“Jalur Tebu” Kereta Api Jember Wilayah Selatan

December 20th, 2009 by Ikhlasul Amal Leave a reply »

Saya punya hutang janji menulis untuk Cak Ekoz al-Guevara: tentang perkeretaapian di wilayah Jember Selatan. Sekaligus saya tersadarkan bahwa di antara kita ada yang belum sempat menyadari jalur eksotis kereta api di selatan. Jangan khawatir, bagi saya pun sayup-sayup karena sangat sedikit ingatan tentang kereta api ini.

Membentang di sebelah utara sungai besar dan instalasi perairan dari desa Curah Malang, Kec. Rambipuji, hingga desa Tutul, Kec. Balung, terdapat rel kereta api hasil pencabangan di pertigaan sohor Kaliputih, Rambipuji. Di sisi selatan sungai terdapat jalan raya penghubung Jember-Lumajang, yang digunakan hingga sekarang. Bak “jalur sutera”, prasarana ini memang sengaja dibangun sejak era kolonial untuk membuka perdagangan antarkota.

[field name=iframe]

Ada apa di selatan zaman dulu?

Di desa Tutul hingga Kencong terdapat lahan tebu sangat luas yang memasok pabrik gula di Kencong. Pabrik gula Kencong ini berada di sektor selatan, melengkapi sektor utara yang ditempati pabrik gula juga di Semboro dan Jatiroto, Kab. Lumajang. Tidak berlebihan jika Kencong termasuk salah satu cikal-bakal sejarah pabrik gula Belanda. Lengkap dengan kompleks pabrik berupa loji hingga tanah lapang publik yang dapat disaksikan sekarang, sejarah Kencong dapat ditelusuri hingga hikayat awal industri gula Belanda. Jawa Timur sendiri merupakan penopang utama industri gula nasional, walau kondisi pabrik-pabrik gula peninggalan Belanda tersebut mengenaskan.

Komoditi tambahan yang diangkut dari daerah selatan adalah beras dan tembakau. Sudah menjadi tradisi lokal di masa itu beberapa rumah besar memiliki lumbung dan tempat penjemuran padi keluarga. Di era Orde Baru, sebuah lumbung besar Badan Urusan Logistik (Bulog) didirikan di Jambearum, Kec. Puger, untuk menampung beras hasil panen.

Morning Blue

Akan halnya tembakau, di tahun 1960-an, sudah lazim bagi saudagar setempat berniaga membawa rajangan daun-daun kering tembakau hingga Kebumen, Jawa Tengah. Keluarga besar kami yang berasal dari dua simpul pendatang Bojonegoro dan Pulau Bawean, diduga migran perdagangan ini. Acara menimbang daun tembakau, sejumlah gudang bambu, dan konvoi pekerja bersepeda di sore hari, adalah fenomena turun-temurun yang masih tersisa hingga sekarang.

Dengan pertimbangan ekonomi seperti di atas, masuk akal jika dibuatkan rel kereta api dan jalan raya penghubung lewat Balung atau Ambulu, Kasiyan, Kencong, Gumukmas, Yosowilangun, hingga Lumajang. Tidak berlebihan pula seandainya sungai besar yang diapit tersebut terhindar dari kebiasaan buruk dijadikan ruang mandi terbuka, miniatur wisata sungai ala kota-kota di Belanda dapat diselenggarakan.

Gumelar, Balung, Jember of East Java

Kereta api primadona masa lalu

Di masa sebelum taman kanak-kanak, berarti sekitar tahun 1974, saya sering menyempatkan diri duduk di belakang rumah nenek, di pinggir sungai besar tadi, dan menyaksikan kereta api lewat dari arah utara, Jember, menuju selatan, Lumajang. Stasiun kereta api tidak jauh dari rumah nenek, sehingga kereta api sudah mulai melambat. Di sebelah kanan terdapat jembatan besi kokoh bekas rel ke arah timur, Ambulu. Saya tidak pernah melihat kereta api ke arah Ambulu ini, hanya kisah-kisah para tetua di keluarga menyebut pengalaman mereka mengangkut tembakau ke sana. Bukti yang masih dapat dilihat saat itu adalah bekas jalur kereta dan jembatan di atas Sungai Bedadung.

I Hope It's Real River Beauty

Satu-satunya pengalaman mengesankan yang masih saya ingat adalah acara keluarga ke Lumajang naik kereta api. Yang tersisa dalam bayangan saya adalah gerbong ekonomi, berbangku kayu panjang berjejer, dan setiap orang duduk menghadap jendela. Mirip seperti gerbong barang yang disulap menjadi gerbong penumpang. Karena hanya sekali itu bepergian naik kereta yang saya ingat dan faktor usia masih kecil juga, boleh dikata saya tidak memiliki ingatan yang memadai tentang “naik kereta api jalur tebu Jember-Lumajang” tersebut.

Tentang stasiun Balung pun saya hanya ingat dulu juga ditempati kantor pos yang sibuk melayani surat, tabungan nasional, dan pengiriman barang (paket). Tampaknya urusan korespondensi dititipkan kereta api dan setelah jalur kereta api dihentikan, bangunan tersebut masih ada di kompleks stasiun. Hingga di tahun 1980-an pemerintah memindahkan kantor pos dari kompleks stasiun ke pinggir jalan besar di Balungkulon dan praktis angkutan surat-menyurat dititipkan ke bus Akas tujuan Lumajang.

Kompleks stasiun Balung masih ada saat ini, di sebelah barat perempatan utama pertemuan jalur Rambipuji-Balung dan Ambulu-Balung. Saksi sejarah yang sunyi karena memang tidak terawat, menjadi tempat penampungan gelandangan, dan belum tahu juga kelanjutan lahan milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang saat ini terbengkalai.

Balung Old Train Station

Cerita menarik lain: pada saat saya dan adik kanak-kanak, kami sering bermain “sepur-sepuran” berbekal buku daftar perjalanan kereta api tahun 1960-an se-Indonesia (Jawa dan Sumatera). Buku tersebut berisi daftar yang sangat rinci dari nama kereta api dan nomor serinya, asal dan tujuan perjalanan, dan waktu kedatangan dan keberangkatan di setiap stasiun. Tidak ada orang tua yang sempat bercerita tentang buku tersebut, namun dugaan saya dibeli oleh kakek yang sempat berdagang tembakau hingga Kutoarjo, Jawa Tengah.

Saya tidak pernah mendapati buku perjalanan kereta api selengkap itu setelahnya. Barulah pada tahun 2001 saat saya mendapat kesempatan tinggal di Groningen, Belanda, saya melihat buku seperti itu, Spoorboekje, dijual di toko buku di stasiun Groningen Centraal. Format utamanya masih mirip, dalam bentuk tabel, tentu saja gaya penyajiannya sekarang sudah modern. Dengan kata lain, pada saat pemesanan karcis kereta api sudah dilayani secara daring (online) di Belanda, buku klasik seperti yang terdapat di “Hindia Belanda” masih dicetak dan dijual!

Pertanyaan penting dalam konteks yang lebih luas: seberapa jauh kita sanggup konsisten, istiqomah, mempertahankan infrastruktur layanan publik yang baik? Alih-alih bongkar-pasang hapus yang lama, bikin yang baru, nyaris tanpa upaya perawatan. Saya sempat membaca rencana pembangunan kereta api super cepat Jakarta-Bandung-Cirebon: apakah itu yang benar-benar kita perlukan jika menghidupi hajat orang banyak seperti Kereta Rel Diesel (KRD) Bandung-Cicalengka belum juga dapat menjadi layanan transportasi yang nyaman dan dapat diandalkan?

Di grup Indonesian Railway Pictures di Flickr disebutkan beberapa jalur kereta api ditutup karena dianggap tidak layak secara ekonomis. Pada saat kereta api Jember-Lumajang ditutup pun, angkutan umum antarkota (sebenarnya angkutan yang disediakan perorangan, bukan layanan publik pemerintah) mulai meningkat dan “hukum rimba ekonomi” memukul kereta api dengan telak. Sekarang ini, angkutan antarkota tersebut ganti merana dipukul kepemilikan sepeda motor yang sudah berlebih. Artinya, jika diserahkan kepada “hukum persediaan dan keperluan” publik, arah penyediaan transportasi publik kita menjadi seenaknya, tidak ekonomis dalam skala luas, dan sangat rentan dalam hal faktor keamanan di ruang publik. Sederhana saja: coba pertimbangkan pergeseran pengangkutan tebu, dari kereta api kemudian truk. Sekarang ini, sebagian komoditas pertanian diangkut dengan memaksakan diri di atas sepeda motor.

Preparing for Cattle Feeding*

Saya membayangkan transportasi berbasis kereta api yang lebih baik, tetap pada fungsinya sebagai transportasi cepat massal, lebih daripada bernostalgia keelokan perkeretaapian di sektor selatan Jember.

Popularity: 12% [?]

Advertisement

Leave a Reply