Jika pada kesempatan mudik lebaran tahun ini, akhir September lalu, saya berkesempatan pulang ke “tanah kelahiran” Balung, kecamatan di sebelah selatan Kab. Jember, dan tidak sempat berkunjung ke Kota Jember yang kian ramai, bulan November lalu sebaliknya: datang dan menginap di Kota Jember dan tidak sempat menjenguk Balung.
Seperti biasa, ini bagian dari acara perjalanan dinas ke Surabaya, saya tumpangi dengan melanjutkan ke Jember karena nenek sedang dirawat inap di Rumah Sakit Jember Klinik. Dengan keyakinan mengingat perjalanan Surabaya-Jember sejak zaman kuliah, santai saja saya naiki bus Akas jurusan Jember dari Terminal Purabaya, Surabaya/Sidoarjo, pada pukul 17.30, dan sampai di Terminal Tawangalun Jember, sekitar pukul 22. Taksi selanjutnya mengantarkan saya hingga di R.S. Jember Klinik, yang di beberapa spot saya lihat disingkat JeKlin.
Selama masa sekolah lanjutan pertama saya pernah beberapa kali ikut menginap di sana, sewaktu almarhum ayah dirawat, ibu, dan jika tidak salah bude juga. Karena waktu itu saya sudah kos di Jember dan Jember Klinik tidak jauh dari SMP Negeri 3 tempat saya bersekolah, menjenguk keluarga yang sedang diopname menjadi kegiatan rutin yang mudah.
Saya telepon keluarga di Balung, Apa sekarang masih ada waktu
besuk (bezoek) seperti dulu di Jember Klinik?
Adik ipar
saya menegaskan hal itu tidak ada lagi, malah ditambahi “jawaban
politis” oleh adik saya, Sejak reformasi, hal-hal seperti itu
sudah tidak ada lagi. Langsung saja datang dan masuk.
Benarlah, sampai di sana, saya langsung memindai daftar pasien, menuju gedung yang dimaksud, cukup bertanya kepada seorang suster jaga di meja resepsionis, dan ketemu kamar rawat nenek. Semalam saya tinggal di sana bersama anggota Keluarga Balung yang memang menjaga nenek. Keesokan pagi, sambil menelusuri beberapa bagian rumah sakit, saya jadi membanding-bandingkan dengan pengalaman di masa lalu.
Di akhir 1980-an lalu, saya ingat sering bertugas mengirimkan bahan pakaian atau makanan karena praktis penjaga pasien tidak seleluasa sekarang keluar-masuk rumah sakit. Teringat juga kantin di dalam rumah sakit yang saat itu satu-satunya tempat jajan di dalam dan bonus untuk saya jika sedang menginap adalah coklat favorit, Full Cream buatan Welco. Saat itu belum ada Silver Queen atau Cadbury.
Pagi hari juga sangat hening saat itu, selain jumlah penjaga pasien yang lebih sedikit, belum ada acara televisi di pagi hari. Benar-benar Minggu yang “mencekam” jika saya sedang menginap di sana; pulang ke tempat kos pun di sore hari, terkadang mengambil arah memutar melewati Jalan Kartini, juga senyap.
Untuk merekam kenangan, saya potret bagian klasik yang tak akan terlupakan dan masih juga dipertahankan sampai saat ini di bangunan lama, yaitu pola pintu dan jendela. Dengan ukuran yang super-besar, mengingatkan saya pada gaya klasik bangunan “peninggalan Belanda”, di pagi hari saat para perawat membuka ventilasi tersebut adalah nostalgia tersendiri.
Tidak lama kemudian terdengar aktivitas dari kompleks di sebelah rumah sakit, oh ya… SMP Negeri 2 yang juga klasik. Di jalanan depan rumah sakit dan SMP tersebut saya kenang kebaikan teman-teman SMP yang mengajak saya naik sepeda mereka, termasuk bertemu Cak Bambang Lelono, tokoh sentral di lingkungan akademis SMP 3. (Saya belum pernah satu kelas dengan Bambang sejak SMP hingga SMA dan benar-benar kenal dengan dia dimulai dari sepanjang perjalanan bersepeda tsb.)
Beberapa jam kemudian saya sudah harus meninggalkan Jember dengan kereta api, menuju Surabaya, kemudian bergabung dengan teman kembali lagi ke Bandung. Praktis hanya sekitar dua belas jam di Jember, di tempat yang sangat sempit, namun nostalgia dalam pikiran memaknai lebih luas dari ruang nyata, lebih jauh dari waktu yang terasa cepat lewat.
Popularity: 10% [?]

