Acara ketemuan berlangsung pada tanggal 3 Oktober, dimulai sekitar jam 19.00.
Di mana tempat sohor yang disebut Kafe Cak Tawal tersebut? Inilah “kekacauan” pertama karena saya sok yakin tidak mencatat nomor telepon genggam Cak Suja’i dan semua teman di konferensi YM sebelumnya hanya menyebut Kafe Cak Tawal, sonder nama resmi di sana. Menanyakan nama pemilik kafe di Jalan Jawa tentu bisa salah maksud: barangkali Cak Tawal dikenal dengan panggilan lain atau orang-orang di sana belum tentu tahu pemilik kafe ybs.
Tapi ini Jember, jangan terlalu seriuslah! Bukan Batavia yang perlu lompatan publikasi di media nasional seperti Omah Sendok, bukan Bandung yang memiliki manager Hotel Bel Air yang juga disitir media cetak. Di Jember, ritme turun, sinyal 3G beralih ke GPRS, dan manusia kembali menemukan “tanah air”, yaitu tanah dengan genangan air atau bechek kata salah satu selebritas simbol penutur non-pribumi.
Sekali putar, bersama Rofiq yang menemani saya datang ke acara reuni, kami mencari spot keramaian (boleh juga disebut hotspot, karena konsumsi kalor sebanding dengan jumlah manusia). Tidak salah Mbak Etha “dipajang” di beranda pinggir trotoar. Saya sudah membayangkan keceriaannya, teringat perannya sebagai pemandu sorak kelas saat kami bersama di tahun ajaran pertama SMA. Manusia memang dianugerahi pengenalan pola-suara, dan itu melengkapi deskripsi visual postur tubuh dan muka. (Harris pun pada pertemuan lain keesokan harinya mengaku melihat hadirin sudah tua, tapi cekakakan — bukan “cekikikan” — miliknya tak parau dimangsa sekian pancaroba.)
Alhasil, trio Cak Tawal-Cak Adib-Mbak Etha (ketiganya dari kelas 1-5), mengantarkan saya pada persentuhan dengan lorong masa lalu. Teristimewa terhadap pihak perempuan yang memang sebagian pernah saya kenal kemudian lupa, sebagian lagi benar-benar belum sempat berkenalan. Praktis satu botol minuman dingin dan satu gelas es jus minuman pembuka tandas untuk mencocokkan data dan bertukar metadata saat ini. Harta, tahta, dan wanita diterjemahkan sebagai, “kendaraan-rumah”, “posisi di kantor”, dan “pasangan hidup.” Berkuasa atau dikuasai, itulah tiga fitnah yang dikendalikan umat manusia hingga akhir zaman.
Foto di atas diambil oleh Cak Adib dan merujuk pada tautan ke akun Flickr miliknya.
Pidato pembukaan rupanya didapukkan kepada mereka yang datang dari “negeri jauh.” Cak Adib dari ibukota tentu paling “bermandi keringat” walaupun mungkin beliau mencarter pesawat capung pertama bandara Notohadinegoro, sedangkan saya mewakili perjalanan di alam maya memberi icip-icip manis jejak petualang sejak bertemu Cak Bambang ba’da sarapan dhuha di kantin kampus hingga provokasi para kamerad untuk menegakkan blog.
Agar tak seperti Hanafi dalam roman Salah Asuhan, yang mengalami gegar budaya saat kembali ke kampung, saya jelaskan bahwa aktivitas di Internet tersebut semata-mata alasan kepraktisan bagi sebagian teman. Tetap saja, sebagian informasi yang lain malah lebih gamblang beredar di seputar Kafe Cak Tawal. Intinya: tentu akan lebih baik jika dua keadaan tersebut dapat dihubungkan dengan cara tertentu. “Penguasa angin” dan “penguasa air” menurut kisah Avatar.
Topik penting pertama yang dibicarakan berikutnya adalah keinginan warga B-1 atau Krokus untuk menyelenggarakan kumpul-kumpul rutin setiap tahun. Lebaran secara de facto dianggap sebagai masa yang tepat untuk merealisasikan rencana tersebut, sehingga hadirin langsung mengajukan pilihan: tanggal 2 atau 3 Syawal? Hingga akhir pertemuan tidak dicapai kata sepakat ihwal tanggal kumpul-kumpul, namun dugaan saya pribadi dua hari tersebut fleksibel untuk dipilih dan “relatif menguntungkan.” Paling yang perlu dikomunikasikan: almanak Hijriah berpotensi “membingungkan” dari sisi penetapannya, terutama untuk bulan Syawal. Jadi nanti akan dikembalikan kepada panitia reuni untuk menetapkan realisasi bilangan Masehinya.
Tempat penyelenggaraan kumpul-kumpul akan dirundingkan kemudian, yang jelas Kafe Cak Tawal sudah dijadikan “posko aliran informasi”, terutama untuk menghubungkan mereka yang masih di Jember dan para pengelana yang berbekal alamat maya. Mbak Etha juga menulis daftar para komite: pengarah, pelaksana, dan tak ketinggalan para sponsor. Sejumlah “tokoh masyarakat” dan “agen pembaharuan atau LSM pribadi” diarahkan mengisi pos-pos tersebut.
Topik kedua tentang usulan rintisan usaha yang dapat dijalankan bersama. Salah satu rujukan yang dilontarkan saat itu adalah kegiatan usaha salah satu kelompok alumni Fakultas Peternakan Unej. Teman-teman B-1 melihat pola investor dan pelaksana dapat dijalankan dengan menggunakan pertemanan alumni. Sebuah model bisnis “yang guyub” barangkali. Saya melihat hal ini sebagai sebuah konsekuensi sekaligus pengikat tambahan sebuah reuni, bentuk yang lebih matang dari sekadar cangkrukan era Warung Rambo. Biasanya tema sosial atau model bisnis paguyuban dapat dijadikan buhul pengikat rindu, pemikat hati.
Kafe Cak Tawal juga dilihat dari perspektif tersebut: barangkali hendak diperluas atau ditambahi model usaha lain, siapa sangka? Kedelai nikmat, semangka segar, dan camilan renyah, lebih-lebih percakapan setelah dua dasawarsa tiada bersua, memendamkan ide tersebut sebagai wacana sore tersebut dan akan ditindaklanjuti berikutnya.
Aduhai, seperti sepasang sejoli yang baru bertemu kembali: banyak kisah semerbak hendak dibisikkan lewat lisan, namun degup jantung menahan rindu agar akal tetap sehat bahwa masa bersua berbilang singkat.
Demikianlah, perhelatan sebagian — karena yang disebut reuni di mana pun bukan harus menghadirkan semua — teman-teman Biologi 1 yang meriah dalam rasa. Sepanjang acara hingga saya dan Rofiq pamit pulang boleh dikata dibalut “perkenalan ulang”, meringkas masa yang panjang dalam kata-kata kunci yang terbatas.
Apapun, saya ucapkan uluk salam hangat untuk teman-teman Krokus yang berniat menghidupkan kebersamaan kelas dengan cara mereka sendiri. Lepas dari diskusi di milis alumni tahun 1988 akan pilihan reuni kelas atau angkatan dalam jumlah lebih besar, tentu keduanya sangat mungkin berjalan beriring. Tidak semua kelas punya pretensi untuk berkumpul seperti yang telah dilakukan Krokus, menjadikan pertemuan angkatan dalam wadah yang “lebih lebar” dan “lebih lepas” masih diperlukan. Barangkali juga dari sekian teman-teman alumni 1988 juga memiliki reuni yang jauh lebih kecil lagi, misalkan pertemanan belajar bersama atau kebetulan satu gang di Kebonsari, adalah sangat mungkin di era jejaring sosial seperti sekarang. Ungkapan baru atau orisinil sih, bukan; melainkan semacam revitalisasi.
Saya mewakili pengelola aset di ranah maya membuka diri dan menawarkan seandainya ada sesuatu yang dapat dijadikan kerja sama pemakaian fasilitas, monggo kerso, dibicarakan. Insya Allah, manfaat untuk lebih luas lagi yang kita dambakan. Memulai dari tindakan lokal, bermanfaat untuk hadirin global.
Di perjalanan pulang, saya bercakap dengan Rofiq tentang karakteristik kelas-kelas angkatan kita dan sangat mungkin untuk Biologi 1 diperlihatkan dengan potensi kebersamaan mereka dalam bentuk di atas.
Popularity: 18% [?]

