke-empat anakku yang lain juga nggak mau kalah, dari janji2 sekedar lebih rajin bantu kerjaan ibunya sampai janji rajin mengaji dan menghafal qur’an. Semua jurus dikeluarkan anak2ku agar dapat jatah paling banyak.

Tidak terasa, udah seminggu proses penyusunan anggaran dilakukan. Sebanyak anggaran diajukan ke rapat pleno, sebanyak itu pula ditolak anak2. akhirnya, aku gunakan jurus kekuasaanku, ’kalau ditolak terus oleh kalian, kapan kita kerjanya. sekarang udah tanggal 10, maret tinggal dua puluh satu hari lagi. Sekarang, kalian mau terima atau tidak, kalau tidak terima, nggak ada lagi anggaran di keluarga ini. Biarin aja ayah dibilang nggak transparan’.

’Ayah, kami setuju…tapi kalau bisa biaya tamunya di hapus. Nilainya besar sekali’

’lantas kalau ada tamu bagaimana? Darimana ayah ambil dananya?

’terserah ayah, pintar2nya ayah aja. pokoknya kami nggak mau anggaran kami dipotong untuk biaya tamu. Kalau mau ada biaya tamu, gaji ayah harus dinaikin lagi’ timpal anak2ku hampir serentak.

Aku hanya bisa geleng2 kepala, tidak ada pilihan lain’Ok. Kita deal’

Hari-hari berikutnya, kami semua sibuk untuk merealisasikan anggaran yang telah disepakati. Betapa peningnya kepalaku karena banyak pengeluaran tidak didukung oleh anggaran…revisi anggaran tidak dimungkinkan lagi, sulap sana sulap sini, anggaran A realisasinya kita fiktifkan agar dananya dapat dipakai untuk pengeluaran yang tidak ada anggarannya. Selama ini, aku selalu ajari anak2 untuk tidak pernah berbohong, ternyata kali ini AKU telah BERBOHONG. Ya Allah ampuni aku?!!!…anak-anak jadi berlomba-lomba menghabiskan dana yang tersedia, walaupun akhirnya mereka membeli barang2 yang tidak perlu, yang penting anggarannya habis… bisa jadi, mark up juga terjadi disana untuk mempercepat proses habisnya anggaran….

Ah…baru ngatur rumah tangga aja sulitnya bukan main…bagaimana ngatur satu wilayah…bagaimana ngatur kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi bahkan negara…ah nggak sanggup aku membayangkan…betapa banyak kesalahan demi kesalahan akan kulakukan. Keinginan jadi orang no 1 mendadak lenyap.

Lantas, kalau pada mundur, nggak mau jadi pemimpin, siapa yang bakal mimpin? Kalau kita yang tahu benar dan salah tidak berani menanggung resiko… apa kita rela negeri ini diatur oleh orang yang tidak berhak? Diatur oleh orang yang tahunya, bagaimana bisa memenuhi kebutuhan diri dan golongannya saja? Diatur oleh orang yang tidak peduli dengan kondisi rakyatnya? Diatur oleh orang…dll. Tentu saja nggak rela…kita harus berambisi untuk merebut semua itu. Sebagaimana ambisi nabi yusuf untuk diangkat jadi bendahara negara, karena dipandang tidak ada lagi orang yang mampu melaksanakan tugas secara amanah… yang penting amanah dalam menjalankan tugas, ubah sistem, ubah pelaksana sistem, ubah semuanya demi kebaikan.

Adakah orang yang layak mimpin negeri ini dengan amanah?

Banda aceh, libur jumat 2008

(Tanggal berapa ya?

Dasar PNS tahunya tanggal 1 aja)

Fikik hamzah

tukang kompor

“fik, mau nikah nggak?” temen kantorku tiba2 nanya.

Siapa sih yang nggak mau nikah, dari smp pun aku udah mau nikah. (Bahkan sampai sekarang pun masih pengin lagi…he2. Orang bilang ngamalin sunnah nabi).

“ada apa nih, kok tiba2 nanyain tentang nikah?”.

”nggak papa, ni ada cewek yang udah siap dinikahin.”

Aku mulai berhitung, nikah-nggak-nikah-nggak-nikah. Cukup nggak tabunganku ya? Dari uang pindah masih tersisa 250 ribu. Untuk ukuran makasar uang segitu nggak ada artinya..biaya pernikahan cukup mahal di makasar, (betul bu dokter sevi?)..selain biaya mendatangkan keluarga dari jawa, biaya uang naik juga mahal…pembantuku yang hanya jebolan kelas 3 SD, uang naiknya sampai 3 juta. Sementara cewek yang ditawarin ke aku, keturunan bangsawan, sarjana, berapa uang naiknya ??? hitung punya hitung, akhirnya aku mundur…”nggak dulu lah, belum cukup uangku”. Toh aku masih muda, ditunda sedikit masih bisa. Kejadian itu pada pertengahan 1992, setengah tahun setelah aku tinggalkan jawa.

Di penghujung tahun 1992, aku ditanya lagi…kali ini, aku bertekad tuk terima tawaran itu, meski tabunganku masih tetep 250 ribu.. . alhamdulillah, setelah aku bertekad dan mempercayakan semuanya padaNya, ternyata Dia banyak memberi kemudahan, rejeki mengalir begitu mudahnya,,cukup untuk mendatangkan keluarga, persiapan pesta, dan yang penting…mertuaku ternyata nggak minta “uang naik’ sepeserpun… aku jadi teringat dengan janji Nya, Dia akan meng-kayakan orang dengan pernikahan…Dia akan memudahkan jalan bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Nya. Dan …jadilah aku menikah pada 8 april 1993.

Waktu tsunami di aceh, banyak relawan datang dari penjuru negeri. Diantaranya, salah seorang mahasiswa dari Solo-aku lupa namanya- dia cerita bahwa disemester dua, dia sudah menikah. Lantas, bagaimana dia bisa menghidupi keluarga ? Dengan jualan buku katanya. Setiap ada pengajian, kegiatan keagamaan, dia selalu bawa barang dagangannya..alhamdulillah, sampai sekarang-katanya- kebutuhan keluarga dapat terpenuhi walaupun tidak berlebihan, istrinya kini udah selesai kuliah (paramedis) dan bisa membantu nafkah suaminya.

Masih banyak cerita-cerita senada,, yang sekarang sering aku ceritakan ama teman2ku (kumpulanku masih banyak mahasiswa). Sampai-sampai aku sering dipanggil tukang kompor. Kadang berhasil kadang nggak. Kadang ada yang terbakar, kadang ada yang tetep dingin, seperti wajan yang bawahnya terlalu tebal angusnya, biar dipanasin tetep nggak panas2. Yang terbakar, kadang ada juga yang mempercayakan ama aku pengurusan nikahnya. Jadi, selain PNS, tukang kompor, dan kadang2 mak comblang jadi profesiku saat ini.

Lambatnya teman2 untuk menikah karena (diantaranya) adalah adanya rasa takut tidak bisa memberi nafkah yang cukup untuk keluarga. Seolah-olah kitalah Sang pengatur rejeki. Padahal kita semua tahu, bahwa rejeki adalah ditangan Allah. Kita selalu berhitung dengan kalkulasi matematika di atas kertas 1 + 1 = 2.. padahal Allah memiliki rumus matematika yang lain, sebagaimana sahabat yang mengadu sama rasul, bahwa dirinya adalah miskin.. sebagai solusi disarankan oleh rasul untuk menikah. Setelah menikah, dia masih merasa miskin. Disarankan untuk menikah lagi, kalau nggak salah sampai istrinya cukup empat. (bener nggak, ceritane cak faiz?). ternyata dengan menikah dia bisa memberikan nafkah kepada keluarganya, nggak hanya satu tapi empat…

Sebenarnya nggak hanya dalam konteks pernikahan kita kurang yakin akan kebesaran Nya, kurang yakin akan kemurahan Nya, kurang yakin akan janji2Nya…dalam banyak hal, dalam segala hal kehidupan kita. Sehingga terhadap sesuatu yang sudah ada takarannya (misal rejeki) kita habis-habisan mengejarnya, dan terhadap sesuatu hal yang tidak pasti (misal surga) kita santai2 aja.

Jadilah seperti burung, pagi dia terbang tanpa tahu tujuan tuk cari nafkah, sore dia pulang dengan perut kenyang.

Dia sangat yakin bahwa rejeki adalah dari Nya. Dia sangat yakin akan pertolongan Nya.

Untuk bisa jadi orang ’yakin’ sulitnya bukan main, namun bukan suatu hal yang mustahil.

Banda Aceh,

Fikik hamzah