Dari jauh tampak seorang laki-laki tua sedang berjalan, rancak beriringan bersama sandal jepitnya yang tinggal sepasang, perlahan tapi mengoreskan kesan , karena diwajahnya tampak kesungguhan, dan dimatanya tampak penuh harapan.
Dan mesjid tua itu adalah tujuannya, tempat yang disana diharapkan ada pengakuan penhambaan dari Sang Kholiqnya.
Tiba-tiba tatapannya terhenti pada seorang anak kecil yang sedang mengambil wudhu’ sambil menangis, maka kakek itupun berkata, “Wahai anakku kenapa kamu menangis?“
Anak itupun menjawab “Kakek saya telah membaca ayat al-Qur’an sehingga sampai kepada ayat yang berbunyi, “Yaa ayyuhal ladziina aamanuu quu anfusakum” yang artinya, ” Wahai orang-orang yang beriman, jagalah olehmu sekalian akan dirimu. ” itulah sebabnya saya menangis kek, karena saya takut akan dimasukkan ke dalam api neraka”
Maka berkata orang tua itu, “Wahai anak yang sholeh, janganlah kamu takut, sesungguhnya kamu terpelihara dan kamu tidak akan dimasukkan ke dalam api neraka.“
Berkata anak kecil itu, “Wahai Kakek, bukankah kakek orang yang berakal, tidakkah kakek lihat kalau orang menyalakan api, maka yang pertama kali diletakkan adalah ranting-ranting kayu yang kecil terlebih dahulu, baru kemudian mereka letakkan kayu yang besar. Jadi tentulah aku yang kecil ini akan dibakar terlebih dahulu sebelum dibakar orang dewasa.”
Kakek itupun tertegun, tanpa terasa air matanya menetes membasahi pipinya, seraya berkata “Sesungguhnya anak kecil ini lebih takut kepada neraka daripada orang dewasa, maka bagaimanakah keadaan kami nanti?”
(Tanpa sadar usia ini sudah semakin bertambah dan seringkali lupa bahwa kita akan mengakhirinya)
Ya Alloh ampunilah dosa-dosa kami, keluarga kami, teman - teman kami yang telah mendahului dan teman - teman di blog ini yang aku cintai . Amin…………………………………………………
(Salam….Rofiq - Balung B3/88)
Popularity: 35% [?]


Cak Rofiq….
terimakasih pencerahannya….
@Dhek Rofiq: Amin Ya Robbal Alamin. Thanks ceritanya dan juga do’a nya.
kalau kita baca sirah rasul/ sahabat…kadang bikin kita ngiri bila dibandingkan dengan kondisi kita saat ini…seperti cerita di atas nampak bahwa anak kecil itu lebih dewasa dibanding usianya…di kisah yang lain usamah sudah menjadi panglima perang diusia belum cukup 19 tahun dengan anggota pasukannya umar bin khattab, abu bakr,dll…samurata bin jundub (ahli gulat)dan seorang sahabat lain(ahli memanah) belum akil baligh tidak putus asa ketika ditolak untuk ikut berjihad, kemudian mereka dengan keahlianya masing2 pamer kepada rasul dan akhirnya diijinkan untuk berjihad, belum lagi banyak sahabat yang belum cukup umur kecewa karena nggak boleh jihad…pertanyaannya, bagaimana pendidikan yang dilakukan rasul sehingga menghasilkan generasi yang begitu hebat?…sementara, kondisi saat ini? ah, sedih untuk menceritaknnya……
@ Cak Fikik,
Bila analogi-nya dibalik.. andaikata mereka-2 yang hidup di Jaman Rasul hidup di masa sekarang, bagaimana jadinya ? Apakah mereka masih akan seperti saat hidup bersama Rasul ? Dan andaikata Kita-2 yang diberi kesempatan lahir dan besar bersama Rasul, bagaimanakah jadinya Kita-2 ini ?
Gak perlu ngiri (atau nganan).. tinggal disyukuri, bahwa kita diberi kesempatan untuk menjalani hidup di masa sekarang, yang mungkin sudah masuk kategori akhir jaman. Perjuangan kita menegakkan Iman untuk diri dan keluarga, mungkin tidak kalah nilainya dengan perjuangan para Sahabat, Tabi’in atau pun Tabi’it Tabi’in, yang dianggap sebagai ” The Golden Generation”.
Kalau kita bisa berhasil menjaga diri dan keluarga menghadapi era Neo Jahilliyah/ Modern Jahilliyah, suatu kenikmatan besar buat kita.. Dhek remmah, tan trettan ?
cak faiz…matur nuwun, udah diingatkan bahwa kita harus senantiasa bersyukur…
sekarang atau dulu sama aja…dulu ada yang mukmin, ada yang kafir dan ada juga yang munafik demikian juga dengan sekarang…
cuman pertanyaannya, bagaimana pendidikan yang dilakukan rasul sehingga menghasilkan generasi yang begitu hebat?…inilah, yang coba kita pelajari, bahwa kita sama2 punya anak, kewajiban kita untuk mendidik mereka menjadi lebih baik…untuk simpelnya, apakah cukup dengan menitipkan anak kita dipesantren? atau harus lebih dari itu?????…..
Ada perbedaan mendasar tentang situasi dunia jaman Rasul dengan masa kini. Solusi atas masalah-2 pada masa Rasul itu, bisa segera diperoleh (cepat atau lambat) landasan hukumnya, sehingga solusi segera ketemu juga. Kedekatan dengan Sumber Hukum yang akurat dan paten, membuat Umat merasa tentram dan nyaman, serta mantap dalam menjalankan syariat.
Setelah Rasul wafat, peralihan kepemimpinan di era Sahabat, ternyata mulai menimbulkan friksi di beberapa kelompok. Friksi-2 ini semakin membesar ketika Umat makin jauh dari Sumber Hukum utamanya.
Keteladanan adalah kata kuncinya. Sebagai orang tua, wajiblah kita mendidik agar kita patut dan layak jadi panutan untuk anak dan keluarga kita. Kalau pedidikan di Pesantren merupakan jalan untuk kebaikan anak kita, sebagai orang tua juga harus pula menambah ilmu agar komunikasi religius dengan anak dan keluarga bisa tetap terjalin hangat.
Kalau orang tua nggak kober nyantri, masih banyak media lain yang bisa dipakai untuk mencerdaskan diri sendiri, bukan ? Kalau anak saja harus belajar, kita yang tua mestinya juga belajar. Bukankah otak kalau nganggur malah bisa berkurang kapasitas dan kemampuannya ?
Maaf nek mungkin agak kurang nyambung ya..