SEJARAH JEMBER.. dari Kompasiana

Mumpung lagi nemu tulisan bagus di kompasiana tulisan dari Saiful Rahman,

Tulisannya panjang dan sangat serius,… cuoocoook buat yang serius pengen tahu sejarah Jember.. Monggo dinikmati

Sejarah kabupaten Jember yang saya baca pada situs resmi PEMKAB Jember dibentuk berdasarkan Staatsbland Nomor 322 tanggal 9 Agustus 1928 dan sebagai dasar hukum, mulai berlaku tanggal 1 Januari 1929. Pemerintah Hindia Belanda telah mengeluarkan ketentuan tentang penataan kembali pemerintah desentralisasi di wilayah Provinsi Jawa Timur, antara lain dengan menunjuk Regenschap Djember sebagai masyarakat kesatuan hukum yang berdiri sendiri. Secara resmi ketentuan tersebut diterbitkan oleh Sekretaris Umum Pemerintah Hindia Belanda (De Aglemeene Secretaris) G.R. Erdbrink, 21 Agustus 1928. oleh karena itu hari jadi kabupaten jember ditetapkan 1 januari dan dirayakannya setiap tahun. (baca di http://jemberkab.go.id)

Diskursus hari jadi kabupaten Jember tersebut diuraikanlah jejak-rekam yang pada umumnya bersumber dari arsip-arsip atau manuskrip yang ditulis tangan warga belanda dan dikuatkan dengan adanya situs-situs bangunan peninggalan belanda yang masih berdiri kokoh sampai sekarang. Menurut Tri Candra dalam makalah International Conference on Urban History, di Surabaya, August 2004, mengurai bahwa proses kapitalisasi oleh perusahaan perkebunan partikelir belanda di daerah Besuki merupakan suatu penanda fase pertumbuhan dan berkembangnya secara nyata Jember sebagai kota. Pada titik inilah kemudian Jember lahir sebagai kota industri perkebunan. Ia adalah sebuah kota yang lahir dari sebuah proses modernisasi kota-kota Hindia, sebagai akibat dari sistem perusahaan bebas yang dianut sebagai prinsip umum ekonomi sejak masuknya kapital besar, periode akhir abad XIX. (Candra, Tri: 2004).

Tak Jauh beda dengan Tri Candra, Edy Burhan Arifin menjelaskan sejarah perkembangan pesat peradaban jember sebagai wilayah industri perkebunan ditentukan oleh semakin merebaknya perusahaan swasta belanda di wilayaha jember utara dan Jember tengah.

Adapun yang merintis usaha perkebunan swasta di Jember ialah George Birnie yang pada tanggal 21 Oktober 1859 bersama Mr. C. Sandenberg Matthiesen dan van Gennep mendirikan NV Landbouw Maatsccappij Oud Djember (NV. LMOD) yang semula bergerak di bidang perkebunan tembakau, namun kelak kemudian hari merambah pada perkebunan aneka tanaman seperti kopi, cacao, karet dsb. (Brosur NV. LMOD:1909). Usaha George Birnie tersebut menarik minat para ondernemer Belanda lainnya untuk menanamkan usahanya dan mendirikan perkebunan di daerah Jember, sehingga dalam waktu yang relatif singkat berdiri perkebunan swasta di daerah ini seperti Besoeki Tabac Maatscappij, Djelboek Tabac Maatscacppij dll. Kehadiran sistem perkebunan swasta ini membawa perubahan-perubahan sosial dan ekonomi pada masyarakat dan yang terpenting terjadinya perubahan status kota Jember pada tahun 1883 yakni yang semula distrik menjadi regentschap sendiiri terpisah dari Bondowoso. Sehubungan dengan berubahnya status kota Jember, maka pemerintah pusat mengadakan perombakan struktur pemerintahan dan digalakkan pembangunan infrastuktur seperti perombakan struktur pemerintahan dan digalakkan pembangunan infrastuktur seperti jembatan, jalan dan yang terpenting dibukanya jalur kereta api dari Surabaya menuju Probolinggo dan terus ke Jember, serta dari Jember menuju Panarukan yang berfungsi sebagai pelabuhan untuk mengangkut produk komoditi eksport pada desenia ke sembilan abad XIX. (Burhan, Edi: 2006)

Dengan derasnya penetrasi modal yang ditandai dengan semakin banyaknya perusahaan-perusahaan partikelir berekspansi di wilayah Jember membawa implikasi pada arus besar migrasi penduduk yang ber etnis Madura dan Jawa kewilayah-wilayah industri perkebunan di jember. Migrasi ini terjadi demi memenuhi kebutuhan tenaga kerja dan perluasan wilayah-wilayah perkebunan di jember. Lebih lanjut Edi Burhan arifin mengutip Bleeker, 1847 dan Tennekes, 1963 mengungkapkan, bahwa tahun 1845 penduduk Jember berjumlah hanya 9.237 orang. Namun sejak desenia ke tujuh abad XIX seiring dibukanya perkebunan swasta di daerah ini terjadi lonjakan jumlah penduduk yang sangat mencengangkan, tahun 1867 meningkat menjadi 75.780 orang. Salah satu faktor penyebabnya ialah terjadinya gelombang migrasi besar-besaran orang madura ke daerah Jember. Pada tahun 1880 meningkat menjadi 129.798 orang. Peningkatan penduduk yang sangat besar itu disebabkan karena terjadi gelombang migrasi besar-besaran orang-orang Jawa ke daerah Jember. Terjadinya gelombang migrasi orang Jawa itu dikarenakan pada tahun 1880-an jumlah perkebunan swasta di daerah Jember semakin banyak dan perkebunan-perkebunan itu membutuhkan tenaga kerja yang banyak.

Para migran tersebut pada akhirnya membawa dan mengembangkan budaya asalnya ke daerah yang baru. Dalam kontek budaya akibat arus migran dari dua entitas budaya berbeda yang kemudian berdiam pada satu wilayah yang sama, Edi Burhan Arifin menyebut, telah terjadi proses akulturasi budaya sehingga di daerah Jember muncul budaya “pandhalungan” yang merupakan percampuran dua anasir budaya menjadi budaya baru. Anehnya pernyataan yang tidak melalui penelitian mendalam dan spesifik tersebut kemudian dikuatkan oleh Ayu Sutarto dan lain-lain yang mengkristal menjadi diskursus kebudayaan pandhalungan di Kabupaten Jember dengan ciri utama dilihat dari cara praktik bahasa sehari-hari dan cara berkesenian yang merepresentasikan percampuran antara etnis Madura dengan etnis Jawa. Menurut Ayu Sutarto, Tipe kebudayaan orang pandalungan adalah kebudayaan agraris-egaliter. Penanda simbolik yang tampak jelas dari tipe kebudayaan ini terdapat pada seni pertunjukan yang digeluti dan penggunaan bahasa sehari-hari yang secara dominan menggunakan ragam bahasa kasar (ngoko) dan bahasa campuran ‘dua bahasa daerah atau lebih’ (Sutarto, Ayu: 2006). Sedang Hari Yuswandi dalam Christanto P.Raharjo bernada sama memberikan definisi sederhana tentang Pendhalungan sebagai (1) sebuah percampuran antara budaya Jawa dan Madura dan (b) masyarakat Madura yang lahir di wilayah Jawa dan beradaptasi dengan budaya Jawa ( Raharjo, P, Cristanto:2006).

Baik publikasi situs resmi PEMKAB Jember maupun tulisan Tri Candra Ap, Edy Burhan Arifin, Ayu Sutarto, dan lokakarya-lokakarya yang telah diselenggarakan pemerintah daerah, kalau diamati narasinya lebih banyak berbicara dan bertumpu pada kekuatan sumber-sumber tertulis yang telah ada. Sedang isi cerita sejarah yang dikembangkannya lebih mengarah pada bagaimana proses perkembangan kota Jember dimulai, sekaligus bersamaan menentukan pembabakan alur sejarah jember secara keseluruhan. Seakan berbicara dan membayangkan Jember lampau kemudian tak lepas dari periodisasi sejarah masa kolonialisme, masa pendudukan Jepang, masa revolusi dan Masa pasca kemerdekaan. Dengan demikian menganalisa dinamika perkembangan dan perubahan-perubahan sosial masyarakatnya pun harus mengikuti dan merunut pada proses-proses sosial pembabakan sejarah yang telah tertulis didalamnya.

Wacana kesejarahan Jember yang telah terdistribusi selama ini menjadi terbatas pada penceritaan bagai mana kota jember terbentuk dan kekuasaan administratif Jember sebagai Kabupaten terbangun. Seperti yang telah saya paparkan diatas, dimana sejarah Jember dimulai dari penetrasi modal besar-besaran yang masuk kejember oleh perusahaan swasta Belanda pada tahun 1867 menyebabkan jember berkembang pesat menjadi kota perdagangan yang melampaui wilayah-wilayah se-kerisedenan besuki yang secara administratif kemudian pemerintah hindia belanda berkepentingan menetapkan wilayah afdelling Jember tersendiri terpisah dari afdelling Bondowoso. Implikasi dari wacana ini, mainstrean sejarah Jember sebagai sejarah tertulis berposisi mensubordinasi sejarah lisan dan meliyankan sumber-sumber cerita rakyat. Sejarah rakyak diasosiasikan sebatas legenda, dongeng, dan itu sebagai omong kosong yang tak terkait dengan kebenaran sejarah Jember masa lampau. Dampak sistemik lainnya, para kaum inteluktal yang paling berkompeten menggali sejarah lisan menjadi malas menelusuri sejarah Jember melalui tradisi lisan rakyat.

Implikasi lain menggali sejarah jember hanya berpatokan pada sumbr tertulis yang mayoritas ditulis oleh orang-orang kolonial belanda, kesan yang diporoleh, bahwa gelombang sejarah jember akibat dari penetrasi modal dan kolonialisme belanda yang dimulai dari arah utara mengakibatkan arus migrasi etnis dari madura dan jawa. Kesan selanjutanya, peran sentral eksistensi kolonial bangsa belanda di jember menjadi penentu arah perkembangan sejarah kabupaten jember pada periodisasi setelahnya. Dan migrasi besar-besaran yang mempertemukan dua etnis besar yakni etnis jawa dan Madura dalam satu area di Jember tengah menghasilkan kebudayaan baru Jember bernama budaya Pandhalungan, menjadi problematis, karena belum tentu merepresentasikan kebudayaan rakyat jember secara umum. Bisa jadi ini hanya kasuistik yang terjadi di jember tengah yang tak bisa dipukul ratakan ke wilayah jember lainnya.

Superioritas penulisan sejarah Jember yang mengutamakan sumber dokumen tertulis merupakan gejala umum penulisan sejarah di indonesia, dengan apik Ahmad Nashih Luthfi (2006) menggugatnya seperti berikut dibawah ini:

Agaknya tidak berlebihan bila dikatakan bahwa sejarah Indonesia selama ini terkuantifikasi ke dalam penjelasan yang sifatnya structural, kelembagaan (politik), nilai, ideology, arus sebagai penggeraknya, tekstualitas, dan mengabaikan eksistensi kemanusiawiannya. Sehingga muncul istilah history without people, and people without history. Ketika sejarah mengalami positifistikasi yang akut, ditandai dengan semboyan “no written document no history” oleh Ranke, sejarah telah mengkhianati metode tradisonalnya, metode Herodotus atau Thucydides ketika menulis perang Peloponnesian, yakni metode wawancara terhadap para prajurit yang terlibat dalam perang tersebut. Sejak saat itu sejarah mengalami kemunduran. Namun, setelah Allan Nevins dari Columbia University pada tahun 1948 menggunakan metode Sejarah Lisan dalam merekonstruksi masa lalu kulit putih Amerika, Sejarah Lisan mulai kembali mengalami kemajuan. Disusul dengan Paul Thompson dalam bukunya berjudul Voice of The Past, Oral History, metode Sejarah Lisan mengembalikan posisi pentingya, dan membuka potensi rekonstruksi atas masa lalu lebih mudah dilakukan. Penulisan sejarah semacam ini (khususnya banyak menggali aspek social) mulai berorientasi pada penulisan sejarah yang beragam, dari lapisan bawah atau “history from below, history from within”. Sehingga terjadi usaha pendemokratisan dalam sejarah.

Oleh karenanya pembabakan sejarah jember yang telah menjadi alur maenstream sejarah dan kategorisasi budaya pendhalungan yang telah menjadi rezim wacana, perlu ditinjau ulang. Peninjauan ini saya maksudkan untuk melengkapi kekurangan historigrafi Kabupaten Jember. Tinjauan pertama bahwa gelombang sejarah jember dimulai dari jember utara dan penanggalannya mengacu pada narasi tertulis yang tersimpan rapi dalam lemari kepustakaan pemerintah belanda, tanpa disadari telah menafikkan sejarah lesan dan artefak sejarah lainnya yang berkembang dimasyarakat jember selatan, bahkan sejarah lisan rakyat jember pada umumnya. Pengamatan saya dilapangan pada fenomena sejarah rakyat jember yang perlu ditelusuri kedalamannya sebagai berikut.

Fenomena historisatas nama-nama desa yang memakai penamaan Jawa yang umum terjadi diseluruh wilayah kabupaten Jember, mengindikasikan keberadaan rakyat jember ada jauh sebelum kedatangan koloni bangsa belanda, saya kira merupakan data yang melengkapi historigrafi yang perlu ditelusuri lebih jauh. Cerita rakyat desa balung misalnya, (setiap tahun kronologi sejarah Desa balung Lor dibaca pada acara selamatan desa) dikemukakan, bahwa penamaan desa Balung bermula ditemukannya tulang tengkorak manusia pertama pembabat hutan bernama Mbah Budeng, oleh kelompoknya kemudian prosesi penemuan tengkorak mbah Budeng tersebut ditandai dengan nama wilayah utara hasil pembabatam dinamai Balung Lor, sebelah barat dinamai Balung Kulon dan sebelah selatan dinaman Balung Kidul. Mbah Budeng dan kelompoknya keberadaannya di balung merupakan pelarian dari kerajaan mataram dan makam mbah Budeng sampai sekarang dikeramatkan sebagai tokoh sejarah yang melahirkan desa Balung. Lain halnya dengan cerita sejarah kecamatan Balung, di kecamatan Puger, oleh mayarakat, nama puger diyakini diambil dari nama pangeran puger yang sempat menetap di puger bersama pengikutnya. Sampai sekarang cerita yang beredar disana, bahwa rakyat puger dahulu kala adalah sebagai pengikut pangeran Puger Situs petilasan (berbentuk makam) Mbah Tanjung, yang berada di Kucur merupakan bukti historigrafi sejarah desa Puger yang sekarang sudah terpecah menjadi Desa Puger wetan dan Puger Kulon. Fenomena sejarah lainnya terjadi di Desa Tamansari Wuluhan ditemukannya oleh masyarakat setempat artefak bekas taman masa kerajaan majapahit yang diyakini oleh masyarakat setempat sebagai cikal bakal nama desa taman sari. Masih banyak lagi nama-nama desa Di kabupaten Jember lainya yang memakai nama Jawa dan ditengarai berasal dari nama ketokohan atau legenda masyarakat setempat yang mendominasi dikabupaten Jember. Di Jember Timur, penamaan desa Mayang Sari erat kaitannya dengan kisah legenda putri Mayang yang oleh masyarakat setempat diyakini sebagai puteri seorang raja yang menjadi leluhurnya. Sedang di Jember tengah dan Utara, nama-nama seperti Gebang, Patrang, Mangli, Arjasa, merupakan legenda nama para bangasawan kerajaan yang dilakonkan oleh Seni Ludruk setempat dalam cerita babat tanah Jember.

Tinjauan kedua pada wacana budaya pendhalungan sebagai hasil akulturasi pertemuan budaya dua atnis besar antara etnis Madura dan Etnis Jawa di Jember Tengah (atau tepatnya di wilayah-wiayah pinggiran kota jember) menimbulkan problemmatik representasi identitas tersendiri bagi diskursus kebudayaan jember. Dengan hanya mengambil sempel masyarakat Jember tengah dengan hanya sekilas membaca pola praktik bahasa sehari-hari dan kesenian tradisi yang dikembangkannya, menjadi tidak mewakili kebudayaan rakyat Jember secara umum. Di jember selatan, (Kecamatan: Balung, Puger, Wuluhan Ambulu, Gumuk Mas, Kencong), pengamatan saya dilapangan, tidak saya temukan model perampuran dialek bahasa sehari-hari antara etnis jawa dan madura seperti yang dicontohkan oleh Ayu Sutarto Di jember Tengah. Juga pada keseneian rakyatnya tidak terjadi perubahan-perubahan yang berarti. Etnis jawa dan Madura masih tetap bersikukuh dengan pola-pola bahasa dan keseniannya masing-masing. Di kecamatan Balung, misalnya, kelompok etnis madura mayoritas berdiam di sebelah utara, sedang etnis jawa bertinggal di sebelah selatan dan mendominasi seputar kota kecamatan. Masing-masing etnis memakai bahasa nya sendiri, baik etnis Jawa dan Madura tidak berupaya mencampur adukkan. Dalam berkesenian, pada kesenian jaranan misalnya, saya amati para pendukungnya adalah kelompok etnis etnis jawa, sementara kelompok etnis madura lebih memilih seni hadroh.

Dominasi wacana sejarah Kabupaten Jember yang bersumber pada sejarah tertulis dan dampaknya pada kategorisasi kebudayaan Pandhalungan di Jember Tengah yang kemudian ditarik sebagai representasi sejarah dan identitas kebudayaan Jember, menurut hemat saya, merupakan penjelasan sejarah dan budaya yang terburu-buru, terkesan obsesif dan imajiner untuk menemukan Jember sebagai wilayah yang historis, khas, unik, dan otentik. Karena sejarah lesan rakyat sebagai sumber data Primer tidak dilibatkan didalamnya. Prosesi penarasian sejarah dimulai dari jember Utara yang bersumber pada naskah-naskah dokumentasi kolonial belanda (data primer), dengan tanpa melibatkan sejarah yang berkembang wilayah Jember lainnya yang bertumpu pada kekuatan tradisi lisan rakyat, maka, menyebabkan hilangnya pembabakan sejarah rakyat Jember sebelum zaman berkembangannya industrialisasi perkebunan, sebelum tahun 1800-an.

Padahal, narasi sejarah jember lainnya mengungkap, bahwa tahun 1771 telah terjadi perlawanan rakyat jember pada V.O.C Belanda yang dikoordinir oleh Sayu Wiwit dengan gemilang menghancurkan pos Belanda di jember (babat bayu, 1773 dalam Hasan Basri: Tanpa tahun), namun para sejarawan jember enggan menelusurinya karena terbatasnya sumber tertulis yang bisa menjelaskannya. Mengenai Sayu Wiwit Pemkab banyuwangi mengusulkan menjadi pahlawan nasional. Disini, jika telah terjadi pertempuran di Jember pada tahun 1771, lepas dari ketokohan Sayu Wiwit sebagai orang blambangan yang masuk dalam batas geografis Banyuwangi atau kekalahan V.O.C Belanda disatu sisi, bukankah ini pertanda bahwa telah ada pribumisasi rakyat Jember sebelum era migarasi besar-besar akibat industri perkebunan di Jember?

Sejarah lisan rakyat Jember yang membisu di ruang publik, lokusnya dominan berada di jember selatan. Ini bisa dimaklumi karena sejarah jember yang sudah banyak beraksi dipanggung publik alirannya dari jember utara sedang di Jember selatan kurang terapresitif karena minimnya sumber tertulis untuk menjelaskan fenomena sejarahmasa lampaunya. Sedang data-data untuk menjelaskan fenomena sejarah di Jember selatan lebih banyak berasal dari cerita rakyat, dari mulut kemulut, dan seringkali terendap diruang alam bawah sadar. Cerita Sogol di ambulu, Mbah budeng di balung, Pangeran puger di puger, candi deres di gumukas, situs taman bekas kerajaan majapahit ditaman sari, dan lain lain yang masih banyak terpendam di Jember selatan, merupakan tantangan pada diskursus sejarah jember untuk lebih apresiatif dan serius mengadirkan sejarah jember sebenarnya secara utuh pada khlayak luas.

Fakta lainnya, jika diarahkan demi memperkaya historisitas Jember, yakni kontrakdiksi nama-nama desa yang memakai nama Jawa -mayoritas dikabupaten Jember- namun etnis penduduk yang berdiam didalamnya mayoritas ber etnis madura, terutama terjadi di Jember Timur dan Jember barat. Misalnya Nama-nama desa: Pakusari, Mayang Sari, Sumbersari, Bangsal Sari, Gambirono, yang kesemuanya mayoritas penduduknya ber etnis Madura. Tentu hal semacam ini tak bisa diindahkan begitu saja untuk masuk menelusuri lapisan sejarah Jember lebih dalam lagi. Kemungkinan telah terjadi prosesi perubahan sejarah yang besar prakolonialisme yang telah kita alpakan disini. Bisa jadi, disamping untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja dalam skala besar, sekaligus hidden agenda politik belanda untuk menggusur pribumisai etnis Jawa yang telah lama mendiami wilayah Jember.

Oleh karenanya sangat penting menggali sejarah jember yang masih belum terkuak, dimana data-datanya masih berserakan dialam bawah sadar rakyat Jember. Penggalian dan pengumpulan data sejarah rakyat hanya bisa kita kerjakan dan kita dapatkan dari sejarah lisan mereka. Sejarah Jember yang sudah ternarasikan melalui sumber-sumber tertulis akan lebih mendekati pada kebenaran dan lebh indah dipermukaan, apabila tidak vis-avis dengan sejarah lisan rakyat tetapi saling berkorelasi, dan tidak lagi berposisi mensubordinasi atau menegasi.

Penelitian lisan tidak digali dengan ’kepala kosong’. Segalanya disiapkan dalam kerangka yang matang. Dengan demikian, informan tidak akan bicara tanpa makna, tetapi diarahkan pada kebutuhan peneliti. Pembicaraan bersifat lentur karena mendekatkan pada proses. Namun demikian, peneliti tetap menjadi pengendali.

Demikian juga pada pendekatan kultur, kemampuan peneliti ditantang. Pendekatan ini memungkinkan terciptanya dialog yang alami. Informan tidak merasa diinterogasi, tetapi diajak untuk berkelana mengarungi pulau masa lalu. Pelan tapi pasti, segala persitiwa yang ingin dibidik peneliti, akan terlontar dari informan. Pernyataan secara alami itulah, yang akan menjadi data baru yang unik, pure, dan berbeda dari penuturan dokumen.

Dalam sejarah lisan, peneliti memang harus membatasi hubungan dengan dokumen. Apabila terjadi, ia hanya akan menjadi penutur sejarah terburuk. Artinya, hanya mengulang penjelasan yang sudah ada. Penelitian lisan berusaha menghasilkan data yang berbeda, dengan mendekatkan pada fungsi evaluasi dan refleksi dokumen.

Fungsi tersebut, memungkinkan sejarawan berdialog secara psikologis dengan data. Proses ini akan memunculkan ’empati historis’. Sifat ini perlu ditumbuhkan dalam jiwa sejarawan, untuk membangun logika analisa fakta. Empati bukanlah sebuah ’dosa’, tapi justru cara membuat historiografi menjadi lebih manusiawi.

Sejarah bukan icon kaku tanpa ekspresi. Pergulatan manusia dalam melawan nasib adalah kerja manusiawi yang sarat pergolakan batin dan jiwa. Situasi ini akan hidup jika muncul muatan psikologis. Data lisan memungkinkan kerja-kerja psikologis untuk menghidupkan fakta, tanpa mengurangi validitas dan kredibilitasnya. Kekuatan data dapat menunjukan mentalitas informan dalam menghadapi situasi zaman. Secara kolektif akan memunculkan genre baru: sejarah mentalitas.

Sebagai akhiran, pernyataan pujangga dan sejarawan Belanda, Willem Bilderijk, pantas untuk direnungkan. Setiap kejadian memang timbul-tenggelam, tapi tidak berarti diam. Ia mengandung makna yang aktif—menyajikan pelajaran hidup yang kemudian diterjemahkan dengan nama: hikmah. Apalagi dalam kacamata historis, kejadian itu bersifat tridimensi—past, present, and future. “Apa yang timbul, dan apa yang tenggelam, Tidak tercerai-berai, melainkan berkesinambungan, Hari kemarin memangku hari sekarang. Dan hari sekarang menumbuhkan hari depan!”(Willem Bilderijk).

3 thoughts on “SEJARAH JEMBER.. dari Kompasiana”

  1. …tanggal 1 Januari….rame-rame ultah nJember digabung bareng penyambutan tahun baru…wuikkk..pantes..ruame banged malem tahun baru di soono…saat masih di nJember tahun 1980an…yang namanya penyambutan ultahnya luar biasa…sepanjang jl. Imam Bonjol-Diponegoro-Sultan agung-Lun alun..bisa berdiri lebih 5 panggung hiburan…mulai dari pentas band-band Rock..kendang kempul,..wayang kulit …sampek isuk ruameeeee polll

  2. Enak, jadi gampang ngapalnone.. Tapi Cak, sak ngertiku penentuan tanggal 1 Januari sebagai hari jadi Kab. Jember baru dilakukan tahun 90-an.. Jadi rame-rane yang sampeyan tonton kayaknya ya murni menyambut tahun baru he..he.. maaf jika membuatmu kecewa :).. tapi iku tahun piro sampeyan tahun baruan ning Jember Cak?

  3. aku tahun baruan trakhir yo sekitar tahun 1989an Zal…after that…yo ndek ndi ndi..Yogya..Semarang..mbalik papan..rakhir yo nde" makassar ….wah tahun baruan ndek makassar ki jian yang paling heboh…30 ment full…yang namane "kembang api…" "sleng dorrr"….baku hajar di dara…itu murni dari warga lho…jadi titik ledaknya dari cem macem tempat….jiannn aku sing wes kesirep…jam 00.00 mak gregap tangi……mbalik ndek Jember…opo tao baruan sak iki yo serame mbiyen yo? opo meneh icon Jember saiki adalah JFC…lalu..Tajemtra…ha ha ha nice posting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *