Palagan Jumerto, Saksi Perjuangan Rakyat Jember

Tulsan ini mungkin masih berkaitan dengan tulisanku yang lama tahun 2008

Desa Jumerto, Patrang, Jember, menyimpan sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan NKRI. Tiga belas anggota Brimob dan 20 warga setempat tewas karena ditembus peluru pasukan Cakra dari KNIL Belanda yang berniat menduduki Indonesia. Monumen Palagan Jumerto yang berdiri di depan Kelurahan Jumerto, Kecamatan Patrang, tetap kukuh. Deretan nama 13 anggota Brimob Polri dan 20 warga setempat tertulis jelas pada monumen yang diresmikan 1 Juli 1984 oleh Kapolda Jawa Timur saat itu, Mayjen Polisi Soedarmadji.

Kapolres Jember saat itu, Letkol Polisi H Soemardiono, juga tertulis di monumen tersebut. Dua bambu runcing, logo Brimob, logo Polri, serta logo Polda Jatim, pun terpampang di monumen bersejarah tersebut.

Tidak banyak yang tahu sejarah monumen setinggi 10 meter tersebut. Para saksi mata peristiwa maut itu sudah tiada. Kini tinggal anak dan para cucu saksi mata yang tetap mengenang sejarah kepahlawanan 13 anggota Brimob dan 20 warga Jumerto tersebut.

Suhadi, salah seorang warga Ju­merto, menyatakan mendapatkan cerita kepahlawanan itu dari Abdarullah, ayahnya yang meninggal lima bulan lalu. Dia kemudian men­ceritakan peristiwa Palagan Jumerto. Kejadian tersebut bermula dari kedatangan 13 anggota Brimob yang mendapatkan tugas patroli keliling Jawa Timur (Jatim).

“Tiga belas anggota Brimob itu baru datang dari perjalanan panjang,” kata Suhadi. Sebelum menginap di Desa Jumerto, mereka menempuh perjalanan dari Lumajang, Malang, dan Blitar. “Ayah saya lupa harinya. Saat itu 1949,” tambahnya.

Lebih lanjut dia bercerita, karena sudah kelelahan, mereka memutuskan bermalam di Desa Jumerto. “Ketika sampai di Desa Jumerto, mereka bertemu Pak Yakub (salah satu warga),” tuturnya.

Saat ketemu Pak Yakub, salah seorang anggota Brimob memin­ta ditunjukkan rumah kepala de­sa. Memang, selama perja­lanan, mereka pasti mampir di rumah perangkat desa setempat. Termasuk saat datang ke Desa Jumerto. “Oleh Pak Yakub, mere­ka diajak ke rumah sesepuh desa bernama Pak Asmar,” ujarnya. Pak Asmar merupakan kakek Suhadi.

Nah, saat itulah KNIL -tentara bentukan Belanda- ternyata juga datang ke Desa Jumerto. Mereka membagi-bagikan gula untuk mengambil hati warga Jember. Kedatangan tentara KNIL tersebut tidak disadari anggota Brimob.

Paginya, tentara KNIL yang bersenjata lengkap langsung me­nyerbu 13 anggota Brimob yang sedang beristirahat. Mendapatkan serangan tiba-tiba, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka dengan mudah dihabisi.

Ratusan warga yang berniat me­­nolong akhirnya juga menjadi korban. Setidaknya 20 warga Desa Jumerto tewas karena di­tembus peluru tentara KNIL. Abdurra, anak Pak Asmar yang mengantarkan anggota Brimob, juga tertembak. Padahal, saat itu Abdurra berniat merawat anggota Brimob yang gugur. Menurut kesaksian Bpk Asmar selain korban dari Brimob 13 anggota yang gugur dan rakyat 20 orang yang meninggal serta korban penganiayaan dan perkosaan, di pihak Belanda juga banyak yang tewas karena pada saat itu ada seorang warga yang ditanya oleh pasukan Belanda dimana tempat persembunyian pasukan Brimob, mereka menunjukan ke arah tentara Belanda sehingga terjadi tembak menembak sesama pasukan Belanda dari kesalah pahaman ini, banyak pasukan Belanda yang tewas tetapi jumlahnya tidak diketahui dengan pasti sampai sekarang.

Sumber :

http://www.jawapos.com/radar/index.php?act=detail&rid=99342

http://fendyaditiya.wordpress.com/2008/09/07/palagan-jumerto-monumen-yang-terpinggirkan/

Jika berminat mengunjungi monumen ini, bisa ke perempatan Slawu, terus ke timur arah Jumerto. Kira-kira 4 km sampai ke depan Monumen yang berdekatan dengan Balai Desa Jumerto dan Masjid Syuhada.

17 thoughts on “Palagan Jumerto, Saksi Perjuangan Rakyat Jember”

  1. nice posting zal….memang banyak sekali monumen yang dibangun sudah kehilangan makna sebagai tetenger perjuangan …karena memang kita tidak siap dengan dokumentasi resmi tentang apa dan mengapa itu monumen dibangun…jadi andalannya hanyalah penuturan orang sekitar monumen…ini sama dengan banyak monumen,makam,patung di daerah makassar dan sekitarnya…misalnya crita perjuangan lengkap dari Laskar Badjeng yang dkomandani Ranggong Daeng Romo….hanya sedikit yang diketahui..atau saya yang silap?ada info?

  2. Alhamdulillah… baru tau kalau ada cerita kepahlawanan seperti ini di Jumerto….. dulu waktu Madrosah/SD….. Slawu dan Jumerto identik dg desa antah berantah bagiku dan kawan2… tks cak Rizal atas tulisannya….

  3. Aku suka cerita perjuangan dan sejarah semacam ini. Karena dengan begini kita tahu bagaimana para pendahulu kita memulai langkahnya. Lalu kita belajar untuk menjadi lebih baik. Terima kasih sharingnya. Ohya, boleh nanya kan… kira2 ada tidak dokumen yang menceritakan ini? Kalau ada, kira2 bisa didapatkan dimana?

    1. Walah.. yang komen ada yang dari Jepang segala 🙂 Masih di Jepang Pak ? Nah kalo dokumen resmi , saya ndak yakin Pemkab Jember punya.. dulu saya pernah dikontak sama teman di Jember yang menanyakan dokumen yang saya refer pas nulis http://sma1jember.info/2007/11/hari-pahlawan-pahl…. katanya ditanyain sama salah satu temannya yang di Brigif.. Palagan Jumerto, terkait dengan sejarah kepolisian, saya gak tahu apakah ada bagian di Kepolisian RI yang mengurusi tentang sejarah kepolisian, tapi kalo di TNI AD ada bagian yang namanya Disjarah, Dinas Kesejarahan TNI AD.. Ada buku menarik tentang perjuangan Moch Seruji, Pahlawan Jember, di buku Sekitar Hijrah TNI, terbitan Disjarah tahun 1980-an.. cuma saya belum pernah buku aslinya, cuma baca potongan-potongannya di google book..

  4. wah jadi inget waktu kelas satu SMA dulu bikin laporan tentang palagan jumerto.. beruntunglah dapet tugas kaya gitu jadi pernah kesana 😀

    1. SMP 6.. perasaan SMP 7 sing ning Slawu Bude… dari Gedung BKOW , ambil kiri.. kalo dari jalan Nusa Indah… lah..tambah binung kan..

    1. Rupane pancen ana "approval," tapi kudune nek wis terdaftar/nate pasang komentar, dilolosno. Nggak, gak ono sensor.

  5. Alhamdulillah…banyak yang komentar.. Aku dari dulu suka blusukan lihat-lihat jalan-jalan desa di Jember.. sebenarnya banyak peninggalan di Jember yang menarik untuk di pelajari. Dulu aku pernah lihat batu yang dipageri di depan Pusat Peneliitan Kakao dan Tembaka ud jalan PB Sudriman, bentuknya mirip telapak kaki macam/harimau.. sampai sekarang aku gak tahu cerita di balik itu.. penasaran banget, orang-orang manggilnya watu macan. (kantormya deket Gedung Bayangkara) Nah kalo Palagan Jumerto, aku tahunya sejak SD, Jalannya bisa dari beberapa tempat, tapi paling enak dari perempatan Gebang Poreng, ambil yang arah timur.. Atau bisa dari desa Cangkring deket stadion Notohadinegoro…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *