Reuni Kelas Biologi 1 Alumni 1988

Acara ketemuan berlangsung pada tanggal 3 Oktober, dimulai sekitar jam 19.00.

Di mana tempat sohor yang disebut Kafe Cak Tawal tersebut? Inilah “kekacauan” pertama karena saya sok yakin tidak mencatat nomor telepon genggam Cak Suja’i dan semua teman di konferensi YM sebelumnya hanya menyebut Kafe Cak Tawal, sonder nama resmi di sana. Menanyakan nama pemilik kafe di Jalan Jawa tentu bisa salah maksud: barangkali Cak Tawal dikenal dengan panggilan lain atau orang-orang di sana belum tentu tahu pemilik kafe ybs.

Tapi ini Jember, jangan terlalu seriuslah! Bukan Batavia yang perlu lompatan publikasi di media nasional seperti Omah Sendok, bukan Bandung yang memiliki manager Hotel Bel Air yang juga disitir media cetak. Di Jember, ritme turun, sinyal 3G beralih ke GPRS, dan manusia kembali menemukan “tanah air”, yaitu tanah dengan genangan air atau bechek kata salah satu selebritas simbol penutur non-pribumi.

Sekali putar, bersama Rofiq yang menemani saya datang ke acara reuni, kami mencari spot keramaian (boleh juga disebut hotspot, karena konsumsi kalor sebanding dengan jumlah manusia). Tidak salah Mbak Etha “dipajang” di beranda pinggir trotoar. Saya sudah membayangkan keceriaannya, teringat perannya sebagai pemandu sorak kelas saat kami bersama di tahun ajaran pertama SMA. Manusia memang dianugerahi pengenalan pola-suara, dan itu melengkapi deskripsi visual postur tubuh dan muka. (Harris pun pada pertemuan lain keesokan harinya mengaku melihat hadirin sudah tua, tapi cekakakan — bukan “cekikikan” — miliknya tak parau dimangsa sekian pancaroba.)

Alhasil, trio Cak Tawal-Cak Adib-Mbak Etha (ketiganya dari kelas 1-5), mengantarkan saya pada persentuhan dengan lorong masa lalu. Teristimewa terhadap pihak perempuan yang memang sebagian pernah saya kenal kemudian lupa, sebagian lagi benar-benar belum sempat berkenalan. Praktis satu botol minuman dingin dan satu gelas es jus minuman pembuka tandas untuk mencocokkan data dan bertukar metadata saat ini. Harta, tahta, dan wanita diterjemahkan sebagai, “kendaraan-rumah”, “posisi di kantor”, dan “pasangan hidup.” Berkuasa atau dikuasai, itulah tiga fitnah yang dikendalikan umat manusia hingga akhir zaman.

Foto di atas diambil oleh Cak Adib dan merujuk pada tautan ke akun Flickr miliknya.

Continue reading “Reuni Kelas Biologi 1 Alumni 1988”