SALAH SEBUT DI PATRANG

Kebetulan bulan Januari 2010 kemarin, aku berkesempatan untuk jalan-jalan ke Palembang, Sumatera Selatan. Selain Jembatan Ampera-nya yang membentang diatas sungai Musi, pempek dan durennya ada hal lain yang membuat aku terkesan. Di Palembang, jalan-jalan protokol dinamakan dengan nama-nama terasa asing bagi orang yang baru menginjakkan kaki di Palembang. Beberapa nama jalan itu misalnya Jalan Kapten Rivai, Jalan Mayor Ruslan, Jalan Mayor Salim, Jalan Ki Ronggo Wirosentiko, Jalan Kapten Anwar Sosro, Jalan Letnan Dua Rozak dan masih banyak nama jalan lain yang menggunakan nama orang yang aku gak kenal. Dari bincang-bincang dengan teman yang tinggal di Palembang barulah aku ‘ngeh’ bahwa  nama-nama yang dipampang di jalan-jalan di kota Palembang terkait dengan peristiwa Pertempuran 5 Hari Palembang yang heroik di 1-5 Januari 1947.

Dibandingkan di Jember sebenarnya tidak terlalu istimewa, karena di Jember juga ada Jalan M Seruji, Jalan dr Subandi, JalanR Sudarman..tapi di Jember cuma sedikit sedangkan di Palembang..beuh.. banyak banget 🙂

Awal Maret kemarin, Alhamdulillah ada kesempatan pulang kampung sambil menunaikan tugas dari kantor eh.. salah menunaikan tugas dari kantor sekalian pulang kampung. Seperti biasa dari Bandung naik Turangga dari Stasiun Hall jam 7 malam kemudian dilanjutkan dengan MutiaraTimur dari Stasiun Gubeng jam 9.15 keesokan harinya. Sampai di Jember sekitar jam 1 siang. Dari Stasiun Jember, aku naik becak supaya leluasa menikmati pemandangan dari Stasiun Jember sampai rumahku di Patrang. Awalnya tidak ada yang mengganggu, tapi di daerah Jalan Muh Seruji, di sebelah bekas Kampus Prodi Keperawatan UNEJ ada yang mengganggu mataku. Ada tulisan nama Jalan KH.Moch  Seruji.. makgubraak….

Walah.. kok KH. Moch. Seruji…. loh emang kalo ada nama Mochammad, harus Kyai Haji? Dan yang lebih parah lagi, nama jalan ini merupakan nama resmi lengkap dengan kode posnya, artinya pihak Pemda-pun tidak tahu lagi siapa itu Moch. Seruji.

Moch. Seruji atau nama lengkapnya Letkol Mokh Seruji (Dalam buku “Sekitar TNI Hijrah” terbitan Dinas Sejarah Militer Angkatan Darat tahun 1982) merupakan Komandan Brigade Damarwulan, yang gugur di Desa Karang Kedawung, Mumbulsari, 8 Februari 1949. Saking populernya beliau sampai namanya tidak hanya diabadikan di Jember, tapi juga dipakai sebagai nama jalan di Situbondo (daerah Patokan), di Lumajang (Kecamatan Kota), di Kediri (daerah Gurah), dan di beberapa tempat di Jember (Patrang, Gambirono dan kalo tidak salah di Panti juga ada jalan Seruji). Nama beliau tidak hanya dipakai sebagai nama jalan tapi juga nama Universitas. Selain Univ. Mochammad Seruji di Jember, setahuku juga ada Univ. M Seruji di Lumajang (Omdhe.. bener gak?…).. Nah lo…

Terlepas Beliau (Letkol M Seruji ) kelahiran Jember atau bukan (yang ini jelas aku gak tahu, harus pergi ke makam beliau di Kreoyang kalo pengen tahu beliau kelahiran mana) rasanya jasa-jasanya tidak boleh dilupakan begitu saja. Katanya sih bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya, mosok jasa Moch Seruji dilupakan begitu saja oleh orang Jember. Katanya juga Pemda Jember tidak berniat mendirikan monumen Moch Seruji seperti halnya Monumen Gerbong Maut di Bondowoso (Media Indonesia, Rabu, 28 Oktober 2009, ditulis Marlutfi Yoandinas). Mungkin Patung Moch Seruji di depan kantor Pemkab Jember dianggap cukup menjadi bukti penghargaan buat beliau?….achmad Rizal

Sebagai pribadi aku mengusulkan adanya muatan lokal di SD tentang Jember, baik secara histori maupun geografi. Mosok wong Jember gak tahu berapa jumlah kecamatan di Jember,  gak tahu potensi di Jember apa saja, objek wisata di Jember apa aja. Seingatku jaman kelas 3 SD dulu sempat ada mata pelajaran Mata Angin, yang isinya pengetahuan  tentang Jember. Bukunya tipis, covernya warna hijau dengan lambang Kabupaten Jember. Di dalamnya ada peta Kabupaten Jember,  gunung-gunung yang ada di wilayah Jember, potensi tiap kecamatan dan lain-lain. Nah, apa sekarang masih ada mata pelajaran itu ya?….

Nah..kalo sekarang saja Letkol Moch Seruji diubah jadi KH Moch Seruji, aku kuatir Letkol Slamet Riyadi (kebetulan di Jember juga ada Jalan Slamet Riyadi dan kebetulan di Patrang) nanti ditulis dengan Jl. KH. Slamet Riyadi.. padahal Letkol Slamet Riyadi yang gugur di Fort Victoria di Ambon dalam rangka memberantas RMS nama lengkapnya adalah Ignatius Slamet Riyadi… Opo tumon KH Ignatius Slamet Riyadi …

12 thoughts on “SALAH SEBUT DI PATRANG”

  1. Di Lumajang gak ada nama Universitas Moch. Seruji, yang ada Jalan Moch. Seruji di Kel. Ditotrunan Kec. Lumajang.

    Ke soal Kyai Haji di depan nama Moch. Seruji kita kembalikan ke maksud dan tujuan pemberian gelar Kyai dan Haji itu. Kyai adalah gelar yg diberikan para santri atau masyarakat thd seseorang karena ketinggian ilmu agamanya (Islam) yg dipergunakan utk kemaslahatan ummat. Sedangkan Haji kita semuanya sudah pada tahu.

    Soal tahu menahu yg saya tahu masa hidup Moch. Seruji lebih banyak dibhaktikan di medan peperangan merebut kemerdekaan. Belum pernah baca atau dengar Moch. Seruji berkiprah di bidang agama Islam dg "lebih", sehingga beliau mendapat gelar Kyai. Entah juga soal Haji-nya. Jadi papan nama jalan itu sepengetahuan saya jelas salah.

    Biar gak ada kasus2 semacam ini saya juga setuju ada pelajaran muatan lokal semacam Mata Angin di jaman dulu. Sebelum SD di Jember saya sampai kelas 3 SD di Bangil. Masih ingat betul siapa itu Untung Surapati dan Kapten Tack serta asal-usul nama Kota Bangil dan Pasuruan sebagai muatan lokal di SD saya dulu. Tapi repotnya juga yg pernah mengenyam muatan lokal itu tidak berdomisili di kota ybs. seperti halnya saya tidak di Bangil dan Rizal tidak di Jember…hehehe…tp saya tetap setuju Zal…sedikitnya kita bisa mengoreksi semacam ini.

  2. Soal muatan lokal, memang ini salah satu yang sering dikritik — dianggap kurang — dari pendidikan dasar di negara kita. Muatan lokal itu sendiri juga bervariasi dari ihwal sejarah, adat istiadat, bahasa, hingga mungkin suatu saat diusulkan kuliner. Yang sudah dimasukkan biasanya bahasa daerah dan masih bertahan hingga hari ini, setidaknya di Jawa Barat sebagai contoh, setiap sekolah harus menyelenggarakan mata pelajaran bahasa daerah.

    Di sisi lain, dengan kemudahan pergerakan warga, seperti kata Cak Omdho di atas, terkadang muatan lokal ini dapat menyebabkan resistensi. Aku dulu juga jadi "meriang" dengan mata pelajaran bahasa daerah yang kuanggap "terlalu halus" dibanding yang digunakan sehari-hari di Jember.

    Salah satu jalan tengahnya: pokok muatan lokal tetap perlu disampaikan di sekolah dengan cara yang menyenangkan, misalnya dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Untuk khalayak ramai, sebenarnya ini potensi bisnis baru: wisata budaya lokal. Dengan napak tilas jejak masa lalu dipandu oleh narasumber yang cakap. Aku pernah ikut wisata cekungan Bandung dan memang menyenangkan.

    Di setiap kota — termasuk Jember — bisa! 🙂

  3. mungkin secara teori muatan lokal memang sudah dimasukkan di kurikilum, tapi kenyataannya 'building characters' yang digembar-gemborkan pun sampai saat ini bisa tidak jua ketemu sinerginya..kadang sebagai pendidik aku juga bertanya..apa sebenarnya yang dikejar bangsa ini, lewat jalur pendidikan..koq rasane jadi gado-gado dan makin gak jelas..mabur rono..mabur rene…mabur dewe..yo jadi ketok aneh..

    Rizal, omdhe dan amal..aku setuju banget…generasi sekarang ini sudah banyak kehilangan arah mata anginnya…

  4. di tempat lain, kalau buat undangan, dibawahnya selalu ditulis "mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan nama"…apa hal ini juga perlu ditulis dibawah nama jalan yang dibuat? he2… pengalaman pribadi, dulu ak pernah mau khutbah jumat, pengurus masjid nambahi namaku dengan S.Ag (kapan aku kuliahnya?) aku hanya nyengir, setiap ingat penghargaan dari pengurus masjid mengingat waktu itu aku baru alumni D III akuntansi… muatan lokal setuju untuk diberikan tapi nggak mesti bentuk pelajaran seperti 'pelajaran mata angin dulu" (aku kok nggak pernah dapat ya?), kasihan anak2 kita terlalu banyak yang harus dipelajari…. jadi ingat ceritane orang2… seorang presiden suatu negara digosipkan sebagai orang yang bodoh nggak ngerti apa2…untuk membuktikan bahwa dia bener2 bodoh dia diundang dalam sebuah acara kemudian diberikan beberapa pertanyaan yang sifatnya pengetahuan, ketika dia nggak bisa menjawab, dia panggil seseorang untuk menjawabnya, dan jawaban orang itu bener…presiden itupun menyampaikan, ' nggak perlu ak mengetahui semua itu, yang penting ak ngerti bagaimana cara menjawab suatu permasalahan"… anak kita mungkin nggak perlu hafal segala sesuatu terkait dengan 'jember', tapi dia bisa dengan segera mengakses sesuatu untuk mencari tahu tentang 'jember'…. untuk semua, sukses selalu

  5. semangat memberi penghargaan kepada seseorang oleh masyarakat kita perlu diacungi jempol…pemberian "KH" pada Moch. seruji, (kalau itu bukan kondisi sebenarnya) kita maknai aja sebagai pemberian "kehormatan", jangankan beliau seorang pahlawan yang perlu diteladani… ak juga pernah ngalami, ketika mau khutbah jumat, namaku ditambah dengan 'Drs'…aq hanya bisa tersenyum, padahal aq baru lulus D III Akuntansi…kalau kita buat undangan, biasanya dibawah kolom nama ada tertulis "mohon maaf bila terjadi kesalahan dalam penulisan nama/ gelar", kalau nulis nama jalan apa juga perlu ditulis? he2…… muatan lokal-menurutku- nggak perlulah ditambahkan jadi mata pelajaran, kasihan anak2 terlalu banyak dijejali mata pelajaran ….. teringat kisah seorang presiden sebuah negara yang dianggap bodoh nggak ngerti apa2, suatu saat dalam sebuah acara besar beliau ditanya berbagai hal yang bersifat hafalan, karena nggak bisa, beliau memanggil seseorang untuk menyelesaikan pertanyaan2 tsb…beliau berkata 'nggak perlu otakku dijejali dengan hafalan yang begitu banyak, yang penting aq bisa mencari jalan keluar untuk menyelesaikan pertanyaan/ permasalahan"…anak2 nggak perlu disuruh menghafal tapi diberi kemudahan akses untuk dapat informasi….. "itu yang penting"..

  6. aku malah tertarik dengan nama-nama jalan di sebuah kota yang memakai nama-nama pejuang lokal…atau tokoh lokal…bahkan dari situ kita bisa belajar banyak tentang ketokohan seseorang yang kadang tak banyak diekspose oleh sejarahwan… di Balikpapan misalnya…kantorku ada di jalan Wiluyo Puspoyudo …nah siapa itu Wiluyo Puspoyudo?..temen-temen aseli Balikpapan yang kebetulan saya temui tak juga tahu….berkat google..saya baru tahu kalo beliau salah satu anggota parlemen dari fraksi AD di jaman DPRGR dan berpangkat kolonel… Lain lagi di Solo..BNI Cabang Solo terletak di Jl. Arifin no 1 Solo…siapa pulak si Arifin ini? ternyata adalah salah satu pemuda yang gugur dalam penyerangan markas Ken Pei tai di tahun 1945 selengkapnya bisa dilihat di http://pemakanmayat.multiply.com/journal/item/10 kalok di Makassar…ada jalan Emmy Saelan…siapakah beliau… adalah pejuang putri Sulawesi, gugur pada bulan Januari 1947 dalam perjuangan di Kasi-kasi dekat kota Makassar. Sejak muda Emmy Saelan memang tak mau bekerja sama Belanda. Ia ikut juga dalam pemogokan "Stella Marris" sebagai protes terhadap penangkapan Dr. Sam Ratulangi. Pernah ia menggunakan kesempatannya sebagai perawat melepaskan pejuang-pejuang (tawanan Belanda) yang datang untuk dirawat luka-lukanya. Pada bulan Juli 1946 ia menggabungkan diri dengan pasukan Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (Lapris) dibawah pimpinan Ranggong Daeng Romo yang meneruskan perjuangan gerilya dihutan-hutan. Pada waktu satuan-satuan Belanda menyerang Kasi-kasi, Emmy Saelan meletuskan granat ketengah-tengah Belanda yang akan menangkapkan. Delapan tentara Belanda tewas, dan 1 pejuang Indonesia: Emmy Saelan sendiri. …

    tentu saja banyak lagi pejuang lokal yang layak diabadikan sebagai nama jalan di daerah tersebut….

    kembali kesoal KH Mochamad Sroedji…opo karena beliau dihormati oleh si pembuat papan jalan..lalu ditahbiskan jadi Kyiai Haji…faiz kayaknya yang kompeten njawab..he..he..he.

  7. kebiasaan buruk di kalangan pejabat, ternyata menular ke nama pahlawan di Jember. Dulu, pejabat yang sudah menunaikan ibadah haji .. otomatis namanya akan bertambah menjadi " H. M " alias Haji Muhammad .. he.he.he.. mbanyol juga yang punya ide nambah-2 gelar di depan nama Moh. Seruji ..

  8. he he he jadi ngiler bayangin es campur, lha wong kondisi masih gak fit (abis kena batuk pilek blm berani minum es). kabar baik dhek, cuman kok ya belum juga sampai bandung hiks…

  9. jiiaaaan lucu tenan mas…aku baru ngerti lek tulisane jll moch seruji jadi kh. moch. seruji…. haa..haaa… aku wong jember karimata mas…..jenengan teng patrang bundi…???? salam nggih….

  10. Cak Ihsan.. Wah wong Karimata jarang mlaku-mlaku ning Patrang yo… Patrangku ning perumahan dosen UJ, omah pojokane TK dharma indria Tapi wis 16 tahun iki nggolek upo ning Mbandung… Salam kenal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *