Radio Dangdut Jember

Gara-gara baca tulisan Ekoz tentang Radio Suara Akbar beberapa waktu lalu, sayup-sayup terdengar suara Bang Jali dan Bang Samiun di telinga saya. Karena tak ada rekamannya, ya saya buatlah versi rakitan sendiri.

http://alifandi.multiply.com/music/item/9/Radio_Dangdut_Madura

Mohon maaf kosa katanya sangat terbatas, sudah abit tak ada lawan bicara. Mon bedhe pantun, mara engko’ e belei.

Obat Jerawat Alternatif

Cerita ini bisa merusak reputasi seorang teman sesama lulusan SMA satu, jadi tolong disebarluaskan he he. Caveat lainnya adalah cerita ini agak jorok, mohon maaf kalau menyinggung pembaca yang norma susilanya lebih ketat dari saya.

Waktu itu kami bertiga lulusan SMA1 baru diterima di UGM. Saya dan teman ini, sebut saja H main ke tempat kos seorang teman SMA1 lainnya, Rico Amanto yang juga pernah tampil di blog ini, di daerah Pogung Baru.

Dasar mahasiswa pemalas kurang kerjaan, kami akhirnya main kartu dg beberapa teman lain. Si H waktu itu sedang penuh jerawat dan sering mengeluh bahwa segala macam pengobatan ternyata tidak mujarab. Entah bagaimana Rico kemudian nyeletuk, Ke’ono kathok jerone arek wedho…iso waras, sambil terus main kartu.

Si H langsung menjawab “Mari, wis” , …kami semua terperangah mendengar jawabannya karena Rico setahuku cuma bergurau. Mari di sini dipakai dalam pengertian Jember, bukan dalam pengertian Yogya yang berarti sembuh. Si H waktu itu wajahnya masih seperti permukaan bulan.

Permainan kartu terhenti dan si H kemudian bercerita panjang lebar bagaimana dia mencuri celana dalam dari jemuran rumah kos campurnya. Rupanya dia meminta dua orang kawan sekosnya untuk berjaga-jaga sementara dia dengan gerak cepat menyambar jemuran. Bagi yang kenal kota Yogya, dia waktu itu kos di samping RS Sarjito di sebuah rumah yang kebanyakan dihuni mahasiswi berjilbab.

Aku jadi ingat cerita ini lagi karena baca posting Rico di salah satu halaman ini dan tertawa sendiri. Please excuse my immature sense of humour.

Jadi kalau anda pernah kehilangan jemuran, jangan-jangan dipakai si pencuri untuk pengobatan alternatif.

Oh ya, saya sudah lama sekali nggak ketemu si H tapi saya lumayan yakin dia gak akan marah karena cerita ini saya sebarkan.

Menyesal di Roti Sentral

Sebagai selingan pecel dan sambel tempe, waktu kecil dulu dangkadang saya disuruh ibu beli roti di Toko Sentral di Jalan Raya.  Saya bicara zaman pra Wina Bakery ini, tapi waktu belum begitu banyak saingan pun, Roti Sentral gak gitu enak. Agak manis dan tak begitu padat berisi. Maaf kalau ada sodara pemilik Toko Sentral di komunitas ini. 

Ragam sajian roti Sentral saya sudah lupa tapi penjualnya saya ingat sampai sekarang.  Waktu itu dia sudah setengah tua dan tidak terlalu banyak bicara. Di tembok samping  terpampang foto berpigura ketika dia masih muda, dengan celana pendek putih dan kaos gelap menjabat tangan Presiden Sukarno.

Menurut bapak saya,  dia adalah The San Liong (Tee San Liong, nggak jelas ejaan yang betul).  Dari tulisan koran-koran, saya kemudian tahu bahwa dia adalah salah satu trio maut PSSI tahun 1950an,  Ramang-Djamiat Dalhar-San Liong.

Beberapa tahun lalu saya dengar/baca bahwa San Liong sudah meninggal dunia.  Sebagai penggemar sepakbola, saya menyesal tidak pernah berkenalan atau paling tidak berjabat tangan dengan dia.

Ketika saya ketik di Google, ternyata tidak banyak tulisan tentang dia, masih lebih banyak tentang  Phua Sian Liong alias Januar Pribadi.  Mungkin kawan-kawan di sini ada yang lebih tahu tentang dia?

Saya kira dia merupakan salah satu tokoh besar asal Jember. Kalau meminjam analogi Manchester United, Ramang-Djamiat-San Liong ibarat holy trinity Denis Law-George Best- Bobby Charlton.

Orang Jember lainnya yang saya ingin kenal adalah Mulyadi alias Ang Tjing Siang, finalis All England tahun 1973 pemain Piala Thomas. Juli nanti sambil pulang ke Jember, sesudah makan pecel lele di Lestari, saya ingin berfoto sama dia.