KAMPANYE : “Carpak ler keleran..Carpak ler keleran”

kampanye terbuka (diambil dari detik.com) Hari ini (16/03) adalah awal dari masa kampanye terbuka (baca musim pawai,konvoi,dan kadang kala ada bonus rusuhnya juga), atau kampanye yang sangat Indonesia. Gegap gempita ,hura hura dan jauh dari esensinya. Sebenarnya telah beberapa saat kampanye parpol untuk pemilihan calon anggota legislatif berkelindan di sekitar. Dimulai dari berbagai iklan Gerindra yang sampai-sampai anakku yang terkecil apal banget dan selalu berkata lirih mendesah… Ge-Rin-Dra ..setiap wajah Prabowo yang tiba-tiba menjadi sosok sangat humanis dan pro rakyat ..muncul di televisi. Lalu disusul dengan iklan-iklan ”Hidup adalah Perbuatan” si Sutrisno Bachir, yang akhirnya jadi olok-olok dimana-mana… juga..iklan simultan sang Capres gagal…Rizal Malallaranggeng yang sebenarnya sangat bagus dari sisi penggambaran alam Indonesia tapi akhirnya dihentikan karena kehabisan ”energi”.., dan tentu saja iklan kontroversial Soeharto guru bangsa versi PKS itu. Kemudian dilanjutkan dengan bertebaran wajah-wajah para caleg dengan bentuk poster foto yang mungkin penggambaran terbaik wajah mereka selama hidup mereka dengan segala slogan yang terkadang garing, bahkan cenderung menggelikan jikalau mereka tak terlalu pede untuk tampil sendiri maka dengan tanpa ijin mereka bisa menggandeng Barack Obama ato David Beckham (biasanya favorit caleg Golkar) lantaran si spice boy itu punya nomer punggung ”23” saat maen di Real Madrid. Disusul kemudian berbagai macam talkshow di TV yang kadang-kadang bikin perut mual dengan segala tingkah polah para caleg yang mencoba menjadi problem solver bagi semua masalah bangsa ini…dari soal Tambang sampai PKL, dari soal Kurs Rupiah sampai cara meningkatkan prestasi sepakbola Nasional. Dan off course,…itu semua hanya appetizer belaka…dan inilah..main Coursenya…kampanye terbuka dengan raungan motor yang garang, goyang dahsyat para pedangdut yang lupa telah ada UU pornografi dan porno aksi dan juga pekik semangat yang terasa garing di telinga…tapi ya itulah…kampanye tanpa konvoi dan penyanyi dangdut ibarat sayur tanpa garam ,..hambar….

Well aku gak akan cerita kampanye tahun ini.,,, aku mau share cerita kampanye masa silam. Sebagai anak kebun …yang masih teringat tentang keriuhan kampanye menggelora adalah di tahun 1977, saat itu bapakku dadi Zijnder Pabrik di salah satu kebun di Glenmore Banyuwangi. Di masa itu dengan 3 partai yang tersisa PPP,GOLKAR dan PDI, tentu tak serriuh rendah sekarang. Aroma persaingan nyaris tak ada, Apalagi di kebun, tak satupun berani masang tanda gambar selain Golkar, wal hasil dimana-mana yang ditemui adalah gambar beringin,warna kuning dan gambar jari mengacungkan tanda Victory yang misti dibaca ”2” nomer urut Golkar. Pertemuan umum (kampanye terbuka) yang saya ikuti adalah saat Ibu Direktur Utama dan Bapak direktur utama PTP dari Jember kerso rawuh dan memberikan ”santiaji” kepada para kawulonya para buruh kebun di Glenmore, walau masih kecil moment itu sangat melekat di memoriku…malam itu kampanye diawali dengan tari-tarian penyambutan, lalu koor puja puji bagi pemerintah dan negara dari paduan suara dadakan buruh kebun yang tentu saja pas-pasan penampilannya dan tentu saja santiaji dari ibu Dirut yang sangat piawai menggiring dengan setengah memaksa para karyawan untuk memilih GOLKAR pada Pemilu itu, pidato bahasa Indonesia diselipi bahasa Madura yang fasih itu juga ditimpali dengan yell yang digerakkan para ”combe” yang membaur bersama karyawan di braak pertemuan kebun karet itu. ” Golkar Menang, Pancasila jaya,Pembangunan Terus” di ulang-ulang sampai saatnya si ibu turun pangung dan inilah kemudian yang diganti hiburan orkes melayu yang anehnya tak satupun berani membawakan lagu-lagu Rhoma Irama yang sebenarnya lagi ngetop saat itu kayak ”Penasaran” dan ”Begadang” tentu saja ada alasannya …para pemain orkes itu gak mau bunuh diri menyanyikan lagu-lagu si raja dangdut yang saat itu menjadi ikon partai pesaing Golkar, karena bisa menggulingkan periuk nasinya….

Lima tahun kemudian 1982, tatkala aku sudah sekolah di Jember. Ritual kampanye pada waktu itu tetap menarik aku ikuti, mungkin lebih karena adanya keramaian sebagai tontonan daripada sebuah kesadaran untuk memahami dunia politik yang saat itu rasanya sama saja. Siang-siang itu aku ikut menggelosor di alun-alun kota jember yang dihadiri ratusan orang beratribut Banteng. Sama seperti kampanye 5 tahun sebelumnya, keriuhan kampanye terbuka selalu diawali dengan nyanyi, lalu pidato-pidato monotoon dengan intonasi jurkam yang dimiri miripkan suara Bung Karno dengan akhiran ”…ken ” yang khas,, dan diakhiri dengan peragaan mencoblos gambar banteng di spanduk besar oleh Soenawar Soekowati petinggi PDI dari Jakarta, aku inget sekali ikut berbaur berusaha mendekati si bapak berjas merah itu. Gemuruh massa emang bener-bener memantik adrenalin…wuiihhhh…Siang yang sangat sedappp.

Kampanye yang lebih dahsyat adalah kampanye akhir GOLKAR beberapa hari kemudian, siang itu rasanya alun-alun kota Jember gak bisa menampung gelombang peserta kampanye yang mengalir dari seantero kabupaten.Truk-truk perkebunan dengan karyawan yang berjejal memuntahkan orang-orang bekaos kuning dari baknya, para pedagang kagetan juga bederet-deret di sekitar alun-alun dari pedagang es tung-tung sampek penjual kacang rebus meraup rezeki dari keriuhan peserta kampanye. Suara riuh rendah yel penyemangat menyembur ke angkasa ..tetep dengan jargon yang sama ”Golkar Menang ,Pancasila Jaya,Pembangunan Terus”. Tapi yang menyedot perhatian khalayak siang terik itu adalah kemunculan sorang local hero,seorang real leader bahkan the real bupati of jember forever….Bapak Abdoel Hadi. Beberapa hari sebelum kampanye akhir memang beredar isu dan desas-desus bahwa panutan yang dekat dengan rakyat itu berkampanye untuk PPP alias ”Ka’bah” dan tidak lagi bersama Golkar. Tentu saja ini berita besar, apalagi nama besar pak Doel Hadi ini ibarat magnet untuk mendulang suara (vote getter), jika benar pak Doel Hadi ikut PPP wah bisa kacau perolehan Golkar di daerah basis NU yang secara tradisional akan lebih cenderung memilih PPP sebagai partai fusi sejumlah partai islam apalagi tanda gambar Ka’bah sangat mudah menarik minat rakyat yang ikut nyoblos. Golkar berusaha mematahkan itu dengan memunculkan Pak Abdoel Hadi di kampanye terakhir sekaligus menepis isu berpindahnya sang vote getter ke PPP. Maka dipenghujung kampanye dan Jurkam secara menggelora menyampaikan bahwa ada partai yang telah menghembuskan isu berpalingnya sang voe getter dari Golkar adalah isu sampah dan bohong alias ”car pak ler kele ran”..”kebohongan besar tak termaafkan”..maka seiring kemunculan Pak Abdoel Hadi ke panggung kampanye dan menyatakan masih tetap bersama GOLKAR …maka peserta kampanye berteriak histeris dengan meneriakkan hujatan kepada partai penyebar isu bahwa mereka adalah pembohong..maka…sore itu kampanye ditutup dengan yel-yel yang memekakkan telingga ” carpak ler ke leren..cerpek ler keleran..carpak lerkeleran”. Maka sepanjang perjalanan pulang ke Gebang maka tanpa sadar aku juga mengummankan kata-kata ritmis ”carpak ler-keleran..carpak ler keleran..”……..

So untuk tahun ini sampai 2014 nanti siapakah Caleg yang berjanji di saat kampanye dan mengingkarinya di saat menjabat akan disumpahi oleh pemilihnya dengan kata-kata ”carpak ler keleran”? Kita tunggu saja…..

Author: Eko Setiawan

Eko Setiawan 3 Maret 1970.... lahir di RS Bhakti Husada,Krikilan, Glenmore Banyuwangi....9 tahun nomaden dari perkebunan ke perkebunan di Banyuwangi...alumni SD Jember Kidul VII, SMPN 2 Jember, SMAN 1 Jember, Agronomy UGM, MM UGM....sekarang di BNI SKM Balikpapan the Borneo....SMAN 1 JEMBER...adalah basis ingatan yang tak akan lekang sebagai pijakan sampe sekarang ....karena Sahabat yang tercipta sudah menjelma menjadi Sodara .....

21 thoughts on “KAMPANYE : “Carpak ler keleran..Carpak ler keleran””

  1. Setuju Koz! Ini acara buang-buang duit yang wajib sebagai penganut ide demokrasi, tak terhindarkan! Kampanye adalah kesia-siaan, gak akan ada manfaatnya (untuk langkah besar negeri ini). Paling-paling yang dapat manpaat para pemulung koran, botol, gelas minuman bekas, tukang sablon kaos, percetakan baliho dan selebaran, penjual makanan & minuman. Aksi para Jurkam sendiri? Colbut, Colok Butjok! Caca molos! Kardiman, Karepa Dibik Ngalak Nyaman!

  2. He3, wah ceritamu bikin aku hanyut dalam gegap gempita kampanye2 dan membawa aku ke masa kecil. Pada masa masa kampanye aku dulu takut sekali kalo depan rumah dipasang kertas bergambar selain golkar. ha3.

  3. hahaha….saking bersemangatnya tulisanmu, sampai ngos-ngosan aku mbaca tulisan iki. Kesimpulanne, lek jaman biyen kowe nggremeng " carpak ler keleran" saiki nurun neng anakmu lirih mendesah "Ge-rin-dra"….

  4. beh, nyaman mon kampanye ke', make se giman (gigina se mancung)ben se gigina rang-rang bisa rok norok abentah pak-carpakan

  5. begitulah…. akhirnya kita misti sabar dan siap menghadapi berbagai macam "kesusahan"…bagi buruh kayak aku yang misti ninjau beberapa lokasi usaha klien di luar kota ..masa-masa kampanye terbuka yang pasti diikuti konvoi simpatisan yang rata-rata gahar dan berideologi KARDIMAN (Kareppa Dhibik Mele Se Nyaman)…sesuka hati pokoknya enak bagi dia…bgtu kata mas Bambang…. mesti membuat kita mencari tahu siapa yang lagi kampanye di sepanjang jalan menuju lokasi…kalok yang kampanye partai gurem ..kayak PDK,PPRN,PPDI sih gak kuatir….lha kalok yang kampanye para gajah…PDIP,Demokrat,Golkar,PAN dll…kita mesti putar otak dengan berangkat lebih pagi…. capek deh…. @Mas Bambang ….betul mas proses demokrasi di Indonesia adalah barang mahal,mewah di tengah rakyat yang lagi susah…

    @Sevi…."Ge..Rin..Dra".."Ge..Ri..Dra"…

    @Mbak Wiwid…bapakku aja pernah marah gara-gara aku pulang kerumah dengan membawa buku gambar yang tak gambari "Ka'Bah"..he..he..he

    @Ika….gimana kampanye di Depok?

    @ Johny…bekna nyaman cong…e Blendeh taddhek se a konvoi enggak e dhinak….mon dosenna bekna ngosokan…bekna ngocak bei.." Carpak ler keleran meneer?…"

    for all..have a nice day

  6. cak ekoz ini emang pandai bercerita sampek terkesima aku membaca tulisannya yang enteng tapi berisi… dulu waktu masih kecil aku sering mikir ngawur, lampu merah itu mungkin terinspirasi dari partai2 jaman orba dulu sehingga warnanya dibikin merah kuning hijau hehehe….

  7. Anakku juga kalo ada iklan demokrat, tangannya keatas dan jari-jarinya membentuk gambar berlian. Aku anak PNS yang harus coblos golkar, tapi kalo ada kampanye p3 atau pdi pasti liat dari jauh. Dulu waktu pemilu '87 aku pernah liat bu mega dari jauh saat kampanye di alun-alun. Carpak lerkeleran… jangan sampai salah ucap nanti bisa kena UU Pornografi. Xixixixi

  8. @mas bambang,… nggak semua orang yang jadi jurkam "colbuk" loh…untuk itu dibutuhkan kecerdasan kita sehingga bisa milih yang terbaik untuk negeri ini mas… @koz… kalau denger talkshow nggak perlu lah sampe 'perut mual',he.he.he

  9. Lo wis rame tah..kompanye-ne? ning nggonku kok adem ayem wae, cuma angin ribut yang seakan gak rela nek kokehan poster caleg baanyak berdiri mengotori pemandangan… 3-4 hari ini banyak poster Caleg sing gede-gede bertumbangan ning cedhak omahku, kalah oleh kekuatan alam 🙂

    Ada website menarik soal pemilu coba buka di http://www.janganbikinmalu2009.com pasti seru

    Alhamdulillah gak ada konvoi-konvoian di desaku :)Opo mergo emang ning ndeso banget yo ?

  10. hmm..cak eko bisa menuangkan pikiran dalam tulisan yang sangat deskriptif, provokatif serta persuasif saya sebagai anak muda tampaknya harus belajar banyak "banget" jika ingin menulis ya?

    mennggapi reply Pak bambang wv suharto dan Pak Eko sendiri masalah biaya yang mubadzir dikeluarkan. Pertanyaan saya bos, efektifkah demokrasi dilakukan sampai ke tingkat II? apakah tidak cukup Pilkada dilakukan hanya sampai tingkat propinsi? jika dianggap tarif flat lah, sebagai contoh pilkada Kab.Bone menghabiskan 16 miliar. Contoh kabupaten yang tidak terlalu luas, dan penduduk tidak terlalu banyak (maaf saya belum sempat mencari data untuk kuantifikasi angkanya, masih kualitatif)

    belum lagi jika dikalikan dengan jumlah kabupaten di seuruh indonesia adalah 349 (data per 31 des 2004). apalagi dalam 2 tahun terakhir (07-08) sudah terbit 43 kab baru.

    hitung2an matematis elek2an aja pilkada harus dianggarkan 392 x 16 miliar = 6,272 triliun

    belum jika faktor pengalinya adalah misalnya anggaran pilkada kab.bandung barat sebesar 25 miliar (sebagai contoh kab di Jawa yang padat). bratai total jika di-flatkan (walaupun memang tidak bisa seh, tapi sebagai bahan diskusi saja lah) untuk seluruh Indonesia butuh 9,8 triliun

    angka yang cukup signifikan jika dialokasikan ke hal lain nggak bos? mis pendidikan atau kesehatan. soalnya kalo subsidi BBM aku pribadi nggak setuju…

    yahh, numpang mengeluarkan pendapat dan diskusi aja bos. soalnya pengen masukkan ke KOMPAS tapi nggak pinter nulis. hihi… itung2 silaturahmi dan brainstorming

    terima kasih

  11. Yo bener Oky….aku dewe kadang bertanya-tanya tentang hal itu…kelihatan banget Indonesia dolanan duwek, padahal di bantaran sungai, perempatan jalan…Duuuh…mengiris hati, tidak bisakah rasa persatuan itu ditinggikan untuk memakmurkan bumi pertiwi ini???? sementara niat dari partai2 itu semuanya hampir sama, untuk kemajuan negeri ini…..pedih…hiks..hiks

  12. saiki awake peno pengen ngerubah keadaan, lah kan kudu mlebu nang kurise wakil rakyat pisan, lah berarti kudu nduwe "modal" gawe mlebu… kampanye lah…

    alah, ambekno awake peno ora nyontreng taon iki, administrasi nang ndeso aku urip sek ra karuan, wong kpu teko nang omah arep ngekei kertu, pas digoleki jenengku, eh ra ketemu… "Aidaa… tak ada ini nama Bapak" "Terus cem mana?" "Ya ngga nyontreng…" petugase langsung mulih…

  13. jadi inget masa kecil mengikuti kampanye dulu.. saat kecil, yg aku ingat adalah ketika kampanye, kami bisa pulang pagi… ayah-ibu yg PNS boleh libur… tp walopun gak ngantor gak boleh berdiam diri di rumah, harus berpanas-panas ria di alun2 sambil liat pentas musik….

    😀

  14. Masalahe wis jelas kos…personal branding caleg…mangkakno perolehan suoro artis luwih okeh timbangane politisi mumpuni. Gak masalah nek artise dadi caleg terus iso hire staf ahli sing mumpuni. Gerindra ketokane sadar masalah iki…mangkakno sempet muncul gosip Prabowo ambek Maia Ahmad…cuman goblog'e sakdurunge wis ono isue prabowo dicerai bojone goro-goro "kemampuan kelakiannya"..iki gosip lo yo…faktane golek dewe…masalahe gosip munculas kampanye..mestine jauh-jauh hari. Klan maralanggeng wis kampanye jauh-jauh hari…buat praktisi koyo awakmu mungkin indah…tapi kan jumlah suoro sing digoleki sphread nya luas banget…koyo sarwono sing sering nulis nang korane harmoko pos kota sakjane nek dadi caleg di wilayah DKI mungkin ok soale pangsane pos kota gede lagian bahasa sing digawe simpel….sakmono ae sik cak ekos komene…tapi ojo lali apapun komennya awak tetep GOLKAR he..he..

  15. menyimak tulisan mas Ekoz, serasa kembali ke masa 30-35 th yg lalu di jember, aku juga sering dulu mendengar 'carpak lerkeleran' tp gak tau maksudnya dan ditujukan utk siapa.. th '77 dan 82 adalah masa2 sulit, keluargaku ada yg Golkar (bahkan ketua DPD Golkar tk II Jember masih terhitung kerabat)dan banyak juga yg di PPP, ibuku sendiri tercatat sbg jurkam ka'bah. yg masih kuingat, th 77, aku pernah diajak ikut kampanye PPP di stadion Notohadinegoro, wkt itu jurkam nasional nya bang Haji Oma Irama, dengan penuh kesabaran dan antusias massa ka'bah berdesakan dan menunggu dari jam 7 pagi sampe sore, tapi akhirnya bang haji urung datang krn ada masalah ijin dari Kodim Jember (sungguh ter la lu). kecewa sih,.. tp akhirnya kampanye jalan terus dgn tertib, walau tanpa bang Haji. tks mas Eko atas tulisannya…

  16. Tiap hari nonton drama politik yang menyedihkan, petinggi-petinggi parpol blusukan golek bolo, Tujuane opo maneh nek gak kekuasaan..

    Rakyat gak butuh hiburan model gitu, tapi butuh makan,butuh kepastian hukum, butuh pemimpin yang jujur, amanah dan dicintai… Lo kok dadi serius yo komentarku ?!?…malah bingung dewe iki 🙂

  17. cari kekuasaan nggak semuanya negatif…(teringat nabi yusuf yang minta jadi menteri keuangan)…kita berharap yang terpilih nanti adalah orang amanah sehingga bisa memenuhi kebutuhan makan rakyatnya, memberikan kepastian hukum,…seperti umar bin khattab yang merasa kuatir dimintai pertanggungjawaban atas kematian/ celakanya binatang ternak didaerah kekuasaannya karena kelalaiannya…..amien

  18. Tingkatkan prestasi yo……….! Moga SMA N 1 Jember ini m'jadi sekolah yang elite punya……….! udah bagus punya low

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *