SEJARAH JEMBER.. dari Kompasiana

Mumpung lagi nemu tulisan bagus di kompasiana tulisan dari Saiful Rahman,

Tulisannya panjang dan sangat serius,… cuoocoook buat yang serius pengen tahu sejarah Jember.. Monggo dinikmati

Sejarah kabupaten Jember yang saya baca pada situs resmi PEMKAB Jember dibentuk berdasarkan Staatsbland Nomor 322 tanggal 9 Agustus 1928 dan sebagai dasar hukum, mulai berlaku tanggal 1 Januari 1929. Pemerintah Hindia Belanda telah mengeluarkan ketentuan tentang penataan kembali pemerintah desentralisasi di wilayah Provinsi Jawa Timur, antara lain dengan menunjuk Regenschap Djember sebagai masyarakat kesatuan hukum yang berdiri sendiri. Secara resmi ketentuan tersebut diterbitkan oleh Sekretaris Umum Pemerintah Hindia Belanda (De Aglemeene Secretaris) G.R. Erdbrink, 21 Agustus 1928. oleh karena itu hari jadi kabupaten jember ditetapkan 1 januari dan dirayakannya setiap tahun. (baca di http://jemberkab.go.id)

Diskursus hari jadi kabupaten Jember tersebut diuraikanlah jejak-rekam yang pada umumnya bersumber dari arsip-arsip atau manuskrip yang ditulis tangan warga belanda dan dikuatkan dengan adanya situs-situs bangunan peninggalan belanda yang masih berdiri kokoh sampai sekarang. Menurut Tri Candra dalam makalah International Conference on Urban History, di Surabaya, August 2004, mengurai bahwa proses kapitalisasi oleh perusahaan perkebunan partikelir belanda di daerah Besuki merupakan suatu penanda fase pertumbuhan dan berkembangnya secara nyata Jember sebagai kota. Pada titik inilah kemudian Jember lahir sebagai kota industri perkebunan. Ia adalah sebuah kota yang lahir dari sebuah proses modernisasi kota-kota Hindia, sebagai akibat dari sistem perusahaan bebas yang dianut sebagai prinsip umum ekonomi sejak masuknya kapital besar, periode akhir abad XIX. (Candra, Tri: 2004).

Tak Jauh beda dengan Tri Candra, Edy Burhan Arifin menjelaskan sejarah perkembangan pesat peradaban jember sebagai wilayah industri perkebunan ditentukan oleh semakin merebaknya perusahaan swasta belanda di wilayaha jember utara dan Jember tengah.

Adapun yang merintis usaha perkebunan swasta di Jember ialah George Birnie yang pada tanggal 21 Oktober 1859 bersama Mr. C. Sandenberg Matthiesen dan van Gennep mendirikan NV Landbouw Maatsccappij Oud Djember (NV. LMOD) yang semula bergerak di bidang perkebunan tembakau, namun kelak kemudian hari merambah pada perkebunan aneka tanaman seperti kopi, cacao, karet dsb. (Brosur NV. LMOD:1909). Usaha George Birnie tersebut menarik minat para ondernemer Belanda lainnya untuk menanamkan usahanya dan mendirikan perkebunan di daerah Jember, sehingga dalam waktu yang relatif singkat berdiri perkebunan swasta di daerah ini seperti Besoeki Tabac Maatscappij, Djelboek Tabac Maatscacppij dll. Kehadiran sistem perkebunan swasta ini membawa perubahan-perubahan sosial dan ekonomi pada masyarakat dan yang terpenting terjadinya perubahan status kota Jember pada tahun 1883 yakni yang semula distrik menjadi regentschap sendiiri terpisah dari Bondowoso. Sehubungan dengan berubahnya status kota Jember, maka pemerintah pusat mengadakan perombakan struktur pemerintahan dan digalakkan pembangunan infrastuktur seperti perombakan struktur pemerintahan dan digalakkan pembangunan infrastuktur seperti jembatan, jalan dan yang terpenting dibukanya jalur kereta api dari Surabaya menuju Probolinggo dan terus ke Jember, serta dari Jember menuju Panarukan yang berfungsi sebagai pelabuhan untuk mengangkut produk komoditi eksport pada desenia ke sembilan abad XIX. (Burhan, Edi: 2006)

Continue reading “SEJARAH JEMBER.. dari Kompasiana”

Palagan Jumerto, Saksi Perjuangan Rakyat Jember

Tulsan ini mungkin masih berkaitan dengan tulisanku yang lama tahun 2008

Desa Jumerto, Patrang, Jember, menyimpan sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan NKRI. Tiga belas anggota Brimob dan 20 warga setempat tewas karena ditembus peluru pasukan Cakra dari KNIL Belanda yang berniat menduduki Indonesia. Monumen Palagan Jumerto yang berdiri di depan Kelurahan Jumerto, Kecamatan Patrang, tetap kukuh. Deretan nama 13 anggota Brimob Polri dan 20 warga setempat tertulis jelas pada monumen yang diresmikan 1 Juli 1984 oleh Kapolda Jawa Timur saat itu, Mayjen Polisi Soedarmadji.

Kapolres Jember saat itu, Letkol Polisi H Soemardiono, juga tertulis di monumen tersebut. Dua bambu runcing, logo Brimob, logo Polri, serta logo Polda Jatim, pun terpampang di monumen bersejarah tersebut.

Tidak banyak yang tahu sejarah monumen setinggi 10 meter tersebut. Para saksi mata peristiwa maut itu sudah tiada. Kini tinggal anak dan para cucu saksi mata yang tetap mengenang sejarah kepahlawanan 13 anggota Brimob dan 20 warga Jumerto tersebut.

Suhadi, salah seorang warga JuĀ­merto, menyatakan mendapatkan cerita kepahlawanan itu dari Abdarullah, ayahnya yang meninggal lima bulan lalu. Dia kemudian menĀ­ceritakan peristiwa Palagan Jumerto. Kejadian tersebut bermula dari kedatangan 13 anggota Brimob yang mendapatkan tugas patroli keliling Jawa Timur (Jatim).

“Tiga belas anggota Brimob itu baru datang dari perjalanan panjang,” kata Suhadi. Sebelum menginap di Desa Jumerto, mereka menempuh perjalanan dari Lumajang, Malang, dan Blitar. “Ayah saya lupa harinya. Saat itu 1949,” tambahnya.

Continue reading “Palagan Jumerto, Saksi Perjuangan Rakyat Jember”