Seorang Syekh dan Beo-nya..

 

Alkisah, hiduplah seorang Syekh yang sangat ‘alim di sebuah negeri. Sang Syekh ini punya seekor  burung Beo yang begitu disayanginya. Sedemikian sayangnya, sampai-sampai Syekh tadi bertekad untuk melatih Beo-nya agar bisa mengucapkan kalimat-kalimat thoyyibah.

                Dengan tekun dan penuh kasih saying, Beo itu diajari berbagai kalimat thoyibah. Berkat ketekunan sang Syekh, akhirnya berhasil juga Beo itu mengucapkan “ Laa ‘ilaaha ‘illAllah “. Betapa girang hati sang Syekh atas keberhasilannya itu. Sebagai wujud dari sukacitanya, ditempatkanlah Beo dan sangkarnya di dekat pintu masuk rumah sang Syekh.

                Sebagai seorang yang terpandang karena ilmunya, tentulah rumah sang Syekh tak pernah sepi oleh kunjungan tamu yang sekedar bersilaturrahim hingga yang khusus datang untuk menimba ilmu agama kepada beliau ini. Jadi, tiapkali ada tamu yang datang, Beo itu menyambut dengan ucapan “Laa ‘ilaaha ‘illAllah“. Begitu pula saat para tamu itu pulang, Beo pun mengiringi dengan “Laa ‘ilaaha ‘illAllah“.

                Demikianlah, kebahagian sang Syekh berlangsung sepanjang hari hingga pada suatu hari yang tidak terduga-duga. Tatkala sang Syekh sedang asyik memberi makan si Beo, datanglah para tamu yang ingin bertemu beliau. Karena tergesa-gesa, sang Syekh lupa menutup pintu sangkar si Beo tersebut. Rupanya, kesempatan ini tidak disia-siakan oleh seekor kucing, yang acap berkeliaran di sekitar kediaman Syekh itu. Maka dengan sekali terkam, matilah si Beo “.. keekkkkkk… “

                Begitu nyaring suara si Beo itu, membuat Syekh terperanjat dan segera saja meninggalkan para tamunya. Betapa sedih sang Syekh menyaksikan kematian tragis Beo yang disayanginya. Dengan penuh kegundahan dan diiringi linangan air mata, Syekh pun mengubur si Beo dengan khidmat. Sepeninggal si Beo, Syekh pun menjadi seorang pemurung. Hari-hari banyak dilewati dengan berdiam diri, merenung dan menangis. Tak urung, perubahan ini membuat khawatir para anggota, tetangga serta para sahabat Syekh tersebut.

                Berbagai cara diupayakan untuk menghibur Syekh agar melupakan si Beo itu. Para sahabat, kerabat dan tetangga bergantian menawarkan Beo-beo yang lain sebagai pengganti. Tapi semua ditolak oleh Syekh. Demikianlah hal itu berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Hingga pada suatu hari, Syekh mengundang para kerabat, tetangga dan sahabat untuk mendengarkan penjelasan atas sikapnya setelah kematian Beo kesayangannya itu.

                “ Terima kasih atas perhatian kalian semua kepadaku. Aku memang bersedih karena Beo-ku mati. Tapi bukan karena itu aku menjadi murung berkepanjangan. Diantara kalian tentu ada yang hadir disini ketika Beo itu mati diterkam oleh kucing yang lapar itu. Kalian tentu masih ingat suara terakhir yang terucap dari mulut Beo itu.. “ keeekkkk..” .. Begitulah yang terucap. Sungguh gundah hatiku, kenapa bukan “ Laa ‘ilaaha ‘illAllah “ yang terluncur dari mulutnya saat menjelang ajal ..  Setelah peristiwa itu, makin khawatirlah aku akan keadaan diriku. Apakah aku akan mampu menyebut “ Laa ‘ilaaha ‘illAllah “ saat aku mati nanti ? “

 

9 thoughts on “Seorang Syekh dan Beo-nya..”

  1. aduh…menggetarkan banget cak Faiz,,,,ku pikir bunyi 'keekkk' itu adalah gambaran saat beo itu diterkam, ternyata Lafaz terakhirnya…!!! iyo se…kadang awak ku iki rumangsane bakal urip dhowooooooo…ckckck..opo yo persiapanku????

  2. Alhamdulillah, mugo2 aku sampean pas dipundut Allah kelak tidak seperti beo itu ya.

    Ayoo rek dalam diam & gerak kita mari kita berdzikir…. laa ilaa ha illallaaaaaah… Allah….

    Suwun cak faiz…

  3. @Dhek Faiz: he3 menghibur tapi berhasil menyentil hati yang terdalam. Eh thanks kiriman emailnya ya. siap siap belajar ngaji lagi nih.

  4. ceritane cak Faiz kok pedot…… dadi carane yok opo ben gak kok beo iku….

    Ojok2 wis latihan zikir diam dan gerak matine keeeekkkkk pisan…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *