Meh Pitulasan .. ana sing luput ya ?

bendera5

Sebentar lagi, tepatnya hari SENIN PAHING kita Bangsa Indonesia akan mengenang dan memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 2009. Secara resmi, negara kita sudah berusia 64 tahun. Kalau diukur dari umur manusia, maka umur segitu sudah terbilang “lampu Kuning banget” bahkan condong kemerah-merahan alias umur siap-siap untuk dijemput oleh Malaikat Izrail. Sebab, menurut Islam, umur sebuah umat mengikuti umur Nabinya. Kalau nabi Muhammad wafat pada umur 63 tahun, maka umur rata-rata umat Islam berkisar pada usia 60 tahunan, kurang atau lebih.

Tapi, kalau dikaitkan dengan umur sebuah negara, 64 tahun itu bisa terbilang masih bocah atau bisa jadi sudah dewasa. Lho kenapa masih bocah? Apakah masih kurang contoh bagi kita tentang perilaku pejabat negara atau tokoh masyarakat yang begitu mbocahi alias tidak bisa bersikap sebagai panutan, yang bisa mengayomi dan melindungi. Kampanye Pemilu Legislatif 2009 yang baru saja berlalu sudah membuktikan bahwa banyak diantara kita masih terbilang mbocahi dalam bertindak.

Kabeh pada rebutan panggonan kanggo masang gendera..

Kabeh pada rebutan pameran janji ..

Kabeh uga pada rebutan mblenjani janji, nek dong ora kepilih (utawa nek kepilih .. )

Kepiye Jal ?

Eit.. tapi bangsa kita sebenarnya juga sudah cukup dewasa. Terbukti saat Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden, rakyat dengan penuh sukacita mendatangi TPS untuk memberikan dukungan kepada Calon yang dipercayainya. Alhasil, pasca pemilu tidak terjadi kerawanan yang berujung kepada kerusuhan atau pun keributan seperti yang dikhawatirkan banyak pihak. Semua berjalan dengan baik hingga akhirnya tanggal 17 Juli 2009 hari Jumat Legi, kita semua dikejutkan oleh njebglug-nya bom di Hotel Je Dabelyu Marriot dan Ritz Charlton.

Gara-gara jeblugan bom ini pulalah, sobat kita Cak Eko Setiawan menjadi gundah lantaran tim balbalan sing kondhang sak jagad, idola beliauw .. tidak jadi maju ke tampil untuk melawan pasukan pak Benny Dollo. Beragam spekulasi bergulir dan menggelinding cepat menabrak logika awam tentang apa motif kejadian-kejadian itu. Tak luput pula motif spekulatif bernada ngawur bahwa yang njeblugke bom itu disuruh sama Liverpool ( .. dalam bahasa Cak Ekos : Looserpool .. ) atau kongkonane Mas Drogba bahkan mungkin Propesor Wenger, yang kita tahu merupakan lawan-lawan berat MU di kompetisi Liga Inggris kemarin, sekarang dan esok nanti ..

Pasca pengeboman ini pun, kita melihat kembali perilaku mbocahi dari punggawa negeri ini, yang saling bersilat lidah di media untuk membela atau memojokkan pihak lain. Sungguh tidak patut untuk disaksikan apalagi diikuti. Untuk orang-orang sekelas beliauw, semestinya dipaparkan fakta-fakta strategis untuk mencegah terulangnya jeblugan bom semacam itu, menenangkan rakyat sekaligus menggugah rakyat untuk tetap bersatu dan waspada. Bukannya melansir berita yang meresahkan bahkan bisa memecah belah persatuan warga yang sejauh ini juga masih pasang surut kondisinya.

Tapi, sudahlah.. Sementara ini, semua sudah berlalu dengan ditetapkannya sejumlah nama sebagai pelaku utama jeblugan bom tersebut. Tercatat ada Ibrahim The Florist, Dani Dwi Permana si Bocah Gundah, Nana Ichwan Maulana, Eko Peyang dan Air Setiawan Asy Syahid ( ? .. jare sing ndukung .. ) yang resmi beraksi dalam insiden itu. Sejenak kita bisa lega dengan temuan ini.

Kembali ke Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Yang jelas, malam Senin besok, di desa-desa, kampung-kampung, perumahan-perumahan, masjid atau tempat ibadah lainnya, bakal diselenggarakan acara Tirakatan Pitulasan untuk memperingati perjuangan para pahlawan dalam membebaskan negeri ini dari cengkeraman penjajah kala itu. Terlepas pula dari sinyalemen .. (waduh opo kuwi .. ternyata artine indication; suspicion; assumption) .. bahwa sejatinya bangsa dan negara kita ini belum merdeka. Terbukti dengan laporan berbagai analis keuangan tentang makin membelitnya utang negara kita, makin tidak dihormatinya kedaulatan kita, makin merosotnya derajat kehidupan kita serta berbagai tendensi negatif yang menerpa bangsa ini terus menerus.

Saya lantas berpikir, “Apa yang salah dengan bangsa dan negara ini ya?” Tercetus satu hal di benak saya. Kita ini ngakunya bangsa yang berke-Tuhanan Yang Maha Esa. Tapi coba tengok saat kita memperingati acara Pitulasan. Benarkah kita benar-benar menghadirkan Tuhan di hati dan lingkungan kita ? Rangkaian acara Pitulasan yang dikemas dalam berbagai lomba, baik itu lomba anak-anak atau pun orang dewasa, hampir dipastikan tidak lebih sekedar “Pantes-pantese nek Pitulasan yo nggawe lomba-lomba sing rame ..” bahkan tidak sedikit yang terbilang konyol dan tidak patut dipertontonkan dimuka publik. Misal saja, Bal-balan ibu-ibu dengan mengenakan sarung. Dimana kalau musik dibunyikan, semua peserta harus berhenti dan berjoget dulu hingga musik dimatikan. Atau pula bal-balan bapak-bapak dengan mengenakan daster. Opo yo patut koyo ngono kuwi ? Wong tuwo kok mung didadekake geguyon bocah ..

Juga saat rangkaian itu ditutup dengan Pentas Pitulasan atau Malam Tirakatan, upaya mewarnai dengan penuh rasa syukur kok makin tipis juga. Hampir semua acara mengedepankan kegembiraan, yang kadang berlebihan. Wujud syukur serta keprihatinan terhadap nasib negara dan bangsa serta wujud terima kasih kepada mereka yang telah menyabung nyawa untuk negeri ini, seperti makin jauh saja.. Betapa gundahnya hati para pejuang negeri ini di alam penantian ketika menyaksikan kita lalai untuk bersyukur kepada Tuhannya .. Duh, Gusti .. Nyuwun agunging pangaksami ..

Kalaupun dalam acara itu juga dipanjatkan doa-doa, sepertinya hanya sebagai kepantasan seremonial saja. Bagaimana doa bisa didengar oleh Tuhan, kalau kita yang memanjatkan hanya sebatas di bibir. Sedangkan hati kita berada di tempat lain .. Akankah malaikat mau mendekat untuk menjemput doa kita dalam suasana yang penuh hingar bingar seperti itu? Ah, sungguh kita makhluk yang dhalim dan pelupa..

Yah .. ambegan gede ..kalau yang seperti ini semakin ditradisikian dan diturun temurunkan, dimanakah kemerdekaan sejati kita sebagai manusia, yang oleh Tuhan dijadikan sebagai makhluk yang paling mulia, yang berakal dan (semestinya) bisa membedakan hal yang benar atau batil. Yang semestinya tugas kita hanyalah untuk beribadah kepada-Nya?

4 thoughts on “Meh Pitulasan .. ana sing luput ya ?”

  1. Pitulasan nang komplek omahku sing paling tak enteni yo acara bazar rek. Lumayan buat cuci mata mergo akeh makanan enak & aku bebas gak usah masak trus iso ketemu tonggo2 maneh. Wah pokoke agustusan selalu rame. Sayang tahun iki aku gak sempat masang lampu kelap kelip ndik omahku, soale ojobku pas lagi sibuk . Gara2 iku sak blok deretan omahku yo podho gak ono sing masang lampu

  2. Iya sih acara 17 san seringkali banyak lomba konyol konyolan yang gak masuk akal. Cuman, apapun itu, seringkali acara itu justru membuat akrab antar warga (yang bisa jadi ketemuannya cuman diacara itu setahun sekali), happy,murah meriah he3. Tugas kita semua tuk ngasih ide2 acara2 yang lebih berbobot dan mendidik. MERDEKA!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *