URBAN LIFE STYLE?

Beberapa hari silam, saat chatting dengan kandidat doctor Pemasaran UI, Firman Kurniawan (SMAN1-88), dia melontarkan pertanyaan yang sama dengan beberapa rekan yang mengetahui kepindahanku dari Balikpapan ke Solo… Firman ask .”wah enak sekarang..bisa pulang pergi dari Solo ke Jogja”…. saat kujawab “ aku gak nglaju (pulang pergi tiap hari)..aku kos di Solo…”.. beliaow nanyak “ Lho kan cuman sejam?…itu jauh lebih cepet daripada pekerja Jakarta yang berumah di Bogor,Tangerang..bisa 2 jam’an baru tiba di rumah…bahkan lebih…” Aku berpikir “ wah iya juga ya….tapi dengan jam kerja yang gak pasti..kadang ada meeting after work hour ato ketemu ama relasi yang kadang sampek malam ..kayaknya lebih safe Kos aja..he..he..he” Aku njawab sekenanya aja “ tapi bos..aku pulang setiap Rebo malem balik Solo kamis subuh…dan pulang lagi Jum’at malem dan balik Solo lagi Senin Subuh…gitu bos jadi..2 kali seminggu ketemu keluarga…kalo ditambah weekend ya 3 hari ketemu deh…jauh lebih baik dibanding saat tugas di balikpapan yang pulangnya baru bisa 3 minggu sekali.

BN Holec ...Prameks Kutoarj-Jogja-Solo Saat beberapa kali pulang ke Jogja dengan KRDE Prambanan Ekspress….baru ketahuan kalo yang pulang-pergi dari Jogja –Solo ternyata banyak juga…..terlihat wajah-wajah yang sama selalu naik dan turun di stasiun yang sama…..mayoritas sih ibu-ibu ato nonik-nonik…emang bagi orang yang terbiasa dengan kehidupan serba tergesa gesa kayak di Jabodetabek…melewatkan kesempatan pulang-pergi dari rumah ke kantor yang hanya 1 jam itu terasa mengada=-ngada….tapi bagiku yang terbiasa dengan ritme …30 menit sebelum jam 08.00 baru sampai kantor…mengejar-ngejar kereta sejak subuh (KRDE Prameks paling pagi adalah 05.45 WIB) untuk bisa sampai kantor sebelum 08.00 Wib..dan harus terburu-buru ninggalin kantor jam 17.00 teng..karena KRDE yang paling enak adalah yang 17.45 WIB itu ..kok kayaknya nyiksa betul…padahal sebagai pekerja bank yang berada dijalur Marketing…kadang jam 17.00 wib masih ada di lokasi pabrik klien ato lagi meeting internal yang gak mungkin dipercepat ato ditinggalin….dideadline waktu kok terasa menyiksa….sebenarnya bisa aja naek bis (24 jam selalu ada) namun membayangkan sampai rumah jam 22.00 Wib ..dan anak-istri kadang harus terbangun untuk bukain pintu dan setelahnya bangun shubuh untuk ngejar kereta pagi (Si Asti yang sulung belum bangun tentunya….kalo Ica sih jam 03.00 WIB dah tereak-tereak dia…) kok rasanya gak worthed gitu….belum lagi resiko telat masuk kantor…dan kemrungsungnya itu lho…bisa-bisa ngrusak ritme kerja hari itu…..untungnya istriku malah ndukung aku kos…kasian mungkin liat suaminya kemrungsung setiap paginya..he..he..he….mangkanya sebagai jalan tengahnya setiap Wednesday sore pulang…dan weekend tetirah di Jogja….weekday at downtown and weekend at suburban..masak Jogja disamakan dengan sub urbannya Solo?…

Tak piker-pikir jaman sekarang ini….jauhnya tempat kerja dengan rumah tinggal menyebabkan pola hubungan social bahkan di dalam keluarga sangat berbeda dengan jaman kita dulu..kayaknya jaman dulu meliat orang berangkat kerja jam 07.00 Wib dan 15.00 Wib dah sarungan ato maen bulutangkis di rumah..kayak bapakku yang kerja di PTP XXVI… ato pakde Jo yang kerja di Perusahaan swasta ato Cak Mat yang kerja di PEMDA Jember….kayaknya asyik betul gitu..deket keluarga dan sore dah bisa kongkow ama tetangga…terus dilanjut Bulutangkis,sepaktakraw ato Volley ball tergantung sedang apa musimnya he..he..he..lha kalok pas musim layangan ya bapak-bapak itu juga nimbrung kok…ato..ikut kegiatan Doro Racing di sawah sono…dan kalok malamnya iso ikut arisan tahlil..barzanji ndek Musholla ato sekadar reriungan di Musholla sambil nunggu isya’ tiba….pokoknya sore dan malam adalah tempat kehidupan sosial masyarakat idup….bagi saya..hal-hal kayak gitu jadi mimpi dan nostalgi belaka….tapi sekarang dah mending kalok Minggu pagi isok Bulutangkis bareng tetangga di sawitsari yang kebetulan adalah kawan-kawan dosen Faperta dan FE UGM yang dulu dah kenal saat kuliah…jadi yo rodok ada dunia sosialitanya lah….asyiik juga..walo gak seheboh dan seheroik kenangan sore dan malam di Kampung Gebang Kemundung at Jember….. Sampeyan gimana?…

Author: Eko Setiawan

Eko Setiawan 3 Maret 1970.... lahir di RS Bhakti Husada,Krikilan, Glenmore Banyuwangi....9 tahun nomaden dari perkebunan ke perkebunan di Banyuwangi...alumni SD Jember Kidul VII, SMPN 2 Jember, SMAN 1 Jember, Agronomy UGM, MM UGM....sekarang di BNI SKM Balikpapan the Borneo....SMAN 1 JEMBER...adalah basis ingatan yang tak akan lekang sebagai pijakan sampe sekarang ....karena Sahabat yang tercipta sudah menjelma menjadi Sodara .....

41 thoughts on “URBAN LIFE STYLE?”

  1. welcome back Ekos, wah dah lama kutunggu tulisanmu lagi rek. Rasane aku setuju banget dengan pilihanmu nge-kost di Solo plus alasan2nya. Meskipun buat sebagian yang tinggal di Jabodetabek agak gimana gitu. Tak pikir karena kita tinggal di tempat dan kota yang berbeda, akhirnya akan membentuk pola pikir yang lain, tidak salah sih cuman karena melihatnya dari sudut yang berbeda akhirnya pilihannya pun jadi berbeda pula. Sama seperti aku yang tinggal di kota kecil (tapi metropolis hehehe), aku lebih memilih kehidupan yang tidak jauh berbeda dengan keluargaku dulu. Aku mewajibkan diriku sendiri sampai di rumah tidak lebih jam 3 sore (kecuali ada keperluan penting sekali), aku juga memilih menjaga anak di rumah dan jadi ibu rumah tangga biasa daripada buka praktek sore. Berkumpul sama ojob dan anak2 di ruang belajar, ngobrol segala macam adalah waktu paling berharga dan menyenangkan dibandingkan dengan hasil yang mungkin aku terima jika praktek. Buatku semua itu adalah pilihan dan membuatku bahagia dengan semua yang kumiliki. Salam

  2. Harian "The Jakarta Post" pernah mengulas panjang lebar tentang "The Commuters" (bukan The Changcuters, Bibeh …) 10 tahun silam. Saudara tuanya "KOMPAS" pun tak kalah unjuk gigi beberapa waktu lalu tentang "Kaum Urban Hilir Mudik" ini. Alasan utama dari semua ini adalah tuntutan "Jaman". Pola hidup industrialis, membuat semua orang harus menyesuaikan diri dengan pola waktu kerja "8to4" atau "9to5", bahkan banyak pula yang "8to .. unlimited..".. (beh, mak padhane provider telpon..kannak..)

    Tapi sebenarnya, masih banyak dari masyarakat Indonesia (yang bekerja) yang masih menjalani pola hidup Agraris, dimana mereka terbiasa bekerja setelah subuh, istirahat menjelang tengah hari, sudah di rumah bersama keluarga pada sore harinya. Malam hari adalah kesempatan untuk menjalin relasi sosial, baik dengan keluarga atau pun tetangga.

    Buat kita-2 yang masuk kategori Tukang Nglaju, pilihannya adalah bercapek-capek di jalan atau menetap temporer di satu tempat, dengan resiko mengorbankan waktu untuk bercengkerama dengan keluarga.

    Dulu, sebelum nyungsep nabrak bis, aku jalani pola bercapek-capek di jalan. Jarak 160 km yang ditempuh 1.5 – 2 jam perjalanan, tidak lagi terasa sebagai jarak yang jauh dan melelahkan. Jalur yang aku lewati pun bukan jalur super macet seperti di kota-2 metropolis, tapi mayoritas jalanan sepi dan jalan-2 desa. Pemandangan pedesaan, aktivitas bapak dan ibu-2 di sawah serta keceriaan bocah-2 desa berangkat sekolah menjadi hiburan tersendiri. Udara segar (yang sesekali bercampur asap solar), masih bisa aku hirup setiap menempuh perjalanan berangkat pulang. Dengan berbekal rompi, jaket tebal, sarung tangan serta masker dan sepatu boot, lengkap sudah asesoris penunjang keselamatan untuk riwa-riwi. Alhamdulillah, check up dokter masih menyatakan kondisiku oke untuk tetap riwa-riwi, asalkan waktu istirahat tetap disediakan.

    Setelah tabrakan, pola hidup berubah, menjadi mirip dengan yang dijalani Ekos. Senin-Rabu pagi di Waduk, siangnya pulang. Kamis-Sabtu siang piket, sorenya pulang. Selasa-Kamis pagi di waduk, Jum'at-Minggu sore, malemnya pulang, senin prei. Jadwal diatur fleksibel tergantung kondisi di waduk.

    Saat berada di rumah, sedapat mungkin aku nggak nyandhak komputer. Baru mendekati komputer, anak sudah protes " hokk.hokk..tiiiiittt, mesti-mesti… komputer lagi.. komputer lagi.. " Begitu komentar Afa kalau melihat ayahnya mau nyalakan komputer.

    Kegiatan di rumah betul-2 berubah menjadi kegiatan domestik, mulai dari mandikan anak, menyiapkan sarapan bahkan belanja dan memasak bukan masalah bagiku. Kadang-2 bila diperlukan, nyuci dan nyetrika tak lakoni. Bukan hal yang tabu dan memberatkan, karena sebagai mantan anak kost, kita-2 semua mesti pernah menjalani (hampir) itu semua. Bagaimana suasana berjalan menyenangkan saat di rumah adalah yang terpenting. Kualitas komunikasi yang baik harus bisa mengganti kuantitas yang semakin berkurang.

    Yang porsinya menipis adalah srawung dengan tetangga. Bahkan kumpulan RT pun jarang kau hadiri. Kompensasinya, bila betul-2 longgar, aku tetep cawe-2 kalau di RT ada gawe. Atau isteri meng-aktifkan diri di Dasa Wisma atau PKK, sebagai wakil dari Nanas Raya 45 di kancah percaturan warga dan tetangga.. 🙂

    Akhirul kalam..Bersyukurlah kita bahwa pilihan-2 yang tersedia masih memeberi peluang-2 yang baik. Tinggal bagaiman kita bisa memanfaatkan dan ini semua untuk masa depan yang lebih baik (meski pun berita-2 harian di koran nggak demikian.. tak iyyeh…)..

    Nah, para kanca Jakartanan atau Metropolizer, kepriwe uripe rika saben dinane nang kana ? Ayo pada crita.. 🙂

  3. Kalo di filmnya Michael Douglass dan Sharron Stone, "BASIC INSTINCT"…, Tuh Michael Douglass pulang pergi ke kantornya naik Ferry.. , loh cak Ekoz…??!

    Sapa ngiro…, ketemu karo Sharron Stone… Sharron Stone.. lokal..??!

  4. "nglaju"..kata ini pernah kualami ketika aku masih bertugas di lumajang..kurang lebih 2 tahun aku nglaju jember lumajang..ada cerita menarik yang aku harap tak terjadi pada cak ekos… komunitas nglaju ini kadang membentuk semacam paguyuban..yah karena orang-orangnya yang nglaju dengan bis jember indah atau akas ya itu-itu saja..tapi penyakit yang aku harapkan tidak terjadi itu adalah menganut pada pepatah jawa "witing trisno jalaran soko lungguh bareng terus nang bis"..akhirnya setiap berangkat kerja ketemu diterminal tapi tidak turun di tempat yang seharusnya (di lumajang) malah bablas gak karuan..herannya sorenya ketemu lagi masih dengan dua orang yang sama dan berlainan jenis itu dari arah yang tadi bablas…awas cak ekos…ati-ati….

  5. Sulit.. Susah.. klo jauh dari keluarga, kerja untuk keluarga (anak bojo) tapi klo kerjaan amburadul.. ngefek juga pada keluarga to.. Apapun enaknya minum teh sosro dengan keluarga sambil kerjo..

  6. aha..ternyata yang menanggapi adalah kawan-kawan daerah semua..except Ashlah aka okik (Jakarta yo?)…

    Sevi… tks welcome backnya…sebenarnya tulisan ini dah siap lama tapi karena banyak posting dari kawan-kawan lain makanya tak hold sebentar..he..he..

    kalok aku salut sama pilihanmu…. lha wong dokter jos kok gak praktek umum di rumah lho…dan alasan yang mendasarinya betul-betul beyond my mind deh…betapa senangnya 2 ponakan kecilku ya ..jam 15.00 wis ketunggon ibune…

    @ Faiz… Bos kalo aku belum seheroik kamu dalam bidang penglajoan…situ kelasnya (ato jare arek pondokan maqomnya) dah pakar….saat Nglajo at Solo and sekarang antara Waduk dan magelang…. cuman 160 km dalam jangka 1,5 jam….ckk…ckk… (awakmu anak buahe Wandi RX King Club ta mbiyen?..sing sering trek-trekan ngarepe Mars?…hua..ha..ha..)

    kalo Kenya-kenya Sulistya..diatas Prameks sih ada beberapa…minoritas gitu…gak sampek 25% lah..he..he..he..mayoritas ibuk-ibuk yang kalok Pagi kemrungsung kalok sore dah kumus-kumus…. (except Senin pagi dan Jum'at petang….banyak para BENINGER)

    @ Sudjak…. Tks warningnya….. "ingat nok-manokan bukan hanya karena ada niat tapi karena ada kesempatan ..Waspadalah..waspadalah…"

    @ cak sugie… bedanya Michael Douglas nganteng dan macho…sehingga..gampang nglirik cewek sekelas Sharon Stone di atas Ferry…. kalok aku…wis wajah average+ jedut koyok iwak jibut..he..he..he ..para Beninger wis ill fill ndelok awakku..he..he..he..

    @ Ashlah… " apapun enaknya minum Teh mbah Sosro sama keluarga after Kerjo…" Setuju pak…. ayo cerita pola lajune peno….

    For all…. aku masih eksplorasi para pelaku lajo di PRAMEKS ..dengan wawancara orang yang duduk di sebelahku..he..he..he… (ternyata banyak kisah menarik lho…)

  7. Ekos, rasane nggak perlu komentar akeh2…. Kalau hanya melihat sisi pandang jarak omah-tempat kerja, Ekos sudah mendapatkan yang terbaik yang bisa perusahaan berikan. Apapun pilihannya, nglaju opo Kost. Jadi,yo mesthi bener-bener bersyukur. Seperti berusaha bersyukurnya saya dan keluarga dengan pola hidup 'aneh' sekarang ini, hik..hik…hik….

  8. Halo Bigbossnya CERIA….long time no see hah… ya kan seperti peno pernah cerita ambek awak… jamane kan wis jaman Post Industrialis he..he.he.. dadine bukan kita yang ngatur waktu kerja…. tapi Kerjaan yang ngatur kita ..hua..ha..ha.. mangkane cita-cita peno untuk dadi enterpreneurship ato bahasamu "mbukak warungan" ndang dilaksanakno…. ben isok masuk ke irama semula…. MAJU BERSAMA KA CANTIK….. SUROBOYO-JEMBER..kapan kan datang lagi..hua..ha..

    (mbok cerito-cerito pengalaman babad alas Sumatera to..biar kita bisa membayangi seheroik apa dikau sekarang….)

    Tetap Semangat…

  9. aku saiki memang sedang nglakoni tirakad "nglaju" tapi jarake cuman 30 km.. bedo banget karo jagoan kita dari magelang (cak Faiz)yang sakti mandraguna bisa nglaju jarak 160 km.. Klo aku pagi dari Tulungagung menuju Trenggalek, sore sudah di rumah lagi untuk minum teh sosro bareng mboke anak2..

    Untuk semua yang lagi "nglaju" sebaiknya ingat betul saran dari cak Sujak.. Klo ada saran-saran ataupun tip laine.. cak..

  10. Supaya gak diarani jagoan, masalah jarak tempuh perlu diperjelas. Mungkin ada yang mencibir kalau membaca angka "160 KM", nek dihitung PP bisa = 320 KM.

    Sak tenane, jaraknya "mung" 80 KM ditempuh 1.5 – 1 3/4 jam. Nek lagi ngantuk iso 2 jam. Soale mandheg-2 di tepi jalan untuk tidur sebentar ngilangke ngantuk. Jadi PP = 160 KM..

    Yah.. benar kata Cak Ekos, bahwa Pasca industrialisasi, Pekerjaan yang mengatur hidup kita (buat sebagian orang). Tinggal bagaimana kita memberi arti dan kenangan manis atas waktu-2 yang telah dilewati, baik saat sendiri atau pun bersama keluarga. Apalagi sudah banyak pilihan bantuan teknologi untuk menjembatani kesenjangan komunikasi langsung di jaman ini..

    Semua terserah kita..

  11. Cak Eko, saya reply di sini ya. Piye kabare? tambah lemu wae tah? kog semakin berkurang postingannya, apa lagi sibuk panjenengan.

    Lek menurut cerita neh, cak eko sudah ppr semenjak masuk SMP, Luwih hebat maneh ppr karo angkatan 86 alias 2 taon nang dhuwer. hehehe. Bearti si mbak yg baru masuk ini termasuk kategory "Istimewa" alias pake telor jo.

  12. Ekoz, bicara soal KA Paramex, dua minggu lalu aku naik dr Jenar(Purworejo) ke Tugu, cuma 50 menit. Luar biasa! Lebih cepat dr bis atau mobil pribadi. Dalam waktu satu jam dr Purworejo sudah bisa lanjalan di Malioboro.

    Kereta apinya juga lumayan bersih. Pokoknya jauh lebih enak drpada perjalanan Bekasi-Jakarta naik apa saja.

    Sorenya saya naik kereta api yg terakhir jam 16 menuju Kutoarjo. Lancar juga. Kalau frekuensinya ditambah, mungkin setiap hari ente bisa makan siang Nasi Timlo di Solo, terus malamnya main badminton di Sawitsari.

    Bbrp hari kemudian saya pake itu kereta ke Bandara Adisucipto, langsung turun stasiun Meguwo dan jalan kaki dengan koper ke Keberangkatan. Nyaman ongguh!

    Bagi masyarakat Desa Jenar, perluasan rute Paramex dr Solo-Yk menjadi Solo-Yk-Kutoarjo merupakan peristiwa bersejarah, sama pentingnya ketika pemerintah Hindia Belanda membuka jalur kereta api di Tanah Jawa 🙂

  13. Cak anton….. lho..lho….panjenengan iki ternyata telah lan-jalan ke tlatah Mataraman to?…. wah gak ndo-kondo rek……

    iyo bener…90% trayek PRAMEX Solo-Jogja-Kutoarjo PP on time kalok ada mleset deviasinya ± 10 menitan aja…ini kereta emang jadi icon PT.KAI dari segi service excelence…..

    yang lebih hebat lagi….selain keretanya bersih …petugas KAnya tegas…kalok ada yang berani merokok (di kereta ini No space for smoker) langsung ditegur ik-baik…kalok gak mangsa…epataron agih e tenga sabbe..he..he..he

    Pramex juga dah connect dengan beberapa penerbangan …ya kerennya …multiple trasportation mode lah…ru-tiru London yo..he..he..he tapi belum maksimal..karena daya dukung bandara Adisucipto belum optimal…terutama dari sisi kenyamanan Apron,Lounge dan Ruang tunggu bandara…. Selain itu landasan yang kurang panjang menyebabkan gak banyakInternational Flight di hela dari Adisucipto….

    tapi untuk kelas Indonesia…yah not bad lah…he..he..he… Bandara Soekarno Hatta harusnya mencontoh implementasi gabungan dua moda ini KA dan Pesawat….

    Desa Jenar ?…dadi kelingan Nogo Sosro Sabuk inten dengan Mahesa Jenarnya….emang itu desanya siapa Bos?..Ny.anton Timur Alifandikah?…

    Sayangnya untuk Sore dan malamhari…yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh para commuter ..trayek kereta Pramek cuman dikit…17.45 Wib dan 19.30 Wib….seandainya setiap 3o menit ada kereta sampek jam 10 malam…asyiik juga itu bisa nglajo…. kalok sekarang agak riskan tiap hari nglajo..he..he..he… (alasan thok kok…hi..hi..hi..)

    Cak anton…. ditunggu hasil main-main ke Mataraman via Multiply….

  14. For cak Surya…. kalok saya itu tipikal born to be journalist…. jadi sejak SD bahkan hobbyku menginvestigasi….. kok iso onok kakak kelas sing huayuuuuu koyok mBak Iomi..he..he..he..

    ato kok isok Arek Kebonsari isok huayu juga..hu..hu…

    terus didedepi ben ndino….

    jujur aja untuk angkatan 86 hanya ada 2 nama yang saya ingat..I Gusti Iomi Dalem…Sama Mbak Ira…

  15. Maap tak berkabar kawan, kunjungan singkat dan banyak sodara yg harus ditengok. Banyak kawan yg tak bisa ditemui. Sebetulnya ingin ke Solo liat Museum Radya Pustaka dan coba makanan, tp tak kesampaian. Padahal sdh ada di angan-angan, termasuk ketemu ente.

    Di Jenar ada bekas teman sekampus yang sekarang tinggal sama saya.

  16. @Mas Anton Pulang ke Jembernya berarti juga barusan aja ya, soalnya kemarin (29 Juli 08)aku ke Jember, sempet ngobrol dengan Mbak Nurul (putrinya Pak Umaidi Radi)denger-denger kabar sampeyan pulang ke Jember.

    Kalo di Bandung ada angkutan "Pemadu Moda", operatornya PO. Primajasa. Buat warga Bandung yang pengen terbang dari Bandara SukarnoHAtta ke manapun, tinggal datang ke BSM (BAndung SUper Mall) di jalan Gatot Subroto, naik Bus sampai dek ke Bandara… mau jam berapapun ada, Kalo dini hari bahkan tiap 15 menit ada Bus… ongkosnya 75rbu (ato 70 rbu ya)

  17. Lho iya, saya juga sempat ngobrol sama Nurul.Seandainya ketemu Rizal, aku bisa kursus pantun Bang Jali. Kita tunda lain kali saja.

  18. halo mas Anton, this is Anna, salam kenal boleh kan. aku tadi pas chatting ama Ivan, aku nanya2, " sekarang mas Antonmu di mana Van?" Ivan bilang " di BBC London" terus ivan balik tanya, "Lho koq tau?" aku bilang tau aja gitu. oh ya, aku salah satu fansnya Ivan nih mas pas di smp 3 hehee. rgds

  19. apa kabar anna, kayaknya anak-anak sma satu kalau kesulitan soal ticket penerbangan /imigrasi/ travel agent harus kontak kamu. Kalah kayaknya Alpena dan Gerpaz. Seru juga cerita perjalannnya.

  20. Alhamdulilah akhirnya aku bisa muncul lagi di blog tercinta ini setelah beberapa minggu aku cuman bisa sesekali nengok thok, dan gak sempet kasih coment. Bener2 waktu dah habis buat kerja kerja dan kerja yang kayaknya gak ada selesainya karena datang terus. Baca cerita dhek ekoz, jadi grogi juga gimana ntar kalau aku jadi pindah ke Jakarta. Kayaknya lebih aman juga kalau ntar untuk sementara mending kost aja di deket2 kantor, daripada kena macet Jakarta yang konon khabarnya luar biasa, apalagi aku masih “culun” dan ngomongku bener2 masih medok jowo banget. Tapi kata temen2 di Surabaya “malah ntar aman, kalau copetnya berasal dari jawa Timur, gak jadi dicopet khan copetnya pikir wah masih bolo, sama2 dari Surabaya/Jatim he3”.

    Saat ini perjalanan (naik angkutan) dari perumahanku ke kantor kalau berangkat minimal perlu waktu 1 jam. Tapi saat pulangnya minimal perlu waktu 1,5 jam (karena harus muter lewat RSI Surabaya). Pulang tet sesuai jam pulang kantor jam 5 sore hanya angan-angan aja karena harus lembur, lembur dan lembur. Beruntung sekali aku dah culup kenal ama Surabaya berikut penumpang-penumpangnya jadi rasanya terasa aman. Meski beberapa kali kecopetan tapi gak material (kecuali dulu pernah HP baru. He3) dan aku dah ngapalin wajah2 copetnya dan wajah2 yang perlu dicurigai.

    Sabtu Minggu adalah saat-saat memanjakan diri (mbangkong, santai, mbersihin rumah, berkunjung ke ponakan2 dan jalan2). Kebetulan di Perumahanku gak ada kumpul2 arisan atau semacamnya. Kumpul2 biasanya hanya 1 tahun sekali pas malam tirakatan 17 Agustus dan jalan sehat agustusan. Selebihnya ketemu tetangga kalau di jalan (sambil menganguk, tersenyum dan bilanng “mari / monggo”) atau kalau pas belanja di Mall deket rumah terkadang malah ketemu tetangga dan baru bisa ngobrol. Bener2 moment kumpul tetangga menjadi kejadian langka.

    Oh, ya lihat foto kereta ini jadi inget pengalamanku beberapa minggu lalu waktu aku dan rombongan keluarga besar ku rame2 naik kereta waktu ada acara di Jakarta. Sebelum hari H ada kerabat yang mengingatkan untuk cewek kalau pergi2 naik kereta mending pakai tas selempang karena lebih aman dan duduk yang di deket candela karena beberapa kali kejadian ada penjambret di kereta yang terjadi saat kereta berjalan pelan. Kami berangkat tanggal 25 Juli malam (naik Agro Anggrek) rombongan kami sampai 19 orang dan bisa satu gerbong wah jadinya seru banget. Alhamdulilah perjalanan aman. Tapi saat pulangnya (dari Jakarta-Surabaya) juga naik Agro Anggrek jumlah rombongan tinggal dikit karena tanggal pulangnya gak bareng dan sebagian bisa dapet tiket pesawat. Sampai di Semarang (jam 3 an pagi) ada 4 saudaraku dan beberapa penumpang lain turun & nampak beberapa penumpang baru naik. Kamipun terlelap lagi dalam tidur, karena paginya kan langsung kerja jadi emang tidur adalah pilihan utama. Setelah kereta berjalan kira2 15 menit dari Semarang, lamat2 terngiang di telingaku suara teriakan wanita yang makin lama makin kenceng dan aku sempet berpikir wah terjadi kecelakaan (jantung ini sempet berdegup kencang karena sempet bingung apa lagi naik pesawat habislah riwayat kami kalau sampai terjadi kecelakaan. Begitu sadar kalau sedang di kereta jadi agak tenang tapi bingung juga ada apa ya ? Ternyata yang teriak2 tepat perempuan yang duduk didepan kursiku yah…..kasihan banget ternyata tasnya di ambil orang saat kereta berjalan lambat dan si pengambil dan temennya yang menahan pintu otomatis kereta langsung loncat dari kereta. Bener2 heran kok kejahatan seperti itu terus saja terjadi di kereta Agro Anggrek. Dan mungkin juga di kereta2 lain. Tetap Waspada.

  21. Aku juga urbaners di betawi tapi bedanya kalo aku sub urban di kayu putih, bettim (betawi timur) dan downtown di serang banten (ndeso …ndeso) pulang juga tiap rabu dan sabtu. Susah kalo nglaju tiap hari bisa tua di tol jakarta merak (+/- 100 km kalo pp 200 km kaya surabaya-jember). Jadi ya tetap bapak-bapak kos. Aku punya teman ibu-ibu yang suaminya tentara yang batalyonnya lagi di kab jayawijaya menjaga perbatasan RI-PNG selama 1 tahun lebih. Jangankan pulang lha wong sinyal hp saja kadang ada sering ngga ada. Semboyannya NKRI harga mati. Jadi kondisiku masih Alhamdulillah @Mbak Triani Kalo di jakarta yang banyak kriminal jatim ya di daerah rawamangun dan blok M, di tempat lain ya ngga dijamin ngga dicopet.

  22. Dhek Satriyo: jadi kesimpulannya (1) Dengan kos, bisa bikin awet muda (karena gak sampai tua di jalan). (2) Di Jakarta gak ada tempat yang aman dari copet so kalau pergi2 bawa tas/dompet kosong & gak bawa Hp. he3

  23. @ Mbak Triyani : (1) Kos selalu bikin muda karena berteman sama temen kos yang muda apalagi kalo ada yang mahluq manis (inget lupus..). Bukan berarti kalo melihat istri berasa tua. ^-^. (2)Kalo kita ngga hati-2 pasti juga ngga ada tempat yang aman maka waspadalah…waspadalah. Temen saya bertahun-2 tinggal di jakarta ngga pernah tabrakan, sekalinya dimutasi di muara bungo (kota nun jauh di sumatra)eh ngga sampai seminggu tabrakan. Ngga bawa HP dan dompet ? Haree genee ngga bawa HP. (3) Mbak dulu aktif di IPM ? Kalo mas Agus yang instruktur dan dosen ITS MIPA itu lulusan tahun berapa ? Aku satu angkatan sama LIna adiknya mas Agus.Aku dulu sempat jadi bendahara 1 atau 2 periode 1991/1992. Ketuanya Dodi. Dulu banyak IPMawati yang manis-2 tapi sungkan karena berjilbab. Tapi ngga ada kok 'masalah yang belum selesai'.

  24. Pro Bro Satriyo….. emang pilihan kita kalo0k dikomparasi dengan orang yang lebih "syulit" posisinya bisa bikin kita banyak bersyukur ….

    Pro Mbak Wiwid Wuikkks…ekspansi gede-gedean antarane yo?..dadine gak sempet ndelok Blog… kalok aku ekspansi jalan…nontok Blog lebih jalan lagi he..he..he..

    Pro all…. setelah sekian lama bergabung secara incognito dengan kaum PRAMEXers (gitu mereka menyebut dirinya)..maka banyak hikmah yang bisa dipetik….

    ada seorang aktivis Pramexers ..namanya Mbak Henny kerjanya di Kantor pajak Palur Solo…perjalananen kayak gini… (mbak Henny adalh ibu dari 3 putra dan tinggal di Magelang…beliau terpakso dadi Urbaners karena sang Suami anak tunggal dan kerja di Magelang dan mesti menunggui Mertokunya yang sakit sakitan….) setiap hari sepanjang 3 tahun terakhir ritualnya kayak gini… 03.30 …bangun..siapin sesuatu untuk keuarga dan dirinya 04.30..berangkat dari rumah ke terminal Magelang.. 05.00 sampai di Terminal Jombor 05.45 harus sudah naik di Pramex di Stasiun Tugu Jogja 07.15 sampai di Stasiun Balapan Solo 07.45 sampai dikantor di palur dg, Bis Atmo…

    17.00 berangkat dari kantor ke mbalapan Solo 17.45 Pramex berangkat dari balapan ke Tugu 19.00 Pramex sampai di tugu 19.15 naik ojek ke prapatan Pingit 19.45 Naik bumel terakhir dari terminal Jombor 20.30 sampai di Terminal Tidar magelang dan dijemput suami 21.15 Baru sampai Rumah… (itu perjalanan normal lho…kalok ada gamgguam sedikit misal Pramex telat..maka semua jadwal kacau balau) kalo sampai di Tugu lebih 20.00 ..maka sang suami harus ditelpon untuk menjemput beliau di Prapatan Pingit…

    aku sampek bengong meliat rutinitas dahsyat kayak gitu..dan yang lebih hebat ..beliau menceriterakan itu dengan lancar ..sabar…dan gak mengeluh… (sang ibu dengan kadar iman setara Aisyiah r a..he..he..he)

    masih banyak kisah yang lain….nanti tak sambung lagi

  25. @ C' Ekoz Kalo mau bersyukur memang harus lihat yang lebih syusyah. Ngga perlulah kita harus memaksakan diri dan lihat kemampuan kesehatan. Dikantorku dulu ada seorang kasi yang rumahnya di Purwakarta. Kerja di Jakarta dan malam kuliah S2. Rute beliau Subuh berangkat dan malem baru sampai dan dia bawa mobil sendiri. Mungkin karena terlalu capek dan mungkin ada penyakit lain sehingga beliau meninggal ketika masih relatif muda. Semoga Allah SWT senantiasa mengampuni dosa beliau. Kematian memang ditentukan Allah SWT namun harus menjaga kesehatan. Keep be healthy, bro

  26. Setuju Cak Satriyo…. yang paling pas adalah ngukur "kekuatan" masing-masing individu…

    kalok aku dipekso ben ndino Solo-Jogja PP yok iso legrex awake rek….dan My Wife yang memaksa aku untuk ngekos malah…

    by the way..panjenengan angkatan brokap?

  27. Alhamdulillah, kantorku cedhak baget karo omah… cuma 3,5 km. Nek ngajar jam 7, kadang yo jam 7 berangkat, numpak honda supra x tahun 2001 sing tak tuku tahun 2005, kadang numpak sepeda pancal malah. Kadang nek jam istirahat siang malah sempet balik, dolan karo anakku. Alhamdulillah.. Cuma ndisik pas sekolah yo sempat ben dino 50 km-an pp ke ITB, dadine nek bulan Agustus biasane keno radang tenggorokan. Sing penting kabeh kudu di syukuri, tak iye Cak..

  28. waduh Kos, ritualnya mbak Henny-mu mengerikan sekali ya ….temen2ku di kantor tak tunjukin ceritamu, langsung di bahas sama mereka….boleh di bilang aku juga salah satu urbaners. kerja an ku di Gedangan, Sidoarjo, tapi aku memutuskan untuk tinggal di surabaya, karena dari pas kuliah dulu aku pingin sekali tinggal di tengah kota di surabaya. tapi alhamdulillah ada fasilitas antar jemput dari perusahaan, di jemput di depan rumah, trus di pulangkan juga di depan rumah.

    tapi aku percaya, urbaners adalah orang2 yg kuat & tahan segala macam penderitaan. dulu pas sebelum menikah, setiap sabtu malam minggu kan pulang ke jember (karena jomblo, gak ada dating). biasanya naik KA Mutiara Timur malem, jadi dapat tempat duduk ato gak dapat, tetep aja pulang. biasanya gak pernah dapat tempat duduk, jadi duduk di lantai nggelar koran ya dilakoni. Kalo masih nututi jadwal kereta yg sore, ya pasti naik KA Sri Tanjung. Pokok e mau uyel2 an ama cepet2 an masuk kereta, pasti dapat tempat duduk. Nah, serunya kan kalo lagi rebutan ama penumpang lain, trus dapat tempat duduk…. rasanya….. wowwww……

    Karena udah terbiasa di KA Sri Tanjung, jadi pas ada meeting mendadak ama buyer di Jakarta, dan waktu itu lagi arus balik lebaran, dan gak ada tiket sama sekali, yg ada hanya tiket KA Gaya Baru Malam Selatan, jadi ya dilakoni juga, business must go on kan. Padahal kereta berangkat dari Surabaya Gubeng jam 4 sore, trus nyampe stasiun Jakarta kota kalo gak salah itu jam 4 sore besoknya. 24 jam di dalam kereta. Gak adil rasanya, karena kelas ekonomi, selalu harus mengalah. sering berhenti lamaaaaa banget karena harus menungu kereta executive jalan duluan. Tapi, apapun kalo dilakoni dengan iklas, pasti ada rewards-nya koq. Mungkin karena aku orangnya gampang happy, jadi pas nyampe Jakarta, biarpun capek banget, tapi happy banget juga, karena i got a lof of fun there.

  29. Salut aku dengan cak ekos.. bisa hapal tenan dengan jadwal nglaju "ibu Pramexer"… Klo jadwal nglaju "Bapak Pramexer" hapal juga nggak.. moso satu sepur ibu-ibu semua ?????????? He..

    Jadi inget dengan "Umar Bakri" Klo cak rizal berangkat ngajar dengan sepeda ontel.. Apa sampeyan juga makai tas kulit disamping kiri sepeda cak..

    Balik lagi, apapun dan bagaimanapun… jangan lupa minum teh sore hari dengan anak bojo..

  30. @ c' ekoz: aku angk 91. Di gebang dulu punya teman satu angkt, namanya ibnu sofyan, kuliah di tokyo univ. Jan arek iku waktu sekolah biasa ae. Ada cerita saat dia diterima di fku ui. Saat diplonco lewat kamar mayat rscm dia ktakutan sampai pingsan. Karena itu dia lebih memilih ke jepang. Reng gebang ma' takok da' reng mateh. Hua.,hua

  31. For Rizal… Se pentheng selamet kabbih…sehat wal apiat ..tadhek se sakek atabbe gerring…pokokna e Sokoreeh apa se egeresis aggi ambik Pangeran..tak iye…

    For Anna… sebagian besar para Pramexers adalah perempuan…ini yang sangat menarik perhatianku…kalo para peria…kebanyakan parttime pramexers kayak aku…sehingga sempat kepikir..Apakah para perempuan ini adalah tulang punggung ekonomi keluarganyakah?..sehingga yang mesti ngalah untuk Nglajo adalah para perempuan perkasa itu ..tapi setelah dengar cerita Mbak Henny…ternyata tiap pribadi dalam posisi yang unik dalam memutuskan Siapa yang harus nglajo…. ada perkembangan menarik… ada rekan BNI syariah Solo yang juga Nglajo..arek mBangil..dia dah nglajo selama setahun ini…karena suaminya adalah dosen UGM dan saat ini malah tugas belajar di ITS…dia terpaksa nGlajo karena saat pindah dari BNi Pasuruan dia milih BNIsjariah Jogja..namun karena formasi penuh maka dia orang dapet pindah ke BNI sjariah Solo..lumayan kan lebih deket Solo-Jogja dibanding mBangil-Jogja…tapi ternyata setahun nglajo bikin dia capek berat…kayaknya dia berencana resign bila dia hamil (pengantin baru diaorang)…keputusan yang berat tentu saja…saya cuman nyaranin dia untuk sekali lagi melobi BNi sjariah pusat sekiranya dapat pindah ke Jogja..sebelum ambil keputusan resign… jadi kebayang…berapa orang yang akhirnya terpaksa resign karena terpisahnya tempat kerja dengan anak. istri/suami….

    For Ashlah AKA Okik Onok juga pak-bapak sing anggota pramexer…tapi herane..pak-bapak ini jauh tidak "ramah' kepada para New Pramexer koyok aku…wedi saingan antarane..he..he….

    For All…have a nice weekend !!!!

  32. @ C' Ekoz : Aku angk 91. Dulu di gebang ada temen angkt yang bernama Ibnu Sofyan dipanggil Benu. Jan arek iku pinter tenan. Dia ambil s1 beasiswa di Tokyo Univ. Ada cerita saat dia keterima di fku ui di plonco masuk kamar mayat dari pintu depan dan keluar pintu belakang. Setelah masuk dia di dalam lama banget. Tunggu punya tunggu ngga keluar keluar. Karena penasaran akhirnya seniornya masuk ruangan dan Benu ditemukan dalam kondisi sukses sedang pingsan. Itulah yang membuat dia milih ke jepang. Reng gebang ma' takok reng mateh. Apa tak pernah lebet koburen gebang tunggul. Hua..hua..hua

  33. @Cak Ashlah Mon Cak Eko, pokok se tepotte engak kembeng turi, paste engak…. jek reng embik bei e engak so Cak Eko.. he..he.. Aku nek numpak sepeda pancal yo gak numpak sepeda kebo koyok Umar Bakri, tapi yo sepeda jaman saiki (meskipun tukune ning muridku sing wis meh lulus)he..he..

    @Cak Satriyo Sampeyan berarti koncone Mbak Lina, adike Mas Pur Dosen Fisika ITS? Opo koncone Mbak Ida Lumintu juga? (takokn wae arek iki)

  34. @ C'Rizal Yo'i aku temennya Lina. Aku respect sama dia saaat jilbab belum diperbolehkan di SMA 1, dia kaloo istirahat make jilbabnya kalo pelajaran dilepas lagi. Kalo M' Ida L itu angk thn berapa?

  35. For satriyo…angkatan 91 brarti kelahiran tahun 1973-1974…yo sak angkatan adikkku si Try ato SiWardoyo arek Sispena dari Gebang….

    Ibnu SofyaN?..wah gak kenal yok….tapi sing jenengnya Ibnu biasane puinter he..he..he..diangkatanku juga ada arek puinter namane Ibnu Soetatwo….ITB doski…

    tapi lek arek Gebang wedi karo wong mati yo kebangeten lha wong kampunge kita di kupengi koburan yang katane Mistik…. Coukil,,,big cemetery at town… Poreng Cemetery….yang banyak rumpun bambune Mbah darwo 1,2 dan 3..malah cedek dalan…

    satrito..ayo crita Urbaner di sekitarmu….

  36. Kalo angk 91 itu banyakan lahir thn 72-73. Nama lengkapnya siapa tri ato wardoyo itu? Aku juga ikut sispena. Ketua nya Yahya Sutadi K. Pelantikan 88 di Alas Purwo. Urbaner yang sejalan dengan ku ya berangkat jam 4.30 dan siap-2 jam 3.30. Jadi ngga jauh beda dengan siklus Mbak Heny. tapi kita banyak yang seminggu dua kali jadi tersiksanya ya dua kali seminggu itu. Kalo terlambat sedikit bisa terjebak macet dan stag di tol yang ngga ada jalur alternatifnya kecuali mrobos pagar tol. Yang paling menyesakkan ya macet di tol.

    Apalagi kalo ada musibah banjir di jakarta dan mobil-mobil yang seharusnya keluar tol ngga mau turun jadi alamat nginep di jalan tol. Musibah banjir tahun 2007 itu yang biasanya aku sampai jakarta itu jam 20.00-21.00, sampai rumah jam 03 dini hari. Bahkan ada yang sampai rumah jam 05.00. Selama di tol kita ngga kelaparan banyak orang jualan di dalam tol. Kaki lima buka lapak di tol karena captive marketnya besar. Jadi mau makan nasi uduk atau sandwich (maksudnya roti oles) tersedia. Yang susah kalo buang air besar, kalo cuma pipis mah gampang (kalo untuk cowok) tinggal mancur saja ddari tepi jembatan tol tapi harus diperhatikan jangan sampai kena orang dibawah. Karena gerimis hujan dan pipis jelas beda. Hua…hua. Kalo sudah gitu mesin dimatikan dan pasang alarm tiap satu jam. Radio yang paling sering dijadikan panduan macet itu radio sonora.

    Kalo yang naik bis dan ngga sabar macet biasanya langsung jalan-jalan malam sampai ke pintu tol. Katanya capek juga tapi dari pada tunggu air surut ya nekadlah. Kalo yang bawa mobil kali sayang ninggalin mobilnya kecuali kalo kepepet mobilnya sudah tinggal kelihatan antenanya saja.

    Yang heboh itu kan di metro tv ada acara apartemen yang letaknya di kelapa gading dan dipandu feni rose yang katanya bebas banjir. Apartemennya terletak di sebelah jalan tol priuk. Iklannya bebas banjir padahal kalo banjir mobilnya di parkir di jembatan tol.

    Ini OOT ngga kok jadi nyeritain korban banjir ?

  37. @Dhek Satriyo: Aku dulu sempet aktif juga di IPM tapi generasi kita agak jauh juga ya lha wong masaku di SMA tahun 1983-1986. he3 jadi malu . Sorry banget aku juga agak bingung soalnya waktu jamanku mas agusnya banyak. Wah respect banget ama dhek lina karena aku dulu pakai jilbabnya kalo cuman pas acara IPM thok. he3. Maklum lebih mementingkan pembenahan dari dalam dulu.

    @Dhek Ekoz: Gak sempet lihat blog soale sangking stressnya ama kerjaan yang gak ada habisnya. Tapi ternyata gak lihat blog jadi tambah stress. he3. Lha iyo dirimu kok yo sampai apal tenan detail jadwalnya si mbak Henny, kemungkinannya karena mbak henny sering menceritakan itu atau karena dirimu yang sangat cerdas pol. hi3.

  38. For Mbakyu Wiwied…. whedewwww…sang bankir lagek sibuk ekspansi bianget nih .he..he…sampek gak sempat comment ndek Blog…

    kalo soal apal jadwal mbak Henny ..karena pas beliau crita (selama ± 1 jam) situasinya enak gitu..dapet kereta Pramex yang duduknya bisa saling berhadapan…sehingga yen crito aseekkk….

    terus saya punya apresiasi yang tingi untuk para ibu/perempuan yang bekerja dan setiap hari nglajo…padahal…saat tak cobak nglajo ben ndino…onone mung kesel dan kuesel banget..he..he….lha iki kok ada ibuk-ibuk nglaju ben ndino..omae Magelang meneh….so…saya selalu angkat topi untuk para Wanita Perkasa itu…termasuk panjenengan he..he..he..

    Aku sangat cerdas?…. lha kalok ngak cerdas…gak isok mlebu SMAN 1 Jember to?..hua..ha..ha..sumbung yo…

    ayo crito-crito to mBakyu…

  39. For faiz…. mosok ta Iz….aku ae lali..he..he..he mangkane aku mlebu 1-6 yo?…he..he..he… tapi begitu lulusan SMA danemme pancet sakmono padahal Mata pelajaranne tambah akeh..artinya terjadi Involusi IQ..hua..ha..ha..ha

    Yok opo..arep I'tikaf ndek Mesjid jamek Purworejo ta?…

    For all yang lagi puasa…. Selamat menyambut 10 hari trakhir Romadhlon…Selamat I'tikaf…Semoga dapat Lailatul Qodar

  40. Suk nek nang SMA 1 Maneh, arep njaluk copy-ne Daftar NEM tahun 1985. The First NEM-List in the Universe.. He.he… Awak biyen 45.72 kethar-kethir, samar nek ra ketampa nang SMA 1, soale matematikane 5..

    Nek I'tikaf, paling-2 nang Masjid Perumnas utawa nang cedhak Waduk. Sak jane tafakkur nang pinggir kali nek wayah bengi kuwi yo khidmad kok. Mirip-2 lakune Raden Mas Said, sing akhire enthuk gelar SUNAN KALIJAGA.

    Nek aku nyonto lakune RM Said, iso-iso enthuk gelar SUNAN JAGAKALI.. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *