Archive for July, 2008

URBAN LIFE STYLE?

July 17th, 2008

Beberapa hari silam, saat chatting dengan kandidat doctor Pemasaran UI, Firman Kurniawan (SMAN1-88), dia melontarkan pertanyaan yang sama dengan beberapa rekan yang mengetahui kepindahanku dari Balikpapan ke Solo… Firman ask .”wah enak sekarang..bisa pulang pergi dari Solo ke Jogja”…. saat kujawab “ aku gak nglaju (pulang pergi tiap hari)..aku kos di Solo…”.. beliaow nanyak “ Lho kan cuman sejam?…itu jauh lebih cepet daripada pekerja Jakarta yang berumah di Bogor,Tangerang..bisa 2 jam’an baru tiba di rumah…bahkan lebih…” Aku berpikir “ wah iya juga ya….tapi dengan jam kerja yang gak pasti..kadang ada meeting after work hour ato ketemu ama relasi yang kadang sampek malam ..kayaknya lebih safe Kos aja..he..he..he” Aku njawab sekenanya aja “ tapi bos..aku pulang setiap Rebo malem balik Solo kamis subuh…dan pulang lagi Jum’at malem dan balik Solo lagi Senin Subuh…gitu bos jadi..2 kali seminggu ketemu keluarga…kalo ditambah weekend ya 3 hari ketemu deh…jauh lebih baik dibanding saat tugas di balikpapan yang pulangnya baru bisa 3 minggu sekali.

BN Holec ...Prameks Kutoarj-Jogja-Solo Saat beberapa kali pulang ke Jogja dengan KRDE Prambanan Ekspress….baru ketahuan kalo yang pulang-pergi dari Jogja –Solo ternyata banyak juga…..terlihat wajah-wajah yang sama selalu naik dan turun di stasiun yang sama…..mayoritas sih ibu-ibu ato nonik-nonik…emang bagi orang yang terbiasa dengan kehidupan serba tergesa gesa kayak di Jabodetabek…melewatkan kesempatan pulang-pergi dari rumah ke kantor yang hanya 1 jam itu terasa mengada=-ngada….tapi bagiku yang terbiasa dengan ritme …30 menit sebelum jam 08.00 baru sampai kantor…mengejar-ngejar kereta sejak subuh (KRDE Prameks paling pagi adalah 05.45 WIB) untuk bisa sampai kantor sebelum 08.00 Wib..dan harus terburu-buru ninggalin kantor jam 17.00 teng..karena KRDE yang paling enak adalah yang 17.45 WIB itu ..kok kayaknya nyiksa betul…padahal sebagai pekerja bank yang berada dijalur Marketing…kadang jam 17.00 wib masih ada di lokasi pabrik klien ato lagi meeting internal yang gak mungkin dipercepat ato ditinggalin….dideadline waktu kok terasa menyiksa….sebenarnya bisa aja naek bis (24 jam selalu ada) namun membayangkan sampai rumah jam 22.00 Wib ..dan anak-istri kadang harus terbangun untuk bukain pintu dan setelahnya bangun shubuh untuk ngejar kereta pagi (Si Asti yang sulung belum bangun tentunya….kalo Ica sih jam 03.00 WIB dah tereak-tereak dia…) kok rasanya gak worthed gitu….belum lagi resiko telat masuk kantor…dan kemrungsungnya itu lho…bisa-bisa ngrusak ritme kerja hari itu…..untungnya istriku malah ndukung aku kos…kasian mungkin liat suaminya kemrungsung setiap paginya..he..he..he….mangkanya sebagai jalan tengahnya setiap Wednesday sore pulang…dan weekend tetirah di Jogja….weekday at downtown and weekend at suburban..masak Jogja disamakan dengan sub urbannya Solo?…

Tak piker-pikir jaman sekarang ini….jauhnya tempat kerja dengan rumah tinggal menyebabkan pola hubungan social bahkan di dalam keluarga sangat berbeda dengan jaman kita dulu..kayaknya jaman dulu meliat orang berangkat kerja jam 07.00 Wib dan 15.00 Wib dah sarungan ato maen bulutangkis di rumah..kayak bapakku yang kerja di PTP XXVI… ato pakde Jo yang kerja di Perusahaan swasta ato Cak Mat yang kerja di PEMDA Jember….kayaknya asyik betul gitu..deket keluarga dan sore dah bisa kongkow ama tetangga…terus dilanjut Bulutangkis,sepaktakraw ato Volley ball tergantung sedang apa musimnya he..he..he..lha kalok pas musim layangan ya bapak-bapak itu juga nimbrung kok…ato..ikut kegiatan Doro Racing di sawah sono…dan kalok malamnya iso ikut arisan tahlil..barzanji ndek Musholla ato sekadar reriungan di Musholla sambil nunggu isya’ tiba….pokoknya sore dan malam adalah tempat kehidupan sosial masyarakat idup….bagi saya..hal-hal kayak gitu jadi mimpi dan nostalgi belaka….tapi sekarang dah mending kalok Minggu pagi isok Bulutangkis bareng tetangga di sawitsari yang kebetulan adalah kawan-kawan dosen Faperta dan FE UGM yang dulu dah kenal saat kuliah…jadi yo rodok ada dunia sosialitanya lah….asyiik juga..walo gak seheboh dan seheroik kenangan sore dan malam di Kampung Gebang Kemundung at Jember….. Sampeyan gimana?…

Popularity: 21% [?]

“Henohenomoheji”

July 16th, 2008

Henohenomoheji, sebuah frase yang terdiri dari beberapa hiragana (huruf dasar bahasa jepang): he(へ) no(の) he(へ) no(の) mo(も) he(へ) ji(じ) . Yang kalau ditulis jadi membentuk wajah manusia:

Menarik,kan?

Biasa di pasang di wajah-wajah orang-orangan sawah. Yang berarti udah membudaya sejak lama. Di beberapa tokoh di manga (komik jepang) pun ada:

  • In the popular anime Naruto, the character Kakashi Hatake’s face is the subject of an entire episode (no. 101), in which his students try to remove his mask. Against one of them he uses a decoy (scarecrow) of himself, with the Henohenomoheji drawn on the face; which is appropriate enough, given that his name (Kakashi) means “scarecrow” in Japanese. Also, Kakashi is able to summon a small pack of eight dogs, all of which have the Henohenomoheji on their backs.
  • In the anime One Piece, Igaram makes dummies with the Henohenomoheji face to impersonate Luffy, Zoro, and Nami.
  • In the MSX game Parodius, one of the bosses is based on this.
  • In the Sega Genesis game Crusader of Centy, a puppet controlled by a boss has this for a face.
  • In the popular anime Digimon, the Digimon Nohemon, a scarecrow Digimon, has Henohenomoheji on its face.
  • In the Nintendo DS game Animal Crossing: Wild World, the visitor Blanca’s face is that of a Henohenomoheji, and can be altered to the player’s own design.
  • In the PlayStation 2 video game Ōkami, characters are represented with a Henohenomoheji icon floating above their heads whenever they are too far to be seen.
  • In the PlayStation 2 video game Chulip, the generic factory workers all have Henohenomohe faces.
  • In the anime The Melancholy of Haruhi Suzumiya, a brief scene in episode 11 showed Koizumi’s fleet with a crew full of Henohenomoheji.
  • In the manga Ranma ½, the title character Ranma Saotome often wears the Henohenomoheji face.
  • Mangaka Yuu Watase is often portrayed in a Henohenomoheji mask.
  • In the anime Mononoke, the Medicine Seller briefly wears a Henohenomoheji on his blank face during the Noppera-bō arc before restoring his own.
  • In the anime Samurai Champloo, the baseball catcher doll in episode 23 “Baseball Blues” has a Henohenomeheji on its face.
(wikipedia.org)

Di bahasa indonesia ada nggak ya?

Meskipun sederhana, budaya ini tetap dijaga. salut juga sih. Sekaligus malu, karena budaya ku sendiri sudah ada yang kulupakan. Bahasa krama (bahasa halus jawa) sudah lupa, padahal sekarang sedang belajar bahasa-bahasa halus/merendah dalam bahasa jepang, yang notabene sama seperti bahasa krama juga.

Bicara tentang bahasa, sabtu kemarin di masjid Osaka, orang Mesir memberi pelajaran bahasa Arab,dan sedikit logat Mesir. Di awali dengan cara menulis dan membaca huruf arab. Setelah memperhatikan, dan sedikit latihan pengucapan, ternyata ada beberapa pengucapan yang berbeda dengan yang diajarkan padaku waktu kecil. Tetapi, sayangnya kemarin hanya belajar sampai huruf ke 7 (خ), sedangkan sabtu ini aku gak bisa ke masjid. Karena lusa, Jumat 18 Juli, insayaallah, aku terbang ke indonesia untuk tanggal 20 nya terbang lagi ke Vietnam untuk ikut IPhO (International Physics Olympiad) 2008 di Hanoi, Vietnam.

Mohon Doanya semoga bisa membawa nama baik Indonesia.

Oh,ya baru ingat, aku bertemu seorang alumni SMA 1 Jember yang sekarang di Jepang: Achmad Chamdani Eka P , angkatannya, mungkin, tahun-tahun dekat tahun kelahiranku, 1990. Dan waktu pengajian aku bertemu dosen ITB , maaf, lupa namanya, yang sedang berkunjung ke Jepang, yang juga alumni SMA 1 Jember.

sekali lagi, Mohon Doanya semoga bisa membawa nama baik Indonesia.

Popularity: 17% [?]

3S, Seminar, Shopping & Sowan

July 2nd, 2008

Sejak awal tahun 2008, sudah ngincer tuh satu seminar di Yogya yang namanya SNATI (Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi) yang tiap tahun di selenggarakan oleh UII (Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta). Di sela-sela waktu ngajar, paper disiapkan untuk dikirim. Nah pada saat yang ditentukan, paper dikirim secara online ke server seminar. Wah terbayang tar ke Yogya, seminar sekalian jalan-jalan sama anak-istri, soalnya istriku tak tulis juga namanya sebagai penulis 2 (dia juga dosen di PT yang sama cuma beda jurusan). Sebenarnya tanpa ada seminarpun bisa aja ke Yogya, tapi kalo pake acara seminar khan enaknya ongkos jalannya dikasih sama Institusi (gak mau rugi ceritanya… :)

Pas pengumuman paper yang diterima, aku gak terima email konfirmasi… waduh ada yang salah nih. Padahal teman-teman yang lain yang papernya diterima atau tidak tetep dapat email dari panitia. Wah rencana ke Yogya buyar nih… Tapi beberapa minggu kemudian ada email dari panitianya..”Maap, server kami rusak, jadi paper yang ada disitu ilang deh….Jadi anda diminta mengirim ulang papernya”… weleh..weleh aya-aya wae.. tapi tetap papernya dikirim ulang dan akhirnya diterima dengan sukses.. Asyik.

Menjelang hari H, tiket didapat (wah kebagiannya Lodaya Malam, kelas Bisnis, yang Eksekutif habis) dan segala sesuatu dipersiapkan, terus kontak-kontak Cak Faiz buat minta alamat Cak Eko (soalnya setahuku tempat Cak Eko di dekat jalan kaliurang). Anakku dengan gembiranya bilang ..Jogja.. (kayak iklan rokok di TV). Nah ada yang diluar rencana pas mau berangkat, ternyata Bapak & Ibu mertua mau berangkat ke Yogya juga dari Semarang supaya bisa ketemu cucunya dan anak mantunya yang baik hati ini. Pas sampai Stasiun Tugu Yogya, wah Yangkung dan Yangti udah nunggu di Stasiun (Emang enak kalo punya mertua yang baik hati dan tidak sombong..) jadi enak. Singkat cerita. Pagi aku seminar di UII, anak &istriku sama Bapak-Ibu , jalan-jalan. Sambil seminar kontak-kontak Cak Eko buat janjian ketemu di pesanggrahannya.

Jam 13, belum juga kelar itu seminar, aku cabut ke Pasar Beringharjo dengan rombongku (maksudnya rombongananku) belanja-belanja. Tapi dasar si Shafa, di Beringharjo bukannya jalan-jalan malah minta maen odong-odong sama maen mandi bola (jan tenan arek iki). Jam 4 hampir sampai, waktu yang disepakati buat ketemu Cak Eko aku cabut dari sana. Mampir bentar ke Yu Jum buat beli gudeg kendilnya. Terus lanjut ke Sawitsari.

Duh ternyata Cak Eko yang dulu cuma dilihat di blognya ternyata gak jauh beda dengan aslinya, tetep akrab meskipun baru sekali ketemu, nada bicaranya khas Jember (Cak Faiz gaya bicaranya juga mirip, kalo di telpon lo), dan yang pasti beeesaaarrrr (he..he… kalo di sebelah ada istilah ABG ayah baru gendut, kalo menurutku Cak Eko pantesnya menyandang gelar KRT, Kanjeng Raje Tabuk.. sorry Cak guyoon). Kenalan sama Istri, anak dan mertuanya, ngobrol-ngobrol kemana-mana, dan minum teh hangat di sore yang cerah, membuat aku jadi agak blank (iki mimpi opo tenanan yo… dadi speechless, mangkane Cak Eko dadi tertipu seolah-olah diriku wonge meneng, padahal bingung :)

Ok, singkat cerita, sore itu serasa mimpi, pengalaman sing gak akan terlupakan, ketemu KRT Ekoz Guevara sing mbahurekso blog sma1jember.info . Sayang banget waktune sempit banget, dadi gak biso mampir ning padepokane Cak Faiz mergo wis bengi nemen, dadi langsung balik Semarang. Dadi terinspirasi, nek ono rejone jaman, aku tak dolan ning omahe Cacak-cacak & Mbakyu-mbakyu sing ngramekno blog ini… (bahasane koyok Cak Afthon wae.. nek ono rejane jaman.. dasar penggemar kartolo :) ). Sambil jalan-jalan, sambil menjalin tali silaturrahim dengan sesama alumni SMA 1.

Popularity: 15% [?]