ada maXiat di Idul Fitri…

Rabu lalu, saya bersama isteri dan anak, berkesempatan menunaikan Shalat Ied di Masjid Agung yang terletak di pusat kota Magelang. Kenangan akan Shalat Idul Fitri di Masjid Jami’ Al Baitul Amien seakan bisa terobati di sana. Apalagi saya sudah 3 kali Idul Fitri tidak mudik ke Jember.

Namun lebih dari itu, yang berkesan mendalam di hati adalah isi khotbah Ied-nya. Disampaikan oleh khatib, bahwa pada tanggal 1 Syawal ini, Iblis beserta jajarannya sedang mempersiapkan diri untuk menyibukkan kita dengan segenap kebahagian dan kegembiraan dalam menyambut Idul Fitri ini. Luapan kegembiraan yang bisa jadi tak terbatas, perlahan menyeret kita yang tidak mawas diri untuk malah mendekati kemungkaran dan menjauhi kema’rufan.

Contoh pertama yang paling nyata diawali dari memandang remeh Ibadah Sunnah. Seperti kita tahu, Khutbah Shalat Ied (Fitri dan Adha) kan “cuma” Sunnah Muakkadah hukumnya. Jadi kalau anda tidak mengikuti, ya nggak apa-apa.. Hal ini terutama terjadi pada kaum wanita yang dengan tidak sabar segera melepas mukenanya saat khutbah masih berlangsung, dengan dalih : “Sumuk.. “, “ Selak mulih, wis ditunggu sedulur-sedulure..”, “Selak lunga mudik.. “ serta beragam “ Selak..” yang lainnya.. Kaum prianya pun jadi “panas” juga melihat keberanian kaum wanita melolos mukenanya. Mereka jadi tidak mau kalah. Tapi kaum adam tidak lantas membalas dengan mencopot sarungnya, tapi segera mengemasi sajadah dan segera berlalu dari Masjid.

Dari sedikit orang yang sudah nggak bisa menahan nafsu ini, akhirnya iblis mendapat jalan untuk ngipas-ngipasi jamaah yang lainnya. “ Ayo.. mulih wae.. wong mung sunnah wae kok, yen ditinggal ora dosa.. “. Akhirnya makin banyaklah yang meninggalkan masjid sebelum sempurna rangkaian ibadah Shalat Id-nya. Di Masjid Al baitul Amien, petugas/Ta’mir bahkan sampai harus “bersaing” dengan khatib hanya untuk mengingatkan jamaah untuk tidak bubar sebelum khutbah selesai. Nah, kalau dihitung hitung, Ramadhan baru berlalu +/- 12 jam, tapi sungguh teramat disayangkan, Ramadhan tidak berbekas apa-apa di hati mereka.

Selanjutnya, sepulang dari Masjid yang penuh ketergesaan, ketidak mampuan menahan diri itu pun berlanjut. Melihat beragam makanan yang uenak-enak tersaji di meja makan, mendorong mereka untuk sebanyak mungkin bisa menikmatinya. Bahkan mungkin sampai perutnya “kemlekaren.. “ alias wuarreg pol. Maklumlah, 1 bulan nggak pernah sarapan. Kapan lagi bisa begini, wong Idul Fitri itu cuma datang setahun sekali kok ya.

Puas dengan makanan di rumah, dilanjutkan dengan berkunjung ke tetangga serta handai taulan. Di situ pun setali tiga uang, suguhan yang enak-enak kembali ditemui. Apalagi kalau ada hidangan yang punya nilai historis tinggi, pastilah akan dicicipi

“Mangga di pun kedhapi.”

Dalam kondisi begini, perut kita yang telah 1 bulan terkondisi tenang, otomatis menjadi kaget dan bekerja extra keras.. nggiling dan nggiling terus. Bukan nggak mungkin, resiko terkena penyakit dadakan sangat besar di hari yang suci ini.

Buat yang tua-tua, mungkin akan menyudahi rangkaian sillaturrahim saat mendengar adzan Dzuhur berkumandang, yang dengan segera mengambil air untuk berwudlu dan menjalankan Shalat. Namun, ternyata masih banyak yang lebih eman dengan “njung –unjung”nya. “ Ah.. Shalat Dzuhur mengko wae.. nanggung iki, lagi asyik ngobrol karo sedulur.. Suwe ora ketemu jee..“ Mungkin begitu pikirnya…

Sementara itu, buat yang muda-muda atau yang merasa bersemangat muda, biasanya dengan dalih memeriahkan Idul Fitri, banyak digelar ragam hiburan. Yang paling rame biasanya panggung hiburan ndangdhut atau band. Wis.. dengan kemeriahan yang luar biasa, semua larut dalam kegembiraan yang luar biasa pula. Bahkan tak jarang miras dan narkoba-pun ikut bicara. Sungguh teramat disayangkan.. Naudzu billahi min dzalik.

Patut menjadi keprihatinan kita bersama, bahwa semestinya fitrah manusia yang terlahir suci dan hanya untuk beribadah kepada Sang Khaliq semata, bergeser sedemikian jauh maknanya. Hanya hura-hura dan hura-hura belaka yang nyata buat mereka…

Bila yang seperti ini cara kita merayakan Idul Fitri, jangan lah berharap akan perbaikan perilaku. Jangan pula berharap adanya niatan memperpanjang barokah Ramadhan pada bulan-bulan berikutnya.

Lalu apatah guna berpuasa ?

Ngrumangsani akeh salah karo kanca-kanca kabeh,
Tulusing pangapura teka panjenengan kabeh sing dhak arep-arep.
Matur nuwun.

3 thoughts on “ada maXiat di Idul Fitri…”

  1. Apalagi pas kupatat… setan perut dan setan mercon tambah ndadi iz, di trenggalek ada kecamatan "Durenan" klo hari raya kupat pasti bikin macet jalur tulungagung – trenggalek (tapi gak koyok jakarta sih..)karena ada tradisi jungkunjung sanak keluarga yang dari luar kota trenggalek. sudah macet ditambahi suara mercon… kan ngundang setan to..iz.

  2. 17 hari berpuasa ada hikmah lain, rasanya jadi langsing he3. Tapi begitu beberapa hari kemudian dapat bonus dari Allah (boleh gak puasa meski harus nyaur nantinya) sempet tak pol pol kan makannya, jadi ndut lagi rasanya. tapi alhamdulilah cepet2 diberi kesadaran dan menikmati saat2 puasa kembali. Lebaran di Pacitan (kampungnya misua yang juga kampung SBY), asyik banget. Hawanya segar, pemandangan sawah, gunung, sungai, jembatan gantung dan suara DOR DOR RAN yang gak kalah dari mercon (untung aku gak tau kalau itu ngundang setan ya. hiiiiiiii). Untuk semua: Maafin ya atas segala kesalahanku. Thanks

  3. gak enak e, lebaran di Jakarta sepiiiii pi mulane males banget, mending milih metu, paling tidak bisa menemukan greget lebaran yang aduhaiiii… Tapi nek angpao…koyone secara kuantitatif akeh ning kampung, tapi nek jumlahe..wah! jakarta bisa dijadikan tujuan…iku jare anak ku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *