Pagi masih belum lengkap dengan kehangatan mentari, saat wajah sembab di depanku bertandang menyapa pagi hariku, yang tadinya kupikir akan berjalan seperti biasanya.
Batinku berbisik “Aduh,…ada apa ini…?”
Kubiarkan sampai ketenangan dan semburat merah agak membias di muka manis yang tadinya memucat itu.
Si gadis abu-abu itu mulai berkisah..tentang hatinya yang patah… “dia pergi, begitu saja, Bu. Dia tinggalkan semua harapan yang pernah dia tanamkan di hati ini. Dia tega Bu. Sakit…sakit banget.”
Aku diam…anak ini, kukenal cukup briliant di kelas, dalam pergaulan juga cukup menonjol, kemampuannya merefleksikan iman yang di anutnya juga cukup bagus.
Cinta…kenapa cinta kadang memporakporandakan sebuah hati…dan bagaimana aku menjelaskannya pada gadis belia ini. “Saya tidak mengira, Dia tega melakukannya. Dia tak lagi peduli sama saya, Bu.” Kembali dia terisak.
Duh..hati ini sudah mulai berbisik untuk ucapkan, …udah..ngapain di pikirin..jalan masih panjang..cari lagi..hehehe…dan malaikat hitam juga terus menggelitik hatiku…aih…bila laki2 yang diceritakan itu ada di depanku..pengen kulayangkan ‘bogem mentah untuknya’.
Hhhhh…kutarik nafas agak panjang…
“Sudahlah, masih panjang jalan di depanmu, saat ini yang utama adalah pikirkan dirimu sendiri. Bagaimanapun hidup terus berjalan. Kita petik hikmah dari ini semua. Pasti ada. Dan insyaAllah ada baiknya untukmu dikemudian hari” kataku akhirnya, yang kudengar ditelingaku sendiri sedikit sumbang.
“Sakiiiit, Bu, apakah saya bakal bisa melupakan semua ini…?” ucapnya sembari menatapku.
Ya Allah. . . , mata itu. . . seperti anak burung yang patah sayapnya…Ada harapan dan luka yang sangat disana, apa yang mesti kujawab???
Aku biaskan senyum untuknya dan mengangguk, “Saya juga akan bisa melupakan dia kah, Bu?” Kembali aku hanya bisa tersenyum. Dengan kekuatan yang tersisa aku sampaikan.” InsyaAllah… Sang waktu yang akan menentukannya.” Ah, aku menangkap suaraku sendiri tergetar, teringat yang menyeruak di hati. Saat seseorang hanya melintas sesaat dan kemudian berlalu. Dan memang perih…
Pagi kembali berlalu seperti pagi yang kemarin, dan si gadis pun telah berlalu sembari mencoba menata hidupnya, Aku hanya mampu meraba hati…Cinta dan luka adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan, dan dengan sentuhan hangat mentari dan gemerlapnya gemintang malam, Aku susuri hidupku dan menjadikan luka yang ada menjadi sapuan jiwa yang menjadikan hidup ini penuh warna…Luka..perih..dan…warna hidup.
“Bunda”. Si keriting kecil memanggilku dan tiba2 sudah di depanku. Kuhantarkan dia dalam pelukan hangatku, sehangat hati yang telah penuh warna ini.
Depok, 11 Januari 2009
Popularity: 16% [?]
