CINTA DALAM HARU

Wajah yang penuh garis kehidupan selintas kudapatkan pada laki2 yang tengah tercenung menatap pohon palm yang berjejer rapi di depannya, Sejak bulan lalu aku tergelitik ingin menyapanya..tapi dasar wedhian…aku mek iso nyesel setelah sampe rumah…dan akibatnya yang lain wajahnya terus membayangiku..membuatku semakin rindu pada Bapak yang jauh di Jember.

Ada rasa takut…andai beliau tidak berkenan padaku, seandainya beliau berpikir aku ini perempuan ‘reseh’ yang sok memperhatikan…aih, tapi kali ini aku tekadkan hati untuk menyapa beliau ketimbang aku gak iso turu…Repot, marai tambah lemu…

Aku menyusutkan air mata yang tiba2 jatuh, kisah Bapak itu akhirnya meluncur dengan deras, seiring dengan kerut2 yang semakin menajam menghias wajahnya saat berkisah..aku menatapnya, masih ada sisa kegantengan di wajah beliau ini, pasti dulu beliau gagah dan tampan sekali.

“Saya sendiri tidak pernah mengira, hidup saya akan berakhir di panti ini, Nak” sapanya sambil memegang tanganku.

“Kamu masih ada orang tua kan? Rawatlah mereka semaximal mungkin yang kamu bisa, karena hanya itulah kebanggaannya, telah mampu membesarkan anak2 yang tetap mencintainya”

Aku mengangguk dan berpamitan padanya, dan berjanji akan rajin menemaninya…tak lupa kucium tangan beliau dengan takzim, sebagai hormat dan respect ku pada beliau

Alhamdulillah, akhire aku mekso berbagi dengan kalian fren…Bapak-Bapak yang luar biasa, dan insyaAllah mampu menciptakan generasi yang senantiasa menghargai pengorbanan anda semua…dongengane mekaten…

*Bapak Wijaya adalah seorang Bapak yang memiliki 3 putra, dan beliau berusaha dalam hidupnya untuk menciptakan ekonomi keluarga sampai pada cita2nya..dan semuanya tercapai, Beliau bekerja siang dan malam, memaksimalkan pikiran dan tenaganya untuk mewujudkan semua itu…Hingga berada pada golongan menengah keatas, yang mampu mencukupi seluruh kebutuhan anggota keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya hingga ke luar negeri…

*kehidupan mulai dirasakan sepi saat sang istri, permaisuri hatinya berpulang…sehari-hari, beliau hanya ditemani pembantu dengan rumah yang sangaaaat besar, menyikapi hal ini, anak sulungnya mengusulkan untuk menjuak rumah itu dan membeli rumah lebih kecil, dan hidup menjadi satu keluarga, kenyataannya istri si anak sulung ini dalam merawat Bapak Wijaya, mengganti perlengkapan makannya dengan bahan dari plastik, sama seperti yang biasa di pakai sopir dan pembantunya, alasannya biar tidak pecah, padahal Bapak Wijaya meyakini bahwa dilakukannya semua itu karena mereka sayang dengan peralatan yang indah-indah itu, mereka lebih sayang barang daripada ayahnya sendiri, karena tidak tahan akhirnya dia ikut pada anak yang kedua

*Di kehidupannya bersama anak keduanya, karena anak dan menantunya bekerja, nyaris dalam rumah itu tak ada komunikasi, Bapak wijaya merasa bahwa dia hanya sebagai pelengkap dan nyaris patung yang dirasa ‘ada tapi sebenarnya tak ada’, karena tidak tahan juga, akhirnya beliau memutuskan tinggal bersama dengan anak bungsunya.

*Si bungsu adalah sosok yang sangat beliau sayang sejak dari kecil, seluruh apa yang diminta selalu beliau berikan, semua notabene dengan dasar sayang…Di kehidupan beliau bersama anak bungsunya inilah…Anak yang sangat di kasihinya mengirimkan beliau ke panti jompo itu, dengan alasan, agar banyak teman dan pasti punya kegiatan.

Ngono lho rek….lak nemen se prasaku..nyambut gawe isuk bengi demi perbaikan ekonomi, demi sebuah cita-cita membahagiakan istri dan anak-anaknya…hasilnya…..??????

18 thoughts on “CINTA DALAM HARU”

  1. Aduh Ika aku pingin ndang cepet mule kerjo iki, dadi kangen kpd beliau berdua, Alhamdulillah Bapak Ibuku masih sehat semua.

    Mari kita berdo'a mudah2an kita semua bisa berbakti pada ortu kita semaksimal kita bisa, walaupun kita tahu bakti kita tidak dapat menyamai jasa beliau berdua….

  2. @ Jeng Ika, Mbakyu, kisah senada pernah aku dengar sendiri dari seseorang. Betapa gundah dan masygulnya hati beliau dengan sikap si buah hati, yang sekarang ini sudah menjejakkan kaki ke berbagai negeri, tapi tak hendak pula singgah ke hati ayah bundanya .. yang dengan sabar menanti..

  3. calon-calon Malin Kundang akeh tibae yo….semoga diri ini di jauhkan dari 'kelupaan' yang nyatanya bisa menorehkan luka di hati orang lain, utamanya 'Mak dan Bapak kita" Naudzubillah

  4. Tks Ceritone Ka…. Insyaallah kita berusaha untuk tidak jadi anak-anak sing cek nemene iku…..

  5. cerita yang menyedihkan … sedikit membuka diskusi dan sharing, kebetulan kemarin tempatku bekerja mengundang seorang pemibicara motivasi, Jamil Azzaini. Mungkin teman-teman lain sudah pernah mendengar atau membaca bukunya. Bahwa di dunia ini belaku hukum kekekalan energi. Energi tidak bisa hilang, tapi bisa berpindah dan berubah bentuk. Hasil usaha akan sama dengan usaha yang diberikan. Usaha berupa energi positif, hasil usaha juga positif, demikian sebaliknya. Kadang kala hasil usaha tidak langsung bisa dirasakan hasilnya karena menjadi tabungan energi. Tabungan energi ini baik positif maupun negatif, akan kembali ke yang empunya kapanpun selama masih hidup. Hasil usaha atau tabungan energi akan kembali dalam bentuk harta (kekayaan), tahta (karir), kata (perkataannya didengar/dihormati) dan cinta (dicintai keluarga, kawan). Kembali ke cerita diatas, bisa jadi bapak dalam cerita tsb sedang "memanen" tabungan energinya, yang sayangnya negatif. Dia tidak mendapat cinta dari anak-anaknya. Usaha (energi) apa yang dikeluarkan dahulu, tidak ter-ceritakan diatas. Sekian, bukan bermaksud menempatkan bapak tsb dalam posisi salah. Kalau ada yang mau komentar monggo …

  6. Ika, thanks ceritanya.

    Yang jelas ini mengugah kita akan sebuah bayangan masa depan, yang tentunya akan berjalan sesuai dinamikannya. Satu hal yang sering kita lupa, bahwa fenomena yg ada, adalah sebuah pembelajaran, bukan pemberangusan motivasi, masih banyak pekerjaan yang bisa kita lakukan, sepanjang masih ada sisa umur kita. Alloh SWT " tak tedung ", sekecil apapun usaha baik kita pasti akan diganti dengan yang lebih baik. Terpulang sampai dimana kita menilai pekerjaan kita, terpulang seberapa besar keikhlasan mengiringi jalannya pekerjaan itu. Biarlah Alloh SWT, RosulNya dan orang2 Mukmin menilai pekerjaan kita, dalam tugas menjalankan amanah keluarga. Mengenai hasil kedepan mudah2an tidak mengores keikhlasan kita. "Buat Anak-anak Ku, saksikan bahwa Ayahmu telah berusaha bersungguh2 sesuai kemampuan untuk menjaga kalian dalam Amanahku, semoga tugas ini menjadi tabungan amalku".

    Jzkm, dr yg lagi lembur. disudut jakarta demi amanah.

  7. @ Ekos…aamiin yo Koz, aku dadi kelingan waktu Bapakku operasi glukoma, aku gak maximal banget rasane le ne ngladheni.

    @Toto…iyo se To,,,,teori iku ancen bener tapi masio rek….??? nemen temen, iku lak rasane koyo mbuwak (ancene di buwak ding, apapun alasannya)

    @Rofiq…aamiin insyaAllah, jarene kalo anak2 itu dibesarkan dengan sentuhan cinta yang dapat dirasakan, mereka akan merasakannya dan itu akan menjadi energi yang sangat besar, walau mungkin yang terungkapkan tak sebesar yang dirasakannya,,,intine nek dengan iman bekale pasti…Gusti Allah tak tedhung

  8. @Dhek Ika: Pagi tadi aku baru baca di kompas "membaca nasib orang usia lanjut indonesia" yang mengomentari soal cerpen "rumah amangboru" dan perasaanku masih teraduk aduk lha kok ketambahan ceritanya dhek ika yang hampir sama. Semoga bapak Wijaya diberikan ketabahan, kekuatan dan keikhlasan. Dan akan mendapat perhatian dan kasih sayang dari putra putrinya. amin.

    Tidak bermaksud menyalahkan siapa siapa, karena memang maksud baik anak2 tidak selalu menghasilkan kebahagiaan bagi orang tua. Kita sebagai anak harus lebih mendengar, mengerti kebutuhan orangtua dan menghormati kemauan orang tua karena bisa jadi itu yang terbaik buat orangtua. Dan kita sebagai calon orangtua yang akan tua (he3) tetap harus memberikan yang terbaik untuk keluarga. Hasilnya terserah Gusti Allah kelak. Namun yang patut diingat disaat kita tua nanti harus bisa memutuskan sendiri apa yang kita inginkan. Selama masih bisa mandiri mending mandiri aja sampai bener2 gak mampu mandiri. ya nggak ya.

    @Dhek Toto: mestinya memang teori itu bener. namun aku terkadang masih ragu, karena beberapa kejadian yang aku lihat dengan mata kepala sendiri "orang tua sudah memberikan segalanya ke anak, pendidikan terbaik, pengorbanan, bekal agama dan norma2 yang sama ke semua anak, namun salah satu anak 'gagal' tidak seperti anak2 lainnya. Rasanya gak ada yang salah dengan orangtuanya. ataukah berarti itu bisa jadi "cobaan untuk orang tua" dari Allah. Atau tabungan energi positif akan diterima kelak dengan sadarnya si anak yang gagal itu ataukah tabungan energi positif akan tetap diterima kelak saat orang tua di surga.

  9. Hai mbak Wied…emang bener mbak, kemarin pertanyaan itu muncul juga dari beberapa temanku, mereka cenderung melihat bahwa hasil harus sesuai yang ditanam…dan bisa bayangkan jawabanku kiro-kiro opo coba…"Lihat nabi Nuh dan anaknya….juga nabi Ibrahim dan bapaknya" mungkin kesimpulan dari semua itu adalah 'ujian'. Ayo To…kiro2 piye nek dihubungkan denga teori energi kuwi…untuk tambahane ilmu

  10. Jadi nelangsa nek ingat sekarang aku udah yatim piatu disaat ekonomi udah mulai mapan ( kataku lho) so apapun alasannya bagi yg masih punya ortu pesenku make them happy lahir batin ben gak getun mburi

  11. te,,saya minta ijin ya…ngeposting tulisan ini di FB saya,,untuk dibagikan pada pemuda dan pemudi yg lain… te,,makasih ya te…

  12. eh kalau . . . Mhue suka aM ayah mhue saMa aja mhue skiti ibu mhue yng telh beRsarKan mHue dRi kcil . . . Itu pendpAt qhue . . .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *