Napak Tilas Cikal Bakal Pendirian Universitas Jember

Diambil dari Jawa Pos, Radar Jember, Senin, 04 Mei 2009, Ada cerita bahwa SMA 1 yang dibangun dari sumbangan botol-botol kosong dan kelapa

Dana Pendidikan Kurang, Minta Sumbangan Buah Kelapa dari Warga

Tak banyak orang tahu, salah satu yang punya peran penting dalam pendirian Universitas Jember (Unej) yang dulunya bernama Universitas Tawang Alun (Unita) adalah Alm R. Soedjarwo. Saat Unita dirintis, dia menjabat sebagai Bupati Jember sekaligus merangkap sebagai Ketua DPRD Swatantra. Inilah penuturan Ir Suhardjo Widodo MS, putra keempat R. Soedjarwo yang juga menjadi saksi mata sejarah pendirian perguruan tinggi negeri di Jember.

Winardi Nawa Putra, Jember


Dalam konteks pembangunan Kabupaten Jember, Unej mempunyai peranan sangat strategis. Kampus yang terletak di Tegal Boto ini telah menjadi magnet luar biasa bagi pertumbuhan ekonomi di Jember. Telah banyak lulusan Unej yang menjadi pengusaha besar dan tokoh nasional. Unej telah melahirkan generasi bangsa yang punya kualitas andal dan diperhitungkan hingga ke kancah internasional.

Jumlah mahasiswa Unej sekarang ini lebih dari 20 ribu mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah. Tentu ini merupakan potensi ekonomi yang luar biasa dalam meningkatkan perputaran uang yang masuk ke Jember. Keberadaan Unej sekaligus memberikan dampak pertumbuhan ekonomi yang luar biasa. Banyak usaha kos-kosan dan berbagai aktivitas usaha di sekitar kampus yang bermunculan. Tidak dapat dipungkiri, Unej memberikan wajah tersendiri bagi kota Jember sebagai salah satu kota pendidikan terpandang di Jawa Timur, selain Surabaya dan Malang.

Saat-saat rintisan pendirian perguruan tinggi di Jember, salah satu yang tahu banyak adalah Ir Suhardjo Widodo MS. Dia adalah putra keempat alm R. Soedjarwo, mantan bupati Jember yang juga salah satu perintis berdirinya Unej.

Menurut Suhardjo, periode cikal bakal pendirian Universitas Jember mulai tahun 1957-1964. “Ini diawali dengan munculnya gagasan tentang pentingnya suatu universitas di kota Jember. Tokoh yang mempunyai gagasan tersebut adalah dr R. Achmad, R. Th. Soengedi, dan M. Soerachman,” ujarnya.

Ketiga tokoh tersebut akhirnya berhasil mendirikan Yayasan Tawang Alun. Tujuan pokok yayasan tersebut adalah mendirikan Universitas swasta Tawang Alun (Unita). Pada waktu, Unita berdiri baru memiliki sebuah fakultas, yakni Fakultas Hukum.

“Pada masa itu, Unita belum mempunyai gedung, masih menempati Gedung Nasional Indonesia (GNI) Jember dan Sekolah Menengah Pertama Katolik Putra Jember,” kisahnya.

Memasuki tahun 1959, ujar pria kelahiran 21 Mei 1949 ini, tuntutan kepada Unita untuk terus berkembang semakin besar. Maka, atas permintaan warga Unita, pada 26 Januari 1959, R. Soedjarwo diangkat sebagai Ketua Yayasan Unita.

“Secara kebetulan, pada periode 1957 sampai dengan 1964, R. Soedjarwo menjabat sebagai Bupati Jember dan merangkap sebagai Ketua DPRD Swatantra,” ujarnya. Boleh dikata, sebagai Bupati Jember waktu itu, R. Soedjarwo mempunyai perhatian cukup besar terhadap pembangunan pendidikan di Kabupaten Jember.

Ini mengingat bahwa anggaran pemerintah saat itu masih sangat terbatas. Atas kenyataan itu, untuk menunjang bidang pendidikan, R. Soedjarwo bersama tokoh-tokoh masyarakat kemudian mendirikan Yayasan Pendidikan Kabupaten Jember (YPKD) dengan menggali dana dari masyarakat untuk menunjang dunia pendidikan.

“Salah satu cara yang unik dalam mengumpulkan dana, R. Soedjarwo minta sumbangan dari masyarakat Kabupaten Jember berupa buah kelapa dan botol kosong untuk dijual. Selanjutnya dananya dipergunakan untuk membantu Unita dan sekolah-sekolah yang lain,” ujar bapak berputra dua ini.

Dia ingat betul, saat itu dia masih duduk di bangku SMP. Dengan usaha tersebut, lanjut dia, R. Soedjarwo di kalangan masyarakat terkenal sebagai Bupati Botol Kosong.

Beberapa sekolah yang sempat dibantu pembangunannya oleh YPKD antara lain, Gedung SGA yang sekarang ditempati MAN II, gedung SMA I, SMEA, SKP yang sekarang ditempati SMPN 11 Jember, STM yang sekarang menjadi SMPN X , PGA, dan SPPMA. “Serta tidak kurang 50 gedung Sekolah Rakyat (SD) termasuk gedung Asrama Putri di Jalan PB Sudirman yang dibantu,” ujarnya.

Untuk membesarkan Unita, R. Soedjarwo kemudian membantu mendirikan gedung kampus Unita yang ada di jalan PB Sudirman seluas 656 meter persegi. Gedung tersebut dibangun di atas tanah seluas 2.160 meter persegi dengan biaya pembangunan sebesar Rp 23.243,66.

“Dana tersebut bersumber dari dana YPKD. Sejak tahun 1960, Unita semakin berkembang. Jumlah fakultas, satu demi satu bertambah. Meliputi, Fakultas Sosial Politik, Fakultas Kedokteran, Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan dan Fakultas Pertanian,” tambahnya.

Seiring perjalanan waktu, untuk menambah prasarana kampus, Unita mengundang USAID untuk mendapatkan sumbangan berupa alat laboratorium dan buku-buku. “Kampus Universitas Jember di Tegal Boto, sebenarnya sudah diimpikan R. Soedjarwo. Saat itu tahun 1960, Tegal Boto masih berupa daerah terpencil bagaikan “pulau mati” dan tidak bisa dijangkau transportasi darat,” ujarnya.

Untuk membuka daerah tersebut, R. Soedjarwo mulai membangun jembatan di jalan PB Sudirman arah ke Jalan Mastrip pada 1961. “Jembatan tersebut baru selesai tahun 1976 dan hingga kini dikenal sebagai jembatan Jarwo, ” ujarnya.

Nah, awal 1961 Yayasan Unita mulai merintis upaya agar Unita bisa berstatus negeri. Untuk itu, R. Soedjarwo mengadakan koordinasi dengan segenap pengurus yayasan, pengurus Unita, tokoh-tokoh daerah, termasuk anggota DPRD.

“Sidang DPRD pada 19 April 1961 akhirnya menghasilkan keputusan menetapkan resolusi,” ujarnya. Resolusi tersebut isinya menyangkut beberapa hal. Pertama, tentang memperkuat ide pembukaan Fakultas Kedokteran, kedua mengirim delegasi yang terdiri dari Ketua DPRD menghadap Pemerintah Pusat, dan ketiga Universitas Tawang Alun agar diakui sebagai Universitas Negeri.

“Langkah selanjutnya, Yayasan Unita mengirim beberapa delegasi untuk menghadap Menteri PTIP waktu itu dipegang Prof Mr Iwa Kusumasumantri,” ujarnya.

Hasilnya memberikan harapan baru, pemerintah akan menegerikan Unita bersama-sama dengan Unibraw pada 20 Mei 1962. Untuk menyongsong rencana tersebut, ujar suami EM Evi ini, Yayasan Unita kemudian mengirim kembali delegasinya pada 14-24 Maret 1962. Namun di luar dugaan, telah terjadi pergantian Menteri PTIP, yaitu Prof Dr Ir Thoyib Hadiwidjaja yang mempunyai kebijakan baru bahwa tidak membenarkan penegerian dua universitas dalam satu provinsi secara bersamaan. Akibat penundaan penegerian Unita tersebut, Unita akhirnya diintegrasikan ke Universitas Brawidjaya Malang berdasarkan SK Menteri PTIP No1, tertanggal 5 Januari 1963. Hal ini menimbulkan keresahan bagi masyarakat Jember dan mahasiswa Unita khususnya.

Melihat hambatan tersebut R. Soedjarwo terus berusaha dengan mengirim delegasi ke Jakarta hingga mendapat dukungan dari DPRD untuk mendesak pemerintah pusat untuk menegerikan Unita menjadi universitas negeri secepatnya. “Jerih payah R. Soedjarwo dengan dibantu pihak-pihak terkait, akhirnya membuahkan hasil dengan terbitnya SK Menteri PTIP No 153 tahun 1964 tertanggal 9 November 1964 tentang Didirikannya Sebuah Universitas Negeri Jember,” paparnya.

“Sejak Unita menjadi Universitas Negeri R. Soedjarwo tidak aktif dalam mengembangkan Universitas Jember,” ujarnya. Menurut Suhardjo, dalam perkembangan Universitas Jember hingga maju pesat dan menjadi besar hingga berskala nasional tidak lepas dari peran dua Rektor terakhir yaitu Prof Dr Kabul Santoso MS dan Dr Ir T Sutikto MSc.

Tahun ini Universitas Jember akan berdies natalis ke-45. Melihat perjalanan Universitas Jember hingga maju pesat seperti ini, tak salah jika dalam dies natalis tersebut ada suatu apresiasi yang memadai bagi founding fathers Universitas Jember yang telah bersusah payah membangun pendidikan di Jember. (*)

Sekalipun aku bukan lulusan UNEJ, tetep aku bangga pada UNEJ, soale Bapakku kerjo ning UNEJ, adikku, mbakku, masku kabeh lulusan UNEJ, bahkan aku urip ning omah dinese UNEJ… pokok UNEJ Banget deh.. 🙂

17 thoughts on “Napak Tilas Cikal Bakal Pendirian Universitas Jember”

  1. Halo…..Jal! Unej ini(jare wong Meduro 'Unid') selama dia ada, menjadi magnet paling kuat dan jangkar pengait yang manjadi alasan kuat untuk menetap di kota nJemberr ini. Apalagi Unej berdiri 'di sisi' Kali Bedadung. Dahulu & mungkin hinga kini banyak mahasiswa Unej yang memanfaatkan Kali ini sebagai bagian dari kehidupan keseharian mereka. Mitosnya, siapapun pendatang yang pake air Kali ini akan menetap di kota ini (walau sepertinya nJember gak punya penduduk asli).

    Di Pagah, banyak sekali (kalo gak bisa dikatakan mayoritas) warganya yang latar belakang kehidupannya dipengaruhi oleh keberadaan Unej. Berbagai peran yang mereka dimainkan, jadi dosen, mahasiswa, satpam, karyawan, guru besar, alumni, pedagang kaki 5, pemilik warung lesehan, pengamen lesehan, yang jadi pacar mahasiswinya juga buanyak. Sebaliknya, yang frustrasi & membenci Unej juga banyak, khususnya yang ditolak & gagal mendapatkan gebetan cewek mahasiswi Unej!

    Saya sendiri adalah penggemar olah raga yang banyak memanfaatkan fasilitas di Unej. Sebagai penghobi jogging, sudah menjadi penjajal trek jogging semenjak kawasan Unej sebagian besar masih berupa sawah & 'tebuan', dan masih nyempatin hingga kini. Mulai sejak jaman burung, kadal, nyambik, dan ular berseliweran hingga kini jaman banyaknya pedagang kaki lima bercokolan.

    Yang masih tidak berubah dari Unej, cewek cakep masih banyak………………………….

  2. Zal, sebagai keluarga besar Unej aku juga ikut gembira dengan perjalanannya sampai saat ini. Terima kasih untuk infonya, aku ya nggak pernah tahu.

  3. aku luwih seneng karo jenenge pertama Unita timbang unej (apalagi unjem), soale kesane imut, manis, baik hati, rajin belajar dan berdoa…

  4. @ Sevi, Opo maneh nek ditambah " UNITA Cemerlang ".. Kesane dadi tambah cerdas dan berwibawa yo.. he..he..he..

  5. Tapi kalo sekarang namanya Universitas Tawang Alun, tar orang-orang pada curiga,yang kuliah kondektur, spor dan kernet, soale wis dadi nama terminal.

    Aku sering baca sejarah Unej dari buku wisuda, katanya Unej dulu pernah punya nama Universitas Saweri Gading, nah versi yang ini agak beda dengan versi yang pernah aku baca sebelumnya….

    @Bu De Sevi, sudah mengundurkan diri dari Jamiyah Fibukiyyah ya.. padahal aku udahuploadfoto bakso Pak Ri pesenan sampeyan 🙂

  6. UNED…itu nama awal yang saya denger saat SD dari Mas Ma'il arek Osing yang kos di rumah Mbah saya…

    UNEJ…itu nama saat saya dapet PMDK di Fak.Pertanian UNEJ tahun 1988…

    UJ …itu nama yang saya sempat dengar saat saya di Jogja karta

    apapaun UJ ini adalah penggerak roda ekonomi dan perubahan sosial di Kota Jember….berduyun-duyunnya para mahasiswa dari banyak daerah tentu saja menambah kekayaan budaya dan kerumitan hubunganpersonal antar mahasiswa disana… Saat saya kuliah awal di faperta UNEJ ..ada kawan P4 saya yang anak Sastra dari daerah Jawa Timur Mataraman yang merasa gelisah dengan cerita-cerita orang daerahnya yang mengatakan bahwa Banyak insiden "santet" di kota kita itu..sehingga dia saat memilih kos di daerah Tegalboto mesti yang ada pohon Pepayanya…. Tapi pada saat yang sama saya menemukan persahabatan dengan arek Jawa timur lainnya yang punya bahasa dan budaya yang bebeda dengan budaya Jemberian…kayak anak Madiun,Nganjuk,Kertosono yang Mataraman dengan bahasa yang lebih halus cara bertuturnya…anak-anak AREK (Gerbangkertosusuilo) yang bersemangat setiap bercerita dengan gaya bahasa yang nGartolo banget…atau orang Madura Asli Bangkalan yang bahasanya beda dengan Madura Asli Sumenep…pokoknya rame….

    Setahun di Faperta UNEJ (1988-1989) memperkaya jaringan dan rasa percaya diri dalam berorganisasi saat sebagai mahasiswa Baru kami (Angkatan 88) mampu membuat Acara Inaugurasi tanpa bantuan sepeserpun dari Dekanat….

    Apapaun..UNEJ punya tempat istimewa di mata masyarakat Jember…terutama sahaya…

    Seandainya UNEJ dan kota Jember bisa dilintasi transportasi udara reguler atau Jalur Kereta Api double track yang membuat jarak tempuh ke Je,ber lebih cepat…tentu perkembangannya akan lebih pesat…karena kan lebih banyak lagi ilmuwan Nasional dan Internasional yang berdatangan untuk berbagi ilmu…

    Go UNEJ…..

  7. setahun yang lalu pas mudik ke jember sempat mampir ke kampus, UNED sudah seperti hutan karena pohonnya sudah besar-besar semua. namun sayang kelihatan kotor karena banyak guguran daun yang tidak disapu…. khususnya di fakultas hukum. kesanne jadi “JEMBREK” banget..

  8. tahun ini aku nyasar (eh gak sengaja) ketrima di unej. padahal jarak rumahku ke unej 12 jam perjalanan. bayangin berangkat 5 pagi tiba 5 sore, ato sebaliknya. mudah-mudahan deh aku krasan, karena orang Jepara (kota ukir) beda banget suasananya dg di jember yang logatnya banyak ra-maduranya. aku skrang lagi pk2 di fmipa. kebetulan aku di prodi fisika. ayo kawan, bantu aku dong. sepertinya aku sorangan yang dari "jawa" (jawa tengah)

  9. Mas Alvin, gak usah kuatir… di Jember banyak juga perantau kayak sampeyan. Jadi gak usah sedih… Yang 12 jam perjalanan itu ambil aja sebagai ujian, kebetulan aku yang asli Jember malah seklah di tempat yang 20 jam dari Jember.. asyik aja tuh… di Desa Sukorejo, Kecamatan Bangsalsari, ada tuh satu komnitas wong Jawa Tenga yang ngumpul sak kampung…

  10. Assalamu'alaykum, maaf numpang kasih comment. Yup, dgn adanya UNEJ inilah maka Jember semakin berkembang dan dikenal oleh masyarakat luas. Mengutip pernyataan di atas: "Jumlah fakultas, satu demi satu bertambah. Meliputi, Fakultas Sosial Politik, Fakultas Kedokteran, Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan dan Fakultas Pertanian,” tambahnya. Ehmm…bukannya fak kedokteran termasuk yg baru dibentuk ya? Kl tdk slh angkatan pertama yg masuk adalah angkatan 2000. Justru FKG malah lbh dlu didirikan.

  11. Kalo FKG dulunya dari STKG (Sekolah Tinggi Kedokteran Gigi,) sering diplesetin jadi Sekolah Tinggi Kuli Gudang he.he..) terus ditingkatkan statusnya jadi PSKG (Program Studi Kedokteran Gigi) sekitar tahun 1994 karena ada teman yang masuk tahun itu.

    Kalao kedokteran, sebenarnya sudah berdiri sejakawak UNEJ berdiri, waktu masih bernama Univ. Brawijaya Cabang Jember, tapi hanya sampai tahun kedua sehingga mahasiswanya dipindah ke Unpad, Unhas, dan UB , dll. Dan FK kemudian di bekukan di UNEJ. Baru tahun 2000-an mulai dibuka lagi.. Sebenarnya lebih dulu ada FK dibanding FKG . Aku baca dari buku wisuda UNEJ, biasanya ada halaman yang cerita tentang sejarah UNEJ

  12. STKG : Sekolah Tinggi Kuli Gudang FISIP : Fak. Ilmu Santet dan Ilmu Pelet STIKEN : Sekolah Tinggi Kendangkempul …………….

  13. STKG?…jaman saya kuliah di Faperta UJ (1988-1989)….ini program studi punya keunggulan …mahasiswinya tuh tik cantik….kalo soal julukan…saya inget betul…kejadiannya saat pertandingan Bola basket antar Fakultas ..dalam rangka Dies Natalis UJ…dan STKG juga kirim kontingennya….saat bertemu dengan Faperta UJ yang saat itu adalah tim kuat disamping FE UJ….maka STKG dibulan-bulani oleh para punggawa Faperta seperti Arief Malang dan Fofo (angkatan 87)… di lap.basket UJ yang dibelakang PKM itu…maka di sela-sela yel-yel yang mendukung Faperta UJ…ada celetukan keras dari barisan suporter Faperta…" ayoooo habisin STKG…gak mungkin mereka menang..karena STKG adalah SEKOLAH TINGGI KAKEAN GUYON……." ..maka meledaklah tawa kami semuaa….ha..ha..ha..ha…lha wong pemain STKG sudah berjuang maen basket mati-matian..malah dikira Guyon..kik..kik..kik…hanya lantaran jarak skornya sangat jauhhhhhhh…he..he..he..he..

  14. Cak Adib kalo sudah mencul singkatan-singkatan anehnya bermuculan…

    FISIP bukannya Fakultas Ilmu Sihir dan Ilmu Perdukunan?

    Kalo gak salah STKG dulunya swasta yang dikelola oleh Yayasan Abdi Negara, yayasan milik UNEJ , pas aku SMP kalo periksa gigi di kliniknya STKG yang didekat PKM, murah meriah, mari.

  15. sejak aku lahir sampai S1 di jember cak, lalu ngajar di Jkt , seringkali alumni Unej gak pede kalau dari kota kecil Jember, padahal setelah ditelusuri ternyata alumni Unej dan SMA 1 ternayta wokeh lan podo membanggakan apalagi sekrang UNEJ tidak kyk jamanku tahun 1990 an. dtambhah dgn JFC wah jujur sekrang JEMBER MAKIN MENCORONG CAK

Leave a Reply