Florida Theater

Akhir tahun-tahun 70-an dan awal 80an, hampir setiap malam Minggu saya selalu menonton film India yang diputar di gedung bioskop Misbar (gerimis bubar) di jalan Trunojoyo. Asyik juga menonton di Misbar. Harga tiketnya murah sekali, kalo tidak salah ingat kurang dari seratus rupiah waktu itu. Mungkin nilai itu sekitar dua pertiga sampai setengah dari harga tiket di gedung bioskop lainnya. Selain itu ada jeda waktu istirahat setelah sekitar setengah pemutaran film. Penonton bisa jajan, pipis dll. Tapi seingat saya yang paling tidak enak waktu setengah permainan itu, selalu ada seorang ibu tua yang menjadi penonton setia yang selalu (maaf) pipis di tempat. Mungkin, cara pemutaran ini kurang lazim jikalau dibandingkan dengan pemutaran film di gedung-gedung bioskop GNI, Kusuma, Jaya atau Sampurna yang memutar film dari awal hingga tuntas habis. Eh, ternyata cara pemutaran film dengan jeda barang seperempat jam juga terjadi saat saya menonton film di Leiden. Jadi memberi kesempatan penonton untuk menghela nafas sejenak atau menyapa penonton lain yang baragkali dikenal.

Ternyata, Jember sudah punya gedung bioskop jauh lebih lama lagi. Di tahun 1930an, di Jember telah berdiri Florida Theater. Menilik dari namanya, cukup kosmopolit juga. Berdasar film yang diputar pun, agaknya Hollywood dan Bollywood belum sampai membanjiri Jember. Film Perancis dan Jerman menjadi santapan penonton bioskop di Jember. Gedung ini terletak di Schoolstraat. Saya tidak tahu persis dimana tempat itu berada. Di peta tahun 1922, yang saya temukan hanya nama Schoolweg, yang sekarang di jalan… apa ya? (Maaf saya lupa) Di sepanjang jalan bekas Bank Rakyat Indonesia, SD Katolik Santa Maria, (dulu ada) Sekolah Pendidikan Guru yang berhadapan dengan rumah makan Lestari. Mungkin schoolweg di tahun 30an meningkat peringkatnya menjadi schoolstraat.

Sebuah advertensi di koran lokal Jember pada awal tahun 1930an, Pembrita, memuat berita tentang film yang akan diputar dalam sepekan di Florida Theater.

Kabar tontonan

Dalem minggoe ini, seperti biasa, kombali “Florida” Theater pertoendjoeken film2 jang boleh dibilang mendjadi papatjangnja film jang djempol. Kita seboet sadja “Un Soir de Reveillon”, satoe film Fransch jang kotjak dan menarik, dengen Henri Garat dan Meg Lemmonnier sebagai bintangnja. Film ini moelai di poeter nanti malem dan dd. 21. sedeng doea malem beroentoennja aken dipoeter Ramon Navarro poenja “Daybreak”. Siap jang tida kenal nama Ramon Novarro, itoe Djanoko jang bikin banjak hatinja Srikandi memoekoel lebi keras? Dalem “Daybreak” nanti penonton boekan sadja bisa liat Ramon poenja roman, tapi djoega bisa denger soearanja. Dan dari Kemis sampe Saptoe, dalem “Facing the Music”, pembatja bisa ketawa sampe lebi dari poeas bila liat kotjaknja Stanley Lupino, jang terkenal dalem film “Sleepless Nights”. Dansa, menjanji, muziek dan ketawa!

Samentara Martha Eggerth poenja film “Leise Flehen Meine Lieder” dipertoendjoeken pada tanggal 27. Barang siapa jang perna denger soearanja Martha Eggerth, tentoe filmnja tida perloe moesti dipoedjiken lagi, kerna film apa sadja tentoe berharga boeat diliat djika sadja Martha Eggerth toeroet ambil bagian. Tanggal 28 ini film dimain poela dengen sekarang dibarengin sama serie film baroe “Perils of Pauline” (satoe serie film jang toetoerkan satoe kedjadian resia di Tiongkok). Dan dd. 29 serie film “Perils of Pauline” brikoet lain film jang amat loetjoe, ja itoe film “Cohens and Kellys in trouble”. Lebi djaoe pembatja dipersilahken priksa advertentie.

Ada yang tahu dimanakah gerangan Florida Theater berada? Ada pulakah diantara para warga sma1jember.info ini yang mungkin jadi kawan menonton saya di Misbar?

16 thoughts on “Florida Theater”

  1. hua..ha..ha… aku palimg seneng moco kutipan koran-koran jamam Voor de Oorloog..he..he…

    “doea malam beroentoednja”..he..he..he…so Jadi;l guy…

    Johny tetep setia cari info Jember Jadoel yo mumpung ndek negarane Kompeni..he..he..

    semoga malah blog ini yang jadi rujukan untuk mencari info Jember jadoel…..

    teteup Semangad euy…… (terok-terok…tukang koran ndek pasar koran Cikapundung kotane Cak Amal….)

  2. Nek sekolahan depan Lestari itu kan dulu SPG terus jadi SMEA, sekarang jadi SMK…. Wah memang asyik melihat Jember pas jaman kolobendu ndisik ya… Kalo Misbar, aku dulu sering nonton MIsbar di Desa Kasiyan, Kec. Puger, soalnya deket dengan rumah Mbah-mbahku yang tinggal di pertigaan jalan ke Puger dan Gumuk Mas… mbayarnya cuma seratus rupiah.

  3. kalo aku nonton misbar di itu lho jalan basuki rahmat ya, dekat pasar sabtuan iku lho, belok kanan. nah di situ dulu ada misbar, kayaknya di lapangan. jadi kl nonton ya duduk di atas rumput, mau pipis yo bisa pipis di situ, kan gelap, nggak mungkin penonton lain perhatian, karena nonton-nya gerombolan. untung pas pipis gak digigit semut ato binatang2 laen.

  4. Ekoz, makasih dukungannya. Aku memang sedang “nyambi” cari info2 tentang Jember.

    Bahasa Melayu dulu memang asyik,tidak hanya menggelikan tapi kupikir juga indah. Coba misalkan sekarang ada yg nulis: “Siapa jang tida kenal nama Ekoz Guevara, itoe Djanoko jang bikin banjak hatinja Srikandi memoekoel lebi keras?”, tampak puitis kan?

    Bung Rizal,makasih “update” info SPG. Saya tahu kalo ada perubahan, tapi tidak tahu persis. Dan seingat saya jalan yg membentang di depannya itu jalan Kartini kan?

    Mbak Ana, syukurlah semut2nya dulu masih baik2.

  5. Lho ternyata podo pernah story nonton Misbar ya…. kalok aku nonton Misbar saat ada di Jl.Bungur…itu lapangan yang dikasik "tabbing" ..Gedhek….dan lonngoanne teko lonjoran Pring….jadi nontone kanggo Ajrukong …sing tak inget nonton Mad Max …filem gank mobil itu….

    Terus setelah Misbar Jl.Hassanudin atao Jl.Bungur itu dilempit….sewa lapangan jatuh tempo….. Misbar pindah ke Gebang Tunggul ngarepe Terminal lawas….kalok yang iki agak modern…tembok keliling beton..tempat duduk beton…dan ada lantai dua yang pakek atap..so9 saat ujan itu pilem terus di puter…… hampir tiap malam minggu ..kami…arek-arek Gebang Kemundung seputar Toegoe …Awentoe..Arek Wetan Toegoe …nontok pilem yang paling akhir..sehingga balik rumah pas selesai Shubuhan…karena abis nontok pilem..disusul Cangkrukan…..

    filem yang ditonton?… semua pilem ditontok…tapi yang maen Eva Arnaz yang paling laku..he..he..he..

  6. Kalo aku nonton film di Misbar 'Garden' di Jln Panjaitan Sumbersari. Dulu milik Dyah Retno Palupi temen sekelasku di F4. Tapi kok tetep mbayar juga. Habis si Popi jaga di dalam ngga jaga karcis (tapi ngga papa juga). Tiketnya dua ratus rupiah. Film yang masih diinget Jaringan Terlarang dengan bintang Henky Tarnando dan Baby Zelfia. Nyam…nyam. Mungkin saya pernah ketemu sama dewi persik karena tempat gaulnya anak muda sumbersari kan disitu. Kalo yang ngga bayar biasanya nonton di alun-alun. Film yang paling sering disenengi yaa Jaka Sambung (bawa golok ngga yaa…)

  7. Nonton bioskop misbar? Ya iyalah bagi orang dulu dari ndeso keso keso kayak aku (di siliragung, pesanggagaran, banyuwangi selatan) ya emang adanya cuman misbar. he3.

    Cuman, ya gak "kem kem" amat gitu loh(kemproh maksudnya ha3). Sebagian besar dari kami bawa tikar atau kertas koran buat duduk bareng2 ama temen, saudara atau tetangga. So, kalau mau pipis biasanya minta anter untuk minggir dipinggir lapangan (ha3 tetep kemproh ya).

    Biasanya sih gratisan (jarang banget sampai bayar), soalnya penayangan film itu dalam rangka promosi jamu jago dll. dan ditengah filim juga ada jeda untuk promosi jamu lagi. Seringkali promosinya terlalu lama, sampai penonton se lapangan pada teriak2 "main, main, main, main, main" (minta cepet2 diputarkan film nya lagi maksudnya).

    Film yang diputar kebanyakan film nya "bang oma irama" ha3. Aku hoby banget nonton sampai kelas 6 SD (soalnya lapangannya deket banget ama rumah / di belakang rumah. pernah pas gak nonton, ternyata suaranya sampai kedengaran di dalam rumah, akhirnya aku manjat pohon karena penasaran film apa yang diputar. hi3)

  8. wah ada yang lupa belum aku ceritakan: biasanya pagi harinya, aku berusaha bangun pagi2 banget untuk berbondong-bondong ama beberapa temen menuju tanah lapang tempat misbar malam sebelumnya dan melakukan penyisiran ke segala tempat dan hasilnya alhamdulilah "nemu uang receh berlimpah" ha3

  9. "Siap jang tida kenal nama Ramon Novarro, itoe Djanoko jang bikin banjak hatinja Srikandi memoekoel lebi keras?" Cantik sekali tulisan si pembuat resensi, rupanya dari dulu orang Jember sudah pandai mengulas filem.

    Mon saya dangkadang nonton filem misbar di Pasar Yosowilangun. Siang hari tempatnya dipakai sebagai pasar kambing lengkap dengan kotoran ternak, malamnya berubah fungsi jadi misbar dengan emisi manusia di sana sini. Filemnya mulai dari Farouk Affero sampai Amitabh Bhacan dan Hema Malini. Duduk di tikar sambil garuk-garuk kaki yang kerker.

  10. wah mergo misbar gebang persiiiis banget ngarep omah. dadi aku munggah gentheng…nyongok lakone hahaha…and mestine genthenge luwih dhuwur maneh atawa ditambahi ondho…ben kethok, ekoz nonton karo kemal-kemul sarung…hiiii…kan zaman semono durung ono autan. yo nggak Koz???

  11. Weeeh, ternyata banyak juga penggemar misbar di beberapa misbar di Jember, Banyuwangi dan Lumajang. Bahkan ada yang "belani" naik atap (Ika) dan pohon segala. Mbak Wiwid setelah penyisiran recehan di lapangan apa tidak melanjutkan penyisiran buah mangga? Kan jago panjat pohon…

  12. @Pak Johny: di belakang rumahku adanya pohon jambu kluthuk, jambu darsono, jeruk pecel dan jeruk bali. kalau pingin mangga harus nunggu musim mangga, terus main aja ke kebon deket sawah tapi agak jauh, nah baru bisa ambil sendiri mangganya dari pohon. ya jelas rasanya lebih dahsyat lha wong hasil metik dari kebon dan dari tangan sendiri. kalau main ke kebon yang pasti dapat bonus kelapa muda, tapi untuk yang satu ini susah banget naiknya belum lagi harus mbacok kelapa mudanya, jadi mending dah terima jadi tinggal minum airnya yang super segar dan higienis sambil ngerok2 degannya. he3

  13. Ternyata Flodia teatere yang dimaksud sekarang jadi kantor Telkom di sebelah Masjid lama.. he..he.. lama baru bisa jawab pertanyaan dari mas Jhoni

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *