Archive for April, 2009

Seorang Syekh dan Beo-nya..

April 27th, 2009

 

Alkisah, hiduplah seorang Syekh yang sangat ‘alim di sebuah negeri. Sang Syekh ini punya seekor  burung Beo yang begitu disayanginya. Sedemikian sayangnya, sampai-sampai Syekh tadi bertekad untuk melatih Beo-nya agar bisa mengucapkan kalimat-kalimat thoyyibah.

                Dengan tekun dan penuh kasih saying, Beo itu diajari berbagai kalimat thoyibah. Berkat ketekunan sang Syekh, akhirnya berhasil juga Beo itu mengucapkan “ Laa ‘ilaaha ‘illAllah “. Betapa girang hati sang Syekh atas keberhasilannya itu. Sebagai wujud dari sukacitanya, ditempatkanlah Beo dan sangkarnya di dekat pintu masuk rumah sang Syekh.

                Sebagai seorang yang terpandang karena ilmunya, tentulah rumah sang Syekh tak pernah sepi oleh kunjungan tamu yang sekedar bersilaturrahim hingga yang khusus datang untuk menimba ilmu agama kepada beliau ini. Jadi, tiapkali ada tamu yang datang, Beo itu menyambut dengan ucapan “Laa ‘ilaaha ‘illAllah“. Begitu pula saat para tamu itu pulang, Beo pun mengiringi dengan “Laa ‘ilaaha ‘illAllah“.

                Demikianlah, kebahagian sang Syekh berlangsung sepanjang hari hingga pada suatu hari yang tidak terduga-duga. Tatkala sang Syekh sedang asyik memberi makan si Beo, datanglah para tamu yang ingin bertemu beliau. Karena tergesa-gesa, sang Syekh lupa menutup pintu sangkar si Beo tersebut. Rupanya, kesempatan ini tidak disia-siakan oleh seekor kucing, yang acap berkeliaran di sekitar kediaman Syekh itu. Maka dengan sekali terkam, matilah si Beo “.. keekkkkkk… “

                Begitu nyaring suara si Beo itu, membuat Syekh terperanjat dan segera saja meninggalkan para tamunya. Betapa sedih sang Syekh menyaksikan kematian tragis Beo yang disayanginya. Dengan penuh kegundahan dan diiringi linangan air mata, Syekh pun mengubur si Beo dengan khidmat. Sepeninggal si Beo, Syekh pun menjadi seorang pemurung. Hari-hari banyak dilewati dengan berdiam diri, merenung dan menangis. Tak urung, perubahan ini membuat khawatir para anggota, tetangga serta para sahabat Syekh tersebut.

                Berbagai cara diupayakan untuk menghibur Syekh agar melupakan si Beo itu. Para sahabat, kerabat dan tetangga bergantian menawarkan Beo-beo yang lain sebagai pengganti. Tapi semua ditolak oleh Syekh. Demikianlah hal itu berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Hingga pada suatu hari, Syekh mengundang para kerabat, tetangga dan sahabat untuk mendengarkan penjelasan atas sikapnya setelah kematian Beo kesayangannya itu.

                “ Terima kasih atas perhatian kalian semua kepadaku. Aku memang bersedih karena Beo-ku mati. Tapi bukan karena itu aku menjadi murung berkepanjangan. Diantara kalian tentu ada yang hadir disini ketika Beo itu mati diterkam oleh kucing yang lapar itu. Kalian tentu masih ingat suara terakhir yang terucap dari mulut Beo itu.. “ keeekkkk..” .. Begitulah yang terucap. Sungguh gundah hatiku, kenapa bukan “ Laa ‘ilaaha ‘illAllah “ yang terluncur dari mulutnya saat menjelang ajal ..  Setelah peristiwa itu, makin khawatirlah aku akan keadaan diriku. Apakah aku akan mampu menyebut “ Laa ‘ilaaha ‘illAllah “ saat aku mati nanti ? “

 

Popularity: 14% [?]

CINTA DALAM HARU

April 24th, 2009

Wajah yang penuh garis kehidupan selintas kudapatkan pada laki2 yang tengah tercenung menatap pohon palm yang berjejer rapi di depannya, Sejak bulan lalu aku tergelitik ingin menyapanya..tapi dasar wedhian…aku mek iso nyesel setelah sampe rumah…dan akibatnya yang lain wajahnya terus membayangiku..membuatku semakin rindu pada Bapak yang jauh di Jember.

Ada rasa takut…andai beliau tidak berkenan padaku, seandainya beliau berpikir aku ini perempuan ‘reseh’ yang sok memperhatikan…aih, tapi kali ini aku tekadkan hati untuk menyapa beliau ketimbang aku gak iso turu…Repot, marai tambah lemu…

Aku menyusutkan air mata yang tiba2 jatuh, kisah Bapak itu akhirnya meluncur dengan deras, seiring dengan kerut2 yang semakin menajam menghias wajahnya saat berkisah..aku menatapnya, masih ada sisa kegantengan di wajah beliau ini, pasti dulu beliau gagah dan tampan sekali.

“Saya sendiri tidak pernah mengira, hidup saya akan berakhir di panti ini, Nak” sapanya sambil memegang tanganku.

“Kamu masih ada orang tua kan? Rawatlah mereka semaximal mungkin yang kamu bisa, karena hanya itulah kebanggaannya, telah mampu membesarkan anak2 yang tetap mencintainya”

Aku mengangguk dan berpamitan padanya, dan berjanji akan rajin menemaninya…tak lupa kucium tangan beliau dengan takzim, sebagai hormat dan respect ku pada beliau

Alhamdulillah, akhire aku mekso berbagi dengan kalian fren…Bapak-Bapak yang luar biasa, dan insyaAllah mampu menciptakan generasi yang senantiasa menghargai pengorbanan anda semua…dongengane mekaten…

*Bapak Wijaya adalah seorang Bapak yang memiliki 3 putra, dan beliau berusaha dalam hidupnya untuk menciptakan ekonomi keluarga sampai pada cita2nya..dan semuanya tercapai, Beliau bekerja siang dan malam, memaksimalkan pikiran dan tenaganya untuk mewujudkan semua itu…Hingga berada pada golongan menengah keatas, yang mampu mencukupi seluruh kebutuhan anggota keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya hingga ke luar negeri…

*kehidupan mulai dirasakan sepi saat sang istri, permaisuri hatinya berpulang…sehari-hari, beliau hanya ditemani pembantu dengan rumah yang sangaaaat besar, menyikapi hal ini, anak sulungnya mengusulkan untuk menjuak rumah itu dan membeli rumah lebih kecil, dan hidup menjadi satu keluarga, kenyataannya istri si anak sulung ini dalam merawat Bapak Wijaya, mengganti perlengkapan makannya dengan bahan dari plastik, sama seperti yang biasa di pakai sopir dan pembantunya, alasannya biar tidak pecah, padahal Bapak Wijaya meyakini bahwa dilakukannya semua itu karena mereka sayang dengan peralatan yang indah-indah itu, mereka lebih sayang barang daripada ayahnya sendiri, karena tidak tahan akhirnya dia ikut pada anak yang kedua

*Di kehidupannya bersama anak keduanya, karena anak dan menantunya bekerja, nyaris dalam rumah itu tak ada komunikasi, Bapak wijaya merasa bahwa dia hanya sebagai pelengkap dan nyaris patung yang dirasa ‘ada tapi sebenarnya tak ada’, karena tidak tahan juga, akhirnya beliau memutuskan tinggal bersama dengan anak bungsunya.

*Si bungsu adalah sosok yang sangat beliau sayang sejak dari kecil, seluruh apa yang diminta selalu beliau berikan, semua notabene dengan dasar sayang…Di kehidupan beliau bersama anak bungsunya inilah…Anak yang sangat di kasihinya mengirimkan beliau ke panti jompo itu, dengan alasan, agar banyak teman dan pasti punya kegiatan.

Ngono lho rek….lak nemen se prasaku..nyambut gawe isuk bengi demi perbaikan ekonomi, demi sebuah cita-cita membahagiakan istri dan anak-anaknya…hasilnya…..??????

Popularity: 8% [?]