Hollandsche Sociëteit te Djember

Sebagian orang Jember menyebut gedung ini dengan “socitet”, sesuai dengan namanya dulu. Sebagian lagi, lebih suka menyebutnya dengan “Bhayangkara”. Para kenek lin fasih sekali menyebutnya sebagai satu pos perhentian penting. Selain untuk acara internal kepolisian resort Jember, gedung ini juga disewakan untuk umum. Kalangan umum, kerap menggunakannya sebagai tempat penyelenggaraan Pesta Pernikahan. Di samping gedung tersebut berdiri pula TK yang mungkin dijalankan oleh ibu-ibu Korps Bhayangkara, organisasi para polwan atau istri-istri para polisi.

Belakangan, jika pulang ke Jember, saya senang sekali menyempatkan untuk membeli Mie Ayam yang berada di jalan kecil di sebelah utaranya, jl. Veteran. Rasanya mantap, bisa jadi alternatif pengganti paling baik jika tidak berhasil mendapatkan Bakmi di sebelah SMP 2. Warung mie ayam ini sebetulnya lebih menempel di dinding Balai Penelitian Perkebunan. Sementara yang menempel di dinding gedung Bhayangkara (GB) ialah tukang tambal ban.

Ada cerita menarik tentang Jember keberadaan GB tatkala saya iseng mencari-cari nama “Djember” lewat Google. Selain menemukan “Djember” sebagai nama sebuah kapal milik Belanda, banyak juga orang yang punya nama belakang “Djember”. Satu situs menarik ialah situs yang memuat wawancara seseorang pada seorang noni Indo Belanda yang lahir di Jember. Ia bernama Noes Creutzburg. Ia noni pada jamannya, sekarang sudah di usia “menjelang Maghrib”. Saya tidak tahu persis apakah yg diceritakan itu Jember, tapi mengingat dia lahir di Jember, dan mungkin sempat sekolah di Indonesia, jadi mungkin yang dijelaskan ialah “soos” di Jember, sebuah tempat yang menurutnya di kala itu seperti desa (kalau bukan Jember, berarti tulisan saya tentang mbah Noes batal). Sayang, petikan wawancara ini tidak utuh, serta tidak dijelaskan waktu peristiwa yang dimaksud. Di situs:

virtueelindie.nl, ia selanjutnya menyatakan bahwa Jember begitu amannya, menurut dia. Sekalipun ia pulang larut hingga jam 2 malam, dia merasa nyaman. Ini agak berbeda dengan tulisan orang Jember di Pewarta Soerabaia yang pernah saya ketika ulang beberapa waktu silam, yang menyatakan kondisi Jember terkenal tidak aman. Namun berkat kehadiran listrik, “kutu-nya” para penjahat jadi mati.

Mbah Noes bilang jika GB, sebagaimana hampir semua “soos” pada masanya, digunakan untuk kegiatan pesta. Pesta topeng ialah kegiatan yang disuka. Rambut diatur dan dihias dengan indah, meski pakaian yang dikenakan bisa jadi pakaian “rumahan”.mengenakan Petinggi-petinggi Jember, seperti Controleur, Asisten Residen, orang penting lainnya datang pada pesta-pesta atau pelbagai acara yang diselenggarakan di “soos”. Pendek kata, GB menjadi gedung andalan untuk kegiatan a la Barat pada masanya karena segala fasilitas, kata mbah Noes, lengkap.

Jauh sebelum itu, seorang politikus sosialis yang mendalami kolonialisme, Hendrikus Hubertus van Kol, pada tahun 1880, pernah berdebat hebat dengan para lawan politiknya yang anti-sosialis di GB. Saya kira “soos” di Jember, kurang lebih punya fungsi sama seperti Sociëteit Concordia di Malang, dimana kegiatan rutin untuk rumah bola, dansa dansi, paduan suara (koor) serta acara resmi di tingkat kota. Selain itu juga Concordia digunakan sebagai semacam tempat konferensi pers tentang ilmu pengetahuan mutakhir.

Seorang dosen Sejarah Unej, Chandra Aptianto, menyatakan bahwa pada masa revolusi fisik GB menjadi gedung yang pertama kali “direbut” oleh “rek-arek Jember”. Jadi bukan kantor-kantor perkebunan, tempat menuai hasil kekayaan Jember yang pertama direbut. Bukan juga menghancurkan penjara, seperti di Malang, untuk mendapatkan anggota-anggota di laskar-laskar pejuang. Juga bukan stasiun kereta api sebagai medium diusungnya hasil bumi Jember. Tapi “soos”. Jangan-jangan “rek-arek Jember” dulu juga ingin “berajojing” seperti yang kerap mereka lihat tatkala melintas di depan “soos”… Seberapa pentingkah “soos” atau GB sekarang? Ada juga yang punya kenangan dg “soos”?

10 thoughts on “Hollandsche Sociëteit te Djember”

  1. Wah nggak nyangka, gedung itu ternyata dulunya gedung andalan untuk kumpul2nya para kompeni dan noni2 belanda berdansa dansi. Beberapa tahun lalu aku pernah ada acara disitu (pernikahan sepupu) bener2 ramai kayak pasar senggol (karena luas gedung nggak sebanding dengan banyaknya tamu + saudara yang datang), tapi ada untungnya juga, yang di senggal senggol ya saudara2 sendiri yang dah lama nggak ketemu he3.

  2. kenanganku di GB itu gak ada sih, tapi kira2 tahun 1984 di tikungan jalan seberang GB itu aku berpisah dengan seseorang yang mengesankan setelah perjumpaan yang menyenangkan dan bertemu kembali dengannya tahun 1989 di Malang sebagai pacar dan tahun 1995 akhirnya aku menikah dengannya. Hehhehehe…sori kalau OOT

  3. GB ?… emang gak banyak kenangannku tentang gedung tua itu…. lha emang arah mobilitas sosialku saat ndek Njember itu lebih ke arah selatan…dari Gebang…

    Saat SD …di seputaran Sawahan-Jl Kartini-Pasar tanjung

    saat SMP 2 ..di seputaran Kantin-penjara-Lun alun

    saat SMA ..seputanan SMA siji-Gang panili-Omae Arik-Omae Winanto diPatimura…

    saat setahun di UNED …faperta-Tegalboto

    so GB bagi saya hanyalah tetenger untuk berhentinya Lin aja….

    tapi ternyata punya sejarah yang menarik juga ya….tks Johny

    kalok Gedung lawas laennya yang bikin aku penasaran adalah Gedung Direksi PTP XXVI (dulu) yang berada di depan Brigif 9 itu….itu sebenare bangunan jaman Londo opo jaman Rekiplik yo?… ada yang tahu?

  4. Sing lebih kuno perasaan gedung sebelahe Gedung Bayangkara yang sekarang jadi tempat tinggal polisi (bukan yang sering buat mantenan). Bentuknya lebih kuno… Gedung Bayangkara dulu pas aku SD (Jember Lor 2), sering jadi tempat pelajaran kalo ruang kelasku dipakai untuk rapat guru-guru. Kadang malah sekolahnya di pinggir kali Bedadung, dekat kebun kopi depan mantan kantor pusat Unej. Yang aku masih penasaran, rumah tua dekat pasar Pagah, yang gede magrong-magrong pinggir embong. Itu yang punya siapa dan dibangun taun berapa ya? Ada yang punya info?

  5. Mungkin Rizal benar kalo yg dipake manten sekarang bukan yg dipake untuk pesta topeng. Saya tidak tahu persis, karena belum menemukan gambarnya di masa kolonial.

    Gedung PTP, dan barangkali juga gedung Brigif itu sendiri, saya kira dibikin di jaman kolonial Belanda. Bisnis perusahaan tembakau di Jember secara resmi berdiri sejak 1859. Jadi kantor2 perkembunan, spt yg di Gudang Seng itu, hampir pasti dibuat di jaman Belanda. Kalo dapat kepastian infonya akan saya sampaikan.

  6. Pasar Ngebang dan Terminal yang dulu seksi sekali…karena tempatnya lebih tinggi dari jalan Pattimura dan Wahid Hasyim dulu… jadi kalok Bis datang dari luar kota maka Bisnya mubeng semi muter sampek tekan plataran Terminal ndel ndukur…..

    sopo sing mbangun yo ka….mestine lebih lama dari usia kita ..alias sebelum Bupati Jember sepanjang jaman pak Dul Hadi menjabat…..

    Bupati jember itu satu aja…Abdul Hadi…. yang lain hanya Pengganti bupati Jember he..he..he..itu guyonan khas warung Pecel Lek Mar di Ngebang…..

  7. Lek aq duwe kenangan wkt sik cilik biyen diajak numpak bis INTERN jurusan bondowoso soko terminal gebang rasana buangga banget pdhl bis e uelek bareng karo wedus beserta srinthilnya lg. Hehe

  8. hahaha…aku jadi kelingan foto kecilku ndodhoq di terminak nduwur…gedean sithik..melu ngrasakno sibuke terminal…dan yang gawat…hallo hallone (speakere..) iku lho…dahsyat habis….super stereo….mbrebekki kuping

  9. assalamualaikum.. -first baru merasakan "CINTA" sama seseorang, -second punya banyak temen, dari yang baik sampai yang "BEJAD" seperti temen2-ku…^_^ -third banyak kenangan tersimpan disana, dari aku yang dulu gak ngerti sama sekali ntar aku kalo lulus mau jadi apa…ga pernah mikirin aku mau kerja dimana…cuma seneng2 bareng temen2…main bola, nge-BAND, nongkrong sambil ketawa2 ga jelas…ah ga tau apa yang aku lakukan, ga beREzz..

    tapi begitu aku taw aku lulus, akhirnya aku baru sadar bahwa semua yang aku lakukan tidak akan berarti tanpa aku menyadari bahwa yang aku lakukan selama sekolah sangat bermanfaat kelak jika aku menatap masa depan…

    alhamdulillah begitu lulus aku diterima di BEA CUKAI…

    buat adik2 kelas, belajar yang rajin jangan jadi peminta2, jadilah pemberi contoh yang baik buat semua orang…wassalam…

Leave a Reply